82567 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN MASALAH MENTAL EMOSIONAL DENGAN TINGKAT KUALITAS HIDUP PADA ANAK REMAJA JALANAN SELAMA PANDEMI COVID-19
Anak jalanan merupakan kelompok yang rentan dan memiliki risiko lebih besar untuk mengembangkan masalah dan gangguan kesehatan mental dibandingkan dengan kelompok anak lainnya. Ditambah lagi dengan adanya pandemi COVID-19 memberikan efek yang mendalam pada kecemasan, kesusahan, dan ketakutan karena salah satunya dilakukan pembatasan dalam bersosialisasi dan berinteraksi. Faktor yang mempengaruhi kualitas hidup seseorang adalah kesehatan psikososial yaitu kondisi mental dan emosional. Sementara dampak kualitas hidup yang buruk dapat membuat seseorang kehilangan antusiasme pada masa depan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan masalah mental emosional dengan tingkat kualitas hidup pada anak remaja jalanan selama pandemi COVID-19. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan crosssectional. Terdapat responden sebanyak l 0 l anak jalanan yang terdiri dari 17 anak dari UPTD Kampung Anak Negeri dan 84 anak dari Sanggar Alang-Alang. Penetapan responden menggunakan teknik cluster random sampling. Variabel independen adalah kondisi masalah mental emosional dan variabel dependen adalah tingkat kualitas hidup. Data dikumpulkan dengan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji spearman 's rho dengan tingkat signifikansi p<0,05. Instrumen yang digunakan adalah Strength and Difficulties Questionaire (SDQ) dan World Health Organization Quality of Life BREF (WHOQOL BREF). Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara masalah mental emosional dengan tingkat kualitas hidup (p=O,OOO, r=0,818). Kesimpulan: Masalah mental emosional memiliki hubungan dengan tingkat kualitas hidup pada anak remaja jalanan di rumah singgah dan sanggar dengan arah negatif dimana semakin tinggi skor pada penilaian masalah mental emosional maka akan semakin rendah tingkat kualitas hidup anak remaja jalanan
PERJANJUN PENEMPATAN KERJA ANTARA BURUH DENGAN PJTKI SEBAGAI UPAYA PERLINDUNGAN HUKUM
Dalam kehidupan manusia mempunyai kebutuhan beraneka ragam,agar dapat memenuhi semua kebutuhannya manusia dituntut untuk bekerja pada orang lain. Menyadari akan pentingnya bekerja, maka perlu adanya suatu peraturan-peraturan yang mengatu: supaya keselarnatan pekerja tidak diabaikan sehingga hak dari pekerja itu sendiri bisa diperoleh dan agar supaya mereka dalam melaksanakan pekerjaannya tanpa disadari oleh adanya kecurigaan yang berlebihan kepada pengguna jasa atau majikannya
Pemaknaan Organizational Support pada Individu dengan Bipolar Disorder
This study aims to understand how individuals with bipolar disorder perceived organizational support in the workplace. A phenomenological approach was employed, involving four individuals diagnosed with bipolar disorder who are actively working as primary participants, along with three significant others providing additional perspectives. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). The findings indicate that organizational support is perceived in the form of emotional and practical support, such as understanding, positive affirmations, and concrete assistance from supervisors and colleagues. Open communication and attention to individual needs are key factors in strengthening perceived support. This study concludes that organizational support plays a crucial role in helping individuals with bipolar disorder maintain work productivity and create an inclusive work environment
PENGEMBANGAN SKALA PEMAKNAAN HIDUP BAGI REMAJA AKHIR DAN DEWASA AWAL SETELAH MENGALAMI PUTUS CINTA
Makna hidup diartikan sebagai sesuatu yang dianggap benar, penting, didambakan, dan memberikan nilai tertentu bagi seorang individu. Individu yang dapat memaknai hidup memiliki semangat dan gairah hidup yang tinggi serta jauh dari kerentanan dan masalah psikologis. Dalam konteks remaja akhir dan dewasa awal yang mengalami putus cinta, pemaknaan hidup menjadi krusial. Putus cinta dapat mengarahkan mereka pada berbagai masalah psikologis, seperti stres, depresi, self-harm, hingga bunuh diri. Dengan demikian, peneliti mengkonstruksi skala psikologi untuk mengukur pemaknaan hidup remaja akhir dan dewasa awal selepas putus cinta. Skala psikologi ini mengacu pada teori Bastaman (2007) tentang konstruk pemaknaan hidup yang terdiri dari enam dimensi, yaitu pemahaman diri, makna hidup, pengubahan sikap, komitmen diri, kegiatan terarah, dan dukungan sosial. Sebanyak 30 orang perempuan dan 14 orang laki-laki (N = 44) dengan rentang usia 17-40 tahun menjadi partisipan dalam penelitian ini. Metode penelitian yang digunakan adalah model skala Likert. Hasil penelitian menemukan sebanyak 40 item dari 56 item teruji valid dengan nilai koefisiensi korelasi item-total lebih dari 0,300. Adapun nilai Cronbach’s Alpha dihitung mencapai skor 0,885. Dengan kondisi demikian, skala ini dapat digunakan untuk mengukur pemaknaan hidup individu masa remaja akhir hingga dewasa awal selepas putus cinta
Reformasi Birokrasi di Era Turbulensi: Mitigasi Smart City Trap Untuk Pembangunan Inklusif dan Inovatif di Indonesia.
Eksplorasi Karakteristik Sosiodemografi dan Kecenderungan Risiko Tinggi Klinis terhadap Psikosis (CHR-P) pada Individu dengan Basic Symptoms
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi karakteristik sosiodemografi dan kecenderungan risiko tinggi klinis terhadap psikosis (CHR-P) pada individu yang menunjukkan basic symptoms. Topik ini sangat penting karena deteksi dini pada individu berisiko tinggi dapat mencegah perkembangan gangguan psikosis yang lebih serius. Dalam penelitian ini, hipotesis yang diajukan adalah terdapat perbedaan karakteristik sosiodemografi dan riwayat keluarga antara individu CHR-P dan non-CHR-P. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif eksploratif, dengan analisis data sekunder dari 87 individu berusia 15-40 tahun, menggunakan alat ukur Schizophrenia Proneness Instrument–Adult version (SPI-A). Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan dalam karakteristik yang diuji, meskipun terdapat kecenderungan bahwa mayoritas individu CHR-P adalah perempuan dengan pendidikan tinggi dan tanpa riwayat keluarga gangguan mental. Temuan ini memberikan wawasan awal yang berharga untuk pengembangan strategi intervensi dan deteksi dini psikosis di Indonesia
Pengaruh Gejala Premenstrual Syndrome terhadap Work Performance Wanita dengan Perceived Organizational Support sebagai Moderasi
Pentingnya peran wanita di tempat kerja dan meningkatnya tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan melatarbelakangi diperlukannya pemahaman terhadap salah satu kondisi unik yang umum dialami perempuan, yaitu premenstrual syndrome. Penelitian ini menyelidiki pengaruh premenstrual syndrome terhadap work performance dengan perceived organizational support sebagai variabel moderasi. Data diperoleh dari 80 partisipan yang merupakan perempuan berusia 19-35 tahun yang bekerja di perusahaan. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linear sederhana dan uji moderasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa premenstrual syndrome berpengaruh secara signifikan terhadap work performance. Selain itu, ditemukan bahwa perceived organizational support memoderasi hubungan antara premenstrual syndrome dan work performance. Temuan ini mengindikasikan bahwa dukungan organisasi yang dirasakan karyawan dapat memperlemah dampak negatif premenstrual syndrome terhadap work performance, sehingga persepsi terhadap dukungan organisasi berperan penting dalam membantu karyawan perempuan menghadapi tantangan terkait dengan kondisi ini di tempat kerja
HUBUNGAN KONFORMITAS NORMA GENDER MASKULIN TERHADAP SIKAP MENCARI BANTUAN PSIKOLOGIS PROFESIONAL PADA LAKI-LAKI USIA EMERGING ADULTHOOD DIMODERASI OLEH KECERDASAN EMOSIONAL
ABSTRAK
Masa emerging adulthood merupakan fase transisi yang penuh tantangan psikologis, termasuk tekanan akademik, sosial, dan emosional, yang mendorong individu untuk mencari bantuan psikologis profesional. Namun, pencarian bantuan ini masih rendah pada laki-laki, yang diduga dipengaruhi oleh konformitas terhadap norma gender maskulin. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara konformitas terhadap norma gender maskulin dan sikap mencari bantuan psikologis profesional, serta melihat apakah kecerdasan emosional berperan sebagai moderator dalam hubungan tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental dengan metode survei korelasional eksplanatori. Sampel terdiri dari 215 laki-laki usia 18–25 tahun yang diperoleh melalui teknik convenience sampling. Instrumen yang digunakan adalah CMNI-22 untuk mengukur konformitas gender maskulin, ATSPPH-SF untuk mengukur sikap mencari bantuan, dan TEIQue-SF untuk mengukur kecerdasan emosional. Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan uji interaksi dan metode bootstrapping untuk mengatasi pelanggaran asumsi statistik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konformitas terhadap norma gender maskulin tidak memiliki hubungan signifikan dengan sikap mencari bantuan psikologis (ρ = 0,077, p = 0,260), sementara kecerdasan emosional memiliki hubungan positif yang signifikan (ρ = 0,648, p < 0,001) dan menjadi prediktor yang kuat terhadap sikap tersebut (β = 0,127, p < 0,001). Namun, kecerdasan emosional tidak memoderasi hubungan antara konformitas gender maskulin dan sikap mencari bantuan (β = 0,003, p = 0,534). Temuan ini menunjukkan bahwa kecerdasan emosional berperan secara langsung dan independen dalam mendorong sikap positif terhadap pencarian bantuan psikologis pada laki-laki dewasa awal, terlepas dari pengaruh norma maskulin tradisional.
Kata kunci: (konformitas norma gender maskulin, kecerdasan emosional, sikap mencari bantuan, laki-laki, emerging adulthood
Hubungan Social Comparison dengan Psychological Well-being Pada Remaja Akhir Pengguna Aplikasi Tiktok
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara social comparison dengan psychological well-being pada remaja akhir pengguna aplikasi TikTok. TikTok sebagai ruang sosial digital berpotensi menimbulkan perbandingan sosial yang dapat berdampak pada kesejahteraan psikologis remaja akhir. Social comparison merupakan dorongan alami untuk membandingkan diri dengan orang lain dengan tujuan mengevaluasi diri, sedangkan psychological well-being merupakan kondisi optimal dimana individu terbebas dari tekanan dan dapat berfungsi secara positif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan 201 partisipan berusia 15–19 tahun yang merupakan pengguna aktif TikTok. Instrumen yang digunakan adalah Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM) untuk social comparison dan Ryff’s Psychological Well-being Scale (PWBS) untuk psychological well-being. Hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan secara keseluruhan antara social comparison dan psychological well-being (r = -0,131, p = 0,063). Namun, ditemukan hubungan negatif yang signifikan antara social comparison dengan dimensi autonomy dalam psychological well-being (r = -0,316, p < 0,001), yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat social comparison, maka semakin rendah tingkat otonomi pribadi pada remaja akhir
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan: Tinjauan Literatur Sistematis pada Konteks Anak ASD
Keterlibatan ayah memiliki peran penting dalam mendampingi perkembangan anak ASD yang melalui tahapan perkembangan yang berbeda dengan anak tipikal. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak dengan autisme spektrum disorder (ASD). Analisis dilakukan terhadap lima artikel ilmiah terbaru yang membahas tema tersebut dalam berbagai konteks budaya dan latar. Hasil analisis menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat memperkuat dan memperlemah. Faktor tersebut dimanifestasikan dalam faktor internal seperti persepsi positif terhadap peran ayah dan tingkat efikasi diri serta faktor eksternal seperti norma gender tradisional, dukungan sosial, serta kapasitas sekolah dan layanan profesional dalam melibatkan ayah. Temuan ini menekankan pentingnya intervensi yang tidak hanya menyasar ayah sebagai individu tetapi juga mempertimbangkan ekosistem di sekeliling ayah untuk memungkinan ayah supaya lebih aktif dalam pengasuhan anak ASD