Dental Therapist Journal
Not a member yet
89 research outputs found
Sort by
Efektifitas Obat Kumur Kosmetik dan Obat Kumur Terapeutik dalam Menurunkan Debris Indeks
Obat Kumur Kosmetik dan Obat Kumur Terapeutik Terhadap Nilai Debris Indeks Dalam Mencegah Terbentuknya. Karies gigi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya adanya plak pada permukaan gigi, ketebalan plak, jumlah dan jenis bakteri dalam plak, dapat menyebabkan pH permukaan gigi turun dengan cepat. Menurunnya pH saliva (kapasitas dapar / asam) dan jumlah air ludah yang kurang berisiko terjadinya karies. Membersihkan gigi dan mulut dari debris merupakan langkah awal dalam pengendalian plak yang bertujuan untuk mencegah terjadinya karies, salah satunya dengan tindakan mekanis atau oral profilaksis melalui berkumur. Obat kumur sangat beragam diantaranya obat kumur kosmetik dan obat kumur terapeutik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas obat kumur kosmetik dan obat kumur terapeutik dalam menurunkan debris. Jenis penelitian pada penelitian ini yaitu experimental dengan rancangan one group pretest-postest design. Subjek dalam penelitian ini adalah murid kelas VI SDN 1 Rajabasa Jaya Bandar Lampung berjumlah 30 siswa, dengan rumus federer. Dalam penelitian ini menunjukan hasil obat kumur kosmetik lebih efektif dalam menurunkan debris sehingga dapat mencegah terbentuknya plak, terhindar dari karies gigi. Saran dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dianjurkan untuk berkumur selain melakukan sikat gigi, terbukti efektif dalam menurunkan debris.Obat Kumur Kosmetik dan Obat Kumur Terapeutik Terhadap Nilai Debris Indeks Dalam Mencegah Terbentuknya. Karies gigi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya adanya plak pada permukaan gigi, ketebalan plak, jumlah dan jenis bakteri dalam plak, dapat menyebabkan pH permukaan gigi turun dengan cepat. Menurunnya pH saliva (kapasitas dapar / asam) dan jumlah air ludah yang kurang berisiko terjadinya karies. Membersihkan gigi dan mulut dari debris merupakan langkah awal dalam pengendalian plak yang bertujuan untuk mencegah terjadinya karies, salah satunya dengan tindakan mekanis atau oral profilaksis melalui berkumur. Obat kumur sangat beragam diantaranya obat kumur kosmetik dan obat kumur terapeutik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas obat kumur kosmetik dan obat kumur terapeutik dalam menurunkan debris. Jenis penelitian pada penelitian ini yaitu experimental dengan rancangan one group pretest-postest design. Subjek dalam penelitian ini adalah murid kelas VI SDN 1 Rajabasa Jaya Bandar Lampung berjumlah 30 siswa, dengan rumus federer. Dalam penelitian ini menunjukan hasil obat kumur kosmetik lebih efektif dalam menurunkan debris sehingga dapat mencegah terbentuknya plak, terhindar dari karies gigi. Saran dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dianjurkan untuk berkumur selain melakukan sikat gigi, terbukti efektif dalam menurunkan debris
Motivasi Ibu Terhadap Kebiasaan Menyikat Gigi Anak Kelompok Belajar
Anak usia 4-12 tahun upaya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut masih merupakan hal yang sulit dilakukan. Namun belum tentu semua ibu memiliki motivasi yang kuat tentang perawatan kesehatan gigi dan mulut tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan motivasi ibu terhadap kebiasaan menyikat gigi anak kelas kelompok bermain. Metode penelitian menggunakan kualitatif dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel 16 responden yang diambil menggunakan total sampling. Motivasi ibu terhadap kebiasaan menyikat gigi anak berada dalam kategori baik. Hubungan antara motivasi ibu terhadap kebiasaan menyikat gigi dengan p-value 0,008 < 0,05. Maka disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara motivasi ibu terhadap kebiasaan menyikat gigi anak kelas kelompok bermain. Diharapkan motivasi ibu dapat meningkatkan derajat Kesehatan gigi.Anak usia 4-12 tahun upaya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut masih merupakan hal yang sulit dilakukan. Namun belum tentu semua ibu memiliki motivasi yang kuat tentang perawatan kesehatan gigi dan mulut tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan motivasi ibu terhadap kebiasaan menyikat gigi anak kelas kelompok bermain. Metode penelitian menggunakan kualitatif dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel 16 responden yang diambil menggunakan total sampling. Motivasi ibu terhadap kebiasaan menyikat gigi anak berada dalam kategori baik. Hubungan antara motivasi ibu terhadap kebiasaan menyikat gigi dengan p-value 0,008 < 0,05. Maka disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara motivasi ibu terhadap kebiasaan menyikat gigi anak kelas kelompok bermain. Diharapkan motivasi ibu dapat meningkatkan derajat Kesehatan gigi
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Masyarakat Mengunjungi Fasilitas Kesehatan Gigi dan Mulut
Faktor yang mempengaruhi keputusan masyarakat mengunjungi fasilitas kesehatan gigi dan mulut adalah faktor sosio-ekonomi. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor dominan yang mempengaruhi keputusan masyarakat mengunjungi fasilitas kesehatan gigi dan mulut. Metode Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif untuk menyajikan gambaran lengkap mengenai kehidupan sosial masyarakat yang berkenan dengan masalah yang akan diteliti dengan sampel 105 orang. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara mengirimkan kuesioner melalui media sosial Whatsapp. Hasil Responden yang mengsisi kuesioner pada penelitian ini sebanyak 105. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat yang mengunjungi fasilitas kesehatan gigi dan mulut didominasi oleh perempuan (71,4%), usia 20-60 tahun (52,3%), status pekerjaan PNS (36,1,%), dengan pendidikan terakhir S1 (34,2%), dan berpenghasilan dibawah tiga juta rupiah (50,4%). Faktor dominan yang mempengaruhi keputusan masyarakat tidak mengunjungi fasilitas kesehatan gigi dan mulut adalah faktor sosio-ekonomi (57,5%) dan faktor yang mempengaruhi keputusan masyarakat sering mengunjungi fasilitas kesehatan gigi dan mulut adalah sikap ramah dan sopan (90%). Kesimpulan dari hasil penelitian yaitu faktor dominan yang mempengaruhi keputusan masyarakat mengunjungi fasilitas kesehatan gigi dan mulut secara rutin adalah faktor sosio-ekonomi. Saran dari penelitian bagi petugas kesehatan yaitu mempromosikan kepada masyarakat mengenai penggunaan BPJS untuk pengobatan penyakit gigi dan mulut serta saran bagi masyarakat yaitu berkunjung ke fasilitas kesehatan gigi selama 6 bulan sekali.Faktor yang mempengaruhi keputusan masyarakat mengunjungi fasilitas kesehatan gigi dan mulut adalah faktor sosio-ekonomi. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor dominan yang mempengaruhi keputusan masyarakat mengunjungi fasilitas kesehatan gigi dan mulut. Metode Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif untuk menyajikan gambaran lengkap mengenai kehidupan sosial masyarakat yang berkenan dengan masalah yang akan diteliti dengan sampel 105 orang. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara mengirimkan kuesioner melalui media sosial Whatsapp. Hasil Responden yang mengsisi kuesioner pada penelitian ini sebanyak 105. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat yang mengunjungi fasilitas kesehatan gigi dan mulut didominasi oleh perempuan (71,4%), usia 20-60 tahun (52,3%), status pekerjaan PNS (36,1,%), dengan pendidikan terakhir S1 (34,2%), dan berpenghasilan dibawah tiga juta rupiah (50,4%). Faktor dominan yang mempengaruhi keputusan masyarakat tidak mengunjungi fasilitas kesehatan gigi dan mulut adalah faktor sosio-ekonomi (57,5%) dan faktor yang mempengaruhi keputusan masyarakat sering mengunjungi fasilitas kesehatan gigi dan mulut adalah sikap ramah dan sopan (90%). Kesimpulan dari hasil penelitian yaitu faktor dominan yang mempengaruhi keputusan masyarakat mengunjungi fasilitas kesehatan gigi dan mulut secara rutin adalah faktor sosio-ekonomi. Saran dari penelitian bagi petugas kesehatan yaitu mempromosikan kepada masyarakat mengenai penggunaan BPJS untuk pengobatan penyakit gigi dan mulut serta saran bagi masyarakat yaitu berkunjung ke fasilitas kesehatan gigi selama 6 bulan sekali
The Relationship of Students\u27 Knowledge Level About Diet with Prevalence of Dental Caries in Children 7–9 Years Old: Hubungan Tingkat Pengetahuan Siswa Tentang Pola Makan Dengan Prevalensi Karies Gigi Pada Anak 7–9 Tahun
Dental and oral health is an integral part of overall health services. One of the proposed technical programs is to develop a policy for preventing dental and oral diseases and to increase efforts to promote dental and oral health, especially for school-age children and adolescents. Dental caries or cavities are damage to the hard tissues of the teeth, from tooth enamel to dentin or bone. The purpose of this study was to determine the level of knowledge and prevalence of caries in the students of SD Negeri 2 Baumata Timur, Kupang Regency. The research method is a descriptive study with a sample of 30 respondents, consisting of children aged 7-9 years. The independent variable studied was the incidence of caries, the dependent variable was the child\u27s knowledge of eating patterns. The measuring instrument used is a questionnaire. The results of the study on respondents showed that the level of children\u27s knowledge about eating patterns was in the good category of 6.7%, the level of poor knowledge was 93.3%. While children who have caries are in the very high category with a percentage of 96.7 (29 students), children who are free of caries with a percentage of 3.3 (1 student).
Kesehatan Gigi dan mulut merupakan bagian integral dari pelayanan Kesehatan secara menyeluruh. Salah satu program teknis yang disarangkan adalah mengembangkan kebijakan pencegahan penyakit gigi dan mulut serta meningkatkan upaya promosi kesehatan gigi dan mulut khusunya pada anak-anak usia sekolah dan remaja. Karies Gigi atau Gigi berlubang merupakan merupakan kerusakan pada jaringan keras gigi di mulai dari email gigi hingga dentin atau tulang gigi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan prevalensi karies pada siswa Sekolah Dasar Negeri 2 Baumata Timur Kabupaten Kupang. Metode penelitian merupakan penelitian deskriptif dengan pengambilan sampel sampel sebanyak 30 responden yaitu terdiri dari anak usia 7-9 tahun. Variabel bebas yang diteliti yakni kejadian karies, Variabel terikat yakni pengetahuan anak tentang pola makan. Alat ukur yang digunakan adalah kusioner. Hasil penelitian pada responden menunjukkan tingkat pengetahuan anak tentang pola makan berada pada kategori baik sebesar 6,7%, tingkat pengetahuan buruk sebanyak 93,3%. Sedangkan anak yang memiliki karies berada pada kategori sangat tinggi dengan Persentase 96,7 (29 siswa), anak yang bebas karies dengan persentase 3,3 (1 siswa)
Perilaku Ibu Bekerja dan Tidak Berkerja Dalam Menjaga Kesehatan Gigi Anak Selama Pandemi Covid-19
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi anak untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut, antara lain adalah peran orang tua. Karena perilaku orang tua, terutama ibu dinilai mampu mempengaruhi kebiasaan anak. Dampak COVID-19 terhadap kebiasaan merawat gigi telah terjadi penurunan kebiasaan menyikat gigi dua kali sehari dibandingkan hasil survey tahun 2018. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan perilaku ibu bekerja dan tidak bekerja dalam menjaga kesehatan gigi Anak selama pandemi Covid-19. Jenis penelitian ini adalah deksriptif. Pengambilan sampel dengan menggunakan kuota sampling, sehingga jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 40 orang. Hasil Penelitian menunjukkan Perilaku ibu bekerja dan tidak bekerja dalam menjaga kesehatan gigi anak selama pandemi covid-19 dengan hasil untuk ibu bekerja pengetahuan termasuk kriteria baik yaitu sebanyak 20 orang (100,00%), sikap termasuk kriteria kurang yaitu sebanyak 20 orang (100,00%), sedangkan untuk tindakan termasuk kriteria baik yaitu sebanyak 11 orang (55,00%). Sedangkan perilaku bagi ibu yang tidak bekerja dilihat dari pengetahuan termasuk kriteria baik sebanyak 20 orang (100,00%), sikap termasuk kriteria baik sebanyak 18 orang (90,00%), dan untuk tindakan termasuk dalam kriteria baik adalah sebanyak 11 orang (55,00%). Kesimpulannya yaitu Ibu yang tidak bekerja lebih banyak waktu sehingga bertindak dengan baik terhadap anak pada saat anak masih dalam pengawasannya dibandingkan ibu yang bekerja karena ibu tidak bisa mengawasi anak pada saat anak disekolah dan bermain dilingkungan luar rumah sehingga pada saat itulah anak berperilaku sendiri. Saran kedepannya dapat mengembangkan isi dari penelitian dengan cakupan yang lebih luas dan aspek yang lebih lengkap serta variabel yang berbeda.Banyak faktor yang dapat mempengaruhi anak untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut, antara lain adalah peran orang tua. Karena perilaku orang tua, terutama ibu dinilai mampu mempengaruhi kebiasaan anak. Dampak COVID-19 terhadap kebiasaan merawat gigi telah terjadi penurunan kebiasaan menyikat gigi dua kali sehari dibandingkan hasil survey tahun 2018. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan perilaku ibu bekerja dan tidak bekerja dalam menjaga kesehatan gigi Anak selama pandemi Covid-19. Jenis penelitian ini adalah deksriptif. Pengambilan sampel dengan menggunakan kuota sampling, sehingga jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 40 orang. Hasil Penelitian menunjukkan Perilaku ibu bekerja dan tidak bekerja dalam menjaga kesehatan gigi anak selama pandemi covid-19 dengan hasil untuk ibu bekerja pengetahuan termasuk kriteria baik yaitu sebanyak 20 orang (100,00%), sikap termasuk kriteria kurang yaitu sebanyak 20 orang (100,00%), sedangkan untuk tindakan termasuk kriteria baik yaitu sebanyak 11 orang (55,00%). Sedangkan perilaku bagi ibu yang tidak bekerja dilihat dari pengetahuan termasuk kriteria baik sebanyak 20 orang (100,00%), sikap termasuk kriteria baik sebanyak 18 orang (90,00%), dan untuk tindakan termasuk dalam kriteria baik adalah sebanyak 11 orang (55,00%). Kesimpulannya yaitu Ibu yang tidak bekerja lebih banyak waktu sehingga bertindak dengan baik terhadap anak pada saat anak masih dalam pengawasannya dibandingkan ibu yang bekerja karena ibu tidak bisa mengawasi anak pada saat anak disekolah dan bermain dilingkungan luar rumah sehingga pada saat itulah anak berperilaku sendiri. Saran kedepannya dapat mengembangkan isi dari penelitian dengan cakupan yang lebih luas dan aspek yang lebih lengkap serta variabel yang berbeda
Kartu Gigi Beta Sehat Untuk Penentuan Prevalensi Karies dan Kebutuhan Perawatannya Pada Siswa Sekolah Dasar
Karies adalah kerusakan pada jaringan keras gigi yang dimulai dengan adanya bercak putih pada permukaan gigi yang dapat berkembang menjadi kavitas. Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2013 menunjukkan bahwa sebanyak 89% siswa berusia < 12 tahun mengalami karies gigi dan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menyatakan bahwa proporsi masalah gigi terbesar adalah gigi berlubang yaitu sebanyak 45.3%, prevalensi karies pada siswa kelompok usia 5 – 9 tahun adalah 92,6%, pada kelompok usia 10 – 14 tahun adalah sebesar 73,4%, serta rata-rata gigi permanen berkaries pada kelompok usia 12 tahun adalah sebanyak 2 gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan prevalensi fisur dalam, karies serta kebutuhan perawatannya pada anak usia sekolah dasar. Penelitian ini adalah suatu studi deskriptif dengan metode survei yang dilakukan di SD Negeri 2 Baumata Timur, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang dengan jumlah siswa yang diperiksa giginya sebanyak 138. Untuk mengukur prevalensi fisur dalam , karies , serta kebutuhan perawatannya, digunakan Kartu Gigi Beta Sehat sebagai instrument pendokumentasi kondisi rongga mulut beserta kebutuhan perawatannya. Data yang diperoleh akan dianalisa secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi fisur dalam sebesar 15.58%, karies superfisial sebanyak 28.34% karies media 18.69%, karies profunda 18.25%, karies mencapai akar 5.34% dan 5.5% berupa kasus lain, seperti resobsi fisiologis, persistensi atau kasus lainnya. Dapat disimpulkan bahwa prevalensi fisur dalam adalah sebesar 15.58%, prevalensi karies yang tertinggi adalah karies superfisial yaitu sebesar 28.34%. Perawatan yang paling dibutuhkan adalah penumpatan gigi. Disarankan adanya tindak lanjut dari pemberi layanan kesehatan setempat agar segera melaksanakan pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut bagi para siswa secara periodik berkesinambungan agar prevalensi karies tidak mengalami peningkatan, serta perlunya pemberdayaan guru dan orangtua siswa untuk membantu siswa memiliki kemampuan pelihara diri di bidang kesehatan gigi (oral self care).Karies adalah kerusakan pada jaringan keras gigi yang dimulai dengan adanya bercak putih pada permukaan gigi yang dapat berkembang menjadi kavitas. Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2013 menunjukkan bahwa sebanyak 89% siswa berusia < 12 tahun mengalami karies gigi dan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menyatakan bahwa proporsi masalah gigi terbesar adalah gigi berlubang yaitu sebanyak 45.3%, prevalensi karies pada siswa kelompok usia 5 – 9 tahun adalah 92,6%, pada kelompok usia 10 – 14 tahun adalah sebesar 73,4%, serta rata-rata gigi permanen berkaries pada kelompok usia 12 tahun adalah sebanyak 2 gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan prevalensi fisur dalam, karies serta kebutuhan perawatannya pada anak usia sekolah dasar. Penelitian ini adalah suatu studi deskriptif dengan metode survei yang dilakukan di SD Negeri 2 Baumata Timur, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang dengan jumlah siswa yang diperiksa giginya sebanyak 138. Untuk mengukur prevalensi fisur dalam , karies , serta kebutuhan perawatannya, digunakan Kartu Gigi Beta Sehat sebagai instrument pendokumentasi kondisi rongga mulut beserta kebutuhan perawatannya. Data yang diperoleh akan dianalisa secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi fisur dalam sebesar 15.58%, karies superfisial sebanyak 28.34% karies media 18.69%, karies profunda 18.25%, karies mencapai akar 5.34% dan 5.5% berupa kasus lain, seperti resobsi fisiologis, persistensi atau kasus lainnya. Dapat disimpulkan bahwa prevalensi fisur dalam adalah sebesar 15.58%, prevalensi karies yang tertinggi adalah karies superfisial yaitu sebesar 28.34%. Perawatan yang paling dibutuhkan adalah penumpatan gigi. Disarankan adanya tindak lanjut dari pemberi layanan kesehatan setempat agar segera melaksanakan pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut bagi para siswa secara periodik berkesinambungan agar prevalensi karies tidak mengalami peningkatan, serta perlunya pemberdayaan guru dan orangtua siswa untuk membantu siswa memiliki kemampuan pelihara diri di bidang kesehatan gigi (oral self care)
Kepuasan Pasien Peserta BPJS Terhadap Pelayanan Dokter Gigi Keluarga Menggunakan Customer Satisfaction Indeks
Dokter gigi keluarga merupakan salah satu fasilitas kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut kepada peserta BPJS yang kepesertaannya terdaftar pada dokter gigi tersebut. Dari 7 dokter gigi keluarga yang menjadi fasilitas kesehatan TK 1 BPJS di Nusa Tenggara Timur, sebanyak 5 dokter gigi keluarga tersebut berada di kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Tingkat kepuasan pasien harus menjadi kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari pengukuran mutu layanan kesehatan. Bila tidak sesuai dengan kebutuhan yang menjadi kepentingan atau harapannya, maka yang dirasakan pasien adalah ketidakpuasan. Customer satisfaction index (CSI) diperlukan untuk mengetahui kepuasan pasien secara menyeluruh dengan memperhatikan tingkat kepentingan masing-masing dimensi kualitas pelayanan, customer satisfaction index (CSI) memiliki keunggulan mudah digunakan dan sederhana serta menggunakan indeks kepuasan dengan skala yang memiliki sensitivitas dan reabilitas cukup tinggi. Metode CSI digunakan untuk mengetahui tingkat kepuasan pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada pasien BPJS di praktek dokter gigi keluarga. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kepuasan pasien BPJS di pelayanan dokter gigi keluarga di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan rancangan cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 60 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pelayanan kesehatan gigi dan mulut dimensi kualitas pelayanan dengan menggunakan metode CSI pasien BPJS yang mendapat pelayanan dokter gigi keluarga di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur seperti jaminan (assurance) yaitu 88,44%, empati (empathy) yaitu 91,68%, kehandalan (reliability) yaitu 91,99%, daya tanggap (responsibility) yaitu 92,36%, dan tampilan fisik (tangible) yaitu 89,49% termasuk kategori Sangat Puas. Disarankan agar Pelayanan Kesehatan gigi dan mulut kepada pasien BPJS di dokter gigi keluarga dapat dipertahankan dan ditingkatkan.Dokter gigi keluarga merupakan salah satu fasilitas kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut kepada peserta BPJS yang kepesertaannya terdaftar pada dokter gigi tersebut. Dari 7 dokter gigi keluarga yang menjadi fasilitas kesehatan TK 1 BPJS di Nusa Tenggara Timur, sebanyak 5 dokter gigi keluarga tersebut berada di kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Tingkat kepuasan pasien harus menjadi kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari pengukuran mutu layanan kesehatan. Bila tidak sesuai dengan kebutuhan yang menjadi kepentingan atau harapannya, maka yang dirasakan pasien adalah ketidakpuasan. Customer satisfaction index (CSI) diperlukan untuk mengetahui kepuasan pasien secara menyeluruh dengan memperhatikan tingkat kepentingan masing-masing dimensi kualitas pelayanan, customer satisfaction index (CSI) memiliki keunggulan mudah digunakan dan sederhana serta menggunakan indeks kepuasan dengan skala yang memiliki sensitivitas dan reabilitas cukup tinggi. Metode CSI digunakan untuk mengetahui tingkat kepuasan pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada pasien BPJS di praktek dokter gigi keluarga. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kepuasan pasien BPJS di pelayanan dokter gigi keluarga di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan rancangan cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 60 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pelayanan kesehatan gigi dan mulut dimensi kualitas pelayanan dengan menggunakan metode CSI pasien BPJS yang mendapat pelayanan dokter gigi keluarga di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur seperti jaminan (assurance) yaitu 88,44%, empati (empathy) yaitu 91,68%, kehandalan (reliability) yaitu 91,99%, daya tanggap (responsibility) yaitu 92,36%, dan tampilan fisik (tangible) yaitu 89,49% termasuk kategori Sangat Puas. Disarankan agar Pelayanan Kesehatan gigi dan mulut kepada pasien BPJS di dokter gigi keluarga dapat dipertahankan dan ditingkatkan
GAMBARAN GIGI YANG BERJEJAL DAN GIGI TIDAK BERJEJALTERHADAP KARANG GIGI PADA SISWA KELAS IV DAN V SEKOLAH DASAR: GAMBARAN GIGI YANG BERJEJAL DAN GIGI TIDAK BERJEJALTERHADAP KARANG GIGI PADA SISWA KELAS IV DAN V SEKOLAH DASAR
Crowded teeth are ideal for germs to thrive because of the hard-to-reach places with a toothbrush. Some Indonesian people pay less attention to dental health conditions. Maintenance of dental health is considered unimportant, even though the function of teeth is very important and is an integral part of other body parts. To improve the degree of optimal dental health, especially in children\u27s dental health, it is necessary to carry out health efforts starting from dental health at home and at school. The purpose of this study was to determine the type and number of crowded teeth and to determine the ratio of tartar between crowding and non-crowded teeth. This research is descriptive with direct examination method on students. The sample taken consisted of students of Class IV and V, totaling 30 people who were divided into 2 groups, namely 15 people who had crowded teeth and 15 people whose teeth were not crowded. The results of the study obtained the type and number of crowded teeth and the percentage of tartar criteria. The type and number of crowding teeth obtained 27 crowding 1st and 2nd incisors, 4 canines and 1 premolar. The percentage of tartar criteria on crowded teeth obtained good criteria as much as 0%, moderate criteria by 47%, and bad criteria by 53%. Meanwhile, for teeth that are not crowded, 20% of the criteria are good, 54% are moderate, and 26% are bad. The conclusion of this study is that it can be seen from the results of the examination that the teeth with the most crowding are the incisors and canines, one of the reasons is because the incisor milk teeth fall out prematurely, the next tooth shifts obliquely to an empty place so that the space for the replacement tooth will be narrowed. so that it will grow outside the arch of the tooth. Crowded teeth are one of the factors that affect the occurrence of tartar.
Gigi berjejal merupakan ideal bagi kuman untuk berkembang karena adanya bagian-bagian yang sulit dijangkau oleh sikat gigi. Sebagian masyarakat Indonesia kurang memperhatikan kondisi kesehatan gigi. Pemeliharaan kesehatan gigi dianggap tidak penting, padahal fungsi gigi sangat penting dan merupakan satu kesatuan dengan anggota tubuh lainnya. Untuk meningkatkan derajat kesehatan gigi yang optimal, terutama pada kesehatan gigi anak perlu diselenggarakan upaya kesehatan mulai dari kesehatan gigi di rumah maupun di sekolah. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui jenis dan jumlah gigi yang berjejal dan untuk mengetahui perbandingan karang gigi antara gigi yang berjejal dan gigi yang tidak berjejal. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode pemeriksaan langsung pada siswa/i. sampel yang diambil terdiri dari siswa Kelas IV dan V, yang berjumlah 30 orang yang dibagi 2 kelompok yaitu yang memiliki gigi berjejal sebanyak 15 orang dan sebanyak 15 orang yang giginya tidak berjejal. Hasil penelitian diperoleh jenis dan jumlah gigi yang berjejal dan persentase kriteria karang gigi. Jenis dan jumlah gigi yang berjejal diperoleh 27 gigi incisivus ke 1 dan ke 2 yang berjejal, 4 gigi caninus dan 1 gigi premolar. Persentase kriteria karang gigi pada gigi yang berjejal diperoleh kriteria baik sebanyak 0%, kriteria sedang sebesar 47%, dan kriteria buruk sebesar 53%. Sedangkan pada gigi yang tidak berjejal diperoleh kriteria baik sebanyak 20%, kriteria sedang sebanyak 54% dan kriteria buruk sebanyak 26%. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu dilihat dari hasil pemeriksaan bahwa gigi yang paling banyak berjejal adalah gigi incisivus dan gigi caninus, salah satu penyebabnya karna gigi susu incisivus tanggal sebelum waktunya maka gigi sebelahnya bergeser miring ke tempat yang kosong sehingga ruangan untuk tumbuh gigi penggantinya akan mengalami penyempitan sehingga akan tumbuh diluar lengkungan gigi. Gigi yang berjejal salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya karang gigi.Gigi berjejal merupakan ideal bagi kuman untuk berkembang karena adanya bagian-bagian yang sulit dijangkau oleh sikat gigi. Sebagian masyarakat Indonesia kurang memperhatikan kondisi kesehatan gigi. Pemeliharaan kesehatan gigi dianggap tidak penting, padahal fungsi gigi sangat penting dan merupakan satu kesatuan dengan anggota tubuh lainnya. Untuk meningkatkan derajat kesehatan gigi yang optimal, terutama pada kesehatan gigi anak perlu diselenggarakan upaya kesehatan mulai dari kesehatan gigi di rumah maupun di sekolah.
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui jenis dan jumlah gigi yang berjejal dan untuk mengetahui perbandingan karang gigi antara gigi yang berjejal dan gigi yang tidak berjejal. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode pemeriksaan langsung pada siswa/i. sampel yang diambil terdiri dari siswa Kelas IV dan V, yang berjumlah 30 orang yang dibagi 2 kelompok yaitu yang memiliki gigi berjejal sebanyak 15 orang dan sebanyak 15 orang yang giginya tidak berjejal.
Hasil penelitian diperoleh jenis dan jumlah gigi yang berjejal dan persentase kriteria karang gigi. Jenis dan jumlah gigi yang berjejal diperoleh 27 gigi incisivus ke 1 dan ke 2 yang berjejal, 4 gigi caninus dan 1 gigi premolar. Persentase kriteria karang gigi pada gigi yang berjejal diperoleh kriteria baik sebanyak 0%, kriteria sedang sebesar 47%, dan kriteria buruk sebesar 53%. Sedangkan pada gigi yang tidak berjejal diperoleh kriteria baik sebanyak 20%, kriteria sedang sebanyak 54% dan kriteria buruk sebanyak 26%.
Kesimpulan dari penelitian ini yaitu dilihat dari hasil pemeriksaan bahwa gigi yang paling banyak berjejal adalah gigi incisivus dan gigi caninus, salah satu penyebabnya karna gigi susu incisivus tanggal sebelum waktunya maka gigi sebelahnya bergeser miring ke tempat yang kosong sehingga ruangan untuk tumbuh gigi penggantinya akan mengalami penyempitan sehingga akan tumbuh diluar lengkungan gigi. Gigi yang berjejal salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya karang gigi
HUBUNGAN STATUS GIZI TERHADAP TERJADINYA KARIES GIGI PADA ANAK SEKOLAH DASAR: Hubungan Status Gizi Terhadap Terjadinya Karies Gigi Pada Anak Sekolah Dasar
Nutritional status is the state of the body as a result of food consumption and use of nutrients. The food consumed can affect the incidence of caries, especially the types of foods that contain sugar (glucose, sucrose, fructose) because it causes a low intake of fluoride which plays an important role in preventing dental caries. The main factors causing caries are host factors, agents/microorganisms, substrates/diet, and time. The aim of the study was to determine the relationship between nutritional status and the occurrence of dental caries in elementary school children. This research method is a systematic review study that aims to examine the relationship between nutritional status and the occurrence of caries in elementary school children in terms of 10 research journals. The articles studied were the majority in 2020 (40%), analytical research design with cross sectional design (80%), research sampling with purposive sampling (50%), research instruments with observation using the caries examination format and anthropometric assessment forms of nutritional status as many as (80%). Statistical analysis of research using chi square test and person correlation test respectively (20%). The results of this research review can be concluded that the nutritional status category of elementary school children is mostly normal (70%) while dental caries in school children is mostly high (80%). This is caused by the lack of understanding of children to maintain dental and oral hygiene. The results of the analysis carried out in a systematic review showed a significant relationship between nutritional status and the occurrence of dental caries. This is because the lower the dental caries index in the respondent, the better the nutritional status.
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Makanan yang dikonsumsi dapat mempengaruhi timbulnya karies khususnya jenis makanan yang mengandung gula (glukosa, sukrosa, fruktosa) karena menyebabkan rendahnya asupan fluorida yang berperan penting untuk pencegahan karies gigi..Karies merupakan suatu penyakit pada jaringan keras gigi yaitu email, dentin dan sementum. Faktor utama penyebab karies adalah faktor host/ tuan rumah, agen/ mikroorganisme, substrak/ diet, dan waktu. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan status gizi terhadap terjadinya karies gigi pada anak sekolah dasar. Metode penelitian ini merupakan penelitian systematicreview yang bertujuan menelaa hubungan status gizi terhadap terjadinya karies pada anak sekolah dasar ditinjau dari 10 jurnal penelitian. Artikel yang diteliti adalah mayoritas tahun 2020 (40%), desain penelitian dengan Analitik dengan design cross sectional (80%), sampling penelitian dengan Purposive Sampling (50%), Intrumen penelitian dengan observasi menggunakan format pemeriksaan Karies dan formulir penilaian antropometri status gizi sebanyak (80%). Analisis Statistik penelitian dengan menggunakan uji chi square dan uji korelasi person masing-masing (20%). Hasil review penelitian ini dapat di simpulkan bahwa kategori status gizi pada anak sekolah dasar mayoritas normal (70%) sedangkan karies gigi pada anak Sekolah mayoritas tinggi (80%). Hal ini di sebabkan karena kurangnya pemahaman anak-anak untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut. Hasil analisis yang di lakukan secara systematic review terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi terhadap terjadinya karies gigi. Hal tersebut dikarenakan semakin rendah indeks karies gigi pada responden, maka status gizinya akan semakin baik.Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Makanan yang dikonsumsi dapat mempengaruhi timbulnya karies khususnya jenis makanan yang mengandung gula (glukosa, sukrosa, fruktosa) karena menyebabkan rendahnya asupan fluorida yang berperan penting untuk pencegahan karies gigi..Karies merupakan suatu penyakit pada jaringan keras gigi yaitu email, dentin dan sementum. Faktor utama penyebab karies adalah faktor host/ tuan rumah, agen/ mikroorganisme, substrak/ diet, dan waktu.
Tujun penelitian untuk mengetahui hubungan status gizi terhadap terjadinya karies gigi pada anak sekolah dasar.Metode penelitian ini merupakan penelitian systematicreview yangbertujuan menelaa hubungan status gizi terhadap terjadinya karies pada anak sekolah dasar ditinjau dari 10 jurnal penelitian. Artikel yang diteliti adalah mayoritas tahun 2020 (40%), desain penelitian dengan Analitik dengan design cross sectional (80%),sampling penelitian dengan Purposive Sampling (50%),Intrumen penelitian dengan observasi menggunakan format pemeriksaan Karies dan formulir penilaian antropometri status gizi sebanyak (80%).Analisis Statistik penelitian dengan menggunakan uji chi square dan uji korelasi person masing-masing (20%).
Hasil riview penelitian ini dapat di simpulkan bahwa kategori status gizi pada anak sekolah dasar mayoritas normal (70%) sedangkan karies gigi pada anak Sekolah mayoritas tinggi (80%). Hal ini di sebabkan karena kurangnya pemahaman anak-anak untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut.
Hasil analisis yang di lakukan secara systematicreview terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi terhadap terjadinya karies gigi. Hal tersebut dikarenakan semakin rendah indeks karies gigi pada responden, maka status gizinya akan semakin baik
Characteristics of dental caries in users of partial removable prostheses in Kepayang Village, Peladis Village, Anjongan District in 2015: Karakteristik Karies Gigi Pada Pengguna Protesa Lepasan Sebagian Di Desa Kepayang Dusun Peladis Kecamatan Anjongan Tahun 2015
The use of dentures can cause plaque buildup on the denture base. The accumulation of plaque that is allowed to continue can make the oral cavity acidic and can lead to the risk of dental caries in the remaining natural teeth. This study aims to determine the characteristics of dental caries in users of partial removable prostheses in Kepayang Village, Peladis Subdistrict, Anjongan District in 2015. The study was descriptive and sampling used purposive sampling method with a sample of 34 respondents with a population of 876 people. The research instruments used were standard tools (mouth mirror, probe, tweezers and excavator), personal protective equipment (masks and gloves), cotton, alcohol, disclosing, ethyl chloride, and data entry format. The results showed that the average use of dentures was 7.6 years, the average number of prostheses used was 6 teeth, with the category of debris score on the prosthesis 38.2% good, the average debris score on the remaining teeth 1.4 ( bad) and on average there was caries on one surface 7.3, on two surfaces 2.4, on three surfaces 0.9, on four surfaces 2.2, on five surfaces 1.4 and on six surfaces 3 with a total severity 111 caries reached the enamel, 51 reached the dentin, 14 reached the pulp and 127 reached the root. Based on the results of the study, it was found that the longer the use of the caries prosthesis on the remaining teeth also got worse, with caries characteristics found in the parts that were in direct contact with the denture base and elements, namely mesial, distal, cervical, palatal or lingual.
Pemakaian gigi tiruan dapat menyebabkan penumpukan plak pada basis gigi tiruan. Penumpukan plak yang dibiarkan terus menerus dapat membuat rongga mulut menjadi asam dan dapat menyebabkan resiko terjadinya karies gigi pada sisa gigi asli. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik karies gigi pada pengguna protesa lepasan sebagian di Desa Kepayang Dusun Peladis Kecamatan Anjongan tahun 2015. Penelitian bersifat deskriptif dan pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan sampel yang berjumlah 34 responden dengan jumlah populasinya 876 jiwa. Instrumen penelitian yang digunakan yakni alat standar (kaca mulut, sonde, pinset dan excavator), alat perlindungan diri (Masker dan sarung tangan), Kapas, Alkohol, disclosing, etil cloride, format pengisian data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pemakaian gigi protesa 7,6 tahun, rata-rata jumlah gigi protesa yang digunakan 6 gigi, dengan kategori skor debris pada protesa 38,2% baik, rata–rata skor debris pada gigi sisa 1,4 (buruk) dan rata-rata terdapat karies pada satu permukaan 7,3, pada dua permukaan 2,4, pada tiga permukaan 0,9, pada empat permukaan 2,2, pada lima permukaan 1,4 dan pada enam permukaan 3 dengan total keparahan karies 111 mencapai email, 51 mencapai dentin, 14 mencapai pulpa dan 127 mencapai akar. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh semakin lama penggunaan protesa karies yang terdapat pada sisa gigi juga semakin parah, dengan karakteristik karies terdapat pada bagian yang bersentuhan langsung dengan basis dan elemen gigi tiruan yaitu mesial, distal, servikal, palatal atau lingual