82567 research outputs found
Sort by
Teknik Pemeliharaan Abalon (Haliotis squamata) Di Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPIU2K) Karangasem, Bali
"Indonesia memiliki potensi sumberdaya Abalon (Haliotis squamata) yang besar, salah satunya adalah dengan adanya tujuh spesies Abalon yaitu Haliotis squamata, H. varia, H. squamosa, H. ovina, H. glabra, H. planata, dan H. crebrisculpta. Abalon termasuk jenis komoditas perikanan dari laut dengan nilai ekonomis tinggi. Permintaan Abalon secara global saat ini cukup tinggi, terutama dari konsumen di Jepang dan Cina. Abalon juga mengandung bahan bioaktif yang bermanfaat untuk anti kanker, anti oksidan, anti mikroba, dan antikoagulan.
Tujuan dari pelaksanaan Praktik Kerja Lapang (PKL) ini adalah untuk mengetahui teknik pemeliharaan abalon, meliputi teknik pembenihan, dan pembesaran. Praktik Kerja Lapang (PKL) dilaksanakan di Instalasi Kekerangan milik Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPIU2K) Karangasem, Bali pada tanggal 24 Juni sampai 23 Agustus 2024. Metode kerja lapang yang digunakan adalah metode deskriptif dengan melakukan pengamatan langsung sehingga diperoleh data primer dan sekunder. Pengambilan data dilakukan dengan partisipasi aktif, wawancara, dan observasi.
Teknik pemeliharaan abalon diawali dengan proses pemijahan. Induk dipelihara dengan diberi pakan berupa rumput laut jenis Gracilaria sp. Seminggu sebelum pemijahan induk abalon diberi pakan kombinasi Gracilaria sp. dan Ulva sp. untuk mempercepat kematangan gonad. Induk yang dipilih untuk proses pemijahan adalah induk fase Tingkat Kematangan Gonad (TKG) 3. Rasio induk pada proses pemijahan yaitu 2:3 dengan jumlah induk jantan 10 ekor dan induk betina 15 ekor. Pemijahan secara buatan dilakukan dengan rangsangan oksigen murni dan suhu dengan memisahkan induk jantan dan induk betina abalon pada toples selama kurang lebih 1 jam untuk mempercepat kondisi induk stres. Kegiatan pemijahan buatan dengan menggunakan suhu hangat (32°C) dan suhu dingin (18°C) selama 2 jam serta dilakukan pengamatan embriogenesis. Pemijahan buatan menghasilkan nilai Hatching Rate (HR) sebesar 46,7%.
Kegiatan pembenihan meliputi pemeliharaan larva dan penyediaan pakan alami. Pemeliharaan larva dimulai setelah 5 jam telur menetas. Sebelum dilakukan penebaran bak pemeliharaan larva sudah tersedia pakan alami berupa Nitzschia sp. Pada pemeliharaan larva bak sudah tersedia plate untuk tempat penempelan larva umur 2 hari (trochophore) dan dipelihara dalam bak larva selama 2 bulan hingga menjadi benih ukuran 0,8 - 1 cm dan diberi pakan alami Nitzschia sp. Penyediaan pakan alami dilakukan dengan kultur skala laboratorium.
Kegiatan pembesaran bertujuan untuk membesarkan benih ukuran panen <1 cm dan ukuran 1-4 cm menjadi calon induk abalon. Kegiatan pembesaran dibagi menjadi dua yaitu, pembesaran benih ukuran <1 cm dilakukan untuk mendapatkan ukuran benih 3 cm dan pembesaran benih ukuran 1-4 cm untuk menghasilkan calon induk ukuran 7-8 cm . Selama proses pemeliharaan dilakukan proses grading. Selama proses pembesaran benih ukuran <1 cm dilakukan pemberian pakan rumput laut jenis Gracilaria sp. dan pada pembesaran benih ukuran 1-4 cm induk diberi pakan rumput laut jenis Ulva sp. dengan metode ad libitum.
TEKNIK PEMBESARAN UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) SECARA INTENSIF PADA KOLAM BUNDAR DI INSTALASI BUDIDAYA LAUT PRIGI KABUPATEN TRENGGALEK, JAWA TIMUR
"Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki potensi kekayaan dan keanekaragaman sumberdaya laut terbesar di dunia. Udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan spesies penaeid yang banyak dibudidayakan karena memiliki nilai ekonomis tinggi dan permintaan pasar tinggi. Salah satu sistem budidaya udang yang banyak digunakan saat ini adalah sistem budidaya intensif karena menggunakan padat tebar yang tinggi. Pada budidaya udang secara intensif, terdapat berbagai macam wadah budidaya yang dapat digunakan, salah satunya adalah kolam bundar yang memiliki efisiensi tempat.
Manajemen pakan, termasuk pemilihan jenis pakan, frekuensi pemberian pakan, dan teknik penyimpanan pakan, hingga teknik panen merupakan aspek penting dalam menunjang keberhasilan budidaya udang vaname, termasuk di lokasi studi. Studi ini berlokasi di Instalasi Budidaya Laut Prigi selama 2 bulan dengan jumlah kolam sebanyak 2 petakan. Hasil studi menunjukkan rerata kepadatan tebar benur sebesar 315,5 ekor/m² dengan tingkat kelangsungan hidup (SR) masing-masing sebesar 81,15% dan 46,10% (kolam 1 dan 2). Feed Conversion Ratio (FCR) pada plot 1 dan 2 diketahui masing-masing sebesar 1,89 dan 3,58 dengan hasil panen sebesar 262,05 dan 85,90 kg. Perbedaan yang terjadi pada kolam 1 dan 2 tersebut disebabkan karena serangan penyakit yang menyebabkan kematian massal.
Manajemen kualitas air dan pengendalian hama serta penyakit di lokasi studi meliputi persiapan tambak, penggantian air, distribusi benih, dan pengelolaan kualitas air. Pengukuran kualitas air kolam dilakukan setiap pagi pukul 08.00 dan sore pukul 16.00, meliputi pH, salinitas, suhu, kejernihan air, dan warna air. Hasil pengukuran menunjukkan pH berkisar 7,1 - 7,5 dengan salinitas 21-26 ppt, suhu 27,5 - 29°C serta kecerahan air 20 - 35 cm, dan warna air kehijauan. Solusi untuk pengendalian hama dan penyakit adalah dengan memberikan bakteri atau menyeimbangkan kembali kondisi parameter air. Secara keseluruhan teknik pembesaran udang vaname pada kolam bundar di Instalasi Budidaya Laut Prigi, Trenggalek, Jawa Timur memerlukan manajemen kualitas air dan manajemen pakan yang baik untuk mendukung produktivitas udang yang dibudidayakan
TEKNIK BUDIDAYA LOBSTER MUTIARA (Panulirus ornatus) DI INSTALASI BUDIDYA LAUT (IBL) PRIGI, JAWA TIMUR
"Lobster mutiara (Panulirus ornatus) merupakan salah satu biota akuatik yang memiliki nilai ekonomis tinggi dengan pola persebaran luas meliputi kawasan perairan tropis dan subtropis. Permintaan akan lobster mutiara selalu menunjukkan tren kenaikan setiap tahunnya di pasar domestik dan ekspor untuk memenuhi kebutuhan sektor-sektor wisata, pangan, dan perhotelan. Permasalahan dalam budidaya lobster mutiara yang kerap dihadapi adalah rendahnya tingkat kelulus hidupan lobster serta tingginya biaya produksi dalam budidaya. Praktik Kerja Lapang ini bertujuan untuk mengetahui manajemen serta teknik budidaya meliputi kegiatan pendederan dan pembesaran lobster mutiara (Panulirus ornatus) di Instalasi Budidaya Laut (IBL) Prigi, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Hasil dari Praktek Kerja Lapang ini diharapkan dapat menunjang keberhasilan budidaya melalui peningkatan pengetahuan mengenai pendederan dan pembesaran lobster mutiara.
Budidaya lobster mutiara meliputi kegiatan pendederan dan pembesaran yang dilakukan pada keramba jaring apung dan submerged longline. Berdasarkan hasil praktik kerja lapang selama 60 hari diperoleh nilai Feed Conversion Ratio (FCR) kegiatan pendederan di keramba jaring apung sebesar 3,01 dan di submerged longline sebesar 3,71. Pada pembesaran di keramba jaring apung didapatkan FCR sebesar 3,73 dan di submerged longline sebesar 3,96. – 1,9. Hasil monitoring kualitas air dilakukan dengan pengukuran secara lansung di keramba jaring apung dan submerged longline. Nilai suhu antara 25-27°C. Nilai pH berkisar antara 7,6 – 8,1. Nilai salinitas berkisar antara 18 - 30 ppt. Nilai kecerahan air menunjukkan nilai yang berkisar antara 310 - 350 cm. Nilai DO berkisar antara 8,51 – 8,55 mg/l. Nilai nitrit berkisar antara 0 – 0,25 mg/l
ANALISIS MANAJEMEN MUTU PADA PRODUK RAJUNGAN (Portunus pelagicus) KALENG DI PT. BUMI MENARA INTERNUSA (BMI), LAMONGAN, JAWA TIMUR
"Rajungan merupakan salah satu hasil perikanan yang bersifat perishable
food (mudah rusak/busuk). Salah satu teknik pengawetan pangan yang paling
banyak diterapkan adalah pengawetan dengan suhu tinggi, yaitu pengalengan.
Pengalengan merupakan salah satu bentuk pengolahan dan pengawetan secara
modern yang dikemas secara hermetis (tertutup rapat dan kedap udara) yang
kemudian disterilkan Rajungan kaleng merupakan salah satu produk olahan
perikanan yang populer karena memiliki masa simpan yang lebih lama dan praktis
untuk dikonsumsi. Dalam industri pengalengan rajungan, penerapan standar
keamanan pangan seperti Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP),
Good Manufacturing Practices (GMP), dan Critical Control Points (CCP) sangat
penting untuk menjamin keamanan dan kualitas produk dari bahan baku hingga
distribusi.
PT Bumi Menara Internusa (BMI) Lamongan merupakan salah satu
perusahaan yang bergerak dibidang pengolahan Seafood yang salah satu produknya
berupa rajungan kaleng. PT. BMI memasarkan produknya ke berbagai wilayah baik
lokal maupun mancanegara (ekspor dan impor). Lokasi perusahaan terletak di Jalan
Raya Lamongan-Gresik km 40 Rejosari, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan.
Kegiatan Praktik Kerja Lapang dilaksanakan pada tanggal 24 Juni – 24 Agustus
2024. Metode yang digunakan dalam pengambilan data berupa data primer yang
meliputi kegiatan observasi, wawancara dan partisipasi aktif dan data sekunder
yang meliputi kegiatan studi literatur.
Proses produksi rajungan kaleng di PT. BMI, Lamongan dimulai dengan
penerimaan bahan baku (receiving), pre sorting, sorting, sorting in dark room, final
checking, metal detecting, mixing, filling dan weighing, seaming, coding,
pasteurizing, chilling, packing, chill storage, dan loading. PT. Bumi Menara
Internusa menerapkan Good Manufacturing Practices (GMP), Standard Sanitation
Operational Procedure (SSOP) dan Critical Control Point (CCP) dengan baik. Hal
ini bertujuan untuk menciptakan produk rajungan kaleng yang baik, berkualitas
tinggi dan menjamin keamanan mutu produk.
Analisis Alur Kerja untuk Optimalisasi Proses Produksi Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) Beku di PT. FKS Multi Agro Tbk., Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur.
Indonesia sebagai negara maritim memiliki potensi besar di sektor perikanan. Salah satu hasil tangkap utama adalah ikan tongkol yang memiliki nilai ekonomi dan merupakan komoditas ekspor penting. Kabupaten Banyuwangi, khususnya Kecamatan Muncar, adalah salah satu pusat produksi ikan tongkol. PT. FKS Multi Agro Tbk. merupakan perusahaan yang bergerak dalam industri pengolahan ikan beku, termasuk ikan tongkol, dengan tujuan meningkatkan kualitas dan efisiensi produksinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari dan mengidentifikasi permasalahan yang terjadi dalam alur proses produksi ikan tongkol beku di PT. FKS Multi Agro Tbk., mulai dari penerimaan bahan baku hingga tahap distribusi. Fokus utama penelitian ini adalah untuk memahami setiap tahapan, termasuk penerimaan bahan baku, proses pembekuan, glazing, pengemasan, serta pemuatan dan distribusi, dengan tujuan menemukan solusi yang dapat meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi secara keseluruhan. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan waktu dalam setiap tahap produksi, sehingga perusahaan dapat meminimalkan pemborosan dan memperbaiki kinerja operasionalnya. Dengan demikian, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan saran konkret untuk meningkatkan daya saing produk ikan tongkol beku di pasar, baik domestik maupun internasional. Ikan tongkol adalah jenis ikan pelagis yang hidup di perairan pantai dan oseanik. Ikan ini kaya akan protein dan omega-3, yang menjadi alasan tingginya permintaan baik di pasar domestik maupun internasional. Kandungan gizinya yang tinggi menjadikan ikan tongkol sebagai salah satu komoditas unggulan dalam industri perikanan Indonesia. Proses produksi ikan tongkol beku dimulai dari penerimaan bahan baku, di mana ikan diperiksa secara organoleptik dan diuji kualitasnya, diikuti oleh proses pencucian, penimbangan, dan pembekuan menggunakan metode Air Blast Freezer (ABF). ABF menghasilkan suhu hingga -40°C yang mempertahankan kualitas ikan dengan menghambat aktivitas mikroba dan enzim. Proses glazing dilakukan setelah pembekuan, di mana ikan dicelupkan dalam air es untuk melindungi dari freezer burn. Ikan kemudian dikemas dan dilabeli sesuai standar sebelum disimpan dalam cold room pada suhu -28°C. Pembekuan menggunakan metode ABF memungkinkan ikan disimpan dalam jangka waktu yang lama tanpa kehilangan kualitas. Glazing dilakukan untuk menjaga tekstur dan kandungan nutrisi. Proses pengemasan menggunakan kemasan primer dari plastik polietilena (PE) yang kedap udara dan kemasan sekunder berupa karton (master carton) untuk pengiriman. Pelabelan berisi informasi lengkap terkait produk, termasuk berat, ukuran, dan tanggal produksi. Setelah pembekuan dan pengemasan, ikan disimpan dalam cold room dengan suhu -28°C. Sistem FIFO (First In First Out) diterapkan untuk memastikan rotasi produk yang optimal. Distribusi dilakukan baik untuk pasar lokal maupun internasional, dengan menggunakan kontainer berpendingin atau thermo king untuk menjaga kualitas produk selama pengiriman. Proses produksi di PT. FKS Multi Agro Tbk. telah memenuhi standar yang berlaku dalam industri perikanan. Dengan penerapan pembekuan menggunakan metode ABF, proses glazing yang tepat, dan sistem pengemasan yang efisien, perusahaan dapat mempertahankan kualitas produk dari penerimaan bahan baku hingga distribusi. Pengoptimalan alur kerja yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan efisiensi produksi dan memperpanjang masa simpan produk, yang pada akhirnya mendukung daya saing perusahaan di pasar lokal dan internasional
Alur Produksi, Manajemen Bahan Baku, Dan Pengendalian Mutu Pada Produk Olahan Fillet Dan Nugget Ikan Lele (Clarias batrachus) Di CV. Farm Fish Boster, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
"Ikan lele merupakan salah satu komoditas perikanan yang pengembangannya diminati oleh para pembudidaya di Indonesia. Hingga saat ini, Indonesia memiliki 16 spesies ikan lele lokal yang telah diidentifikasi. Di antara spesies-spesies ikan lele lokal Indonesia tersebut, Clarias bathrachus merupakan spesies yang telah lama berhasil dibudidayakan. Tujuan pelaksanaan Praktek Kerja Lapang (PKL) ini yaitu memperoleh pengetahuan dan keterampilan kerja dalam proses pembuatan fillet dan nugget ikan lele (Clarias bathrachus) di PT. Farm Fish Boster Centre yang meliputi sub bab kegiatan alur produksi, manajemen bahan baku, dan penjaminan mutu. Praktik Kerja Lapang (PKL) ini dilaksanakan di Farm Fish Boster yang berada di Desa Cemandi, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Waktu pelaksanaan
Praktik Kerja Lapang (PKL) dimulai pada tanggal 24 Juni hingga 23 Agustus 2024. Metode kerja yang dilakukan selama proses PKL ini yaitu dengan pengambilan data primer dan data sekunder. Data primer diambil dan diperoleh dari pengambilan data secara langsung melalui wawancara, pencatatan hasil observasi, dan partisipasi aktif, sedangkan data sekunder diperoleh dari kajian pustaka, literatur jurnal ilmiah, dan buku. Proses pengolahan bahan baku ikan lele khusus nya pada produk fillet dan nugget ikan lele di CV. Farm Fish Boster Centre meliputi beberapa aspek yang harus diperhatikan yaitu alur produksi, manajemen bahan baku, dan penjaminan mutu. Analisis alur produksi pada pengolahan hasil perikanan berbahan dasar ikan lele bertujuan untuk memahami secara mendalam langkah-langkah dalam proses produksi mulai dari pemilihan bahan baku hingga pengepakan akhir produk. Tahap awal, dilakukan seleksi dan penilaian terhadap bahan baku ikan lele yang digunakan agar memenuhi standar kualitas yang ditetapkan. Proses produksi fillet ikan lele (Clarias bathracus) di CV. Farm Fish Boster Centre terdapat beberapa tahapan meliputi penerimaan bahan baku, filleting, pencucian, shocking, penataan fillet, pembekuan 1, packing dan labeling, pemvacuman, dan pembekuan 2. Sementara untuk Pembuatan nugget di Farm Fish Boster dilakukan dengan beberapa tahapan yakni ada penggilingan, pencampuran, pencetakan, pengukusan, pemotongan, perekat tepung, pelumuran tepung roti, pengemasan, dan penyimpanan. Proses Manajemen bahan baku adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, dan pemantauan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk proses produksi suatu produk. Tujuan utama pengelolaan bahan baku adalah untuk memastikan bahwa bahan baku tersedia dalam kualitas yang tepat, pada waktu yang tepat, dan dalam jumlah yang cukup untuk mendukung proses produksi yang efisien dan menghasilkan produk yang berkualitas tinggi. Proses pengendalian mutu adalah proses sistematis untuk memastikan bahwa produk akhir memenuhi standar mutu yang ditetapkan. Dalam produksi ikan lele, pengendalian kualitas dimulai dari pemilihan bahan baku hingga produk jadi. Pemantauan dan evaluasi dilakukan di setiap tahap proses produksi, termasuk penerimaan bahan baku, pengolahan, pengemasan, dan penyimpanan. Proses pengendalian mutu dapat bertujuan untuk mengetahui dan memperbaiki penyimpangan dari standar yang telah ditentukan.
PENERAPAN GOOD MANUFACTURING PRACTICE (GMP) PADA LABORATORIUM KIMIA DAN MIKROBIOLOGI DI UNIT PELAKSANA TEKNIS PENGUJIAN MUTU DAN PENGEMBANGAN PRODUK KELAUTAN DAN PERIKANAN (UPT PMP2KP) SURABAYA, JAWA TIMUR
"Produk hasil perikanan merupakan produk berbahan dasar komoditas perikanan yang mempunyai nilai gizi yang tinggi karena mengandung zat gizi mikro dan makro yang bermanfaat bagi manusia. Komoditas perikanan memiliki sifat perishable food atau mudah rusak sehingga perlu diperhatikan sifat kimia dan cemaran mikroba yang ada didalamnya. Pengujian kimia dan mikrobiologi perlu menerapkan Good Manufacturing Practices (GMP) untuk memastikan bahwa pengujian, fasilitas, dan tenaga kerja memenuhi standar serta mendapatkan hasil pengujian yang akurat.
Praktik Kerja Lapang (PKL) ini dilaksanakan di Unit Pelaksana Teknis Pengujian Mutu dan Pengembangan Produk Kelautan dan Perikanan (UPT PMP2KP) Surabaya. Kegiatan ini dimulai pada 24 Juni sampai 23 Agustus 2024. Metode kerja yang diterapkan dalam PKL adalah observasi, wawancara, partisipasi aktif, dan studi pustaka. Data yang diperoleh dari metode tersebut berupa data primer dan data sekunder.
Hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa penerapan GMP pada laboratorium kimia dan mikrobiologi di UPT PMP2KP Surabaya sudah cukup diterapkan. Namun, pada beberapa komponen seperti lampu, meja, lantai, dan dinding masih perlu diperbaiki dan ditingkatkan lagi untuk meminimalisir kemungkinan kecelakaan kerja yang terjadi dan mendapatkan hasil pengujian yang akurat.
ANALISIS PENERAPAN GOOD MANUFACTURING PRACTICE (GMP) PADA PRODUKSI SURIMI DI PT. ANELA KM. 79, LAMONGAN, JAWA TIMUR
"Pelaksanaan Praktik Kerja Lapang (PKL) berlangsung dari 24 Juni hingga 24 Agustus 2024 di di PT. Anela KM 79 Lamongan, Jawa Timur, dengan penelitian mengenai penerapan good manufacturing practice. Good manufacturing practice merupakan faktor penting dalam menjaga kualitas produk, khususnya di industri pangan. Penerapan good manufacturing practice menyediakan cara dan berbagai rangkaian syarat pengelolaan umum yang harus dipenuhi oleh setiap perusahaan. Proses pengelolaan dimulai dari proses bahan mentah hingga menjadi barang siap konsumsi. Good manufacturing practice tak hanya ditujukan untuk keuntungan konsumen. Penerapan good manufacturing practice juga mencakup area produsen, konsumen, hingga pemerintah.
Penelitian ini bertujuan menilai penerapan good manufacturing practice di PT. Anela Lamongan dalam proses penerimaan bahan baku, proses produksi surimi, dan proses pengemasan surimi. Metode yang digunakan adalah deskriptif melalui observasi dan wawancara dengan pekerja. Aspek yang diteliti meliputi kebersihan pekerja, penggunaan alat pelindung, dan sanitasi di lingkungan kerja pada ruang produksi surimi di PT. Anela.
Penerapan good manufacturing practice meliputi penggunaan sarung tangan, masker, jas lab, penutup kepala, serta fasilitas sanitasi seperti wastafel dan hand sanitizer. Standar kebersihan lingkungan diatur ketat untuk mencegah kontaminasi, termasuk pembersihan rutin alat dan area kerja
TEKNIK PEMBESARAN UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DI KELOMPOK PEMBUDIDAYA IKAN MINA BANGKIT BERSAMA (MIBAMA) BANYUWANGI, JAWA TIMUR
Udang vaname merupakan merupakan salah satu komoditas perikanan yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Selain itu, udang vaname sekarang ini menjadi komoditas unggulan bag
Analisis Proses Produksi Dan Kualitas Bahan Baku Ikan Beku di PT. Anugrah Laut Indonesia, Tuban - Jawa Timur
tenggiri beku yang ketat mulai dari perencanaan bahan baku hingga distribusi. Bahan baku diperoleh dari pemasok di berbagai wilayah dan diangkut menggunakan truk berpendingin untuk menjaga kualitas. Setelah tiba, bahan baku melewati inspeksi kualitas, sortasi, dan proses fillet yang melibatkan cutting, defrosting, dan trimming sebelum dibekukan dengan teknologi IQF, di-glazing, dan dikemas dengan plastik vakum. Produk disimpan di cold storage pada suhu -25°C. Tantangan utama dalam produksi adalah fluktuasi kualitas bahan baku dan kerusakan alat, namun perusahaan mengatasinya dengan pelatihan karyawan dan diversifikasi pemasok. Pengemasan mengikuti standar nasional dan internasional, termasuk penggunaan barcode untuk pelacakan dan pengaturan cold storage secara efisien. Sanitasi dan hygiene dijaga melalui pemeriksaan rutin air, es, dan fasilitas produksi. Limbah padat dan cair dikelola dengan baik, sementara kebersihan dan kesehatan karyawan diawasi secara ketat. Distribusi dilakukan dengan truk kontainer dan pesawat untuk menjaga kualitas hingga sampai ke negara tujuan. Tantangan tenaga kerja sanitasi sedang diatasi dengan rencana penambahan karyawan dan pelatihan khusus