Universitas Negeri Semarang Repository
Not a member yet
    64027 research outputs found

    THE INFLUENCE OF THE USE OF VIDEO MEDIA IN IMPROVING STUDENTS' ABILITY IN PRONOUNCING FRICATIVE CONSONANTS

    No full text
    Pronunciation is a vital component in English language learning, as it affects learners' ability to communicate clearly and effectively. Among the most problematic sounds for Indonesian students are English fricative consonants such /f/, /v/, /θ/, /ð/, /s/, /z/, /ʃ/, /ʒ/, and /h/., which are often mispronounced due to their absence in the learners’ first language. This study aims to examine the influence of video media—particularly YouTube-based materials featuring native speakers—on students’ ability to pronounce English fricative consonants. This research was conducted at SMAN 1 Sumber, Rembang, using a quasi-experimental design with a Nonequivalent Control Group. The participants included 40 tenth-grade students, divided into two groups: XE4 as the experimental group and XE2 as the control group. Both groups were given a pre-test to assess their initial pronunciation skills. The experimental group then received treatment through video instruction focusing on fricative pronunciation, while the control group followed regular classroom instruction without multimedia support. After the treatment, both groups took a post-test to measure any changes in performance. The analysis of the test results revealed that the experimental group showed significant improvement. The average pre-test score for this group was 47.85, which rose to 86.3 in the post-test. In contrast, the control group only improved slightly, from 47.85 to 50.25. These findings suggest that video media are highly effective in enhancing pronunciation skills, especially for fricative consonants that are often challenging for EFL learners. The videos also increased student motivation and engagement, making pronunciation practice more enjoyable and meaningful.Several factors influencing pronunciation were also identified, including first language interference, limited vocabulary knowledge, and reliance on English spelling for pronunciation. The visual and auditory combination offered by video media helped reduce these barriers, offering clearer pronunciation models than text-based instruction alone. The study concludes that videos, especially those featuring native English speakers, are effective tools in teaching pronunciation. Their engaging nature, combined with authentic pronunciation input, makes them suitable for classroom use, particularly in contexts with limited access to native speakers or natural English environments. This research offers practical implications for EFL teachers and curriculum developers. Teachers are encouraged to incorporate accessible platforms like YouTube into their lessons, and educational institutions should consider adopting multimedia materials to support pronunciation instruction. Future studies could expand this research by exploring the long-term effects of video use or applying similar methods to other types of consonants and vowels

    KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS DITINJAU DARI GAYA BELAJAR SISWA KELAS VIII PADA PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DENGAN BERBANTUAN LKPD

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan model pembelajaran Problem Based Learning dengan berbantuan LKPD terhadap kemampuan berpikir kritis matematis siswa, dan juga mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis matematis siswa dilihat dari gaya belajar para siswa. Jenis penelitian yang digunakan yaitu mixed method dengan desain sequential explanatory bentuk posttest-only. Pemilihan sampel dari populasi dilakukan menggunakan teknik random sampling. Sementara itu, subjek penelitian pada penelitian kualitatif dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes, angket, dan wawancara. Analisis data kuantitatif meliputi uji normalitas dan homogenitas, uji rata-rata dan uji proporsi. Adapun analisis data kualitatif meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Indikator kemampuan berpikir kritis matematis dalam penelitian ini, yaitu (1) tahap klarifikasi; (2) tahap asesmen; (3) tahap penyimpulan; (4) tahap strategi. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa (1) rata-rata kemampuan berpikir kritis matematis siswa kelas eksperimen telah mencapai lebih dari 75; (2) proporsi siswa tuntas pada kelas eksperimen mencapai lebih dari 75%; (3) rata rata kemampuan berpikir kritis matematis siswa kelas eksperimen lebih baik dari pada siswa kelas kontrol dan (4) proporsi siswa tuntas pada kelas eksperimen lebih dari proporsi siswa tuntas pada kelas kontrol. Sementara itu, diperoleh bahwa gaya belajar visual belum optimal dalam memenuhi indikator kemampuan berpikir kritis matematis. Siswa hanya mampu memenuhi indikator 1, 2, dan 3. Sementara pada indikator 4 siswa tidak mampu memenuhi indikator tersebut. Sedangkan untuk gaya belajar auditorial belum optimal dalam memenuhi indikator kemampuan berpikir kritis matematis. Siswa hanya mampu memenuhi indikator 1, 2, dan 3. Sementara pada indikator 4 siswa tidak mampu memenuhi indikator tersebut. Sedangkan untuk gaya belajar kinestetik mampu memenuhi seluruh indikator kemampuan berpikir kritis matematis dengan baik. Siswa dapat memenuhi indikator 1, 2, 3, dan 4 secara optimal

    PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME) BERBANTUAN VIDEO PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS PESERTA DIDIK

    No full text
    Penelitian ini bertujuan 1) menganalisis tingkat kelayakan bahan ajar berbasis RME berbantuan video pembelajaran ; 2) menganalisis tingkat keterbacaan bahan ajar berbasis RME berbantuan video pembelajaran 3) menganalisis keefektifitas bahan ajar berbasis RME berbantuan video pembelajaran; 4) mendeskripsikan respons peserta didik terhadap bahan ajar berbasis RME berbantuan video pembelajaran pada materi sistem persamaan linear dua variabel. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan Research & Development (R&D) dengan model 3D yaitu define, design, and develop. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh peserta didik kelas VIII di SMP Negeri 10 Semarang. Sampel dalam penelitian ini dilakukan menggunakan teknik pengambilan sampel secara acak yang diperoleh kelas VIII-B yang berjumlah 30 peserta didik. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan angket dan memberikan tes berupa pretest dan posttest. Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan uji kelayakan, uji keterbacaan, uji keefektifan yang dilakukan dengan uji peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis dan uji respons peserta didik. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kelayakan bahan ajar berbasis RME berbantuan video pembelajaran pada materi sistem persamaan linear dua variabel mendapat persentase sebesar 83,69% dengan kriteria layak. Tingkat keterbacaan bahan ajar berbasis RME berbantuan video pembelajaran pada materi sistem persamaan linear dua variabel mendapat persentase sebesar 93,53% dengan kriteria mudah dipahami peserta didik. Hasil uji efektifitas bahan ajar berbasis RME berbantuan video pembelajaran dengan nilai sig. (.000) < 0,05 maka terdapat perbedaan signifikan dan respons peserta didik terhadap bahan ajar berbasis RME berbantuan video pembelajaran sebesar 93,5% dengan kriteria sangat baik yang berarti bahan ajar tersebut sangat baik digunakan oleh peserta didik dalam proses pembelajara

    PROFIL KONDISI FISIK ATLET SOFTBALL PUTRI U-23 KLUB GOLDEN FROG KABUPATEN GROBOGAN TAHUN 2024

    No full text
    Olahraga softball merupakan olahraga yang menekankan pada kondisi fisik atlet seperti sangat menekankan pada 10 komponen kondisi fisik meliputi daya tahan, kekuatan, kecepatan, daya ledak otot, kelentukan, koordinasi, fleksibilitas, keseimbangan, ketepatan, dan reaksi. Sebagai salah satu syarat keberhasilan dalam softball, memiliki kondisi fisik yang prima sangatlah penting. Namun demikian, untuk mengetahui tingkat kebugaran fisik yang dimiliki para atlet, diperlukan suatu profil kondisi fisik sebagai acuan. Profil ini berguna untuk mengidentifikasi komponen mana yang perlu ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi profil kondisi fisik atlet softball putri U-23 klub Golden Frog Kabupaten Grobogan tahun 2024. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan subjek penelitian sebanyak 12 atlet softball putri U-23 Klub Golden Frog Kabupaten Grobogan. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan teknik tes dan pengukuran presentase dengan skor kondisi fisik secara keseluruhan menggunakan SPSS versi. Hasil dari temuan penelitian menunjukkan: kecepatan (75%), koordinasi (42%), fleksibilitas (41%), dan ketepatan (58%) berkategori baik. Namun, variabel kekuatan (42%), daya ledak (50%), kelincahan (59%), keseimbangan (67%), reaksi gerak (84%), dan daya tahan (67%) masih perlu ditingkatkan karena mayoritas masuk pada kategori rendah. Simpulan dari penelitian ini: profil kondisi fisik berupa kecepatan, koordinasi, fleksibilitas dan ketepatan pada atlet dikategorikan baik, meski masih memerlukan perbaikan pada beberapa aspek berupa komponen kondisi fisik kekuatan otot, daya ledak, kelincahan, keseimbangan, reaksi gerak dan daya tahan. Untuk meningkatkan kinerja atlet secara menyeluruh, perlu adanya program pembinaan yang tepat sasaran pada variabel yang belum optimal

    PERBEDAAN HASIL PENGGUNAAN INTERFACING KUFNER DAN KAIN GULA PADA JAKET BOMBER BERBAHAN TENUN LURIK

    No full text
    Kain tenun lurik sebagai wastra tradisional Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan produk busana modern seperti jaket bomber. Salah satu faktor penentu kualitas jaket bomber adalah penggunaan interfacing yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas jaket bomber berbahan tenun lurik motif Hujan Gerimis dengan dua jenis interfacing, yaitu kufner dan kain gula. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis deskriptif eksploratif dan metode observasi melalui lembar pengamatan. Penilaian dilakukan oleh 23 panelis, terdiri dari 3 panelis ahli (dosen dan desainer) serta 20 panelis terlatih (mahasiswa). Data hasil observasi dianalisis menggunakan perhitungan statistik deskriptif yaitu persentase, untuk menggambarkan kualitas jaket bomber. Sampel terdiri dari dua jaket bomber tipe A-2 dengan interfacing kufner dan kain gula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaket dengan interfacing kufner memperoleh persentase sebesar 91,9% dengan kategori sangat berkualitas, sedangkan interfacing kain gula memperoleh persentase 82,5% dengan kategori berkualitas. Untuk mengurangi kekakuan pada jaket, disarankan memilih desain yang ergonomis serta menggunakan teknik jahit yang tidak menambah kekakuan, sehingga kenyamanan pemakaian dapat meningkat. Selain itu, untuk menjaga kehalusan permukaan jaket, sebaiknya memilih bahan tenun lurik dengan karakteristik yang lebih lembut dan lentur. Secara keseluruhan, interfacing kufner lebih direkomendasikan untuk menghasilkan jaket bomber berbahan tenun lurik dengan kualitas akhir yang lebih optimal

    PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MAJALAH FISIKA DILENGKAPI TEKNOLOGI AUGMENTED REALITY UNTUK MENINGKATKAN LITERASI SAINS PESERTA DIDIK PADA MATERI GELOMBANG CAHAYA

    No full text
    Era society 5.0, kemajuan teknologi komunikasi dan informasi membutuhkan kemampuan literasi sains dalam menjawab tantangan kehidupan bermasyarakat. Hasil survey PISA (Programme for International Student Assessment) pada tahun 2022 dapat disimpulkan bahwa peserta didik Indonesia memiliki kemampuan literasi sains pada level sederhana. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran majalah fisika untuk dinilai kelayakan serta keefektifannya dalam meningkatkan kemampuan literasi sains peserta didik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode R&D (Research and Development) dengan model pengembangan ADDIE yang terdiri dari tahapan Analyze (Analisis), Design (Analisis), Development (Perancangan), Implementation (Pelaksanaan), dan Evaluation (Evaluasi). Desain uji coba yang digunakan pada penelitian ini yakni pre-experimental one group pretest-posttest. Desain pada penelitian ini hanya melibatkan satu kelompok eksperimen peserta didik kelas XI-F4 SMAN 1 Pecangaan. Penelitian ini menghasilkan media pembelajaran majalah fisika dilengkapi teknologi augmented reality dengan muatan literasi sains untuk meningkatkan kemampuan literasi sains peserta didik pada materi gelombang cahaya. Majalah fisika dibuat dalam bentuk media cetak dengan ukuran kertas A4, terdapat 11 konten bacaan dengan muatan indikator literasi sains, dan empat konten augmented reality materi gelombang cahaya. Hasil penelitian memperoleh persentase kelayakan oleh ahli sebesar 0,86 dengan kategori “Sangat Layak” dan persentase capaian nilai N-gain sebesar 0,69 dengan kategori “Sedang”. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran majalah fisika dilengkapi teknologi augmented reality sangat layak digunakan sebagai media pembelajaran dan efektif meningkatkan kemampuan literasi sains peserta didik

    IMPLEMENTASI MEDIA PEMBELAJARAN AUGMENTED REALITY MELALUI APLIKASI ASSEMBLR EDU PADA MATERI BENCANA TANAH LONGSOR DI KELAS XI SMA NEGERI 1 BANDONGAN

    No full text
    Materi bencana tanah longsor membutuhkan praktik langsung dengan visualisasi dan ilustrasi nyata untuk meningkatkan pemahaman siswa yang lebih mendalam. Sehingga dalam pembelajarannya dibutuhkan media yang lebih interaktif dan menyenangkan seperti penggunaan teknologi Augmented Reality (AR) melalui aplikasi Assemblr Edu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pembuatan media, menganalisis implementasi media, dan menganalisis efektivitas media pembelajaran AR melalui aplikasi Assemblr Edu pada materi bencana tanah longsor di kelas XI SMA Negeri 1 Bandongan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif jenis eksperimen, desain penelitiannya menggunakan pre-eksperimental design dengan rancanagan one group pretest-postest design. Populasinya adalah siswa kelas XI yang mendapatkan peminatan Geografi. Sampel dipilih secara total sampling sehingga dipilih XI FC1 yang berjumlah 36 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, instrumen tes, kuesioner, dan dokumentesi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, uji normalitas data, uji T-test, dan uji N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwasannya siswa berhasil memahami materi bencana tanah longsor melalui media Augmented Reality melalui aplikasi Assemblr Edu (AR). Penggunaan media AR melalui aplikasi Assemblr Edu mendapat respon sangat baik dari siswa, dimana mayoritas siswa menyatakan setuju menggunakan media AR melalui aplikasi Assemblr Edu dengan perolehan skor secara keseluruhan sebesar 87%. Keefektivan guru masuk dalam kategori sangat baik dengan skor sebesar 97%. Statistik ketuntasan hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang sangat signifikan, dimana pada uji pre-test siswa yang tuntas sebesar 42% kemudian pada hasil post-test ketuntasan siswa naik menjadi 97%. Pengujian T-test memutuskan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan hasil belajar setelah menggunakan media AR melalui aplikasi Assemblr Edu. Hasil uji N-Gain menyatakan bahwa penggunaan media AR melalui aplikasi Assemblr Edu efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi bencana tanah longsor dengan perolehan skor 0,626 atau sebesar 62,6% tergolong kategori efektivitas sedang. Media pembelajaran Augmented Reality (AR) melalui aplikasi Assemblr Edu efektif digunakan dalam pembelajaran bencana tanah longsor. Disarankan media AR melalui aplikasi Assemblr Edu perlu dikembangkan dan diperbarui untuk memastikan bahwa fitur-fitur yang ada dapat memenuhi kebutuhan pembelajaran. Dan saat pembelajaran menggunakan media Augmented Reality melalui aplikasi Assemblr Edu, perlu dilakukan evaluasi dan pemantauan secara teratur untuk memastikan bahwa implementasinya dapat efisien dalam meningkatkan hasil belajar siswa

    PUTUSAN HAKIM PIDANA PENJARA SEUMUR HIDUP KASUS FERDY SAMBO DALAM PERSPEKTIF KEADILAN SOSIAL (STUDI PUTUSAN NOMOR 813 K/Pid/2023)

    No full text
    Kasus pidana pembunuhan berencana yang melibatkan pejabat penegak hukum yaitu Ferdy Sambo telah menjadi perhatian publik karena melibatkan aparat penegak hukum tingkat tinggi. Berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor 813 K/Pid/2023, pidana mati yang sebelumnya dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri diubah menjadi pidana penjara seumur hidup. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perdebatan publik mengenai keadilan dari putusan tersebut, mengingat ekspektasi masyarakat terhadap bentuk hukuman yang setimpal. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana pertimbangan hakim terhadap penjatuhan pidana penjara seumur hidup dalam kasus Ferdy Sambo, dan (2) bagaimana perspektif keadilan sosial terhadap putusan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian yuridis empiris. Data diperoleh melalui studi kepustakaan dan wawancara dengan hakim, jaksa, serta akademisi hukum. Selain itu, peneliti juga menggunakan instrumen angket untuk mengumpulkan pandangan masyarakat, khususnya dari kalangan mahasiswa dan ibu-ibu, terhadap keadilan sosial dalam putusan tersebut. Pendekatan triangulasi sumber digunakan untuk menjamin validitas data. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana penjara seumur hidup tidak hanya berdasarkan aspek yuridis seperti alat bukti dan fakta hukum, tetapi juga mempertimbangkan aspek non-yuridis seperti kondisi sosial terdakwa dan dampak terhadap masyarakat. Dari sisi keadilan sosial, mayoritas masyarakat masih menganggap putusan tersebut belum cukup mencerminkan keadilan sosial, meskipun sebagian lainnya menilai putusan tersebut sudah mencerminkan keadilan sosial. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa putusan pidana penjara seumur hidup terhadap Ferdy Sambo mencerminkan upaya \ud hakim untuk menyeimbangkan antara kepastian hukum dan keadilan sosial, meskipun mayoritas masyarakat masih merasa bahwa putusan tersebut masih belum mencerminkan keadilan sosial. Saran yang diberikan adalah perlunya transparansi dalam proses peradilan dan edukasi publik mengenai dasar pemidanaan, agar masyarakat tidak hanya menilai putusan dari berat ringannya sanksi, tapi juga dilandaskan pada prinsip-prinsip yang kompleks, tidak hanya pada aspek pembalasan semata

    KEBIJAKAN FORMULASI TRADING IN INFLUENCE SEBAGAI DELIK TINDAK PIDANA KORUPSI DI INDONESIA

    No full text
    Indonesia telah meratifikasi hasil konvensi UNCAC melalui UU No. 7 Tahun 2006, berarti Indonesia memiliki keharusan mengadopsi paradigma UNCAC kedalam hukum positif tentang tindak pidana korupsi. Sebagaimana telah termaktub bahwa terdapat kejahatan Trading in Influence sebagai delik yang di kriminalisasi, berbanding terbalik dengan keberadaan kasus tindak pidana korupsi di Indonesia yang berskema Trading in Influence ditangani menggunakan pasal suap dan gratifikasi, menunjukan tidak terkandungnya nilai Asas legalitas dan keadilan yang substantif dalam keberlakuan hukum pidana di Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian hukum yurisdis normatif menggunakan metode kualitatif melalui pengembangan kebijakan formulasi Trading in Influence dengan model pendekatan Undang-Undang, pendekatan kasus, dan pendekatan perbandingan. Triangulasi Teori digunakan sebagai metode validitas data dengan menyajikan data yang sederhana hingga ditariklah suatu kesimpulan. Trading in Influence merupakan delik yang berdiri sendiri dengan bentuk peluasan terhadap setiap unsurnya, melalui peluasan subjek, peluasan perbuatan melawan hukum dan peluasan nilai keuntungan yang diperoleh dari hasil tindak pidana. Pasal terkait suap dan gratifikasi tidak mengakomodir pemidanaan terhadap kasus trading in Influence karena memiliki unur yang berbeda. Negara yang mengadopsi trading in Influence sebagai bagian dari delik yang tertuang dalam hukum positifnya seperti prancis, belgia, dan spanyol mengkategorikan hukuman yang dijatuhkan sama seperti suap dan gratifikasi, walaupun demikian pasal-pasal di negara tersebut masih tidak memperhatikan pembagian pemidanaan antara pemeran aktif dan pasif trading in influence dan tidak mencantumkan peluasan unsur pengenaan pidana trading in influence sebagaimana yang dikriminalisasi oleh UNCAC. Penggunaan pasal suap dan gratifikasi mencederai nilai keadilan substantif serta menghilangkan nilai dari asas legalitas, sehingga dapat disimpulkan dalam upaya penyelesaian kasus tindak pidana korupsi berskema trading in influence dilakukan melalui upaya penal dengan membuat formulasi kebijakan hukum pidana, penerapan aturan serta pengeksekusian perkara, dan upaya non penal memalui advokasi masyarakat serta instansi pemerintahan yang rawan terjadi trading in influence, dapat pula menggunakan standar penyelenggaraan wilayah bebas trading in influence sebagai bentuk pencegahan. Sebagai saran diharapkan terjadi kolaborasi antara lembaga negara agar segera mengadopsi paradigma UNCAC keadalam hukum pidana Indonesia

    PROYEKSI PENGUATAN KERANGKA KELEMBAGAAN BAWASLU DALAM MENANGANI PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN KEPALA DAERAH YANG EFEKTIF DAN KONSTITUSIONAL

    No full text
    Perselisihan hasil Pemilihan masih menjadi tantangan krusial dalam menjaga integritas demokrasi di Indonesia. Mahkamah Konstitusi yang saat ini berwenang menyelesaikan perselisihan tersebut bukanlah lembaga yang dirancang secara konstitusional untuk menangani Perselisihan hasil Pemilihan. Dengan meningkatnya jumlah pemilihan di masa mendatang, terdapat potensi beban berlebih terhadap Mahkamah Konstitusi yang dapat mengancam kualitas putusan karena keterbatasan waktu dan sumber daya. Hal ini berimplikasi pada menurunnya kinerja hakim dalam menjaga prinsip keadilan elektoral dan efektivitas hukum, sehingga urgensi penguatan kerangka kelembagaan Bawaslu sebagai alternatif konstitusional dalam menangani Perselisihan hasil Pemilihan menjadi semakin relevan. Penelitian ini merumuskan masalah utama mengenai apa yang menjadi urgensi penguatan kerangka kelembagaan Bawaslu dalam menangani perselisihan hasil pemilihan kepala daerah serta bagaimana proyeksi penguatan tersebut dapat mendukung penanganan yang efektif dan konstitusional. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan jenis penelitian normatif serta dianalisis menggunakan teori negara hukum (rechtstaat), teori efektivitas hukum Soerjono Soekanto, teori keadilan pemilu dari IDEA serta teori kedaulatan rakyat J.J. Rousseau. Bahan hukum primer diperoleh melalui studi peraturan perundang-undangan, sedangkan bahan hukum sekunder diperoleh dari literatur akademik, publikasi ilmiah, wawancara ahli, serta bahan non hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bawaslu memiliki kapasitas normatif dan fungsional yang dapat dioptimalkan sebagai lembaga penyelesai Perselisihan hasil Pemilihan. Penataan ulang kewenangan Bawaslu secara konstitusional dapat mengurangi beban Mahkamah Konstitusi serta meningkatkan efektivitas dan kecepatan penyelesaian perselisihan. Diperlukan penguatan yang menyeluruh dalam mendukung Bawaslu sebagai lembaga yang berwenang, yaitu pemindahan fungsi pengawasan kepada masyarakat, penambahan struktur internal Bawaslu, penguatan SDM Bawaslu, pembagian kewenangan penyelesaian perselisihan antara Bawaslu Pusat hingga Kab/Kota, serta adanya mekanisme banding ke Bawaslu yang lebih tinggi

    0

    full texts

    64,027

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Universitas Negeri Semarang Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇