91757 research outputs found
Sort by
MODEL INKUBATOR BISNIS BERBASIS TEKNOLOGI DAN KEMITRAAN BAGI USAHA KECIL MENENGAH DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN TEKNIK DAN VOKASIONAL (TVET)
Model inkubator bisnis konvensional di Indonesia masih menghadapi kesenjangan kritis dalam mengintegrasikan teknologi digital dan kemitraan strategis untuk mendukung pertumbuhan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) berbasis teknologi. Studi terdahulu menunjukkan adanya fragmentasi antara dukungan akademik, jaringan industri, kebijakan pemerintah, dan pengelolaan sumber daya, yang berdampak pada rendahnya tingkat keberhasilan startup teknologi dalam jangka panjang. Penelitian ini mengembangkan model inkubator bisnis berbasis teknologi dan kemitraan dalam perspektif Technical and Vocational Education and Training (TVET) sebuah pendekatan holistik yang belum pernah dikaji secara sistematis dalam literatur inkubasi bisnis di negara berkembang. Tujuan utama dari penelitian ini adalah merumuskan dan memvalidasi model inkubator yang relevan dengan karakteristik UKM Indonesia, dengan fokus pada integrasi empat pilar konseptual: kewirausahaan akademik, jaringan kemitraan, dukungan kebijakan, dan pengelolaan sumber daya yang dikombinasikan dengan teknologi dan kemitraan strategis. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan tiga tahap utama. Tahap pertama adalah analisis tren riset global dan nasional melalui Systematic Literature Review (SLR), yang mengidentifikasi empat dimensi utama sebagai landasan teoritis pengembangan model inkubator. Tahap kedua menggunakan pendekatan kuantitatif dengan Structural Equation Modeling – Partial Least Squares (SEM-PLS versi 4) untuk menguji hubungan antar variabel konseptual. Hasil pengujian menunjukkan tingkat kecocokan model (goodness-of-fit) yang tinggi dan daya prediksi yang kuat terhadap pengembangan teknologi, efektivitas model berbasis kemitraan, dan pertumbuhan startup. Korelasi signifikan ditemukan antara ketersediaan sumber daya manusia, kekuatan jaringan industri, dan akses pendanaan dengan efektivitas model inkubasi berbasis teknologi. Pada tahap ketiga, model kuantitatif divalidasi secara kualitatif melalui Focus Group Discussion (FGD) bersama para akademisi, pengelola inkubator, praktisi industri, serta pemangku kepentingan pendidikan vokasi. Proses ini memperkuat relevansi model dalam konteks lokal Indonesia dan menegaskan pentingnya integrasi fungsi inkubasi ke dalam ekosistem TVET. Validasi triangulatif ini mengungkap bahwa keberhasilan inkubasi tidak hanya ditentukan oleh faktor teknis dan struktural, tetapi juga oleh kesiapan ekosistem pendidikan vokasional dalam mendorong technopreneurship melalui kolaborasi multipihak dan teknologi yang adaptif. Hasil akhir penelitian ini adalah model konseptual dan operasional inkubator bisnis yang tidak hanya integratif dan kontekstual, tetapi juga adaptif terhadap kebutuhan transformasi ekonomi berbasis teknologi, khususnya dalam membangun keterhubungan antara pendidikan vokasi, industri, dan sektor publik. Penelitian ini memberikan kontribusi orisinal terhadap pengembangan teori kewirausahaan di negara berkembang, serta menyajikan implikasi praktis bagi para pengambil kebijakan, lembaga pendidikan vokasi, pengelola inkubator, dan pelaku industri dalam membentuk ekosistem kewirausahaan yang inklusif, berbasis teknologi, dan berkelanjutan.
Conventional business incubator models in Indonesia continue to face critical gaps in integrating digital technology and strategic partnerships to support the growth of technology-based Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs). Previous studies have highlighted a persistent fragmentation between academic support, industrial networks, government policy, and resource management factors that collectively contribute to the low long-term success rates of technology startups. This study develops a technology- and partnership-based business incubator model within the perspective of Technical and Vocational Education and Training (TVET) a holistic approach that has not been systematically explored in the existing literature on business incubation in developing countries. The primary objective of this research is to formulate and validate an incubator model that is relevant to the unique characteristics of Indonesian MSMEs, with a focus on integrating four conceptual pillars: academic entrepreneurship, partnership networks, policy support, and resource management combined with digital technology and strategic collaboration. Employing a mixed-methods approach, the study was carried out in three main stages. The first stage involved analyzing global and national research trends using a Systematic Literature Review (SLR), which identified four core dimensions as the theoretical foundation of the model. In the second stage, a quantitative approach using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (SEM-PLS version 4) was applied to test the structural relationships among the conceptual variables. The analysis revealed a strong model goodness-of-fit and predictive power toward key performance indicators such as technology development, partnership-based business models, and startup growth. Significant positive correlations were found between the availability of human resources, the strength of industrial networks, and access to funding with the effectiveness of the technology-based incubation model. In the third stage, the quantitatively derived model was qualitatively validated through Focus Group Discussions (FGDs) involving academics, incubator managers, industry practitioners, and vocational education stakeholders. This process reinforced the model’s relevance to the Indonesian context and emphasized the importance of embedding incubation functions into the broader TVET ecosystem. The triangulated validation confirmed that the success of business incubation depends not only on technical and structural factors but also on the readiness of vocational education ecosystems to foster technopreneurship through cross-sector collaboration and adaptive technology use. The final result of this research is a conceptual and operational incubator model that is not only integrative and contextual but also responsive to the needs of technology-driven economic transformation, particularly in linking vocational education, industry, and the public sector. This study offers an original contribution to the theoretical advancement of entrepreneurship in developing economies, while also presenting practical implications for policymakers, vocational education institutions, incubator managers, and industry actors in building an inclusive, technology-oriented, and sustainable entrepreneurial ecosystem
PERAN EFIKASI DIRI PADA MAHASISWA UPI DALAM PROGRAM UPI INTERNATIONAL STUDENT MOBILITY (UPIISM)
Di era digital ini, kemajuan teknologi mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk cara berinteraksi dan beradaptasi di lingkungan sosial. Masa kuliah merupakan fase penting bagi siswa dalam mengembangkan nilai, peran, dan perilaku sosial yang akan diamati oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran efikasi diri dalam kemampuan interaksi sosial mahasiswa peserta program UPI International Student Mobility (UPIISM). Mengingat kemampuan adaptasi dan keterampilan sosial merupakan faktor penting dalam keberhasilan akademik dan sosial di lingkungan internasional, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara dan dokumentasi dengan subjek yang dipilih secara purposive sampling. Analisis data dilakukan melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan untuk mengidentifikasi peran efikasi diri pada interaksi sosial mahasiswa selama program berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat efikasi diri yang tinggi memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan keterampilan sosial dan kemampuan adaptasi siswa, serta memberikan pengaruh positif terhadap interaksi sosial. Dukungan institusi juga ditemukan sebagai faktor pendukung yang memperkuat efikasi diri dan interaksi sosial. Temuan ini menegaskan bahwa efikasi diri dapat ditingkatkan melalui pengalaman dan lingkungan yang mendukung, sehingga program mobilitas internasional seperti UPIISM berpotensi memperkuat kompetensi sosial mahasiswa.
In this digital era, technological advancements influence various aspects of life, including how individuals interact and adapt in social environments. The college period is a crucial phase for students to develop social values, roles, and behaviors that are observed by society. This study aims to examine the role of self-efficacy in the social interaction abilities of students participating in the UPI International Student Mobility (UPIISM) program. Considering that adaptation skills and social competencies are key factors in academic and social success in international settings, this research employs a qualitative approach using a case study method. Data were collected through interviews and documentation, with subjects selected through purposive sampling. Data analysis involved reduction, presentation, and drawing conclusions to identify the role of self-efficacy in students' social interactions during the program. The results reveal that a high level of self-efficacy significantly contributes to improved social skills and adaptability, positively impacting social interactions. Institutional support also emerged as a reinforcing factor for self-efficacy and social interactions. These findings confirm that self-efficacy is not only an individual attribute but can be enhanced through supportive experiences and environments, making international mobility programs like UPIISM effective in strengthening students' social competencies
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MEDIA “KPS” UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS PESERTA DIDIK FASE B SEKOLAH DASAR
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan rendahnya kemampuan pemahaman konsep matematis mengenai materi operasi hitung perkalian pada peserta didik fase B sekolah dasar. Hal tersebut disebabkan oleh terbatasnya penggunaan media pembelajaran pada saat proses pembelajaran, sehingga diperlukan penggunaan media pembelajaran konkret yaitu media “KPS”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penggunaan media “KPS” terhadap peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematis peserta didik fase B pada materi perkalian. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental yaitu bentuk one-group pre-test-post-test design. Sampel penelitian ini adalah peserta didik kelas III berjumlah 19 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata nilai pre-test adalah 64,37 dan rata-rata nilai post-test adalah 90,63. Berdasarkan hasil analisis data menggunakan SPSS Statistics 29 diperoleh bahwa hasil uji paired sample t-test menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,001 < 0,05 yang artinya terdapat perbedaan rerata. Hasil uji perbedaan rerata terhadap skor N-Gain adalah 0,71 atau 71,91% yang menunjukkan kriteria keefektivan yang tinggi. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan media “KPS” cukup efektif untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis pada materi perkalian.
This research is motivated by the problem of low ability to understand mathematical concepts regarding multiplication counting operation material in phase B elementary school students. This is caused by the limited use of learning media during the learning process, so it is necessary to use concrete learning media, namely ‘KPS’ media. This study aims to analyse the effectiveness of the use of ‘KPS’ media on improving the ability to understand the mathematical concepts of phase B students on multiplication material. The research method used is a quantitative approach with a pre-experimental design, namely the form of one-group pre-test-post-test design. The sample of this study was class III students totalling 19 people. The results showed that the average pre-test score was 64.37 and the average post-test score was 90.63. Based on the results of data analysis using SPSS Statistics 29, the results of the paired sample t-test test showed a significance value of 0.001 <0.05, which means there is a difference in means. The result of the mean difference test on the N-Gain score is 0.71 or 71.91% which shows high effectiveness criteria. It can be concluded that the use of ‘KPS’ media is effective enough to improve the ability to understand mathematical concepts on multiplication material
EFEKTIVITAS METODE VAKT (VISUAL, AUDITORY, KINESTHETIC, AND TACTILE) BERBANTUAN MEDIA BINGO KATA DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA PERMULAAN SISWA KELAS I SEKOLAH DASAR
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keterampilan membaca permulaan siswa kelas 1 di sekolah dasar. Salah satu faktor penyebabnya adalah metode dan media pembelajaran yang kurang bervariasi serta belum sesuai dengan gaya belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas metode VAKT (Visual, Auditory, Kinesthetic, and Tactile) berbantuan media Bingo Kata dalam meningkatkan keterampilan membaca permulaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-eksperimen one group pretest-posttest. Subjek penelitian ini adalah 21 siswa kelas I di salah satu SD Negeri di Kota Bandung. Teknik pengumpulan data menggunakan tes lisan yang mengacu pada indikator membaca permulaan : lafal, kelancaran, kejelasan suara, dan intonasi. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada nilai posttest dibanding pretest, dengan uji paired sample t-test menunjukkan nilai signifikan < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa metode VAKT berbantuan media Bingo Kata efektif dalam meningkatkan keterampilan membaca permulaan siswa. Temuan ini merekomendasikan integrasi metode multisensori dan media permainan edukatif dalam pembelajaran membaca awal di sekolah dasar.
This study is motivated by the low early reading skills of grade 1 students in elementary school. One contributing factor is the lack of varied learning methods and media that match students' learning styles. The purpose of this research is to determine the effectiveness of the VAKT method (Visual, Auditory, Kinesthetic, and Tactile) assisted by Bingo Kata media in improving early reading skills. This research employed a quantitative approach with a pre-experimental one-group pretest-posttest design. The research subjects were 21 first-grade students at a public elementary school in Bandung. Data were collected using oral tests based on early reading indicators: pronunciation, fluency, voice clarity, and intonation. The analysis results showed a significant increase in posttest scores compared to pretest scores, with a paired sample t-test indicating a significance value < 0.05. These findings suggest that the VAKT method assisted by Bingo Kata media is effective in enhancing students' early reading skills. The study recommends the integration of multisensory methods and educational game-based media in early reading instruction at the primary school level
PENGARUH TERAPI MUROTTAL AL-QUR’AN TERHADAP HEMODINAMIKA DAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN DENGAN PENYAKIT JANTUNG KORONER (PJK) DI RUANG ICU
Latar Belakang: Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian tertinggi di seluruh dunia, dengan Penyakit Jantung Koroner (PJK) sebagai salah satu bentuk yang paling umum. Kecemasan merupakan salah satu masalah psikologis yang sering menyertai pasien PJK, terutama saat menjalani perawatan di ruang ICU, dan dapat memperburuk kondisi hemodinamik. Metode: Studi ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan desain case report, melalui intervensi keperawatan yang mengintegrasikan prinsip Evidence-Based Nursing Practice (EBN). Intervensi yang diberikan berupa terapi Murottal Al-Qur’an sebagai metode non- farmakologis selama empat hari berturut-turut. Hasil : Rata-rata penurunan skor HARS setelah intervensi adalah 4 poin. Nilai kecemasan tertinggi tercatat pada hari pertama yaitu 24 (kecemasan cukup berat), dan nilai terendah pada hari kelima yaitu 13 (kecemasan ringan). Perubahan juga diikuti perbaikan pada parameter hemodinamik seperti tekanan darah dan frekuensi nadi. Kesimpulan: Terapi Murottal Al-Qur’an berpengaruh terhadap penurunan tingkat kecemasan dan perbaikan tanda vital pada pasien PJK di ruang ICU. Intervensi ini dapat dijadikan sebagai terapi pendukung dalam pendekatan keperawatan holistik.
Cardiovascular disease remains the leading cause of death globally, with Coronary Heart Disease (CHD) being a predominant form. Anxiety is a common psychological issue among CHD patients, particularly during ICU treatment, and can worsen hemodynamic stability. This study employed a descriptive case report design using an Evidence-Based Nursing Practice (EBN) framework. The intervention involved non-pharmacological Quranic Murottal therapy administered over four consecutive days. Results demonstrated an average reduction of 4 points on the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). The highest anxiety score (indicating moderate-to- severe anxiety) was recorded on day one (24 points), declining to the lowest score (mild anxiety) by day five (13 points). This improvement was accompanied by stabilized hemodynamic parameters, including blood pressure and pulse rate. The findings indicate that Quranic Murottal therapy effectively reduces anxiety levels and improves vital signs in ICU patients with CHD. This intervention is recommended as a supportive component within a holistic nursing approach
PENERAPAN SLOW STROKE BACK MASSAGE DALAM PEMENUHAN RASA NYAMAN NYERI PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI DI GRIYA LANSIA CIPARAY
Latar Belakang: Lansia dengan hipertensi rentan mengalami gangguan istirahat akibat tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dan perubahan fisiologis terkait usia. Slow Stroke Back Massage (SSBM) merupakan salah satu intervensi non-farmakologis yang terbukti efektif dalam menurunkan tekanan darah dan meningkatkan kualitas tidur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penerapan SSBM dalam memenuhi kebutuhan istirahat pada lansia dengan hipertensi di Griya Lansia Ciparay. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif studi kasus dengan prinsip Evidence-Based Practice (EBP). Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan. Subjek penelitian adalah satu lansia berusia 70 tahun dengan keluhan nyeri kepala dan gangguan tidur, serta tekanan darah awal 150/90 mmHg. Intervensi dilakukan selama lima hari berturut-turut dengan pemberian SSBM selama 10–15 menit setiap hari. Hasil menunjukkan adanya penurunan bertahap tekanan darah hingga mencapai 120/80 mmHg pada hari kelima, berkurangnya keluhan nyeri kepala, dan peningkatan kualitas tidur, ditandai dengan tidur nyenyak tanpa terbangun di malam hari. Evaluasi menunjukkan bahwa pasien tampak lebih segar, aktif, dan tidak lagi mengalami gangguan istirahat maupun risiko jatuh. Kesimpulannya, terapi SSBM efektif sebagai pendekatan keperawatan non-farmakologis dalam membantu pemenuhan kebutuhan istirahat dan pengendalian tekanan darah pada lansia hipertensi, serta direkomendasikan untuk diimplementasikan secara rutin dalam pelayanan keperawatan gerontik.
Background: Elderly with hypertension are susceptible to sleep disturbances due to uncontrolled high blood pressure and age-related physiological changes. Slow Stroke Back Massage (SSBM) is one of the non-pharmacological interventions that has been proven effective in lowering blood pressure and improving sleep quality. The purpose of this study was to evaluate the implementation of SSBM in meeting the rest needs of elderly with hypertension at Griya Lansia Ciparay.
Objective: This study used a descriptive qualitative case study approach with the Evidence-Based Practice (EBP) principle.
Method: The method used is a descriptive case study with a housing approach. The subject of the study was a 70- year-old elderly with complaints of headaches and sleep disturbances, and an initial blood pressure of 150/90 mmHg. The intervention was carried out for five consecutive days with SSBM given for 10–15 minutes every day.
Results: The results showed a gradual decrease in blood pressure to 120/80 mmHg on the fifth day, reduced complaints of headaches, and improved sleep quality, characterized by deep sleep without waking up at night. The evaluation showed that the patient looked fresher, more active, and no longer experienced sleep disturbances or the risk of falling.
Conclution: The conclusion of this study is SSBM therapy is effective as a non-pharmacological nursing approach in helping to fulfill the need for rest and control blood pressure in elderly hypertensive patients, and is recommended for routine implementation in geriatric nursing services
PENGEMBANGAN E-MODULE BERBASIS GAMIFIKASI UNTUK MENINGKATKAN LITERASI LINGKUNGAN DAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATERI PEMANASAN GLOBAL
Revolusi industri yang melibatkan berbagai aktivitas manusia telah mengakibatkan berbagai kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan ini dapat diatasi dengan menanamkan literasi lingkungan pada peserta didik yang merupakan warga global di masa depan. Pada kurikulum merdeka, materi terkait lingkungan diajarkan pada Fase E di kelas X, tepatnya pada materi Pemanasan Global. Saat ini, bahan ajar yang dikembangkan terkait materi pemanasan global masih sangat terbatas dan belum dapat meningkatkan literasi lingkungan dan memotivasi peserta didik untuk belajar. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan e-module berbasis gamifikasi yang dapat meningkatkan literasi lingkungan dan motivasi belajar peserta didik pada materi pemanasan global. Penelitian ini menggunakan metode mix method dengan exploratory sequential design, yang diawali dengan tahapan kualitatif dengan wawancara dan studi literatur. Setelah tahapan kualitatif, dilakukan pengembangan e- module berbasis gamifikasi dengan pendekatan 4D, yaitu Define, Design, Develop, dan Disseminate. Setelah proses pengembangan e-module selesai, e-module diterapkan dalam proses pembelajaran pada materi pemanasan global menggunakan metode quasi experimental dengan non-equivalent control group design yang melibatkan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil dari penelitian ini adalah: 1) e-module berbasis gamifikasi layak digunakan dalam proses pembelajaran pada materi pemanasan global; 2) e-module berbasis gamifikasi dapat meningkatkan literasi lingkungan peserta didik; 3) e-module berbasis gamifikasi dapat memotivasi peserta didik untuk belajar; dan 4) peserta didik memberikan respon positif terhadap e-module berbasis gamifikasi yang digunakan dalam proses pembelajaran pada materi pemanasan global.
The industrial revolution, which involved various human activities, has led to significant environmental degradation. This environmental damage can be addressed by instilling environmental literacy in students, who are the future global citizens. In the merdeka curriculum, environmental-related material is taught in Phase E for Grade X, specifically in the topic of Global Warming. Currently, the teaching materials developed for the topic of global warming are still very limited and have not been effective in improving environmental literacy or motivating students to learn. Therefore, this research aims to develop a gamification based e-module that can enhance students' environmental literacy and learning motivation in the topic of global warming. This study uses a mixed methods approach with an exploratory sequential design, starting with a qualitative phase involving interviews and literature review. Following the qualitative stage, the gamification based e-module is developed using the 4D model: Define, Design, Develop, and Disseminate. Once the development of the e-module is complete, it is implemented in the learning process for the global warming topic using a quasi-experimental method with a non- equivalent control group design, involving both an experimental group and a control group. The results of this study are as follows: 1) the gamification based e-module is suitable for use in the learning process on the topic of global warming; 2) the gamification based e-module can improve students' environmental literacy; 3) the gamification based e-module can motivate students to learn; and 4) students gave positive responses to the gamification based e-module used in the learning process on the topic of global warming
PRINSIP PERSUASIF PADA TINDAK TUTUR DALAM INTERAKSI DIGITAL SIARAN LIVE SHOPPING TOKO @GLAD2GLOW DI SHOPEE: Kajian Pragmatik
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan tindak tutur ilokusi dan perlokusi serta prinsip persuasif yang digunakan oleh host dalam siaran live shopping pada toko Glad2Glow yang menjual produk skincare dan makeup. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teori pragmatik tindak tutur yang dikemukakan oleh Searle dan teori prinsip persuasif Cialdini. Teknik yang digunakan adalah teknik simak, catat, dan rekam. Hasil dari penelitian ini adalah penggunaan tindak tutur ilokusi asertif sebanyak 57 data, ilokusi direktif sebanyak 73 data, ilokusi ekspresif sebanyak 6 data, ilokusi komisif sebanyak 2 data, dan tidak ditemukannya ilokusi deklaratif. Berikutnya untuk penggunaan tindak tutur perlokusi, ditemukan perlokusi dengan efek membuat mitra tutur tahu bahwa sebanyak 43 data, membuat mitra tutur melakukan sesuatu sebanyak 33 data, mendorong sebanyak 27 data, menyenangkan sebanyak 7 data, mengalihkan perhatian sebanyak 2 data, menarik perhatian sebanyak 1 data, dan membujuk sebanyak 1 data. Temuan selanjutnya adalah penggunaan prinsip persuasif, yaitu prinsip timbal balik sebanyak 8 data, prinsip komitmen dan konsistensi sebanyak 6 data, prinsip pembuktian sosial sebanyak 2 data, prinsip rasa suka sebanyak 54 data, prinsip otoritas sebanyak 18 data, dan prinsip kelangkaan sebanyak 21 data. Temuan ini menunjukkan bahwa tuturan yang dominan digunakan adalah tuturan dengan bentuk pernyataan dan rekomendasi, dengan efek membuat mitra tutur tahu dan melakukan sesuatu, serta prinsip rasa suka yang sangat berkaitan erat dengan konteks live shopping. Host akan menjelaskan produk dengan menggunakan kata sapaan yang membuat suasana menjadi lebih akrab dan mengajak penonton untuk membeli produknya.
The aim of this study is to identify the use of illocutionary and perlocutionary speech acts, as well as the persuasive principles employed by the host during a live shopping broadcast on the Glad2Glow store, which sells skincare and makeup products. This research adopts a qualitative method with a pragmatic approach, using Searle’s speech act theory and Cialdini’s principles of persuasion. The techniques used include observation, note-taking, and recording. The findings reveal that the illocutionary speech acts used include 57 instances of assertive acts, 73 directive acts, 6 expressive acts, 2 commissive acts, and no declarative acts were found. For perlocutionary speech acts, the data shows: 43 instances of informing the hearer, 33 instances, of causing the hearer to take action, 27 instances of encouraging, 7 of pleasing, 2 of distracting, 1 of attracting attention, and 1 of persuading. Further findings relate to the use of Cialdini’s persuasive principles, namely: 8 instances of reciprocity, 6 of commitment and consistency, 2 of social proof, 54 of liking, 18 of authority, and 21 of scarcity. These results indicate that the dominant speech types used are statements and recommendations, with perlocutionary effects of informing and prompting the hearer to act, and the liking principle emerges as the most prominent—closely linked to the context of live shopping. The host describes products using familiar and affectionate forms of address to create a friendly atmosphere and encourage viewers to make a purchase
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BELAJAR RAGAM BUDAYA (BERDAYA) BERBASIS VCT UNTUK MENINGKATKAN KEBHINEKAAN GLOBAL BAGI PESERTA DIDIK FASE B SEKOLAH DASAR
Pembelajaran tentang keragaman budaya masih banyak menggunakan metode ceramah dan penggunaan buku paket masih menjadi pendekatan yang dominan dalam pembelajaran keragaman budaya. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan tentang kebhinekaan global di sekolah dasar masih menghadapi tantangan yang cukup besar. Hal ini terjadi di Sekolah Dasar di kota Bandung, peserta didik mengalami masalah dalam rasa kebhinekaan global. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengembangan bahan ajar Berdaya, mengidentifikasi hasil validasi dari para ahli terhadap bahan ajar Berdaya, dan menganalisis peningkatan kebhinekaan global peserta didik Fase B kelas IV Sekolah Dasar setelah implementasi bahan ajar Berdaya berbasis VCT. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode Design and Development (D&D) dengan menggunakan model ADDIE. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah angket untuk menguji validitas desain, media, dan praktisi pembelajaran, serta tes untuk menguji peningkatan berkebhinekaan global peserta didik. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes dan angket. Analisis data dilakukan dengan kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian bahan ajar Berdaya terdiri dari tiga bab, yaitu konsep keragaman budaya, berkebhinekaan global, dan upaya pelestarian yang disajikan melalui beragam kegiatan seperti ayo membaca, melengkapi, memahami, mengamati, menganalisis, bercerita, menyimpulkan, dan mencoba. Hasil validasi dari para ahli menunjukkan berada pada kategori sangat layak. Bahan ajar yang dibuat menunjukkan N-Gain dengan kategori tinggi. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa bahan ajar Berdaya dapat meningkatkan berkebhinekaan global kelas IV (Fase B) sekolah dasar. Disarankan peserta didik memanfaatkan bahan ajar sebagai pembelajaran mandiri untuk meningkatkan keterampilan mengenali, menghargai, dan berinteraksi lintas budaya. Guru diharapkan memanfaatkan serta mengembangkan sumber belajar secara kreatif sesuai kebutuhan kurikulum. Peneliti selanjutnya disarankan menambahkan fitur QR Code berisi materi tambahan, bab kasus nyata di masyarakat, serta aktivitas kolaboratif untuk memperluas cakupan dan efektivitas penelitian.
Kata Kunci: bahan ajar, berkebhinekaan global, ilmu pengetahuan sosial
Learning about cultural diversity still relies heavily on lecture-based methods, and the use of textbooks remains the dominant approach in teaching cultural diversity. This situation indicates that education on global diversity in elementary schools still faces significant challenges. This is evident at elementary school in Bandung, where students are experiencing difficulties in understanding global diversity. This study aims to describe the development of the Berdaya teaching materials, identify the validation results from experts on the Berdaya teaching materials, and analyze the improvement in global diversity among Phase B fourth-grade elementary school students after the implementation of the Berdaya teaching materials based on VCT. The research method used was the Design and Development (D&D) method using the ADDIE model. The instruments used in data collection were questionnaires to test the validity of the design, media, and learning practitioners, as well as tests to
assess improvements in students' global diversity. The techniques used to collect data were tests and questionnaires. Data analysis was conducted using quantitative and qualitative methods. The results of the Berdaya teaching materials research consist of three chapters: cultural diversity concepts, global diversity, and conservation efforts, presented through various activities such as reading, completing, understanding, observing, analyzing, storytelling, summarizing, and trying. The validation results from experts indicate that the materials are highly suitable. The instructional materials developed demonstrate a high N-Gain category. The conclusion of this study is that the Berdaya instructional materials can enhance global diversity among fourth-grade students (Phase B) in elementary schools. It is recommended that students utilize the teaching materials for self-directed learning to enhance their skills in recognizing, valuing, and interacting across cultures. Teachers are encouraged to utilize and creatively develop learning resources according to curriculum needs. Further research is suggested to include QR Code features containing additional materials, real-life case studies in the community, and collaborative activities to expand the scope and effectiveness of the research.
Keywords: teaching materials, global diversity, social studie
PENGARUH PENDIDIKAN, KESEHATAN, DAN KESEMPATAN KERJA TERHADAP TINGKAT KEMISKINAN DI 35 KABUPATEN/KOTA JAWA TENGAH TAHUN 2014 - 2023
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pendidikan, kesehatan, dan kesempatan kerja terhadap tingkat kemiskinan di 35 Kabupaten/Kota Jawa Tengah pada periode 2014–2023. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan menggunakan model regresi panel ARDL (AutoRegressive Distributed Lag) dengan estimator Pooled Mean Group (PMG) untuk menganalisis hubungan jangka panjang dan jangka pendek. Indikator yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pendidikan (rata rata lama sekolah), kesehatan (angka harapan hidup), dan kesempatan kerja (tingkat kesempatan kerja), yang dihitung dengan membagi jumlah angkatan kerja yang bekerja dengan total angkatan kerja, kemudian dikalikan seratus persen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan, kesehatan, dan kesempatan kerja memiliki pengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan hanya dalam jangka panjang dan tidak signifikan pada jangka pendek. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan kesempatan kerja belum berdampak langsung pada penurunan kemiskinan dalam jangka pendek, melainkan baru menunjukkan hasil yang signifikan dalam jangka panjang, khususnya di Jawa Tengah.
This study aimed to analyze the effect of education, health, and employment opportunities on poverty levels in 35 regencies/municipalities in Central Java during the 2014–2023 period. The method used was a quantitative approach employing the ARDL (AutoRegressive Distributed Lag) panel regression model with the Pooled Mean Group (PMG) estimator to analyze both long-term and short-term relationships. The indicators used in this study included education (average years of schooling), health (life expectancy), and employment opportunities (employment rate), which was calculated by dividing the number of employed individuals by the total labor force, then multiplying by one hundred percent. The results showed that education, health, and employment opportunities had a negative and significant effect on poverty only in the long term and were not significant in the short term. These findings indicated that improvements in education, health, and employment opportunities did not have an immediate impact on poverty reduction in the short term but showed significant results over the long term, particularly in Central Java