Universitas Negeri Semarang Repository
Not a member yet
64027 research outputs found
Sort by
REGISTER PETANI MELATI DI DESA SIDOREJO KECAMATAN GRINGSING KABUPATEN BATANG: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK
Setiap kelompok masyarakat berkesempatan untuk melahirkan bahasa yang
berbeda dari kelompok masyarakat lain. Hal tersebut yang menjadikan setiap
kelompok masyarakat memiliki bahasa khusus yang menarik untuk diteliti seperti
register dalam bidang pertanian melati di Desa Sidorejo Kecamatan Gringsing
Kabupaten Batang.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) menjelaskan bentuk dan makna register
petani melati di Desa Sidorejo Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang. (2)
menjelaskan fungsi register petani melati di Desa Sidorejo Kecamatan Gringsing
Kabupaten Batang.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deksriptif kualitatif dengan
pendekatan sosiolinguistik. Data dalam penelitian ini berupa penggalan tuturan
masyarakat petani melati di Desa Sidorejo yang diduga mengandung register.
Data diperoleh dengan menggunakan metode simak berupa teknik simak libat
cakap (SLC) dan metode cakap berupa teknik cakap semuka, teknik rekam, dan
teknik catat. Teknik keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber dan
triangulasi metode. Metode dan teknik analisis data yang digunakan yaitu metode
padan subjenis referensial dan translasional dengan teknik dasar PUP dan teknik
lanjutan berupa HBB. Selain itu, digunakan pula metode agih dengan teknik dasar
BUL dan teknik lanjutan berupa teknik perluas. Adapun metode penyajian hasil
analisis data menggunakan metode formal dan informal.
Berdasarkan penelitian, ditemukan hasil terkait dengan bentuk dan makna,
serta fungsi register petani melati di Desa Sidorejo Kecamatan Gringsing
Kabupaten Batang. Bentuk register petani melati terdiri atas dua yaitu bentuk
register selingkung terbuka (28 data) dan selingkung terbatas (10 data). Fungsi
register petani melati terdiri atas enam yaitu fungsi referensial, konatif, emotif,
fatis, metalingual, dan puitis.
Dari hasil penelitian tersebut, saran yang dapat peneliti berikan 1) peneliti
yang akan datang hendaknya melakukan penelitian lebih lanjut dengan cakupan
yang lebih luas, misalnya mengkaji penggunaan register dalam kelompok petani
melati dengan kajian linguistik lain seperti dialektologi maupun semantik, 2) bagi
masyarakat disarankan agar terus mempertahankan dan melestarikan penggunaan
register khusus yang sudah menjadi bagian dari identitas sosial serta budaya
masyarakat
PENGEMBANGAN E-MODUL BERBASIS SOCIO-SCIENTIFIC ISSUES (SSI) PADA MATERI KESETIMBANGAN BENDA TEGAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN LITERASI SAINS PESERTA DIDIK
Pada abad ke-21, literasi sains merupakan salah satu keterampilan yang
perlu dikuasai oleh peserta didik. Hasil studi PISA 2022 menyatakan bahwa literasi
sains peserta didik Indonesia masih rendah. Pembelajaran dengan menggunakan
konten Socio-Scientific Issues (SSI) dapat menunjang kemampuan literasi sains
peserta didik dan menghasilkan pembelajaran yang bermakna. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui kelayakan, keefektifan, dan kepraktisan e-modul
dalam meningkatkan kemampuan literasi sains peserta didik. Penelitian ini
termasuk dalam penelitian Research & Development (R&D) dengan model
pengembangan ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, and
Evaluate). Pada tahap implementasi, desain eksperimen yang digunakan yaitu pre
experimental design dengan pendekatan one group pretest-posttest design yang
melibatkan 35 peserta didik XI-5 SMAN 3 Tegal sebagai subjek penelitian melalui
teknik purposive sampling. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah
lembar validasi ahli, tes literasi sains, dan angket respon. Analisis data
menggunakan skala likert dan analisis N-gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
e-modul yang dikembangkan valid dan layak digunakan dalam pembelajaran
dengan skor validitas sebesar 92% dengan V hitung 0,92 pada aspek materi serta
95% dengan V hitung 0,95 pada aspek media, keduanya termasuk dalam kategori
“sangat layak” dan diinterpretasikan dalam kriteria Valid. Hasil uji coba
penggunaan e-modul memperoleh rata-rata skor N-gain sebesar 0,51 dengan
kategori peningkatan “sedang”. E-modul memperoleh persentase kepraktisan dari
respon peserta didik sebesar 83% dengan kategori “sangat praktis” sehingga mudah
digunakan dalam pembelajaran. E-modul berbasis SSI yang dikembangkan
memenuhi kriteria valid, efektif, dan praktis untuk meningkatkan literasi sains
peserta didik
KEABSAHAN KEPEMILIKAN HAK MEREK TERHADAP GAMBAR GRAFIS HASIL GENERATIVE ARTIFICIAL INTELLIGENCE YANG DIDAFTARKAN SEBAGAI MEREK DI INDONESIA
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI),
khususnya Generative AI (Gen AI), telah menghadirkan tantangan baru dalam
sistem hukum kekayaan intelektual, terutama terkait hak cipta dan hak merek. Gen
AI memungkinkan terciptanya konten grafis secara otomatis tanpa keterlibatan
kreatif manusia secara langsung, termasuk logo yang kini banyak digunakan dalam
aktivitas komersial. Fenomena ini menimbulkan persoalan hukum terkait
keabsahan perlindungan hukum atas karya yang dihasilkan oleh Gen AI, baik dari
sisi hak cipta sebagai ekspresi kreatif maupun sebagai objek merek dagang.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah gambar grafis hasil Gen AI
dapat memperoleh perlindungan hak moral atas ciptaannya berdasarkan regulasi
yang berlaku di Indonesia serta menganalisis keabsahan pendaftarannya sebagai
merek dagang di Indonesia berdasarkan kerangka hukum yang berlaku.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan
pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui studi pustaka terhadap peraturan
perundang-undangan, literatur hukum, serta studi perbandingan hukum
internasional. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis guna memahami
bagaimana hukum di Indonesia mengatur atau belum mengatur mengenai karya
hasil AI, khususnya terkait aspek orisinalitas dan ekspresi kepribadian pencipta
sebagai syarat perlindungan hak cipta, serta sistem first to file dalam perlindungan
hak merek.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambar grafis hasil Gen AI belum
memenuhi syarat perlindungan hak cipta karena tidak mencerminkan ekspresi
kepribadian manusia berdasarkan pada prinsip kekayaan intelektual dimana sebuah
ide bukanlah sesuatu yang dapat dilindungi hak ciptanya. Begitu juga, dari sudut
pandang hukum merek, gambar grafis tersebut tidak dapat didaftarkan karena telah
tidak melanggar ketentuan Pasal 20 UU Merek. Diperlukan regulasi khusus untuk
mengisi kekosongan hukum dan memberikan kepastian hukum atas karya berbasis
Gen AI.
Adapun simpulan dari penelitian ini adalah gambar grafis hasil dari Gen AI
tidak dapat dilindungi oleh hak cipta berdasarkan regulasi yang ada. Gambar grafis
hasil Gen AI ini juga tidak dapat didaftarkan sebagai merek di Indonesia karena
memenuhi Pasal 20 huruf f Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek
dan Indikasi Geografis yaitu gambar tersebut milik umum (public domain). Maka
dari itu perlu adanya regulasi khusus terkait dengan penggunaan Gen AI dan perlu
juga ada pengecekan lebih mendetail terkait dengan pembuat logo tersebut
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEMILIK TANAH AKIBAT PENGGESERAN TANDA BATAS TANAH DALAM PEMBANGUNAN PAGAR
Permasalahan tanah, khususnya terkait batas kepemilikan, kerap
menimbulkan konflik di masyarakat. Salah satu bentuk konflik tersebut adalah
penggeseran tanda batas tanah secara sepihak yang menyebabkan pelanggaran
terhadap hak atas tanah pihak lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
faktor-faktor penyebab terjadinya penggeseran tanda batas tanah dalam
pembangunan pagar serta mengkaji bentuk perlindungan hukum yang dapat
diberikan kepada pemilik tanah yang dirugikan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif
dengan jenis penelitian yuridis empiris. Data dikumpulkan melalui observasi,
wawancara dengan pemilik tanah yang menjadi korban dan perangkat desa yang
terlibat dalam penyelesaian sengketa, dan dokumentasi di lokasi penelitian yang
berada di Dusun Penjalinan, Desa Sidorejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten
Madiun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggeseran tanda batas tanah
disebabkan oleh faktor nonhukum serta kurangnya pemahaman masyarakat tentang
akibat dari mengganggu batas tanah orang lain. Faktor penyebab utama
penggeseran tanah batas tanah adalah adanya pembangunan infrastruktur seperti
pagar yang dilakukan oleh pemilik tanpa melakukan pengukuran yang tepat dengan
tidak memperhatikan batas lahan yang sudah tertera pada sertipikat. Perlindungan
hukum yang diberikan oleh pemerintah desa melalui mediasi dan pengukuran ulang
tanah belum sepenuhnya memuaskan pemilik tanah yang dirugikan. Pemerintah
desa memiliki peran strategis dalam menangani sengketa batas tanah melalui upaya
administratif yang bersifat preventif maupun solutif. olaborasi antara masyarakat,
pemerintah desa, dan lembaga pertanahan sangat diperlukan untuk menciptakan
sistem penyelesaian konflik yang efektif
PENGUKURAN TINGKAT KEPUASAN PENGGUNA APLIKASI WONDR BERDASARKAN ASPEK USABILITY MENGGUNAKAN METODE NIELSEN'S ATTRIBUTES OF USABILITY (NAU) DAN END USER COMPUTING SATISFACTION (EUCS)
Mobile banking adalah layanan perbankan berbasis internet yang memungkinkan
nasabah mengakses akun dan melakukan transaksi secara real-time melalui ponsel,
sehingga mempermudah dan meningkatkan efisiensi layanan, seperti yang telah
diterapkan oleh banyak bank, termasuk Bank BNI. Pada Juli 2024 lalu, BNI telah
meluncurkan aplikasi baru yaitu Wondr by BNI yang bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan transaksi nasabah. Dari 29 ribu ulasan di play store aplikasi ini
mendapatkan respon positif dari pengguna dengan rata-rata rating yang cukup baik,
namun sejumlah pengguna mengeluhkan beberapa kendala usability (kemudahan
penggunaan) yang mana berkaitan dengan tingkat kepuasan pengguna. Selain itu,
beberapa pengguna membandingkan Wondr by BNI dengan versi sebelumnya dan
merasa pengalaman pengguna kurang memuaskan yang akan berdampak pada
penggunaan berkelanjutan dan loyalitas pengguna pada aplikasi tersebut.
Berdasarkan uraian tersebut, dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
variabel-variabel yang mempengaruhi kepuasan (satisfaction) dalam menggunakan
aplikasi Wondr by BNI di Semarang. Pada penelitian ini menggunakan metode
kuantitatif dan menerapkan model Nielsen's Attributes of Usability (NAU) dan End
User Computing Satisfaction (EUCS). Pengumpulan data dilakukan dengan
melalui penyebaran kuesioner melalui Google Form. Target responden dalam riset
ini adalah individu berusia 17-50 tahun yang merupakan pengguna aktif dan
berpengalaman dalam bertransaksi melalui aplikasi Wondr by BNI yang berada di
Semarang. Sebanyak 430 data berhasil dikumpulkan melalui kuesioner kemudian
dilakukan screening data untuk mengetaui data outlier. Setelah dilakukan
screening data didapatkan data bersih sebesar 410 yang kemudian dianalisis
menggunakan teknik Partial Least Squares-Structural Equation Model (PLS-SEM)
dengan software SmartPLS 4. Hasil analisis mengungkapkan bahwa 9 dari 12
hipotesis penelitian didukung, sementara 3 lainnya tidak. Temuan utama penelitian
ini adalah bahwa memorability (kemudahan mengingat) dan akurasi secara
signifikan mempengaruhi tingkat kepuasan pengguna aplikasi Wondr by BNI.
Lebih lanjut, kepuasan pengguna juga terbukti secara signifikan mempengaruhi niat
keberlanjutan penggunaan dan loyalitas pengguna terhadap aplikasi. Tingkat
akurasi aplikasi merupakan elemen krusial yang menentukan kepuasan pengguna.
Selanjutnya, kepuasan pengguna ini menjadi faktor penting yang memengaruhi
apakah mereka akan terus menggunakan atau memanfaatkan aplikasi Wondr by
vi
BNI. Temuan dari penelitian ini memberikan wawasan berharga bagi para
pengembang aplikasi
PENGARUH HARGA, LOKASI DAN KUALITAS LAYANAN TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN DENGAN LOYALITAS KONSUMEN SEBAGAI VARIABEL MODERASI (Studi Kasus Pada Konsumen Bakso Sera Simo)
Bakso Sera Simo adalah tempat kuliner yang terletak di Jl. Bangak – Simo,
Kebayan 3, Pelem, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah dimana
tempat bakso ini menawarkan tidak hanya satu atau dua menu melainkan lebih dari
90 menu menarik diantaranya bakso tumpeng Merapi, bakso beranak dan menu
pilihan lainnya. Dipilihnya Bakso Sera Simo sebagai objek penelitian bertujuan
untuk mengetahui tingkat kepuasan konsumen terhadap harga, lokasi dan kualitas
layanan yang diberikan, selain itu harapannya penelitian ini dapat dijadikan
evaluasi bagi pemilik Bakso Sera Simo kedepannya. Tujuan dalam penelitian ini
adalah untuk menganalisis harga, lokasi, dan kualitas layanan terhadap kepuasan
konsumen dengan loyalitas konsumen sebagai variabel moderasi.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain
eksplanatif. Populasi dalam penelitian ini tidak diketahui pastinya. Dengan
menggunakan rumus Lemeshow maka jumlah sampel yang digunakan sebanyak
100 konsumen Bakso Sera Simo yang dipilih melalui teknik nonprobability
sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Metode
analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dan analisis regresi
linear berganda serta untuk menguji moderasi menggunakan uji Moderated
Regression Analysis (MRA).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel harga, lokasi dan kualitas
layanan berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kepuasan konsumen di
Bakso Sera Simo. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) Harga berpengaruh
signifikan terhadap kepuasan konsumen. (2) Lokasi berpengaruh signifikan
terhadap kepuasan konsumen. (3) Kualitas layanan berpengaruh signifikan
terhadap kepuasan konsumen. (4) Loyalitas konsumen tidak mampu memengaruhi
harga terhadap kepuasan konsumen di Bakso Sera Simo. (5) Loyalitas konsumen
tidak mampu memengaruhi lokasi terhadap kepuasan konsumen di Bakso Sera
Simo. (6) Loyalitas konsumen mampu memengaruhi kualitas layanan terhadap
kepuasan konsumen di Bakso Sera Simo
Saran dari peneliti untuk Bakso Sera Simo untuk mempertahankan loyalitas
konsumen memengaruhi kualitas layanan terhadap kepuasan konsumen, yang
artinya apabila kualitas layanan yang diberikan kurang memuaskan akan membuat
kepuasan konsumen menurun dan juga kurangnya loyalitas konsumen. Dengan hal
ini pentingnya Bakso Sera Simo untuk memperhatikan keandalan, daya tanggap,
jaminan, empati, dan bukti fisik guna meningkatkan kepuasan konsumen dan
kesetiaan konsumen pada Bakso Sera Simo
PRARANCANGAN DESAIN MIXER PADA PABRIK SABUN CAIR ECOZYM DARI ECO-ENZYME DENGAN KAPASITAS 850 kL/TAHUN
Permintaan akan produk kebersihan diri yang praktis dan ramah lingkungan semakin
meningkat seiring dengan tingginya mobilitas masyarakat dan kesadaran akan bahaya
bahan kimia sintetis. Ecozym hadir sebagai inovasi sabun cair tanpa bilas berbasis ecoenzyme hasil fermentasi limbah kulit buah, dikombinasikan dengan minyak kemiri,
citronellal, decyl glucoside, dan akuades. Produk ini terbukti efektif menghambat
pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan telah meraih minat pasar sebesar
90,5% dari 63 responden. Namun, proses produksi skala rumah tangga yang masih
manual memerlukan transformasi ke skala industri. Oleh karena itu, penelitian ini
bertujuan untuk merancang sistem mixer dalam proses produksi sabun cair Ecozym
dengan kapasitas 850 kL/tahun. Metode yang digunakan meliputi perhitungan neraca
massa, neraca panas, pemilihan jenis pengaduk, dimensi alat, serta analisis teknis dan
ekonomis. Hasil rancangan menunjukkan bahwa mixer jenis silinder tegak dengan atap
torispherical dengan menggunakan impeler tipe propeller 3 bilah dan 4 baffle
menghasilkan pola aliran aksial yang optimal untuk homogenisasi cairan dengan
viskositas rendah. Mixer dirancang memiliki volume 0,12876 m³ dan volume kerja
0,103008 m³. Dengan operasi pada suhu 28°C, tekanan 1 atm, dan bahan konstruksi
Carbon Steel SA-283 Grade C, desain ini memenuhi standar keamanan dan efisiensi.
Prarancangan mixer mendukung skala produksi industri yang berkelanjutan dan layak
diterapkan untuk pengembangan usaha Ecozym di masa depan
RELEVANSI KURIKULUM HASIL PENYELARASAN BERSAMA DUNIA USAHA DUNIA INDUSTRI (DU/DI) PADA PROGRAM KELAS INDUSTRI POLYTRON DENGAN KURIKULUM SMK NEGERI 2 PATI
Tingginya tingkat pengangguran lulusan SMK menunjukkan adanya
ketidaksesuaian antara kurikulum sekolah dan kebutuhan dunia usaha/dunia
industri (DU/DI). Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan penyelarasan kurikulum
melalui program kelas industri, salah satunya oleh SMK Negeri 2 Pati bekerja sama
dengan PT. Hartono Istana Teknologi (Polytron). Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis relevansi kurikulum hasil penyelarasan kelas industri Polytron dengan
kurikulum SMK Negeri 2 Pati, khususnya pada program keahlian Teknik Audio
Video (TAV). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan
teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model
Miles dan Huberman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuan kurikulum hasil penyelarasan
cukup sesuai dengan kompetensi industri, meskipun masih perlu penguatan pada
aspek soft skills. Isi kurikulum telah disinkronkan, namun pemutakhiran materi
belum optimal. Proses pembelajaran mengintegrasikan praktik industri, tetapi
masih terkendala sarana dan tenaga pendidik. Evaluasi pembelajaran berbasis
kompetensi telah diterapkan, namun belum sepenuhnya terintegrasi antara sekolah
dan industri. Secara keseluruhan, kurikulum kelas industri menunjukkan relevansi
yang baik, tetapi masih memerlukan penyempurnaan agar lebih responsif terhadap
dinamika kebutuhan industri
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM GAME TOURNAMENT TERHADAP HASIL BELAJAR IPS KELAS VII DI SMP NEGERI 30 SEMARANG
Model pembelajaran kooperatif merupakan sebuah rencana yang digunakan
oleh guru sebagai pedoman dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, yang
dilakukan dengan membentuk kelompok kecil untuk menyelesaikan atau
mengerjakan sesuatu agar mencapai tujuan bersama. Permasalahan yang terjadi
pada proses pembelajaran IPS di SMP Negeri 30 Semarang khususnya pada kelas
VII adalah rendahnya hasil belajar peserta didik, hal itu disebabkan oleh beberapa
hal seperti motivasi belajar peserta didik rendah karena persepsi peserta didik
terhadap mata pelajaran IPS yang cenderung hafalan dan sulit dimengerti, antusias
belajar peserta didik rendah, model pembelajaran yang digunakan kurang variatif
karena guru masih dalam memilih model pembelajaran yang tepat dan sesuai
dengan kebutuhan peserta didik, proses pembelajaran tidak disisipkan media
pembelajaran yang interaktif. Adanya pelaksanaan model pembelajaran Team
Game Tournament (TGT) ini diharapkan dapat memberikan kemudahan peserta
didik dalam memahami materi dan meningkatkan minat belajar dan antusias belajar
IPS sehingga nantinya dapat berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh model pembelajaran
Team Game Tournament (TGT) terhadap hasil belajar IPS kelas VII.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian
eksperimen. Desain penelitian yang digunakan adalah Quasi Experimental Design
tipe Nonequivalent Control Group Design. Populasi penelitian ini adalah peserta
didik kelas VII di SMP Negeri 30 Semarang. Sampel yang dipilih sebanyak dua
kelas yaitu kelas VII B sebagai kelas eksperimen dan kelas VII G sebagai kelas
kontrol dengan jumlah total 64 peserta didik. Teknik pengambilan sampelnya
menggunakan purposive sampling yaitu memilih kelas yang memiliki nilai rata-rata
yang tidak terpaut jauh antara kedua kelas, sehingga dianggap memiliki
karakteristik yang sama (homogen). Teknik pengumpulan data pada penelitian ini
menggunakan tes pilihan ganda sebanyak 15 soal yang dibagikan kepada kelas
eksperimen dan kelas kontrol.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar peserta didik pada kelas
eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Hal itu ditunjukkan
dari data hasil belajar peserta didik pada kelas eksperimen dengan nilai mean
sebesar 74,19. Sedangkan hasil belajar di kelas kontrol dengan nilai mean sebesar
65,47. Pada pengujian hipotesis menggunakan uji Mann-Whitney yaitu uji hipotesis
non-paramterik dikarenakan data tidak berdistribusi normal diperoleh hasil asym.
Sig. (2-tailed) sebesar 0,45 yang artinya lebih kecil daripada 0,05 sehingga dalam
penelitian ini Ho ditolak dan Ha dapat diterima. Maka dapat disimpulkan bahwa
terdapat pengaruh setelah diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe Team
Game Tournament (TGT) terhadap hasil belajar IPS peserta didik kelas VII di SMP
Negeri 30 Semarang
IMPLEMENTASI PROJEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA DALAM PEMBELAJARAN IPS KELAS VII DI SMP NEGERI 9 SEMARANG
Kurikulum Merdeka merupakan kebijakan pendidikan yang dirancang
sebagai bentuk upaya lembaga pendidikan dalam memperbaiki kondisi pendidikan
yang memburuk akibat pandemi, serta mengejar ketertinggalan pendidikan
Indonesia dengan negara-negara lain. Struktur dalam Kurikulum Merdeka terdiri
dari berbasis kompetensi, pembelajaran yang fleksibel, dan karakter Pancasila.
Berdasarkan struktur tersebut, Kurikulum Merdeka memiliki beberapa program
untuk mendorong tercapainta tujuan pendidikan Indonesia. Salah satu bagian
penting dalam Kurikulum Merdeka adalah P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar
Pancasila).
P5 merupakan program dalam Kurikulum Merdeka yang bertujuan untuk
meningkatkan karakter dan kompetensi peserta didik yang sesuai dengan profil
pelajar Pancasila. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi P5 dalam
pembelajaran IPS khusunya kelas VII di SMP Negeri 9 Semarang. Penelitian ini
menggunakan metode kualitatif, dengan teori yang digunakan yaitu teori belajar
konstruktif. Fokus penelitian mencakup implementasi P5, integrase 6 indikator P5
dalam pembelajaran, serta identifikasi faktor pendorong dan penghambat
implementasi P5 dalam pembelajaran IPS di SMP Negeri 9 Semarang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1.) melalui Permendikbudristek
Nomor 12 Tahun 2024, implementasi P5 di SMP Negeri 9 Semarang berjalan
lancar dengan dukungan penuh dari pihak sekolah, termasuk penyediaan fasilitas,
pelatihan guru, dan keterlibatan orang tua. 2.)
Implementasi P5 dalam
pembelajaran IPS dilakukan dengan mengintegrasikan 6 indikator P5, yaitu
beriman dan bertaqwa pada Tuhan YME dan berakhlak mulia, berkebhinekaan
global, mandiri, gotong-royong, berpikir kritis, dan kreatif. Penilaian P5 dalam
pembelajaran IPS menjadi bagian dari penilaian sikap. 3.) Faktor pendorong
keberhasilan implementasi P5 dalam pembelajaran IPS meliputi dukungan dari
manajemen sekolah, sarana dan prasaran yang mendukung proses pembelajaran,
sumber daya materi yang cukup dan antusiasme peserta didik. Namun, terdapat
beberapa faktor penghambat, seperti kebijakan dan regulasi yang kerap berubah,
resistensi akan perubahan, keterbatasan pengetahuan dan keterampilan guru,
motivasi belajar peserta didik yang berbeda, dan manajemen waktu yang kurang
efektif. Meski demikian, implementasi P5 dalam pembelajaran IPS memberikan
kesempatan bagi guru untuk medorong peserta didik agar dapat belajar melalui
pengalaman pribadi dan interaksi sosial. Dengan implementasi P5, peserta didik
dapat mengembangkan keterampilan sesuai profil pelajar Pancasila