21105 research outputs found
Sort by
The Relationship Between Empathy and Prosocial Behavior in Adolescent Bystanders at SMA Negeri 2 Kisaran
66 HalamanPenelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui dan menguji hubungan antara empati dengan perilaku prososial pada bystander remaja di SMA Negeri 2 Kisaran. Sampel pada penelitian ini berjumlah 80 remaja. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif. Teknik
pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik Purposive sampling. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara empati dengan perilaku prososial dimana nilai signifikan p 0,000.< 0.010. Berdasarkan hasil uji korelasi product moment koefisien determinan dapat dilihat bahwa kontribusi variabel x terhadap variabel y sebesar 41,1%. Berdasarkan Hasil perhitungan mean hipotetik dan empirik maka dapat disimpulkan bahwa empati yang dimiliki rendah dengan mean hipotetik 55 dan mean empirik 50,01. Begitu pula pada perilaku prososial yang dimiliki rendah dengan mean hipotetik 65 dan mean empirik 59,86. Maka dapat disimpulkan bahwa empati yang dimiliki termasuk kategori rendah, begitu pula pada perilaku prososial yang dimiliki rendah. This study was conducted to determine and examine the relationship between empathy and prosocial behavior in adolescent bystanders at SMA Negeri 2 Kisaran. The sample in this study amounted to 80 teenagers. The research method used in this research is quantitative research method. The sampling technique in this study used purposive sampling technique. Based on the results of data analysis conducted, it shows that there is a positive and significant relationship between empathy and prosocial behavior where the significant value of p is 0.000 <0.010. Based on the results of the product moment correlation test, the
coefficient of determination can be seen that the contribution of variable x to variable y is 41.1%. Based on the results of the calculation of the hypothetical and empirical means, it can be concluded that empathy is low with a hypothetical mean of 55 and an empirical mean of 50.01. Likewise, prosocial behavior is low with a hypothetical mean of 65 and an empirical mean of 59.86. So it can be concluded that empathy is in the low category, as well as low prosocial behavior
Implementation of Village Fund Distribution at the Bagan Batu Barat Village Office, Bagan Sinembah District, Riau Province
79 HalamanDesa Bagan Batu Barat menjadi salah satu desa dari beberapa desa yang
ada di Kecamatan Bagan Sinembah, desa ini terdiri dari tiga dusun antara
lain, dusun simpang martabak, dusun kampung lalang dan dusun
sukarukun dengan luas wilayah + 353,2 Ha. Dalam penelitian ini bahwa
penerapan Penyaluran Dana Desa dilihat menggunakan teori Edward III
dengan indikator komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur
birokrasi. Penelitian ini menggunakan metodologi jenis kualitatif yang
menggunakan teknik wawancara, obervasi, dan juga dokumentasi. Sebagai
penguat, penelitian ini juga terdiri dari informan kunci, informan utama
dan informan tambahan, tujuan penelitian ini untuk mengetahui
Implementasi Penyaluran Dana Desa di Desa Bagan Batu Barat
Kecamatan Bagan Sinembah Provinsi Riau, hasil dari penelitian ini adalah
Implementasi Penyaluran Dana Desa yang dilakukan oleh pemerintah desa
bagan batu barat belum cukup maksimal dalam penerapannya merujuk
pada kebijakan pemerintah desa dengan melihat bagaimana komunikasi
pemerintah desa terhadap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat
dan menunjuk sumber daya manusia atau aparatur desa sebagai
implementator desa di desa bagan batu barat yang sudah memiliki
karakteristik dan kinerja yang mencukupi dengan birokrasi aparatur desa
yang cukup relevan, terutama dalam implementasi penyaluran dana desa. Bagan Batu Barat Village is one of several villages in Bagan Sinembah District,
this village consists of three hamlets, including Simpang Martabak hamlet, Lalang
village and Sukarukun hamlet with an area of + 353.2 hectares. In this research,
the implementation of Village Fund Distribution is seen using Edward III's theory
with indicators of communication, resources, disposition and bureaucratic
structure. This research uses a qualitative type of methodology which uses
interview, observation and documentation techniques. As reinforcement, this
research also consists of key informants, main informants and additional
informants, the aim of this research is to determine the Implementation of Village
Fund Distribution in Bagan Batu Barat Village, Bagan Sinembah District, Riau
Province, the results of this research are the Implementation of Village Fund
Distribution carried out by the government Bagan Batu Barat village has not been
optimal enough in its implementation referring to the village government policy
by looking at how the village government communicates with the regional
government and central government and appointing human resources or village
officials as village implementers in Bagan Batu Barat village who already have
sufficient characteristics and performance. with village apparatus bureaucracy
which is quite relevant, especially in the implementation of village fund
distribution
Teacher Quality Improvement Analysis at UPT (Unit Integrated Services) Middle School 7 Medan
79 HalamanTujuan kajian ini yaitu mengkaji analisis peningkatan kualitas guru pada UPT
(Unit Pelayanan Terpadu) SMPN 7 Medan di karenakan guru merupakan sebuah
satu penggerak majunya pendidikan suatu bangsa dalam sebuah daereh, namun
dalam hal ini kualitas guru yang ada pada UPT SMPN 7 Medan belum memadai
dari segi kompetensi dan keterampilan (skill). berdsarkan hal tersebut maka
rumusan masalahnya yaitu: Untuk megetahui Sinoksis Kualitas Guru Pada UPT
(Unit Pelayanan Terpadu) SMP Negeri 7 Medan. Untuk mengetahui Hambatan
Peningkatan Kualitas Guru Pada UPT (Unit Pelayanan Terpadu) SMP Negeri 7
Medan. Adapun metode yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif degan
instrument data, observasi studi dan dokumentasi , wawancara. Analisis
digunakan deskriptif analisis. kajian ini menunjukkan bahwa kualitas Guru Pada
UPT (Unit Pelayanan Terpadu) SMP Negeri 7 Medan yaitu: Peningkatan
profesional kualitas guru pada UPT (Unit Pelayanan Terpadu) SMP Negeri 7
Medan dalam indikatornya profesional pengetahuan dan keterampilan bahwa
kepala sekolah dan guru dalam meningktakan keprofesionalan guru serta
menciptakan semangat kerja dan juga sumber daya manusia. Pengetahuan guru
menunjukkan kecakapan dan keterampilan yang berkualitas. Menunjukkan
semangat kerja guru di UPT (Unit Pelayanan Terpadu) SMP Negeri 7 Medan
sudah cukup baik dengan adanya aspek-aspek yang dapat memicu timbulnya
semangat kerja untuk itu diperlukan semangat di seluruh guru yang ada di SMP
Negeri 7 Medan sangat memberikan dukungan serta mengapresisasi seluruh
kegiatan yang diberikan kepada guru sehingga mampu menciptakan suatu kulitas
guru yang baik. Faktor hambatan peningkatan kualitas Guru Pada UPT (Unit
Pelayanan Terpadu) SMP Negeri 7 Medan yaitu rendah dan kuarangnya
dukungan kepala sekolah terhadap program peningkatan kualitas guru
kompetensi guru serta kurangnya dukungan kepala sekolah terhadap program
peningkatan kualitas guru. The purpose of this study is to examine the analysis of improving teacher quality
at UPT (Integrated Service Unit) SMPN 7 Medan because teachers are a driving
force for the advancement of a nation's education in an area, but in this case the
quality of teachers at UPT SMPN 7 Medan is inadequate from terms of
competency and skills. Based on this, the formulation of the problem is: To find
out the Sinoxys of Teacher Quality at UPT (Integrated Service Unit) SMP Negeri
7 Medan. To find out the Barriers to Improving Teacher Quality at UPT
(Integrated Service Unit) SMP Negeri 7 Medan. The method used is descriptive
quantitative with data instruments, study observation and documentation,
interviews. Analysis used descriptive analysis. This study shows that the quality of
teachers at the UPT (Integrated Service Unit) of SMP Negeri 7 Medan, namely:
Improving the professional quality of teachers at the UPT (Integrated Service
Unit) of SMP Negeri 7 Medan in the indicators of professional knowledge and
skills that school principals and teachers in improving teacher professionalism
and create morale and also human resources. The teacher's knowledge shows
quality skills and skills. Showing the enthusiasm of teachers at UPT (Integrated
Service Unit) SMP Negeri 7 Medan is good enough with aspects that can trigger
enthusiasm for work. For this reason, enthusiasm is needed for all teachers at
SMP Negeri 7 Medan to provide support and appreciate all activities given to the
teacher so as to create a good teacher quality. The inhibiting factors for
improving teacher quality at UPT (Integrated Service Unit) SMP Negeri 7 Medan
are low and lack of principal support for teacher quality improvement programs
for teacher competence and lack of principal support for teacher quality
improvement programs
Strategi Komunikasi Agrowisata Pemerah Susu Sapi Desa Jaranguda Berastagi Dalam Meningkatkan Pengujung Skripsi
98 HalamanPenelitian ini berlatar belakang salah satu tempat agrowisata yang ada di Sumatera
utara. Salah Satu destinasi wisata yang ada di Sumatera Utara adalah pemerah susu
sapi Desa Jaranguda Berastagi. Pemerah susu sapi ini satu-satunya pengolahan
susu sapi yang ada di Sumatera utara, Tujuan penelitian ini untuk untuk mengetahui
strategi komunikasi agrowisata dalam meningkatkan kunjungan pemerah susu sapi
Desa Jaranguda Berastagi dan untuk mengetahui hambatan apa saja yang dijumpai
dalam kunjungan pemerah susu sapi Desa Jaranguda Berastagi. Penelitian ini
menggunakan metode deskriptif kualitatif . Teknik pengumpulan data berupa
observasi, dokumentasi, dan wawancara. Hasil penelitian ini memperlihatkan
strategi komunikasi dan hambatan apa saja yang ada di pemerah susu sapi Desa
Jaranguda Berastagi. Dari hasil penelitian strategi komunikasi agrowisata pemerah
susu sapi Desa Jaranguda berastagi menggunakan strategi komunikasi pemasaran
salah satunya menggunakan jasa selebgram dengan cara mengupload video di
akun sosial media mereka. Hambatan yang dijumpai tidak adanya transportasi
umum sehingga pengunjung menggunakan kendaraan pribadi. This research is based on an agrotourism site in North Sumatra. One of the tourist
destinations in North Sumatra is the cow milking village of Jaranguda Berastagi.
This cow milker is the only cow's milk processor in North Sumatra. The aim of this
research is to find out agrotourism communication strategies in increasing visits
from cow milkers in Jaranguda Berastagi Village and to find out what obstacles
are encountered when visiting cow milkers in Jaranguda Berastagi. This study used
descriptive qualitative method . Data collection techniques include observation,
documentation and interviews. The results of this research show what
communication strategies and obstacles exist in the cow milkers of Jaranguda
Berastagi Village. From the results of research on agrotourism communication
strategies, milking cows in Jaranguda Berastagi Village use marketing
communication strategies, one of which is using celebrity services by uploading
videos on their social media accounts. The obstacle encountered is that there is no
public transportation so visitors use private vehicles
The Influence of Production Costs and Promotion Costs on Net Profit Study of Cigarette Subsector Companies Listed on the IDX for the 2019-2021 Period
65 HalamanSeluruh perusahaan berupaya untuk mencapai laba yang optimal agar dapat
menciptakan keberlanjutan usaha dan meningkatkan daya saing. Dalam upaya
mencapai hal tersebut perusahaan harus melaksanakan efektivitas dalam
pengeluaran biaya produksi dan promosi. Karena dengan pelaksanaan aktivitas
tersebut maka pengeluaran perusahaan dapat terjaga stabilitasnya. Penelitian ini
bertujuan menguji pengaruh Biaya Produksi dan Promosi terhadap laba bersih
secara parsial ataupun simultan. Penelitian ini mengunakan pendekatan asosiatif
kuantitatif. Sampel pada penelitian ini adalah perusahaan rokok yang tercatat di
Bursa Efek Indonesia dari tahun 2019-2021. Metode analisis yan g digunakan
pada penelitian ini adalah Analisis Regresi Linear Berganda. Hasil pengujian
signfikansi parsial menunjukan bahwa Biaya Promosi memiliki pengaruh yang
negative dan signfikan terhadap laba bersih. Sedangkan Biaya Produksi memiliki
pengaruh positif dan signifikan terhadap laba bersih. Selanjutnya berdasarkan
pengujian signifikansi simultan ditemukan bahwa biaya Produksi dan Promosi
memiliki pengaruh yang simultan terhadap laba bersih. All companies strive to achieve optimal profit in order to create business
continuity and increase competitiveness. In an effort to achieve this, companies
must carry out effectiveness in spending production and promotion costs. Due to
the implementation of these activities, the company's expenses can be maintained
stability. This study aims to examine the effect of Production and Promotion Costs
on net income partially or simultaneously. This study uses a quantitative
associative approach. The sample in this study are cigarette companies listed on
the Indonesia Stock Exchange from 2019-2021. The analytical method used in this
study is Multiple Linear Regression Analysis. The results of the partial
significance test show that Promotion Expenses have a negative and significant
effect on net income. While production costs have a positive and significant
impact on net income. Furthermore, based on simultaneous significance testing, it
was found that Production and Promotion costs have a simultaneous effect on net
income
Implementation of Village Fund Allocation (ADD) Management in Infrastructure Development in Medang Ara Village, Karang Baru District, Aceh Tamiang Regency
80 HalamanDalam pengelolaan Alokasi Dana Desa dalam pembangunan infrastruktur di Kampung Medang Ara Kecamatan Karang Baru kabupaten Aceh Tamiang ada beberapa permasalahan yang muncul, seperti ditemukan masih banyak jalan permukiman warga yang dalam kondisi rusak. Berdasarkan hal tersebut rumusan masalah dalam penelitian ini, yang pertama Bagaimana Implementasi pengelolaan Alokasi Dana Desa dalam pembangunan infrastruktur di Kampung Medang Ara ?, Faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat Alokasi Dana Desa dalam pembangunan infastruktur di Kampung Medan Ara?. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif dengan instrument penelitian observasi, studi dokumentasi dan wawancara sedangkan analisis data yang digunakan deskriftif analisis. Hasil penelitian mengacu pada teori Edward III menunjukkan bahwa, dengan indikator komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi, pengalokasian dana desa dalam penyelenggaraan pembangunan infrastruktur jalan di Kampong Medang Ara Kecamatan Karang Baru Aceh Tamiang sudah berjalan namun belum maksimal, dalam penyelenggaraannya ada beberapa faktor yang menghambat pembangunan infrastruktur jalan yaitu, sumber daya manusia yang belum cukup memadai, kurangnya sarana dan prasrana pendukung pembangunan infrastruktur jalan, serta rendahnya partisipasi Masyarakat dalam pelaksanaan perencanaan dikarenakan kurangnya transparansi informasi yang disampaikan oleh perangkat. In managing Village Fund Allocations in infrastructure development in Kampung Medang Ara, Karang Baru District, Aceh Tamiang district, several problems arose, such as the discovery that there were still many residential roads in damaged condition. Based on this, the formulation of the problem in this study, the first is How is the implementation of Village Fund Allocation management in infrastructure development in Medang Ara Village? The research method used was qualitative research with observational research instruments, documentation studies and interviews while data analysis used descriptive analysis. The results of the study referring to Edward III's theory show that, with indicators of communication, resources, disposition and bureaucratic structure, the allocation of village funds in the implementation of road infrastructure development in Kampong Medang Ara, Karang Baru District, Aceh Tamiang has been running but has not been maximized, in its implementation there are several factors which hindered the development of road infrastructure, namely, inadequate human resources, lack of supporting facilities and infrastructure for road infrastructure development, and low community participation in planning implementation due to the lack of transparency of information conveyed by the apparatus
Service Quality Taxpayer Awareness and Knowledge of Compliance with Land and Building Tax Payments with Tax Sanctions as a Moderating Variable (Case Study in Jati Kesuma Village, Namo Rambe District)
117 HalamanPenelitian ini bertujuan mengetahui dampak, Kualitas Pelayanan, Kesadaran
Wajib Pajak, Pengetahuan Perpajakan, Sanksi Perpajakan terhadap Kepatuhan
Wajib Pajak. Penelitian ini mengambil sampel wajib pajak di Desa Jati Kesuma
Kecamatan Namo Rambe yang diambil secara random. Jumlah sampel yang
diambil sebanyak 88 orang. Pada penelitian ini juga menggunakan variabel sanksi
perpajakan sebagai variabel moderating. Metode analisis data yang digunakan
dalam penelitian adalah Moderated Regression Analysis (MRA) memakai SPSS
for `Windows. Maka hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kesadaran wajib
pajak, kualitas pelayanan, pengetahuan perpajakan memiliki pengaruh positif dan
signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Variabel sanksi perpajakan berperan
sebagai predictor moderator yang berperan sebagai variabel independen dalam
hubungan yang dibentuk. This research aims to determine the impact of Service Quality, Taxpayer
Awareness, Tax Knowledge, Tax Sanctions on Taxpayer Compliance. This
research took a random sample of taxpayers in Jati Kesuma Village, Namo
Rambe District. The number of samples taken was 88 people. This research also
uses the tax sanctions variable as a moderating variable. The data analysis
method used in the research is Moderated Regression Analysis (MRA) using SPSS
for Windows. So the results of this research show that taxpayer awareness,
service quality, tax knowledge have a positive and significant influence on
taxpayer compliance. The tax sanctions variable acts as a moderator predictor
which acts as an independent variable in the relationship formed
Antecedents of Job Satisfaction at PT. Perkebunan Nusatara III (Persero) Merbau Selatan Plantation
151 HalamanKepuasan kerja karyawan pada dasarnya ini merupakan hal yang bersifat
individual. Tingkat kepuasan kerja setiap individu memiliki perbedaan satu dengan
yang lainnya, sesuai dengan sistem nilai-nilai yang dianut atau berlaku pada dirinya.
Semakin banyak aspek-aspek dalam pekerjaan yang dapat memenuhi kebutuhan
dan keinginan individu tersebut, semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakan
Relevansi dari karyawan yang merasa puas dengan pekerjaan seyogya nya akan
mengakibatkan loyalitas atau kepatuhan terhadap perusahaan, tetapi ketika
karyawan merasa kurang puas, maka bisa mengakibatkan karyawan merasa cemas,
risau, dan mengarah untuk berhenti dari perusahaan, Tujuan penelitian ini Untuk
mengetahui secara simultan bagaimana pengaruh faktor-faktor budaya Perusahaan,
fasilitas sarana lingkungan kerja, kondisi lingkungan kerja, paket imbalan, gaya
kepemimpinan, komunikasi penyampaian keluhan, sistem penilaian Karyawan,
sistem pelatihan, sistem pengembangan karir, mempengaruhi kepuasan kerja
karyawan. Penelitian ini disesuaikan menjadi sebanyak 87 orang (dibulatkan) dari
seluruh hasil penelitian total nilai regresi korelasi sebesar 0.736 artinya secara
bersama-sama Budaya Perusahaan, Fasilitas Sarana Lingkungan Kerja, Kondisi
Lingkungan Kerja, Paket Imbalan, Gaya Kepemimpinan, Komunikasi
Penyampaian Keluhan, Sistem Penilaian Karyawan, Sistem Pelatihan, Sistem
Pengembangan Karir terhadap kepuasan karyawan pada PT. Perkebunan Nusantara
III (Persero) Kebun Merbau Selatan memiliki kontribusi pada taraf yang kuat. Employee job satisfaction is basically an individual thing. The work level of each
individual differs from one satisfaction to another, according to the value system
that is adopted or applies to him. The more aspects of work that can meet the needs
and desires of these individuals, the higher the level of satisfaction felt. employees
feel anxious, worried, and lead to quitting the company. The purpose of this study
is to find out simultaneously how factors influence corporate culture, work
environment facilities, work environment conditions, package imbalance,
leadership style, complaint communication, employee appraisal systems, training
systems, career development systems, affect employee job satisfaction. This
research was adjusted to 87 people (rounded) from all research results the total
correlation regression value was 0.736 meaning that together Corporate Culture,
Work Environment Facilities, Work Environment Conditions, Reward Packages,
Leadership Style, Complaint Communication Communication, Employee Rating
System , Training System, Career Development System on employee satisfaction at
PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Merbau Selatan Plantation contributed to
a strong increase
Legal Protection of Indigenous Communities Toward Nias Communal Intellectual Property
113 HalamanKepemilikan KIK menjadi rezim kekayaan intelektual yang khas yang menjadi aset masyarakat adat Nias yang menunjukkan corak keunikannya dan negara wajib memberikan Perlindungan agar tidak diambil oleh masyarakat dari wilayah lain. Dibutuhkan peran negara untuk menghadirkan Perlindungan khusus. Selain peran negara, kesadaran masyarakat mengenai pentingnya Perlindungan terhadap kekayaan intelektual komunal merupakan hal yang sangat penting. Di wilayah Pulau Nias tingkat kesadaran masyarakat adat Nias terhadap hukum khususnya pendaftaran KIK sendiri masih sangat kurang.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum empiris dengan data lapangan melalui wawancara kepada selaku Anggota Lembaga Adat Bawomataluo di Desa Bawomataluo Kecamatan Fanayama Kabupaten Nias Selatan. Analisis data dalam penelitian ini dilakakukan dengan cara memilih data sekunder hasil penelitian kepustakaan dan data primer hasil penelitian lapangan dianalisis secara kualitatif.
Hasil penelitian ini adalah, Pertama masih belum melindungi hak masyarakat adat di Indonesia karena tidak mengatur terkait ganti rugi dan ketentuan pidana bagi pelaku yang melanggar ketentuan KIK. Kedua, Implementasi Perlindungan hukum kekayaan intelektual komunal masyarakat adat Nias sudah dilakukan dengan pendataan dan pencatatan KIK ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Namun, Perlindungan hukum tidak dapat diwujudkan secara efektif. Adapun alasannya dikarenakan instrumen hukumnya masih belum memadai sehingga penegakan hukum pidana terkait pelanggaran KIK tidak dapat dilakukan secara optimal guna melindungi hak masyarakat Nias dalam kepemilikan KIK atas Tari Maena, Fahombo dan Tari Faluaya. Ketiga, Upaya Pemerintah dalam melindungi hukum KIK sebagai kebutuhan masyarakat adat terhadap KIK Nias belum maksimal. Pemerintah Daerah belum menginformasikan atau mensosialisasikan manfaat pendaftaran KIK tersebut kepada masyarakat. Selain itu, Pemerintah Daerah juga kurang memperhatikan resiko para pelompat dalam atraksi lompat batu dan kurang memperhatikan kesejahteraan penari dalam menampilkan budaya tari perang. Ownership of KIK is a unique intellectual property regime which is an asset for the indigenous people of Nias which shows its unique features and the state is obliged to provide protection so that it is not taken by people from other regions. It takes the role of the state to provide special protection. In addition to the role of the state, public awareness regarding the importance of protecting communal intellectual property is very important. In the Nias Island region, the level of awareness of the Nias indigenous people regarding the law, especially KIK registration itself, is still very low.
The type of research used is empirical legal research with field data through interviews with members of the Bawomataluo Customary Institution in Bawomataluo Village, Fanayama District, South Nias Regency. Data analysis in this study was carried out by selecting secondary data from library research and primary data from field research and analyzed qualitatively.
The results of this study are, First, it still does not protect the rights of indigenous peoples in Indonesia because they do not regulate compensation and criminal provisions for perpetrators who violate KIK provisions. Second, the implementation of legal protection for the communal intellectual property of the Nias indigenous people has been carried out by collecting data and recording KIK at the Directorate General of Intellectual Property. However, legal protection cannot be realized effectively. The reason is because the legal instruments are still inadequate so that criminal law enforcement related to KIK violations cannot be carried out optimally in order to protect the rights of the Nias people in KIK ownership of the Maena, Fahombo and Faluaya Dances. Third, the Government's efforts to protect the KIK law as a requirement for indigenous peoples for KIK Nias have not been maximized. The Regional Government has not yet informed or socialized the benefits of KIK registration to the public. In addition, the Regional Government also pays little attention to the risks of jumpers in stone jumping attractions and pays little attention to the dancers' welfare in displaying the culture of war dance
Application of the Lean Manufacturing Concept to Increase Production Efficiency in Nok Tahu Tempe SMEs
61 HalamanUKM Nok Tahu Tempe merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi tahu. Pada pelaksanaan proses produksinya terdapat beberapa pemborosan (waste) yang menyebabkan berkurangnya efisiensi produksi dimana waste ini harus dihilangkan agar perusahaan dapat mancapai keuntungan yang maksimal. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi jenis pemborosan, mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya pemborosan, dan untuk memberikan usulan pada perusahaan cara meminimalisir pemborosan dengan mengunakan konsep lean manufacturing. Adapun metode yang digunakan adalah line balancing yang berfungsi untuk mengecek keseimbangan antar lini produksi, big picture mapping untuk mengetahui total lead time dan value added time, process activity mapping untuk memetakan aktivitas, Systematic Layout Planning untuk perencanaan layout rekomendasi, dan fishbone untuk mencari akar permasalahan pemborosan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa total lead time adalah sebesar 800,19 menit, value added time sebesar 798 menit, dan lini produksi memiliki efisiensi sebesar 99% namun masih terdapat pemborosan yang terlihat dilantai produksi ketika dipetakan dengan Process activity mapping ditemukan pemborosan berjenis waiting sebesar 50 menit. layout yang tidak sesuai dengan perpindahan material dapat dirancang dengan Systematic Layout Planning sehingga mampu memangkas waktu produksi sebesar 54 menit. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa akar penyebab permasalahan pemborosan adalah adanya Kegiatan Menunggu (delay) yang dilakukan oleh pekerja, Belum Terdapat kebijakan yang mengatur pekerja apabila dalam fase menganggur, dan ketidaksesuaian layout dengan aliran material, sehingga dapat diberikan usulan kepada perusahaan untuk mengurangi pemborosan (waste) yaitu dengan menghilangkan aktivitas bertipe delay yang dapat menghilangkan pemborosan sebesar 50 menit dan mengatur kembali layout pabrik sesuai layout rekomendasi dapat menghilangkan pemborosan waktu sebesar 54 menit, sehingga perusahaan dapat menghemat waktu 12 % dari total lead time produksi dan meningkatkan efisiensi sebesar 14%. UKM Nok Tahu Tempe is a company engaged in the production of tofu. In the implementation of the production process there is some waste which causes a reduction in production efficiency where this waste must be eliminated so that the company can achieve maximum profits. Therefore this research was conducted with the aim of identifying the types of waste, knowing the factors that cause waste, and to provide suggestions to companies on how to minimize waste by using the concept of lean manufacturing. The method used is line balancing which functions to check the balance between production lines, big picture mapping to determine total lead time and value added time, process activity mapping to map activities, Systematic Layout Planning to plan layout recommendations, and fishbone to find root causes waste. From the results of the study it is known that the total lead time is 800.19 minutes, the value added time is 798 minutes, and the production line has an efficiency of 99% but there is still waste that can be seen on the production floor when mapped with Process activity mapping, it is found that the waste of the waiting type is 50 minute. layouts that are not in accordance with material movement can be designed with Systematic Layout Planning so as to cut production time by 54 minutes. Based on this, it can be concluded that the root cause of the problem of waste is the existence of waiting activities (delays) carried out by workers, there is no policy that regulates workers when they are in the idle phase, and layout incompatibility with material flow, so that suggestions can be given to companies to reduce waste ( waste) namely by eliminating delay type activities which can eliminate waste of 50 minutes and rearrange the factory layout according to the recommended layout can eliminate waste of time by 54 minutes, so the company can save 12% of the total production lead time and increase efficiency by 14%