Universitas Negeri Semarang Repository
Not a member yet
    64027 research outputs found

    OPTIMASI MODEL RANDOM FOREST MENGGUNAKAN RANDOM FOREST FEATURE SELECTION DAN SMOTE-ENN RESAMPLING UNTUK PREDIKSI CHURN PELANGGAN PADA SEKTOR TELEKOMUNIKASI

    No full text
    Lestari, Apri Dwi. 2024. Optimasi Model Random Forest Menggunakan Random Forest Feature Selection dan SMOTE-ENN Resampling untuk Prediksi Churn Pelanggan Pada Sektor Telekomunikasi. Skripsi, Program Studi Teknik Informatika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang. Pembimbing Dr. Alamsyah, S. Si., M. Kom. Kata kunci: Prediksi Churn, Sektor Telekomunikasi, RFFS, SMOTE-ENN, Optimasi Masalah terkait dukungan pelanggan dan kepuasan layanan menyebabkan fenomena perpindahan pelanggan yang disebut customer churn. Pada industri telekomunikasi yang sangat kompetitif, retensi pelanggan dianggap sebagai strategi yang paling tepat untuk mempertahankan perusahaan dan meningkatkan pendapatan. Oleh karena itu, pendekatan dengan memprediksi kemungkinan churner dapat diterapkan untuk menentukan strategi retensi yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan model prediksi customer churn menggunakan algoritma Random Forest yang dioptimasi dengan mengimplementasikan RFFS dan SMOTE-ENN. Dataset yang digunakan adalah dataset Telco Customer Churn yang berisi 7043 data dan 20 fitur. Setelah melalui tahap RFFS, terpilih 4 fitur terpenting yang akan digunakan pada model klasifikasi dengan sebelumnya dilakukan resampling data menggunakan SMOTE-ENN. Hasil evaluasi kinerja model menggunakan confusion matrix menunjukkan bahwa pengujian yang menerapkan rasio data splitting sebesar 90:10 untuk training dan testing data merupakan model yang paling optimal dalam memprediksi customer churn dengan nilai akurasi, presisi, recall, dan F1 score adalah 96,79%, 95,38%, 98,93%, dan 96,86%. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan metode baru dalam memprediksi kemungkinan churner dan non-churner menggunakan model machine learning sehingga perusahaan telekomunikasi dapat menentukan strategi retensi pelanggan yang efektif

    PENGARUH KEPEMIMPINAN MELAYANI DAN KOMPETENSI CHIEF EXECUTIVE OFFICER MELALUI MOTIVASI TERHADAP KINERJA GURU KEJURUAN

    No full text
    Susiloningtyas R. 2024. Pengaruh Kepemimpinan Melayani dan Kompetensi Chief Executive Officer melalui motivasi terhadap kinerja guru kejuruan. Disertasi, Manajemen Kependidikan Pascasarjana Universitas Negeri Semarang. Promotor Prof. Fathur Rokhman, M.Hum, Ko. Promotor Prof. Dr. Eko Handoyo, M.Si, Anggota Promotor Prof. Dr. Arief Yulianto, M.M. Kata kunci: Kepemimpinan Servant Leadership, Kompetensi Leadership, Motivasi, Kinerja Guru kejuruan, upskiling-reskilling Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja guru melalui kepemimpinan servant leadership dan kompetensi Chief Executive Officer (CEO), dengan harapan berkontribusi pada peningkatan kualitas sekolah menuju SMK Pusat Keunggulan. Fokusnya adalah mengkaji pengaruh langsung kepemimpinan servant leadership dan kompetensi CEO terhadap kinerja guru kejuruan, serta peran motivasi dan pusat pemberdayaan kegiatan guru (upskilling dan reskilling) sebagai variabel mediasi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Populasi penelitian diambil menggunakan rumus Slovin. Penelitian dilakukan pada Lembaga Pendidikan Maarif dengan sampel sebanyak 100 guru kejuruan. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner dengan skala Likert, dan hipotesis diuji menggunakan Path Analysis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepemimpinan melayani dan kompetensi CEO berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi, dengan signifikansi masing-masing 0.000 dan 0.041. Motivasi juga berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru (0.000), mengindikasikan bahwa peningkatan motivasi meningkatkan kinerja guru. Secara tidak langsung, kepemimpinan melayani dan kompetensi CEO mempengaruhi kinerja melalui motivasi, dengan pengaruh masing-masing sebesar 0.572 dan 0.268. Kepemimpinan melayani lebih efektif dalam memengaruhi motivasi, sementara kompetensi CEO lebih berpengaruh pada pusat pemberdayaan kegiatan guru. Motivasi terbukti sebagai mediator yang lebih kuat dalam hubungan antara kepemimpinan melayani dan kompetensi CEO terhadap kinerja guru, dengan koefisien determinasi masing-masing 57.27% dan 26.81%. Sebaliknya, pusat pemberdayaan guru hanya memediasi hubungan antara kompetensi CEO dan kinerja guru (32.5%), dan tidak efektif memediasi hubungan antara kepemimpinan melayani dan kinerja guru (-0.1%). Simpulan penelitian ini adalah motivasi sebagai mediasi dalam meningkatkan kinerja guru kejuruan. Implikasi dari hasil ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan kinerja guru, diperlukan fokus pada penguatan motivasi melalui kepemimpinan yang melayani dan kompetensi CEO, serta pemberdayaan guru melalui program upskilling dan reskilling

    PENGEMBANGAN MODEL PENINGKATAN KOMPETENSI SUMBER DAYA APARATUR DESA BERBASIS REKOGNISI PEMBELAJARAN LAMPAU

    No full text
    Rohman, Arief. 2024. “Pengembangan Model Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Aparatur Desa Berbasis Rekognisi Pembelajaran Lampau”. Disertasi. Program Studi Doktor Manajemen Pendidikan. Sekolah Pascasarjana. Universitas Negeri Semarang. Promotor Prof. Dr. Zaenuri, M.Si., Akt., Ko-promotor Prof. Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum., Anggota Kopromotor Prof. Dr. Muhammad Khafid, S.Pd., M.Si. Kata Kunci: Rekognisi Pembelajaran Lampau, Model Pembelajaran, Kompetensi Kerja, Experiential learning, Kinerja Aparatur Desa Aparatur desa memiliki peran urgen dalam membangun perekonomian desanya namun sayangnya belum ditunjang dengan kompetensi yang memadahi. Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis dan menemukan model peningkatan sumber daya pemerintah desa saat ini dilaksanakan; 2) menganalisis dan menemukan model pengembangan model hipotetik peningkatan sumber daya pemerintah desa; 3) menganalisis keefektivan, efisiensi dan kepraktisan model tersebut. Penelitian ini didesain menggunakan penelitian pengembangan dengan pendekatan kualitatif dengan riset berbasis perencanaan (Design Based Research/DBR) yang meliputi 3 tahapan yaitu 1) Tahap analisis permasalahan praktis; 2) Tahap Pengembangan Model; dan 3) Tahap Evaluasi Model. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dokumentasi, wawancara, kuesioner kebutuhan, angket persepsi stake holder, lembar validasi, serta lembar kegiatan FGD. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Model faktual belum menerapkan manajemen peningkatan kompetensi yang holistik dan kontinu,; 2) Model hipotesis peningkatan kompetensi sumber daya aparatur desa berbasis Rekognisi Pengelaman Lampau yang terdiri dari komponen manajemen yaitu: input, proses, output dan outcome dimana untuk proses terdiri dari aspek perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, dan rencana tindaklanjut yang dilengkapi dengan proses monitoring ealuasi sebagai model untuk mengelola peningkatan kompetensi sumber daya aparatur desa berbasis Rekognisi Pengelaman Lampau; 3) Hasil keefektifan menunjukkan ada perbedaan persepsi kompetensi dari Sebelum mengikuti program RPL dan saat mengikuti program RPL. Selain itu dari sisi efisiensi dan kepratisan model tersebut efisien dan praktis untuk diterapkan. Penelitian ini membuktikan bahwa Model Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Aparatur Desa Berbasis Rekognisi Pembelajaran Lampau terbukti efektif dalam meningkatkan Kompetensi Aparatur Desa. Oleh karena itu, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) perlu memastikan secara detail kesesuaian antara kompetensi yang dibutuhkan pada masing-masing perangkat desa dan perlu mengembangkan sistem program peningkatan kompetensi yang tepat. Perguruan tinggi Kerjasama perlu melakukan matching kurikulum, Evaluasi penyelenggaran program RPL ini juga perlu dilakukan secara periodik

    PELAYANAN PONDOK PESANTREN DALAM IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSI DI PONDOK PESANTREN INKLUSI NURUL MAKSUM TEMBALANG SEMARANG

    No full text
    Wiliyanto, Nanda Rizki. (2024). “Pelayanan Pondok Pesantren dalam Implementasi Pendidikan Inklusi di Pondok Pesantren Inklusi Nurul Maksum Tembalang Semarang”. Tesis. Magister Program Studi Administrasi Pendidikan Sekolah Pascasarjana. Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I Prof. Dr. Suwito Eko Pramono, M.Pd., Pembimbing II Dr. Sungkowo Edy Mulyono, S.Pd., M.Si. Kata Kunci: Pendidikan Inklusi, Pelayanan, Sarana Prasarana, SDM Permendiknas Nomor 70 tahun 2009 mengatur dan menjamin Pendidikan Inklusi. Maka dari itu Negara bertanggung jawab untuk menyediakan pendidikan berkualitas tinggi kepada semua warganya, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan kemampuan atau berkebutuhan khusus. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pelayanan dalam implementasi pendidikan inklusi. Mekanisme penerapan pendidikan inklusi, serta SDM dan sarana prasarana dalam implementasi pendidikan inklusi. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif dengan fokus penelitian pelayanan dan implementasi pendidikan inklusi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi, dan dokumentasi di Pondok Pesantren Inklusi Nurul Maksum Semarang yang merupakan Pesantren Inklusi. Analisis dilakukan untuk mendapatkan kesimpulan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan dalam implementasi pendidikan inklusi terdiri dari layanan pembelajaran, layanan ekstrakurikuler, fasilitas dan kepemimpinan melayani. Dalam mekanisme penerapan pendidikan inklusi terdapat komponen-komponen yang perlu diperhatikan seperti, kurikulum, sarana prasarana, evaluasi belajar, dan tenaga pendidik. Kendala yang dihadapi yaitu terbatasnya referensi dan sarana prasarana penunjang implementasi pendidikan inklusi. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dalam pelayanan implementasi pendidikan inklusi perlu memperhatikan beberapa komponen penting agar penerapan pendidikan inklusi dapat berjalan maksimal. Komponen-komponen dalam penerapan pendidikan inklusi terdiri dari fleksibilitas kurikulum, tenaga pendidik, sarana prasarana, evaluasi pembelajaran dan manajemen. Dalam mewujudkan pendidikan inklusi perlu dikaji dan dievaluasi dengan teliti. Referensi dalam penerapan pendidikan inklusi perlu dikaji lebih dalam. Terdapat beberapa indikator masih kurang maksimalnya pelaksanaan pendidikan inklusi yang disebabkan oleh beberapa faktor penting

    PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES ESSAI HIGHER ORDER THINKING SKILL (HOTS) MATA PELAJARAN MATEMATIKA SMA KELAS X DAN ANALISISNYA MENGGUNAKAN MODEL RASCH

    No full text
    Putri, Bella Safira Fiyali. 2021. “Pengembangan Instrumen Tes Essai Higher Order Thinking Skill (HOTS) Mata Pelajaran Matematika SMA kelas X dan Analisisnya Menggunakan Model Rasch”. Tesis.Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan.Pascasarjana.Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I Prof. Dr. Kartono, M.Si., Pembimbing II Prof. Supriyadi, M. Si. Kata Kunci: tes, essai, HOTS, rasch Instrumen tes essai yang dikembangkan akan menumbuhkan kemampuan pengetahuan, sikap, berpikir logis, sistematis, kritis, analitis, dan berketerampilan sosial peserta didik. Guru dapat menggunakan dalam melakukan evaluasi proses pembelajaran Matematika. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menyusun spesifikasi instrumen tes essai, (2) Mengetahui validitas isi dan reliabilitas intereter instrumen tes essai, (3) Mengetahui validitas kriteria dan konstruk instrumen tes essai (4) Mengetahui karakteristik butir instrumen tes essai yang mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi mata pelajaranMatematika kelas X yang dianalisis menggunakan Model Rasch. Penelitian ini menggunakan penelitian pengembangan dengan prosedur penyusunan tes milik Djemari Mardapi.Penyusunan tes pada penelitian ini dimodifikasi dan disisipi tahap Formative Evaluation Tessmer.Validitas isiinstrumen diuji oleh 3 ahli.Butir soal yang dikembangkan diujicobakan kepada 36 peserta didik kelas kecil serta 150 peserta didik kelas besar.Pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik wawancara, dokumentasi dan kuesioner.Data dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Instrumen tes essai HOTS pada pelajaran Matematika kelas X yang dikembangkan menghasilkan 10 butir terstandar yang dilengkapi pembahasan dan pedoman penskoran. Instrumen tes ini telah duji validitas isi, validitas konstruk, reliabilitas interrater dan reliabilitas dengan model Rasch. Instrumen tes telah memenuhi validitas isi dengan expert judgement yang dibuktikan dengan perolehan indeks kesepakatan (indeks Aiken) yang berada pada rentang angka 0.50 hingga 1.00. Nilai raw variance pada analisisvaliditas konstruk model Rasch adalah 28.5% yang memenuhi kriteria validitas. Nilai varians yang tidak dapat dijelaskan kurang dari 10% yaitu berturut-turut1.8; 1.7; 1.4; 1.3 dan 1.1yang menunjukkan bahwa unidimensionalitas dalam isntrumen masuk dalam kategori baik. Instrumen tes mempunyai angka reliabilitas sebesar 0.93 yang berada pada kategori sangat tinggi. Selain itu, menghasilkan 10 butir soal yang telah memenuhi seluruh karakteristik item berdasarkan Model Rasch.Outputpada analisis model Rasch memperlihatkan informasi yang saling terkait dan saling menguatkan. Simpulannya bahwa instrumen tes essai HOTS Matematika yang dikembangkan teruji valid dan reliabel serta memiliki karakteristik yang memadai

    THE EFFECTIVENESS OF ONLINE FLIPPED CLASSROOMS AND OFFLINE CONVENTIONAL CLASSROOMS IN ENHANCING STUDENTS’ PUBLIC SPEAKING ACHIEVEMENT CONTINGENT ON HIGH, MEDIUM, AND LOW LEVELS OF CRITICAL THINKING SKILLS

    No full text
    Leni Irianti. 2024. The Effectiveness of Online Flipped Classrooms and Offline Conventional Classrooms in Enhancing Students’ Public Speaking Achievement Contingent on High, Medium, and Low Levels of Critical Thinking Skills. Dissertation. Promotor: Prof. Dr. Abdurrachman Faridi, M.Pd., Co-Promotor: Dr. Hendi Pratama, MA., Member of Promotor: Prof. Dr. Suwandi, M.Pd. Keywords: public speaking, flipped classroom, conventional classroom, levels of critical thinking The teaching model at the undergraduate level is considered important to enhance students’ competence. This present research aims to elaborate on the difference in student achievement in public speaking classes through two different teaching models: flipped classroom and conventional classroom. Additionally, a recent study aims to provide insight into a new learning atmosphere in language classes with flipped classrooms, the comparison between the flipped classroom and conventional classroom teaching models to enhance students’ competence in public speaking class, to show the students perceive regarding teaching models, and to elaborate the learning process applied by the lecturer in public speaking class. The researcher applied a mixed-method explanatory research design to justify the research problems. Moreover, the data was gathered through pre-test and post- test, observation, and an interview with 36 participants. Data analysis was divided into two categories, quantitative and qualitative. The quantitative data employed a t-test for paired sample, N-gain score, one-way ANOVA test, and two-way ANOVA test. Qualitative data analysis was drawn upon the flip observation checklist and interview. Reasons for applying for flipped classrooms discussed in this research include a desire to enhance students’ performance in public speaking, access to better teaching and learning processes, and offer better learning opportunities for the students. Barriers to the learning process discussed in this research include the amount of time one must dedicate to the students and the lack of preparation for the vii process of acquiring knowledge. Other themes include the effects of critical thinking on students’ achievement in flipped classrooms, different public speaking achievements between flipped classrooms and conventional classrooms, and interaction among critical thinking, teaching models, and students’ achievement in public speaking classes. These findings indicate the need for a new teaching model for lecturers in language classes applying flipped classrooms, as well as the need for students to prepare their speech in public speaking class before performing it in front of the audience. In conclusion, the online flipped classroom is more successful than the offline conventional classroom in learning public speaking class. Secondly, considering the first conclusion aforesaid, there are some implications and suggestions for English Lecturers, students, and universities. English lecturers can apply flipped learning in public speaking classes to enhance the students’ achievement. The well-prepared flipped classroom to teach public speaking is very valuable for the learners to improve their ability to communicate in front of an audience. Learners can rehearse their presentation at home, choose suitable vocabulary, and build their confidence before the public speaking class begins. The suggestions to the English lecturers and students related to the results and findings of this research. The lecturers need to give more motivation to the students so that they can succeed in understanding the materials and making a good speech so they can put their thoughts in. Educators also need to support the learners to acquire a high level of critical thinking to be more active in the classroom

    PATOLOGI SOSIAL DALAM NOVEL-NOVEL KARYA SUSAN ARISANTI DAN RELEVANSINYA DENGAN KENYATAAN SOSIAL

    No full text
    Nugroho, Dede. I. W. 2024. ”Patologi Sosial dalam Novel-Novel Karya Susan Arisanti dan Relevansinya dengan Kenyataan Sosial. Tesis. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I Prof. Dr. Agus Nuryatin, M.Hum., Pembimbing II Dr. Nas Haryati Setyaningsih, M.Pd. Kata Kunci: Patologi Sosial, Novel, Sosiologi Sastra, Kenyataan Sosial Karya sastra pada dasarnya merupakan gambaran tentang bagaimana kenyataan sosial dikembangkan oleh pengarang ke dalam bentuk karya sastra. Salah satu bentuk karya sastra yang digemari oleh pembaca adalah novel. Novel- novel karya Susan Arisanti dipilih karena cerita yang disuguhkan menarik karena menceritakan kondisi sosial masyarakat di kelompok masyarakat tertentu dan terdapat adanya dugaan terjadinya fenomena patologi sosial di dalamnya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis bentuk, faktor penyebab, dan dampak terjadinya patologi sosial dalam novel-novel karya Susan Arisanti serta menganalisis relevansi patologi sosial dalam novel-novel karya Susan Arisanti dengan kenyataan sosial. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologi sastra. Desain penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah novel-novel karya Susan Arisanti yang berjudul Yang Ternoda; Luka yang Kau Tinggal Senja Tadi; Tsani & Athaya; Sangiang Pandita. Data penelitian ini adalah penggalan teks dalam novel berupa kata, frasa, atau kalimat yang diduga mengandung bentuk-bentuk, faktor penyebab, dan dampak patologi sosial. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik heuristik. Teknik analisis data menggunakan teknik hermeneutik. Hasil pada penelitian ini adalah ditemukan bentuk-bentuk patologi sosial dalam novel-novel karya Susan Arisanti di antaranya adalah (1) kejahatan/ kriminalitas; (2) prostitusi; (3) perjudian; (4) korupsi; (5) kekalutan mental; (6) kenakalan remaja. Faktor penyebab terjadinya patologi sosial dalam novel-novel karya Susan Arisanti adalah (1) faktor penyebab kejahatan/ kriminalitas yaitu faktor internal dan eksternal; (2) faktor penyebab prostitusi yaitu obsesi dan keadaan keluarga yang tidak baik; (3) faktor penyebab perjudian yaitu faktor situasinonal seperti tekanan dari linkungan sekitar; (4) faktor penyebab korupsi yaitu kebutuhan atau need; (5) faktor penyebab kekalutan mental yaitu cara pematangan batin yang salah sehingga muncul rasa dikhianati; (6) faktor penyebab kenakalan remaja yaitu tidak bisanya kontrol diri, pembawaan negatif, dan kurangnya pengawasan dari orang tua maupun guru. Dampak terjadinya patologi sosial dalam novel-novel karya Susan Arisanti adalah (1) dampak tejadinya kejahatan/ kriminalitas yaitu terjadinya konflik seperti perkelahian, munculnya sikap curiga, kerugian secara materiel berupa hancurnya bangunan, hilangnya rasa saling percaya, proses hukum, kerugian non materiel berupa gangguan fisik dan psikis; (2) dampak prostitusi yaitu rusaknya sendi-sendi v kehidupan keluarga; (3) dampak perjudian yaitu kondisi ekonomi tidak stabil, dan kesehatan mental terganggu; (4) dampak korupsi yaitu dipenjara dan bekerja secara tidak profesional; (5) dampak kekalutan mental yaitu rasa sakit hati; (6) dampak kenakalan remaja yaitu tumbuh menjadi pribadi buruk, pemberontak, dan merasa dikucilkan lingkungan. Patologi sosial yang ditemukan dalam novel-novel karya Susan Arisanti relevan dengan kenyataan sosial. Relevansi patologi sosial dalam novel-novel karya Susan Arisanti dengan kenyataan sosial dengan acuan pemberitaan patologi sosial sebelum karya satra dalam bentuk novel yang digunakan sebagai objek penelitian diterbitkan, tempat tinggal pengarang yaitu di Provinsi Lampung maupun secara lebih luas lagi yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti berharap penelitian ini dapat menambah wawasan baru terkait fenomena patologi sosial dalam novel dan saran bagi peneliti sselanjutnya dapat dijadikan sebagai rujukan atau pembanding untuk melakukan penelitian selanjutnya dengan mengubah fokus masalah penelitian atau objek penelitian yang digunakan

    DEKONTRUKSI OPOSISI BINER TOKOH DALAM NOVEL PUTRI KARYA PUTU WIJAYA

    No full text
    Nurhamidah, 2024. ”Dekontruksi Oposisi Biner Tokoh dalam Novel Putri karya Putu Wijaya”. Tesis. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Pascasarjana. Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I Dr. Mukh Doyin, M.Si., Pembimbing II Dr. Nas Haryati Setyaningsih, M.Pd. Kata Kunci: dekontruksi, oposisi biner, tokoh & penokohan, inkonsistensi logis tokoh Novel "Putri" karya Putu Wijaya merupakan sebuah karya sastra yang menggambarkan dekontruksi oposisi biner melalui karakter-karakter yang ada dalam cerita. Dalam novel ini, Putu Wijaya menghadirkan tokoh-tokoh yang kompleks dan multidimensional, yang tidak bisa dikategorikan secara sederhana dalam dua kutub yang berlawanan. Tokoh "Putri" sebagai pusat narasi, menggambarkan peran perempuan yang tidak terbatas pada stereotip tradisional. Ia menunjukkan bagaimana identitas gender dan peran sosial dapat berinteraksi dan berubah seiring dengan situasi dan konteks yang dihadapi. Selain itu, Putu Wijaya juga menyoroti dinamika kekuasaan, moralitas, dan kebenaran melalui tokoh-tokoh yang memiliki ambiguitas moral dan motivasi yang beragam. Dengan pendekatan ini, Putu Wijaya berhasil mendekonstruksi pemahaman konvensional tentang oposisi biner seperti laki-laki dan perempuan, kuat-lemah, tua-muda, serta mengajak pembaca untuk melihat kompleksitas manusia dan realitas sosial dengan perspektif yang lebih kritis dan mendalam. Penelitian ini hanya berfokus pada analisis tokoh dan penokohan, oposisi biner tokoh dan penokohan, dan inkosistensi logis tokoh dan penokohan dalam cerita. tokoh dan penokohan yang dianalisis tidak semuanya, akan tetapi berfokus pada tokoh utama dan tokoh pendukung utama yang memengaruhi alur cerita pada tokoh utama. Penelitian ini menggunakan pendekatan dekontruksi sastra dengan jenis penelitian kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode pembacaan semiotik heuristik sedangkan untuk menganalisisnya menggunakan metode pembacaan semiotik hermeneutik. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa kata-kata, kalimat, atau kutipan yang diduga mengandung oposisi biner. Sumber data penelitian ini yaitu novel Putri buku pertama dan buku kedua karya Putu Wijaya yang diterbitkan oleh PT Pustaka Utama Grafiti tahun 2004. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu buku catatan, laptop, sticky note, bolpoin, pensil, data seluler, dan tabel pengumpul data. Data yang sudah dikumpulkan kemudian direduksi antara teks dan konteks yang relevan dengan rumusan masalah, kemudian dianalisis, diinterpretasi, dan disimpulkan. Prosedur penelitian meliputi tahap awal persiapan, pelaksanaa, dan tahap akhir penyelesaian. Hasil penelitian 1) tokoh utama dalam novel Putri karya Putu Wijaya adalah Putri. tokoh pendukung utama yaitu Mangku Puseh, Nelly, Oka, Ngurah Wikan, dan Sueti. Putri digambarkan sebagai wanita sederhana dan cantik, dengan watak lugu, penyayang dan lemah lembut, pemberani, rasional, dan cerdas, tegas, tenang, bijaksana, serta tegar dan kuat deigambarkan dengan teknik ekspositori dan vii dramatik 2) oposisi biner dalam novel Putri karya Putu Wijaya yaitu oposisi biner tokoh utama vs tokoh pendukung, laki-laki vs perempuan, oposisi biner tua vs muda, oposisi biner dewasa vs anak-anak, oposisi biner kaya vs miskin, oposisi biner rasonal vs irasional, 3) inkonsistensi logis tokoh dan penokohan dalam novel Putri karya Putu Wijaya tampak pada tokoh utama yaitu Putri, Mangku Puseh dan Ngurah Wikan. Bentuk inkonsistensi tersebut berupa tindakan tokoh yang tidak relevan dengan penggambaran pada beberapa bagian novel yang mengalami perubahan karakter tokoh. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat diberikan penulis yaitu bahwa hasil penelitian dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran dekontruksi sastra dalam karya sastra, bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan fokus pada aspek lain dari dekontruksi seperti analisis tematik dan gaya bahasa untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif, bagi pendidik, hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi dalam penyusunan materi ajar yang memfokuskan pada analisis karakter melalui dekontruksi untuk mendorong kemampuan berpikir kritis siswa

    KUALITAS PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERDIFERENSIASI KURIKULUM MERDEKA PADA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN

    No full text
    Setiani, Hasnah. 2024. “Kualitas Pembelajarn Bahasa Indonesia Berdiferensiasi Kurikulum Merdeka pada Sekolah Menengah Kejuruan”. Tesis. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Fakultas Bahasa dan Seni. Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I Prof. Dr. Ida Zulaeha, M. Hum., Pembimbing II Dr. Deby Luriawati Naryatmojo, M.Pd. Kata Kunci: berdiferensiasi, konteks, input, proses, produk Kurikulum Merdeka menjadi revolusi pendidikan yang lebih inklusif untuk mewujudkan sumber daya manusia pada era digital abad ke-21 dengan optimalisasi kemampuan digitalisasi, berpikir kritis, komunikatif, serta kolaboratif. Kurikulum Merdeka fokus pada kemerdekaan peserta didik dalam mengembangkan Soft Skill dan karakter yang terimplementasikan melalui pembelajaran berdiferensiasi sebagai proses belajar beragam sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat peserta didik. Kedudukan mata pelajaran bahasa Indonesia sebagai fondasi dari kemampuan literasi (berbahasa dan berpikir) yang ditujukan untuk keterampilan komunikasi sosial masyarakat. Pembelajaran berdiferensiasi bahasa Indonesia Sekolah Menengah Kejuruan diwujudkan untuk mencapai tujuan pendidikan, kompetensi lulusan, dan mempersiapkan masyarakat era digital. Penelitian dilakukan untuk menilai kualitas pembelajaran bahasa Indonesia berdiferensiasi pada Sekolah Menengah Kejuruan menggunakan model evaluasi CIPP pada aspek konteks, input, proses, dan produk pembelajaran. Pendekatan penelitian adalah evaluatif dengan metode kuantitatif deskriptif dan kualitatif. Populasi dan sampel adalah kelas X Desain Komunikasi Visual 1 di SMK Negeri 11 Semarang, kelas X Boga 2 di SMK Negeri 6 Semarang, dan kelas X Akuntansi 3 di SMK Negeri 9 Semarang. Sumber data penelitian yaitu wawancara dengan Waka Kurikulum, Pendidik, peserta didik, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman dan teknik penskoran ratting scale. Kualitas konteks pembelajaran bahasa Indonesia berdiferensiasi di SMK N 6 Semarang, SMK N 9 Semarang, dan SMK N 11 Semarang telah dilaksanakan untuk semua kondisi ideal dengan perolehan skor rata-rata 67% pada empat indikator yaitu (1) visi, misi, tujuan satuan pendidikan serta tujuan pembeljaran berdiferensiasi bahasa Indonesia, (2) Pengorganisasian pembelajaran bahasa Indonesia berdiferensiasi, (3) Pendampingan, evaluasi, dan pengembangan profesional. Kualitas input pembelajaran bahasa Indonesia berdiferensiasi di SMK N 6 Semarang, SMK N 9 Semarang, dan SMK N 11 Semarang telah dilaksanakan untuk semua kondisi ideal dengan perolehan skor rata-rata 75% pada indikator (1) kompetensi guru bahasa Indonesia, (2) sarana dan prasarana pembelajaran bahasa vii Indonesia berdiferensiasi, (3) karakteristik dan dukungan orang tua terhadap peserta didik, dan (4) aset peserta didik dalam keterampilan bahasa dan apresiasi sastra. Kualitas proses pembelajaran bahasa Indonesia berdiferensiasi di SMK N 6 Semarang, SMK N 9 Semarang, dan SMK N 11 Semarang telah dilaksanakan untuk semua kondisi ideal dengan perolehan skor rata-rata 33%, untuk satu kondisi tidak dilaksanakan memperoleh skor rata-rata 36%, dan dua kondisi tidak dilaksanakan memperoleh skor rata-rata 9% pada indikator (1) perencanaan pembelajaran bahasa Indonesia berdiferensiasi, (2) pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia berdiferensiasi, dan (3) asesmen pembelajaran bahasa Indonesia berdiferensiasi. Kualitas produk pembelajaran bahasa Indonesia berdiferensiasi di SMK N 6 Semarang, SMK N 9 Semarang, dan SMK N 11 Semarang telah dilaksanakan untuk semua kondisi ideal dengan perolehan skor rata-rata 80%. Produk pembelajaran bahasa Indonesia telah memenuhi indikator (1) hasil belajar kompetensi pengetahuan pembelajaran bahasa Indonesia berdiferensiasi, (2) hasil belajar kompetensi keterampilan pembelajaran bahasa Indonesia berdiferensiasi, (3) hasil penguatan profil pelajar Pancasila, (4) kompetensi yang dibutuhkan menghadapi era digital, dan (5) dampak pembelajaran. Rekomendasi penelitian untuk perbaikan dan pengembangan pembelajaran bahasa Indonesia berdiferensiasi diberikan untuk setiap aspek yaitu konteks, input, proses, dan produk

    KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DITINJAU DARI KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA PADA MODEL PROBLEM BASED LEARNING BERBANTUAN E-MODUL

    No full text
    Maghfiroh, Khikmatul. 2024. “Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Ditinjau dari Kemandirian Belajar Siswa pada Model Problem Based Learning Berbantuan E-Modul”. Tesis. Program Studi Magister Pendidikan Matematika. Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I Dr. Dwijanto, M.S., Pembimbing II Dr. rer.nat. Adi Nur Cahyono, M.Pd. Kata Kunci: Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika, Problem Based Learning, Kemandirian Belajar, E-modul. Kemampuan pemecahan masalah matematika merupakan salah satu kemampuan yang dibutuhkan siswa untuk menyelesaikan permasalahan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Namun, faktanya kurangnya perhatian guru terhadap kemandirian belajar siswa menyebabkan rendahnya kemampuan pemecahan masalah siswa, sehingga diperlukan pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yaitu dengan implementasi model problem based learning berbantuan e-modul. Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis keefektifan model problem based learning berbantuan e-modul dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika; (2) memperoleh deskripsi kemampuan pemecahan masalah matematika berdasarkan kemandirian belajar siswa pada model problem based learning berbantuan e-modul. Penelitian ini termasuk penelitian mixed method sequential explanatory design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Muhammadiyah 2 Bobotsari di kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Instrument penelitian yang digunakan adalah soal kemampuan pemecahan masalah matematika, angket kemandirian belajar, dan angket respon siswa. Analisis data kuantitatif dengan statistika parametrik uji ketuntasan rata-rata, uji proporsi, uji beda rata-rata, uji beda proporsi, dan uji regresi sederhana. Analisis data kualitatif dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pembelajaran menggunakan model problem based learning berbantuan e-modul efektif untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika; (2) siswa dengan kemandirian belajar tinggi cenderung mampu memenuhi seluruh indikator; siswa dengan kemandirian belajar sedang mampu memenuhi tiga indikator namun ada pula yang mampu memenuhi seluruh indikator, siswa dengan kemandirian belajar rendah mampu memenuhi dua hingga tiga indikator. Indikator yang banyak dipenuhi oleh siswa dari berbagai kategori kemandirian belajar adalah indikator kedua yaitu menyelesaikan masalah secara sistematis dan melibatkan matematika di konteks lain, serta indikator ketiga yaitu menerapkan dan mengadopsi macam strategi yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Berdasarkan hasil penelitian, setiap siswa memiliki kemandirian belajar yang berbeda berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa, sehingga perlu diperhatikan lebih mengenai kemandirian belajar siswa selama pembelajaran

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Universitas Negeri Semarang Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇