82567 research outputs found
Sort by
Hubungan Persepsi Dukungan Sosial dengan Intensi Mencari Bantuan Layanan Kesehatan Mental Profesional pada Mahasiswa
Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara persepsi dukungan sosial dengan intensi mencari bantuan layanan kesehatan mental profesional pada mahasiswa. Kondisi permasalahan kesehatan mental banyak ditemui pada populasi mahasiswa karena adanya kerentanan. Intensi mencari bantuan menjadi hal yang penting untuk dapat mendorong perilaku mencari bantuan. Persepsi dukungan sosial dinilai menjadi salah satu faktor protektif yang mendukung pencarian bantuan layanan kesehatan mental profesional. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Partisipan penelitian ini terdiri dari 180 mahasiswa perguruan tinggi berusia 18-25 tahun. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Multidimentional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) yang dikembangkan oleh Zimet dan kolega (1988) dan telah diadaptasi oleh Dayanti (2019) serta Mental Help Seeking Intention Scale (MHSIS) yang dikembangkan oleh Hammer dan Spiker (2018) dan telah diadaptasi oleh Shabrina dan kolega (2022). Hasil penelitian ini menemukan bahwa persepsi dukungan sosial keluarga, teman, dan figur signifikan berkorelasi positif dengan intensi mencari bantuan
Pengembangan Skala Resiliensi Tim pada Start-up Indonesia
Team resilience has become increasingly important in the start-up ecosystem, which is characterized by high uncertainty and resource constraints. However, existing team resilience measures are not compatible with Indonesian start-up contexts. This study aims to develop and evaluate the psychometric properties of a team resilience scale specifically designed for Indonesian start-ups using exploratory sequential mixed methods. The research involved two phases: qualitative exploration through focus group discussions with three start-up teams, followed by quantitative scale development and validation with 303 start-up team members from 62 companies. Qualitative findings revealed five dimensions of start-up team resilience: vulnerability, communication, adaptability, collective learning reflection, and conflict resolution. Quantitative analysis through exploratory and confirmatory factor analyses resulted in a final 14-item scale with four dimensions: vulnerability, knowledge sharing, conflict resolution, and adaptability. The scale demonstrated excellent reliability (α = 0.883) and good validity evidence including content, construct, and criterion validity. Model fit indices were acceptable (CFI = 0.936, TLI = 0.919, RMSEA = 0.0657). These findings contribute to understanding team resilience in Indonesian start-up contexts and provide a practical assessment tool for start-up teams
REKAVASA JARINGAN DAN ORGAN BUATAN BERBASIS BIOMATERIAL INOVATIF BAGI PENATALAKSANAAN CEDERA JARINGAN TUBUH MANUSIA
kebutuhan akan rekayasajaringan dan organ buatan sebagai solusi dari defekjaringan akibat trauma atau infeksi. Berbagai Upaya, teknologi, modalitas yang dikerahkan untuk mengembalikan tidak hanya bentuk namun juga fungsi jaringan dan organ membutuhkan pemikiran dan tenaga yang tidak mudah dan tidak sederhana. Bidang ini akan menjadi sebuah asa baru bagi semua pasien dengan kebutuhan klinis akan jaringan, yang ke depan tidak bisa hanya mengandalkan protesa impor, namun memerlukan keterlibatan generasi Indonesia. Era Solusi kedokteran telah sampai pada era Customized Medicine atau Personalized medicine yang mengkhusus pada ciri tiap individu. Kolaborasi dengan berbagai pihak amat diperlukan, demikian pula pendalaman berbagai cross-cutting keilmuan, teknologi dan ketrampilan
DIAGNOSIS KEGANASAN HEMATOLOGI BERBASIS MOLEKULER: HARAPAN DAN TANTANGAN DI ERA PRECISION MEDICINE
Simpulan. Insidens dan angka kematian leukemia dan keganasan hematologi lain masih tinggi. Upaya diperlukan untuk menekan laju insidens dan kematian. Salah satu upaya menekan angka kematian adalah dengan membuat diagnosis yang tepat pada tahap awal, sehingga dapat membantu tatalaksana berikutnya yang bersifat personal. Diagnosis yang tepat dapat dicapai dengan berdasarkan temuan molekulaer genetik yang berdasarkan pada metode yang memang terdepan saat ini, yaitu PCR, NGS atau WGS. Revisi klasifikasi WHO untuk keganasan hematologi merupakan salah satu contoh yang saat ini mengedepankan temuan molekuler genetik dalam membuat diagnosis. Oleh karenanya modalitas ini harus tersedia di laboratorium fasilitas pelayanan kesehatan agar dapat diakses dengan mudah di dalam negeri, cepat dan tepat dalam melaporkan hasil. Kendala yang dihadapi negeri ini untuk diagnosis adalah masih sulitnya dijangkau pemeriksaan molekuler genetik untuk keganasan hematologi. Adapun bila dapat dijangkau maka harganya pun juga masih mahal, dan belum masuk dalam pemeriksaan yang ditanggung oleh jaminan kesehatan nasional. Sistem yang dibangun untuk diagnosis molekuler pada CML setelah ditemukannya terapi target dapat dicontoh untuk keganasan hematologi lainnya. Rekomendasi yang kami berikan adalah pembagian beberapa pusat layanan kesehatan untuk keperluan diagnosis keganasan hematologi yang spesifIk agar pemeriksaan dapat terpusat, dengan demikian efektif dan eflsiensi dapat tercapai, sehingga harga per tes dapat terjangkau dan dapat dimasukkan dalam pedoman praktek klinik (PPK) dan terbayarkan olehjaminan kesehatan nasional. Menyiapkan infrastruktur yang terstandar internasional, sehingga dapat sebagai laboratorium rujukan dari luar negeri. Ke depan perlu direncanakan untuk membuat manufaktur di dalam negeri oleh tenaga ahli dalam negeri yang dapat menyediakan alat dan reagen untuk pemeriksaan sequencing yang dapat mencukupi kebutuhan dalam negeri dan selanjutnya dapat bersaing di luar negeri. Menyiapkan SDM yang handal yang kompeten untuk pemeriksaan dan interpretasi molekuler yang bersaing di tingkat dunia. Untuk hal ini harus diupayakan percepatan, mengingat ketertinggalan kita sekitar 15 tahun dari negara maju
Hubungan Antara Perceived Restorativeness Ruang Terbuka Hijau Dengan Tingkat Stres Akademik Mahasiswa di Universitas Airlangga
Stres akademik merupakan salah satu masalah yang umum ditemui diantara mahasiswa dan dapat memengaruhi performa akademik, kesehatan, maupun kesejahteraan secara umum. Berbagai kajian
dilakukan untuk membahas terkait faktor yang dapat memengaruhi kondisi stres akademik mahasiswa, salah satunya melalui kehadiran lingkungan restoratif di kampus. Lingkungan restoratif seperti ruang terbuka hijau dapat memulihkan kelelahan mental yang terjadi akibat penggunaan sumber daya kognitif secara terus menerus, yang kemudian dapat menurunkan tingkat stres pada individu. Penelitian ini melibatkan 84 mahasiswa aktif Universitas Airlangga yang sedang berada di ruang terbuka hijau di Universitas Airlangga Kampus B. Pengumpulan data menggunakan alat ukur Perceived Restorativeness Scale (PRS) dan Perception Of Academic Stress Scale (PASS). Uji korelasi Pearsons’r menemukan tidak ada
hubungan antara perceived restorativeness ruang terbuka hijau dengan stres akademik mahasiswa Universitas Airlangga (r = 0,085; p = 0,444). Hal ini dapat disebabkan adanya faktor dari stres akademik mahasiswa yang tidak dapat diselesaikan melalui manfaat restoratif dari lingkungan saja. Terdapat potensi
kehadiran faktor eksternal dari ruang terbuka hijau di Universitas Airlangga yang dapat memengaruhi persepsi restoratif mahasiswa. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mempertimbangkan keterlibatan variabel moderasi atau mediasi untuk melihat hubungan yang lebih komprehensif
Peran Gaya Resolusi Konflik Terhadap Kepuasan Pernikahan pada Pasangan Muda
Pernikahan merupakan salah satu tahap penting dalam kehidupan dewasa awal yang dianggap sakral dan berdimensi luas, baik secara hukum, agama, maupun budaya. Dilansir melalui kumparanNews (2024), angka pernikahan di Indonesia mengalami penurunan dalam rentang tahun 2014-2023, sedangkan dalam rentang sepuluh tahun terakhir, angka perceraian mengalami peningkatan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran gaya resolusi konflik terhadap kepuasan pernikahan dalam konteks pasangan muda. Partisipan penelitian berjumlah 126 pasangan muda (97 laki-laki dan 29 perempuan) yang sedang menjalin pernikahan sesuai dengan hukum di Indonesia. Pengumpulan data menggunakan metode survei daring dengan instrumen ENRICH Marital Satisfaction Scale Versi Bahasa Indonesia (Artamevia, 2021) dan Conflict Resolution Styles Inventory Versi Bahasa Indonesia (Muttaqin, 2022). Analisis data dilakukan dengan uji asumsi dan uji regresi linear berganda dengan bantuan perangkat lunak Jamovi versi 2.6.44. Hasil analisis menunjukkan terdapat peran positif signifikan gaya resolusi konflik positive problem solving terhadap kepuasan pernikahan pada pasangan muda. Sebaliknya, terdapat peran negatif signifikan gaya resolusi konflik conflict engagement dan withdrawal terhadap kepuasan pernikahan pada pasangan muda. Gaya resolusi konflik compliance menunjukkan peran negatif, namun tidak signifikan (p-value >0,005)
Evaluasi Komunikasi Organisasi dalam Change Management Perubahan Kebijakan Flexible Working Arrangement (FWA) di DBT Telkom Indonesia: Perspektif Karyawan Perempuan
Penelitian ini dilakukan sebagai evaluasi terhadap komunikasi organisasi dalam Change Management atas perubahan kebijakan Flexible Working Arrangement (FWA) menjadi Back to Office atau Work From Office (WFO) di Divisi DBT (Digital Business & Technology) Telkom Indonesia berdasarkan perspektif karyawan perempuan. Fenomena yang dikaji merupakan transisi kerja fleksibel yang semula dapat mengakomodasi peran ganda karyawan perempuan menuju kebijakan sepenuhnya kerja dari kantor yang menuntut penyesuaian baru, khususnya dalam komunikasi strategis, partisipatif, dan inklusif. Analisis menggunakan kerangka Change Management oleh Laurie K. Lewis yang terbagi atas tiga klaster utama: Information Dissemination, Soliciting Input, dan Socialization sebagai lensa evaluasi—dilengkapi Sensemaking oleh Karl Weick dan kajian-kajian Women in Organizations. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan desain evaluatif melalui wawancara semi-terstruktur bersama delapan orang informan DBT Telkom Indonesia (tiga representatif perusahaan dan lima karyawan perempuan), dengan analisis data model Miles-Huberman untuk melihat proses komunikasi yang terjadi di perusahaan tersebut ketika terjadi suatu perubahan secara dua arah—yang berfokus pada setiap tahap Change Management, bukan perbandingan kondisi sebelum dan sesudah kebijakan diberlakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi organisasi dalam perusahaan belum efektif untuk mereduksi ketidakpastian (uncertainty) dengan kehadiran rumor-rumor informal dalam tahap diseminasi, partisipasi yang simbolik dan tindak lanjut yang lemah akibat ekosistem yang hierarkis, serta terjadi dukungan adaptasi yang kurang merata, menjadikan pemaknaan perubahan terfragmentasi. Akibatnya, kebutuhan spesifik karyawan perempuan belum sepenuhnya terfasilitasi, meskipun tidak ditemukan praktik diskriminasi eksplisit dalam komunikasi organisasi yang diterapkan
PERBANDINGAN UU NO. 22 TAHUN 1957 TENTANG PENYELESAIAN PERSELISIHAN PERBURUHAN DAN UU NO 2 TAHUN 2004 TENTANG PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRI
Pembangunan ketenagakerjaan sebagai bagian integral dari pembangunan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang Undang dasar 1945 dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya, juga untuk meningkatkan harkat, martabat, dan harga diri tenaga kerja serta mewujudkan masyarakat sejahtera, adil, makmur, dan merata baik materiil maupun spirituil. Kemajuan ilmu Pengetahuan dan tekhnologi, perkembangan zaman serta peluang pasar baik didalam maupun diluar negeri menuntut peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia pada umumnya serta peranan kedudukan tenaga kerja dalam pelaksanaan Pembangunan Nasional khususnya, baik sebaga pelaku pembangunan maupun sebagai tujuan pembangunan
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGGUNA JASA LAYANAN KARTU DEBET
Pada era globalisasi saat ini pemenuhan kebutuhan yang serba cepat, praktis dan efisisien merupakan tuntutan bagi semua pihak. Karena banyaknya kegiatan yang harus dilakukan maka waktu dianggap sangat berharga dan harus digunakan sehemat mungkin. Keinginan masyarakat untuk memperoleh pelayanan yang cepat dan tidak memakan waktu banyak juga semakin tinggi. Seperti pelayanan lembaga perbankan, dimana bank-bank harus bisa bersaing dalam meningkatkan pelayanannya melihat akhir-akhir ini banyak sekali jenis bank yang berdiri dan menawarkan layanan jasa yang beraneka ragam sehingga mampu menarik masyarakat untuk menjadi nasabah
KEKUATAN PEMBUKTIAN KETERANGAN SAKSI VIA TELECONFERENCE DITINJAU DARI KUHAP
Sudah saatnya hukum mengakomodasi perkembangan teknologi dalarn menegakkan supremasinya. Pernyataan tersebut kiranya tidaklah berlebihan, terutarna di era globalisasi saat ini. Jarak tidak Jagi menjadi harnbatan dalarn berinteraksi dengan masyarakat dunia karena pesatnya perkembangan teknologi, khususnya di bidang telekomunikasi