82567 research outputs found
Sort by
Dampak Glass Ceiling Beliefs (GCB) pada Karyawan Wanita: Tinjauan Literatur
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak dari glass ceiling beliefs yang dimiliki oleh karyawan wanita. Penelitian ini merupakan systematic review yang dilakukan berdasarkan basis data Google Scholar. Seleksi artikel dilakukan dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Artikel yang ditemukan sebanyak 322 artikel dan setelah melewati proses penyaringan, terdapat 5 artikel yang memenuhi seluruh kriteria seleksi. Melalui kajian yang telah dilakukan, diketahui bahwa glass ceiling beliefs dapat mempengaruhi turnover intentions, job performance, psychological empowerment, serta subjective career success yang meliputi career satisfaction, work engagement, psychological and physical well being, dan job happiness. Hasil tinjauan literatur ini menunjukkan bahwa glass ceiling beliefs tidak hanya memberikan dampak bagi individu, tetapi juga bagi organisasi sehingga perlu diperhatikan
Peran Kekerasan Emosional yang Dilakukan Orang Tua terhadap Regulasi Emosi pada Remaja Akhir
Masa remaja akhir merupakan periode penting bagi perkembangan regulasi emosi individu, yang sangat dipengaruhi oleh pengasuhan. Pengasuhan yang menyimpang, seperti kekerasan emosional, dapat menghambat kemampuan remaja dalam mengatur dan mengekspresikan emosinya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran antara kekerasan emosional yang dilakukan oleh orang tua terhadap regulasi emosi pada remaja akhir. Partisipan pada penelitian adalah 135 remaja akhir yang berusia 18- 21 tahun yang pernah mengalami kekerasan emosional oleh orang tua. Pengumpulan data menggunakan metode survei kuisioner dengan instrumen pengukuran emotional abuse questionnaire dan emotion regulation questionnaire. Analisis data menggunakan uji regresi linear sederhana dengan
bantuan program IBM SPSS Statistics 25.0 for mac. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peran kekerasan emosional yang dilakukan orang tua terhadap regulasi emosi pada remaja akhir (p=0,000). Penelitian ini menunjukkan bahwa kekerasan emosional yang dilakukan orang tua memiliki pengaruh
sebesar 12,8% pada regulasi emosi
Hubungan Insecure Romantic Attachment dan Non-Suicidal Self-Injury pada Emerging Adulthood Dalam Hubungan Pacaran : Peran Emotional Dysregulation sebagai Variabel Mediator
Individu emerging adulthood memiliki prevalensi NSSI yang sangat tinggi. Salah satu faktor dari NSSI tersebut adalah insecure romantic attachment yang dimiliki individu ketika dalam hubungan pacaran yang juga dapat mendorong disregulasi emosi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengatahui hubungan Insecure Romantic Attachment dan Nonsuicidal Self-Injury dengan Emotional Dysregulation sebagai mediator pada individu emerging adulthood dalam hubungan pacaran menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei sebagai metode pengambilan data. Subjek penelitian ini merupakan individu emerging adulthood yang sedang menjalani hubungan pacaran dan pernah melakukan minimal satu kali perilaku melukai diri sendiri tanpa niat bunuh diri. Total subjek penelitian ini 188 orang. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah Experiences in Close Relationships-Revised (ECR-R; Fraley dkk., 2000) yang dimodifikasi oleh Muhtar (2023), Difficulties in Emotion Regulation Scale (DERS; Gratz dan Roemer, 2003) yang telah dimodifikasi oleh Sabrina & Afiatin (2023), dan Inventory of Statements About Self-Injury (ISAS; Klonsky dan Glenn, 2009) yang telah diadaptasi oleh Setiadi (2013). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Emotional Dysregulation memediasi secara parsial hubungan dimensi Anxious Attachment dan NSSI (B=0,981; CI95[0,547; 1,42]; SE=0,222;p<0,001) dan memediasi secara penuh hubungan dimensi Avoidant Attachment dan NSSI (B=0,484; CI95[0,119; 0,848]; SE=0,186;p=0,009)
Hubungan Team Identification dan Perilaku Trolling yang Dimoderasi oleh Collective Narcissism pada Fans Klub Sepak Bola di Indonesia
Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah collective narcissism berperan sebagai variabel moderator dalam hubungan antara team identification dan perilaku trolling pada fans klub sepak bola di Indonesia. Fenomena trolling di media sosial antar fans klub sepak bola menjadi semakin umum, dan penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa baik team identification maupun collective narcissism memiliki kaitan dengan perilaku agresif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei, melibatkan 150 partisipan yang merupakan fans klub sepak bola aktif di media sosial. Instrumen yang digunakan adalah Global Assessment of Internet Trolling-Revised (GAIT-R) untuk mengukur perilaku trolling, subskala attachment to team dari Point of Attachment Index (PAI) untuk mengukur team identification, dan skala collective narcissism yang telah divalidasi sebelumnya. Data dianalisis menggunakan analisis moderasi dengan metode bootstrap sebanyak 1000 kali melalui perangkat lunak Jamovi 2.6.17.
Hasil analisis menunjukkan bahwa team identification tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku trolling (p = 0,963), dan collective narcissism tidak memoderasi hubungan tersebut (p = 0,376). Namun, ditemukan bahwa collective narcissism memiliki hubungan positif yang signifikan dengan perilaku trolling (p = 0,003), yang mengindikasikan bahwa individu dengan tingkat collective narcissism yang tinggi lebih cenderung menunjukkan perilaku provokatif di media sosial. Hasil ini menunjukkan pentingnya memperhatikan aspek psikologis kolektif dalam memahami dinamika konflik daring antar fans klub sepak bola. Penelitian ini juga menyoroti keterbatasan seperti metode self-report dan tidak dikontrolnya variabel situasional seperti hasil pertandingan atau karakteristik kepribadian lainnya. Oleh karena itu, penelitian lanjutan disarankan untuk menggali lebih jauh peran coping, self-control, dan faktor situasional dalam menjelaskan perilaku trolling di kalangan fans sepak bola Indonesia
Motif Kepemilikan Alter account di Instagram Pada Generasi Z dalam Perspektif Perempuan
Fenomena kepemilikan alter account di Instagram semakin marak digunakan oleh perempuan
Generasi Z. Fitur switch account memungkinkan seseorang untuk mengelola lebih dari satu akun
dengan mudah. Di balik kemudahan tersebut, penggunaan alter account berawal dari berbagai motif
yang kemudian membentuk pengalaman bagi penggunanya serta membawa dampak yang beragam
dalam kehidupan bermedia sosial.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motif kepemilikan alter account di Instagram pada Generasi
Z dalam perspektif perempuan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan
pendekatan studi kasus instrumental. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori
dramaturgi Erving Goffman dan teori uses and gratification Katz. Penelitian ini melibatkan dua
mahasiswi Generasi Z sebagai partisipan utama yang merupakan pengguna aktif Instagram dan Alter
account.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua partisipan memilih untuk menggunakan alter account
sebab ingin merasa bebas mengekspresikan diri, memenuhi ekspektasi sosial di akun utama, pengaruh
lingkungan social, pengelolaan privasi akun dan karena mengikuti tren
PERAN DIMENSI PARENTIFIKASI TERHADAP DEPRESI PADA REMAJA AKHIR DENGAN ORANG TUA SAKIT KRONIS
Remaja yang mengalami parentifikasi berisiko mengalami gangguan psikologis, terutama bila harus merawat orang tua dengan penyakit kronis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dimensi parentifikasi dan tingkat depresi pada remaja akhir. Sebanyak 186 remaja berusia 18–22 tahun menjadi partisipan, dengan data yang dikumpulkan melalui kuesioner PQ-Y dan BDI-II. Analisis dilakukan menggunakan regresi linear berganda. Hasil menunjukkan bahwa dimensi parentifikasi instrumental dan emosional tidak berhubungan signifikan dengan depresi. Namun, persepsi ketidakadilan berhubungan positif secara signifikan dengan tingkat depresi (r = 0,77; p < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa persepsi ketidakadilan dalam peran pengasuhan prematur merupakan faktor risiko depresi pada remaja akhir
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Work Engagement: Tinjauan Literatur Sistematis pada Konteks Organisasi
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi work engagement
dalam konteks organisasi. Penelitian ini merupakan systematic review yang dilakukan berdasarkan basis
data Google Scholar. Seleksi artikel dilakukan dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Artikel yang
ditemukan sebanyak 196 artikel dan setelah melewati proses penyaringan, terdapat 7 artikel yang
memenuhi seluruh kriteria seleksi. Melalui kajian yang telah dilakukan, diketahui bahwa work
engagement dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain psychological capital, kepemimpinan
transformasional, komunikasi internal, dukungan sosial, identifikasi organisasi, karakteristik
demografis, serta faktor spiritualitas dan keaslian diri. Hasil tinjauan literatur ini menunjukkan bahwa
work engagement tidak hanya berdampak pada kinerja individu, tetapi juga berkontribusi signifikan
terhadap produktivitas dan keberlangsungan organisasi, sehingga penting untuk dipahami dan
ditingkatkan melalui strategi yang tepat
Pengaruh Stres Akademik Terhadap Cyberloafing Di Moderasi Oleh Self-Control Pada Mahasiswa Tahun Pertama
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah self-control memoderasi hubungan antara stres akademik dan cyberloafing pada mahasiswa tahun pertama. Cyberloafing semakin marak seiring dengan meningkatnya penggunaan internet di lingkungan akademik, di mana mahasiswa sering mengakses konten non-akademik selama pembelajaran. Stres akademik didefinisikan sebagai tekanan yang dialami mahasiswa dalam menghadapi tuntutan akademik seperti tugas, ujian, dan manajemen waktu, sedangkan cyberloafing adalah perilaku mengakses internet untuk kepentingan pribadi yang tidak terkait dengan pembelajaran. Self-control, dalam konteks ini, merujuk pada kemampuan individu untuk mengendalikan dorongan dan perilaku yang menyimpang dari tujuan akademik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan survei daring, melibatkan 112 mahasiswa tahun pertama sebagai responden. Alat ukur yang digunakan adalah Perceived Academic Stress Scale, Academic Cyberloafing Scale, dan Self-Control Scale. Analisis data dilakukan menggunakan analisis moderasi melalui Jamovi dan model PROCESS by Hayes dengan bootstrapping 5000 kali pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-control secara signifikan memoderasi pengaruh stres akademik terhadap cyberloafing
PENGARUH DUKUNGAN SOSIAL DAN RESILIENSI TERHADAP IDE BUNUH DIRI PADA MAHASISWA TINGKAT SARJANA
Prevalensi ide bunuh diri pada mahasiswa tingkat sarjana menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Untuk melindungi munculnya ide bunuh diri pada mahasiswa tingkat sarjana, salah satu faktor protektifnya adalah dukungan sosial. Terdapat empat dimensi dalam mengukur dukungan sosial pada penelitian ini, yaitu tangible support, appraisal support, self-esteem support, dan belonging support. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dukungan sosial dan resiliensi terhadap ide bunuh diri pada mahasiswa tingkat sarjana. Tipe penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif cross-sectional dengan metode survei menggunakan kuesioner. Skala yang digunakan pada penelitian ini adalah Interpersonal Support Evaluation List (ISEL) untuk mengukur dukungan sosial, Adult Suicidal Ideation Questionnaire (ASIQ) untuk mengukur ide bunuh diri, dan Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) untuk mengukur resiliensi. Penelitian ini dilakukan terhadap mahasiswa tingkat sarjana dengan rentang usia 18-25 tahun dengan total subjek sebanyak 111 orang, yang terdiri atas 92 orang berjenis kelamin perempuan dan 19 orang berjenis kelamin laki-laki. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji regresi linear berganda dengan bantuan perangkat lunak IBM SPSS Statistics 29 for Windows. Hasil dari analisis data menunjukkan bahwa dimensi self-esteem support berpengaruh terhadap ide bunuh diri, namun dimensi tangible support, appraisal support, dan belonging support tidak berpengaruh terhadap ide bunuh diri. Resiliensi juga ditemukan tidak berpengaruh ide bunuh diri
Gambaran Disonansi Kognitif Pada Perempuan Emerging Adulthood Korban Toxic Relationship dalam Berpacaran
Penelitian ini bertujuan untuk memahami alasan perempuan emerging adulthood (18-25 tahun) di Indonesia sulit keluar dari hubungan toxic. Penelitian berfokus pada pengalaman subjektif dua partisipan utama yang pernah atau sedang menjalani hubungan toxic selama 6-18 bulan, dengan dukungan dua significant others sebagai informan tambahan. Pemilihan partisipan menggunakan purposive sampling. Metode yang digunakan adalah studi kasus instrumental melalui wawancara mendalam, dengan analisis theory driven berdasarkan Teori Disonansi Kognitif Festinger. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa disonansi kognitif merupakan faktor psikologis utama yang melatarbelakangi kesulitan partisipan untuk keluar dari hubungan tersebut. Disonansi muncul sebagai konflik antara keyakinan idealistik tentang cinta dengan perilaku tetap bertahan dalam hubungan yang penuh kekerasan dan merugikan. Untuk mengurangi ketidaknyamanan ini, partisipan melakukan mekanisme reduksi disonansi berupa justifikasi atau rasionalisasi terhadap perilaku negatif pasangan pertisipan. Mekanisme inilah yang secara efektif menciptakan ketergantungan emosional dan trauma bonding, sehingga memperpanjang siklus kekerasan dan mempertahankan hubungan toxic