91757 research outputs found
Sort by
ANALISIS KURIKULUM MERDEKA PADA PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM PERSPEKTIF FREEDOM TO LEARN ROGERS
Kurikulum merdeka merupakan kurikulum yang memberikan kebebasan dalam belajar dengan suasana yang tidak terasa mengikat diri dan tidak merasa terbebani bagi siswa. Bertujuan untuk mengembangkan potensi diri dan minat siswa, serta menciptakan pendidikan yang lebih menyenangkan bagi siswa dan guru. Guru BK berperan dalam membantu siswa menggali bakat, minat dan potensi lain, karena pilihan mata pelajaran sangat menentukan dalam penetapan cita-cita yang relevan dengan jurusan yang akan diambil di perguruan tinggi. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan kurikulum merdeka pada pelayanan bimbingan dan konseling di SMAN 19 Bandung dan hamabatan yang dihadapi guru BK dalam peneranaran kurikulum merdeka belajar di SMAN 19 Bandung. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, instrument wawancara dan studi dokumentasi. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah guru BK dengan lulusan S1 bimbingan dan konseling. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa dalam penerapan kurikulm merdeka guru BK harus membuat perencanaan program untuk mengidentifikasi kebutuhan siswa, dalam pengorganisasian layanan melakukan kerjasama dengan keluarga dan masyarakat serta berkolaborasi dengan guru mata pelajaran. Pada evaluasi program bisa menyeseuaikan dengan prinsip kurikulum merdeka, dalam pelaksanaannya semua stakeholder sekolah ikut terlibat dan pada implementasi program guru BK memberikan layanan sesuai dengan kebutuhan siswa.
The independent curriculum is a curriculum that provides freedom in learning with an atmosphere that does not feel self-binding and does not feel burdened for students. It aims to develop students' potential and interests, and create a more enjoyable education for students and teachers. Counseling teachers play a role in helping students explore their talents, interests and other potentials, because the choice of subjects is very decisive in setting goals that are relevant to the majors to be taken in college. The purpose of this study is to describe the application of an independent curriculum to guidance and counseling services at SMAN 19 Bandung and the obstacles faced by counseling teachers in implementing an independent learning curriculum at SMAN 19 Bandung. The approach used in this research is a qualitative approach. Data collection was done by observation, interview instrument and documentation study. The research subjects in this study were counseling teachers with a bachelor's degree in guidance and counseling. The results of the study revealed that in implementing the independent curriculum, the counseling teacher must make program planning to identify student needs, in organizing services to collaborate with families and communities and collaborate with subject teachers. In evaluating the program, it can adjust to the principles of an independent curriculum, in its implementation all school stakeholders are involved and in the implementation of the counseling teacher program provides services according to student needs
PENGEMBANGAN GERAK DASAR FUNDAMENTAL MELALUI PENERAPAN MODEL PENDIDIKAN GERAK PADA SISWA SEKOLAH DASAR
Ketidaksesuaian antara langkah pembelajaran dan tujuan yang ingin dicapai sering menghambat proses pendidikan jasmani, tercermin dari rendahnya keterlibatan siswa dalam aktivitas gerak. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan sarana yang membuat siswa lebih banyak menunggu giliran daripada berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan dan keterampilan gerak dasar siswa melalui penerapan model pendidikan gerak. Penelitian ini dilaksanakan karena mengingat pentingnya keterampilan gerak dasar untuk perkembangan anak. Model pendidikan gerak diharapkan dapat mengurangi waktu menunggu dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk lebih aktif bergerak dalam pembelajaran, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri mereka. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang melibatkan tahapan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi dalam dua siklus pembelajaran. Setiap siklus difokuskan pada pengembangan keterampilan gerak dasar dan peningkatan keterlibatan siswa. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam keterampilan fisik, kepercayaan diri, dan keterlibatan siswa pada siklus kedua dibandingkan siklus pertama. Siswa menjadi lebih aktif dan percaya diri dalam melakukan gerakan serta berpartisipasi dalam kegiatan kelompok. Secara keseluruhan, penerapan model pendidikan gerak terbukti efektif dalam meningkatkan keterlibatan siswa, keterampilan gerak dasar, dan kepercayaan diri dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Model ini dapat menjadi alternatif yang efektif dalam mengatasi keterbatasan sarana dan meningkatkan kualitas pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah.
The mismatch between the teaching steps and the goals to be achieved often hinders the physical education process, as reflected in the low student involvement in physical activities. One of the causes is the limited facilities, which lead students to spend more time waiting for their turn rather than actively participating in the learning process. This study aims to enhance students' movement skills and engagement through the implementation of a movement education model. This research was conducted due to the importance of fundamental movement skills for child development. The movement education model is expected to reduce waiting time and provide more opportunities for students to be actively engaged in movement during lessons, while also boosting their self-confidence. The method used is Classroom Action Research (CAR), which involves planning, action, observation, and reflection stages across two learning cycles. Each cycle focuses on developing fundamental movement skills and increasing student engagement. The results of the study show significant improvements in physical skills, self-confidence, and student involvement in the second cycle compared to the first cycle. Students became more active and confident in performing movements and participating in group activities. Overall, the application of the movement education model proved effective in enhancing student engagement, fundamental movement skills, and self-confidence in physical education lessons. This model can serve as an effective alternative to overcome facility limitations and improve the quality of physical education teaching in schools
ANALISIS KORELASIONAL PENGETAHUAN DAN KESADARAN ANEMIA DEFISIENSI BESI DI KALANGAN SISWI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) KOTA BANDUNG
Pendahuluan: Anemia merupakan masalah kesehatan global yang sering dijumpai di
negara-negara berkembang seperti Indonesia. Prevalensi anemia di Indonesia masih
terbilang cukup tinggi terutama pada kelompok remaja karena mengalami siklus
menstruasi sehingga berdampak pada kualitas hidup fisik, akademik, dan sosial. Oleh
karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengisi celah tersebut dan menggambarkan
hubungan antara pengetahuan dan kesadaran siswi SMA Kota Bandung. Tujuan:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan dan kesadaran
anemia defisiensi besi pada siswi SMA di Kota Bandung. Metode Penelitian: Sampel
penelitian terdiri dari 476 responden siswi SMA di Kota Bandung, menggunakan desain
cross-sectional dan teknik random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang
diadaptasi dengan judul Questionnaire-Based Online Survey on Knowledge and Awareness
of Anaemia dan disebarkan melalui media sosial. Hasil dan Pembahasan: Penelitian
menunjukkan bahwa pengetahuan dan kesadaran siswi berada dalam kategori tinggi. Uji
korelasi chi-square menunjukkan hubungan signifikan antara pengetahuan dan kesadaran
(p=0,000; OR=64,5). Simpulan: Temuan ini menunjukkan bahwa mayoritas siswi SMA
Kota Bandung memiliki pengetahuan dan kesadaran yang baik terkait anemia, serta
sebanyak 59,87% responden melakukan suplementasi tablet Fe. Hubungan yang signifikan
antara pengetahuan dan kesadaran dapat dipengaruhi oleh usia dan pendidikan. Penelitian
ini menegaskan pentingnya intervensi edukatif yang disesuaikan dengan karakteristik
remaja untuk meningkatkan efektivitas pencegahan anemia.
Introduction: Anemia is a global health problem that is often found in developing countries
such as Indonesia. The prevalence of anemia in Indonesia is still quite high, especially in
the adolescent group because they experience the menstrual cycle, which has an impact on
physical, academic, and social quality of life. Therefore, this study aims to fill the gap and
describe the relationship between knowledge and awareness of high school students in
Bandung City. Objectives: This study aims to analyze the relationship between knowledge
and awareness related to iron deficiency anemia among high school students in Bandung
City. Research Methods: The study sample consisted of 476 high school student
respondents in Bandung City, using a cross-sectional design and random sampling
technique. Data were collected through an adapted questionnaire titled Questionnaire
Based Online Survey on Knowledge and Awareness of Anaemia and distributed through
social media. Results and Discussion: The study showed that the knowledge and awareness
of female students were in the high category. The chi-square correlation test showed a
significant
relationship
between
knowledge
and
awareness
(p=0.000;
OR=64.5).Conclusion: This finding shows that the majority of high school students in
Bandung City have good knowledge and awareness related to anemia, and as many as
59.87% of respondents take Fe tablet supplementation. The significant relationship
between knowledge and awareness may be influenced by age and education. This study
confirms the importance of educative interventions tailored to the characteristics of
adolescents to increase the effectiveness of anemia prevention
SEGMENTASI WISATAWAN GEN Z BERDASARKAN PERILAKU BERTANGGUNG JAWAB TERHADAP LINGKUNGAN DALAM GREEN TOURISM
Sektor pariwisata memainkan peran signifikan dalam mendorong
pertumbuhan ekonomi, namun juga memunculkan tantangan keberlanjutan yang
kritis, termasuk polusi dan degradasi lingkungan. Pariwisata hijau (green tourism)
menawarkan solusi potensial dengan mengharmonisasikan kebutuhan wisatawan
dan pelestarian sumber daya alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perilaku
bertanggung jawab terhadap lingkungan pada wisatawan Generasi Z dalam konteks
pariwisata hijau serta mengelompokkan pola perilaku mereka terhadap praktik
perjalanan yang berkelanjutan. Selain itu, penelitian ini juga mengisi kesenjangan
dalam literatur terkait perilaku wisatawan yang pro-keberlanjutan. Pendekatan
kuantitatif diadopsi dalam penelitian ini dengan mendistribusikan kuesioner secara
online kepada 350 responden Generasi Z di Indonesia. Analisis data dilakukan
menggunakan Principal component analysis (PCA) untuk mereduksi dimensi data
dan k-means clustering untuk mengelompokkan perilaku bertanggung jawab
terhadap lingkungan. Uji validitas dan reliabilitas juga dilakukan. untuk
memastikan akurasi pengukuran. Hasil penelitian mengungkapkan tiga dimensi
utama perilaku perjalanan yang bertanggung jawab, yaitu kesadaran lingkungan,
penggunaan transportasi bebas karbon, dan pemilihan akomodasi ramah
lingkungan. Berdasarkan dimensi tersebut, penelitian ini mengidentifikasi tiga
segmen wisatawan Generasi Z yang berbeda, yaitu unmotivated eco-travelers,
selective environmentalists, dan comprehensive environmentalists. Temuan ini
menekankan pentingnya kesadaran lingkungan, penggunaan transportasi bebas
karbon, dan adopsi akomodasi ramah lingkungan sebagai faktor kunci yang
membedakan segmen-segmen tersebut. Wawasan ini diharapkan dapat membantu
industri
pariwisata dalam hal mengembangkan strategi yang terarah,
mempromosikan praktik pariwisata berkelanjutan, dan mendorong terciptanya
pariwisata yang selaras dengan nilai-nilai serta prefensi Generasi Z.
The tourism sector plays a significant role in driving economic growth but
also raises critical sustainability challenges, including pollution and environmental
degradation. Green tourism presents a potential solution by harmonizing the needs
of tourists with the preservation of natural resources. This study aims to examine
the environmentally responsible behavior of Generation Z tourists in the context of
green tourism and to segment their behavioral patterns toward sustainable travel
practices. Additionally, the research addresses a gap in the literature regarding
pro-sustainability tourist behavior. A quantitative approach was adopted, involving
the distribution of online questionnaires to 350 Gen Z respondents in Indonesia.
Data analysis was conducted using Principal Component Analysis (PCA) to reduce
dimensionality and K-Means Clustering to segment environmentally responsible
behaviors. Validity and reliability tests were also performed to ensure the accuracy
of the measurements. The findings reveal three key dimensions of responsible travel
behavior: environmental awareness, carbon-free commuters, and the selection of
eco-friendly accommodations. Based on these dimensions, the study identifies three
distinct segments of Gen Z tourists: unmotivated eco-travelers, selective
environmentalists, and comprehensive environmentalists. The results underscore
the importance of environmental awareness, carbon-free commuters, and the
adoption of eco-friendly accommodations as critical factors distinguishing these
segments. These insights are expected to inform the tourism industry's development
of targeted marketing strategies, promote sustainable tourism practices, and
facilitate the creation of tourism products aligned with the values and preferences
of Generation Z
MODAL SOSIAL DALAM KOMUNITAS JATIWANGI ART FACTORY DI FESTIVAL RAMPAK GENTENG: Studi Deskriptif di Komunitas Jatiwangi Art Factory
Festival Rampak Genteng yang diselenggarakan oleh komunitas Jatiwangi Art Factory
(JAF) merupakan representasi budaya lokal yang unik dan penuh nilai sosial. Dalam
pelaksanaannya, keberlanjutan festival ini tidak lepas dari kekuatan modal sosial yang
tumbuh dalam komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran modal sosial
dalam komunitas JAF pada pelaksanaan Festival Rampak Genteng, serta implikasinya
terhadap pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Penelitian menggunakan
pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi
partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa norma kekeluargaan dan budaya gotong royong yang tercermin dalam konsep
Babanton, kepercayaan berbasis keterbukaan dan integritas, serta jaringan sosial yang
terbentuk dari tingkat lokal hingga internasional, berperan penting dalam membangun
solidaritas dan kolaborasi di dalam komunitas. Bonding social capital menjadi modal
sosial yang paling dominan, sementara bridging dan linking social capital masih perlu
diperkuat untuk memperluas akses sumber daya eksternal. Modal sosial ini berkontribusi
dalam memperkuat identitas budaya lokal dan keberlanjutan Festival Rampak Genteng
sebagai ruang pemberdayaan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Dalam konteks
pendidikan, nilai-nilai yang terkandung dalam praktik modal sosial komunitas JAF
diintegrasikan ke dalam pembelajaran IPS pada tema Pemberdayaan Masyarakat.
Penelitian ini menghasilkan perangkat pembelajaran IPS berbasis Kurikulum Merdeka,
yang terdiri dari RPP, bahan ajar, media ajar, dan LKPD. Perangkat ini dirancang untuk
mendorong pembelajaran kontekstual, kolaboratif, dan berbasis pengalaman melalui studi
kasus dan kegiatan proyek. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memberikan
kontribusi terhadap kajian sosial-budaya, tetapi juga memperkaya model pembelajaran
IPS yang relevan dengan kehidupan nyata peserta didik.
The Rampak Genteng Festival organized by the Jatiwangi Art Factory (JAF) community
is a representation of a unique local culture full of social values. In its implementation,
the sustainability of this festival cannot be separated from the strength of social capital
that grows in the community. This study aims to analyze the role of social capital in the
JAF community in the implementation of the Rampak Genteng Festival, as well as its
implications for learning Social Sciences (IPS). The study used a descriptive qualitative
approach with data collection techniques through participatory observation, in-depth
interviews, and documentation studies. The results of the study indicate that family norms
and mutual cooperation culture reflected in the Babanton concept, trust based on
openness and integrity, and social networks formed from local to international levels,
play an important role in building solidarity and collaboration within the community.
Bonding social capital is the most dominant social capital, while bridging and linking
social capital still need to be strengthened to expand access to external resources. This
social capital contributes to strengthening local cultural identity and the sustainability of
the Rampak Genteng Festival as a space for social, economic, and cultural empowerment
of the community. In the context of education, the values contained in the practice of
social capital of the JAF community are integrated into IPS learning on the theme of
Community Empowerment. This research produces social studies learning devices based
on the Independent Curriculum, consisting of lesson plans, teaching materials, teaching
media, and worksheets. These devices are designed to encourage contextual,
collaborative, and experience-based learning through case studies and project activities.
Thus, this research not only contributes to socio-cultural studies, but also enriches the
social studies learning model that is relevant to the real lives of students
PENERAPAN TERAPI RELAKSASI BENSON UNTUK MENURUNKAN TINGKAT NYERI PADA PASIEN LUKA BAKAR DERAJAT II: Laporan Kasus
Latar Belakang: Luka bakar derajat II menimbulkan nyeri hebat akibat kerusakan jaringan hingga dermis, yang jika tidak tertangani dapat menghambat penyembuhan dan menurunkan kualitas hidup pasien. Salah satu metode non-farmakologis untuk mengatasi nyeri adalah terapi relaksasi Benson yang menggabungkan pernapasan dalam dan afirmasi positif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi relaksasi Benson dalam menurunkan tingkat nyeri pada pasien luka bakar derajat II. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan berbasis evidence based practice nursing. Subjek penelitian adalah satu pasien laki-laki dengan luka bakar derajat II akibat sengatan listrik yang dirawat selama empat hari di RSUD Umar Wirahadikusumah Sumedang. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skala nyeri secara bertahap dari 6 menjadi 2 selama empat hari. Pasien juga melaporkan peningkatan kenyamanan dan kualitas tidur. Kesimpulan: Jadi terapi relaksasi Benson efektif menurunkan nyeri pada pasien luka bakar derajat II. Saran: Terapi ini dapat digunakan sebagai intervensi keperawatan non-farmakologis dalam manajemen nyeri.
Background: Second-degree burns cause severe pain due to tissue damage reaching the dermis, which, if left untreated, can hinder healing and reduce the patient's quality of life. One non-pharmacological method to manage pain is Benson relaxation therapy, which combines deep breathing with positive affirmations. Objective: This study aims to determine the effectiveness of Benson relaxation therapy in reducing pain levels in patients with second-degree burns. Method: This research employed a case study design with a nursing care approach based on evidence-based practice. The subject was a male patient with second-degree burns caused by electrical shock, who was treated for four days at Umar Wirahadikusumah Regional Hospital, Sumedang. Results: The results showed a gradual decrease in the pain scale from 6 to 2 over four days. The patient also reported increased comfort and improved sleep quality. Conclusion: Benson relaxation therapy is effective in reducing pain in patients with second-degree burns. Recommendation: This therapy can be used as a non-pharmacological nursing intervention in pain management
EFEKTIVITAS PENDEKATAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA FASE B SEKOLAH DASAR
Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya kemampuan pemahaman konsep matematis siswa fase B pada materi membandingkan dan mengurutkan pecahan berpembilang satu. Hal tersebut dikarenakan belum diterapkannya pendekatan pembelajaran yang memberikan ruang bagi siswa untuk aktif membangun pemahamannya secara mandiri serta belum tersajinya masalah realistik yang dapat dibayangkan oleh siswa. Adapun sebagai upaya membantu siswa memahami konsep matematika dengan baik maka diperlukan salah satu pendekatan pembelajaran berbasis student centered (berpusat kepada siswa) yang bertitik tolak dari kehidupan nyata siswa dan berkaitan dengan konteks ilmu matematika, yaitu melalui penerapan pendekatan realistic mathematics education (RME). Adapun tujuan dari penelitian ini, yaitu untuk mendeskripsikan efektivitas pendekatan RME terhadap peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa fase B pada materi membandingkan dan mengurutkan pecahan berpembilang satu. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif melalui desain penelitian pre-experimental bentuk one-group pretest-posttest design. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan tes berupa pretest dan posttest. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa yang signifikan antara sebelum dan sesudah diterapkannya pendekatan RME. Selain itu, pendekatan RME berada pada kriteria keefektifan yang tinggi dengan skor n-gain sebesar 0,83. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pendekatan RME efektif untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa fase B pada materi membandingkan dan mengurutkan pecahan berpembilang satu.
This study was motivated by the low level of mathematical conceptual understanding ability among Phase B students in the topic of comparing and ordering fractions with a numerator of one. This issue was due to the absence of a learning approach that provides opportunities for students to actively construct their understanding independently, as well as the lack of realistic problems that are readily imaginable for students. As an effort to help students understand mathematical concepts effectively, it is necessary to implement a student-centered learning approach grounded in students’ real-life experiences and related to the context of mathematical knowledge, namely through the application of the realistic mathematics education (RME) approach. This study aims to describe the effectiveness of the RME approach in improving the mathematical conceptual understanding ability of Phase B students in the topic of comparing and ordering fractions with a numerator of one. The research method used was quantitative, using a pre-experimental design in the form of a one-group pretest-posttest design. The data collection technique used was a test consisting of a pretest and a posttest. The results showed a significant improvement in students’ mathematical conceptual understanding ability before and after the implementation of the RME approach. In addition, the RME approach fell into the high-effectiveness category with an n-gain score of 0,83. Therefore, it can be concluded that the RME approach is effective in improving the mathematical conceptual understanding ability of Phase B students
PENGEMBANGAN MEDIA PANGGUNG BONEKA BERBASIS KEARIFAN LOKAL UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA PESERTA DIDIK FASE A SEKOLAH DASAR
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keterampilan berbicara peserta didik fase A Sekolah Dasar khususnya dalam aspek keberanian, kelancaran, pelafalan, diksi, dan volume suara. Kurangnya media pembelajaran yang konkret, menarik, dan kontekstual menjadi salah satu penyebab peserta didik kurang aktif dalam kegiatan berbicara di kelas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran berupa Panggung Boneka Berbasis Kearifan Lokal yang dapat meningkatkan keterampilan berbicara peserta didik fase A Sekolah Dasar. Penelitian ini menggunakan metode Design and Development (D&D) model ADDIE (analysis, design, development, implementation, and evaluation). Instrumen penelitian ini adalah lembar validasi, observasi terstruktur, wawancara, dan tes. Partisipan penelitian ini terdiri dari 17 peserta didik fase A di salah satu SD Negeri Kota Bandung, praktisi pembelajaran, ahli media, dan ahli materi. Hasil rata-rata validasi ahli materi, ahli media, dan ahli pembelajaran menunjukan bahwa media termasuk dalam kategori “sangat layak” untuk digunakan. Hasil dari perolehan tes peserta didik sebelum dan sesudah uji coba media menunjukan peningkatan dengan nilai n-gain berada pada kategori tinggi. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa media panggung boneka berbasis kearifan lokal ini layak dan efektif digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia untuk meningkatkan keterampilan berbicara peserta didik Fase A.
This research is based on the discovery that phase A elementary school students still lack speaking skills, particularly in terms of confidence, fluency, pronunciation, diction, and voice volume. The lack of concrete, interesting, and contextual learning media is one of the reasons why students are less active in speaking activities in class. Therefore, this study aims to develop learning media in the form of a Local Wisdom-Based Puppet Stage that can improve students' speaking skills. This study uses the Design and Development (D&D) model ADDIE (analysis, design, development, implementation, and evaluation). The research instruments are validation sheets, structured observations, interviews, and tests. The research participants consisted of 17 phase A students at a public elementary school in Bandung, learning practitioners, media experts, and subject matter experts. The average validation results from subject matter experts, media experts, and learning experts indicated that the media falls into the “highly suitable” category for use. The results of the students' tests before and after the media trial showed an increase with the n-gain score in the high category. Based on these results, it can be concluded that this local wisdom-based puppet stage media is suitable and effective for use in Indonesian language learning to improve the speaking skills of Phase A students
ANALISIS TEKNIK VOKAL BELTING ONCE MEKEL DALAM MEMBAWAKAN LAGU ARJUNA
Belting merupakan salah satu teknik vokal yang menonjol dalam dunia
musik pop dan rock, terutama untuk mencapai nada tinggi dengan kekuatan dan
ketegasan. Once Mekel, sebagai salah satu vokalis ternama Indonesia, sering
menggunakan teknik ini dalam penampilannya, termasuk dalam lagu "Arjuna".
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan terhadap keunikan teknik vokal
belting yang diterapkan oleh Once Mekel, serta pentingnya pemahaman teknik
tersebut dalam konteks pembelajaran vokal. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis penggunaan teknik belting oleh Once Mekel dalam lagu "Arjuna",
termasuk karakteristik vokal, dinamika, serta aspek teknis yang mendukung
penerapan teknik ini. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan
pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi terhadap penampilan
Once Mekel, analisis audio-visual, serta kajian literatur terkait teknik vokal belting.
Teknik analisis data melibatkan transkripsi dan pengkajian mendalam terhadap
elemen-elemen vokal yang mencakup register, resonansi, koordinasi otot tubuh
bagian bawah dan sikap badan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Once Mekel
mampu menguasai teknik belting dengan stabilitas suara yang terjaga dan ekspresi
emosional yang kuat. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi para
pelajar musik dalam memahami dan mengaplikasikan teknik belting secara efektif.
Belting is one of the prominent vocal techniques in the world of pop and
rock music, especially to reach high notes with power and assertiveness. Once
Mekel, as one of Indonesia's famous vocalists, often uses this technique in his
performances, including in the song “Arjuna”. This research is motivated by an
interest in the uniqueness of the belting vocal technique applied by Once Mekel,
as well as the importance of understanding the technique in the context of vocal
learning. This research aims to analyze Once Mekel's use of belting technique in
the song “Arjuna”, including vocal characteristics, dynamics, and technical
aspects that support the application of this technique. The method used is a case
study with a qualitative approach. Data was collected through observation of
Once Mekel's performance, analysis of audio-visual, and literature review related
to belting vocal technique. Data analysis techniques involved transcription and
in-depth study of vocal elements including register, resonance, lower body muscle
coordination and posture. The results show that Once Mekel is able to master the
belting technique with maintained voice stability and strong emotional
expression. This research is expected to be a reference for music students in
understanding and applying belting techniques effectively
PENERAPAN ATRAUMATIC CARE TERHADAP KECEMASAN PADA ANAK DENGAN HIRSCHSPRUNG POST OP COLOSTOMY SAAT PROSES HOSPITALISASI
Penyakit hirschsprung merupakan kelainan kongenital yang terjadi pada saluran pencernaan yang ditandai dengan tidak adanya sel ganglion di sebagian atau seluruh bagian usus besar. Namun demikian, tindakan ini dapat memberikan dampak psikologis signifikan, terutama pada anak-anak, yang secara emosional masih sangat tergantung pada lingkungan dan keluarga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan kajian dan asuhan keperawatan mengenai penerapan atraumatic care terhadap kecemasan pada anak dengan hirschsprung post op colostomy saat proses hospitalisasi. Penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus (case report) menggunakan Verbal Analogue Scale for Anxiety (VAS-A) sebagai alat ukur kecemasan dengan subjeknya adalah anak berusia 18 bulan di RSUD Gunung Jati Cirebon selama periode 28 Desember 2024 sampai dengan 31 Desember 2024 dengan pengambilan sampel purposive sampling. Hasil didapatkan selama dilakukan intervensi terapi audiovisual selama 4 hari terbukti berhasil menurunkan tingkat kecemasan dari skor 7 (cemas berat), menjadi skor 2 (cemas ringan). Kesimpulan didapatkan bahwa penerapan atraumatic care dengan audiovisual terhadap kecemasan anak telah berhasil menurunkan kecemasan anak dalam proses hospitalisasi.
Hirschsprung disease is a congenital disorder that occurs in the digestive tract characterized by the absence of ganglion cells in part or all of the large intestine. However, this action can have a significant psychological impact, especially on children, who are still emotionally very dependent on their environment and family. The purpose of this study was to conduct a study and nursing care regarding the application of atraumatic care to anxiety in children with Hirschsprung post-op colostomy during the hospitalization process. Descriptive research with a case study approach (case report) using the Verbal Analogue Scale for Anxiety (VAS-A) as a measure of anxiety with the subjects being 18-month-old children at Gunung Jati Cirebon Hospital during the period December 28, 2024 to December 31, 2024 with purposive sampling. The results obtained during the audiovisual therapy intervention for 4 days were proven to be successful in reducing anxiety levels from a score of 7 (severe anxiety) to a score of 2 (mild anxiety). The conclusion was that the application of atraumatic care with audiovisuals to children's anxiety had succeeded in reducing children's anxiety during the hospitalization process