82567 research outputs found
Sort by
Dinamika Resiliensi Pada Anak Yatim Piatu Yang Menjadi Tulang Punggung Keluarga
Fenomena anak yatim piatu yang menjadi tulang punggung keluarga mendorong diperlukannya
kajian yang lebih komperhensif terkait bagaimana dinamika resiliensi yang mereka miliki. Karena
peristiwa kehilangan kedua orang tua serta perubahan peran menjadi tulang punggung keluarga menjadi
titik balik dan tekanan yang membuat mereka perlu memiliki kemampuan resilien. Pada saat individu
melewati peristiwa tersebut, umumnya mereka merasakan berbagai emosi negatif. Namun dalam
melewati proses tersebut, kekuatan personal menjadi sumber daya utama yang membantu mereka dalam
mengoptimalkan fungsi positif. Oleh karena itu, peneliti ingin mengkaji bagaimana dinamika resiliensi
anak yatim piatu yang menjadi tulang punggung keluarga. Penelitian ini menggunakan metode penelitian
kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian menujukkan bahwa kedua informan memiliki
dinamika resiliensinya masing-masing. Dinamika resiliensi dapat dilihat dari dinamika psikologis yang
dialami oleh masing-masing informan serta melibatkan berbagai pemaknaan pengalaman kehilangan,
respon kognisi dan emosi, proses resiliensi, dan dukungan kekuatan personal dan eksternal sebagai faktor
yang mempengaruhi dinamika resiliensi mereka
Pengaruh Tekanan Akademik pada Tingkat Depresi Peserta Didik Sekolah Menengah Atas
ABSTRAK
Pendidikan memiliki pengaruh penting dalam mengembangkan potensi individu sesuai UU No. 20 tahun 2003. Meskipun demikian, sistem pendidikan cenderung terpaku pada orientasi nilai dan prestasi, khususnya dalam Wacana Prestasi Akademik. Fokus pada peringkat dan nilai tinggi pada tingkat SMA mempengaruhi seleksi masuk Perguruan Tinggi. Artikel ini menyoroti tekanan akademik tinggi pada remaja SMA, yang dapat menyebabkan depresi. Studi ini mengungkapkan bahwa tekanan akademik yang berlebihan signifikan dalam meningkatkan tingkat depresi. Meskipun tantangan besar dihadapi dalam mengurangi tekanan akademik, studi ini memberikan dasar untuk pengembangan strategi intervensi yang efektif. Pemahaman lebih baik terhadap kompleksitas fenomena ini membuka jalan bagi pendekatan holistik dalam mendukung kesejahteraan psikologis siswa SMA melalui kolaborasi pendidik, orang tua, dan pihak terkait.
ABSTRACT
Education plays a crucial role in developing the potential of individuals to UU No. 20 of 2003. Nevertheless, the education system tends to be fixated on the orientation of values and achievements, particularly in the discourse of Academic Achievement. The emphasis on high rankings and grades at the high school level influences admission to higher education institutions. This article highlights the high academic pressure on high school adolescents, which can lead to depression. The study reveals that excessive academic pressure significantly contributes to an increase in the level of depression. Despite facing significant challenges in reducing academic pressure, this study provides a foundation for the development of effective intervention strategies. A better understanding of the complexity of this phenomenon paves the way for a holistic approach to support the psychological well-being of high school students through collaboration among educators, parents, and relevant stakeholders
Gambaran Hubungan Romantis Pada Perempuan Dewasa Awal dengan Pengalaman Fatherless Akibat Perceraian
Perempuan dewasa awal dengan pengalaman fatherless akibat perceraian menghadapi tantangan unik
dalam membangun hubungan romantis yang sehat. Ketidakhadiran figur ayah dalam kehidupan mereka
berpotensi memengaruhi aspek keintiman, gairah, dan komitmen dalam menjalin relasi. Penelitian ini
bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana dampak dan dinamika pada hubungan romantis pada
perempuan dewasa awal dengan pengalaman fatherless akibat perceraian, dengan menggunakan teori
Triangle of Love dari Sternberg (1988) sebagai kerangka teoritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pengalaman fatherless memengaruhi ketiga aspek dalam hubungan romantis, yaitu keintiman, gairah,
dan komitmen. Proses ini tidak bersifat linear, melainkan melibatkan dinamika kompleks yang
dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal
Adverse Effects of Long-term Proton Pump Inhibitors in Chronic Liver Disease Patients – A Preliminary Article Review
Abstract and Figures
Background: Proton pump inhibitors (PPIs) are widely prescribed medications for the management of gastroesophageal reflux disease (GERD) and peptic ulcer disease. Despite their efficacy, concerns have emerged regarding their potential adverse effects, particularly in patients with chronic liver disease (CLD). CLD patients often experience gastrointestinal symptoms and may be prescribed PPIs, but the impact of PPI use on liver function and disease progression remains uncertain. Scope: This study aims to evaluate the adverse effects of PPIs on CLD patients through a review of available literature. The scope encompasses a review of studies examining the association between PPI use and liver-related outcomes, including hepatic encephalopathy, hepatic decompensation, liver cirrhosis progression, and mortality, among CLD patients. Method: A scoping review of relevant literature were conducted to identify studies investigating the adverse effects of PPIs in CLD patients. Databases including PubMed and Google Scholar were searched for articles published up to January, 1 2023. Eligible studies were selected based on predefined inclusion criteria. Results: The review identified 27 studies meeting the inclusion criteria, comprising observational studies and meta-analysis. The review revealed a significant association between PPI use and adverse liver outcomes in CLD patients. Specifically, PPI use was associated with increased risk of SBP based on studies reviewed, while other complications remained inconclusive. Conclusion: The findings suggest that PPI use may have detrimental effects on disease progression in CLD patients, Long-term use of PPIs can lead to higher risk of SBP in CLD patients. Clinicians should exercise caution when prescribing PPIs to this vulnerable population and consider alternative treatment options or minimize PPI use to mitigate potential adverse outcomes. Further research is warranted to elucidate the underlying mechanisms, confirm the effect of PPIs toward other complications of CLD and establish guidelines for PPI use in CLD patients
HUBUNGAN ANTARA SELF-COMPASSION DENGAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA MAHASISWA
Penelitian ini bertujuan menguji hubungan antara Self-compassion dan Psychological Well-being pada mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sebanyak 84 mahasiswa berpartisipasi dengan mengisi kuesioner yang mengukur Self-compassion dan Psychological Well-being. Hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan hubungan positif signifikan antara Self-compassion dan Psychological Well-being dengan nilai korelasi 0.399 dan signifikansi <0.001. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan Self-compassion berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan psikologis. Penelitian ini mengindikasikan pentingnya program intervensi untuk meningkatkan Self-compassion guna mendukung kesejahteraan psikologis mahasiswa. Keterbatasan penelitian termasuk desain cross-sectional dan penggunaan sampel dari satu universitas. Penelitian lanjutan dengan desain longitudinal dan sampel lebih beragam diperlukan untuk pemahaman lebih mendalam. Kesimpulannya, Self-compassion merupakan faktor penting bagi kesejahteraan psikologis mahasiswa dan dapat ditingkatkan melalui program intervensi yang tepat
Gambaran Anak Korban Perceraian
Setiap anak mendambakan keluarga yang utuh dan harmonis. Tidak bisa dipungkiri bahwa perceraian orang tua akan berdampak pada seluruh kehidupan anak. Peneliti menggunakan metode narrative review untuk mengetahui gambaran mengenai anak korban perceraian. Hasil narrative review menunjukkan gambaran anak korban perceraian serta strategi coping yang tepat. Ini mendukung perlunya penelitian kualitatif sebagai penggalian data terhadap gambaran anak korban perceraian itu sendiri. Penelitian menemukan bahwa anak-anak yang orang tuanya bercerai mengalami perubahan pada psikologis mereka, terutama dalam mengelola emosi. Bagi beberapa anak akan merasa lebih menerima keadaan yang baru ini saat menemukan strategi koping masing-masing dan lebih baik lagi bila mereka tetap mendapat kasih dan perhatian dari kedua orang tuanya
HUBUNGAN ANTARA FREKUENSI PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DAN ONLINE SOCIAL SUPPORT DENGAN KESEHATAN MENTAL PADA EMERGING ADULTS
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara frekuensi penggunaan media sosial dan online social support dengan kesehatan mental pada emerging adults. Frekuensi penggunaan media sosial merujuk pada tingkat keseringan individu mengakses dan terlibat di media sosial dalam keseharian, karena dipandang mudah dan bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan emosional, kognitif, dan sosial serta menjaga konektivitas dengan orang lain (Olufadi, 2016). Online Social Support didefinisikan sebagai dukungan sosial yang berlangsung melalui kanal daring (Lin dkk., 2016). Kesehatan mental didefinisikan sebagai sebagai hadirnya perasaan positif serta keberfungsian psikososial yang adaptif (Keyes & Haidt, 2003). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survey. Pengumpulan data frekuensi penggunaan media sosial menggunakan Social Networking Time Use Scale (Olufadi, 2016) yang telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ardiany & Ardi (2022). Pengumpulan data online social support menggunakan Online Social Support Scale (Lin dkk., 2016) yang telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia oleh Aini (2018). Pengumpulan data kesehatan mental menggunakan Mental Health Continuum – Short Form (Keyes dkk., 2008) yang telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia oleh (Putra, 2023). Partisipan berjumlah 153 orang. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi spearman’s rho menggunakan SPSS Statistic 31 for Windows. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan antara frekuensi penggunaan media sosial dan online social support dengan kesehatan mental pada emerging adults. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa tinggi rendahnya frekuensi penggunaan media sosial serta tinggi rendahnya online social support yang diterima oleh emerging adults tidak berkaitan dengan apakah mereka berada pada kondisi kesehatan mental flourishing, moderate, atau languishing