STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta
Not a member yet
3772 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN\ud PERILAKU MEROKOK SISWA DI SMP \ud NEGERI 16 YOGYAKARTA
Latar Belakang : Masa remaja merupakan masa transisi seseorang dari anak-anak\ud
menjadi dewasa. Remaja mulai menunjukan jati dirinya dengan menunjukan perilaku\ud
yang bermacam-macam, salah satunya adalah perilaku merokok. Pengasuhan orang\ud
tua berusaha untuk mempertahankan kehidupan fisik anak dan mendorong\ud
peningkatan perilaku sesuai dengan nilai agama dan budaya yang diyakini.\ud
Tujuan : Mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan perilaku merokok pada\ud
siswa SMP Negeri 16 Yogyakarta.\ud
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non eksperimental, dengan\ud
pendekatan cross sectional. Subyek penelitian ini sebanyak 45 responden dengan\ud
teknik stratified random sampling. Metode pengumpulan data menggunakan\ud
kuesioner atau angket. Analisa data menggunakan koefisien kontingensi dengan α =\ud
0,05.\ud
Hasil : Siswa dengan pola asuh demokratis sebagian besar memiliki perilaku\ud
merokok sebanyak 14 siswa (31,1%)dengan p value 0,025 (p value < 0,05) . Artinya\ud
terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan perilaku\ud
merokok remaja di SMP Negeri 16 Yogyakarta dengan hasil p value 0,025.\ud
Kesimpulan : Ada hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan\ud
perilaku merokok siswa di SMP Negeri 16 Yogyakarta.\ud
Saran : . Khususnya bagi orang tua yang memiliki anak remaja diharapkan selalu\ud
memberikan pendidikan yang baik serta selalu memperhatikan anaknya supaya tidak\ud
terjerumus ke dalam perilaku menyimpang khususnya perilaku merokok
PENGARUH PENYULUHAN TERHADAP TINGKAT\ud PENGETAHUAN REMAJA TENTANG SINDROM\ud PREMENSTRUASI PADA SISWI KELAS VII\ud DI SMP KASIHAN 1 BANTUL
Latar Belakang: Sindrom premenstruasi (PMS) adalah kumpulan gejala\ud
fisik, psikologis dan emosi yang terkait dengan siklus menstruasi perempuan. Sekitar\ud
80-95% perempuan pada usia subur mengalami gejala-gejala premenstruasi yang\ud
dapat mengganggu beberapa aspek dalam kehidupannya. Gejala tersebut dapat\ud
diperkirakan dan biasanya terjadi secara reguler pada dua minggu periode sebelum\ud
menstruasi. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di SMP Negeri 1\ud
Kasihan Bantul didapatkan bahwa dari 10 siswi yang diberi pertanyaan tentang\ud
pengetahuan sindrom premenstruasi hanya 2 siswi yang bisa menjawab dan memiliki\ud
pengetahuan yang cukup sedangkan 8 siswi lainnya memiliki pengetahuan kurang.\ud
Tujuan: Mengetahui pengaruh penyuluhan terhadap tingkat pengetahuan\ud
remaja tentang sindrom premenstruasi di SMP Negeri 1 Kasihan Bantul.\ud
Metode Penelitian: Menggunakan rancangan pre-eksperimen dengan one\ud
group pretest-posttest design. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik\ud
simple random sampling yaitu 45 orang responden. Pengumpulan data pengetahuan\ud
siswi diperoleh dengan kuesioner. Analisa data menggunakan uji wilcoxon test.\ud
Hasil: Tingkat pengetahuan remaja tentang sindrom premenstruasi sebelum\ud
dan sesudah diberikan penyuluhan mengalami peningkatan yaitu sebelum diberikan\ud
penyuluhan tingkat pengetahuan remaja terbanyak berada pada tingkat pengetahuan\ud
cukup yaitu 35 orang responden (78%) dan terendah pada tingkat pengetahuan baik\ud
yaitu 4 orang responden (9%). Sedangkan, setelah diberikan penyuluhan tingkat\ud
pengetahuan remaja meningkat yaitu terbanyak berada pada tingkat pengetahuan\ud
baik yaitu 31 orang responden (69%) dan terendah pada tingkat pengetahuan cukup\ud
yaitu 14 orang responden (31%). Analisa data menggunakan uji wilcoxon test\ud
didapatkan bahwa Asymp. Sig. (2-tailed) bernilai 0,000. Karena nilai 0,000 lebih\ud
kecil dari < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa “Ha diterima”. Artinya ada\ud
perbedaan pengetahuan remaja sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan.\ud
Simpulan dan Saran: Ada pengaruh penyuluhan terhadap tingkat\ud
pengetahuan remaja tentang sindrom premenstruasi di SMP Negeri 1 Kasihan\ud
Bantul, DIY tahun 2017. Diharapkan setelah dberikan penyuluhan siswi menjadi\ud
lebih tahu apa itu sindrom premenstruasi dan cara mencegahnya dan mengatasi\ud
gejala sindrom premenstruasi dengan baik
PERBEDAAN PENGARUH PENAMBAHAN DRY NEEDLING PADA NEURO DEVELOPMENT TREATMENT (NDT)TERHADAP GROSS MOTOR PADA ANAK CEREBRAL PALSY SPASTIC DIPLEGI
Latar Belakang: Di Indonesia, prevalensi penderita CP belum diketahui dengan\ud
pasti diperkirakan sekitar 1 – 5 per 1.000 kelahiran hidup. Laki–laki lebih banyak\ud
daripada perempuan, serta sering ditemukan CP spastic diplegi dengan gangguan\ud
gross motor. Faktor yang menyebabkan penurunan gross motor antara lain usia ibu\ud
lebih 35 atau kurang 20 tahun dan prematur Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk\ud
mengetahui untuk mengetahui pengaruh penambahan dry needling pada\ud
Neurodevelopment Treatment (NDT) terhadap gross motor anak Cerebral Palsy\ud
Diplegi tipe spastik. Metode Penelitian: Rancangan penelitian ini bersifat quasi\ud
eksperimental dengan rancangan pre and post test group two design. Pada penelitian\ud
ini digunakan 2 kelompok perlakuan, kelompok 1 diberikan NDT, dan kelompok 2\ud
diberikan NDT dan dry needling Sebelum diberikan perlakuan 2 kelompok tersebut\ud
diukur dengan Gross Motor Function Measure (GMFM). Uji normalitas dengan\ud
Saphiro Wilk test. Hasil penelitian peningkatan gross motor. Dianalisis menggunakan\ud
wilcoxon pada kedua kelompok dan mann whitney untuk mengetahui adanya\ud
perbedaan pengaruh. Hasil: hasil uji wilcoxon pada kelompok 1dimensi C (0,18)\ud
dimensi D (0,18) dan E (0,317) (p>0,05) dan kelompok 2 dimensi C (0,18) dimensi\ud
D (0,109) dan E (1) (p>0,05), hasil uji mann whitney test (p>0,05) menunjukkan\ud
bahwa kelompok 1 dan 2 tidak ada pengaruh serta tidak ada beda pengaruh pada\ud
kedua kelompok terhadap gross motor. Kesimpulan: tidak ada perbedaan pengaruh\ud
penambahan dry needling pada NDT terhadap Gross Motor anak Cerebral Palsy\ud
spastik. Diplegi Saran: Penelitian selanjutnya agar mengontrol aktivitas kegiatan\ud
sampel dan spesifik sampel penelitian
PERBEDAAN PENGARUH PEMBERIAN\ud MOTOR RELEARNING PROGRAM (MRP) DAN BOBATH\ud CONCEPT UNTUK MEMPERBAIKI POLA JALAN PADA\ud PASIEN PASCA STROKE
Latar Belakang:Dari berbagai penyakit yang sering ditemukan sekarang stroke\ud
merupakan salah satu penyakit, dimana tidak hanya menyerang orang tua tetapi\ud
menyerang yang berusia muda. Stroke merupaka gangguan fungsional secara\ud
mendadak yang terjadi di otak dengan tanda gejala klinis. Baik fokal maupun global\ud
yang berlangsung lebih dari 24 jam.\ud
Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian\ud
Motor Relearning Program (MRP) dan Bobath Concept untuk memperbaiki pola\ud
jalan pasien pasca stroke.Metode:Penelitian ini menggunakan metode Quasy\ud
Eksperimental dengan pre dan post test design. Sampel penelitian ini pasien yang\ud
mengalami gangguan pola jalan di Rsu Pku Muhammadiyah Bantul dimana\ud
kelompok perlakuan 1 berjumlah 8 orang diberikan perlakuan Motor Relearning\ud
Program (MRP)dan kelompok perlakuan 2 berjumlah 8 orang diberikan Bobath\ud
Concept.Perlakuan dilakukan selama 6 minggu dengan frekuensi 1 minggu 2\ud
kali.Alat ukur pada penelitian ini adalah Gayt Cycle Measurement.Hasil:hasil uji\ud
hipotesis I menggunakan paired sample t-test diperoleh nilai p\ud
:0,000(p<0,05),hipotesis II diperoleh nilai p : 0,001 (p<0,05),hipotesis III diperoleh\ud
nilai p : 0,582 (p>0,05). Kesimpulan:tidak ada perbedaan pengaruh pemberian\ud
Motor Relearning Program (MRP) dan Bobath Concept untuk memperbaiki pola\ud
jalan pasien pasca stroke.Saran: kepada peneliti selanjutnya, untuk menambah\ud
jumlah responden dan memperpanjang waktu penelitian, sehingga diketahui\ud
keefektifian pemberian latihanMotor Relearning Program (MRP) dan Bobath\ud
Concept
PENGARUH PENYULUHAN TERHADAP\ud PENGETAHUAN DAN SIKAP PERINEAL\ud HYGIENE PADA REMAJA PUTRI DI\ud SMA MUHAMMADIYAH 7\ud YOGYAKARTA
Latar Belakang : Kesehatan reproduksi buruk mencapai 33 % pada wanita\ud
di seluruh dunia. Upaya mencegah terjadinya kesehatan alat reproduksi yang buruk,\ud
maka wanita harus selalu menjaga kebersihan terutama Perineal Hygiene (kebersihan\ud
alat kelamin). Program kesehatan reproduksi remaja merupakan pelayanan untuk\ud
membantu remaja memiliki status kesehatan reproduksi yang baik melalui pemberian\ud
informasi, pelayanan konseling, dan pendidikan keterampilan hidup, dengan cara\ud
pemberian penyuluhan kepada remaja dengan tujuan dapat meningkatkan\ud
pengetahuan dan sikap mengenai Perineal Hygiene.\ud
Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penyuluhan\ud
Perineal Hygiene terhadap pengetahuan dan sikap Perineal Hygiene pada remaja\ud
putri di SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta tahun 2018.\ud
Metode : Metode penelitian yang digunakan menggunakan eksperimen semu\ud
(quasi eksperimen) rancangan one group pretest-posttest design melibatkan 30\ud
responden dengan analisa data univariat dan analisa bivariate, uji normalitas data\ud
menggunakan uji Kolmogrov Smirnov dan pengujian hipotesis menggunakan uji\ud
parametrik dengan uji Paired Sample T-Test.\ud
Hasil : Hasil penelitian menunjukan pengetahuan sebelum penyuluhan\ud
kategori kurang 15 orang (50%) setelah penyuluhan pengetahuan kategori baik 17\ud
orang (56,7%), Sikap sebelum penyuluhan kategori kurang 16 orang (53,3%) setelah\ud
penyuluhan sikap kategori baik yaitu sebanyak 16 orang (53,3%). Terdapat pengaruh\ud
penyuluhan kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap perineal hygiene pada remaja\ud
puteri di SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta dengan nilai p value sebesar 0,000 (p\ud
< 0,05) pada pengetahuan dan p value sebesar 0,000 (p < 0,05) pada sikap.\ud
Kesimpulan dan Saran : Terdapat pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap\ud
pengetahuan dan sikap perineal hygiene pada remaja puteri di SMA Muhammadiyah\ud
7 Yogyakarta. Disarankan untuk penelitian selanjutnya menggunakan metode\ud
penyuluhan yang lain agar mendapatkan hasil yang lebih maksimal.
PERBEDAAN PENGARUH\ud INTEGRATED NEUROMUSCULAR INHIBITION\ud TECHNIQUE (INIT) DAN ACTIVE RELEASE\ud TECHNIQUE (ART) TERHADAP PENINGKATAN\ud FUNGSIONAL PADA MYOFASCIAL PAIN SYNDROME\ud OTOT UPPER TRAPEZIUS
Latar belakang: Otot upper trapezius merupakan otot yang sering terkena\ud
myofascial pain syndrome (MPS) yang timbul akibat kerja otot yang berlebihan,\ud
aktifitas sehari-hari yang statis dan terus-menerus sehingga menimbulkan nyeri yang\ud
mengakibatkan kekakuan, keterbatasan (lingkup gerak sendi) LGS, penurunan\ud
fleksibilitas otot dan penurunan fungsional leher. Tujuan: untuk mengetahui\ud
perbedaan pengaruh INIT dan ART dalam meningkatkan kemampuan fungsional\ud
pada MPS otot upper trapezius. Metode: Penelitian eksperimental untuk mengetahui\ud
perbedaan pengaruh INIT dengan ART pada objek penelitian. Sampel sebanyak 20\ud
orang pengrajut benang nilon karyawan Gulma Mutiara Craft, berusia 26-55 tahun\ud
dipilih dengan purposive sampling. Klompok 1 INIT dan kelompok 2 ART. Hasil:\ud
Uji normalitas dengan Saphiro Wilk Test dan uji homogenitas dengan Levene‟s Test.\ud
Hasil Paired Sample T-test kelompok 1 p=0,000, berarti ada pengaruh INIT terhadap\ud
peningkatan fungsional pada MPS otot upper trapezius, sedangkan kelompok 2\ud
p=0,000, berarti ada pengaruh ART terhadap peningkatan fungsional pada MPS otot\ud
upper trapezius. Hasil Independent t-Test p=0,665, berarti tidak ada perbedaan antara\ud
INIT dan ART terhadap peningkatan fungsional pada MPS otot upper trapezius.\ud
Kesimpulan: INIT dapat mengurangi nyeri dan meningkatkan fleksibillitas otot,\ud
ART berpengaruh terhadap kelancaran pergerakan jaringan dan mengurangi\ud
kekakuan otot sehingga keduanya dapat meningkatkan kemampuan fungsional. INIT\ud
dan ART sama baiknya sehingga dapat menjadi pilihan sebagai suatu intervensi yang\ud
efektif nantinya
PERBEDAAN PENGARUH PEMBERIAN\ud FOAM ROLLER MASSAGE DAN CONTRAST\ud BATH TERHADAP PENURUNAN EFEK\ud DELAYED ONSET MUSCLE SORNESS (DOMS)\ud OTOT QUADRICEPS PADA PESERTA LARI
Latar Belakang: Manusia adalah makhluk hidup yang dinamis dan untuk\ud
menunjang kehidupannya manusia memerlukan aktivitas fisik Mahasiswa karna\ud
terlalu sibuk dengan kuliah dan tugas sering kali lupa untuk berolahraga dan juga\ud
alasan mahasiswa enggan berolahraga adalah efek yang timbul setelah olahraga\ud
seperti nyeri pada otot, kelelahan dan lain sebagainya. Olahraga ringan yang\ud
menimbulkan efek nyeri otot atau kelelahan adalah lari. Tujuan: Mengetahui\ud
perbedaan pengaruh pemberian latihan foam roller massage dan contrast bath\ud
terhadap penurunan efek delayed onset muscle sorness pada otot quadriceps..\ud
Metode: Penelitian ini menggunakan metode quasi expertimental dengan pre and\ud
post test two group design. Sampel berjumlah 24 orang kemudian dibagi secara acak\ud
menjadi 2 kelompok. Kelompok I diberikan interverensi foam roller massage dan\ud
kelompok II diberikan contrast bath. Alat ukur pada penelitian ini adalah visual\ud
analog scale. Hasil: Hasil analisis data dengan paired sample t-test pada kelompok I\ud
dan II menunjukan nilai p=0,000 (p<0,5). Hal ini menunjukan adanya pengaruh pada\ud
setiap kelompok dan terjadi penurunan efek delayed onset muscle sorness. Hasil\ud
analisis dengan independent sample t-test menunjukan nilai p=0,605 (p>0,05) berarti\ud
tidak ada perbedaan pengaruh antara foam roller massage dan contrast bath\ud
terhadap efek delayed onset muscle sorness. Kesimpulan: Tidak ada perbedaan\ud
antara pemberian foam roller massage dan contrast bath terhadap penurunan efek\ud
delayed onset muscle sorness. Saran: Bagi peneliti selanjutnya, disarankan\ud
mempunyai foam roller sendiri, agar pelaksanan penelitian berjalan dengan lancar.\ud
Kata Kunci : foam roller massage, contrast bath, peserta lari, delayed onset muscle\ud
sornes
PENGARUH AKTIVITAS FISIK JALAN PAGI\ud TERHADAP TINGKAT HIPERTENSI LANSIA \ud DI DUSUN BIRU TRIHANGGO\ud GAMPING SLEMAN
Latar Belakang: Semakin bertambah usia seseorang semakin banyak pula penyakit yang\ud
muncul dan sering diderita khususnya pada lansia. Pada usia lanjut akan terjadi berbagai\ud
kemunduran pada organ tubuh, oleh sebab itu, para lansia mudah sekali terserang penyakit\ud
seperti hipertensi.\ud
Tujuan: Tujuan penelitian mengetahui pengaruh aktivitas fisik jalan pagi terhadap tingkat\ud
hipertensi di posyandu lansia Dusun Biru Trihanggo Gamping Sleman.\ud
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode quasi experiment, dengan nonequivalent\ud
control\ud
grup\ud
design.\ud
Pengambilan\ud
sampel\ud
dengan\ud
teknik\ud
purposive\ud
\ud
sampling\ud
dan\ud
\ud
diperoleh\ud
20\ud
responden.\ud
\ud
Instrumen dalam penelitian ini menggunakan tensi meter. Analisis\ud
data menggunakan Shapiro Wilk dan Paired T-test.\ud
Hasil Penelitian: Tingkat hipertensi setelah dilakukan aktivitas fisik jalan pagi sebanyak 5\ud
responden dalam kategori normal, 4 orang dalam kategori pra hipertensi dan 1 responden\ud
dalam kategori hipertensi derajat 1. Hasil analisis statistik Paired T-test nilai P-value 0,000\ud
(ρ<0,05) pada sistol pretest dan posttest dan 0,001 (ρ<0,05) diastol pretest dan posttest\ud
menunjukan bahwa Ha diterima dan Ho di tolak yang artinya ada pengaruh aktivitas fisik\ud
jalan pagi terhadap tekanan darah pada lansia.\ud
Simpulan dan Saran:Ada pengaruh aktivitas fisik jalan pagi terhadap tingkat hipertensi\ud
lansia di Posyandu Lansia Dusun Biru Trihanggo Gamping Sleman. Sebagai bentuk\ud
sederhana intervensi untuk mengontrol tekanan darah menjadi stabil, karena dapat dilakukan\ud
setiap hari secara teratur
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP\ud TINGKAT KEKAMBUHAN PASIEN SKIZOFRENIA \ud DI RUMAH SAKIT JIWA GRHASIA \ud D.I. YOGYAKARTA
Latar Belakang: Kekambuhan pasien skizofrenia disebabkan oleh berbagai faktor,\ud
diantaranya adalah tidak minum obat, tidak kontrol ke dokter secara teratur,\ud
menghentikan sendiri obat tanpa persetujuan dokter, kurangnya dukungan keluarga dan\ud
masyarakat serta adanya masalah kehidupan yang berat. Dukungan keluarga yang\ud
kurang baik akan memicu munculnya gejala yang sama seperti sebelumnya dan\ud
mengakibatkan pasien harus dirawat kembali.\ud
Tujuan: Tujuan penelitian untuk mengetahuinya Hubungan Dukungan keluarga dengan\ud
tingkat kambuhan pasien skizofrena di Rumah Sakit Jiwa Grhasia DI Yogyakarta.\ud
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan studi\ud
korelasi dengan penelitian menggunakan survay cross sectional. Pengambilan sampel\ud
dengan teknik purposive sampling dan diperoleh 90 responden. Instrumen penelitian\ud
yang digunakan yaitu kuesioner dukungan keluarga dan kuesioner tingkat kekambuhan.\ud
Analisis data menggunakan uji Kendall Tau.\ud
Hasil Penelitian: Dukungan keluarga pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Grhasia\ud
Yogyakarta menunjukkan bahwa baik 61 orang (67.8%), cukup sebanyak 29 orang\ud
(32.2%). Tingkat kekambuhan kategori rendah yaitu 78 orang (86.7%), sedang sebanyak\ud
12 orang (13.3%).\ud
Simpulan: Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kekambuhan pasien\ud
skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Grhasia DI Yogyakarta (t = 289 ;p< 0,05) yaitu sebesar\ud
0,006.\ud
Saran: Bagi perawat poliklinik Rumah Sakit Jiwa Grhasia DI Yogyakarta bagi perawat,\ud
pada saat konseling perawat menganjurkan keluarga mendampingi pasien sebagai\ud
bentuk dukungan kepada pasie
HUBUNGAN PERSEPSI LANSIA TENTANG PERAN\ud KADER DENGAN INTENSITAS KUNJUNGAN KE \ud POSYANDU LANSIA DI DUSUN CABEAN\ud BUMIREJO LENDAH KULON PROGO \ud YOGYAKARTA
Latar Belakang: Lansia membutuhkan pendekatan holistic untuk berbagai masalah\ud
kesehatan yang mempengaruhi kualitas kesehatan lansia itu sendiri karena ke kurang\ud
aktifan dalam proses pelaksanaan posyandu lansia akan mempengaruhi intensitas\ud
kunjungan ke posyandu lansia Cusun cabean Bumijero Kendah Kulon Progo\ud
Yogyakarta. Persepsi positif dari lansia terhadap peran kader kesehatan memiliki\ud
pengaruh positif terhadap efikasi diri dan kondisi emosi lansia. Lansia dengan tingkat\ud
efikasi diri yang tinggi menunjukkan motivasi yang tinggi untuk mengunjungi\ud
fasilitas kesehatan seperti posyandu lansia, masalah yang terjadi rendahnya intensitas\ud
kunjungan ke posyandu lansia, hasil wawan cara lansia lansia mengatakan tidak\ud
mengikuti posyandu karena tidak ada yang mengantar, pekerjaan, tidak ada informasi\ud
dari kade, kader tidak di memberitahu tentang manfaat posyandu lansia dan posyandu\ud
mengatakan hanya hadir di posyandu lansia 5-6 kali selama 1 tahun.\ud
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi lansia\ud
tentang peran kader dengan intensitas kunjungan ke posyandu lansia di Dusun\ud
Cabean Bumirejo Lendah Kulon Progo Yogyakarta.\ud
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian\ud
survey analitik korelatif. Sampel pada penelitian berjumlah 59 lansia yang diambil\ud
dengan teknik simple random sampling. Persepsi lansia diukur dengan kuesioner dan\ud
intensitas kunjungan keposyandu lansia diukur dengan presensi Kartu Menuju Sehat\ud
(KMS). Teknik analisis menggunakan uji Kendall Tau.\ud
Hasil: Sebanyak 55,9% responden memiliki persepsi yang baik tentang peran kader\ud
dan sebanyak 49,2% responden memiliki intensitas kunjungan yang rendah di\ud
posyandul ansia. Hasil analisa kendall tausebesar p-value 0,000 (<0,05) artinya\ud
terdapat hubungan persepsi lansia tentang peran kader dengan intensitas kunjungan ke\ud
posyandu lansia di Dusun Cabean Bumirejo Lendah Kulon Progo Yogyakarta.\ud
Saran: Responden di posyandu lansia Dusun Cabean disarankan meningkatkan\ud
intensitas kunjungan dan aktif keposyandu lansia untuk meningkatkan kesehatan\ud
mereka