82567 research outputs found
Sort by
Hubungan antara Self-Compassion dengan Body Dissatisfaction pada Remaja Perempuan Pengguna Media Sosial Instagram
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-compassion dengan body dissatisfaction pada remaja perempuan pengguna media sosial Instagram. Penelitian dilakukan pada 116 remaja perempuan dalam rentang usia 13-21 tahun. Desain penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode penelitian survei dengan jenis cross-sectional study. Alat ukur yang digunakan untuk body dissatisfaction adalah Body Shape Questionnaire (BSQ-34) dan untuk self-compassion menggunakan Self-compassion Scale (SCS). Peneliti menggunakan teknik analisis data dengan uji korelasi Pearson product moment dengan bantuan software Jamovi 2.6.26. Hasil analisis data menunjukkan nilai Pearson Correlation r = -0,631 dan signifikansi p < 0,001 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan dengan arah hubungan negatif antara self-compassion dengan body dissatisfaction pada remaja perempuan pengguna media sosial Instagram
Work-Family Conflict (WFC) pada Ibu yang Bekerja: Tinjauan Literatur
ABSTRAK
Ibu yang bekerja akan rentan mengalami Work-Family Conflict (WFC) karena peran ganda yang mereka lakukan sebagai pekerja dan sebagai ibu. Tujuan dari tinjauan literatur ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari WFC pada ibu yang bekerja. Pada tinjauan literatur ini menggunakan metode PRISMA. Dari penyaringan tahun terbit, judul, teks lengkap, dan menghilangkan artikel yang tidak sesuai dengan kriteria inklusi didapatkan lima artikel. Berdasarkan temuan dari artikel tersebut menunjukkan bahwa WFC memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan ibu yang bekerja. Hasil tinjauan literatur ini memberikan informasi mengenai berbagai pengaruh WFC pada ibu yang bekerja dan menunjukkan bahwa salah satu pengaruh WFC dapat mempengaruhi kemandirian anak melalui pola asuh yang dilakukan oleh ibu yang bekerja
Pengaruh Self-Control Terhadap Perilaku Doomscrolling yang Dimediasi oleh Psychological Distress Pada Emerging Adulthood Pengguna Media Sosial TikTok
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh self-control terhadap perilaku doomscrolling dengan psychological distress sebagai mediator pada individu emerging adulthood yang menggunakan TikTok. Metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan survei digunakan pada 150 partisipan berusia 18–25 tahun. Instrumen penelitian meliputi Self-Control Scale, Kessler Psychological Distress Scale (K10), dan Doomscrolling Scale. Analisis data dilakukan dengan teknik regresi mediasi menggunakan metode bootstrapping. Hasil menunjukkan bahwa self-control tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap perilaku doomscrolling (p = 0,952) dan psychological distress juga tidak memiliki hubungan signifikan dengan doomscrolling (p = 0,526). Selain itu, psychological distress tidak berperan sebagai mediator antara self-control dan doomscrolling (p = 0,388). Namun, terdapat pengaruh negatif signifikan antara self-control dan psychological distress (β = -0,3556, p < 0,001), yang mengindikasikan bahwa individu dengan kontrol diri tinggi memiliki tingkat distress psikologis yang lebih rendah. Studi ini menekankan pentingnya self-control dalam menurunkan psychological distress, meskipun tidak secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi perilaku doomscrolling
PERAN PSYCHOLOGICAL CAPITAL, REGULASI DIRI, DAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP ACADEMIC STRESS PADA MAHASISWA BARU UNIVERSITAS AIRLANGGA
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran psychological capital (PsyCap), regulasi diri, dan dukungan sosial terhadap academic stress pada mahasiswa baru Universitas Airlangga. Academic stress yang disebabkan oleh tuntutan akademik dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis mahasiswa. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional dan melibatkan 142 mahasiswa baru. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PsyCap, regulasi diri, dan dukungan sosial secara signifikan berpengaruh terhadap academic stress, dimana semakin tinggi tingkat PsyCap, regulasi diri, dan dukungan sosial, semakin rendah tingkat academic stress yang dialami mahasiswa. Temuan ini memberikan wawasan penting untuk pengembangan strategi pengelolaan academic stress di kalangan mahasiswa
Motif Kepemilikan Alter account di Instagram Pada Generasi Z dalam Perspektif Perempuan
Fenomena kepemilikan alter account di Instagram semakin marak digunakan oleh perempuan
Generasi Z. Fitur switch account memungkinkan seseorang untuk mengelola lebih dari satu akun
dengan mudah. Di balik kemudahan tersebut, penggunaan alter account berawal dari berbagai motif
yang kemudian membentuk pengalaman bagi penggunanya serta membawa dampak yang beragam
dalam kehidupan bermedia sosial.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motif kepemilikan alter account di Instagram pada Generasi
Z dalam perspektif perempuan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan
pendekatan studi kasus instrumental. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori
dramaturgi Erving Goffman dan teori uses and gratification Katz. Penelitian ini melibatkan dua
mahasiswi Generasi Z sebagai partisipan utama yang merupakan pengguna aktif Instagram dan Alter
account.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua partisipan memilih untuk menggunakan alter account
sebab ingin merasa bebas mengekspresikan diri, memenuhi ekspektasi sosial di akun utama, pengaruh
lingkungan social, pengelolaan privasi akun dan karena mengikuti tren
HUBUNGAN ANTARA KESEPIAN DAN IDE BUNUH DIRI PADA MAHASISWA RANTAU
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kesepian dengan ide bunuh diri pada mahasiswa rantau. Kesepian dalam penelitian ini diukur menggunakan tiga dimensi yaitu kepribadian, keinginan sosial, dan depresi. Sedangkan ide bunuh diri mencakup ide bunuh diri spesifik, ide bunuh diri non spesifik, keinginan untuk mati, dan penyebaran informasi mengenai keinginan mengakhiri hidup.
Penelitian dilakukan terhadap 100 mahasiswa rantau yang berusia 18–25 tahun, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Alat pengumpul data berupa UCLA Loneliness Scale Version-3 untuk mengukur tingkat kesepian dan Adult Suicidal Ideation Questionnaire (ASIQ) untuk mengukur ide bunuh diri. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson dengan bantuan program statistik.
Dari hasil analisis diperoleh nilai korelasi antara kesepian dengan ide bunuh diri sebesar r = 0,322 dengan p < 0,01, yang menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kedua variabel. Artinya, semakin tinggi tingkat kesepian yang dirasakan oleh mahasiswa rantau, semakin tinggi pula kemungkinan munculnya ide bunuh diri. Hal ini menunjukkan bahwa kesepian merupakan faktor yang dapat berkontribusi terhadap munculnya ide bunuh diri pada mahasiswa rantau
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI IKLIM SEKOLAH TERHADAP KECENDERUNGAN PERILAKU BULLYING DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
ABSTRAK
Fenomena bullying di sekolah telah menjadi isu mendesak, data riset internasional seperti PISA 2023 yang memperlihatkan bahwa Indonesia menempati peringkat kelima dari 78 negara dengan tingkat kasus bullying tertinggi. Selain itu 1.138 kasus kekerasan fisik dan psikis akibat bullying tercatat pada tahun 2023 oleh KPAI. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan pendekatan deskriptif untuk menguji hubungan antara persepsi iklim sekolah dan perilaku bullying. Metode penelitian mencakup pengambilan sampel dari populasi siswa di SMP “X” Kediri, dengan total 106 siswa. Analisis data dilakukan dengan teknik statistik korelasi product moment dari pearson dengan bantuan program SPSS versi 29. Dari hasil analisis data diperoleh nilai korelasi antara persepsi iklim sekolah dengan kecenderungan bullying sebesar 0,550 dengan p < 0,001. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara persepsi iklim sekolah dengan kecenderungan bullying. Korelasi ini berada pada kategori sedang hingga kuat dan signifikan secara statistik
Breakup distress ditinjau dari strategi koping pada Emerging adulthood yang mengalami Putus Cinta
Putus cinta merupakan kejadian kehilangan berarti yang terjadi pada emerging adulthood. Kejadian ini dapat memicu respon serupa seperti grief akibat kedekatan emosi yang intens dengan pasangannya. Respon negatif yang berupa seperti complicated grief biasanya disebut Breakup distress. Studi dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Diperoleh data sebanyak 165 responden dengan rentang usia 18-25 tahun, berpacaran 1 tahun atau lebih dan mengalami putus cinta 12 bulan terakhir. Analisis yang digunakan adalah kruskal-wallis diperkuat dengan post-hoc DSCF. Hasil penelitian menunjukan adanya perbedaan tingkat breakup distress bila ditinjau dengan strategi koping pada emerging adulthood yang mengalami putus cinta. Tidak ada perbedaan signifikan antara Problem focused coping dan emotion focused coping dan ada perbedaan signifikan antara dysfunctional coping dengan problem focused coping dan emotion focused copin
Tumbuh setelah patah: tinjauan pelingkupan terhadap fenomena posttraumatic growth pascabencana alam
Bencana alam dapat mengakibatkan trauma fisik maupun psikologis yang mendalam bagi individu yang terdampak. Meskipun demikian, terdapat juga individu yang mampu bangkit hingga mengalami pertumbuhan pribadi yang signifikan setelah peristiwa traumatis tersebut. Fenomena ini lebih dikenal dengan istilah posttraumatic growth (PTG). Tinjauan pelingkupan mengenai PTG ini bertujuan untuk memahami aspek-aspek yang berkaitan dengan PTG pascabencana alam, serta bagaimana individu dapat mengalami PTG setelah terdampak bencana alam. Proses tinjauan pelingkupan ini melibatkan analisis terhadap 45 artikel jurnal internasional yang diperoleh melalui database Web of Science, PubMed, dan ProQuest. Data temuan kemudian dikelompokkan menjadi tujuh aspek yang meliputi PTG-PBA secara Umum, Ciri-Ciri Individu, Faktor Prediktor Positif, Faktor Prediktor Negatif, Validitas Alat Ukur, Intervensi, dan Hubungan dengan Variabel Lain. Hasil penelitian ini nantinya dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan strategi yang lebih efektif dalam meningkatkan PTG pascabencana alam
Hubungan antara Paritas, Usia, dan Tingkat Pendidikan dengan Risiko Depresi Antenatal pada Ibu Hamil di Situbondo
Masalah depresi antenatal pada ibu hamil menjadi isu kesehatan mental yang signifikan, khususnya di Situbondo. Faktor-faktor seperti paritas, usia, dan tingkat pendidikan diduga berkontribusi terhadap depresi antenatal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara paritas, usia, dan tingkat pendidikan dengan risiko depresi antenatal pada ibu hamil di Situbondo.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif jenis explanatory research dengan sampel 77 ibu hamil yang dipilih secara purposif. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner demografi dan Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) untuk mengukur tingkat depresi antenatal. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman dengan software Jamovi 2.6.15.
Paritas menunjukkan hubungan negatif signifikan, di mana semakin sedikit jumlah kelahiran, semakin tinggi risiko depresi antenatal (r = -0,25; p = 0,028). Tingkat pendidikan juga menunjukkan hubungan negatif signifikan, di mana ibu dengan tingkat pendidikan lebih rendah memiliki risiko depresi yang lebih tinggi (r = -0,19; p = 0,012). Sementara itu, usia tidak memiliki hubungan signifikan dengan risiko depresi antenatal (r = -0,22; p = 0,060). Berdasarkan data, 29,9% responden tergolong possibly depressed, 44,2% tergolong borderline depressed, dan 26,0% tergolong not depressed. Penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan faktor eksternal lain, seperti dukungan sosial dan status ekonomi dalam memahami risiko depresi antenatal