82567 research outputs found
Sort by
Antara Kematian dan Kenikmatan: Studi Kasus Pengalaman Individu Penggemar Konten Gore
Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengalaman psikologis individu penggemar konten gore. Fokus penelitian adalah pada latar belakang individu, pengalaman, dan dampak konsumsi konten gore. Dengan desain penelitian studi kasus intrinsik, penelitian ini menggunakan metode wawancara semi-tersturktur dengan 2 partisipan. Analisis data secara tematik data-driven dengan acuan Miles-Huberman. Hasil analisis menemukan bahwa pengalaman konsumsi konten gore yang meliputi motivasi dan preferensi dipengaruhi oleh latar belakang partisipan, khususnya pola asuh orang tua. Kecenderungan perilaku dan nilai-nilai internal partisipan menjadi faktor yang memengaruhi preferensi konten gore partisipan. Kedua partisipan menyatakan adanya pengalaman kecanduan dan mati rasa emosional, dan pandangan yang berubah terhadap peristiwa tragis di dunia nyata setelah konsumsi konten gore. Dengan perspektif Teori Manajemen Teror (TMT), ditemukan perbedaan antara mekanisme pertahanan berdasarkan TMT dengan yang dimiliki kedua partisipan. Kedua partisipan memperlihatkan pola yang paradoks antara pola defensif, dan penerimaan terhadap kematian yang merupakan kompensasi terhadap worldview mereka. Pola paradoksikal ini konsisten dalam narasi pengalaman kedua partisipan dan tidak dapat dikategorikan ke dalam mekanisme defensif TMT. Penelliti menyarankan penelitian yang lebih mendalam untuk mengkaji perilaku konsumsi konten ekstrim dan kaitannya dengan pandangan individu terhadap kematian
Hubungan Childhood Emotional Abuse dengan Perilaku Non-Suicidal Self-Injury pada Remaja
Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara Childhood Emotional Abuse (CEA) dan perilaku Non-Suicidal Self-Injury (NSSI) pada remaja. Masa remaja merupakan fase peralihan yang ditandai oleh perubahan fisik, emosional, dan sosial, serta tuntutan perkembangan seperti pembentukan identitas diri dan kemandirian. Pengalaman kekerasan emosional pada masa kanak-kanak dapat melemahkan kemampuan regulasi emosi, menghambat adaptasi terhadap stres, dan meningkatkan risiko munculnya perilaku NSSI sebagai respons maladaptif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei pada 105 remaja (84 perempuan, 21 laki-laki) berusia 12–18 tahun yang pernah melakukan NSSI. Instrumen yang digunakan ialah Inventory of Statement About Self-Injury (ISAS) dan Rating of Emotional Abuse in Childhood (REACH). Analisis menggunakan Jamovi 2.6.62 menunjukkan hubungan positif signifikan antara CEA dan NSSI (p = 0,011; r = 0,246), menandakan semakin tinggi kekerasan emosional masa kanak-kanak, semakin tinggi kecenderungan NSSI
Antropolog Ekologi untuk Perhutanan Sosial di Indonesia: Mendesak Keadilan Lingkungan dan Keberlanjutan Hutan Tropis
Antropologi ekologi (AE) adalah cabang ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannya (Kopnina & Shoreman-Ouimet, 2016; Braje & Rick, 2013, 303–311). Ia meneliti bagaimana budaya dan masyarakat beradaptasi dengan lingkungan, serta bagaimana mereka memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam (Das et al., 2024, 1–24; Pohle et al., 2010, 477–509). AE juga mengkaji pengetahuan, nilai, dan praktik masyarakat dalam berinteraksi dengan alam, serta dampaknya terhadap kelestarian lingkungan (Chiarelli, 2006; M. O. Bond et.al., 2019, 87–102).
Antropolog ekologi (AE) memegang peran kunci dalam mewujudkan keadilan lingkungan dan keberlanjutan hutan tropis Indonesia (HTI) (Mohammad Adib, 2025, 1) melalui perhutanan sosial (PS) dengan menyeimbangkan kebutuhan warga masyarakat dan kelestarian alam (Pane et al., 2021, 71–78; Gunawan et al., 2022; Marnelly et al., 2023, 92–101).
Minimal empat peran kunci bagi AE dalam mewujudkan keadilan lingkungan dan keberlanjutan HTI melalui PS yaitu (i) memahami sistem pengetahuan lokal (Mendoza & Prabhu, 2005) (Gashu & Aminu, 2019, 413–426; Friedman et al., 2020, 1–18); (ii) menjembatani ilmu pengetahuan dan kebijakan (Orihuela, 2017, 52–62; Islam et al., 2015, 885–899); (iii) mendorong partisipasi masyarakat (Mariki, 2013); dan (iv) menganalisis dampak sosial dan ekologi (Dhiaulhaq et al., 2024; Negashe & Addisie, 2023, 143–156)
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL ONLINE DAN SELF-ESTEEM DENGAN STRES AKADEMIK MAHASISWA YANG SEDANG MENGERJAKAN SKRIPSI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial online dan self-esteem dengan stres akademik mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi secara simultan maupun secara parsial. Terdapat 105 mahasiswa tingkat akhir berusia 19–25 tahun yang berpartisipasi dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner secara daring. Alat ukur yang digunakan antara lain Online Social Support Scale (OSSS) yang diadaptasi oleh Putri (2024), Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) yang diadaptasi oleh Azwar (2019), dan Student Stress Inventory yang telah dimodifikasi oleh Aprilia & Yoenanto (2022). Hasil analisis data menunjukkan bahwa dukungan sosial online dan self-esteem secara simultan memiliki hubungan yang kuat dan signifikan dengan stres akademik mahasiswa (R = 0,778 dan nilai p < 0,001). Secara parsial, dukungan sosial online memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan stres akademik (r = -0,756, p < 0,001). Sementara itu, self-esteem juga menunjukkan korelasi negatif yang signifikan dengan stres akademik (r = -0,411, p < 0,001).
Kata kunci: Mahasiswa Skripsi, Dukungan sosial online, Self-esteem, Stres Akademi
Peran Adaptabilitas Karier dan Personal Growth Initiative sebagai Prediktor Occupational Engagement Pada Mahasiswa Vokasi
Tingginya angka PHK dan ketatnya persaingan kerja menuntut individu untuk memiliki kapasitas dan kesiapan menghadapi dunia kerja. Di sisi lain, pendidikan tinggi vokasional belum dioptimalkan sebagai pilihan utama oleh lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK). Penelitian ini bertujuan untuk mengonfirmasi hubungan antara adaptabilitas karier dan occupational engagement, serta menguji peran prediktif simultan dari adaptabilitas karier dan personal growth initiative terhadap occupational engagement pada mahasiswa vokasi. Partisipan terdiri dari 93 mahasiswa vokasi yang dipilih dengan metode purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan teknik statistik analisis pearson product-moment correlation serta analisis regresi linier berganda menggunakan software Jamovi. Hasil analisis korelasi menunjukkan adaptabilitas karier berhubungan positif secara signifikan dengan occupational engagement (r (91) = 0,525; p < 0,001; 95% CI [0,388; 1,000]). Model regresi yang dibangun dengan prediktor adaptabilitas karier dan personal growth initiative, secara simultan ditemukan signifikan dalam menjelaskan variabel occupational engagement (F(2, 90) = 19,60; p < 0,001). Nilai R² = 0,304, mengindikasikan sebesar 30,4% variasi pada occupational engagement dapat dijelaskan oleh kedua variabel prediktor dalam model
Gambaran Resiliensi Individu Tuli dalam Lingkungan Kerja
Penelitian ini bertujuan menggambarkan resiliensi individu Tuli dalam menghadapi tantangan di lingkungan kerja. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus instrumental. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap dua individu Tuli dan tiga orang signifikan lainnya yang memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan kerja partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi individu Tuli terbentuk melalui perpaduan kekuatan personal (kepercayaan diri, motivasi, kemandirian), keterampilan interpersonal (komunikasi, pemecahan masalah), serta dukungan eksternal dari keluarga, rekan kerja, dan komunitas Tuli. Partisipan pertama menunjukkan resiliensi melalui dedikasi kerja dan keterlibatan komunitas, sedangkan partisipan kedua menampilkan inisiatif serta kemampuan belajar dari pengalaman kerja sebelumnya. Penelitian ini menekankan pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang inklusif agar individu Tuli dapat berdaya dan berkontribusi secara optimal
Peran Pengalaman Objektifikasi Seksual Daring dan Objektifikasi Diri terhadap Kecemasan Sosial di Media Sosial pada Perempuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis peran pengalaman objektifikasi seksual daring dan objektifikasi diri terhadap kecemasan sosial di media sosial pada perempuan, baik secara parsial maupun secara simultan. Penelitian dilakukan dengan metode survei cross-sectional dengan menggunakan data dari responden perempuan pengguna media sosial (N=320). Analisis data dilakukan dengan metode regresi linier berganda. Hasil analisis data menemukan bahwa terdapat peran pengalaman objektifikasi seksual daring dan objektifikasi diri terhadap kecemasan sosial di media sosial pada perempuan, baik secara parsial maupun secara simultan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman objektifikasi seksual daring dan objektifikasi diri terbukti berperan sebagai prediktor terhadap kecemasan sosial di media sosial pada perempuan, baik secara parsial maupun simultan
Korelasi Persepsi Kualitas Hubungan Orang Tua-Anak terhadap Stres Pengasuhan pada Ibu dengan Anak Autisme
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara persepsi kualitas hubungan orang tua-anak dengan tingkat stres pengasuhan pada ibu yang memiliki anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) usia 3-12 tahun. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei. Partisipan adalah ibu dari anak dengan ASD yang mengisi dua kuesioner: Child Parent Relationship Scale dan Parenting Stress Index Short Form. Hasil analisis menunjukkan adanya korelasi negatif signifikan antara persepsi kualitas hubungan orang tua-anak dan stres pengasuhan (r = -0,854; p < 0,01). Temuan ini menegaskan pentingnya persepsi ibu terhadap relasi dengan anak sebagai faktor protektif terhadap stres pengasuhan
Hubungan Maskulinitas terhadap Mencari Bantuan Psikologis Pada Laki-laki
Rendahnya perilaku mencari bantuan psikologis pada laki-laki merupakan fenomena yang konsisten ditemukan dalam berbagai konteks sosial dan budaya. Meskipun laki-laki menghadapi berbagai permasalahan kesehatan mental, mereka cenderung kurang bersedia untuk mengakses layanan kesehatan mental profesional dibandingkan perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan maskulinitas terhadap perilaku mencari bantuan psikologis pada laki-laki melalui pendekatan literature review. Metode yang digunakan adalah penelaahan dan analisis kritis terhadap literatur ilmiah yang membahas maskulinitas, norma gender, stigma kesehatan mental, serta perilaku pencarian bantuan psikologis pada laki-laki. Hasil kajian menunjukkan bahwa norma maskulinitas yang menekankan kemandirian, kekuatan, dan pengendalian emosi berperan signifikan dalam menghambat kesediaan laki-laki untuk mencari bantuan psikologis. Selain itu, stigma kesehatan mental dan ketakutan akan penilaian sosial memperkuat penghindaran laki-laki terhadap layanan kesehatan mental. Temuan ini menegaskan bahwa maskulinitas merupakan faktor psikososial penting yang memengaruhi perilaku pencarian bantuan psikologis pada laki-laki. Oleh karena itu, upaya peningkatan akses dan pemanfaatan layanan kesehatan mental pada laki-laki perlu mempertimbangkan konstruksi maskulinitas dan norma gender yang berlaku agar intervensi yang dilakukan lebih efektif dan responsif terhadap kebutuhan laki-laki
PERAN DUKUNGAN SOSIAL DAN SELF-COMPASSION TERHADAP REGULASI EMOSI PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)
Masa remaja merupakan fase perkembangan yang penuh perubahan biologis, kognitif, dan sosial,
sehingga kemampuan untuk mengelola emosi menjadi hal yang penting bagi siswa dalam menyesuaikan
diri dengan tuntutan sehari-hari. Dua faktor yang diyakini dapat membantu proses tersebut adalah
dukungan sosial yang diterima remaja dan tingkat self-compassion yang mereka miliki. Penelitian ini
dirancang untuk menguji bagaimana kedua faktor tersebut berperan dalam memprediksi kemampuan
regulasi emosi pada siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Penelitian menggunakan pendekatan
kuantitatif dengan desain korelasional. Sebanyak 131 siswa SMP dari berbagai daerah mengikuti
penelitian ini dengan mengisi kuesioner secara daring. Instrumen yang digunakan mencakup
Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), Skala Welas Diri (SWD), dan Emotion
Regulation Questionnaire (ERQ). Data dianalisis menggunakan regresi linier berganda guna melihat
pengaruh masing-masing variabel prediktor serta kontribusi keduanya secara simultan terhadap
regulasi emosi. Hasil analisis menunjukkan bahwa baik dukungan sosial maupun self-compassion
memiliki hubungan positif dan signifikan dengan kemampuan regulasi emosi (p < 0,001). Ketika diuji
bersama-sama, kedua variabel memberikan kontribusi yang signifikan terhadap regulasi emosi
(F(2,128) = 10,1; p < 0,001), dengan koefisien determinasi sebesar 13,7%. Nilai beta mengindikasikan
bahwa self-compassion (β = 0,302) memiliki pengaruh sedikit lebih besar dibandingkan dukungan sosial
(β = 0,293). Temuan ini menegaskan bahwa faktor internal maupun eksternal sama-sama penting dalam
membantu remaja mengelola emosi secara adaptif.