82567 research outputs found
Sort by
MENGUAK MISTERI TERAPI BEKAM MODERN: HARAPAN PENINGKATAN FUNGSI DALAM REHABILITASI RESTORASI
Prospek terapi bekam di mas a mendatang cukup menjanjikan, terutama dengan meningkatnya masyarakat terhadap pengobatan alternatif. Banyak praktisi medis mulai melihat manfaat terapi bekam, salah satunya adalah Persatuan Dokter Bekam Indonesia, dimana saya sebagai salah satu Dewan Pakar. Di organisasi tersebut secara berkala dilakukan pertemuan ilmiah membahas perkembangan bekam melalui penelitian-penelitian dan edukasi ke masyarakat metode terapi bekam yang benar terutama terkait keselamatan pasien. Mudah-mudah terapi bekam bisa lebih berkembang dan sejajar dengan terapi intervensi yang lain
PENINGKATAN PROFESIONALITAS PENGELOLAAN DANA DESA SESUAI TATA KELOLA HUKUM KEUANGAN NEGARA
Transparansi dan akuntabilitas pengelolaan Dana Desa juga diamanatkan dalam UU Desa sebagaimana tercantum di Pasal 27 huruf d. bahwa kepala des a selaku pengelola Dana Desa wajib memberikan dan/atau menyebarkan informasi secara tertulis kepada masyarakat desa setiap akhir tahun anggaran; selanjutnya jika kepala desa tidak melaksanakan sebagaimana diamanatkan pasal 26 dan 27 akan dikenakan sanksi sebagaimana diatur dalam Pasal 28 dapat dikenai sanksi administratif berupa teguran lisan dan/atau teguran tertulis. Untuk meningkatkan profesionalitas pengelolaan Dana Desa secara transparan dan akuntabel maka perlu dilakukan beberapa hal sebagai berikut56: (1) Bagi Pemerintah Desa a. Koordinasi dan komunikasi antara kepala desa dan aparatur desa perlu diperbaiki agar terhindar dari konflik internal yang akan berpengaruh terhadap berjalannya Pemerintahan Desa. b. Memaksimalkan pelaksanaan musyawarah Desa, karen a musyawarah desa merupakan kewajiban desa sebagai sarana untuk memberikan akses kepada masyarakat untuk memperoleh informasi atas pengelolaan dana Desa. c. Perlunya mengevaluasi penggunaan Dana Desa, agar efektif dan efisien serta tepat sasaran, sehingga pemberdayaan ma~yarakat dapat terlaksana. (2) Bagi Badan Permusyawaratan Desa (BPD) a. Meningkatkan peran dan independensi BPD sebagai pengawas kinerja kepala desa, b. Dalam membahas dan menyepakati rancangan peraturan Desa, BPD harus mempertimbangkan kepentingan yang dapat mensejahterakan masyarakat Desa. c. Meningkatkan koordinasi dan komunikasi dengan masyarakat Desa; diharapkan dapat menampung aspirasi dari masyarakat, karena salah satu fungsi BPD adalah menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat Desa
PEMBANGUNAN PERTANIAN PADI UNTUK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN NASIONAL: TINJAUAN EKONOMI PERTANIAN
Pola konsumsi pangan pokok masyarakat masih bertumpu pada beras. Oleh karena itu, pembangunan pertanian padi sangat penting untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Bagaimanapun, pembangunan pertanian padi dihadapkan pada tantangan baru yaitu meningkatkan produktivitas pertanian padi dengan mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan, meningkatkan nilai gizi, memperbaiki rantai pasok untuk mengurangi kehilangan hasil dan pemborosan pangan, adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, pemberdayaan petani, kesetaraan dan pemberdayaan gender, serta peningkatan pendapatan petani dan akses masyarakat terhadap makanan bergizi
Interaksi Ethical leadership dan Collaborative culture Dalam Meningkatkan Felt accountability: Peran Mediasi Affective trust
Indonesia menghadapi tantangan serius dalam mewujudkan felt accountability Aparatur Sipil Negara (ASN), terlihat dari tingginya kasus korupsi dan pelanggaran disiplin yang terus terjadi. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh ethical leadership terhadap felt accountability ASN, dengan peran mediasi affective trust dan moderasi collaborative culture. Data dikumpulkan melalui survei online dari 98 ASN di sebuah institusi di Kota Malang menggunakan skala ethical leadership, collaborative culture, affective trust, dan felt accountability yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan PROCESS macro v.4.2 Model 8 dengan bootstrapping. Penelitian menemukan bahwa: (1) ethical leadership memiliki pengaruh tidak signifikan terhadap felt accountability (β = 0.18, p = 0.09), (2) affective trust tidak memediasi hubungan ethical leadership terhadap felt accountability secara signifikan (effect = 0.18, p = 0.97), (3) collaborative culture tidak memoderasi hubungan tidak langsung antara ethical leadership terhadap felt accountability melalui affective trust (β = 0.11, p = 0.93), (4) collaborative culture memoderasi hubungan langsung antara ethical leadership dan felt accountability secara signifikan (β = 0.32, p = 0.00), memperkuat pengaruh ethical leadership dalam meningkatkan felt accountability ketika collaborative culture kuat. Penelitian menekankan pentingnya pengembangan collaborative culture dalam organisasi publik dan penerapan ethical leadership untuk meningkatkan felt accountability ASN
Peran Usia dan Pengetahuan tentang Disabilitas Intelektual sebagai Prediktor Sikap terhadap Penyandang Disabilitas Intelektual
Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran signifikan usia dan pengetahuan tentang disabilitas intelektual dalam memprediksi faktor-faktor sikap terhadap penyandang disabilitas intelektual. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui survei. Instrumen penelitian yang digunakan mencakup Attitudes Toward Intellectual Disability - Short Form (ATTID-SF), subskala knowledge dari Contact and Knowledge about Intellectual Disability (CKID), dan kuesioner demografis. Sejalan dengan tujuan penelitian, teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Penelitian ini melibatkan 238 partisipan dengan kriteria Warga Negara Indonesia (WNI), berusia 19-60 tahun, dan tidak memiliki diagnosis disabilitas intelektual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia dan pengetahuan tentang disabilitas intelektual berperan signifikan secara simultan dalam memprediksi faktor interaksi dan faktor kepekaan atau kelembutan dari sikap terhadap penyandang disabilitas intelektual (p < 0,05). Koefisien determinasi sebesar r2 = 0,035 dan r2 = 0,047 mengindikasikan bahwa model regresi ini mampu menjelaskan sekitar 3,5% variasi sikap pada faktor interaksi dan 4,7% variasi sikap pada faktor kepekaan atau kelembutan. Secara parsial, usia ditemukan tidak berperan signifikan dalam memprediksi seluruh faktor sikap terhadap penyandang disabilitas intelektual. Namun, pengetahuan tentang disabilitas intelektual ditemukan berperan signifikan dalam memprediksi faktor interaksi dan faktor kepekaan atau kelembutan dengan nilai koefisien negatif. Dalam artian, semakin tinggi pengetahuan tentang disabilitas intelektual, maka sikap terhadap penyandang disabilitas intelektual pada kedua faktor tersebut semakin rendah atau menjadi lebih positif
Hubungan Parent Attachment Dengan Regulasi Emosi Remaja Akhir Berlatar Belakang Orang Tua Bercerai
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara parent attachment dengan regulasi emosi pada remaja akhir berlatar belakang orang tua bercerai. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode survei. Partisipan dalam penelitian ini merupakan remaja akhir dengan usia 18 hingga 21 tahun yang memiliki latar belakang orang tua bercerai. Jumlah keseluruhan responden adalah 67 subjek. Alat ukur perent attachment yang digunakan adalah Inventory of Parent and Peer Attachment-Revised (IPPA-R) oleh Gullone & Robinson (2005) yang terdiri dari 23 butir. Sementara itu, alat ukur regulasi emosi yang digunakan adalah Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) oleh Gross & John (2003) yang terdiri dari 10 butir. Analisis data dilakukan dengan teknik korelasi Spearman’s rho menggunakan bantuan software statistik SPSS versi 25. Hasil analisis data dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa nilai korelasi (r) -0,088 dengan nilai signifikansi (p) sebesar 0,481. Temuan ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara parent attachment dengan regulasi emosi pada remaja akhir yang memiliki latar belakang orang tua bercerai
PENGARUH PARENTAL EXPECTATION DAN SECURE ATTACHMENT TERHADAP SCHOOL READINESS PADA ANAK USIA DINI
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh parental expectation dan secure attachment terhadap school readiness pada anak usia dini. Kesiapan sekolah merupakan aspek penting dalam perkembangan anak yang mencakup beberapa dimensi, dimana faktor keluarga, khususnya ekspektasi orang tua dan kelekatan aman diduga memiliki peran penting dalam membentuk kesiapan sekolah anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei korelasional yang dilakukan pada 160 orang tua yang memiliki anak usia 5-6 tahun. Instrumen yang digunakan adalah Early Development Instrument (EDI) untuk mengukur school readiness, Chinese Parental Expectation on Child's Future Scale (CPECF) untuk mengukur parental expectation, dan skala secure attachment berdasarkan teori Ainsworth. Analisis data dilakukan menggunakan teknik regresi linear berganda dengan bantuan software Jamovi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parental expectation berpengaruh positif signifikan terhadap school readiness dengan koefisien beta terstandarisasi sebesar 0,119 (p=0,020). Secure attachment juga berpengaruh positif signifikan terhadap school readiness dengan koefisien beta terstandarisasi sebesar 0,553 (p<0,001), yang menunjukkan pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan parental expectation. Secara simultan, kedua variabel berpengaruh signifikan terhadap school readiness (F=81,9; p<0,001) dengan nilai R²=0,510, yang berarti 51% variabilitas school readiness dapat dijelaskan oleh parental expectation dan secure attachment. Hasil ini menegaskan bahwa ekspektasi orang tua dan kelekatan aman antara orang tua dan anak adalah faktor penting dalam mempersiapkan kesiapan anak untuk memasuki jenjang pendidikan formal
Hubungan Antara Self Regulation dengan Risky Driving Behavior
Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu permasalahan global yang memerlukan perhatian khusus. Sebagian besar kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh faktor manusia, salah satunya adalah perilaku berkendara berisiko. Perilaku ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah self regulation atau kemampuan individu dalam meregulasi diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara self regulation dengan perilaku berkendara berisiko dengan merujuk pada temuan dari beberapa penelitian sebelumnya. Metode yang digunakan adalah literature review dengan menganalisis sepuluh artikel dari jurnal nasional dan internasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara self regulation dengan perilaku berkendara berisiko, bahkan dalam konteks subjek dan jenis kendaraan yang berbeda. Temuan ini menegaskan bahwa self regulation memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan keselamatan berkendara
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Komitmen Organisasi pada Staf Organisasi Non-Profit: Tinjauan Literatur
Komitmen organisasi menjadi hal yang penting dalam sektor non-profit yang bergantung pada keberlanjutan stafnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi komitmen organisasi dalam konteks organisasi non-profit. Penelitian dilakukan dengan systematic review melalui artikel dari Google Scholar menggunakan kata kunci "factor" OR "influence" OR "effect" AND "on organizational commitment" AND "non-profit organization" yang dilakukan pada 16-20 Juli 2025. Diperoleh sebanyak 237 artikel yang kemudian dipilih 5 artikel setelah melewati proses penyaringan berdasarkan kriteria seleksi berupa tahun penerbitan dan konteks penelitian. Hasil tinjauan literatur ini menunjukkan bahwa faktor internal dan eksternal berperan penting terhadap komitmen organisasi, termasuk altruisme, jenis kelamin, person–organization fit (values, needs, self-identity and its expression), ethical climate (Benevolence Ethical Climate, Principle Ethical Climate), workplace stress, resiliensi, volunteer motivation dan servant leadership
Hubungan Pola Komunikasi Keluarga Terhadap Resiliensi Remaja yang Mengalami Parental-Death
Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara Pola Komunikasi Keluarga dengan Resiliensi pada Remaja yang mengalami kematian orang tua (parental-death). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan teknik pengambilan sampel non-probability purposive sampling. Pola komunikasi diukur berdasarkan dua dimensi, yaitu Orientasi Percakapan dan Orientasi Konformitas menggunakan alat ukur Revised Family Communication Pattern (RFCP dan Resiliensi diukur menggunakan alat ukur Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC). Sebanyak 74 responden yang memenuhi kriteria dimasukkan dalam analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara pola komunikasi keluarga dengan resiliensi remaja dengan nilai signifikansi p < 0,001 (r = 0,427). Selanjutnya, pada uji korelasi dimensi orientasi percakapan daitemukan memiliki hubungan positif dengan resiliensi (r = 0,457, p< 0,001), yang menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai orientasi percakapan maka semakin tinggi tingkat resiliensi remaja. Sebaliknya, pada dimensi orientasi konformitas tidak daitemukan hubungan signifikan dengan resiliensi (r = -0,044, p = 0,711). Temuan ini menunjukkan bahwa pola komunikasi yang terbuka dan positif dapat mendukung resiliensi remaja dalam konteks kematian orang tua