Universitas Negeri Semarang Repository
Not a member yet
64027 research outputs found
Sort by
Organizational commitment or community participation? Identifying the stronger driver of village SDGS achievement in Indonesia
The achievement of Village Sustainable Development Goals (SDGs) is a national priority
in Indonesia; however, challenges such as corruption and limited transparency in village
fund management continue to impede progress. This study examines the influence of
community participation and organizational commitment as contingency variables on
Village SDG achievement in Poncowarno District, Central Java. Using purposive
sampling, 44 respondents participated in the study, with data collected through
questionnaires and analyzed using multiple regression and moderation regression
analysis (MRA) in SPSS. The results reveal that accountability in village financial
management has a significant positive effect on Village SDG achievement (β = 0.744; sig.
= 0.000). Community participation shows a negative but insignificant effect (β = -0.012;
sig. = 0.526), while organizational commitment significantly strengthens the relationship
(β = 0.030; sig. = 0.006). The model’s R Square of 0.725 indicates that 72.5% of the
variation in Village SDG achievement is explained by the independent and moderating
variables. These findings underscore the vital role of organizational commitment in
fostering Village SDG outcomes. Strengthening commitment through capacity-building,
leadership development, and institutional incentives is crucial for improving governance
and accelerating sustainable development in Indonesian villages
PROSES BERPIKIR KREATIF MATEMATIS MAHASISWA DITINJAU DARI SELF-EFFICACY PADA PEMBELAJARAN APOS
Mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan berpikir kreatif tinggi namun
sebagian besar mengalami kesulitan dalam pembuktian matematika. Kurangnya
strategi belajar dapat menurunkan keyakinan mahasiswa untuk berhasil.
Penggunaan teori APOS dapat membantu mahasiswa mengatasi kesalahan dalam
mengkonstruksi konsep matematika, menemukan ide dan kemampuan matematika.
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menganalisis proses berpikir kreatif matematis
pada mahasiswa pendidikan matematika berdasarkan self-efficacy; 2)
mendeskripsikan karakteristik self-efficacy dalam proses berpikir kreatif
mahasiswa; dan 3) mendeskripsikan kemampuan berpikir kreatif matematis
mahasiswa berdasarkan self-efficacy dengan menggunakan pembelajaran APOS.
Metode penelitian mixed method dengan desain exploratory sequential. Penelitian
diawali pengambilan data kualitatif, dilanjutkan pengambilan data kuantitatif.
Responden penelitian 26 mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika
FMIPA Universitas Indraprasta PGRI Jakarta. Pemilihan subjek secara purposive
sampling berdasarkan tingkat self-efficacy dan kemampuan berpikir kreatif
matematis. Hasil penelitian menunjukkan: pertama, karakteristik proses berpikir
kreatif matematis mahasiswa berdasarkan self-efficacy dalam menyelesaikan
masalah matematika dikategorikan menjadi tiga kelompok: (a) mahasiswa dengan
tingkat self-efficacy tinggi memiliki dimensi magnitude, mengatasi kesulitan
menghadapi masalah matematika, tingkat kreativitas "sangat kreatif" memenuhi
seluruh tahapan dan indikator berpikir kreatif; (b) mahasiswa dengan tingkat self�efficacy sedang memiliki beragam dimensi magnitude, strength, dan generality
dengan tingkat kreativitas berbeda. Mahasiswa dengan dimensi magnitude tingkat
kreativitas "sangat kreatif," sedangkan mahasiswa dengan dimensi strength
menunjukkan tingkat kreativitas "kreatif" komitmen tinggi dalam menyelesaikan
tugas; (c) mahasiswa dengan tingkat self-efficacy rendah dimensi generality,
mampu menyikapi situasi yang berbeda, namun tingkat kreativitas "kurang kreatif".
Kedua, mahasiswa dengan self-efficacy tinggi kemampuan berpikir kreatif yang
tinggi serta dapat menyelesaikan tahapan berpikir kreatif secara lengkap, optimis,
minat, komitmen tinggi dalam mengembangkan kemampuan. Mahasiswa dengan
self-efficacy sedang, dimensi strength, menunjukkan tingkat kreativitas cukup
kreatif keyakinan tinggi menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan. Mahasiswa
dengan self-efficacy rendah, dengan dimensi generality, sedikit berpikir positif,
beradaptasi pada situasi baru, menjadikan pengalaman masa lalu sebagai
pembelajaran. Ketiga, penerapan teori APOS dalam pembelajaran menunjukkan
peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis mahasiswa ditinjau dari self�efficacy dengan nilai N-Gain Skor rata-rata sebesar 0,7022 termasuk dalam kategori
"Tinggi” dengan persentase sebesar 70,2169%, kategori "cukup efektif
EVALUASI KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN BANYUMANIK KOTA SEMARANG
Kebutuhan permukiman yang terus meningkat serta jumlah dan aktivitas
manusia yang bertambah dengan cepat menjadikan lahan yang digunakan untuk
memenuhi kebutuhan permukiman akan semakin langka. Hal tersebut membuat
pembangunan permukiman dilakukan pada lokasi yang belum tentu tepat sesuai
peruntukannya, yang mana dapat mengakibatkan timbulnya permasalahan�permasalahan bagi permukiman maupun lingkungan di sekitarnya. Penelitian ini
bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian lahan permukiman Kecamatan Banyumanik
dan untuk mengetahui arahan lokasi permukimannya.
Penelitian ini menggunakan metode matching dan teknik overlay data untuk
evaluasi kesesuaian lahan permukiman. Sedangkan untuk arahan lokasi permukiman
menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif. Data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data primer dan sekunder, seperti peta penggunaan lahan, lereng,
gerakan tanah, patahan, jenis tanah, data drainase, kedalaman air tanah, dan tingkat
bahaya longsor dan banjir.
Berdasarkan penelitian diketahui bahwa evaluasi kesesuaian lahan permukiman
di Kecamatan Banyumanik menghasilkan 4 (empat) kelas kesesuaian lahan, yaitu S1
(sangat sesuai) dengan luas lahan 493,19 ha. Kelas S2 (sesuai) yang merupakan lahan
terluas, yaitu 1102,81 ha. Kelas S3 (kurang sesuai) yang merupakan lahan terkecil,
yaitu 38,23 ha. Dan kelas terakhir adalah N1 (tidak sesuai sementara) yang memiliki
luas 78,16 ha. Kemudian arahan lokasi permukiman disusun agar lokasi-lokasi
permukiman yang masuk ke dalam kelas S1 dan S2 bisa digunakan sebagai lokasi
pengembangan permukiman baru atau diarahkan untuk perluasan lahan permukiman
yang sudah ada. Sedangkan lokasi-lokasi permukiman yang masuk ke dalam kelas S3
dan N1 diarahkan untuk dilakukan pengendalian pembangunan, dan beberapa lokasi
diarahkan untuk tidak melakukan pengembangan permukiman karena lokasinya yang
rawan bencana dan lebih disarankan untuk dijadikan sebagai kawasan lindung.
Saran penulis pada penelitian ini pemerintah daerah perlu melakukan
penyelarasan kembali antara hasil evaluasi kesesuaian lahan permukiman dengan
RTRW Kota Semarang. Bagi pelaksana pembangunan dan masyarakat sebaiknya
pembangunan permukiman di Kecamatan Banyumanik diarahkan ke lokasi yang
masuk ke dalam kelas S1 dan S2 untuk menjamin keamanan dan keselamatan serta
kenyamanan masyarakat. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk menggunakan
metode dan data yang lebih detail, lengkap, dan terbaru agar evaluasi kesesuaian lahan
yang dihasilkan dapat lebih lengkap dan mendalam
ANALISIS TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS APLIKASI PADA MYWULING+ (STUDI KASUS PENGGUNA WULING MOTORS)
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang
memengaruhi penerimaan pengguna terhadap aplikasi MyWuling+ menggunakan
pendekatan Technology Acceptance Model (TAM) yang dimodifikasi. Penelitian
ini mengkaji pengaruh variabel Perceived Usefulness, Perceived Ease of Use,
Attitude Towards Using, Behavioral Intention to Use, dan Actual Use terhadap
penerimaan pengguna aplikasi MyWuling+. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis Path Analysis.
Data diperoleh dari 96 responden yang merupakan pengguna aplikasi
MyWuling+. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perceived Usefulness
berpengaruh positif dan signifikan terhadap Attitude Towards Using dengan nilai
signifikansi sebesar 0,916. Sebaliknya, Perceive Ease of Use tidak berpengaruh
signifikan terhadap Attitude Towards Using dengan nilai signifikansi 0,002.
Selain itu, Attitude Towards Using terbukti berpengaruh positif dan signifikan
terhadap Behavioral Intention to Use, yang menunjukkan bahwa variabel ini
memiliki dampak positif terhadap Actual Use. Uji reliabilitas menggunakan
Cronbach’s Alpha menghasilkan nilai 0,758 yang menunjukkan bahwa instrumen
penelitian memiliki konsistensi internal yang baik. Sedangkan uji validitas
menggunakan Corrected Item-Total Correlation menunjukkan bahwa seluruh
item yang digunakan dalam kuesioner ini valid. Penelitian ini memberikan
wawasan yang lebih mendalam mengenai faktor-faktor yang memengaruhi
penerimaan aplikasi MyWuling+ oleh penggunanya dan dapat menjadi referensi
bagi pengembangan aplikasi serupa di masa mendatan
OPTIMALISASI PELAYANAN PUBLIK DI DESA GADU KECAMATAN SAMBONG KABUPATEN BLORA MELALUI PENGUATAN KOMPETENSI APARATUR DAN REFORMASI BIROKRASI
Proyek ini bertujuan untuk mengoptimalkan pelayanan publik di Desa Gadu, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora melalui penguatan kompetensi aparatur desa dan reformasi birokrasi. Berdasarkan hasil studi pendahuluan, ditemukan berbagai kendala dalam pelayanan publik, seperti lambatnya proses layanan, kurangnya informasi prosedural, dan rendahnya responsivitas aparatur desa. Pendekatan yang digunakan dalam proyek ini adalah kualitatif deskriptif dengan landasan teori Theory of Planned Behavior (TPB) dari Ajzen (1991), yang menganalisis perilaku pelayanan aparatur berdasarkan sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku yang dipersepsikan.
Intervensi dilakukan melalui pelatihan aparatur, penyusunan dan penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang disederhanakan, serta pemanfaatan media sosial untuk mendukung transparansi informasi. Evaluasi dilakukan melalui observasi, wawancara aparatur, dan kuesioner kepuasan masyarakat. Hasil proyek menunjukkan adanya peningkatan sikap positif aparatur terhadap pelayanan, perbaikan alur birokrasi, dan meningkatnya kepuasan masyarakat. Proyek ini membuktikan bahwa integrasi antara penguatan kompetensi dan reformasi birokrasi secara simultan dapat meningkatkan efisiensi, akuntabilitas, dan kualitas pelayanan publik di tingkat desa
PENGEMBANGAN JOBSHEET DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI SISWA PADA CAPAIAN PEMBELAJARAN DASAR KULINER BAGI SISWA KELAS X KOMPETENSI KULINER SMK N 6 KOTA SEMARANG
Pendidikan kejuruan dikembangkan berdasarkan kebutuhan dan tantangan
masyarakat. Pada peningkatan kompetensi maka perlu diadakan pelatihan kejuruan
untuk mengenalkan pengalaman sebenarnya pada siswa. Tujuan penelitian ini
adalah menghasilkan jobsheet, menguji kelayakannya dan kepraktisannya serta
menganalisis peningkatan ketrampilan dasar kuliner siswa terhadap penggunaan
jobsheet. Penelitian ini menggunakan metode RnD model ADDIE yang mana
memiliki 5 tahap pengembangan yaitu analisis, desain, pengembangan, penerapan,
serta evaluasi. Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas X kuliner SMK N 6
Kota semarang berjumlah 36 siswa. Analisis data yang digunakan uji t, analisis ini
digunakan untuk menguji pengaruh penggunaan jobsheet terhadap ketrampilan
dasar kuliner. Penelitian menunjukan hasil (1) Aspek kelayakan dinyatakan layak
untuk pembelajaran praktikum, (2) Pada aspek kepraktisan dinyatakan praktis
digunakan dalam praktikum, (3) Serta aspek keefektifan dinyatakan efektif dalam
peningkatan ketrampilan dasar kuliner siswa.berdasarkan hasil penelitian bahwa
dapat disimpulkan jobsheet yang di kembangkan telah dinyatakan layak, praktis
serta dapat meningkatkan ketrampilan dasar kuliner siswa
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MEDIA POP UP BOOK BENCANA TANAH LONGSOR DALAM PEMBELAJARAN TEMA 8 DI KELAS V SD NEGERI 1 WADASMALANG, KECAMATAN KARANGSAMBUNG, KABUPATEN KEBUMEN
Pemerintah mendukung pendidikan kebencanaan di sekolah sebagai upaya
mengurangi risiko bencana dengan mengintegrasikan aspek-aspek kebencanaan
ke dalam kurikulum yang ada. Salah satu langkah penting adalah memperkuat
materi pembelajaran tentang bencana dengan menggunakan media pembelajaran
yang kreatif dan informatif untuk memudahkan siswa dalam memahami materi.
Media visual seperti pop up book menjadi pilihan yang sesuai bagi siswa sekolah
dasar. Dengan ilustrasi yang menarik dan komunikatif, pop up book
menghadirkan materi dalam bentuk gambar yang dapat meningkatkan minat
belajar serta membantu siswa dalam memahami dan mengingat materi pelajaran
secara efektif.
Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui pelaksanaan pembelajaran
menggunakan media pop up book bencana tanah longsor dalam pembelajaran
tema 8 kelas V di SD Negeri 1 Wadasmalang. 2) mengetahui peningkatan
pengetahuan mengenai bencana tanah longsor pada siswa kelas V SD Negeri 1
Wadasmalang. 3) menganalisis efektivitas penggunaan media pop up book
bencana tanah longsor pada pembelajaran tema 8 kelas V di SD Negeri 1
Wadasmalang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan desain
penelitian Pre-Experimental Design dengan One-Group Pretest-Postest.
Hasil penelitian menunjukan 1) pelaksanaan pembelajaran berjalan secara
sistematis melalui tahap persiapan dan pretest, pemberian treatment hingga
posttest, 2) hasil prerest dan posttest menunjukan peningkatan nilai rata-rata yang
didukung hasil uji paired sample T-Test dengan nilai sig. sebesar 0,000<0,05.
Peningkatan pengetahuan paling besar terjadi pada aspek C2 yaitu memahami
dengan skor 76% masuk dalam kategori baik. 3) Penggunaan media pop up book
bencana tanah longsor dinilai cukup efektif dalam pembelajaran ditunjukan oleh
hasil uji N-Gain yang mencapai 0,6241 masuk dalam kategori peningkatan
sedang, serta tanggapan positif siswa. Sebagian besar siswa setuju bahwa media
ini menarik dan memudahkan mereka dalam memahami materi bencana tanah
longsor.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa media pop up book
tanah longsor cukup efektif digunakan dalam pembelajaran tema 8 kelas V materi
siklus air dan peristiwa akan bencana tanah longsor pada siswa kelas V SD Negeri
1 Wadasmalang
PERBANDINGAN AKURASI METODE ANN BACKPROPAGATION DENGAN FTS MODEL CHEN, CHENG, DAN MARKOV CHAIN TERHADAP PERAMALAN HARGA SAHAM ZOOM VIDEO COMMUNICATION
Peramalan merupakan kegiatan memprediksi keadaan masa depan berdasarkan
informasi atau data masa lalu dengan jangka waktu yang relatif lama. Peramalan
adalah komponen yang sangat penting dalam pengambilan keputusan. Tujuan
dilakukannya penelitian ini untuk membandingkan akurasi peramalan harga
penutupan saham Zoom Video Communication, Inc menggunakan metode Artificial
Neural Network (ANN) Backpropagation dan Fuzzy Time Series (FTS) dengan
model Chen, Cheng, serta Markov Chain. Data yang digunakan dalam penelitian
ini mencakup harga penutupan saham dari periode 5 Juli 2019 hingga 4 Januari
2024. Setiap metode dievaluasi menggunakan metrik akurasi seperti RMSE,
MSEdan MAPE. Hasil analisis menunjukkan bahwa ANN memiliki tingkat akurasi
yang lebih rendah dibandingkan model FTS, terutama dalam memprediksi harga
penutupan saham Zoom Video Communication, Inc. Metode ANN
Backpropagation menunjukkan performa terbaik dengan tingkat kesalahan yang
rendah baik untuk data latih maupun data uji dimana masing-masing hasil
akurasinya yaitu RMSE ((10,5446);(1,6728)), MSE ((111,1888);(2,7984)),
dan MAPE ((2,9187%);(1,985%)), mengindikasikan bahwa metode ini handal
dalam memprediksi data. Sementara itu, metode Fuzzy Time Series (FTS) model
Chen dan Cheng memiliki performa cukup baik pada data latih, namun keduanya
mengalami penurunan akurasi yang signifikan pada data uji. Hasil untuk metode
Fuzzy Time Series (FTS) model Markov Chain menunjukkan performa terburuk
kesalahan yang sangat tinggi pada data latih maupun data uji
KEBUTUHAN DAN KETERSEDIAAN LAHAN PERMUKIMAN DITINJAU DARI KESESUAIAN LAHAN DI KECAMATAN AJIBARANG KABUPATEN BANYUMAS
Peningkatan jumlah penduduk dapat berdampak pada peningkatan kebutuhan
lahan permukiman yang dapat menyebabkan adanya alih fungsi lain atau pendirian
hunian pada lahan yang tidak sesuai atau memiliki kerawanan bencana. Oleh karena
itu, diperlukan analisis kebutuhan lahan permukiman, kesesuaian lahan
permukiman, dan ketersediaan lahan permukiman untuk merencakan pembangunan
permukiman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan lahan
permukiman, kesesuaian lahan permukiman, serta ketersediaan dan alokasi lahan
permukiman di Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan
keruangan. Metode yang digunakan yaitu analisis kebutuhan lahan permukiman
yang dihasilkan dari proyeksi penduduk, proyeksi lahan kavling rumah dan lahan
sarana prasarana. Lalu, kesesuaian lahan permukiman yang dipetakan berdasarkan
skoring dan analisis tumpang susun parameter meliputi penggunaan lahan,
kemiringan lereng, drainase, aksesibilitas jalan, aksesibilitas fasilitas umum, dan
kerawanan longsor. Ketersediaan lahan yang ditentukan berdasarkan analisis
tumpang susun dengan eliminasi beberapa faktor meliputi lahan sawah dilindungi,
permukiman eksisting, dan kawasan lindung. Alokasi lahan permukiman dianalisis
dengan tumpang susun antara ketersediaan lahan permukiman dan pola ruang
RTRW Kabupaten Banyumas 2011-2031. Alokasi lahan permukiman dianalisis
dengan tumpang susun antara ketersediaan lahan permukiman dan pola ruang
RTRW Kabupaten Banyumas 2011-2031.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penduduk di Kecamatan Ajibarang pada
tahun 2031 diperkirakan mencapai 122.128 jiwa, dengan kebutuhan lahan kavling
rumah sebesar 55,20 hektar yang terdiri dari kavling rumah sederhana, menengah,
dan mewah. Selain itu, kebutuhan lahan sarana prasarana mencapai 1.728,83 hektar,
meliputi ruang terbuka hijau, lahan jalan, dan sarana lingkungan. Total kebutuhan
lahan permukiman mencapai 1.784,03 hektar. Hasil pemetaan kesesuaian lahan
menunjukkan yang masuk ke dalam kelas sesuai sebesar 2.491,55 hektar, lahan
kelas sesuai bersyarat sebesar 3.121,04 hektar, dan lahan kelas tidak sesuai sebesar
1.269,60 hektar.
Ketersediaan lahan permukiman di Kecamatan Ajibarang, setelah
mengeliminasi beberapa faktor seperti permukiman eksisting, lahan sawah yang
dilindungi, dan kawasan lindung, mencapai 2.456,87 hektar, namun hanya 71,74
hektar dialokasikan untuk permukiman berdasarkan pola runag RTRW.
Berdasarkan perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan lahan, sebagian besar
desa masih dapat memenuhi kebutuhan lahan permukiman hingga tahun 2031,
meskipun beberapa desa sudah tidak mencukupi, seperti Darmakradenan,
Pancasan, Ajibarang Kulon, Ajibarang Wetan, dan Pandansari
ANALISIS KOMBINASI KOMPOSISI KULIT-BIJI DURIAN (Durio zibethinus) DAN SUHU PENGERINGAN PADA METODE TAGUCHI PEMBUATAN BRIKET
Limbah durian merupakan salah satu limbah organik terbesar di Indonesia,
khususnya bagian kulit dan biji yang selama ini belum termanfaatkan secara
optimal dan berpotensi mencemari lingkungan. Kandungan selulosa kulit durian
dan pati dari biji berpotensi untuk dibuat briket. Oleh karena itu, penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi komposisi kulit dan biji durian serta
suhu pengeringan terhadap hasil analisis proksimat, yaitu kadar air, kadar abu,
kadar zat hilang, dan nilai kalor pada briket biomassa yang dihasilkan dengan
metode Taguchi, serta mengkaji interaksi antara kedua faktor tersebut terhadap
mutu briket. Penelitian dilakukan dengan rancangan faktorial dua faktor, yaitu
perbandingan kulit dan biji durian (2:1 dan 3:1) serta suhu pengeringan (100°C
dan 150°C). Parameter utama yang diamati meliputi kadar air, kadar abu, kadar
zat hilang, dan nilai kalor yang dianalisis menggunakan ANOVA dua jalur untuk
menilai signifikansi pengaruh masing-masing variabel dan interaksinya. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa baik komposisi kulit-biji durian maupun suhu
pengeringan secara signifikan (p<0,000) memengaruhi seluruh parameter analisis
proksimat, di mana peningkatan proporsi kulit durian dan suhu pengeringan yang
lebih tinggi mampu menurunkan kadar air dan kadar zat hilang, serta
meningkatkan nilai kalor dan kualitas briket. Namun, interaksi antara komposisi
dan suhu pengeringan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap
kualitas briket. Komposisi 3:1 dengan suhu pengeringan 150°C menghasilkan
briket dengan mutu terbaik sesuai standar SNI. Hasil ini membuktikan bahwa
pemanfaatan limbah kulit dan biji durian sebagai bahan baku briket biomassa
tidak hanya mampu mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga berpotensi
menjadi sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan