Universitas Negeri Semarang Repository
Not a member yet
64027 research outputs found
Sort by
KESESUAIAN LAHAN UNTUK PENGEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN KALIWUNGU SELATAN KABUPATEN KENDAL
Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat, akan menyebabkan
permintaan lahan untuk permukiman juga meningkat, sehingga menyebabkan
transformasi lahan non terbangun menjadi lahan terbangun. Transformasi lahan
pada pengembangan kawasan permukiman yang tidak sesuai dengan fungsinya
dapat menyebabkan penurunan kualitas lingkungan dan meningkatkan risiko
terjadinya bencana alam. Dengan demikian perlu dilakukan pengendalian terhadap
pengembangan kawasan permukiman berdasarkan aspek fisik dan lingkungan
melalui analisis kesesuaian lahan. Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis
pola persebaran kawasan permukiman di Kecamatan Kaliwungu Selatan Kabupaten
Kendal, 2) menganalisis tingkat kesesuaian lahan untuk kawasan permukiman di
Kecamatan Kaliwungu Selatan Kabupaten Kendal, 3) memberikan rekomendasi
arahan lokasi pengembangan kawasan permukiman di Kecamatan Kaliwungu
Selatan Kabupaten Kendal.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan
keruangan. Pada penelitian ini metode yang digunakan yaitu metode analisis spasial
melalui teknik Sistem Informasi Geografis. Parameter yang digunakan pada
penelitian ini menggunakan satuan kemampuan lahan untuk menentukan arahan
arahan sebagai acuan untuk melakukan penilaian terhadap kesesuaian lahan.
Hasil penelitian menunjukkan kesesuaian lahan pada kawasan permukiman
eksisting menghasilkan 3 kelas, yaitu kesesuaian lahan cukup sesuai (S2) dengan
luas 205,14 Ha, sesuai marginal (S3) dengan luas 220,44 Ha, dan tidak sesuai saat
ini (N1) dengan luas 6,61 Ha. Penilaian terhadap kesesuaian lahan menghasilkan
rekomendasi arahan lokasi pengembangan kawasan, yaitu kawasan konservasi
dengan luas 2.859,85 Ha, kawasan yang tidak dapat dikembangkan (dipertahankan
pada kondisi alam) dengan luas 60,66 Ha, kawasan lahan baku pertanian dengan
luas 1.073,54 Ha, kawasan permukiman dengan kepadatan rendah (tutupan lahan
maks 20%) dengan luas 143,99 Ha, kawasan permukiman dengan kepadatan sedang
(tutupan lahan maks 30%) dengan luas 891,00 Ha, dan kawasan permukiman
dengan kepadatan tinggi (tutupan lahan maks 50%) dengan luas 110,30 Ha.
Berdasarkan interpretasi citra, kawasan permukiman di Kecamatan Kaliwungu
Selatan memiliki pola persebaran memanjang mengikuti ruas-ruas jalan dan pola
persebaran mengelompok yang disebabkan oleh kondisi fisik dan faktor pembatas
seperti adanya kawasan pertanian dan kawasan lindung. Dalam hal ini pemerintah
harus bersinergi dengan masyarakat dan pihak-pihak terkait dalam pemanfaatan
lahan dalam rangka pengembangan suatu kawasan agar tidak terjadi penyimpangan
dari kondisi kesesuaian lahan dan kawasan lindung sesuai dengan Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten Kendal
POLA SPASIAL KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) BERDASARKAN KEPADATAN PENDUDUK, PERILAKU, DAN SANITASI DI KECAMATAN TAMBUN SELATAN, KABUPATEN BEKASI TAHUN 2019-2022
Kecamatan Tambun Selatan merupakan kecamatan yang memiliki angka
kasus demam berdarah dengue yang cukup tinggi di Kabupaten Bekasi.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi angka kasus demam berdarah
dengue terus mengalami peningkatan dari tahun 2019-2022. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui pola spasial persebaran DBD berdasarkan kepadatan penduduk,
perilaku, dan sanitasi.
Penelitian menggunakan metode kuantitatif, dengan pendekatan spasial
menggunakan tools Sistem Informasi Geografis (SIG) dan analsisis univariat.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kasus DBD berdasarkan Kepala
Keluarga (KK) yang terjangkit DBD. Teknik sampling dengan proporsional
Random sampling. Pengumpulan data menggunakan Teknik observasi, kuesioner,
wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan spasial analisis untuk
kepadatan penduduk dan pola sebaran kasus demam berdarah dengue menggunakan
analisis Nearest Neighbor (tetangga terdekat) dan analisis deskriptif persentase
untuk perilaku dan sanitasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola persebaran DBD tahun 2019,
2020, 2021 dan 2022 menunjukkan bahwa pola DBD memiliki pola mengelompok
(clustered pattern). Tingkat kepadatan penduduk dan persebaran DBD kategori
tinggi ada Desa Mangunjaya. Hasil analisis deskriptif persentase perilaku
masyarakat, kategori cukup (97,6%) dan kategori baik (2,4%). Hasil analisis
persentase sanitasi yaitu, tempat penampungan air tampak bersih sekitar (95,0)
wadah tempat penampungan air tertutup dengan rapat (86,9%), tidak terdapat benda
yang menyebabkan tergenangnya air (95,2%), memasang kawat kasa anti nyamuk
(79,8%), kondisi halaman rumah bersih (89,3%), Tidak ada pakaian tergantung di
dalam rumah (38,1%). Hasil analisis Nearest Neighbor menunjukkan bahwa jarak
rata-rata kasus DBD semakin mendekat 2019 (295,37 m), 2020 (194,74 m), 2021
(195,94 m), dan 2022 (156,28 m).
Melihat kondisi kasus DBD yang terjadi setiap tahunya semakin tinggi dan
jarak rata-rata kasusnya semakin dekat, maka saran dari peneliti untuk kembali
mengingatkan dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam melakukan
pencegahan dengan gerakan 3M Plus dan selalu aktif dalam pelaporan kasus DBD,
agar masyarakat lebih mengerti lagi dan melaksanakan kegiatan tersebut sehingga
terciptanya lingkungan yang lebih sehat dan aman dari ancaman DBD
KEMACETAN LALU-LINTAS DENGAN PENDEKATAN LEVEL OF SERVICE (LOS) DI RUAS JALAN RAYA KECAMATAN GENUK KOTA SEMARANG
Kemacetan merupakan masalah yang sering terjadi di ruang lalu-lintas,
dipengaruhi aktivitas manusia yang tinggi karena kegiatan industri, pendidikan,
ekonomi dan perdagangan. Jumlah kendaraan akan meningkat untuk mobilisasi di
sisi lain, kapasitas jalan terbatas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sebaran
titik-titik kemacetan, uraian waktu kemacetan, dan karakteristik lalu-lintas dengan
pendekatan level of service (LOS) pada Ruas Jalan Raya Kecamatan Genuk.
Subjek penelitian ini merupakan titik kemacetan pada setiap jalur jalan
dengan penggunaan lahan sebagai pusat kegiatan masyarakat. Terdapat 7 titik di 5
jalur yang berbeda Analisis penelitian ini adalah analisis kuantitatif yaitu dengan
menghitung volume lalu lintas, hambatan samping, geometri jalan, kapasitas jalan,
dan tingkat pelayanan jalan. Sedangkan analisis spasial adalah perbandingan
persebaran pusat keramaian dengan karakteristik lalu-lintas yang berbeda sesuai
dengan pola keruangan.
Hasil penelitian ini menunjukan angka volume lalu lintas rata-rata di hari
Senin-Kamis mencapai 2776,62 smp/jam, hari Jum’at 2603,45 smp/jam, dan hari
Sabtu-Minggu 1700,57 smp/jam dengan Jalan Nasional 1/Kaligawe Raya kawasan
UNISSULA menjadi volume lalu lintas tertinggi. Hambatan samping keluar masuk
lahan (tipe 3) tercatat 55755 kejadian menjadikan hambatan samping tertinggi
selama pengambilan sampel sehingga kapasitas jalan berkurang. Waktu puncak
terjadi di jam 06.00-07.00 WIB dan 16.00-17.00 WIB dengan angka rata-rata
0,8564 dan 0,8867. Di hari Sabtu-Minggu semua ruas jalan sampel tertinggi hanya
berada di Kelas C atau arus masih stabil, pengemudi masih bisa memilih kecepatan
waupun terbatasi oleh lalu lintas. Hari Senin-Kamis dan Jum’at pada waktu puncak
LOS masuk kategori kelas E, dan F di Jalan Nasional 1/Kaligawe raya Kawasan
Industri Terboyo, Jalan Muktiharjo Raya, Jalan Padi Raya, dan Jalan Kudu Raya.
Arus lalu-lintas pada waktu puncak sudah tidak stabil, kecepatan pengemudi akan
terbatas sehingga terjadi antrian kemacetan bahkan volume lalu lintas sampai
berada atau melebihi kapasitas jalan menyebabkan antrian kendaraan yang banyak
dengan kecepatan kendaraan sangat rendah.
Tarikan lalu lintas dari pemukiman menuju kawasan pasar, pendidikan, dan
industri membuat LOS tinggi di pagi dan sore (hari Senin-Kamis, dan hari Jum’at).
Kemacetan terjadi di 4 sampel jalan Jalan Nasional 1/Kaligawe Raya, Jalan
Muktiharjo, Jalan Padi Raya, dan Jalan Kudu Raya rata-rata di jam 07.00-08.00
WIB dan 16.00-17.00 WIB. Faktor lain adanya hambatan samping kendaraan
keluar masuk lahan yang cukup tinggi. Saran dari penulis pengalihan kendaraan
dari jalan dengan angka LOS tinggi ke LOS rendah perlu dilakukan, melebarkan
jalan agar dapat menambah kapasitas, dan merubah jam kerja yang berbeda pada
kawasan industri berbeda atau dengan jam masuk pulang sekolah dengan selisih 1-2 jam
IMPLEMENTASI KOMANDANTE STELSEL OLEH PDI PERJUANGAN KOTA SEMARANG PADA KAMPANYE PEMILU LEGISLATIF 2024
Komandante Stelsel merupakan strategi yang diterapkan oleh PDI
Perjuangan Kota Semarang dalam kampanye pemilihan legislatif 2024. Sistem ini
dibuat berdasarkan pengalaman Pemilu 2014 dan 2019, di mana adanya konflik
yang terjadi karena persaingan perebutan wilayah yang sama antar-calon legislatif
PDI Perjuangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi
Komandante Stelsel oleh PDI Perjuangan Kota Semarang pada kampanye pemilu
legislatif 2024. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara dan dokumentasi.
Uji validitasi data menggunakan triangulasi sumber dan teknik analisis data
menggunakan analisis data model Miles dan Huberman yang terdiri dari reduksi
data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi pada implementasi
Komandante Stelsel oleh PDI Perjuangan Kota Semarang pada kampanye pemilu
legislatif terdapat beberapa kendala yang menghambat efektivitas dan pencapaian
target suara. Kendala utama disebabkan oleh kesibukan Komandante Bintang Dua
serta tantangan dalam penggunaan teknologi. Sumber daya manusia dipilih dan
dilatih sesuai keahlian dan pengalaman, anggaran dikelola dengan ketat, peralatan
disediakan dalam kondisi optimal dan kewenangan diatur dengan jelas. Komitmen
yang kuat terlihat dari pelaksana yang rela menggunakan dana pribadi,
mengorbankan tenaga dan waktu tanpa upah demi kelancaran kampanye. Standar
Operasional Prosedur (SOP) disusun dalam Peraturan DPD PDI Perjuangan Jawa
Tengah Nomer 01 Tahun 2023 tentang Pemenangan Pemilu Anggota Pemilu 2024
melalui Strategi dan Kebijakan Pemenangan Elektoral Terpimpin Berbasis Gotong
royong Bertumpu pada Mesin Partai. Struktur hierarki yang ada dalam sistem ini
memungkinkan setiap tingkat bekerja secara sinergis dan lebih fokus dalam
tugasnya. Meskipun sistem ini memiliki potensi keberhasilan tinggi berkat
kombinasi antara prosedur ketat, fleksibilitas, struktur hierarki yang jelas, serta
komitmen para pelaksana, namun kondisi di lapangan, dinamika politik, opini
publik, tren pemilih dan penerimaan masyarakat tetap menjadi faktor penentu
dalam perolehan suara pada pemilihan legislatif 2024.
Saran dari peneliti untuk mengatasi kendala dalam implementasi
Komandante Stelsel yakni dengan mendistribusikan beban kerja Komandante
Bintang Dua agar mereka tetap fokus pada kampanye. Selain itu, penggunaan alat
monitoring digital dan pelatihan digital diperlukan serta perlunya peningkatan
pemahaman tren pemilih guna meningkatkan efisiensi dalam pengambilan
keputusan yang lebih akurat karena penting untuk memahami dinamika politik, tren
pemilih dan opini publik untuk memaksimalkan perolehan suara
MAKNA TRADISI NGLARUNG AYAM PADA PERKAWINAN DI MASYARAKAT DESA KALIJAMBE, KECAMATAN BRINGIN, KABUPATEN SEMARANG
One of the marriage traditions still
being preserved today is the tradition of
Nglarung Ayam by the people of Kalijambe
Village. Nglarung is a tradition in Javanese
society to throw offerings in the sea or river.
The aims of this research are as follows: 1) to
find out the implementation of the nglarung
ayam tradition at weddings in the Kalijambe
Village community, 2) to analyze the meaning
behind the Nglarung Ayam tradition carried
out by the Kalijambe Village community. The
research method used is a descriptive
qualitative research method with data
collection
techniques in the form of
observation and interviews. The research
results show that the tradition of Nglarung
Ayam is carried out when residents of
Kalijambe Village get married and get a
partner from outside the village who are
separated by a river and cross a bridge.
Nglarung Ayam is done by releasing free-range
chickens on the bridge that the bridal party
crosses to their partner's house. Nglarung
Ayam has two meanings. The incidental
meaning applies during the journey to the in-
law's house as a reinforcement to protect the
bridal party from danger on the way to the
couple's house. The second is the meaning of
continuity, namely, the hope of ensuring
future
harmony
the bridal couple
PERWUJUDAN AKULTURASI BUDAYA JAWA-TIONGKOK DALAM RAGAM MOTIF BATIK LASEM
Batik sebagai warisan budaya khas yang berasal dari Indonesia adalah
salah satu wujud keberagaman masyarakat. Batik Lasem merepresentasikan
keberagaman melalui keberadaan simbol dan motif-motif yang berasal dari
masyarakat yang dituangkan dalam sehelai kain batik. Budaya Jawa dan Tiongkok
merupakan dua diantara beberapa budaya yang mampu berakulturasi dan
menghadirkan batik Lasem dalam wajah yang berbeda dan tetap terjaga
eksistensinya hingga saat ini.
Penelitian ini menganalisis keberadaan motif-motif khas Jawa dan
Tiongkok yang menjadi bukti keberadaan budaya tersebut dalam masyarakat
Lasem. Motif-motif batik Lasem yang beragam yang bersumber dari budaya Jawa
dan Tiongkok dalam wujud ragam motif khas dari budaya masing-masing
dianalilis menggunakan pendekatan kualitataif agar dapat diperoleh data dengan
perspektif yang luas dan hasil penelitian dalam bentuk deskriptif analitik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif batik Lasem berasal dari
berbagai sumber, yakni adaptasi dari budaya asing, lingkungan sekitar
masyarakat, dan peristiwa sejarah yang memberikan kesan mendalam bagi
masyarakat. Keberadaan motif khas Tiongkok yang dipadukan dengan motif khas
Jawa menjadi bukti keberhasilan akulturasi budaya dalam masyarakat Jawa dan
Tiongkok di Lasem. Batik Lasem sebagai hasil budaya harus terus dijaga, salah
satunya melalui inovasi yang dilakukan melalui beberapa lingkup. Inovasi dapat
menempatkan batik Lasem sebagai warisan budaya yang memuat nilai sejarah,
produk budaya yang memiliki nilai ekonomi, dan budaya khas Indonesia yang
telah diakui dunia.
Berdasar pada hasil penelitian disimpulkan bahwa batik Lasem bukan
hanya memuat motif-motif khas Jawa dan Tiongkok tetapi juga menjadi simbol
dan wujud akulturasi budaya dalam masyarakat Lasem. inovasi dalam batik
Lasem harus tetap dilakukan agar dapat menjada keberadaan batik Lasem sebagai
warisan budaya khas Lasem dan bagian dari batik Indonesia yang telah mendunia
IMPLEMENTASI KARAKTER MANDIRI PADA KURIKULUM MERDEKA MELALUI PEMBELAJARAN IPS KELAS VII SMP NEGERI 1 PULOSARI KABUPATEN PEMALANG
Penanaman karakter mandiri melalui pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
merupakan hal yang penting untuk membiasakan peserta didik bersikap mandiri
dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) menganalisis
dan mendeskripsikan model pembelajaran yang digunakan guru IPS dalam
menanamkan karakter mandiri pada kurikulum merdeka di kelas VII SMP Negeri
1 Pulosari. (2) mengidentifikasi dan mendeskripsikan kendala yang dihadapi guru
IPS dalam menanamkan karakter mandiri pada kurikulum merdeka di kelas VII
SMP Negeri 1 Pulosari. (3) Mengidentifikasi dan mendeskripsikan implementasi
karakter mandiri pada kurikulum merdeka pada peserta didik melalui pembelajaran
IPS pada kurikulum merdeka kelas VII SMP Negeri 1 Pulosari.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan
data dilakukan melalui observasi, wawancara terstruktur dan dokumentasi. Teknik
keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber serta tenik
analisis data yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian datam dan
penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Implementasi karakter mandiri pada
peserta didik melalui pembelajaran IPS dilakukan dengan menggunakan model
pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang dimulai dari perencanaan
pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran. (2) Pola asuh
keluarga dan lingkungan menjadi kendala yang harus dihadapi oleh guru IPS dalam
mengimplementasikan karakter mandiri pada peserta didik. (3) Implementasi
karakter mandiri melalui pembelajaran IPS pada peserta didik secara umum sudah
terlaksana dengan baik. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan indikator karakter
mandiri yang sudah dicapai oleh peserta didik seperti: percaya diri, bertanggung
jawab, mampu belajar sendiri, dan mampu mengambil keputusan
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA MANDIRI BERBAGI PADA PEMBELAJARAN IPS DI SMP NEGERI 3 CEPU KABUPATEN BLORA
Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui implementasi Kurikulum
merdeka mandiri Berbagi pada pembelajaran IPS di SMP N 3 Cepu; (2)
mengetahui proses adaptasi guru dalam pelaksanaan Implementasi Kurikulum
Merdeka Mandiri Berbagi pada pembelajaran IPS di SMP N 3 Cepu, (3)
mengetahui evaluasi terhadap Implementasi Kurikulum Merdeka Mandiri Berbagi
pada pembelajaran IPS di SMP N 3 Cepu.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan latar
penelitian di SMP Negeri 3 Cepu. Adapun fokus penelitian yaitu implementasi
kurikulum merdeka mandiri berbagi pada pembelajaran IPS, adaptasi guru pada
implementasi kurikulum merdeka mandiri berbagi pada pembelajaran IPS, dan
evaluasi kurikulum merdeka mandiri berbagi pada pembelajaran IPS di SMP
Negeri 3 Cepu.
Hasil penelitian menunjukkan Implementasi kurikulum merdeka mandiri
berbagi di SMP Negeri 3 Cepu didasari atas adanya kesiapan dan dorongan dari
berbagai pihak seperti pemerintah Kabupaten Blora, Dinas Pendidikan Kabupaten
Blora, serta dukungan guru-guru penggerak, calon guru penggerak, komite
sekolah, dan paguyuban SMP Negeri 3 Cepu. Meskipun demikian, pada
pembelajaran IPS, implementasi kurikulum tersebut masih menghadapi beberapa
kendala. Keterbatasan adaptasi teknologi di kalangan guru, terutama yang
mayoritas sudah memasuki usia pensiun, menyebabkan kegiatan pembelajaran
cenderung monoton dengan dominasi metode ceramah. Akibatnya, fokus
pembelajaran terpusat pada guru dan bukan pada siswa. dalam proses adaptasinya
guru tidak melakukan penolakan atas kebijakan sekolah melainkan mendukung
dan sepakat untuk diimplementasikannya kurikulum merdeka mandiri berbagi di
SMP Negeri 3 Cepu pada pembelajaran IPS. Kemudian dilakukan evaluasi
pelaksanaan kurikulum melalui evaluasi diri dalam forum in house training. Hasil
evaluasi menunjukkan adanya hambatan bagi guru yang sudah tua terkait dengan
penggunaan teknologi baik yang mendukung administrasi ataupun proses
pembelajaran. Untuk itu guru akan mengupayan perbaikan diri untuk terlibat
dalam kegiatan MGMP guna mendukung peningkatan kemampuan pedagogis dan
adaptasi teknologi dalam pembelajaran IPS di kela
PENGEMBANGAN MODUL AJAR DAN LKPD DIGITAL TERINTEGRASI ETNO-STEM BERBASIS MODEL COOPERATIVE LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF DAN PEMECAHAN MASALAH PESERTA DIDIK
Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam proses pembelajaran adalah
bagaimana meningkatkan kemampuan berpikir pada abad ke-21, tidak hanya
untuk peserta didik yang memiliki kemampuan akademik rendah tetapi juga
peserta didik dengan kemampuan akademik yang tinggi. Penelitian ini bertujuan
untuk menghasilkan modul ajar dan LKPD digital serta karakteristinya dan
menganalisis kelayakan, keefektifan serta respon peserta didik setelah
menggunakan modul ajar dan LKPD digital terintegrasi etno-STEM berbasis
model cooperative learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan
pemecahan masalah peserta didik. Jenis penelitian ini merupakan penelitian
pengembangan atau RnD dengan desain penelitian model 4D, yang mencakup
tahapan Define, Design, Development, dan Disseminate. Subyek dalam penelitian
ini adalah kelas XI MIPA 2 di SMA Islam Al-Falah Kota Jambi. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa (1) telah dihasilkan modul ajar dan LKPD digital terintegrasi
etno-STEM berbasis model cooperative learning dengan karakteristik modul ajar
yang dikembangkan sebagai berikut: esensial, menarik, relevan dan konstektual
serta berkesinambungan (2) hasil validasi modul ajar, ahli materi dan media
LKPD digital diperoleh dengan kategori sangat layak, serta hasil uji coba
keterbacaan diperoleh persentase sebesar 84% dengan kategori sangat layak (3)
produk efektif digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan
pemecahan masalah peserta didik berdasarkan hasil N-gain yaitu sebesar 0,45 dan
uji t diperoleh nilai signifikansi < 0,05 sehingga produk dinyatakan efektif, (4)
LKPD digital berpengaruh untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan
pemecahan masalah peserta didik, berdasarkan hasil persentase skor yang
diperoleh dengan kriteria sangat layak. Berdasarkan hasil penelitian tersebut,
maka dapat disimpulkan bahwa modul ajar dan LKPD digital terintegrasi etno-STEM berbasis model cooperative learning dapat meningkatkan kemampuan
berpikir kreatif dan pemecahan masalah peserta didik
Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Ditinjau dari Self Confidence pada Pembelajaran Model Problem Based Learning
Kemampuan pemecahan masalah matematis merupakan salah satu standar kemampuan matematika
yang penting untuk dikuasai oleh siswa. Namun, jika dilihat dengan kenyataan di lapangan kemampuan
pemecahan matematis siswa di Indonesia masih tergolong rendah. Oleh karena itu diperlukan suatu
model pembelajaran yang dapat menumbuhkembangkan kemampuan pemecahan masalah matematis
siswa, salah satunya yaitu model pembelajaran problem based learning. Tujuan penelitian ini adalah
untuk menginterpretasikan kajian mengenai kemampuan pemecahan masalah matematis siswa ditinjau
dari self confidence dalam model pembelajaran PBL. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah studi literatur yang dilakukan dengan menganalisis artikel-artikel sebelumnya yang sesuai
dengan topik. Teknik analisis data yang dilakukan melalui tiga tahapan yaitu mengorganisasi,
menyintesis, dan mengidentifikasi. Hasil studi menunjukkan bahwa pembelajaran model problem based
learning inovatif untuk menumbuhkembangkan kemampuan pemecahan masalah matematis, serta
terdapat pengaruh self confidence siswa terhadap kemampuan pemecahan masalah matematisnya.
Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui bagaimana kemampuan pemecahan masalah
matematis siswa ditinjau dari self confidence dalam model pembelajaran problem based learning