82567 research outputs found
Sort by
Hubungan antara Marital Satisfaction dan Self-Compassion dengan Parental Burnout pada Ibu Peran Ganda
Prevalensi ibu yang menjalankan peran sebagai pengasuh dan pekerja sekaligus atau dapat disebut sebagai ibu peran ganda, kini jumlahnya menunjukkan angka yang cukup besar. Ibu dengan peran ganda dihadapkan pada beban berlipat, sehingga membuat mereka lebih rentan mengalami permasalahan psikologis, termasuk kondisi parental burnout. Riset terdahulu menemukan bahwa marital satisfaction dan self-compassion menjadi faktor protektif dari parental burnout. Belum adanya studi yang mengkaji ketiga variabel ini dalam satu model yang sama menjadikan penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara marital satisfaction dan self-compassion dengan parental burnout pada ibu peran ganda.
Metode yang digunakan untuk menguji variabel dalam penelitian ini adalah melalui pendekatan kuantitatif dengan uji regresi linier berganda. Teknik pengambilan data yang dilakukan berbasis survei menggunakan kuesioner yang disebarkan secara daring. Jumlah partisipan yang didapatkan adalah sebanyak 102 ibu peran ganda yang diperoleh melalui teknik accidental sampling. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur skor tiap variabel adalah Parental Burnout Assessment (PBA), Satisfaction with Married Life (SWML), dan Self-Compassion Scale (SCS). Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa marital satisfaction dan self-compassion secara bersamaan berhubungan negatif signifikan dengan parental burnout. Dari temuan penelitian ini, disarankan bagi ibu peran ganda untuk dapat meningkatkan aspek marital satisfaction dan self-compassion agar terhindar dari risiko parental burnout
FAKTOR QUIET QUITTING PADA KARYAWAN GEN Z: STUDI TELAAH LITERATUR
Fenomena quiet quitting semakin mendapat perhatian, terutama di kalangan karyawan Gen Z yang dikenal memiliki preferensi kerja yang berbeda dari generasi sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang memengaruhi quiet quitting pada karyawan Gen Z melalui studi telaah literatur. Metode yang digunakan adalah literature review terhadap delapan artikel ilmiah dari tahun 2016–2025 yang relevan dengan topik ini. Hasil studi menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti job insecurity, workload, job burnout, dan toxic workplace environment berkontribusi positif terhadap quiet quitting, sementara work-life balance, organizational commitment, job satisfaction, dan organizational support berkontribusi negatif. Temuan ini menunjukkan bahwa baik faktor internal maupun eksternal memainkan peran penting dalam mendorong kecenderungan quiet quitting pada Gen Z. Penelitian ini penting untuk memberikan pemahaman lebih dalam kepada organisasi dalam merancang strategi yang adaptif bagi generasi pekerja baru
Gambaran Perilaku Individu Dewasa Awal Pengguna Kafein Berlebih Ditinjau Dari Health Belief Model
Penelitian dilakukan untuk mengetahui faktor yang mendorong individu dewasa awal dalam perilaku konsumsi kafein, keyakinan individu dewasa awal untuk terus atau berhenti mengkonsumsi kafein, dan persepsi mereka dalam perilaku konsumsi kafein berlebih. Penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Menggunakan analisis konten sebagai bentuk analisis data dari wawancara dengan dimensi health belief model. Penelitian diikuti oleh tiga partisipan dengan kriteria utama berada di usia dewasa awal 18 sampai 25 tahun dan pengguna kafein berlebih. Hasil penelitian menunjukkan produk kafein yang sering digunakan adalah kopi. Melalui dimensi dari health belief model partisipan belum menyadari bahwa perilaku konsumsi kafein berlebih memiliki dampak buruk pada kesehatan. Pada beberapa partisipan belum memiliki perceived severity yang baik karena adanya keyakinan kafein berlebih bukan menjadi sebuah masalah serta dalam cues to action menjadi kondisi penting partisipan karena harus mengkonsumsi kafein. Pada seluruh partisipan mengalami perceived barriers yang dirasakan ketika akan mengkonsumsi kafein
Analisis Kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) Board Game Monopoli “Jelajah Nusantara”
Bermain berperan penting dalam perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak. Anak usia 7–11 tahun berada pada tahap operasi konkret menurut Piaget, yang membutuhkan stimulasi melalui permainan edukatif. Teori Multiple Intelligences Gardner menekankan pentingnya pengembangan kecerdasan yang beragam. Namun, permainan edukatif yang ada umumnya mahal dan minim unsur budaya lokal. “Jelajah Nusantara” hadir sebagai solusi permainan berbasis budaya Indonesia yang terjangkau dan mampu mengembangkan kecerdasan jamak anak, sekaligus mendukung tujuan SDG4 tentang pendidikan yang inklusif dan berkualitas. Metode yang digunakan adalah deskriptif naratif, dengan tujuan utama untuk menggambarkan pelaksanaan kegiatan PKM-K "Jelajah Nusantara" berdasarkan data seperti catatan kegiatan, laporan pelaksanaan, serta dokumentasi internal yang dikumpulkan selama program berlangsung. Kegiatan ini dilaksanakan melalui lima tahap: Perencanaan produk, persiapan produksi, produksi, promosi dan pemasaran, dan evaluasi. Selama lima bulan program, tim berhasil memproduksi 60 unit produk dengan biaya produksi sebesar Rp141.545,00 dan menjual 57 unit dengan harga Rp200.000,00 per unit. Produk telah teruji kualitasnya melalui penggunaan rutin selama dua tahun. Strategi pemasaran difokuskan pada personal selling dan pemanfaatan media sosial Instagram dengan konten edukatif, interaktif, dan penjualan. Program ini menghasilkan omzet Rp3.331.935,00 dan mencapai proyeksi break even point pada penjualan 15 unit
Studi Fenomenologi Gambaran Proses Intimasi pada Individu Dewasa Awal dengan Maladaptive Daydreaming
Individu dewasa awal dihadapkan pada tugas perkembangan untuk membangun relasi intim. Namun, individu dengan maladaptive daydreaming cenderung menarik diri dan bergantung pada khayalan sebagai kompensasi kebutuhan akan intimasi yang tidak terpenuhi di kehidupan nyata.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran proses intimasi pada individu dewasa awal dengan maladaptive daydreaming melalui pendekatan fenomenologi interpretatif (IPA). Tiga partisipan dipilih berdasarkan hasil pengisian skala MDS-16 (Maladaptive Daydreaming Scale).
Hasil menunjukkan bahwa proses intimasi partisipan berlangsung dalam ketegangan antara kebutuhan akan koneksi dan kecenderungan menarik diri demi menjaga rasa aman. Bagi partisipan, maladaptive daydreaming berfungsi sebagai mekanisme kompensasi terhadap kesulitan membangun intimasi di kehidupan nyata. Khayalan muncul sebagai strategi regulasi diri atau cara partisipan mendapatkan perasaan dipahami, divalidasi, dan dipedulikan. Temuan menegaskan pentingnya rasa aman, validasi, dan ruang untuk ekspresi autentik dalam relasi nyata untuk mendukung tercapainya intimasi interpersonal
Pengaruh Hardiness dan Perceived Social Support Terhadap Stres Akademik Mahasiswa Profesi Ners di Indonesia
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh hardiness dan perceived social support terhadap stres akademik yang dialami oleh mahasiswa profesi ners di Indonesia. Stres akademik mahasiswa profesi ners dapat terjadi karena berbagai macam hal, salah satunya adalah masa transisi menjadi seorang professional. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan survei. Sebanyak 62 mahasiswa aktif profesi ners dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia menjadi partisipan. Penelitian ini menggunakan instrumen Dispositional Resilience Scale-15 (DRS-15) untuk mengukur hardiness, Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) untuk mengukur perceived social support, dan Student-life Stress Inventory (SSI) untuk mengukur stres akademik. Data dianalisis menggunakan analisis regresi berganda dengan bantuan software IBM SPSS Statistics Version 30. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hardiness berhubungan negatif dengan tingkat stres akademik mahasiswa profesi ners (r = -0,393; p = 0,002), sedangkan perceived social support tidak (r = -0,185; p = 0,149). Namun, hardiness dan perceived social support secara simultan terbukti berpengaruh terhadap stres akademik mahasiswa profesi ners (p = 0,007). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hardiness memiliki pengaruh yang lebih besar dalam menurunkan stres akademik mahasiswa profesi ners dibandingkan perceived social support
PROSPEK AGENSIA HAYATI Bacillus spp. SEBAGAI BAHAN BAKU PRODUK RAMAH LlNGKUNGAN MULTIFUNGSI
Produk berbasis Bacillus spp. dapat menjadi solusi inovatif ramah lingkungan juga multifungsi, memenuhi berbagai kebutuhan pasar yang semakin peduli pada keberlanjutan dan efisiensi. Namun kendala utama hilirisasi produk inovasi berbahan baku mikroba hidup ini, adalah pada ketertarikan industri untuk memproduksinya. Karena berbahan baku makhluk hidup, green product mikrobial mempunyai efek recycle secara alamiah. Sehingga efeknya tidak sekali pakai terus selesai, tetapi setelah diaplikasikan ber-efek lebih lama. Secara ekonomis kurang menarik, tetapi secara alamiah sangat menguntungkan, karena berkelanjutan dan ramah lingkungan. Itulah kendala utama yang harus dihadapi. Sehingga sangat diperlukan harmonisasi-kolaborasi antara peneliti, perguruan tinggi, institusi riset dan teknologi, industri terkait, dan masyarakat pengguna
STRATEGI PENANGANAN TUMPANG TINDIH HAK ATAS TANAH DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF HUKUM AGRARIA DAN HUKUM ADMINISTRASI
Pemerintah perlu melakukan penyempurnaan Sistem Pendaftaran Tanah, dengan mengimplementasikan sistem pendaftaran tanah yang terintegrasi secara nasional, meningkatkan akurasi data fisik dan yuridis tanah, penguatan koordinasi antar lembaga, peningkatan transparansi dan akses informasi mengacu pada Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dengan menyediakan akses publik terhadap informasi pertanahan, serta mengembangkan sistem informasi pertanahan yang transparan dan akurat. Selain itu, perlu adanya penegakan hukum yang tegas dalam penerbitan sertipikat ganda. Pada sisi lain, perIu adanya peningkatan kompetensi petugas BPN dalam pengukuran dan pemetaan tanah dengan memberikan pelatihan berkala tentang hukum pertanahan. Adanya evaluasi dan monitoring berkala dengan melakukan audit reguler terhadap proses penerbitan sertipikat, serta mengevaluasi efektivitas kebijakan pertanahan secara berkala. Rekomendasi-rekomendasi ini harus diimplementasikan dengan memperhatikan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan AUPB sebagaimana diatur dalam UU Administrasi Pemerintahan, serta prinsip-prinsip good governance dalam pengelolaan pertanahan
HUBUNGAN KETERLIBATAN AYAH DALAM PENGASUHAN TERHADAP KECERDASAN MORAL REMAJA AKHIR
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keterlibatan ayah dalam pengasuhan dengan kecerdasan moral remaja akhir usia 18–21 tahun. Keterlibatan ayah mencakup interaksi langsung, pemberian kehangatan, kontrol, dan tanggung jawab terhadap anak (Lamb, 2010). Kecerdasan moral merujuk pada tujuh kebajikan utama menurut Borba (2008), seperti empati, hati nurani, dan keadilan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei dan teknik purposive sampling terhadap 65 partisipan yang masih tinggal bersama ayahnya. Instrumen penelitian berupa skala keterlibatan ayah (IFI) dan skala kecerdasan moral yang diadaptasi dari penelitian sebelumnya. Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara keterlibatan ayah dan kecerdasan moral (r = 0,460; p < 0,01). Temuan ini menekankan pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan sebagai faktor pendukung perkembangan moral remaja
Pengaruh Kehadiran Emoji terhadap Interpretasi Emosi dalam Pesan Digital pada Pengguna Android
Emoji sebagai isyarat non-verbal yang populer digunakan di seluruh dunia masih memiliki
interpretasi yang beragam. Interpretasi emosi yang direpresentasikan oleh emoji yang tidak
konsisten antar pengguna beresiko menimbulkan kesalahpahaman. Studi kasus menunjukkan
emoji dapat menggeser makna kalimat, dan juga bisa menjadi substitusi dari kalimat. Penelitian
ini menguji mengenai bagaimana kehadiran emoji menangis “ ” memengaruhi interpretasi
emosi dari kalimat tanpa sentimen (netral), dan kalimat bersentimen positif serta negatif. Studi
eksperimen ini diikuti oleh 132 responden yang terbagi dalam 6 (enam) kelompok, berusia 15-
42 tahun, dan merupakan pengguna perangkat berbasis Android. Dilakukan analisis ANOVA
Repeated Measures. Disimpulkan: terdapat perubahan interpretasi emosi antar kalimat,
sebelum dan setelah disisipi emoji menangis “ ”.Kalimat positif dan netral menjadi lebih
negatif, sementara kalimat negatif menjadi lebih positif. Penelitian selanjutnya dapat
mempertimbangkan untuk melakukan analisis yang lebih mendalam untuk emoji yang sama,
serta emoji-emoji yang lainnya, dan untuk pengembang aplikasi media sosial untuk
menyertakan makna emosi yang direpresentasikan oleh emoji