82567 research outputs found
Sort by
Hubungan Basic Symptom dengan Depresi pada Individu yang Mencari Bantuan (Help seeking)
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara basic symptom symptom yakni gejala subjektif awal yang sering kali mendahului psikosis dengan depresi pada individu yang mencari bantuan psikologis. Data diperoleh dari 89 responden berusia 15–40 tahun menggunakan instrumen SPI-A untuk mengukur basic symptom dan MINI ICD-10 untuk mengukur depresi. Hasil analisis korelasi menggunakan korelasi spearman menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara dimensi basic symptom dan depresi. Hal ini mengindikasikan bahwa kemunculan basic symptom pada populasi help seeking pada gangguan mental mungkin lebih dipengaruhi oleh faktor distress atau komorbiditas lain, bukan semata depresi. Studi ini menegaskan pentingnya pendekatan transdiagnostik dalam mendeteksi risiko psikosis secara din
Studi Mediasi Kepuasan Kerja pada Hubungan Hybrid Work Model dengan Kinerja Karyawan
Hybrid work model dinilai sebagai sistem kerja fleksibel yang memberikan manfaat bagi keseimbangan hidup dan kinerja karyawan. Namun, pengaruh hybrid work terhadap kinerja karyawan sering kali tidak terjadi secara langsung, melainkan melalui aspek psikologis tertentu, seperti kepuasan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran mediasi kepuasan kerja dalam hubungan hybrid work model dengan kinerja karyawan. Penelitian ini menggunakan metode survei terhadap 79 karyawan yang menerapkan sistem hybrid working dengan teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan yaitu Hybrid Work Scale, Minnesota Satisfaction Questionnaire (MSQ), dan Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ). Analisis data menggunakan PROCESS Macro Model 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hybrid work model berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja dan kinerja karyawan, serta kepuasan kerja secara signifikan memediasi hubungan tersebut
Perbedaan Atribusi Emosi Terhadap Hewan Peliharaan dan Hewan Ternak Antara Tipe Diet Vegetarian dan Omnivora
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara vegetarian dan omnivora dalam mengatribusikan emosi primer dan emosi sekunder terhadap hewan peliharaan dan hewan ternak dengan mengontrol kovariat usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan kepercayaan/religi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dalam bentuk survei dengan melibatkan 149 partisipan yang terdiri dari 46 vegetarian dan 103 omnivora. Instrumen yang digunakan adalah Skala Atribusi Emosi terhadap Hewan yang disusun oleh penulis berdasarkan Teori Roda Emosi oleh Plutchik. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara vegetarian dan omnivora dalam atribusi emosi primer dan sekunder terhadap hewan peliharaan. Namun, terdapat perbedaan yang signifikan dalam atribusi emosi terhadap hewan ternak, dimana vegetarian cenderung memberikan atribusi emosi primer dan sekunder yang lebih tinggi dibandingkan omnivora. Kovariat usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan kepercayaan/religi ditemukan tidak mempengaruhi hubungan antara perbedaan tipe diet dan atribusi emosi terhadap hewan
Mendekonstruksi Praktik Biopower Dalam Pembangunan Kependudukan Dan Kesehatan: Upaya Mengembangkan Kualitas Penduduk Dan Kesehatan Yang Setara Dan Mandiri
Praktik biopower, sebagaimana diuraikan oleh Michel Foucault, telah menjadi alat strategis dalam mengarahkan pembangunan kependudukan dan kesehatan. Melahii mekanisme kontrol terhadap tubuh individu dan populasi, biopower memberikan kontribusi positif berupa peningkatan indikator kesehatan, seperti pengendalian penyakit menular, peningkatan angka harapan hidup, dan pengurangan angka kematian ibu dan anak. Namun, di balik keberhasilan ini, biopower juga menciptakan tantangan serius berupa ketimpangan struktural, diskriminasi, dan marginalisasi kelompok-kelompok tertentu, khususnya yang berada dalam posisi sosial-ekonomi rendah. Dengan karakteristiknya yang berlapis, biopower tidak hanya mencerminkan dominasi negara terhadap rakyatnya, tetapi juga mengungkap dinamika kekuasaan yang kompleks antara individu, masyarakat, dan struktur institusional. Praktik ini sering kali beroperasi di bawah narasi pembangunan dan kesehatan, namun berisiko mengabaikan aspek inklusivitas, kesetaraan, dan otonomi individu. "Dekonstruksi" terhadap praktik biopower, sebagaimana dikontekstualisasikan dalam pembangunan kependudukan dan kesehatan, menjadi kebutuhan mendesak. Langkah ini tidak hanya bertujuan membongkar dominasi kekuasaan yang eksploitatif, tetapi juga mengarahkan ulang kebijakan ke arah yang lebih humanis, adil, dan berbasis hak asasi manusia. Pendekatan ini memungkinkan terciptanya paradigma baru dalam pembangunan yang mengutamakan kemandirian, partisipasi, dan keadilan sosial bagi semua lapisan masyarakat. Melalui strategi dekonstruksi yang tepat, pembangunan kependudukan dan kesehatan dapat diorientasikan untuk mewujudkan sistem yang lebih berimbang. Sistem ini tidak lagi mendasarkan keberhasilannya pada pengendalian populasi semata, melainkan pada penciptaan kualitas hidup yang merata, berkelanjutan, dan inklusif, di mana setiap individu memiliki kesempatan yang sarna untuk berkembang secara mandiri
Peran Citra Tubuh sebagai Prediktor Kecemasan Sosial pada Mahasiswa dengan Acne vulgaris
Munculnya Acne vulgaris (AV) dapat menjadi salah satu faktor pemicu kecemasan sosial bagi mahasiswa. Salah satu faktor yang berperan dalam memprediksikan kecemasan sosial adalah bagaimana seseorang memandang citra tubuhnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran citra tubuh sebagai prediktor kecemasan sosial pada mahasiswa dengan AV. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan prosedur survei. Sebanyak 187 mahasiswa dengan Acne vulgaris berpartisipasi dalam penelitian ini . Alat ukur yang digunakan adalah Multidimensional Body Self Relations Questionnaire-Appearance Scale (Cash, 2000) dan Skala Kecemasan Sosial (Suryaningrum, 2020). Analisis data dilakukan menggunakan teknik korelasi dan regresi linear berganda. Hasil penelitiain menunjukkan bahwa dimensi appearance orientation pada citra tubuh berperan signifikan dalam memprediksikan kecemasan sosial pada mahasiswa ((F(3, 183) = 5,55; p = 0,001; R2 = 0,0834). Hal ini berimplikasikan bahwa kepedulian terhadap penampilan dapat memprediksikan kecemasan sosial pada mahasiswa dengan AV
Hubungan Insecure Romantic Attachment dan Non-Suicidal Self-Injury pada Emerging Adulthood Dalam Hubungan Pacaran : Peran Emotional Dysregulation sebagai Variabel Mediator
Individu emerging adulthood memiliki prevalensi NSSI yang sangat tinggi. Salah satu faktor dari NSSI tersebut adalah insecure romantic attachment yang dimiliki individu ketika dalam hubungan pacaran yang juga dapat mendorong disregulasi emosi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengatahui hubungan Insecure Romantic Attachment dan Nonsuicidal Self-Injury dengan Emotional Dysregulation sebagai mediator pada individu emerging adulthood dalam hubungan pacaran menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei sebagai metode pengambilan data. Subjek penelitian ini merupakan individu emerging adulthood yang sedang menjalani hubungan pacaran dan pernah melakukan minimal satu kali perilaku melukai diri sendiri tanpa niat bunuh diri. Total subjek penelitian ini 188 orang. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah Experiences in Close Relationships-Revised (ECR-R; Fraley dkk., 2000) yang dimodifikasi oleh Muhtar (2023), Difficulties in Emotion Regulation Scale (DERS; Gratz dan Roemer, 2003) yang telah dimodifikasi oleh Sabrina & Afiatin (2023), dan Inventory of Statements About Self-Injury (ISAS; Klonsky dan Glenn, 2009) yang telah diadaptasi oleh Setiadi (2013). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Emotional Dysregulation memediasi secara parsial hubungan dimensi Anxious Attachment dan NSSI (B=0,981; CI95[0,547; 1,42]; SE=0,222;p<0,001) dan memediasi secara penuh hubungan dimensi Avoidant Attachment dan NSSI (B=0,484; CI95[0,119; 0,848]; SE=0,186;p=0,009)
Eksplorasi Kualitas Hidup Orang Dewasa dengan Autism Spectrum Disorder (ASD)
Kualitas hidup adalah pandangan subjektif individu terhadap posisi kehidupan mereka saat ini berdasarkan konteks budaya dan nilai yang berhubungan dengan tujuan, ekspektasi, standar dan kekhawatiran dalam kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami kualitas hidup orang dewasa dengan ASD melalui eksplorasi pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Kualitas hidup merupakan konsep yang subjektif, maka dari itu orang dewasa dengan ASD memiliki standar dan nilai kualitas hidup yang berbeda dari orang dewasa normal pada umumnya.
Penelitian ini dilakukan dengan melakukan wawancara terhadap orang dewasa dengan ASD yang berumur 20-30 tahun dan significant other dari masing-masing partisipan. Analisis dan interpretasi data menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian mengungkap bahwa orang dewasa dengan ASD memiliki kualitas hidup yang cukup baik berdasarkan kondisi dan karakteristik yang dimiliki
Peran Intoleransi Ketidakpastian dan Empty Nest Syndrome terhadap Separation Anxiety pada Orang Tua Dewasa Madya
Studi ini bertujuan untuk mengetahui peran antara intoleransi ketidakpastian dan empty nest syndrome terhadap separation anxiety pada orang tua dewasa madya. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan jumlah sampel penelitian 80 orang tua dewasa madya. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengukur separation anxiety adalah the self-report questionnaire for adult SA (ASA-27) yang dikembangkan oleh Manicavasagar dkk (2003). Alat ukur yang digunakan untuk mengukur intoleransi ketidakpastian adalah intolerance of uncertainty scale (IUS-12) yang dikembangkan oleh Carleton dkk (2007). Alat ukur yang digunakan untuk mengukur empty nest syndrome adalah empty nest syndrome scale - indian form (ENS-IF) yang dikembangkan oleh Jhangiani dkk (2022). Analisis data yang digunakan adalah uji regresi linear berganda dengan bantuan Jamovi versi 2.3.28. Hasil analisis data menunjukan bahwa intoleransi ketidakpastian dan empty nest syndrome secara simultan memiliki peran terhadap separation anxiety pada orang tua dewasa madya dengan nilai R² sebesar 0,541 yang termasuk ke dalam kategori kuat
Hubungan antara Citra Tubuh dengan Harga Diri pada Remaja Wanita Pengguna Produk Perawatan Kulit (Skincare)
Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju masa dewasa. Pada masa remaja terdapat kecenderungan penurunan harga diri disertai dengan peningkatan kekhawatiran mengenai citra tubuh. Kekhawatiran terhadap penampilan membuat remaja melakukan berbagai usaha yang dilakukan, salah satunya menggunakan produk skincare untuk menunjang penampilannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara citra tubuh dengan harga diri pada remaja wanita pengguna produk perawatan kulit (skincare). Penelitian ini dilakukan oleh remaja putri berusia 15-21 tahun pengguna skincare. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode survey. Instrumen pengumpulan data menggunakan alat ukur MBSRQ-AS dan RSES. Hasil analisis menunjukkan bahwa koefisien korelasi sebesar 0.585 dengan nilai signifikansi p-value sebesar <0.001. Nilai koefisien korelasi tersebut menunjukkan adanya hubungan yang positif antara variabel citra tubuh dengan harga diri. Dengan kata lain semakin positif citra tubuh yang dimiliki individu maka semakin tinggi harga dirinya. Sebaliknya semakin negatif citra tubuh yang dimiliki individu maka harga dirinya semakin rendah
Hubungan Body Image dan Kecemasan Sosial pada Remaja Perempuan yang Pernah Mengalami Body Shaming
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan body image dan kecemasan sosial pada remaja perempuan yang pernah mengalami body shaming. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan memakai jenis riset survei untuk mengumpulkan data. Total partisipan adalah sebanyak 100 remaja perempuan yang berusia 12-21 tahun dan pernah mengalami body shaming. Alat ukur yang digunakan adalah Skala body image milik Hannan (2018) dan Liebowitz Social Anxiety Scale (LSAS) milik Dr. Michael R. Liebowitz (1987) yang telah diadaptasi oleh Kalalo dkk (2021) untuk mengukur kecemasan sosial. Data dianalisis menggunakan uji korelasi dengan teknik Spearman’s Rho memakai program IBM SPSS Statistic 25 for Windows. Dari hasil analisis data, diperoleh nilai signifikansi kedua variabel adalah sebesar 0,005 (<0,05), yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara body image dan kecemasan sosial. Nilai koefisien Spearman’s Rho menunjukkan nilai -0,278. Sebagai kesimpulan, ada hubungan negatif antara body image dengan kecemasan sosial pada remaja perempuan yang pernah mengalami body shaming. Yang artinya, semakin tinggi tingkat body image maka akan diikuti oleh turunnya kecemasan sosial, dan begitu sebaliknya