Jurnal Dewan Bahasa dan Pustaka
Not a member yet
    804 research outputs found

    Perilaku Fonologi Vokal Schwa dalam Dialek Minangkabau di Semenanjung Malaysia

    No full text
    The alternation of one segment to another is a common phenomenon that occurs in dialects or languages. However, the alternation of a segment to several other segments is an uncommon phonological phenomenon that only few studies have discussed. This current study thus aims to identify the phonological phenomenon of the mid-vowel schwa in the Minangkabau language in Peninsular Malaysia that alternates to other segments, and to explain each of those phonological phenomena using the analysis of features of Chomsky and Halle's Transformational-generative theory (1968). Minangkabau language data was obtained from previous studies conducted by Asmah et al. (2013) and Ernawati (2019), which were gathered from Kampung Sesapan Batu Minangkabau in Beranang. A total of 219 words that exhibit the behaviours of the schwa were taken for analysis purposes, that is 211 words from Asmah et al. (2013) and eight words from Ernawati (2019). The findings show that there are four phonological behaviours of schwa in the Minangkabau language namely, (1) alternation of schwa to [a], (2) alternation of schwa to [ɔ], (3) retention of schwa in the output, and (4) deletion of schwa and the following segment. Keywords: Schwa, Minangkabau dialect, phonology, distinctive feature, Transformational-generative theory Link: PDFPerubahan segmen menjadi satu segmen yang lain ialah fenomena yang lazim berlaku dalam sesebuah dialek ataupun bahasa. Namun begitu, perubahan kepada beberapa segmen yang lain merupakan fenomena fonologi yang tidak lazim berlaku dan hanya segelintir kajian yang membincangkannya. Oleh itu, kajian ini bertujuan untuk mengenal pasti perilaku fonologi vokal tengah schwa dalam dialek Minangkabau di Semenanjung Malaysia yang berubah kepada beberapa segmen yang lain dan menjelaskan setiap perilaku fonologi tersebut menggunakan analisis fitur dalam teori Transformasi Generatif yang diperkenalkan oleh Chomsky dan Halle (1968). Data dialek Minangkabau dalam kajian ini diperoleh daripada kajian lepas oleh Asmah et al. (2013) dan Ernawati (2019) yang diambil di Kampung Sesapan Batu Minangkabau, Beranang. Sejumlah 219 perkataan yang mempamerkan perilaku vokal schwa telah diambil untuk tujuan analisis, iaitu 211 perkataan daripada Asmah et al. (2013) dan lapan perkataan daripada Ernawati (2019). Hasil kajian menunjukkan terdapat empat perilaku fonologi vokal schwa dalam dialek Minangkabau, iaitu (1) perubahan schwa kepada vokal [a], (2) perubahan schwa kepada vokal [ɔ], (3) pengekalan vokal schwa di output, dan (4) pengguguran schwa dan segmen yang mengikutinya. Kata kunci: schwa, dialek Minangkabau, fonologi, fitur distingtif, Teori Transformasi Generatif Pautan: PD

    Analisis Kata Pikat dalam Media Sosial: Satu kajian Semantik

    No full text
    This research is a semantics study of pick-up lines, using the theoretical approach of Mansoer Pateda (2001). This theory identifies of four aspects of meaning, that is, sense, feeling, tone and intention. New terms have emerged as 'pick-up lines' in social media, in line with modernization of the language. Pick-up lines are a strategy used by men to communicate with women whom they are attracted to with the intention of getting acquainted or beginning a relationship. Past research has mostly been carried out in Western countries, and there has not been any documented research conducted in Brunei thus far. Apart from this, there is also some confusion between pick-up lines and regular statements. To determine the aspect of meaning (Pateda, 2001), this study examines the characteristics found in several pick-up lines specifically made by Bruneians, selected by the researcher from two social media applications, Instagram and YouTube. The issue that arose is the extent to which the theoretical approach of Pateda (2001) suffices, that is, whether the four aspects of meaning can be seen in these pick-up lines. The characteristics of these pick-up lines is also studied. The findings of the study show all four aspects of meaning are present, based on the characteristics determined for each pick-up line, and at the same time, they play a clear role in understanding the meaning of the pick-up line intended by the speaker. Keywords: Pick-up lines, semantics, characteristics, aspects of meaning, social mediaKajian ini meneliti kata pikat atau pick-up line khususnya dalam bidang semantik dengan menggunakan pendekatan yang dikemukakan oleh Mansoer Pateda (2001). Pendekatan tersebut terdiri daripada empat aspek makna, iaitu pengertian, nilai rasa, nada dan maksud. Berlaku pertambahan perkataan baharu yang timbul untuk istilah kata pikat ini yang digunakan dalam media sosial selaras dengan arus pemodenan bahasa. Kata pikat merupakan strategi yang digunakan oleh lelaki untuk berkomunikasi dengan perempuan yang diminatinya dengan niat untuk menjalinkan hubungan atau memulakan perkenalan. Kajian lepas banyak dilaksanakan di negara Barat, namun belum ada kajian bertulis yang dilakukan di negara Brunei setakat ini. Selain itu, terdapat juga yang salah faham mengenai kata pikat dengan ayat penyata. Bagi menentukan aspek makna (Pateda, 2001), kajian ini meneliti ciri-ciri yang terdapat dalam beberapa ayat kata pikat yang pernah diujarkan oleh orang Brunei secara khusus yang dipilih oleh pengkaji melalui dua aplikasi media social, iaitu Instagram dan YouTube. Persoalan yang timbul dalam kajian ini ialah sejauhmanakah pendekatan Pateda (2001), iaitu empat aspek makna dapat dilihat dalam ayat kata pikat. Ciri-ciri yang terdapat dalam ayat kata pikat juga diteliti. Hasil kajian ini menunjukkan terdapat keempat-empat aspek makna tersebut berdasarkan ciri-ciri yang diperoleh untuk setiap kata pikat, dan pada masa yang sama jelas memainkan peranan dalam pemahaman makna kata pikat yang ingin disampaikan oleh penutur. Kata kunci: Kata pikat, semantik, ciri-ciri, aspek makna, media sosia

    Perluasan Konsep Mariga: Analisis Teori Semantik Ranah

    No full text
    This research was conducted to study the co-occurrence of Sabah's tribal language lexis usage in Corpus "Novel Bahasa Sukuan" (KBNS). This lexis co-occurrence is not arbitrary, on the other hand there is actually a system that binds or controls it. The source of the data was derived from the KNBS data which was developed by the researchers using AntConc 4.2.3w device. The corpus data contains of six novels which narratively crafted based on the background of the indigenous people of Sabah. The novels were the Bagaton and Mariga written by Amil Jaya, whilst the novels entitled Dukanya Abadi, Kukui, Dari Dalam Cermin, and Debur Menerpa were written by Azmah Nordin. A total of 465 lexis of tribal language have been identified and evidently used in conjunction with the KNBS data. Based on these figures, the frequency of lexis mariga in the tribal language is 42. The analysis was carried out using Frame Semantics Theory which was pioneered by Charles Fillmore (1982). The initial results of the study show that the co-occurrence of the lexis mariga existed and were bound with the existence of Sabah's tribal language. To conclude, the research findings shall be able to explain the function of the mariga lexis and its motivation and potential usage within the context of the Sabah tribal language. Keywords: Lexis, tribal language, Frame Semantic theory, novelPenyelidikan ini dilaksanakan untuk mengkaji hubungan penggunaan leksis sukuan peribumi Sabah dalam Korpus Novel Bahasa Sukuan (KNBS). Hubungan penggunaan leksis ini bukanlah sewenang-wenangnya tetapi dimotivasikan oleh sistem kognitif manusia. Sumber data yang dimanfaatkan ialah KNBS yang dibangunkan menerusi peranti AntConc 4.2.3w. Data korpus tersebut terdiri daripada enam buah novel yang berlatarkan masyarakat peribumi Sabah, iaitu novel Bagaton dan Mariga karya Amil Jaya, manakala novel Dukanya Abadi, Kukui, Dari dalam Cermin, dan Debur Menerpa merupakan hasil karya Azmah Nordin. Sebanyak 465 leksis sukuan telah dikenal pasti digunakan dalam data korpus. Berdasarkan kekerapan tersebut, penggunaan leksis sukuan mariga muncul sebanyak 42 kali. Hal ini dapat mencitrakan budaya masyarakat penutur dalam data yang dikaji. Analisis dijalankan menggunakan teori Semantik Ranah yang dipelopori oleh Fillmore (1982). Dapatan kajian menunjukkan bahawa leksis sukuan mariga memiliki latar dan motivasi yang mengikat hubungan antara leksis bahasa Melayu. Pengekalan leksis sukuan mariga dalam KNBS dapat menjelaskan wujudnya motivasi, potensi dan reputasi leksis sukuan mariga. Kata kunci: Leksis, bahasa sukuan, mariga, teori Semantik Ranah, nove

    Kaedah Penyelesaian Pertikaian di Tribunal Tuntutan Pengguna Malaysia: Satu Kajian Lapangan

    No full text
    The Malaysian government has enforced numerous consumer protection policies as a measure to provide consumers with the best consumer protection. This includes the establishment of the Tribunal for Consumer Claims Malaysia (TTPM), which was established under the Consumer Protection Act 1999. The aim was to ensure consumers receive the best protection of their rights. However, numerous issues have been highlighted, such as the TTPM's limited jurisdiction followed by inadequate understanding of consumers concerning the role and function of TTPM as a platform for remedial claims. Aiming to address the objectives of this research, the current study employed a qualitative approach to gather information by way of interview and observation. This study finds that the TTPM plays a very important role in providing a platform for remedial claims for consumers in Malaysia. The existence of the TTPM as a medium for consumer protection should be well-exploited as it benefits consumers. However, the roles and functions of the TTPM should be further developed. Thus, it is recommended that the relevant parties take steps to improve consumer protection rights in this country, in particular involving the TTPM. Keywords: Tribunal for Consumer Claims Malaysia, claim, remedyPelbagai perundangan pengguna telah dikuatkuasakan oleh kerajaan bertujuan untuk memberikan perlindungan terbaik kepada pengguna di Malaysia. Perundangan pengguna tersebut termasuklah penubuhan Tribunal Tuntutan Pengguna Malaysia (TTPM) yang diwujudkan di bawah Akta Perlindungan Pengguna 1999. Tujuan penubuhannya adalah untuk memberikan perlindungan sebaik mungkin kepada pengguna akan hak mereka. Namun begitu, terdapat beberapa isu yang timbul berkenaan dengan TTPM, antaranya termasuklah isu bidang kuasa TTPM yang terhad serta ketidakfahaman pengguna tentang peranan dan fungsi bahawa TTPM sebagai medium tebus rugi bagi mereka. Bagi memenuhi objektif ini, kajian ini menggunakan kaedah metodologi kualitatif bagi mengumpulkan maklumat dengan cara temu bual dan pemerhatian yang dijalankan di TTPM. Kajian ini mendapati bahawa TTPM telah memainkan peranan yang penting dalam penyediaan landasan bagi tuntutan pengguna. Kewujudan TTPM sebagai medium perlindungan pengguna di Malaysia perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pengguna. Sungguhpun begitu, peranan dan fungsi TTPM perlu dipertingkatkan kepada tahap yang lebih baik. Artikel ini juga mengemukakan beberapa cadangan yang boleh dipertimbangkan oleh pihak berkaitan untuk meningkatkan perlindungan pengguna di negara ini, dan TTPM khususnya. Kata kunci: Tribunal Tuntutan Pengguna Malaysia, tuntutan, remed

    Talak Taklik Menurut Fiqah: Analisis Pelaksanaannya dalam Undang-Undang Keluarga Islam serta Arahan Amalan Jabatan Kehakiman Syariah Malaysia

    No full text
    This article studies the hidden wisdom behind the pronouncement of conditional divorce, the rules and conditions prescribed by the jurists, as well as the forms and types of ta'liq in shariah law. This article also seeks to look at the practice of ta'liq in Malaysia as well as provisions under Islamic family law in Malaysia, as well as the Practice Direction issued by the Department of Syariah Judiciary Malaysia. The study employed library research to expound the opinions of earlier jurists from various schools of Islamic jurisprudence, and textual studies on the provisions of law related to the issue concerned. The study found that the wording of the official pronouncements of ta'liq varies from state to state, hence the consequences can also differ. The researcher is of the view that the practice of pronouncing ta'liq after the solemnization of a marriage contract should be reviewed. It needs to be said that the validation of a divorce by ta'liq is a more complicated process than an ordinary divorce. Keywords: Conditional divorce, Islamic Family Law, Malaysia,word of stipulationArtikel ini mengkaji hikmah di sebalik pensyariatan talak taklik, hukum serta syarat yang ditetapkan menurut pandangan ulama, di samping bentuk atau jenis taklik yang ada dalam syariah Islam. Artikel ini juga cuba melihat pengamalan taklik di Malaysia serta peruntukan yang ada dalam Undang-Undang Keluarga Islam serta Arahan Amalan yang dikeluarkan oleh Jabatan Kehakiman Syariah Malaysia berkaitan dengan syarat-syarat yang ditetapkan bagi menyabitkan penceraian secara taklik. Kajian ini mengaplikasikan kaedah penyelidikan perpustakaan terhadap penulisan ulama terdahulu dari pelbagai mazhab fikah yang muktabar serta kajian teks terhadap peruntukan undang-undang berkaitan dengan tajuk yang dibincangkan. Hasil kajian mendapati bahawa lafaz taklik rasmi bagi setiap negeri adalah berbeza, yang menjadikan kesan terhadapnya juga berbeza. Penulis mendapati terdapat kewajaran untuk menilai semula amalan pembacaan lafaz taklik rasmi selepas akad nikah. Di samping itu, pensabitan perceraian secara lafaz taklik adalah lebih rumit jika dibandingkan dengan talak biasa. Kata kunci: Talak taklik, Undang-Undang Keluarga Islam, Malaysia, lafaz takli

    Keabsahan dan Pemakaian Arahan Amalan dalam Pentadbiran Kehakiman dari Perspektif Undang-Undang Syariah dan Sivil: Suatu Perbandingan

    No full text
    Practice Directions have been introduced in the civil courts since 1946, and an adaptation of these was introduced in the Syariah courts in 2000. This article aims to explain the validity and position of the Practice Directions, as well as to compare these in terms of of legal provisions and application in the Syariah and civil courts. This research is a qualitative study involving library research (analysis of provisions of relevant laws and case reports), supplemented with interviews. It is found that Practice Directions were applied based on the provisions of the laws in force. However, there are differences in the position and application of Practice Directions between the Syariah courts and the civil courts in terms of source of authority, the authorities issuing the Practice Directions, enforcement and status, as well as the publication of Practice Directions. This study may serve as a guideline for JKSM and JKSN to re-evaluate and amend existing laws, or to form methods for Practice Directions for the courts to ensure that the ones used are valid and cannot be challenged by any party. Keywords: Practice Directions, judicial administration, Syariah court, civil court, shariah law, civil law, practice direction methodsArahan Amalan telah diperkenalkan di mahkamah sivil sejak tahun 1946 dan di mahkamah syariah bermula pada tahun 2000 hasil daripada adaptasi terhadap Arahan Amalan yang diguna pakai di mahkamah sivil. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan keabsahan dan kedudukan Arahan Amalan serta membandingkannya dari aspek peruntukan undang-undang dan pemakaian antara mahkamah syariah dan mahkamah sivil. Kajian yang bersifat kualitatif ini menggunakan kaedah kepustakaan dengan mengaplikasikan instrumen analisis kandungan terhadap peruntukan undang-undang dan laporan kes selain menggunakan kaedah temu bual. Kajian ini mendapati asas pemakaian Arahan Amalan adalah berdasarkan peruntukan undang-undang yang berkuat kuasa. Namun begitu, terdapat perbezaan kedudukan dan pemakaian Arahan Amalan di mahkamah syariah dan mahkamah sivil, iaitu dari sudut punca kuasa, pihak yang berautoriti mengeluarkan Arahan Amalan, penguatkuasaan dan status serta penerbitan Arahan Amalan. Hasil kajian ini diharapkan dapat memberikan panduan dan maklumat berguna kepada pihak JKSM dan JKSN untuk menilai semula dan meminda undang-undang sedia ada atau membentuk kaedah-kaedah Arahan Amalan untuk memastikan Arahan Amalan yang diguna pakai di Mahkamah Syariah adalah sah dan tidak boleh dicabar oleh mana-mana pihak. Kata kunci: Arahan amalan, pentadbiran kehakiman, mahkamah syariah, mahkamah sivil, undang-undang syariah, undang-undang sivil, kaedah arahan amala

    Fonologi dan Leksikal Bahasa Orang Asli Che Wong

    No full text
    The aboriginal peoples of Malaysia, the orang asli, belong three main groups, namely the Senoi, Negrito and Proto Malays. The Che Wong is a tribe belonging to the Senoi peoples. A large portion of the Che Wong tribe live in Pahang, especially in villages in the areas of Sungai Enggang in Kuala Gandah, Pahang. Based on observation, the Malay language, as a dominant communication language, has influenced the language of the Che Wong tribe. This study focuses on the aspects of the Che Wong language as a medium of communication in Kampung Sungai Enggang, in Kuala Gandah, Pahang. The informants for this study were native speakers of the Che Wong community. The objective of this study was to explain the phonological and lexical aspects of the Che Wong language, using the approach of structural linguistics. The researcher employed a qualitative approach to analyse data obtained through recordings and pronunciation techniques. Transcription was done using symbols of the International Phonetic Alphabet (IPA), with Che Wong vocabulary data based on the Swadesh list and themed word classes. From the analysis, it is found that the Che Wong language has eight vocal phonemes and 20 consonantal phonemes. Based on the themed lexical items, the research also found that there are similarities and differences between the Che Wong and Malay languages. In the themed vocabulary data concerning household items, especially, there are similarities between the Che Wong and Malay languages. However, on the whole, the vocabulary retains much of the Che Wong language. A study of the Che Wong language covering phonological and lexical aspects should be performed to further examine the structure of this language, and to ensure its survival over time. Keyword : Orang asli, Che Wong, Senoi, language, phonology, lexicalMasyarakat orang asli di Malaysia terbahagi kepada tiga kelompok utama, iaitu senoi, negrito dan Melayu Proto. suku orang asli Che Wong tergolong dalam kelompok orang asli senoi. sebahagian besar masyarakat orang asli Che Wong tinggal di Pahang terutamanya di perkampungan sungai Enggang Kuala Gandah Pahang. Berdasarkan pemerhatian terdapat pengaruh bahasa Melayu dalam bahasa natif orang asli Che Wong kerana wujudnya dominasi bahasa utama, iaitu bahasa Melayu dalam proses komunikasi masyarakat orang asli Che Wong. Kajian ini memfokuskan aspek bahasa Che Wong yang digunakan sebagai alat komunikasi di Kampung sungai Enggang Kuala Gandah, Pahang. informan dalam kajian ini terdiri daripada penutur natif suku Che Wong. Tujuan kajian ini adalah untuk menghuraikan aspek fonologi dan leksikal bahasa suku orang Asli Che Wong dengan menggunakan pendekatan linguistik struktural. Pengkaji menggunakan pendekatan kualitatif untuk menganalisis data yang diperoleh melalui teknik rakaman dan lafaz. Pentranskripsian dilakukan menggunakan Symbol International Phonetic Alphabet (IPA) bersumberkan data kosa kata bahasa Che Wong berdasarkan senarai swadesh dan kelas kata bertema. Berasaskan kajian, didapati bahawa bahasa Che Wong mempunyai lapan fonem vokal dan 20 fonem konsonan. Berdasarkan leksikal bertema pula pengkaji mendapati terdapat perbezaan dan persamaan antara bahasa Che Wong dengan bahasa Melayu. Dalam kosa kata bertema kategori peralatan rumah khususnya terdapat persamaan penggunaan kosa kata antara bahasa Che Wong dengan bahasa Melayu. namun begitu, secara keseluruhan penggunaan kosa kata banyak mengekalkan bahasa Che Wong sendiri. Kajian terhadap bahasa orang asli suku Che Wong yang meliputi aspek fonologi dan leksikal dilakukan agar struktur bahasa ini didokumentasikan secara terperinci, dan memastikan kelangsungan bahasa ini agar tidak pupus ditelan zaman. Kata kunci : Orang asli, Che Wong, senoi, bahasa, fonologi, leksika

    Simbol "Jantan Positif" dalam Ungkapan Melayu Tenas Effendy dari Gagasan Kritikan Melayu S. Othman Kelantan

    No full text
    This paper discusses about the symbol of "jantan" (male dominance) which have positive meanings, found in Malay proverbs by Tenas Effendy. This discussion uses the Framework of Malay Critiques by S. Othman Kelantan, which contains 10 principles. The underlying meanings in the "jantan" symbol will be analyzed to scrutinize the worldview of those who conceptualize these Malay proverbs as well as their association with the negative traits of male dominance. Malay proverbs that have been examined will be able to illuminate the inherent thought patterns of the Malay society, and at the same time, explore their vast knowledge of the world. Research on the Malay "Jantan" is important to analyze the lens in which was viewed by a predominantly oral society, as well as the explicit and implicit meanings of the symbols in Malay proverbs. Keywords: Symbol, male, proverbs, underlying meaning, Malay critiquesArtikel ini membincangkan simbol jantan positif yang terdapat dalam ungkapan Melayu. Ungkapan Melayu untuk kata "jantan" yang terpilih ini terkandung dalam buku Ungkapan Melayu - Pemahaman dan Permasalahannya oleh Tenas Effendy. Ungkapan Melayu merupakan kumpulan puisi lisan. Fokus penulisan hanya pada simbol jantan positif. Perbincangan bersandarkan Gagasan Kritikan Melayu oleh s. Othman Kelantan yang mengandungi 10 gagasan prinsip. Makna siratan simbol jantan dikupas untuk memperlihatkan pemikiran masyarakat Melayu yang menggunakan ungkapan ini. Artikel ini juga mencirikan setiap ciri "jantan positif" yang terakam dalam buku ini. Ungkapan Melayu yang dikaji dapat membongkar budaya pemikiran masyarakatnya secara tersirat, sekali gus menelusuri serta memanfaatkan ilmu pengetahuan daripada khazanah bangsa Melayu ini. Kajian tentang "jantan positif" ini penting untuk menganalisis sudut pandangan dunia masyarakat Melayu dalam sastera lisan yang disampaikan secara tersurat dan tersirat melalui penggunaan lambang dalam ungkapannya. Kata kunci: simbol, jantan, ungkapan Melayu, makna siratan, Gagasan Kritikan Melay

    Lakuan Pertuturan dalam Video Infografik COVID-19

    No full text
    This study focused on the analysis of Searle's speech acts (1969) in the COVID-19 infographic video by the Ministry of Health Malaysia (KKM). In general, this study was conducted to analyse the speech acts that were used by KKM in their infographic video. The speech acts were identified and analysed based on Searle's Speech Act Theory (1969). This theory highlights five speech acts, namely assertives, expressives, directives, commissives and declaratives. The research method used by the researcher is qualitative method by using content analysis as the research approach. The results showed that there was a total of 129 speech acts that include the five speech acts of Searle (1969). Of these, the directive speech acts were the most dominant and frequently used, totalling 67, followed by assertive speech acts, totalling 51. The third most frequently used speech act was expressive speech acts, totalling 6. Commissive and declarative speech acts were the least frequently used in the COVID-19 infographic video, totalling 4 and 1 respectively. The findings show that directive speech acts were the most dominant because the objective of the infographic video was to convey information on the orders of the Prime Minister and KKM. The use of the Speech Act Theory (Searle, 1969) was seen to be very effective in unravelling the meanings of the communicative intent of the speaker. Therefore, the effectiveness of the information conveyed can have a positive impact on the country and its society.Kajian ini berfokuskan analisis lakuan pertuturan Searle (1969) dalam video infografik COVID-19 oleh Kementerian Kesihatan Malaysia (KKM). Secara umumnya, kajian ini dilakukan untuk menganalisis lakuan pertuturan yang digunakan oleh KKM dalam video infografik. Lakuan pertuturan yang telah dikenal pasti dianalisis berdasarkan Teori Lakuan Pertuturan Searle (1969). Teori ini mengetengahkan lima lakuan, iaitu asertif, ekspresif, direktif, komisif dan deklaratif. Kaedah kajian yang digunakan oleh pengkaji ialah kaedah kualitatif. Dalam kajian ini pengkaji menggunakan analisis kandungan teks sebagai kaedah kajian. Hasil kajian mendapati terdapat sebanyak 129 lakuan pertuturan yang merangkumi kelima-lima lakuan pertuturan Searle (1969). Daripada jumlah lakuan pertuturan tersebut, lakuan pertuturan direktif merupakan lakuan yang paling dominan dan paling kerap digunakan, iaitu sebanyak 67 kekerapan, diikuti oleh lakuan pertuturan asertif sebanyak 51 kekerapan. Seterusnya, lakuan ketiga yang kerap digunakan ialah lakuan pertuturan ekspresif, iaitu sebanyak 6 kekerapan. Lakuan pertuturan komisif dan deklaratif merupakan lakuan yang paling kurang digunakan dalam video infografik COVID-19, iaitu sebanyak 4 dan 1 kekerapan. Dapatan ini menunjukkan lakuan direktif paling dominan kerana matlamat video infografik adalah untuk menyampaikan maklumat berdasarkan arahan daripada Perdana Menteri dan KKM. Penggunaan Teori Lakuan Pertuturan Searle (1969) amat bersesuaian bagi memperlihatkan hubungan komunikasi antara penutur dengan pendengar untuk memahami dengan lebih jelas makna hajat komunikatif penutur. Oleh yang demikian, keberkesanan maklumat yang disampaikan dapat memberikan impak yang positif kepada negara dan masyarakat

    Penentuan Tingkat Kekerabatan dan Abad Pisah antara Bahasa Banjar dengan Bahasa Melayu: Kajian Linguistik Sejarah dan Perbandingan

    No full text
    Banjar is an Austronesian language spoken by the Banjar tribe in Kalimantan, Indonesia as a mother tongue. The Banjar is hypothesized to be a proto-Malayik language, similar to the Minangkabau, Malay and Iban languages. This study will examine the cognates' level between Banjar and Malay language by listing the basic vocabulary of both languages; using lexicostatistical comparison and glottochronology method. This method determines the percentage of cognate words by calculating the number of cognate words through the studying the elements of retention and innovation. This basic vocabulary survey and listing will make use of Morris Swadesh's list of 200 words. Out of 195 basic vocabularies compared, 158 or 81.0% of the basic vocabularies of the Banjar are cognate with the Malay. Based on this percentage, it shows that Banjar and Malay are cognates. The century split between both languages from 2021 is assumed to be between the 15th century to the 17th century or around 1440 to 1602 years ago. Regardless the fact, the Banjar language could not be understood by Malay speakers unless it is learnt by them. The findings of this study prove that the lexicostatistical and glottochronological methods as suggested by Lees (Lehman, 1973: 105) and Gudschinsky (1964: 618) in determining the century split of Austronesian language is relevant and appropriate in systematically describing hypothetical age-based language genealogy as presented by Asmah (2008: 3) and other local researchers.Bahasa Banjar merupakan bahasa Austronesia yang dituturkan oleh suku Banjar di Kalimantan, Indonesia sebagai bahasa ibunda. Bahasa Banjar dihipotesiskan sebagai bahasa proto-Malayik sama seperti bahasa Minangkabau, bahasa Melayu dan bahasa Iban. Kajian ini meneliti hubungan kekerabatan antara bahasa Banjar dengan bahasa Melayu dengan cara menyenaraikan kosa kata dasar kedua-dua bahasa ini melalui penggunaan kaedah perbandingan leksikostatistik dan penerapan kaedah glotokronologi. Melalui kaedah ini, kadar peratusan kata berkerabat dapat ditentukan dengan cara menghitung jumlah kata berkognat melalui penelitian unsur retensi dan unsur inovasi. Tinjauan dan penyenaraian kosa kata asas bahasa ini memanfaatkan senarai 200 kata Morris Swadesh. Daripada 195 kosa kata dasar yang dibandingkan, terdapat sebanyak 158 atau 81% peratus kosa kata dasar bahasa Banjar yang berkognat dengan bahasa Melayu. Peratus kekerabatan ini memperlihatkan bahawa bahasa Banjar dan bahasa Melayu berada pada tingkat kekerabatan bahasa. Abad atau tahun pisah kedua-dua bahasa ini dari tahun 2021 diandaikan antara abad ke-15M hingga abad ke-17M atau 1440 hingga 1602 tahun yang lalu. Walaupun hubungan kekerabatan bahasa Banjar dengan bahasa Melayu sangat rapat, iaitu berada dalam tingkat kekerabatan bahasa, orang Melayu tidak dapat memahami bahasa Banjar kecuali dengan mempelajarinya. Dapatan kajian membuktikan bahawa kaedah leksikostatistik dan penerapan rumus glotokronologi yang telah disarankan oleh Lees (Lehman, 1973: 105) dan Gudschinsky (1964: 618) dalam menentukan abad pisah bahasa Austonesia adalah satu kaedah yang relevan dan bersesuaian dalam menghuraikan secara sistematik salasilah hipotetikal bahasa berdasarkan usia yang dikemukakan oleh Asmah (2008: 3) dan pengkaji-pengkaji tempatan yang lain

    0

    full texts

    804

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Dewan Bahasa dan Pustaka
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇