82567 research outputs found
Sort by
Peran Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan terhadap Regulasi Emosi Laki-laki Remaja Akhir
Masa remaja akhir merupakan masa peralihan dari kanak-kanak ke masa dewasa yang ditandai dengan
perubahan fisik, sosial, serta kognitif. Fase ini juga ditandai dengan pergolakan emosi. Oleh karena itu,
mereka cenderung lebih rentan terhadap ketidakstabilan emosional sehingga dibutuhkan figur lekat
yang dapat membantu mereka dalam menavigasi permasalahan dalam hidupnya. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui peran keterlibatan ayah dalam pengasuhan terhadap regulasi emosi laki-
laki remaja akhir. Partisipan pada penelitian ini adalah 122 remaja akhir berusia 18-21 tahun yang
memiliki figur ayah. Pengumpulan data menggunakan metode survei kuesioner dengan instrumen
pengukuran Perceived Father Involvement Questionnaire (Feliciana, 2019) dan Emotion Regulation
Questionnaire (Sepda, 2018). Analisis data menggunakan uji regresi linear sederhana dengan bantuan
program IBM SPSS Statistics 27 for Mac. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam
pengasuhan memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap regulasi emosi laki-laki remaja akhir (p
= 0,000). Penelitian ini menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan menjelaskan 40,2%
variasi pada regulasi emosi
Hubungan antara Harga Diri dan Kepuasan Hubungan Romantis Pada Wanita Suku Batak yang Menerima Sinamot
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara harga diri dengan kepuasan hubungan romantis pada wanita Suku Batak Toba yang menerima sinamot. Tradisi sinamot memiliki fungsi simbolis dalam adat Batak Toba, namun pergeseran makna ke arah tuntutan ekonomi berpotensi menimbulkan tekanan psikologis dan dinamika relasional tertentu. Harga diri dipahami sebagai faktor internal yang mempengaruhi cara individu menilai dirinya dan menjalani hubungan, sehingga penting untuk dilihat kaitannya dengan kepuasan hubungan romantis pada konteks budaya ini. Pendekatan kuantitatif dengan model survey korelasional digunakan untuk penelitian ini. Subjek penelitian sebanyak 134 wanita Suku Batak Toba berusia 18– 40 tahun yang telah menikah menggunakan adat sinamot dan menjalani pernikahan minimal satu tahun. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Rosenberg Self Esteem Scale (RSES) untuk mengukur harga diri dan Relationship Assessment Scale (RAS) untuk mengukur kepuasan hubungan romantis. Analisis data dilakukan menggunakan teknik korelasi Pearson dengan bantuan software SPSS versi 26. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara harga diri dan kepuasan hubungan romantis pada wanita Suku Batak Toba yang menerima sinamot (r = 0,699, p < 0,05). Temuan ini menjelaskan bahwa semakin tinggi tingkatan harga diri yang dimiliki seseorang, semakin tinggi kepuasan hubungan romantis yang dirasakan. Berdasarkan hal itu, harga diri menjadi faktor penting dalam memahami dinamika hubungan romantis perempuan dalam konteks pernikahan adat Batak Toba
Pemaknaan Stigmatisasi Dialek Regional: Studi Fenomenologis Dari Perspektif Penutur
Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana individu memaknai stigmatisasi dialek regionalnya. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kontradiksi antara temuan studi yang mempersepsikan stigma pada dialek regional sebagai sesuatu yang tidak mengenakkan dan negatif dengan temuan studi yang melazimkan hal tersebut. Penelitian ini melibatkan tiga partisipan yang ketiganya berbicara dalam bahasa Indonesia dengan dialek regional masing-masing, pernah diperlakukan secara berbeda atau secara tidak adil, dan berdomisili di lingkungan dimana dialeknya bukan merupakan dialek mayoritas. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian fenomenologis dengan pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Penggalian data dilakukan dengan metode wawancara mendalam semi-terstruktur. Triangulasi pada metode dan sumber data dilakukan untuk memastikan kredibilitas penelitian. Hasil analisis data menunjukkan adanya inkonsistensi pada bagaimana partisipan mempersepsikan pengalaman stigmatisasi pada dialek regionalnya sebagai suatu hal yang tidak mengenakkan dengan bagaimana mereka memaknai stigmatisasi tersebut secara permisif (atribusi internal, membingkai ulang, menerima sebagai realita sosial), seolah melazimkannya. Hal ini menunjukkan bagaimana stigma sosial telah diinternalisasi menjadi stigma diri pada partisipan selaku target stigma
Peran Komunikasi Interpersonal terhadap Kepuasan Pernikahan pada Dewasa Madya
Mengingat pentingnya komunikasi interpersonal dalam suatu hubungan pernikahan, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran komunikasi interpersonal terhadap kepuasan pernikahan pada dewasa madya. Dewasa madya merupakan tahap perkembangan dengan rentang usia 40-65 tahun. Pada tahap tersebut,individu dewasa madya mengalami berbagai dinamika, salah satunya pada kepuasan pernikahan. Terdapat 160 responden yang mengisi kuesioner penelitian ini dengan kriteria laki-laki dan perempuan, berusia 40-65 tahun, dan berstatus menikah. Pengukuran komunikasi interpersonal dilakukan menggunakan Interpersonal Communication Inventory (ICI) yang dikemukakan oleh Bienvenu (1971) dan telah dimodifikasi. Pengukuran kepuasan pernikahan dilakukan menggunakan alat ukur ENRICH Marital Satisfaction yang dikemukakan oleh Olson & Fowers (1993) dan telah dimodifikasi. Berdasarkan hasil perhitungan, didapatkan persamaan regresi Y = 40,67 + 0,43X. Hasil mengindikasikan bahwa komunikasi interpersonal berperan secara positif terhadap kepuasan pernikahan, dimana ketika komunikasi interpersonal meningkat, maka akan meningkatkan kepuasan pernikahan. Koefisien determinasi (R²) menunjukkan nilai 0,310 yang berarti sebesar 31,0% variasi kepuasan pernikahan dapat dijelaskan oleh komunikasi interpersonal
HUBUNGAN ANTARA SELF-COMPASSION DENGAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA PESERTA YANG GAGAL SELEKSI MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI DI INDONESIA
Kegagalan pada seleksi masuk perguruan tinggi negeri dapat menurunkan kesejahteraan psikologis. Sementara itu, self-compassion terbukti dapat menjadi strategi koping emosional untuk meningkatkan kondisi psikologis individu yang mengalami kegagalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-compassion dengan psychological well-being pada peserta yang gagal seleksi masuk perguruan tinggi negeri di Indonesia. Partisipan penelitian sebanyak 113 orang yang pernah menjadi peserta namun mengalami kegagalan pada seleksi masuk perguruan tinggi negeri di Indonesia. Metode pengumpulan data menggunakan teknik survey dalam bentuk kuesioner yang disebarkan secara daring. Alat ukur yang digunakan adalah Self-compassion Scale serta Short-form Ryff’s Psychological Well-being Scale. Data dianalisis menggunakan teknik statistik Spearman dengan bantuan software Jamovi 26.2.6. for Windows. Berdasarkan proses analisis data, diperoleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan di antara self-compassion dengan psychological well-being (r = 0,656, p < 0,001). Hasil tersebut berarti tingkat self-compassion berbanding lurus dengan tingkat psychological well-being
Hubungan Antara Trait Emotional Intelligence dan Penyesuaian Perkawinan pada Individu Emerging Adulthood yang Menikah Lima Tahun Pertama
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara trait emotional intelligence dengan penyesuaian perkawinan pada individu emerging adulthood yang menikah lima tahun pertama. Kecerdasan emosi dalam penelitian ini mengacu pada trait emotional intelligence (TEI) menurut Petrides & Furnham, (2001), yang mencerminkan persepsi individu terhadap efektivitas sosial-emosional dirinya. Penyesuaian perkawinan dalam penelitian ini mengacu pada konsep dari Spanier (1976) yang mencakup dimensi kepuasan, kesepakatan, kohesi, dan ekspresi kasih sayang. Penelitian ini dilakukan pada pasangan menikah usia emerging adulthood yang berusia 18 - 25 tahun dengan durasi pernikahan kurang dari lima tahun. Responden yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 127 orang, yang terdiri atas 85 istri dan 42 suami. Analisis data menggunakan teknik korelasi Pearson dengan bantuan program SPSS versi 29.Dari hasil analisis data diperoleh nilai koefisien korelasi Pearson sebesar r 0,466 dengan nilai signifikansi < 0,001. Hasil ini menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara trait emotional intelligence dengan penyesuaian perkawinan pada individu emerging adulthood yang menikah lima tahun pertama. Artinya, semakin tinggi trait emotional intelligence yang dimiliki individu, maka semakin tinggi pula tingkat penyesuaian perkawinannya. Temuan ini sejalan dengan tujuan penelitian, yaitu untuk menguji hubungan antara trait emotional intelligence dan penyesuaian perkawinan pada individu dewasa awal yang telah menikah kurang dari lima tahun
Peran Regulasi Emosi Terhadap Kecenderungan Depresi Pada Emerging Adulthood
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi apakah terdapat peran regulasi emosi terhadap kecenderungan depresi pada emerging adulthood. Regulasi emosi terdiri dari dimensi cognitive reappraisal dan expressive suppression. Oleh karena itu, terdapat dua hubungan yang akan diteliti dalam penelitian ini, yaitu: 1) cognitive reappraisal berperan secara signifikan terhadap kecenderungan depresi pada emerging adulthood; 2) expressive suppression berperan secara signifikan terhadap kecenderungan depresi pada emerging adulthood.
Penelitian dilakukan pada individu emerging adulthood atau berusia 18 - 25 tahun. Jumlah subjek pada penelitian ini adalah 236 orang, yang terdiri dari 28 laki-laki dan 208 perempuan. Alat ukur yang digunakan untuk mengumpulkan data yakni skala Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) yang terdiri dari 10 item dan Beck Depression Inventory II (BDI-II) yang terdiri dari 21 item. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik analisis regresi linear berganda, dengan bantuan software IBM SPSS Statistics versi 29.
Berdasarkan hasil analisis data, ditemukan bahwa cara seseorang mengatur emosinya berpengaruh pada tingkat kecenderungan depresi. Semakin sering seseorang mencoba melihat situasi dari sudut pandang yang lebih positif (cognitive reappraisal), maka tingkat depresinya cenderung lebih rendah. Sebaliknya, semakin sering seseorang menekan atau menyembunyikan emosinya (expressive suppression), maka tingkat depresinya cenderung lebih tinggi. Secara keseluruhan, kedua strategi ini regulasi emosi ini menjelaskan sekitar 18,9% dari tingkat kecenderungan depresi yang dialami oleh individu
Pengalaman Coping Stress Janda Setelah Suaminya Meninggal Karena Kecelakaan Kerja
Kematian mendadak akibat kecelakaan kerja membawa dampak psikologis yang signifikan bagi pasangan yang ditinggalkan, terutama janda yang harus menanggung peran ganda sebagai pencari nafkah dan pengasuh. Kehilangan ini tidak hanya menimbulkan tekanan emosional, tetapi juga mengguncang identitas diri dan posisi sosial perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan proses coping stress pada janda cerai mati akibat kecelakaan kerja dengan menggunakan pendekatan fenomenologi interpretatif (IPA). Tiga partisipan diwawancarai secara mendalam untuk mengeksplorasi pengalaman dan makna di balik strategi coping yang mereka jalani. Hasil menunjukkan bahwa coping berlangsung secara dinamis dan tidak linier, dipengaruhi oleh faktor internal seperti optimisme dan pengalaman hidup, serta faktor eksternal seperti dukungan sosial dan tekanan lingkungan. Proses pemaknaan terhadap kehilangan dibentuk melalui tanggung jawab terhadap anak, rekonstruksi identitas sebagai ibu tunggal, serta munculnya harapan baru dari peristiwa traumatis yang mereka alami
PERAN STRES DALAM MEMEDIASI HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DAN KUALITAS TIDUR PADA MAHASISWA YANG MENGERJAKAN SKRIPSI
Kualitas tidur yang buruk dialami oleh mahasiswa yang mengerjakan skripsi. Penurunan kualitas tidur sering dikaitkan dengan adanya respon tubuh dalam menghadapi stres. Studi terdahulu mengungkap bahwa kualitas tidur berhubungan dengan aktivitas fisik dan stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran stres dalam memediasi hubungan aktivitas fisik dan kualitas tidur pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Penelitian ini terdiri dari 256 responden yang berusia 19-24 tahun berasal dari 130 perguruan tinggi di Indonesia. Terdapat 3 alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini yakni International Physical Activity Questionnaire-Short Form untuk mengukur aktivitas fisik, Perceived Stress Scale-10 untuk mengukur stres, serta Pittsburgh Sleep Quality Index untuk mengukur kualitas tidur. Penelitian ini menggunakan analisis data korelasi dan analisis mediasi menggunakan Jamovi. Hasil analisis menemukan bahwa hubungan aktivitas fisik (X) dan kualitas tidur (Y) tidak berhubungan (p > 0.05). Namun aktivitas fisik dapat berhubungan dengan kualitas tidur melalui stres sebagai mediator secara signifikan (β= -0.0556, CI95 [-0,1134, -0,00796], SE= 0,0281, p=0.048). Penelitian ini menyimpulkan bahwa adanya mediasi sempurna dimana stres memediasi penuh dalam hubungan aktivitas fisik dengan kualitas tidur.
Kata kunci: aktivitas fisik, kualitas tidur, mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi, stre
Peran Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Terhadap Regulasi Emosi Remaja yang Memiliki Orang Tua Bercerai
Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi peran keterlibatan ayah dalam pengasuhan terhadap regulasi emosi remaja yang memiliki orang tua bercerai. Perceraian orang tua menjadi tantangan bagi remaja karena kestabilan dan kematangan emosional mereka masih dalam tahap perkembangan. Kehilangan peran salah satu orang tua, khususnya ayah dapat menambah tantangan bagi remaja dalam perkembangan emosional dan pembentukan regulasi emosinya. Keterlibatan ayah berperan penting dalam mendukung kemampuan regulasi emosi yang adaptif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 72 remaja akhir berusia 18-21 tahun. Alat ukur yang digunakan adalah Percieved Father Involvement Questionnare dan Emotion Regulation Questionnare. Hasil analisis menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan memiliki peran terhadap strategi regulasi emosi cognitive reappraisal, tetapi tidak menunjukkan korelasi signifikan terhadap strategi regulasi emosi expressive suppression