Dental Therapist Journal
Not a member yet
89 research outputs found
Sort by
Peran Orang Tua dalam Pemeliharaan Kesehatan Gigi dan Mulut
Abstract: The Role of Parents in the Maintenance of Dental and Mouth Health. Dental health education must be introduced as early as possible to children so they can know how to maintain oral and dental health properly. The active role of parents in the development of children is very necessary when they are still under preschool age. The active role of parents in question is to guide, provide understanding, remind, and provide facilities to children. Preschoolers cannot maintain their health properly and effectively, so parents must keep an eye on this procedure continuously. The purpose of this study was to determine the general description of the role of parents of Rosa Mystica Liliba Kupang kindergartens in maintaining oral health. This type of research is a descriptive study describing the role of parents of Rosa Mystica Liliba Kupang kindergartens in maintaining oral health regarding the regulation of children\u27s eating diets, how to brush their teeth properly, and control dental health. This research method is descriptive research. The results of this study indicate the role of parents in regulating dietary foods including moderate criteria, how to brush teeth properly including good criteria and control of oral health including good criteria. Overall, the role of parents of kindergarten children Rosa Mystica Liliba in maintaining oral health has good criteria. The conclusion of this study is the role of parents of Rosa Mystica Liliba Kindergarten children in maintaining oral health is good but the right action has not been implemented so that the average dental caries of children is still high namely 4 carious teeth.
Abstrak: Peran Orang Tua dalam Pemeliharaan Kesehatan Gigi dan Mulut. Pendidikan kesehatan gigi harus diperkenalkan sedini mungkin kepada anak agar mereka dapat mengetahui cara memelihara kesehatan gigi dan mulut secara baik dan benar. Peran aktif orang tua terhadap perkembangan anak sangat diperlukan pada saat mereka masih berada dibawah usia prasekolah. Peran aktif orang tua yang dimaksud adalah membimbing, memberikan pengertian, mengingatkan, dan menyediakan fasilitas kepada anak. Anak usia prasekolah tidak dapat menjaga kesehatan nya secara benar dan efektif maka orang tua harus mengawasi prosedur ini secara terus-menerus. Tujuan Penelitian ini adalah Untuk mengetahui gambaran umum peran orang tua anak TK Rosa Mystica Liliba Kupang dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Jenis Penelitian adalah penelitian deskriptif yang menggambarkan peran orang tua anak TK Rosa Mystica Liliba Kupang dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut mengenai pengaturan diet makan anak, cara menyikat gigi yang baik dan benar dan kontrol kesehatan gigi. Metode penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Hasil Penelitian ini menunjukkan peran orang tua dalam pengaturan diet makanan termasuk kriteria sedang, cara menyikat gigi yang baik dan benar termasuk kriteria baik dan kontrol kesehatan gigi dan mulut termasuk kriteria baik. Secara keseluruhan peran orang tua anak TK Rosa Mystica Liliba dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut mendapat kriteria baik. Simpulan dari penelitian ini adalah peran orang tua anak TK Rosa Mystica Liliba dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut sudah baik namun tindakan yang tepat belum terlaksana sehingga rata-rata karies gigi anak masih tinggi yakni 4 gigi berkaries. 
Hubungan Frekuensi Menyikat Gigi dengan Tingkat Kejadian Karies
Abstract: Correlation between toothbrushing frequency and caries incidence rate. Dental and oral health is part of the health of the body that can not be separated from one another because the health of teeth and mouth will affect the health of the body. Maintenance of dental and oral hygiene is one of the efforts to improve oral health. Therefore, oral health is very important in supporting the health of one\u27s body. Brushing teeth is cleaning teeth from food particles, plaque, bacteria, and reducing the discomfort of unpleasant odors and tastes. The habit of brushing your teeth is an activity or routine in terms of cleaning teeth from food scraps to maintain the cleanliness and health of teeth and mouth. Based on the results of research on the relationship of the frequency of brushing teeth with a caries incidence rate in class VII students of SMP Negeri 3 Fatuleu as many as 62 people consisting of 23 men and 39 women, the examination results (DMF-T) in grade VII students compared with the National standard average ≤ 2.0. Based on the results of the study showed that respondents who brush their teeth once a day are 55 people with a percentage of 89% and respondents who brush their teeth twice a day are as many as 7 people with a percentage of 11%. Based on the results of the study showed that the number of respondents who brushed teeth once a day was 55 people with 78 teeth caries, while the number of respondents brushed twice a day was 7 people with 8 teeth caries.
Abstrak: Hubungan Frekuensi Menyikat Gigi dengan Tingkat Kejadian Karies. Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan tubuh yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya sebab ksehatan gigi dan mulut akan mempengaruhi kesehatan tubuh. Pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut merupakan sala satu upaya dalam meningkatkan kesehatan gigi dan mulut. Oleh karena itu, kesehatan gigi dan mulut sangat berperan dalam menunjang kesehatan tubuh seseorang. Menyikat gigi adalah membersihkan gigi dari partikel makanan, plak, bakteri, dan mengurangi ketidaknyamanan dari bau dan rasa yang tidak nyaman. Kebiasaan menyikat gigi merupakan suatu kegiatan atau rutinitas dalam hal membersihkan gigi dari sisa–sisa makanan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut. Berdasarkan hasil penelitian tentang Hubungan Frekuensi Menyikat Gigi Dengan Tingkat Kejadian Karies pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Fatuleu sebanyak 62 orang yang terdiri dari laki-laki sebanyak 23 orang dan perempuan sebanyak 39 orang, Hasil pemeriksaan (DMF-T) pada siswa kelas VII dibandingkan dengan rata-rata standar Nasional ≤ 2,0. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa responden yang menyikat gigi 1X sehari sebanyak 55 orang dengan persenrate sebesar 89% dan responden yang menyikat gigi 2X sehari yaitu sebanyak 7 orang dengan persentase 11%. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah responden yang menyikat gigi 1X dalam sehari sebanyak 55 orang dengan jumlah gigi yang berkaries sebanyak 78 gigi, sedangkan jumlah responden yang menyikat gigi 2X sehari sebanyak 7 orang dengan jumlah gigi yang berkaries sebanyak 8 gigi
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi pada Tindakan Perawatan Scaling
Abstract: Infection Prevention and Control in Scaling Treatment Measures.Dental health workers are a group that is susceptible to infection because in the course of treatment often in contact with saliva and blood. Saliva and blood are intermediaries for transmitting infections so the action in high risk dental practice in daily clinical practice. The rules are obeyed, in order to avoid operators or patients against cross infections that can occur in clinical practice. This study aims to determine the prevention and control of infection in scaling at the Dental Health Department education clinic. This research method is descriptive observational cross-sectional study design. The number of samples was 32 dental nurse students from the Dental Health Department. The tools and materials used in the study are the assessment list / check list sheet and stationery. The results of this study indicate infection prevention and control: the operator is in the moderate category (53.1%,) all operators (100%) use a sterile device, one glass mouth rinse for each patient (87.5%) and only 12 suction, 5% and 75% instruct patients to gargle antiseptic before treatment, manage dental equipment (100%) clean equipment using soap and running water and bring clean equipment to the sterilization room, and 100% use aprons, masks and thick gloves only (78, 1%) around 81.2% do not use protective glasses. Measures during the examination and treatment (100%) wearing masks (90.6%) did not wash hands and 78.1% did not wear protective goggles when performing scaling treatments. The conclusions in this study indicate that infection prevention and control measures in the treatment of scaling at the Kupang Dental Health Department education clinic have been implemented but not yet optimal. Students wear handscoen without washing hands first and do not wear glasses when scaling.
Abstrak: Pencegahan dan Pengendalian Infeksi pada Tindakan Perawatan Scaling. Tenaga kesehatan gigi merupakan kelompok yang rentan terhadap penularan infeksi karena dalam tindakan perawatan sering berkontak dengan saliva dan darah. Saliva dan darah merupakan perantara penularan infeksi sehingga tindakan dalam praktek perawatan gigi resiko tinggi dalam praktek klinik sehari-hari. Aturan dipatuhi, untuk menghindari operator maupun pasien terhadap infeksi silang yang dapat terjadi di praktek klinik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pencegahan dan pengendalian infeksi pada tindakan scaling di klinik pendidikan Jurusan Kesehatan Gigi.Metode penelitian ini adalah observasional deskriptif dengan desain cross-sectional study. Jumlah sampel adalah 32 mahasiswa perawat gigi Jurusan Kesehatan Gigi. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian adalah lembar daftar penilaian/check list dan alat tulis. Hasil penelitian ini menunjukkan Pencegahan dan pengendalian infeksi: terhadap operator termasuk kategori cukup sebesar (53,1%,) seluruh operator (100%) menggunakan alat steril, satu gelas kumur untuk setiap pasien (87,5%) dan menggunakan suction hanya 12,5% dan 75% instruksikan pasien berkumur antiseptik sebelum dirawat, Pengelolaan alat kedokteran gigi (100%) pembersihan peralatan gunakan sabun dan air mengalir serta membawa peralatan bersih ke ruangan sterilisasi, serta 100 % menggunakan celemek, masker dan sarung tangan tebal hanya (78,1%) sekitar 81,2% tidak menggunakan kaca mata pelindung. Tindakan selama pemeriksaan dan perawatan (100%) gunakan masker (90,6% ) tidak mencuci tangan dan 78,1% tidak mengenakan kaca mata pelindung saat melakukan tindakan perawatan scaling. Simpulan dalam penelitian ini menunjukkantindakan pencegahan dan pengendalian infeksi pada perawatan scaling di klinik pendidikan Jurusan Kesehatan Gigi Kupang telah dilaksanakan namun belum optimal. Mahasiswa memakai handscoen tanpa mencuci tangan terlebih dahulu dan tidak mengenakan kaca mata saat tindakan scaling
Status Kesehatan Gigi Dan Mulut Pada Masyarakat Yang Mempunyai Kebiasaan Menginang
Abstract: Dental and oral health status in people who have the habit of eating betel and areca nut. The habit of betel chewing has been known by the people of Indonesia since the 6th century AD and carried on for generations, one of which is in the Oesusu Village, Takari District, Kupang Regency. The betel chewing community believes that betel nut gives pleasure benefits such as smoking, can eliminate bad breath, and believes that this activity can strengthen teeth. The purpose of this study was to determine the dental and oral health status of people who have the habit of hosting in RW 03 Oesusu Village, Takari District, Kupang Regency. This research uses descriptive research method. Sampling with a total sampling technique 62 people who are in RW 03 Oesusu Village, Takari District, Kupang Regency. This research measuring instrument uses a dental and oral health status check format namely DMF-T, OHI-S, and CPITN. The results showed that in Oesusu Village which had a habit of chewing betel nut, the condition of his teeth overcame well. As a whole the community in RW 03 repairs damage to the teeth such as the presence of dental caries, teeth that are no longer intact, black teeth, and missing teeth. The results of the study showed that the dental and oral health status of RW 03 Oesusu Village, Takari Subdistrict, Kupang District DMFT was included as a medium criteria, OHI-S was included as a poor criterion and CPITN contained a lot of tartar. The conclusions of this study indicate that community RW 03 Oesusu village. So caring for teeth is important if betel nut chewers do not involve dental health. Chewing betel nut also adversely affects dental caries because the pain is not felt. Allows the habit of chewing betel betel betel more prefer the whiting because it can cause thicker on the gums and if leftover time can be corrected dental and mouth disease.
Abstrak: Status Kesehatan Gigi Dan Mulut Pada Masyarakat Yang Mempunyai Kebiasaan Menginang. Kebiasaan mengunyah sirih sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia sejak abad ke-6 masehi dan dilakukan secara turun – temurun, salah satunya di Desa Oesusu Kecamatan Takari Kabupaten Kupang. Masyarakat pengunyah sirih mempercayai bahwa sirih pinang memberikan manfaat kenikmatan seperti orang merokok, dapat menghilangkan bau nafas, dan mempercayai bahwa aktifitas ini dapat memperkuat gigi. Tujuan penelitian untuk mengetahui status kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat yang mempunyai kebiasaan menginang di RW 03 Desa Oesusu Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif. Pengambilan sampel dengan teknik total sampling berjumlah 62 orang yang berada di RW 03 Desa Oesusu Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang. Alat ukur penelitian ini menggunakan format pemeriksaan status kesehatan gigi dan mulut yaitu DMF-T, OHI-S dan CPITN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Desa Oesusu yang memiliki kebiasaan mengunyah sirih pinang, kondisi giginya tidaklah bagus. Secara keseluruhan masyarakat di RW 03 mengalami kerusakan pada gigi seperti adanya karies gigi, gigi yang tidak utuh lagi, gigi yang berwarna hitam dan gigi yang tanggal. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa status kesehatan gigi dan mulut masyarakat RW 03 Desa Oesusu Kecamatan Takari Kabupaten Kupang DMFT termasuk kriteria sedang, OHI-S termasuk kriteria buruk dan CPITN terdapat banyaknya karang gigi. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat RW 03 Desa Oesusu Kurang dalam merawat kesehatan gigi dan memicu adanya kerusakan pada gigi. Jadi merawat gigi adalah penting jika pengunyah sirih pinang tanpa mengganggu kesehatan gigi. Mengunyah sirih pinang juga berpengaruh buruk terhadap karies gigi karena rasa sakitnya tidak terasa. Sehingga kebiasaan mengunyah siirih pinang sebainkya dikurangi terutama kapur sirih karena dapat menyebabkan terjadinya tebal pada gusi dan bila dibiarkan lama kelamaan dapat mengakibatkan penyakit gigi dan mulut.  
Pengetahuan Dan Tindakan Orang Tua Dalam Perawatan Gigi Susu
Abstract: Knowledge and Actions of Parents in Primary Teeth Care.Dental and oral health is part of the health of the body that can not be separated from one another. Because oral health will affect the health of other bodies. Dental health is important because food digestion starts with the help of teeth which are useful for the normal growth and development of children. Therefore, parents must have good knowledge of baby teeth. But "Knowing" is not enough, it needs to be followed by "Caring" and "Acting". The purpose of this study was to find out an overview of the knowledge of parents in primary teeth cares in Oelekam sub-village Oelua Village, Taebenu District, Kupang Regency. This research method uses descriptive research that aims to find out about the knowledge of parents in nursing baby teeth. The results showed that parents \u27knowledge and actions were good where parents got information about dental and mouth health from various information media even though the parents\u27 education was still in the basic category but had relatively good knowledge where parents knew the shape and size of toothbrushes that were suitable for children as much as 96.7%, parents who know about sweet foods can damage teeth as much as 100%, parents bring children to the health center when the child feels toothache as much as 80.6% and the actions of parents in caring for primary teeth and cleaning with a washcloth soft when baby teeth start to erupt as much as 90.3%, parents know about food samples that help strengthen teeth as much as 96.7% and parents who bring children to the dental health service if their teeth hurt as much as 87%. The conclusions of this study indicate that the knowledge and actions of parents in primary teeth care in the Oletekam hamlet 04 Oeltua Village Taebenu District Kupang Regency, in general, both parents get information from various media, namely flipcart and information from television and even counseling from other health workers about dental and oral health.
Abstrak: Pengetahuan Dan Tindakan Orang Tua Dalam Perawatan Gigi Susu.Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan tubuh yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Sebab kesehatan gigi dan mulut akan mempengaruhi kesehatan tubuh lainnya. Kesehatan gigi penting karena pencernaan makanan dimulai dengan bantuan gigi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan normal anak. Oleh karena itu, orang tua harus memiliki pengetahuan yang baik terhadap gigi susu. Namun “Tahu” saja tidak cukup, perlu diikuti dengan “Peduli” dan “Bertindak”. Tujuan Penelitian ini adalah Untuk mengetahui gambaran tentang pengetahuan orang tua dalam perawatan gigi susu di Dusun 04 Oelekam Desa Oeltua Kecamatan Taebenu Kabupaten Kupang. Metode Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran tentang pengetahuan orang tua dalam perawatn gigi susu. Hasil Penelitian menunjukkan Pengetahuan dan tindakan orang tua sudah baik dimana orang tua mendapatkan informasi tentang kesehatan gigi dan mulut dari berbagai media informasi meskipun pendidikan orang tua masih dalam kategori dasar namun memiliki pengetahuan relatif baik dimana orang tua mengetahui bentuk dan ukuran sikat gigi yang cocok untuk anak sebanyak 96,7%, orang tua yang mengetahui tentang makanan yang manis dapat merusak gigi sebanyak 100%, orang tua membawa anak ke puskesmas pada saat anak merasakan sakit gigi sebanyak 80,6% dan tindakan orang tua dalam merawat gigi susu dan membersihkan dengan waslap lembut pada saat gigi susu mulai erupsi sebanyak 90,3% , orang tua mengetahui tentang contoh makanan yang membantu menguatkan gigi sebanyak 96,7% dan orang tua yang membawa anak ke tempat pelayanan kesehatan gigi jika gigi anak sakit sebanyak 87%. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan tindakan orang tua dalam perawatan gigi susu di wilayah Dusun 04 Oelekam Desa Oeltua Kecamatan Taebenu Kabupaten Kupang pada umumnya baik hal ini orang tua mendapatkan informasi dari berbagai media yaitu flipcart maupun informasi dari televisi bahkan penyuluhan dari tenaga kesehatan lainnya tentang kesehatan gigi dan mulut. 
Indeks DMF-T dan OHIS pada Ibu Hamil
Abstract: DMF-T and OHIS index for pregnant women. Pregnancy is a physiological process that causes changes in a woman\u27s body both physically and psychologically. During pregnancy physiological changes occur which are often accompanied by changes in attitude and behavior. The health behavior of pregnant women also has a very big influence on herself and the fetus. This research is a descriptive method. This study aims to determine the rates of DMF-T and OHIS in pregnant women at Oesapa Health Center, Kupang City. Sampling by accidental sampling technique, amounting to 97 pregnant women who visited the MCH polyclinic at the Kupang Oesapa Health Center. The results based on DMF-T figures show that the high prevalence of dental caries in the second-trimester pregnant women group (36.0%) than in the third trimester of pregnancy (28.8%) while OHIS most respondents in the second-trimester pregnancy (36, 1%) had an OHI-S index in the medium category with a ratio of trimester 3 there were 23 people (23.7%) and first trimester around 19 people (19.6%). It was concluded that the DMF-T index of pregnant women in the working area of the Kupang City Oesapa health center was mostly carious and most of the pregnant women examined had caries of more than 4 teeth per person and all pregnant women who were examined for dental and oral hygiene levels showed moderate criteria.
Abstrak: Indeks DMF-T dan OHIS pada Ibu Hamil. Kehamilan merupakan suatu proses fisiologis yang menimbulkan perubahan pada tubuh wanita baik fisik maupun psikis. Pada masa kehamilan terjadi perubahan fisiologis yang sering disertai dengan perubahan sikap dan perilaku. perilaku kesehatan ibu hamil juga memiliki pengaruh yang sangat besar bagi dirinya sendiri dan janin. Penelitian ini adalah metode deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka DMF-T dan OHIS pada ibu hamil di Puskesmas Oesapa Kota Kupang. Pengambilan sampel dengan teknik accidental sampling, berjumlah 97 ibu hamil yang berkunjung ke poli KIA di Puskesmas Oesapa Kota Kupang. Hasil penelitian berdasarkan Angka DMF-T menunjukkan bahwa tingginya prevalensi karies gigi pada kelompok ibu hamil trimester kehamilan kedua (36,0%) dari pada trimester kehamilan ke tiga (28,8%) sedangkan OHIS sebagian besar responden pada kehamilan trimester 2 (36,1%) memiliki indek OHI-S pada kategori sedang dengan perbandingan trimester 3 ada 23 orang (23,7%) dan trimester I sekitar 19 orang (19,6%). Disimpulkan bahwa indeks DMF-T ibu hamil diwilayah kerja puskesmas Oesapa Kota Kupang sebagian besar berkaries dan sebagian besar ibu hamil yang diperiksa mempunyai karies lebih dari 4 gigi per orang dan semua ibu hamil yang diperiksa tingkat kebersihan gigi dan mulutnya menunjukkan kriteria sedang
Perilaku Menyikat Gigi terhadap Oral Hygiene Anak Sekolah
Abstract: Teeth Brushing Behavior of School Children\u27s Oral Hygiene. Data obtained at SDN 60 Kubu Raya Regency has no UKGS (School Dental Health Business) program. The condition of the teeth beforehand will affect the development of dental health in later adulthood. The causes of dental health problems in children include behavioral factors and attitudes ignoring dental hygiene. The study aims to determine the behavior of brushing teeth against oral hygiene in grade IV elementary school children in SDN 60 Kubu Raya Regency. This research is an analytic type of research. Data is processed in the form of frequency distributions and statistical tests using Chi-Square. The population in this study amounted to 40 people. Samples were taken using a total sampling technique of 40 respondents. Based on the results of research in SDN 60 Kubu Raya Regency that female respondents were 23 (57.5%), the respondents aged 9 years were 18 (45%), based on the technique of brushing teeth respondents were categorized as moderate as 21 (52.5%), respondents brushed at the wrong time 33 (82.5%), according to the frequency of brushing their teeth, they brushed their teeth twice a day as many as 24 (60%), while for OHI-S respondents were of medium and bad category as many as 17 (42.5%). It was concluded that there was an effect of technique, time and frequency of tooth brushing on oral hygiene of grade IV elementary school students of SDN 60, Kuburaya Regency.
Abstrak: Perilaku Menyikat Gigi terhadap Oral Hygiene Anak Sekolah. Data yang diperoleh di SDN 60 Kabupaten Kubu Raya belum ada program UKGS (Usaha Kesehatan Gigi Sekolah). Keadaan gigi sebelumnya akan berpengaruh terhadap perkembangan kesehatan gigi pada usia dewasa nanti. Penyebab timbulnya masalah kesehatan gigi pada anak diantaranya adalah faktor perilaku dan sikap mengabaikan kebersihan gigi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perilaku menyikat gigi terhadap oral hygiene anak sekolah dasar kelas IV di SDN 60 Kabupaten Kubu Raya. Penelitian ini merupakan penelitian jenis analitik. Data diolah dalam bentuk distribusi frekuensi dan di uji statistik menggunakan Chi-Square. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 40 orang. Sampel diambil menggunakan teknik total sampling yang berjumlah 40 responden. Berdasarkan hasil penelitian di SDN 60 Kabupaten Kubu Raya bahwa responden perempuan sebanyak 23 (57,5%), pada respondenberumur 9 tahun sebanyak 18 (45%), berdasarkan teknik menyikat gigi responden berkategori sedang sebanyak 21 (52,5%), responden menyikat gigi pada waktu yang tidak tepat sebanyak 33 (82,5%), menurut frekuensi menyikat gigi responden menyikat gigi 2 kali sehari sebanyak 24 (60%), untuk OHI-S responden berkategori sedang dan buruk sebanyak 17 (42,5%). Disimpulkan bahwa terdapat pengaruh teknik, waktu dan frekuensi menyikat gigi terhadap oral hygiene anak sekolah dasar kelas IV SDN 60 Kabupaten Kuburaya
Perilaku Pencarian Pengobatan Penyakit Gigi pada Masyarakat
oai:ojs2.jurnal.poltekkeskupang.ac.id:article/353Abstract: Search behavior of dental disease treatment in society. Tooth decay can cause pain and chewing disorders that affect the health of parts of the body. Most sufferers will seek treatment because of pain in their teeth. treatment includes three interrelated sectors, namely household medicine/self-medication using drugs, traditional medicines, or traditional methods, medical treatment done by nurses, doctors, health centers or hospitals, and traditional medicine. The purpose of this study is to obtain in-depth information about the factors that cause the behavior of the people of Kupang to choose traditional medicine or self-medication. This research uses the Rapid Assessment Procedure (RAP) design. The sample in this study were informants who were experiencing or had experienced toothache aged 18 years and over. The results showed that almost all Informants (10) knew what dental caries was and the causes of dental caries, knew the risk of tooth cavities were left and not patched and knew that dental caries/cavities could only be overcome by going to the community health centers to be patched at the Poly tooth. Perceptions of traditional medicine informants assume that traditional medicine can treat pain only temporarily. Perception of Modern Medicine, most informants had visited the 9 health centers, the informants considered that the problem of toothache could be overcome by going to the health center for treatment. 7 of 9 informants had treated their teeth by using traditional or modern medicine, 3 out of 9 The informant assumed that his tooth problems were not resolved because his sick teeth had recurred after being patched. The cost of treatment at the community health centers is not an obstacle for informants because almost all informants use health cards / BPJS. 4 The informant considers that the transportation costs incurred from the place of residence to the community health centers are quite expensive.
Abstrak: Perilaku Pencarian Pengobatan Penyakit Gigi pada Masyarakat. Kerusakan gigi dapat menyebabkan sakit dan gangguan mengunyah sehingga memengaruhi kesehatan bagian tubuh. Sebagian besar penderita akan mencari pengobatan karena nyeri pada giginya. pengobatan mencakup tiga sektor yang saling terkait, yaitu pengobatan rumah tangga/ pengobatan sendiri menggunakan obat, obat tradisional, atau cara tradisional, pengobatan medis yang dilakukakan oleh perawat, dokter, puskesmas atau rumah sakit, serta pengobatan tradisional. Tujuan penelitian ini adalah Untuk memperoleh informasi mendalam mengenai faktor-faktor yang menyebabkan perilaku masyarakat kota Kupang memilih pengobatan tradisional atau melakukan pengobatan sendiri. Penelitian ini menggunakan desain Rapid Assessment Procedure (RAP). Sampel dalam penelitian ini adalah informan yang sedang mengalami atau pernah mengalami sakit gigi yang berusia 18 tahun ke atas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua Informan (10) mengetahui apa itu karies gigi dan penyebab terjadinya karies gigi, mengetahui resiko bila lubang gigi dibiarkan dan tidak ditambal dan mengetahui bahwa karies gigi/lubang gigi hanya dapat diatasi dengan cara pergi ke Puskesmas untuk ditambal di Poli gigi. Persepsi terhadap pengobatan tradisional informan menganggap bahwa obat tradsional dapat mengatasi rasa sakit hanya untuk sementara. Persepsi terhadap Pengobatan Modern sebagian besar informan pernah berkunjung ke Puskesmas 9 informan menganggap bahwa permasalahan sakit gigi dapat di atasi dengan pergi ke Puskesmas untuk dilakukan perawatan, 7 Informan dari 9 Informan tersebut pernah mengobati giginya sendiri dengan mengguunakan obat tradisional ataupun obat modern, 3 dari 9 Informan tersebut menganggap bahwa permasalahan giginya tidak teratasi karena giginya yang sakit kambuh lagi setelah di tambal. Biaya berobat di puskesmas tidak menjadi hambatan bagi informan Karena hampir semua Informan menggunakan kartu sehat/ BPJS. 4 Informan menganggap bahwa biaya transportasi yang dikeluarkan dari tempat tinggal sampai di puskesmas cukup mahal
Indek’s DMF-T dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri Berdasarkan Status Gizi
Abstract: DMF-T index with the incidence of anemia in adolescent girls based on nutritional status. The DMF-T index in Indonesia based on the results of 2013 basic health research nationally reached 4.6 which means that everyone has dental and oral health cases such as cavities, missing teeth removed by caries and there are still good fillings, as many as 5 cases. West Kalimantan Province, the DMF-T index reached 6.2 or 7 cases. Tooth decay in adolescents as the next generation is very disturbing in the mastication process, which can reduce the intake of nutrients into one\u27s body. If this event continues from an early age to adolescence and adulthood, it can cause a decrease in the quantity of red blood cells in the circulation or the amount of hemoglobin is below normal limits. The lack of hemoglobin in the blood can interfere with growth and development, to the nutritional status. The area of Pontianak City is 107. 82 km2 with a population of 607,438 people, and the target of teenagers who have been screened in 2018 in November was 97.779 people. The purpose of this study was to describe the DMF-T index, the incidence of anemia by looking at the nutritional status of adolescent girls, as well as looking at the relationship of these variables. This type of research is descriptive research with explanatory research. How to take samples with random side, univariate analysis, bivariate with correlation regression test. The results showed the DMF-T index in young women in the Khatulistiwa Health Center in Pontianak Utara District Pontianak City was very low (0.0-1.0) as much as 36.4%, the incidence of anemia as normal as much as 77.3% and nutritional status (BMI / BW: TB2) the average thin (<18.4 kg / m2) is 59.1%. The conclusions of this study indicate that the index of DMF-T is very low (36.4%) and is not related to nutritional status because the cnification value is 0.13> from 0.05, the incidence of anemia is normal (77.3%) but is highly related to nutritional status because the value of cnification 0.01 <from 0.05, while the nutritional status of the average thin (<18.4 kg / m2) is 59.1%.
Absrak: Indek’s DMF-T dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri Berdasarkan Status Gizi. Indek’s DMF-T di Indonesia berdasarkan hasil riset kesehatan dasar tahun 2013 secara Nasional mencapai 4,6 yang artinya setiap orang mempunyai kasus kesehatan gigi dan mulut seperti gigi berlubang, gigi hilang dicabut oleh karena karies dan terdapat tambalan yang masih baik yaitu sebanyak 5 kasus. Provinsi Kalimantan Barat, Indek’s DMF-T mencapai 6,2 atau 7 kasus. Kerusakan gigi pada remaja sebagai generasi penerus sangat mengganggu dalam proses pengunyahan, yang berakibat dapat mengurangi asupan gizi kedalam tubuh seseorang. Kejadian tersebut apabila berlanjut dari usia dini sampai remaja dan dewasa, maka dapat menyebabkan penurunan kuantitas sel-sel darah merah dalam sirkulasi atau jumlah hemoglobin berada dibawah batas normal. Kurangnya jumlah hemoglobin dalam darah dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan, sampai pada status gizi kurang. Luas wilayah Kota Pontianak 107. 82 km2 dengan jumlah penduduk 607.438 jiwa, dan sasaran remaja yang sudah mendapat diskrening di tahun 2018 bulan November tercatat sebanyak 97.779 orang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Indek’s DMF-T, kejadian anemia dengan melihat status gizi remaja putri, serta melihat keterkaitan dari variabel tersebut. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan penelitian explanatory research. Cara pengambilan sampel dengan random samping, analisa univariat, bivariat dengan uji regresi korelasi. Hasil penelitian menunjukkan indek’s DMF-T pada remaja putri diwilayah Puskesmas Khatulistiwa Kecamatan Pontianak Utara Kota Pontianak adalah rendah sekali (0,0-1,0) sebanyak 36,4%, kejadian anemia rata-rata normal sebanyak 77,3% dan status gizi (IMT/BB:TB2) rata-rata kurus (< 18,4 kg/m2) yaitu sebanyak 59,1%. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa indek’s DMF-T rendah sekali (36,4%) dan tidak berhubungan dengan status gizi karena nilai siknifikasi 0,13 > dari 0,05, kejadian anemia normal (77,3%) tetapi sangat berhubungan dengan status gizi karena nilai siknifikasi 0,01 < dari 0,05, sedangkan status gizi rata-rata kurus (< 18,4 kg/m2) yaitu 59,1%