Universitas Negeri Semarang Repository
Not a member yet
64027 research outputs found
Sort by
THE INFLUENCE OF THE USE OF VIDEO MEDIA IN IMPROVING STUDENTS' ABILITY IN PRONOUNCING FRICATIVE CONSONANTS
Pronunciation is a vital component in English language learning, as it affects learners' ability to communicate clearly and effectively. Among the most problematic sounds for Indonesian students are English fricative consonants such /f/, /v/, /θ/, /ð/, /s/, /z/, /ʃ/, /ʒ/, and /h/., which are often mispronounced due to their absence in the learners’ first language. This study aims to examine the influence of video media—particularly YouTube-based materials featuring native speakers—on students’ ability to pronounce English fricative consonants. This research was conducted at SMAN 1 Sumber, Rembang, using a quasi-experimental design with a Nonequivalent Control Group. The participants included 40 tenth-grade students, divided into two groups: XE4 as the experimental group and XE2 as the control group. Both groups were given a pre-test to assess their initial pronunciation skills. The experimental group then received treatment through video instruction focusing on fricative pronunciation, while the control group followed regular classroom instruction without multimedia support. After the treatment, both groups took a post-test to measure any changes in performance. The analysis of the test results revealed that the experimental group showed significant improvement. The average pre-test score for this group was 47.85, which rose to 86.3 in the post-test. In contrast, the control group only improved slightly, from 47.85 to 50.25. These findings suggest that video media are highly effective in enhancing pronunciation skills, especially for fricative consonants that are often challenging for EFL learners. The videos also increased student motivation and engagement, making pronunciation practice more enjoyable and meaningful.Several factors influencing pronunciation were also identified, including first language interference, limited vocabulary knowledge, and reliance on English spelling for pronunciation. The visual and auditory combination offered by video media helped reduce these barriers, offering clearer pronunciation models than text-based instruction alone. The study concludes that videos, especially those featuring native English speakers, are effective tools in teaching pronunciation. Their engaging nature, combined with authentic pronunciation input, makes them suitable for classroom use, particularly in contexts with limited access to native speakers or natural English environments. This research offers practical implications for EFL teachers and curriculum developers. Teachers are encouraged to incorporate accessible platforms like YouTube into their lessons, and educational institutions should consider adopting multimedia materials to support pronunciation instruction. Future studies could expand this research by exploring the long-term effects of video use or applying similar methods to other types of consonants and vowels
KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS DITINJAU DARI GAYA BELAJAR SISWA KELAS VIII PADA PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DENGAN BERBANTUAN LKPD
Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan model pembelajaran
Problem Based Learning dengan berbantuan LKPD terhadap kemampuan berpikir
kritis matematis siswa, dan juga mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis
matematis siswa dilihat dari gaya belajar para siswa. Jenis penelitian yang
digunakan yaitu mixed method dengan desain sequential explanatory bentuk
posttest-only. Pemilihan sampel dari populasi dilakukan menggunakan teknik
random sampling. Sementara itu, subjek penelitian pada penelitian kualitatif dipilih
menggunakan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang
digunakan adalah tes, angket, dan wawancara. Analisis data kuantitatif meliputi uji
normalitas dan homogenitas, uji rata-rata dan uji proporsi. Adapun analisis data
kualitatif meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Indikator kemampuan berpikir kritis matematis dalam penelitian ini, yaitu (1)
tahap klarifikasi; (2) tahap asesmen; (3) tahap penyimpulan; (4) tahap strategi.
Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa (1) rata-rata kemampuan
berpikir kritis matematis siswa kelas eksperimen telah mencapai lebih dari 75; (2)
proporsi siswa tuntas pada kelas eksperimen mencapai lebih dari 75%; (3) rata
rata kemampuan berpikir kritis matematis siswa kelas eksperimen lebih baik dari
pada siswa kelas kontrol dan (4) proporsi siswa tuntas pada kelas eksperimen lebih
dari proporsi siswa tuntas pada kelas kontrol. Sementara itu, diperoleh bahwa
gaya belajar visual belum optimal dalam memenuhi indikator kemampuan
berpikir kritis matematis. Siswa hanya mampu memenuhi indikator 1, 2, dan 3.
Sementara pada indikator 4 siswa tidak mampu memenuhi indikator tersebut.
Sedangkan untuk gaya belajar auditorial belum optimal dalam memenuhi
indikator kemampuan berpikir kritis matematis. Siswa hanya mampu memenuhi
indikator 1, 2, dan 3. Sementara pada indikator 4 siswa tidak mampu memenuhi
indikator tersebut. Sedangkan untuk gaya belajar kinestetik mampu memenuhi
seluruh indikator kemampuan berpikir kritis matematis dengan baik. Siswa dapat
memenuhi indikator 1, 2, 3, dan 4 secara optimal
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME) BERBANTUAN VIDEO PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS PESERTA DIDIK
Penelitian ini bertujuan 1) menganalisis tingkat kelayakan bahan ajar
berbasis RME berbantuan video pembelajaran ; 2) menganalisis tingkat keterbacaan
bahan ajar berbasis RME berbantuan video pembelajaran 3) menganalisis
keefektifitas bahan ajar berbasis RME berbantuan video pembelajaran; 4)
mendeskripsikan respons peserta didik terhadap bahan ajar berbasis RME
berbantuan video pembelajaran pada materi sistem persamaan linear dua variabel.
Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Penelitian ini
menggunakan pendekatan Research & Development (R&D) dengan model 3D yaitu
define, design, and develop. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh peserta
didik kelas VIII di SMP Negeri 10 Semarang. Sampel dalam penelitian ini
dilakukan menggunakan teknik pengambilan sampel secara acak yang diperoleh
kelas VIII-B yang berjumlah 30 peserta didik. Teknik pengumpulan data pada
penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan angket dan memberikan tes berupa
pretest dan posttest. Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan uji
kelayakan, uji keterbacaan, uji keefektifan yang dilakukan dengan uji peningkatan
kemampuan pemecahan masalah matematis dan uji respons peserta didik.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kelayakan bahan ajar
berbasis RME berbantuan video pembelajaran pada materi sistem persamaan linear
dua variabel mendapat persentase sebesar 83,69% dengan kriteria layak. Tingkat
keterbacaan bahan ajar berbasis RME berbantuan video pembelajaran pada materi
sistem persamaan linear dua variabel mendapat persentase sebesar 93,53% dengan
kriteria mudah dipahami peserta didik. Hasil uji efektifitas bahan ajar berbasis RME
berbantuan video pembelajaran dengan nilai sig. (.000) < 0,05 maka terdapat
perbedaan signifikan dan respons peserta didik terhadap bahan ajar berbasis RME
berbantuan video pembelajaran sebesar 93,5% dengan kriteria sangat baik yang
berarti bahan ajar tersebut sangat baik digunakan oleh peserta didik dalam proses
pembelajara
PROFIL KONDISI FISIK ATLET SOFTBALL PUTRI U-23 KLUB GOLDEN FROG KABUPATEN GROBOGAN TAHUN 2024
Olahraga softball merupakan olahraga yang menekankan pada kondisi fisik
atlet seperti sangat menekankan pada 10 komponen kondisi fisik meliputi daya
tahan, kekuatan, kecepatan, daya ledak otot, kelentukan, koordinasi, fleksibilitas,
keseimbangan, ketepatan, dan reaksi. Sebagai salah satu syarat keberhasilan dalam
softball, memiliki kondisi fisik yang prima sangatlah penting. Namun demikian,
untuk mengetahui tingkat kebugaran fisik yang dimiliki para atlet, diperlukan suatu
profil kondisi fisik sebagai acuan. Profil ini berguna untuk mengidentifikasi
komponen mana yang perlu ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi profil kondisi fisik atlet softball putri U-23 klub Golden Frog
Kabupaten Grobogan tahun 2024.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan subjek
penelitian sebanyak 12 atlet softball putri U-23 Klub Golden Frog Kabupaten
Grobogan. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode survei
dengan teknik tes dan pengukuran presentase dengan skor kondisi fisik secara
keseluruhan menggunakan SPSS versi.
Hasil dari temuan penelitian menunjukkan: kecepatan (75%), koordinasi
(42%), fleksibilitas (41%), dan ketepatan (58%) berkategori baik. Namun, variabel
kekuatan (42%), daya ledak (50%), kelincahan (59%), keseimbangan (67%), reaksi
gerak (84%), dan daya tahan (67%) masih perlu ditingkatkan karena mayoritas
masuk pada kategori rendah.
Simpulan dari penelitian ini: profil kondisi fisik berupa kecepatan,
koordinasi, fleksibilitas dan ketepatan pada atlet dikategorikan baik, meski masih
memerlukan perbaikan pada beberapa aspek berupa komponen kondisi fisik
kekuatan otot, daya ledak, kelincahan, keseimbangan, reaksi gerak dan daya tahan.
Untuk meningkatkan kinerja atlet secara menyeluruh, perlu adanya program
pembinaan yang tepat sasaran pada variabel yang belum optimal
PERBEDAAN HASIL PENGGUNAAN INTERFACING KUFNER DAN KAIN GULA PADA JAKET BOMBER BERBAHAN TENUN LURIK
Kain tenun lurik sebagai wastra tradisional Indonesia memiliki potensi besar
dalam pengembangan produk busana modern seperti jaket bomber. Salah satu
faktor penentu kualitas jaket bomber adalah penggunaan interfacing yang tepat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas jaket bomber berbahan tenun
lurik motif Hujan Gerimis dengan dua jenis interfacing, yaitu kufner dan kain gula.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis deskriptif
eksploratif dan metode observasi melalui lembar pengamatan. Penilaian dilakukan
oleh 23 panelis, terdiri dari 3 panelis ahli (dosen dan desainer) serta 20 panelis
terlatih (mahasiswa). Data hasil observasi dianalisis menggunakan perhitungan
statistik deskriptif yaitu persentase, untuk menggambarkan kualitas jaket bomber.
Sampel terdiri dari dua jaket bomber tipe A-2 dengan interfacing kufner dan kain
gula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaket dengan interfacing kufner
memperoleh persentase sebesar 91,9% dengan kategori sangat berkualitas,
sedangkan interfacing kain gula memperoleh persentase 82,5% dengan kategori
berkualitas. Untuk mengurangi kekakuan pada jaket, disarankan memilih desain
yang ergonomis serta menggunakan teknik jahit yang tidak menambah kekakuan,
sehingga kenyamanan pemakaian dapat meningkat. Selain itu, untuk menjaga
kehalusan permukaan jaket, sebaiknya memilih bahan tenun lurik dengan
karakteristik yang lebih lembut dan lentur. Secara keseluruhan, interfacing kufner
lebih direkomendasikan untuk menghasilkan jaket bomber berbahan tenun lurik
dengan kualitas akhir yang lebih optimal
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MAJALAH FISIKA DILENGKAPI TEKNOLOGI AUGMENTED REALITY UNTUK MENINGKATKAN LITERASI SAINS PESERTA DIDIK PADA MATERI GELOMBANG CAHAYA
Era society 5.0, kemajuan teknologi komunikasi dan informasi membutuhkan
kemampuan literasi sains dalam menjawab tantangan kehidupan bermasyarakat.
Hasil survey PISA (Programme for International Student Assessment) pada tahun
2022 dapat disimpulkan bahwa peserta didik Indonesia memiliki kemampuan
literasi sains pada level sederhana. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan
media pembelajaran majalah fisika untuk dinilai kelayakan serta keefektifannya
dalam meningkatkan kemampuan literasi sains peserta didik. Metode penelitian
yang digunakan adalah metode R&D (Research and Development) dengan model
pengembangan ADDIE yang terdiri dari tahapan Analyze (Analisis), Design
(Analisis), Development (Perancangan), Implementation (Pelaksanaan), dan
Evaluation (Evaluasi). Desain uji coba yang digunakan pada penelitian ini yakni
pre-experimental one group pretest-posttest. Desain pada penelitian ini hanya
melibatkan satu kelompok eksperimen peserta didik kelas XI-F4 SMAN 1
Pecangaan. Penelitian ini menghasilkan media pembelajaran majalah fisika
dilengkapi teknologi augmented reality dengan muatan literasi sains untuk
meningkatkan kemampuan literasi sains peserta didik pada materi gelombang
cahaya. Majalah fisika dibuat dalam bentuk media cetak dengan ukuran kertas A4,
terdapat 11 konten bacaan dengan muatan indikator literasi sains, dan empat konten
augmented reality materi gelombang cahaya. Hasil penelitian memperoleh
persentase kelayakan oleh ahli sebesar 0,86 dengan kategori “Sangat Layak” dan
persentase capaian nilai N-gain sebesar 0,69 dengan kategori “Sedang”.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran
majalah fisika dilengkapi teknologi augmented reality sangat layak digunakan
sebagai media pembelajaran dan efektif meningkatkan kemampuan literasi sains
peserta didik
IMPLEMENTASI MEDIA PEMBELAJARAN AUGMENTED REALITY MELALUI APLIKASI ASSEMBLR EDU PADA MATERI BENCANA TANAH LONGSOR DI KELAS XI SMA NEGERI 1 BANDONGAN
Materi bencana tanah longsor membutuhkan praktik langsung dengan
visualisasi dan ilustrasi nyata untuk meningkatkan pemahaman siswa yang lebih
mendalam. Sehingga dalam pembelajarannya dibutuhkan media yang lebih
interaktif dan menyenangkan seperti penggunaan teknologi Augmented Reality
(AR) melalui aplikasi Assemblr Edu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pembuatan media, menganalisis implementasi media, dan menganalisis efektivitas
media pembelajaran AR melalui aplikasi Assemblr Edu pada materi bencana tanah
longsor di kelas XI SMA Negeri 1 Bandongan.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif jenis eksperimen, desain
penelitiannya menggunakan pre-eksperimental design dengan rancanagan one
group pretest-postest design. Populasinya adalah siswa kelas XI yang mendapatkan
peminatan Geografi. Sampel dipilih secara total sampling sehingga dipilih XI FC1
yang berjumlah 36 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi,
instrumen tes, kuesioner, dan dokumentesi. Teknik analisis data yang digunakan
adalah analisis deskriptif, uji normalitas data, uji T-test, dan uji N-Gain.
Hasil penelitian menunjukkan bahwasannya siswa berhasil memahami
materi bencana tanah longsor melalui media Augmented Reality melalui aplikasi
Assemblr Edu (AR). Penggunaan media AR melalui aplikasi Assemblr Edu
mendapat respon sangat baik dari siswa, dimana mayoritas siswa menyatakan setuju
menggunakan media AR melalui aplikasi Assemblr Edu dengan perolehan skor
secara keseluruhan sebesar 87%. Keefektivan guru masuk dalam kategori sangat
baik dengan skor sebesar 97%. Statistik ketuntasan hasil belajar siswa mengalami
peningkatan yang sangat signifikan, dimana pada uji pre-test siswa yang tuntas
sebesar 42% kemudian pada hasil post-test ketuntasan siswa naik menjadi 97%.
Pengujian T-test memutuskan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan
hasil belajar setelah menggunakan media AR melalui aplikasi Assemblr Edu. Hasil
uji N-Gain menyatakan bahwa penggunaan media AR melalui aplikasi Assemblr
Edu efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi bencana tanah
longsor dengan perolehan skor 0,626 atau sebesar 62,6% tergolong kategori
efektivitas sedang.
Media pembelajaran Augmented Reality (AR) melalui aplikasi Assemblr
Edu efektif digunakan dalam pembelajaran bencana tanah longsor. Disarankan
media AR melalui aplikasi Assemblr Edu perlu dikembangkan dan diperbarui untuk
memastikan bahwa fitur-fitur yang ada dapat memenuhi kebutuhan pembelajaran.
Dan saat pembelajaran menggunakan media Augmented Reality melalui aplikasi
Assemblr Edu, perlu dilakukan evaluasi dan pemantauan secara teratur untuk
memastikan bahwa implementasinya dapat efisien dalam meningkatkan hasil
belajar siswa
PUTUSAN HAKIM PIDANA PENJARA SEUMUR HIDUP KASUS FERDY SAMBO DALAM PERSPEKTIF KEADILAN SOSIAL (STUDI PUTUSAN NOMOR 813 K/Pid/2023)
Kasus pidana pembunuhan berencana yang melibatkan pejabat penegak hukum
yaitu Ferdy Sambo telah menjadi perhatian publik karena melibatkan aparat
penegak hukum tingkat tinggi. Berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor 813
K/Pid/2023, pidana mati yang sebelumnya dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri
diubah menjadi pidana penjara seumur hidup. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh
perdebatan publik mengenai keadilan dari putusan tersebut, mengingat ekspektasi
masyarakat terhadap bentuk hukuman yang setimpal. Permasalahan yang diangkat
dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana pertimbangan hakim terhadap
penjatuhan pidana penjara seumur hidup dalam kasus Ferdy Sambo, dan (2)
bagaimana perspektif keadilan sosial terhadap putusan tersebut.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian yuridis
empiris. Data diperoleh melalui studi kepustakaan dan wawancara dengan hakim,
jaksa, serta akademisi hukum. Selain itu, peneliti juga menggunakan instrumen
angket untuk mengumpulkan pandangan masyarakat, khususnya dari kalangan
mahasiswa dan ibu-ibu, terhadap keadilan sosial dalam putusan tersebut.
Pendekatan triangulasi sumber digunakan untuk menjamin validitas data.
Hasil pembahasan menunjukkan bahwa pertimbangan hakim dalam menjatuhkan
pidana penjara seumur hidup tidak hanya berdasarkan aspek yuridis seperti alat
bukti dan fakta hukum, tetapi juga mempertimbangkan aspek non-yuridis seperti
kondisi sosial terdakwa dan dampak terhadap masyarakat. Dari sisi keadilan sosial,
mayoritas masyarakat masih menganggap putusan tersebut belum cukup
mencerminkan keadilan sosial, meskipun sebagian lainnya menilai putusan tersebut
sudah mencerminkan keadilan sosial. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa
putusan pidana penjara seumur hidup terhadap Ferdy Sambo mencerminkan upaya \ud
hakim untuk menyeimbangkan antara kepastian hukum dan keadilan sosial,
meskipun mayoritas masyarakat masih merasa bahwa putusan tersebut masih
belum mencerminkan keadilan sosial. Saran yang diberikan adalah perlunya
transparansi dalam proses peradilan dan edukasi publik mengenai dasar
pemidanaan, agar masyarakat tidak hanya menilai putusan dari berat ringannya
sanksi, tapi juga dilandaskan pada prinsip-prinsip yang kompleks, tidak hanya pada
aspek pembalasan semata
KEBIJAKAN FORMULASI TRADING IN INFLUENCE SEBAGAI DELIK TINDAK PIDANA KORUPSI DI INDONESIA
Indonesia telah meratifikasi hasil konvensi UNCAC melalui UU No. 7
Tahun 2006, berarti Indonesia memiliki keharusan mengadopsi paradigma UNCAC
kedalam hukum positif tentang tindak pidana korupsi. Sebagaimana telah
termaktub bahwa terdapat kejahatan Trading in Influence sebagai delik yang di
kriminalisasi, berbanding terbalik dengan keberadaan kasus tindak pidana korupsi
di Indonesia yang berskema Trading in Influence ditangani menggunakan pasal
suap dan gratifikasi, menunjukan tidak terkandungnya nilai Asas legalitas dan
keadilan yang substantif dalam keberlakuan hukum pidana di Indonesia.
Penelitian ini adalah penelitian hukum yurisdis normatif menggunakan
metode kualitatif melalui pengembangan kebijakan formulasi Trading in Influence
dengan model pendekatan Undang-Undang, pendekatan kasus, dan pendekatan
perbandingan. Triangulasi Teori digunakan sebagai metode validitas data dengan
menyajikan data yang sederhana hingga ditariklah suatu kesimpulan.
Trading in Influence merupakan delik yang berdiri sendiri dengan bentuk
peluasan terhadap setiap unsurnya, melalui peluasan subjek, peluasan perbuatan
melawan hukum dan peluasan nilai keuntungan yang diperoleh dari hasil tindak
pidana. Pasal terkait suap dan gratifikasi tidak mengakomodir pemidanaan terhadap
kasus trading in Influence karena memiliki unur yang berbeda. Negara yang
mengadopsi trading in Influence sebagai bagian dari delik yang tertuang dalam
hukum positifnya seperti prancis, belgia, dan spanyol mengkategorikan hukuman
yang dijatuhkan sama seperti suap dan gratifikasi, walaupun demikian pasal-pasal
di negara tersebut masih tidak memperhatikan pembagian pemidanaan antara
pemeran aktif dan pasif trading in influence dan tidak mencantumkan peluasan
unsur pengenaan pidana trading in influence sebagaimana yang dikriminalisasi oleh
UNCAC.
Penggunaan pasal suap dan gratifikasi mencederai nilai keadilan substantif
serta menghilangkan nilai dari asas legalitas, sehingga dapat disimpulkan dalam
upaya penyelesaian kasus tindak pidana korupsi berskema trading in influence
dilakukan melalui upaya penal dengan membuat formulasi kebijakan hukum
pidana, penerapan aturan serta pengeksekusian perkara, dan upaya non penal
memalui advokasi masyarakat serta instansi pemerintahan yang rawan terjadi
trading in influence, dapat pula menggunakan standar penyelenggaraan wilayah
bebas trading in influence sebagai bentuk pencegahan. Sebagai saran diharapkan
terjadi kolaborasi antara lembaga negara agar segera mengadopsi paradigma
UNCAC keadalam hukum pidana Indonesia
PROYEKSI PENGUATAN KERANGKA KELEMBAGAAN BAWASLU DALAM MENANGANI PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN KEPALA DAERAH YANG EFEKTIF DAN KONSTITUSIONAL
Perselisihan hasil Pemilihan masih menjadi tantangan krusial dalam
menjaga integritas demokrasi di Indonesia. Mahkamah Konstitusi yang saat ini
berwenang menyelesaikan perselisihan tersebut bukanlah lembaga yang dirancang
secara konstitusional untuk menangani Perselisihan hasil Pemilihan. Dengan
meningkatnya jumlah pemilihan di masa mendatang, terdapat potensi beban
berlebih terhadap Mahkamah Konstitusi yang dapat mengancam kualitas putusan
karena keterbatasan waktu dan sumber daya. Hal ini berimplikasi pada menurunnya
kinerja hakim dalam menjaga prinsip keadilan elektoral dan efektivitas hukum,
sehingga urgensi penguatan kerangka kelembagaan Bawaslu sebagai alternatif
konstitusional dalam menangani Perselisihan hasil Pemilihan menjadi semakin
relevan.
Penelitian ini merumuskan masalah utama mengenai apa yang menjadi
urgensi penguatan kerangka kelembagaan Bawaslu dalam menangani perselisihan
hasil pemilihan kepala daerah serta bagaimana proyeksi penguatan tersebut dapat
mendukung penanganan yang efektif dan konstitusional. Penelitian ini merupakan
penelitian
kualitatif
deskriptif dengan pendekatan perundang-undangan,
pendekatan konseptual, dan jenis penelitian normatif serta dianalisis menggunakan
teori negara hukum (rechtstaat), teori efektivitas hukum Soerjono Soekanto, teori
keadilan pemilu dari IDEA serta teori kedaulatan rakyat J.J. Rousseau. Bahan
hukum primer diperoleh melalui studi peraturan perundang-undangan, sedangkan
bahan hukum sekunder diperoleh dari literatur akademik, publikasi ilmiah,
wawancara ahli, serta bahan non hukum.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bawaslu memiliki kapasitas normatif
dan fungsional yang dapat dioptimalkan sebagai lembaga penyelesai Perselisihan
hasil Pemilihan. Penataan ulang kewenangan Bawaslu secara konstitusional dapat
mengurangi beban Mahkamah Konstitusi serta meningkatkan efektivitas dan
kecepatan penyelesaian perselisihan. Diperlukan penguatan yang menyeluruh
dalam mendukung Bawaslu sebagai lembaga yang berwenang, yaitu pemindahan
fungsi pengawasan kepada masyarakat, penambahan struktur internal Bawaslu,
penguatan SDM Bawaslu, pembagian kewenangan penyelesaian perselisihan antara
Bawaslu Pusat hingga Kab/Kota, serta adanya mekanisme banding ke Bawaslu
yang lebih tinggi