82567 research outputs found
Sort by
ANALISIS MANAJEMEN MUTU PADA PRODUK RAJUNGAN (Portunus pelagicus) KALENG DI PT. BUMI MENARA INTERNUSA (BMI), LAMONGAN, JAWA TIMUR
"Rajungan merupakan salah satu hasil perikanan yang bersifat perishable
food (mudah rusak/busuk). Salah satu teknik pengawetan pangan yang paling
banyak diterapkan adalah pengawetan dengan suhu tinggi, yaitu pengalengan.
Pengalengan merupakan salah satu bentuk pengolahan dan pengawetan secara
modern yang dikemas secara hermetis (tertutup rapat dan kedap udara) yang
kemudian disterilkan Rajungan kaleng merupakan salah satu produk olahan
perikanan yang populer karena memiliki masa simpan yang lebih lama dan praktis
untuk dikonsumsi. Dalam industri pengalengan rajungan, penerapan standar
keamanan pangan seperti Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP),
Good Manufacturing Practices (GMP), dan Critical Control Points (CCP) sangat
penting untuk menjamin keamanan dan kualitas produk dari bahan baku hingga
distribusi.
PT Bumi Menara Internusa (BMI) Lamongan merupakan salah satu
perusahaan yang bergerak dibidang pengolahan Seafood yang salah satu produknya
berupa rajungan kaleng. PT. BMI memasarkan produknya ke berbagai wilayah baik
lokal maupun mancanegara (ekspor dan impor). Lokasi perusahaan terletak di Jalan
Raya Lamongan-Gresik km 40 Rejosari, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan.
Kegiatan Praktik Kerja Lapang dilaksanakan pada tanggal 24 Juni – 24 Agustus
2024. Metode yang digunakan dalam pengambilan data berupa data primer yang
meliputi kegiatan observasi, wawancara dan partisipasi aktif dan data sekunder
yang meliputi kegiatan studi literatur.
Proses produksi rajungan kaleng di PT. BMI, Lamongan dimulai dengan
penerimaan bahan baku (receiving), pre sorting, sorting, sorting in dark room, final
checking, metal detecting, mixing, filling dan weighing, seaming, coding,
pasteurizing, chilling, packing, chill storage, dan loading. PT. Bumi Menara
Internusa menerapkan Good Manufacturing Practices (GMP), Standard Sanitation
Operational Procedure (SSOP) dan Critical Control Point (CCP) dengan baik. Hal
ini bertujuan untuk menciptakan produk rajungan kaleng yang baik, berkualitas
tinggi dan menjamin keamanan mutu produk.
Teknik Pembenihan Ikan Lokal Domestik Di UPT Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Umbulan, Pasuruan, Jawa Timur.
"Indonesia memiliki banyak spesies ikan asli yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan produksi perikanan budidaya dan mendukung industrialisasi perikanan. Keanekaragaman jenis ikan di Indonesia saat ini terancam oleh berbagai aktivitas manusia yang dapat mengakibatkan menurunnya keanekaragaman jenis ikan tersebut. Upaya peningkatan keanekaragaman hayati dengan melakukan domestikasi spesies ikan air tawar asli di lingkungan budidaya. Proses domestikasi bertujuan untuk menyesuaikan individu liar dengan kondisi budidaya agar seleksi alam memperoleh hasil yang terbaik, yaitu individu yang memenuhi kondisi lingkungan budidaya dapat bertahan hidup, memperoleh pakan buatan, berkembang dengan baik, dan berkembang biak. Tujuan dilaksanakannya Praktik Kerja Lapang adalah untuk mengetahui teknik pembenihan ikan betik (Anabas testudineus), ikan uceng (Nemacheilus fasciatus), dan ikan sengkaring (Tor soro) di UPT Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Pasuruan, Jawa Timur.
Praktik kerja lapang di UPT Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Pasuruan, Jawa timur dari tanggal 24 Juni 2024 hingga 23 Agustus 2024. Metode kerja yang digunakan dalam Praktik Kerja Lapang ini yaitu partisipasi aktif dan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data terdapat beberapa jenis metode yang meliputi wawancara, observasi, partisipasi aktif, dan studi literatur. Metode pengumpulan data sangat penting untuk dilakukan dalam Praktik Kerja Lapang karena dapat digunakan sebagai strategi untuk mendapatkan data yang diperlukan.
Teknik pembenihan ikan betik, ikan uceng, ikan sengkaring meliputi beberapa tahapan yaitu perawatan induk, seleksi induk, pemijahan, perawatan larva, dan pendederan. Pemijahan ikan betik, ikan uceng, dan ikan sengkaring dilakukan secara semi buatan. Pemijahan semi buatan adalah pemijahan yang dilakukan dengan memberikan rangsangan hormon pada induk untuk mempercepat kematangan gonad namun proses ovulasinya terjadi secara alami ataupun sebaliknya, pemijahan dilakukan dengan cara stripping namun tidak menggunakan rangsangan hormon. Nilai fekunditas ikan betik 7.142 butir telur, ikan uceng 2.713 butir telur, dan ikan sengkaring 1.413 butir telur. Pada ikan betik memiliki persentase FR 89,7%, HR sebesar 92,97%, SR sebesar 79,61 %. Pada ikan uceng memiliki persentase FR sebesar 88%, HR sebesar 83%, SR sebesar 71%. Pada ikan sengkaring memiliki presentase FR sebesar 82,02%, HR sebesar 97,06%, SR sebesar 62,75 %.
Penerapan Critical Control Point pada Proses Produksi Udang di PT. Bumi Menara Internusa, Dampit, Malang, Jawa Timur
"Penerapan Critical Control Point (CCP) dalam proses produksi udang beku
di PT. Bumi Menara Internusa (BMI), salah satu perusahaan pengolahan seafood
terbesar di Indonesia, menjadi sangat penting seiring dengan meningkatnya
permintaan udang secara global, mengingat nilai ekonominya yang tinggi dan
kandungan gizinya yang sangat bermanfaat. Laporan ini bertujuan untuk
menganalisis proses produksi udang vannamei (Litopeneus vannamei) di PT. BMI,
dengan fokus pada produk Peeled and Deveined (PND) IQF, Butterfly Tail On
(BTO) Breaded IQF, dan Peeled and Deveined Tail On (PDTO) Pre-fried IQF.
Analisis dilakukan pada setiap tahapan proses produksi untuk menentukan Critical
Control Point (CCP) serta mengidentifikasi potensi bahaya yang dapat
mempengaruhi kualitas dan keamanan produk.
Praktik Kerja Lapang dilaksanakan di PT. Bumi Menara Internusa, Dampit,
Malang, Jawa Timur, pada 24 Juni 2023 – 23 Agustus 2024. Kegiatan praktik kerja
lapang ini menggunakan metode deskriptif dengan mengamati dan mengikuti
seluruh proses produksi, mulai dari penerimaan bahan baku, proses produksi
udang vannamei (Litopeneus vannamei) dalam Peeled and Deveined (PND) IQF,
Butterfly Tail On (BTO) Breaded IQF, dan Peeled and Deveined Tail On (PDTO)
Pre-fried IQF, hingga pengawasan mutu pada produk udang beku yang dihasilkan
di PT. Bumi Menara Internusa. Metode pengumpulan data yang digunakan dalampraktik kerja lapang ini mencakup pengumpulan data primer melalui observasi
langsung dan wawancara, serta data sekunder dari berbagai literatur terkait.
Berdasarkan hasil pengamatan di PT. Bumi Menara Internusa, setiap
tahapan produksi, mulai dari penerimaan bahan baku hingga pengemasan, diawasi
secara ketat untuk menjaga kualitas produk dan memastikan keamanan pangan
melalui penerapan Critical Control Point (CCP). Pada produk PND IQF, bahaya
yang teridentifikasi meliputi kontaminasi bakteri patogen seperti Salmonella dan
Staphylococcus aureus. Penanganan yang kurang higienis atau kondisi suhu yang
tidak terkendali dapat menyebabkan pertumbuhan mikroba yang membahayakan.
Produk BTO Breaded IQF menghadapi bahaya biologis serupa, serta risiko fisik
seperti serpihan plastik atau benda asing lainnya selama pemrosesan. Bahaya
kimia seperti residu antibiotik dan sulfit juga diidentifikasi, dan pengawasan
dilakukan untuk memastikan produk bebas dari kontaminasi.
Setiap CCP diidentifikasi dengan jelas untuk mengendalikan risiko-risiko
tersebut. Misalnya, penggunaan metal detector dilakukan untuk mendeteksi
kontaminasi logam pada tahap akhir produksi, sedangkan batas kritis pada
pengemasan memastikan pelabelan alergen yang akurat. Pengawasan suhu selama
proses pembekuan juga diterapkan untuk menjaga kualitas dan mencegah
kerusakan produk. Hasil dari penerapan CCP ini menjamin bahwa produk udang
yang dihasilkan tidak hanya memenuhi standar keamanan pangan tetapi juga
memenuhi harapan pasar domestik dan internasional.
TEKNIK BUDIDAYA TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima) DI BALAI PERIKANAN BUDIDAYA LAUT (BPBL) SEKOTONG, LOMBOK BARAT, NUSA TENGGARA BARAT
"Budidaya Tiram Mutiara di Indonesia memiliki potensi yang besar. Tiram
mutiara merupakan komoditas yang penting di Indonesia karena memiliki nilai jual
yang tinggi dan juga sebagai penyumbang devisa yang cukup besar bagi
negara. Praktik budidaya yang kurang optimal, minimnya pengetahuan, dan
kurangnya perhatian terhadap aspek lingkungan menyebabkan rendahnya kualitas
budidaya yang ada di Indonesia. Budidaya yang tidak terstandarisasi dan penerapan
teknologi yang masih terbatas menyebabkan hasil produksi seringkali tidak
memenuhi standar kualitas yang diharapkan. Hal ini berdampak pada daya saing
produk tiram mutiara di pasaran. Tiram mutiara memiliki potensi yang sangat tinggi
hingga dibutuhkan pengelolaan dan pengembangan yang baik. Praktik Kerja
Lapangan ini bertujuan untuk mengetahui teknik budidaya tiram mutiara di Balai
Perikanan Budidaya Laut Lombok, NTB.
Praktik kerja lapang ini dilaksanakan pada tanggal 24 Juni 2024 hingga 23
Agustus 2024 di Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Sekotong, Lombok Barat,
Nusa Tenggara Barat. Metode kerja yang digunakan dalam Praktik Kerja Lapang
ini adalah deskriptif dengan pengambilan data primer dan data sekunder. Data
primer diambil dan diperoleh dari pengambilan data secara langsung melalui
wawancara, partisipasi aktif, dan observasi. Data sekunder diambil dan diperoleh
dari literatur.
Teknik pemijahan tiram mutiara (Pinctada maxima) meliputi kegiatan
seleksi induk, persiapan wadah pemijahan, dan proses pemijahan. Seleksi induk
dilakukan dengan pengecekan tingkat kematangan gonad pada induk tiram mutiara
untuk mengetahui apakah induk tiram siap pijah. Persiapan wadah pemijahan yaitu
2 container box, keranjang penetasan, dan bak fiber 3 ton. Proses pemijahan
dilakukan di hatchery dengan metode thermal shock dengan perbandingan induk
jantan dan induk betina adalah 1:2.
Teknik pemeliharaan larva dan benih tiram mutiara (Pinctada maxima)
meliputi kegiatan persiapan wadah pemeliharaan, pemeliharaan benih, dan
monitoring perkembangan larva. Pada persiapan wadah pemeliharaan larva
dilakukan menggunakan bak fiber 3 ton dengan proses pemeliharaan meliputi
pembersihan wadah sebelum digunakan, pengisian air laut yang disaring
menggunakan filter fisika berupa pasir silika dan arang, penempelan larva pada
kolektor. Pada pemeliharaan benih tiram mutiara dimana pemeliharaan benih
dilakukan setelah telur menetas selama proses pemijahan. Selama masa
pemeliharaan larva tiram tersebut, 3 hari sekali bak akan dibersihkan dan di ganti
airnya, sedangkan larva kerang mutiara akan disaring dengan saringan bertingkat
dengan ukuran 50, 60, dan 80 mesh. Pemberian kolektor sebagai tempat menempel
benih tiram mutiara dimulai pada umur ke 15 hari dengan kapasitas 200 kolektorper bak fiber atau 40 kolektor per gantungan pipa. Monitoring perkembangan larva
terbagi menjadi 4 fase yaitu fase D, fase Umbo, fase Plantygrade, dan fase Spat.
Teknik pembesaran tiram mutiara meliputi kegiatan persiapan wadah
pembesaran, penurunan spat ke laut, dan pembesaran tiram mutiara. Teknik
pembesaran tiram mutiara dimulai dari fase spat berumur 30 hari dengan ukuran 2
cm, diawali dengan persiapan wadah yaitu pocket net, keranjang tento, dan waring.
Kemudian penurunan spat ke laut dengan menempelkan kolektor pada pocket.
Pembesaran tiram mutiara dilakukan dengan penjarangan dan pembersihan tiram
selama sebulan sekali. Pergantian waring dilakukan selama 2 minggu sekali.
Kepadatan penebaran tiram mutiara dalam pocket net disesuaikan dengan ukuran
pocket, terdapat 6 jenis pocket yaitu pocket timbangan, A12, A18, A30, keranjang
tento dan insersi.
Manajemen pakan pada tiram mutiara dilakukan sejak tiram berukuran larva
fase D-Shape. Kultur dan dilakukan penyesuaian suhu hingga suhu stabil, setelah
itu diberikan pakan dengan frekuensi pemberian pakan 1 kali sehari pada siang hari
pukul 13.00 setiap harinya. Banyaknya 24 liter untuk 6 bak, pemberian pakan
dilakukan alat bantu berupa gelas ukur bervolume 2L dengan masing-masing 4L
pada setiap bak pemeliharaan. Pemberian pakan dua kali sehari dengan jenis spesies
C. simplex, C. calcitrans, dan C. gracilis dengan perbandingan 1:1:1 setiap jenis.
Kepadatan plankton dalam setiap bak pembenihan sebanyak 1,417 x 1010 .
Kualitas air pada pemeliharaan larva tiram mutiara menunjukan hasil yang
optimal dimana suhu berkisar antara 27-29°C, salinitas 32 ppt, pH 8.2, kadar
oksigen terlarut berkisar antara 5.3-6 mg/L, nitrit berkisar antara 0.005-0.008 mg/L,
nitrat berkisar antara 0.01-0.03 mg/L, dan ammonia berkisar antara 0.04-0.05 mg/L.
Kualitas air pada pemeliharaan induk tiram mutiara menunjukan hasil yang optimal.
Suhu berkisar antara 28-29°C, salinitas berkisar antara 32-36 ppt, pH 8.1-8.3, kadar
oksigen terlarut berkisar antara 5.9-6.9 mg/L, nitrit berkisar antara 0.002-0.009
mg/L, nitrat berkisar antara <0.01-0.02 mg/L, dan ammonia berkisar antara 0.03
0.09 mg/L. Pada budidaya tiram mutiara (Pinctada maxima) sering menghadapi
berbagai macam hama seperti teritip, keong laut famili Cypraeidae, Polychaeta,
Monoplex pilearis, dan kepiting. Upaya yang dilakukan yaitu pembersihan
cangkang serta penggantian waring dan keranjang.
Teknik Pembenihan dan Budidaya Udang Galah (Macrobachium Rosembergii) di Instalasi Budidaya Air Payau (IBAP) Probolinggo, Jawa Timur.
Komoditas perikanan air tawar salah satunya udang galah berperan sangat penting dalam usaha perikanan air tawar Indonesia. Udang galah merupakan komoditas hasil perikanan air tawa
Manajemen Pembenihan Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) DI PT. Central Pertiwi Bahari, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur
"Budidaya udang vaname mengalami perkembangan pesat di Indonesia, hal ini menyebabkan kebutuhan benih dalam budidaya udang meningkat maka dibutuhkan ketersediaan benih berkualitas secara kontinyu. Ketersediaan benih yang berkualitas dengan ciri dari pertumbuhan larva yang baik merupakan salah satu faktor keberhasilan budidaya udang. Untuk menghasilkan benih yang berkualitas dibutuhkan pengelolaan yang baik. Sehingga ketersediaan benih udang vaname dapat terus ada secara berkesinambungan. Dalam pembenihan udang kegiatan pemeliharaan larva penting dilakukan guna menunjang budidaya udang yang berkelanjutan, proses pemeliharaan larva dimulai dari stadia nauplius, zoea, mysis hingga post larva. Adapun faktor yang mempengaruhi kualitas benur adalah pengelolaan pakan, pengelolaan kualitas air, pengendalian hama dan penyakit serta perlengkapan sarana dan prasarana budidaya. Pengelolaan dengan baik juga mempengaruhi kualitas air, kesehatan larva, nafsu yang tinggi dan survival rate yang tinggi. Kegiatan di hatchery meliputi tahap pembenihan hingga pemeliharaan larva.
Praktik Kerja Lapang (PKL) ini dilaksanakan di Hatchery PT. Central Pertiwi Bahari Situbondo, Jawa Timur pada tanggal 24 Juni - 23 Agustus. Tujuan dari Praktik Kerja Lapang (PKL) ini adalah mengetahui manajemen pemeliharaan larva udang vaname, pemeliharaan induk, manajemen pengendalian hama dan penyakit, manajemen pakan dan manajemen kualitas air pada pembenihan udang vaname di PT. Central Pertiwi Bahari Situbondo, Jawa Timur. Metode kerja yang digunakan dalam Praktik Kerja Lapang (PKL) ini adalah metode deskriptif dengan pengambilan data meliputi data primer dan data sekunder. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi, partisipasi aktif, wawancara dan studi pustaka.
PT. Central Pertiwi Bahari Situbondo merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang akuabisnis dengan usaha pembenihan udang vaname (L. vannamei) yang menyediakan pakan dan benih udang vaname kualitas terbaik. Kegiatan pembenihan di PT. Central Pertiwi Bahari, Situbondo terdiri dari beberapa kegiatan yang diawali manajemen pemeliharaan induk udang vaname, manajemen pemeliharaan larva udang vaname, manajemen pakan, manajemen kualitas air, kultur pakan alami dan manajemen quality control. Kegiatan manajemen pemeliharaan induk vaname dimulai dari kegiatan pengadaan induk udang vaname, tahap maturasi atau pematangan induk, tahap hatching atau kegiatan penetasan telur, hingga tahap rinsing atau tahap pemanenan telur. Kegiatan manajemen pemeliharaan larva terdiri dari kegiatan stocking nauplius, pemeliharaan larva dari stadia zoea sampai post larva, manajemen kualitas air, manajemen pakan dan panen benur udang vaname. Kegiatan manajemen kultur pakan alami terdiri dari kegiatan kultur pakan alami yaitu Thalassiosira sp. Teknik kultur terdiri dari beberapa skala yaitu skala laboratorium, skala intermediet dan skala massal. Kegiatan manajemen quality control meliputi kegiatan mikrobiologi, yaitu pemeriksaan jenis virus, total bakteri dan total vibrio selama produksi benur dan manajemen kesehatan benur terdiri dari pemeriksaan fertilitas telur, stadia benur, deformity body, deformity cetae, dirty body dan dirty cetae.
Teknik Pembenihan Ikan Lokal Domestik Di UPT Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Umbulan, Pasuruan, Jawa Timur.
"Indonesia memiliki banyak spesies ikan asli yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan produksi perikanan budidaya dan mendukung industrialisasi perikanan. Keanekaragaman jenis ikan di Indonesia saat ini terancam oleh berbagai aktivitas manusia yang dapat mengakibatkan menurunnya keanekaragaman jenis ikan tersebut. Upaya peningkatan keanekaragaman hayati dengan melakukan domestikasi spesies ikan air tawar asli di lingkungan budidaya. Proses domestikasi bertujuan untuk menyesuaikan individu liar dengan kondisi budidaya agar seleksi alam memperoleh hasil yang terbaik, yaitu individu yang memenuhi kondisi lingkungan budidaya dapat bertahan hidup, memperoleh pakan buatan, berkembang dengan baik, dan berkembang biak. Tujuan dilaksanakannya Praktik Kerja Lapang adalah untuk mengetahui teknik pembenihan ikan betik (Anabas testudineus), ikan uceng (Nemacheilus fasciatus), dan ikan sengkaring (Tor soro) di UPT Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Pasuruan, Jawa Timur.
Praktik kerja lapang di UPT Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Pasuruan, Jawa timur dari tanggal 24 Juni 2024 hingga 23 Agustus 2024. Metode kerja yang digunakan dalam Praktik Kerja Lapang ini yaitu partisipasi aktif dan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data terdapat beberapa jenis metode yang meliputi wawancara, observasi, partisipasi aktif, dan studi literatur. Metode pengumpulan data sangat penting untuk dilakukan dalam Praktik Kerja Lapang karena dapat digunakan sebagai strategi untuk mendapatkan data yang diperlukan.
Teknik pembenihan ikan betik, ikan uceng, ikan sengkaring meliputi beberapa tahapan yaitu perawatan induk, seleksi induk, pemijahan, perawatan larva, dan pendederan. Pemijahan ikan betik, ikan uceng, dan ikan sengkaring dilakukan secara semi buatan. Pemijahan semi buatan adalah pemijahan yang dilakukan dengan memberikan rangsangan hormon pada induk untuk mempercepat kematangan gonad namun proses ovulasinya terjadi secara alami ataupun sebaliknya, pemijahan dilakukan dengan cara stripping namun tidak menggunakan rangsangan hormon. Nilai fekunditas ikan betik 7.142 butir telur, ikan uceng 2.713 butir telur, dan ikan sengkaring 1.413 butir telur. Pada ikan betik memiliki persentase FR 89,7%, HR sebesar 92,97%, SR sebesar 79,61 %. Pada ikan uceng memiliki persentase FR sebesar 88%, HR sebesar 83%, SR sebesar 71%. Pada ikan sengkaring memiliki presentase FR sebesar 82,02%, HR sebesar 97,06%, SR sebesar 62,75 %.
Teknik Pembesaran Udang Vaname (Penaeus vannamei) Di Tambak Intensif Pada Instalasi Budidaya Air Payau (IBAP) Lamongan, Jawa Timur
Udang merupakan salah satu produk unggulan sektor perikanan Indonesia karena berhasil diekspor ke berbagai negara dan mendatangkan devisa bagi negara. Udang juga mempunyai keunggulan antara lain kemudahan budidaya dan nilai ekonomi yang cukup tinggi. Jenis udang yang dibudidayakan di Indonesia antara lain udang vannamei (Penaeus vannamei) dan udang windu (Penaeus monodon) asli Indonesia. Udang vaname memiliki beberapa keunggulan antara lain nafsu makan yang tinggi, resisten terhadap penyakit. Budidaya udang intensif juga memerlukan perhatian yang cermat terhadap teknik budidaya seperti pengelolaan pakan, pengelolaan kualitas air dan aspek lainnya. Pengelolaan pakan ini berkaitan dengan penentuan jenis pakan, frekuensi pemberian pakan, serta jumlah makanan dan kandungan gizi makanan yang digunakan. Pemberian pakan yang berlebihan dapat menurunkan kualitas air sehingga harus diimbangi dengan pengelolaan kualitas air. Instalasi Budidaya Air Payau (IBAP) Lamongan mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian fungsi dinas di bidang produksi, kajian dan sosialisasi teknologi air payau. IBAP Lamongan memiliki banyak produk akuakultur, salah satunya adalah udang vannamei (Penaeus vannamei) yang menggunakan sistem budidaya intensif. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka perlu dilakukan praktek kerja lapang untuk mengetahui dan mengamati teknik budidaya udang vaname dalam sistem intensif dengan aspek teknik pemeliharaan, manajemen pakan dan manajemen kualitas air
Prosedur Audit Atas Akun Aset Tetap Pada Pt X : Studi Kasus Pada Klien KAP ABC
Tugas akhir ini membahas mengenai prosedur audit yang akan diterapkan di PT X
oleh KAP ABC. PT X merupakan perusahaan yang bergerak dibidang perdagangan
dan jasa dengan kegiatan usaha yang dilakukan yaitu menjual unit truk, sparepart
atau suku cadang serta menyediakan jasa servis. Metode yang digunakan dalam
penyusunan tugas akhir ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan analisis
deskriptif. PT X memiliki aset tetap yang terdiri dari kendaraan, inventaris kantor,
peralatan bengkel, serta sarana dan prasarana bangunan. Laporan keuangan yang
disajikan oleh entitas bisnis diharapkan memiliki jaminan kewajaran dan
kebenaran. Untuk mengetahui status kewajaran dari laporan keuangan perlu
dilakukan audit. Audit atas laporan keuangan dilakukan untuk menyatakan
pendapat apakah laporan keuangan klien telah disajikan secara wajar dalam semua
hal yang material, dan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Salah satu
objek dalam audit laporan keuangan adalah aset tetap. Audit aset tetap sangat
penting dalam mengawasi dan mengevaluasi ebjektivitas pengelolaan aset tetap
perusahaan, memastikan kepatuhan terhadap kebijakan dan prosedur yang
ditetapkan, serta mengidentifikasi area-area di mana perbaikan dapat dilakukan
untuk meningkatkan efisiensi dan nilai aset tetap tersebut. Sebelum melaksanakan
prosedur audit atas akun aset tetap, penulis melakukan perikatan audit dan
menyusun program audit. Dalam melaksanakan prosedur audit atas akun aset tetap,
penulis menghasilkan temuan bahwa perusahaan belum menggunakan tarif
penyusutan yang sesuai dengan aturan pajak yang berlaku, serta perusahaan belum
menjalankan standar operasional prosedur atas pengelolaan dan penggunaan aset
tetap dengan baik, sehingga saat dilakukan cek fisik terdapat beberapa aset tetap
yang tidak ditemukan
Gambaran Kualitas Tidur Pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa Di RSUD Ibnu Sina Gresik
Pasien penyakit ginjal kronik yang sedang menjalani hemodialisa seringkali menghadapi sejumlah masalah akibat fungsi ginjal yang menurun, salah satunya adalah penurunan kualitas tidur. Kualitas tidur pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RSUD Ibnu Sina Gresik belum pernah diteliti sebelumnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi kualitas tidur pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RSUD Ibnu Sina Gresik. Jenis penelitian yaitu deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel menggunakan Teknik consecutive sampling sebanyak 119 responden dengan instrumen penelitian yaitu kuesioner PSQI (Pittsburgh Sleep Quality Index). Analisa data menggunakan Analisis univariate. Hasil penelitian didapatkan responden kualitas tidur buruk sebanyak 57,1%. Kesimpulan pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisa lebih banyak memiliki kualitas tidur buruk dibandingkan dengan kualitas tidur baik. Saran bagi pasien untuk dapat meningkatkan kualitas tidurnya, bagi tenaga kesehatan untuk dapat meningkatkan program edukasi dan motivasi untuk pasien dengan gangguan tidur, untuk penelitian selanjutnya untuk mengembangkan penelitian