82567 research outputs found
Sort by
Pengaruh Stres Akademik terhadap Kualitas Tidur Mahasiswa Tingkat Akhir yang sedang Menyusun Skripsi
Mahasiswa tingkat akhir sering mengalami tekanan tinggi dalam menyelesaikan skripsi, yang dapat menimbulkan stres akademik dan berdampak negatif terhadap kualitas tidur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh stres akademik terhadap kualitas tidur mahasiswa tingkat akhir. Hipotesis yang diajukan adalah adanya pengaruh negatif stres akademik terhadap kualitas tidur. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori dengan metode survei dan teknik purposive sampling. Partisipan berjumlah 106 mahasiswa tingkat akhir. Instrumen yang digunakan adalah Perception of Academic Stress Scale (PASS) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Hasil analisis regresi linear sederhana menunjukkan bahwa stres akademik berpengaruh negatif signifikan terhadap kualitas tidur (R2 = 0.133; p < 0.001). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi stres akademik, semakin rendah kualitas tidur mahasiswa. Hasil ini menekankan pentingnya pengelolaan stres dalam menjaga kesehatan tidur mahasiswa pada fase penyusunan skripsi
PENGARUH PERSEPSI EXPERIENTIAL LEARNING TERHADAP CAREER ADAPTABILITY MELALUI OCCUPATIONAL SELF-EFFICACY SEBAGAI MEDIATOR PADA MAHASISWA PESERTA PROGRAM MSIB
Perubahan dunia kerja yang dinamis menuntut mahasiswa memiliki career adaptability yang tinggi, khususnya melalui pengalaman langsung seperti pada program MSIB. Penelitian ini bertujuan menguji peran occupational self-efficacy sebagai mediator pengaruh persepsi experiential learning terhadap career adaptability pada mahasiswa peserta MSIB. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan melibatkan melibatkan 81 mahasiswa MSIB menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan PROCESS Hayes Macro Model 4 dengan bootstrap 5000 iterasi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan tiga instrumen terstandar: Experiential Learning Survey (ELS) (Clem dkk., 2014), Career Adapt-Abilities Scale (CAAS) versi Indonesia (Sulistiani & Handoyo, 2018), dan Occupational Self-Efficacy Scale Short Form (OSS-SF) (Rigotti dkk., 2008). Data dianalisis dengan model mediasi PROCESS Hayes Hasil menunjukkan experiential learning berpengaruh langsung signifikan terhadap career adaptability (β = 0,3258, p < 0,001) dan berpengaruh tidak langsung melalui occupational self-efficacy (β = 0,1539, p < 0,001). Terdapat mediasi parsial dengan occupational self-efficacy memediasi 32,1% dari total pengaruh. Implikasi hasil ini penting bagi pengembangan MSIB dan intervensi berbasis pengalaman
Hubungan Loneliness dengan Celebrity Worship pada Wanita Lajang Dewasa Awal Dimediasi oleh Social Connectedness
K-pop semakin populer di tingkat global. Penggemar K-pop didominasi oleh wanita dan usia dewasa awal. Fandom K-pop sering kali dilihat secara negatif karena berkaitan dengan sikap fanatik saat melakukan aktivitas penggemar di media sosial. Pada wanita lajang dewasa awal peggemar K-pop berisiko mengalami kesepian karena terdapat kebutuhan intimacy yang belum terpenuhi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara loneliness dengan celebrity worship dan peran social connectedness sebagai mediator. Penelitian kuantitatif ini mengumpulkan data menggunakan metode survei melalui pemberian kuesioner kepada 154 partisipan. Instrumen yang digunakan, yaitu UCLA Loneliness Scale Version 3, Celebrity Attitude Scale (CAS), dan Social Connectedness Scale (SCS). Analisis data dengan melakukan uji korelasi dan mediasi menggunakan software IBM SPSS 30 for Windows. Hasil yang didapat dalam penelitan ini tidak menemukan hubungan yang signifikan antara loneliness dengan celebrity worship. Penelitian ini juga menemukan social connectedness tidak dapat memediasi hubungan antara loneliness dengan celebrity worship
Pengaruh Fear of Failure dan Locus of Control terhadap Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa yang Mengerjakan Skripsi
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fear of failure dan locus of control terhadap prokrastinasi akademik pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Prokrastinasi akademik merupakan perilaku menunda penyelesaian tugas tanpa alasan jelas, yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan subjektif. Fear of failure didefinisikan sebagai ketakutan individu terhadap kegagalan yang diasosiasikan dengan konsekuensi aversif, sedangkan locus of control merujuk pada keyakinan individu terhadap kendali atas hal yang terjadi dalam hidupnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 141 mahasiswa. Instrumen yang digunakan meliputi Thesis-Writing Procrastination Scale (Rahman, 2019), Performance Failure Appraisal Inventory Versi Indonesia (Martin & Yunanto, 2023), dan IPC Locus of Control (Regita, 2023). Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear berganda melalui jamovi 2.6.26.0. Hasil menunjukkan bahwa secara simultan, fear of failure dan locus of control berpengaruh signifikan terhadap prokrastinasi akademik sebesar 9,12%, namun secara parsial keduanya tidak berpengaruh signifikan
DETEKSI BAKTERI Escherichia coli PENYEBAB MASTITIS SUBKLINIS PADA SAPI PERAH DI KUD DADI JAYA WILAYAH PURWODADI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui infeksi yang ditandai dengan respons inflamasi di dalam kelenjar mammae tanpa menunjukan perubahan yang signifikan. Kondisi ini ditandai dengan peningkatan jumlah sel somatik (JSS) yang didominasi oleh neutrofil yang menginfiltrasi jaringan mammae sebagai respons terhadap keberadaan mikroorganisme patogen. Escherichia coli merupakan salah satu penyebab utama mastitis. Sampel yang digunakan dalam studi ini adalah susu mastitis subklinis yang diambil dari sapi perah. Jumlah sampel adalah 100 sampel. Sampel diuji menggunakan California Mastitis Test (CMT) dan 73 sampel dinyatakan positif mastitis subklinis dengan skor tiga dan empat. 73 sampel tersebut diisolasi secara primer menggunakan Lactose Broth (LB) sebagai media untuk pra-pengayaan bakteri koliform. Isolasi dilakukan menggunakan Eosin Methylene Blue Agar (EMBA) sebagai media selektif yang bertujuan untuk membedakan E. coli dengan bakteri koliform lainnya. Identifikasi Escherichia coli menggunakan uji TSIA yang berguna untuk mengamati fermentasi gula dan produksi H2S negatif pada E. coli. Uji SIM berguna untuk mengamati motilitas, indol, dan produksi H2S negatif tidak terdapat endapan hitam pada media. Uji SCA berguna untuk mengamati enzim citrate permease. Uji urease berguna untuk mengamati enzim urease. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 16/73 (21,92%) sampel positif E. coli dari 73/100 (73%) sampel mastitis subklinis
MEMBANGKITKAN INDUSTRI PARIWISATA DAN PERHOTELAN BERBASIS SDM PROFESIONAL MELALUI PENDIDIKAN VOKASI
Dampak positif lainnya adalah kontribusi terhadap ketahanan nasional. Dengan diisinya sektor-sektor strategis oleh tenaga kerja lokal yang kompeten, Indonesia semakin mandiri dan tidak bergantung pada tenaga kerja asing. SDM yang dihasilkan melalui pendidikan vokasi mampu menghadapi tantangan global dengan lebih percaya diri, sekaligus memperkuat identitas dan kebanggaan nasional. Sebelumnya hampir semua GM, FB Dir., Dir. of Sales Marketing, GRO, Exc. Housekeeper, Exc. Chef, dan Chief Engineering di Indonesia diisi oleh expatriat, sekarang sudah hampir semua jabatan itu di hotel diisi oleh orang Indonesia berkat pendidikan vokasi dan kerja layak di Industri pariwisata (Purwadi, dkk., 2020). Pendidikan vokasi pariwisata juga mendorong terciptanya masyarakat yang dinamis, inovatif, dan adaptif. Dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini, para lulusan dapat 'dengan cepat menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi dan tuntutan pasar. Pendidikan vokasi yang menghasilkan kualitas SDM profesional seperti ini lah yang membangkitkan industri pariwisata dan perhotelan Indonesia yang semakin kompetitif di tingkat global, sekaligus mendukung visi jangka panjang untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu destinasi wisata utama dunia (Sugandi, 2021)
KESEHATAN MENTAL TERINTEGRASI PADA LAVANAN ANTENATAL DASAR: MEWUJUDKAN AGENDA KESEHATAN MENTAL UNTUK SEMUA DI INDONESIA
Agenda Kesehatan Mental Untuk Semua menjadi satu pijakan untuk mengelola dan meningkatkan kesehatan mental ibu. Agenda yang menekankan kesehatan mental sebagai bagian penting dari sistem kesehatan dasar menjadi pemenuhan agenda SDGs yang berfokus pada pemerataan kesehatan dan kesejahteraan. Dampak negatif kesejahteraan ibu dapat mempengaruhi kualitas generasi bangsa dan oleh karena itu upaya pencegahan dan penanganan awal sangat penting. Alihalih membangun sistem pelayanan khusus di setiap tingkatan, mengintegrasikan layanan kesehatan mental ke dalam layanan antenatal dasar (ANC) menjadi solusi untuk mengatasi berbagai beban dan tantangan. Solusi ini bisa dibangun jika pendekatan biopsikososial pada kesehatan digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan sistem layanan. Aspek fisik, psikologis, dan sosial pada kesehatan merupakan satu kesatuan yang saling memengaruhi sehingga pelayanan kesehatan tidak dapat diberikan secara tersegregasi. Keterbatasan sumber daya, anggaran, dan hambatan sosial budaya dapat diperkecil melalui pendekatan integratif. Di masa depan, Indonesia masih perlu meningkatkan sistem rujukan, melatih tenaga kesehatan, dan meningkatkan peran serta masyarakat untuk mendukung kesehatan mental ibu hamil. Inovasi berbasis komunitas seperti posyandu jiwa dan kelas kesehatan mental untuk ibu hamil sangat penting untuk memperluas jangkauan layanan. Dengan demikian, kesehatan mental ibu hamil di Indonesia dapat dikelola dengan lebih baik, memberikan efek positif bagi generasi berikutnya, dan mendukung agenda pembangunan berkelanjutan dengan kerja sarna lintas sektor
UJI TUNTAS HAK ASASI MANUSIA SECARA WAJIB SEBAGAI INSTRUMEN HUKUM MEWUJUDKAN PRAKTIK BISNIS YANG BERTANGGUNGJAWAB
Keberadaan UNGPs telah memperkenalkan konsep HRDD yang semakin dianut oleh berbagai negara. Meskipun UndangUndang yang mengatur mHRDD masih tergolong baru dan memiliki beberapa kelemahan yang perlu diperbaiki, negaranegara seperti Prancis dan Jerman tetap perlu diapresiasi karena telah membuat progres yang signifikan dengan mewajibkan integrasi HRDD dalam operasi perusahaan dalam upaya untuk meningkatkan penghormatan HAM. Selain pencegahan pelanggaran HAM dan memastikan kepatuhan perusahaan, pemerintah juga dapat menikmati manfaat secara ekonomi dan 32 investasi. Lebih lanjut, manfaat yang paling utama tentu akan dapat dirasakan oleh korban pelanggaran HAM dikarenakan HRDD tidak hanya mewajibkan perusahaan untuk mengidentiflkasi dampak HAM, namun juga untuk membuka dan menjamin akses terhadap pemulihan bagi korban. Kasus berkaitan dengan Bisnis dan HAM yang kerap terjadi di Indonesia menjadi indikasi bahwa negara perIu mengambil langkah untuk mewajibkan uji tuntas seperti negara-negara lain. Pembentukan peraturan mengenai mHRDD harus ditujukan agar proses HRDD menjadi suatu yang dilaksanakan oleh perusahaan secara berkelanjutan dan dilihat sebagai upaya strategis yang terintegrasi pada operasi perusahaan, mengingat bahwa ekspektasi investor dan konsumen semakin meningkat, mewajibkan perusahaan untuk melihat isu HAM sebagai suatu yang serius. Penerapan mHRDD tentunya membutuhkan inisiatif dan political will yang kuat dari pemerintah. Pemerintah telah berulang kali menyatakan komitmennya terhadap berkelanjutan, tetapi pernyataan tersebut tidak akan menghasilkan dampak nyata jika HRDD tetap menjadi pilihan fleksibel bagi perusahaan. Jika Indonesia ingin mendorong investasi berkelanjutan, maka perubahan harus segera dilakukan sebelum lebih banyak kerusakan lingkungan dan pelanggaran HAM terjadi. Dengan dua dekade tersisa untuk mencapai Indonesia Emas 2045, sekarang adalah waktu yang tepat untuk merumuskan visi baru dalam pendekatan Bisnis dan HAM
Perbedaan Kontrol Diri berdasarkan Gaya Kelekatan Terhadap Ibu Pada Remaja dengan Ibu Bekerja
Masa remaja rentan terhadap kontrol diri rendah yang dapat berdampak pada perilaku berisiko. Ibu bekerja mengalami peran ganda yang menyebabkan berkurangnya waktu dan kualitas interaksi dengan remaja, sehingga berpotensi mempengaruhi gaya kelekatan yang terbentuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kontrol diri berdasarkan gaya kelekatan terhadap ibu pada remaja dengan ibu bekerja. Sebanyak 247 remaja usia 12-18 tahun (180 perempuan, 67 laki-laki) berpartisipasi melalui survei menggunakan Self-Control Scale dan ECR-RS (Experience in Close Relationships – Relationship Structures). Data dianalisis menggunakan teknik Kruskal-Wallis. Hasil menunjukkan perbedaan signifikan kontrol diri berdasarkan gaya kelekatan (p = 0,002). Kelekatan secure memiliki kontrol diri tertinggi (mean = 148,20), sedangkan fearful terendah (mean = 100,89). Mayoritas remaja dengan ibu bekerja memiliki kelekatan tidak aman (preoccupied, dismissing, fearful) dengan jumlah 75%. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya membangun kelekatan aman untuk mendukung perkembangan kontrol diri remaja, khususnya pada konteks ibu bekerja
Hubungan antara Regulasi Diri dan Social Norm dengan Cyberslacking pada Mahasiswa S1 Universitas Airlangga
Penelitian terdahulu menemukan bahwa regulasi diri berhubungan dengan perilaku cyberslacking pada mahasiswa. Penelitian lain juga menemukan bahwa perilaku cyberslacking pada mahasiswa disebabkan karena adanya tekanan sosial untuk melakukan perilaku cyberslacking di kelas. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara regulasi diri dan social norm dengan cyberslacking pada mahasiswa S1 Universitas Airlangga. Partisipan penelitian berjumlah 406 mahasiswa S1 (131 laki-laki dan 275 perempuan) yang menggunakan internet di kelas ketika perkuliahan berlangsung. Pengumpulan data menggunakan metode survei daring dengan instrumen Skala Cyberslacking (Simanjuntak dkk., 2019), Short Self-Regulation Questionnaire (Carey dkk., 2004), Skala Social Norm (Gerow dkk., 2010). Analisis data menggunakan uji regresi linear sederhana dengan bantuan perangkat lunak IBM SPSS Statistics 26 for Windows dan Jamovi 2.3.16 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi diri berhubungan negatif signifikan terhadap cyberslacking (p < 0,001) dan social norm berhubungan positif signifikan dengan cyberslacking (p < 0,001). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin rendah tingkat regulasi diri mahasiswa, maka semakin tinggi tingkat cyberslacking yang terjadi. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa semakin tinggi social norm, maka semakin meningkat perilaku cyberslacking