Dental Therapist Journal
Not a member yet
89 research outputs found
Sort by
Anxiety Levels in Pre-Exodontia Children with Topical Anesthesia in Class III A and III B Students: Tingkat Kecemasan Anak Pra Tindakan Exodontia Dengan Topikal Anestesi Pada Siswa-Siswi Kelas III A Dan III B
In providing an optimal dental health service, one of which is tooth extraction, this action given to children often causes pain and discomfort in children. Pain control is not only beneficial for children, but also for dental health workers. Because the calmness of the child will make it easier for dental health workers to carry out tooth extractions calmly, easily and according to the proper procedure. This study aims to describe the level of anxiety in pre-exodontia children with topical anesthesia at SDN 15 North Pontianak District in 2015. The design in this study was descriptive with a cross-sectional approach, ie each object of the study was observed at the same time and only done once. The results of the study on the level of anxiety in pre-exodontia children with topical anesthetics in grade III A and III B students at SDN 15 North Pontianak District in 2015, that of the 48 respondents who experienced a lot of anxiety levels were severe anxiety levels, namely 31 respondents (64 ,6%). The most who experienced it were girls as many as 25 respondents (52.1%). Based on the age category, the level of anxiety in pre-exodontia children with topical anesthesia at SDN 15 North Pontianak in 2015 was 9 years old with a total of 22 respondents (45.8%). Meanwhile, from the gender category, the level of anxiety in pre-exodontia children with topical anesthesia was mostly girls, namely 25 respondents, with a distribution of 15 respondents experiencing severe anxiety levels, 9 respondents experiencing moderate anxiety levels and none experiencing mild anxiety levels.
Dalam memberikan suatu pelayanan kesehatan gigi yang optimal salah satunya adalah pencabutan gigi, tindakan ini diberikan kepada anak sering menimbulkan rasa sakit dan ketidaknyamanan pada anak. Pengendalian rasa sakit ini tidak hanya menguntungkan bagi anak, tetapi juga bagi tenaga kesehatan gigi. Karena ketenangan anak akan memudahkan tenaga kesehatan gigi dalam melakukan pencabutan gigi dengan tenang, mudah dan sesuai prosedur yang seharusnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat kecemasan anak pra tindakan exodontia dengan topikal anestesi di SDN 15 Kecamatan Pontianak Utara Tahun 2015. Rancangan dalam penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan cross-sectional yaitu setiap objek penelitian dilakukan observasi pada saat yang bersamaan dilakukan sekali saja. Hasil penelitian tingkat kecemasan anak pra tindakan exodontia dengan topikal anestesi pada siswa-siswi kelas III A dan III B di SDN 15 Kecamatan Pontianak Utara pada tahun 2015, bahwa dari 48 responden yang banyak mengalami tingkat kecemasan adalah tingkat kecemasan berat yaitu sebanyak 31 responden (64,6%). Paling banyak yang mengalaminya adalah anak perempuan sebanyak 25 responden (52,1%). Berdasarkan dari kategori umur tingkat kecemasan anak pra tindakan exodontia dengan topikal anestesi di SDN 15 Pontianak Utara tahun 2015 yang banyak mengalami adalah umur 9 tahun dengan jumlah responden 22 orang sebanyak (45,8%). Sedangkan dari kategori jenis kelamin tingkat kecemasan anak pra tindakan exodontia dengan topikal anestesi, yang paling banyak adalah anak perempuan yaitu 25 responden, dengan distribusi 15 responden mengalami tingkat kecemasan berat, 9 responden mengalami tingkat kecemasan sedang dan tidak ada yang mengalami tingkat kecemasan ringan
Counseling Using the Simulation Method of Brushing Teeth Skills Using the Bass Technique: Penyuluhan dengan Metode Simulasi Keterampilan Menggosok Gigi Menggunakan Teknik Bass
The main factor that can cause cavities (caries) is the presence of bacteria that can cause cavities, namely bacteria types streptococcus and lacto bacillus, foods that are often consumed are foods that are sticky and stick to the teeth such as candy and chocolate which greatly facilitate the occurrence of cavities and the shape of the teeth. irregular teeth and thick, profuse saliva. Other factors that can also cause cavities and other dental diseases are the level of oral hygiene, frequency of food, gender and age. The purpose of this study was to determine the skills of elementary school students in brushing their teeth using the bass technique at SD Negeri 2 Baumata Timur. The population in this study was class IV with 19 students and class V with 21 students at SD Negeri 2 Baumata Timur. The sample in this study was the total population studied for grades IV and V with a total of 40 students. The results showed that the skill level of students before being given counseling with pantom, about brushing teeth with the bass technique was still very low at 85%, after being given counseling using pantom about brushing teeth with the bass method the skill level became better, namely 92.5 %. It was concluded that the knowledge of elementary school students\u27 skills in brushing teeth using the bass technique at SD Negeri 2 Baumata Timur was good.
Faktor utama yang dapat menyebabkan terjadinya lubang gigi (Karies) adalah adanya bakteri yang dapat menyebabkan lubang gigi yaitu bakteri jenis streptococcus dan lacto basilus, makanan yang sering dikonsumsi yaitu makanan yang lengket dan menempel di gigi seperti permen dan coklat sangat memudahkan terjadinya lubang gigi serta bentuk gigi yang tidak beraturan dan air liur yang kental dan banyak. Faktor lain yang juga dapat mengakibatkan lubang gigi dan penyakit gigi lainya yaitu tingkat kebersihan gigi dan mulut, frekuensi makanan, jenis kelamin dan usia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keterampilan siswa-siswi sekolah dasar dalam menggosok gigi menggunakan teknik bass di SD Negeri 2 Baumata Timur. Populasi dalam penelitian ini adalah kelas IV dengan jumlah siswa 19 orang dan kelas V dengan jumlah siswa 21 orang di SD Negeri 2 Baumata Timur. Sampel dalam penelitian ini adalah total populasi yang diteliti kelas IV dan V dengan jumlah 40 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keterampilan siswa sebelum diberikan penyuluhan dengan pantom, tentang teknik menyikat gigi dengan teknik bass masih sangat rendah yaitu sebesar 85%, setelah diberikan penyuluhan dengan menggunakan pantom tentang teknik menyikat gigi dengan metode bass tingkat keterampilannya menjadi lebih baik yakni 92,5%. Disimpulkan bahwa pengetahuan keterampilan siswa-siswi sekolah dasar dalam menggosok gigi menggunakan teknik bass di SD Negeri 2 Baumata Timur baik.
Pengetahuan Pengunjung Tentang Instruksi Pasca Pencabutan Gigi Di Pusat Pengobatan Mata Dan Gigi : Pengetahuan Pengunjung Tentang Instruksi Pasca Pencabutan Gigi Di Pusat Pengobatan Mata Dan Gigi
Visitors who had their teeth extracted at the Eye and Dental Treatment Center (PPMG) Pontianak City did not follow the instructions given by the operator after having their teeth extracted. From the results of a field survey conducted, about 35% - 50% of patients who extracted teeth did not follow more than 1 post-extraction instruction. The result of ignoring this can have an impact on the healing of wounds from tooth extraction. The purpose of this study was to determine the knowledge of visitors about post-tooth extraction instructions at the Center for Eye and Dental Medicine (PPMG) Pontianak City 2015. This study used a descriptive method which was conducted on 57 respondents who were taken using purposive sampling technique for 2 weeks, data collection techniques through three stages, namely the initial stage, the implementation stage, and the final stage then processed using SPSS version 18.0 and presented in tabular form. The results showed that most of the respondents had good knowledge of the category, namely 30 people (52.6%), while respondents who had sufficient knowledge were 14 people (24.6%) and respondents who had less knowledge were 13 people (22, 8%). Knowledge of post-tooth extraction instructions is important in order to provide understanding to the patient to prevent complications after tooth extraction.
Pengunjung yang melakukan pencabutan gigi di Pusat Pengobatan Mata dan Gigi (PPMG) Kota Pontianak tidak mengikuti instruksi yang diberikan oleh operator setelah melakukan pencabutan gigi. Dari hasil survey lapangan yang dilakukan, sekitar 35% - 50% pasien yang mencabut gigi tidak mengikuti lebih dari 1 instruksi pasca pencabutan gigi. Akibat dari mengabaikan hal tersebut dapat berdampak pada penyembuhan luka bekas pencabutan gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan pengunjung tentang instruksi pasca pencabutan gigi di Pusat Pengobatan Mata dan Gigi (PPMG) Kota Pontianak Tahun 2015. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang dilakukan terhadap 57 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling selama 2 minggu, teknik pengumpulan data melalui tiga tahap yaitu tahap awal, tahap pelaksanaan dan tahap akhir kemudian diolah menggunakan SPSS versi 18.0 serta disajikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian terlihat bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan kategori baik yaitu 30 orang (52,6%), sedangkan responden yang memiliki pengetahuan kategori cukup yaitu 14 orang (24,6%) dan responden yang memiliki pengetahuan kategori kurang yaitu 13 orang (22,8%). Pengetahuan tentang instruksi pasca pencabutan gigi penting dilakukan agar memberikan pemahaman kepada pasien untuk mencegah terjadinya komplikasi pasca pencabutan gigi.Visitors who had their teeth extracted at the Eye and Dental Treatment Center (PPMG) Pontianak City did not follow the instructions given by the operator after having their teeth extracted. From the results of a field survey conducted, about 35% - 50% of patients who extracted teeth did not follow more than 1 post-extraction instruction. The result of ignoring this can have an impact on the healing of wounds from tooth extraction. The purpose of this study was to determine the knowledge of visitors about post-tooth extraction instructions at the Center for Eye and Dental Medicine (PPMG) Pontianak City 2015. This study used a descriptive method which was conducted on 57 respondents who were taken using purposive sampling technique for 2 weeks, data collection techniques through three stages, namely the initial stage, the implementation stage, and the final stage then processed using SPSS version 18.0 and presented in tabular form. The results showed that most of the respondents had good knowledge of the category, namely 30 people (52.6%), while respondents who had sufficient knowledge were 14 people (24.6%) and respondents who had less knowledge were 13 people (22, 8%). Knowledge of post-tooth extraction instructions is important in order to provide understanding to the patient to prevent complications after tooth extraction.
Pengunjung yang melakukan pencabutan gigi di Pusat Pengobatan Mata dan Gigi (PPMG) Kota Pontianak tidak mengikuti instruksi yang diberikan oleh operator setelah melakukan pencabutan gigi. Dari hasil survey lapangan yang dilakukan, sekitar 35% - 50% pasien yang mencabut gigi tidak mengikuti lebih dari 1 instruksi pasca pencabutan gigi. Akibat dari mengabaikan hal tersebut dapat berdampak pada penyembuhan luka bekas pencabutan gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan pengunjung tentang instruksi pasca pencabutan gigi di Pusat Pengobatan Mata dan Gigi (PPMG) Kota Pontianak Tahun 2015. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang dilakukan terhadap 57 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling selama 2 minggu, teknik pengumpulan data melalui tiga tahap yaitu tahap awal, tahap pelaksanaan dan tahap akhir kemudian diolah menggunakan SPSS versi 18.0 serta disajikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian terlihat bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan kategori baik yaitu 30 orang (52,6%), sedangkan responden yang memiliki pengetahuan kategori cukup yaitu 14 orang (24,6%) dan responden yang memiliki pengetahuan kategori kurang yaitu 13 orang (22,8%). Pengetahuan tentang instruksi pasca pencabutan gigi penting dilakukan agar memberikan pemahaman kepada pasien untuk mencegah terjadinya komplikasi pasca pencabutan gigi
Literature Review: Efektivitas Penggunaan Media Video Dalam Meningkatkan Pengetahuan Menyikat Gigi Yang Benar Pada Anak Sekolah Dasar: Literature Review: Efektivitas Penggunaan Media Video Dalam Meningkatkan Pengetahuan Menyikat Gigi Yang Benar Pada Anak Sekolah Dasar
Elementary school-age children still have the largest proportion of dental and oral health problems, one of which is caused by low knowledge about proper tooth brushing, knowledge can be increased through dental health education learning, including especially video media. The use of video media is considered to be able to increase the knowledge of correct brushing of teeth in elementary school children because it is able to display images and sounds so that children like it. The purpose of this study was to determine the effectiveness of using video media in increasing the knowledge of proper brushing of teeth in elementary school children. This type of research is a literature review. The search for journals was carried out in 2015-2020 on the Google Scholar, DOAJ, PubMed database in English and Indonesian. The results of this study showed an increase in student\u27s knowledge after counseling with video media from the medium category to the good category so that research using video media was more effective. It can be concluded that the use of video media is effective in increasing the knowledge of correct brushing of teeth in elementary school children.
Anak usia sekolah dasar masih memiliki proporsi terbesar masalah kesehatan gigi dan mulut, salah satunya yang disebabkan oleh rendahnya pengetahuan tentang menyikat gigi yang benar, pengetahuan dapat ditingkatkan melalui pembelajaran pendidikan kesehatan gigi termasuk khususnya media video. Penggunaan media video dinilai mampu meningkatkan pengetahuan menyikat gigi yang benar pada anak sekolah dasar karena mampu menampilkan gambar dan suara sehingga anak-anak menyukai. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penggunaan media video dalam meningkatkan pengetahuan menyikat gigi yang benar pada anak sekolah dasar. Jenis penelitian ini adalah literature review. Pencarian jurnal dilakukan tahu 2015-2020 pada data base Google Scholar, DOAJ, PubMed dalam bahasa inggris dan indonesia Hasil penelitian ini adanya peningkatan pengetahuan siswa/i setelah dilakukan penyuluhan dengan media video dari kategori sedang menjadi kategori baik, sehingga penelitian menggunakan media video lebih efektif. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan media video efektif untuk meningkatkan pengetahuan menyikat gigi yang benar pada anak sekolah dasar.
Elementary school-age children still have the largest proportion of dental and oral health problems, one of which is caused by low knowledge about proper tooth brushing, knowledge can be increased through dental health education learning, including especially video media. The use of video media is considered to be able to increase the knowledge of correct brushing of teeth in elementary school children because it is able to display images and sounds so that children like it. The purpose of this study was to determine the effectiveness of using video media in increasing the knowledge of proper brushing of teeth in elementary school children. This type of research is a literature review. The search for journals was carried out in 2015-2020 on the Google Scholar, DOAJ, PubMed database in English and Indonesian. The results of this study showed an increase in student\u27s knowledge after counseling with video media from the medium category to the good category so that research using video media was more effective. It can be concluded that the use of video media is effective in increasing the knowledge of correct brushing of teeth in elementary school children.
Anak usia sekolah dasar masih memiliki proporsi terbesar masalah kesehatan gigi dan mulut, salah satunya yang disebabkan oleh rendahnya pengetahuan tentang menyikat gigi yang benar, pengetahuan dapat ditingkatkan melalui pembelajaran pendidikan kesehatan gigi termasuk khususnya media video. Penggunaan media video dinilai mampu meningkatkan pengetahuan menyikat gigi yang benar pada anak sekolah dasar karena mampu menampilkan gambar dan suara sehingga anak-anak menyukai. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penggunaan media video dalam meningkatkan pengetahuan menyikat gigi yang benar pada anak sekolah dasar. Jenis penelitian ini adalah literature review. Pencarian jurnal dilakukan tahu 2015-2020 pada data base Google Scholar, DOAJ, PubMed dalam bahasa inggris dan indonesia Hasil penelitian ini adanya peningkatan pengetahuan siswa/i setelah dilakukan penyuluhan dengan media video dari kategori sedang menjadi kategori baik, sehingga penelitian menggunakan media video lebih efektif. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan media video efektif untuk meningkatkan pengetahuan menyikat gigi yang benar pada anak sekolah dasar.
 
Perilaku Tenaga Kesehatan Gigi dalam Menerapkan Protokol Kesehatan Di Puskesmas Se-Kota Kupang Di Masa New Normal: Perilaku Tenaga Kesehatan Gigi dalam Menerapkan Protokol Kesehatan Di Puskesmas Se-Kota Kupang Di Masa New Normal
Efforts to improve health status are carried out in the form of activities with promotive, preventive, curative, and rehabilitative approaches that are carried out in an integrated, comprehensive, and sustainable manner, in practice, there are still health problems, especially dental and oral health problems. One of the factors causing dental and oral health problems as well as handwashing activities is health behavior, health behavior in seeking healing is still hampered by the covid 19 pandemic outbreak. Therefore, researchers are interested in conducting research on the behavior of dental health workers in implementing health protocols at the Public health center in the whole city of Kupang in the new normal. The purpose of the study was to determine the behavior of dental health workers in implementing health protocols at health centers throughout the city of Kupang in the new normal period. Descriptive analysis research design. The research sample was 30 people. The results of data analysis showed that the knowledge of knowledge with good criteria was 26 people (86.7%), the attitude of respondents in the application of health protocols had the most attitudes with good criteria as many as 26 people (86.7%) and the actions of respondents in implementing the protocol. Health has the most actions with good criteria as many as 27 people (90%). It was concluded that the respondents\u27 knowledge, attitudes, and actions in the application of health protocols had good criteria.
Upaya peningkatan derajat kesehatan diselenggarakan dalam bentuk kegiatan dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang dilaksanakan secara terpadu, menyeluruh dan berkesinambungan, dalam pelaksanaannya masih terjadi masalah kesehatan khususnya masalah kesehatan gigi dan mulut. Salah satu faktor penyebab masalah kesehatan gigi dan mulut serta kegiatan cuci tangan adalah perilaku kesehatan, perilaku kesehatan dalam mencari penyembuhan masih terhambat dengan adanya wabah pandemi covid 19. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang perilaku tenaga kesehatan gigi dalam menerapkan protokol kesehatan di puskesmas se-kota kupang di masa new normal. Tujuan penelitian untuk mengetahui perilaku tenaga kesehatan gigi dalam menerapkan protokol kesehatan di puskesmas se-kota kupang di masa new normal. Desain penelitian analisis deskriptif. Sampel penelitian sebanyak 30 orang. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pengetahuan pengetahuan dengan kriteria baik sebanyak 26 orang (86,7%), sikap responden dalam penerapan protokol kesehatan yang paling banyak memiliki sikap dengan kriteria baik sebanyak 26 orang (86,7%) dan tindakan tindakan responden dalam penerapan protokol kesehatan paling banyak memiliki tindakan dengan kriteria baik sebanyak 27 orang (90%). Disimpulkan bahwa pengetahuan, sikap dan tindakan responden dalam penerapan protokol kesehatan rata-rata kriteria baik.
Efforts to improve health status are carried out in the form of activities with promotive, preventive, curative, and rehabilitative approaches that are carried out in an integrated, comprehensive, and sustainable manner, in practice, there are still health problems, especially dental and oral health problems. One of the factors causing dental and oral health problems as well as handwashing activities is health behavior, health behavior in seeking healing is still hampered by the covid 19 pandemic outbreak. Therefore, researchers are interested in conducting research on the behavior of dental health workers in implementing health protocols at the Public health center in the whole city of Kupang in the new normal. The purpose of the study was to determine the behavior of dental health workers in implementing health protocols at health centers throughout the city of Kupang in the new normal period. Descriptive analysis research design. The research sample was 30 people. The results of data analysis showed that the knowledge of knowledge with good criteria was 26 people (86.7%), the attitude of respondents in the application of health protocols had the most attitudes with good criteria as many as 26 people (86.7%) and the actions of respondents in implementing the protocol. Health has the most actions with good criteria as many as 27 people (90%). It was concluded that the respondents\u27 knowledge, attitudes, and actions in the application of health protocols had good criteria.
Upaya peningkatan derajat kesehatan diselenggarakan dalam bentuk kegiatan dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang dilaksanakan secara terpadu, menyeluruh dan berkesinambungan, dalam pelaksanaannya masih terjadi masalah kesehatan khususnya masalah kesehatan gigi dan mulut. Salah satu faktor penyebab masalah kesehatan gigi dan mulut serta kegiatan cuci tangan adalah perilaku kesehatan, perilaku kesehatan dalam mencari penyembuhan masih terhambat dengan adanya wabah pandemi covid 19. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang perilaku tenaga kesehatan gigi dalam menerapkan protokol kesehatan di puskesmas se-kota kupang di masa new normal. Tujuan penelitian untuk mengetahui perilaku tenaga kesehatan gigi dalam menerapkan protokol kesehatan di puskesmas se-kota kupang di masa new normal. Desain penelitian analisis deskriptif. Sampel penelitian sebanyak 30 orang. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pengetahuan pengetahuan dengan kriteria baik sebanyak 26 orang (86,7%), sikap responden dalam penerapan protokol kesehatan yang paling banyak memiliki sikap dengan kriteria baik sebanyak 26 orang (86,7%) dan tindakan tindakan responden dalam penerapan protokol kesehatan paling banyak memiliki tindakan dengan kriteria baik sebanyak 27 orang (90%). Disimpulkan bahwa pengetahuan, sikap dan tindakan responden dalam penerapan protokol kesehatan rata-rata kriteria baik.
 
Hubungan Faktor Risiko Dental Ergonomi dengan Keluhan Subjektif Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada Dental Assistant: Hubungan Faktor Risiko Dental Ergonomi dengan Keluhan Subjektif Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada Dental Assistant
One of the hazards in dentistry is dental ergonomic. A working problem that can be caused by ergonomic hazards is Musculoskeletal Disorders (MSDs). The dental assistant is one of the jobs that have a risk for the occurrence of abnormalities in the musculoskeletal system. Based on the preliminary study on dental assistants that work in Pontianak City showed that 85% of people had musculoskeletal complaints on the legs, 71,4% had complaints on the calf, and 57,1% had complaints on the shoulder and upper back. The aim of this research is to find out the correlation between risk factors of dental ergonomics and subjective complaints of Musculoskeletal Disorders (MSDs) on dental assistants. The type of this research was a quantitative study with an analytical observational approach using a cross-sectional design. The research was conducted in Pontianak City in August 2021. The population of this research is 48 respondents and the samples were chosen using the total sampling technique. The instrument that used in this research were collected from the risk factors of dental ergonomics and Nordic Body Map (NMB) questionnaires which were later analyzed using Kendall\u27s tau-b test. The result of this research is risk factors of dental ergonomics in the low category is 54,20%. The subjective complaints of Musculoskeletal Disorders (MSDs) in the low category is 68,80%. Based on Kendall\u27s tau-b test showed that P. Value is 0,601 > 0,05 it means that there is no correlation between risk factors of dental ergonomics and subjective complaints of Musculoskeletal Disorders (MSDs). The conclusion of this research is there is no correlation between risk factors of dental ergonomics and subjective complaints of Musculoskeletal Disorders (MSDs) on dental assistants. For further research is expected to examine other risk factors that can cause subjective complaints of Musculoskeletal Disorders (MSDs).
Salah satu unsur bahaya dalam dunia kedokteran gigi adalah dental ergonomi. Masalah kerja yang dapat ditimbulkan akibat bahaya ergonomi adalah Musculoskeletal Disorders (MSDs). Pekerjaan dental assistant merupakan salah satu pekerjaan yang memiliki risiko untuk terjadinya keluhan pada sistem musculoskeletal. Hasil studi pendahuluan pada dental assistant yang bekerja di wilayah Kota Pontianak menunjukkan bahwa 85% responden mengalami keluhan musculoskeletal pada bagian kaki, 71,4% pada bagian betis, dan 57,1% pada bagian bahu dan punggung atas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara faktor risiko dental ergonomi dengan keluhan subjektif Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada dental assistant. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan observasional analitik menggunakan rancangan cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di Kota Pontianak pada bulan Agustus 2021. Populasi dalam penelitian ini adalah 48 responden dan pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner faktor risiko dental ergonomi dan kuesioner Nordic Body Map (NBM). Analisis data menggunakan uji Kendall’s Tau-B. Hasil dari penelitian ini adalah faktor risiko dental ergonomi berada pada kategori rendah (54,20%). Keluhan subjektif Musculoskeletal Disorders (MSDs) berada pada kategori rendah (68,80%). Hasil analisis data menunjukkan nilai P. Value sebesar 0,601 > 0,05 sehingga tidak terdapat hubungan antara faktor risiko dental ergonomi dengan keluhan subjektif Musculoskeletal Disorders (MSDs). Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan yang bermakna antara faktor risiko dental ergonomi dengan keluhan subjektif Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada dental assistant. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengkaji faktor-faktor risiko lain yang dapat menyebabkan keluhan subjektif Musculoskeletal Disorders (MSDs).
One of the hazards in dentistry is dental ergonomic. A working problem that can be caused by ergonomic hazards is Musculoskeletal Disorders (MSDs). The dental assistant is one of the jobs that have a risk for the occurrence of abnormalities in the musculoskeletal system. Based on the preliminary study on dental assistants that work in Pontianak City showed that 85% of people had musculoskeletal complaints on the legs, 71,4% had complaints on the calf, and 57,1% had complaints on the shoulder and upper back. The aim of this research is to find out the correlation between risk factors of dental ergonomics and subjective complaints of Musculoskeletal Disorders (MSDs) on dental assistants. The type of this research was a quantitative study with an analytical observational approach using a cross-sectional design. The research was conducted in Pontianak City in August 2021. The population of this research is 48 respondents and the samples were chosen using the total sampling technique. The instrument that used in this research were collected from the risk factors of dental ergonomics and Nordic Body Map (NMB) questionnaires which were later analyzed using Kendall\u27s tau-b test. The result of this research is risk factors of dental ergonomics in the low category is 54,20%. The subjective complaints of Musculoskeletal Disorders (MSDs) in the low category is 68,80%. Based on Kendall\u27s tau-b test showed that P. Value is 0,601 > 0,05 it means that there is no correlation between risk factors of dental ergonomics and subjective complaints of Musculoskeletal Disorders (MSDs). The conclusion of this research is there is no correlation between risk factors of dental ergonomics and subjective complaints of Musculoskeletal Disorders (MSDs) on dental assistants. For further research is expected to examine other risk factors that can cause subjective complaints of Musculoskeletal Disorders (MSDs).
Salah satu unsur bahaya dalam dunia kedokteran gigi adalah dental ergonomi. Masalah kerja yang dapat ditimbulkan akibat bahaya ergonomi adalah Musculoskeletal Disorders (MSDs). Pekerjaan dental assistant merupakan salah satu pekerjaan yang memiliki risiko untuk terjadinya keluhan pada sistem musculoskeletal. Hasil studi pendahuluan pada dental assistant yang bekerja di wilayah Kota Pontianak menunjukkan bahwa 85% responden mengalami keluhan musculoskeletal pada bagian kaki, 71,4% pada bagian betis, dan 57,1% pada bagian bahu dan punggung atas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara faktor risiko dental ergonomi dengan keluhan subjektif Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada dental assistant. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan observasional analitik menggunakan rancangan cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di Kota Pontianak pada bulan Agustus 2021. Populasi dalam penelitian ini adalah 48 responden dan pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner faktor risiko dental ergonomi dan kuesioner Nordic Body Map (NBM). Analisis data menggunakan uji Kendall’s Tau-B. Hasil dari penelitian ini adalah faktor risiko dental ergonomi berada pada kategori rendah (54,20%). Keluhan subjektif Musculoskeletal Disorders (MSDs) berada pada kategori rendah (68,80%). Hasil analisis data menunjukkan nilai P. Value sebesar 0,601 > 0,05 sehingga tidak terdapat hubungan antara faktor risiko dental ergonomi dengan keluhan subjektif Musculoskeletal Disorders (MSDs). Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan yang bermakna antara faktor risiko dental ergonomi dengan keluhan subjektif Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada dental assistant. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengkaji faktor-faktor risiko lain yang dapat menyebabkan keluhan subjektif Musculoskeletal Disorders (MSDs).
 
Perilaku Sopir Taksi Antar Kabupaten Dalam Provinsi Pontianak – Putussibau Dalam Cara Menjaga Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Angka DMF-T: Perilaku Sopir Taksi Antar Kabupaten Dalam Provinsi Pontianak – Putussibau Dalam Cara Menjaga Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Angka DMF-T
Behavior is an activity or activity concerned, which can be observed directly or indirectly. In their daily behavior in maintaining health, especially the dental and oral health of the drivers who have a habit of stopping at rest areas, they consume snacks, sweet and sticky foods, and soft drinks that can cause tooth decay, while the time has passed. This study aims to determine the effect of the behavior of taxi drivers between districts in the Province of Pontianak-Putussibau majors on the number (DMF-T). This study uses a survey method, with the type of descriptive research. The population in this study amounted to 158 people, the sample was taken using a purposive non-random sampling technique so that it became 60 people. The results of this study indicate the behavior of taxi drivers with very good behavior criteria as many as 3 people, good 17 people, not good 40. The DMF-T number for taxi drivers with free criteria is 2 people, very low 1 person, 18 people, moderate 34 people, and 5 people, and very high criteria were not found, with an average DMF-T 4 in the medium category. The conclusion is that the behavior of taxi drivers is included in the unfavorable criteria, namely 40 people (66.7%), with DMF-T numbers in the medium category as many as 34 people (56.7%). And the average number of DMF-T 4, included in the medium category.
Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan, yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung. Dalam perilaku sehari-hari dalam menjaga kesehatan, terutama kesehatan gigi dan mulut para sopir mempunyai kebiasaan setiap singgah di tempat istirahat, mereka mengonsumsi makanan ringan, makanan yang manis dan lengket dan minuman soft drink yang dapat menimbulkan kerusakan gigi, sedangkan waktunya telah melewati jam makan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perilaku sopir taksi antar Kabupaten dalam Provinsi jurusan Pontianak-Putussibau terhadap angka (DMF-T). Penelitian ini menggunakan metode survey, dengan jenis penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 158 orang, sampel diambil menggunakan teknik purposive nonrandom sampling sehingga menjadi 60 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan perilaku sopir taksi dengan kriteria perilaku sangat baik sebanyak 3 orang, baik 17 orang, kurang baik 40. Angka DMF-T sopir taksi dengan kriteria bebas sebanyak 2 orang, sangat rendah 1 orang, rendah 18 orang, sedang 34 orang, dan tinggi 5 orang, serta kriteria sangat tinggi tidak ditemukan, dengan angka rata-rata DMF-T 4 dengan kategori sedang. Kesimpulan bahwa perilaku sopir taksi termasuk dalam kriteria kurang baik yaitu sebanyak 40 orang (66,7%), dengan angka DMF-T dengan kategori sedang sebanyak 34 orang (56,7%). Dan angka rata-rata DMF-T 4, termasuk dalam kategori sedang.Behavior is an activity or activity concerned, which can be observed directly or indirectly. In their daily behavior in maintaining health, especially the dental and oral health of the drivers who have a habit of stopping at rest areas, they consume snacks, sweet and sticky foods, and soft drinks that can cause tooth decay, while the time has passed. This study aims to determine the effect of the behavior of taxi drivers between districts in the Province of Pontianak-Putussibau majors on the number (DMF-T). This study uses a survey method, with the type of descriptive research. The population in this study amounted to 158 people, the sample was taken using a purposive non-random sampling technique so that it became 60 people. The results of this study indicate the behavior of taxi drivers with very good behavior criteria as many as 3 people, good 17 people, not good 40. The DMF-T number for taxi drivers with free criteria is 2 people, very low 1 person, 18 people, moderate 34 people, and 5 people, and very high criteria were not found, with an average DMF-T 4 in the medium category. The conclusion is that the behavior of taxi drivers is included in the unfavorable criteria, namely 40 people (66.7%), with DMF-T numbers in the medium category as many as 34 people (56.7%). And the average number of DMF-T 4, included in the medium category.
Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan, yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung. Dalam perilaku sehari-hari dalam menjaga kesehatan, terutama kesehatan gigi dan mulut para sopir mempunyai kebiasaan setiap singgah di tempat istirahat, mereka mengonsumsi makanan ringan, makanan yang manis dan lengket dan minuman soft drink yang dapat menimbulkan kerusakan gigi, sedangkan waktunya telah melewati jam makan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perilaku sopir taksi antar Kabupaten dalam Provinsi jurusan Pontianak-Putussibau terhadap angka (DMF-T). Penelitian ini menggunakan metode survey, dengan jenis penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 158 orang, sampel diambil menggunakan teknik purposive nonrandom sampling sehingga menjadi 60 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan perilaku sopir taksi dengan kriteria perilaku sangat baik sebanyak 3 orang, baik 17 orang, kurang baik 40. Angka DMF-T sopir taksi dengan kriteria bebas sebanyak 2 orang, sangat rendah 1 orang, rendah 18 orang, sedang 34 orang, dan tinggi 5 orang, serta kriteria sangat tinggi tidak ditemukan, dengan angka rata-rata DMF-T 4 dengan kategori sedang. Kesimpulan bahwa perilaku sopir taksi termasuk dalam kriteria kurang baik yaitu sebanyak 40 orang (66,7%), dengan angka DMF-T dengan kategori sedang sebanyak 34 orang (56,7%). Dan angka rata-rata DMF-T 4, termasuk dalam kategori sedang
Tingkat Pengetahuan Pelihara Diri Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Angka Karies pada Mahasiswa Pemakai Orthodontik Cekat: Tingkat Pengetahuan Pelihara Diri Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Angka Karies pada Mahasiswa Pemakai Orthodontik Cekat
Fixed orthodontic treatment is attached to the tooth surface. If this orthodontic treatment is attached to teeth that are difficult to clean, dental caries will occur due to a lack of dental and oral hygiene. For this reason, it is necessary to have someone\u27s knowledge about maintaining oral and dental health, especially fixed orthodontic users. This study aims to determine the relationship between dental and oral health knowledge and caries rates in students using fixed orthodontics at Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. This type of research is analytic observational and the research design is cross-sectional, with a population of 71 students using fixed orthodontics. This sampling technique is purposive sampling with the number of respondents using fixed orthodontics as many as 60 people. The results of the research on the analysis with the Kendall\u27s-Tau test obtained a significant value = 0.000 <0.05. The conclusion is that there is a relationship between knowledge of oral health and dental hygiene with caries rates in Orthodontic Wearing students at Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.
Perawatan orthodontik cekat dipasang pada permukaan gigi. Perawatan orthodontik ini apabila dicekatkan pada gigi-gigi yang sulit dibersihkan akan terjadi karies gigi diakibatkan oleh kurangnya kebersihan gigi dan mulut. Untuk itu diperlukan pengetahuan seseorang mengenai pelihara diri kesehatan gigi dan mulut terutama pengguna orthodontik cekat. Penelitian ini bertujuan mengetahui adanya hubungan pengetahuan pelihara diri kesehatan gigi dan mulut dengan angka karies pada mahasiswa pemakai orthodontik cekat di Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Jenis penelitian bersifat observasional analitik dan desain penelitian Cross-sectional, dengan populasi pada mahasiswa yang memakai orthodontik cekat berjumlah 71 orang. Teknik pengambilan sampel ini adalah purposive sampling dengan jumlah yang menjadi responden pemakai orthodontik cekat sebanyak 60 orang. Hasil penelitian pada analisis dengan uji Kendall’s-Tau di peroleh nilai signifikan = 0,000<0,05. Kesimpulan ada hubungan pengetahuan pelihara diri kesehatan gigi dan mulut dengan angka karies pada mahasiswa Pemakai Orthodontik di Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.Fixed orthodontic treatment is attached to the tooth surface. If this orthodontic treatment is attached to teeth that are difficult to clean, dental caries will occur due to a lack of dental and oral hygiene. For this reason, it is necessary to have someone\u27s knowledge about maintaining oral and dental health, especially fixed orthodontic users. This study aims to determine the relationship between dental and oral health knowledge and caries rates in students using fixed orthodontics at Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. This type of research is analytic observational and the research design is cross-sectional, with a population of 71 students using fixed orthodontics. This sampling technique is purposive sampling with the number of respondents using fixed orthodontics as many as 60 people. The results of the research on the analysis with the Kendall\u27s-Tau test obtained a significant value = 0.000 <0.05. The conclusion is that there is a relationship between knowledge of oral health and dental hygiene with caries rates in Orthodontic Wearing students at Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.
Perawatan orthodontik cekat dipasang pada permukaan gigi. Perawatan orthodontik ini apabila dicekatkan pada gigi-gigi yang sulit dibersihkan akan terjadi karies gigi diakibatkan oleh kurangnya kebersihan gigi dan mulut. Untuk itu diperlukan pengetahuan seseorang mengenai pelihara diri kesehatan gigi dan mulut terutama pengguna orthodontik cekat. Penelitian ini bertujuan mengetahui adanya hubungan pengetahuan pelihara diri kesehatan gigi dan mulut dengan angka karies pada mahasiswa pemakai orthodontik cekat di Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Jenis penelitian bersifat observasional analitik dan desain penelitian Cross-sectional, dengan populasi pada mahasiswa yang memakai orthodontik cekat berjumlah 71 orang. Teknik pengambilan sampel ini adalah purposive sampling dengan jumlah yang menjadi responden pemakai orthodontik cekat sebanyak 60 orang. Hasil penelitian pada analisis dengan uji Kendall’s-Tau di peroleh nilai signifikan = 0,000<0,05. Kesimpulan ada hubungan pengetahuan pelihara diri kesehatan gigi dan mulut dengan angka karies pada mahasiswa Pemakai Orthodontik di Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Hubungan Antara Pengetahuan dan Tindakan dengan Pola Pengobatan Mandiri yang Dilakukan Pasien Untuk Mengatasi Keluhan Sakit Gigi pada Ibu-Ibu Balita: Hubungan Antara Pengetahuan dan Tindakan dengan Pola Pengobatan Mandiri yang Dilakukan Pasien Untuk Mengatasi Keluhan Sakit Gigi pada Ibu-Ibu Balita
Dental and oral health is often the umpteenth priority for some people. The problem of cavities is still a lot of complaints both children and adults and this cannot be allowed because it will get worse and will affect the quality of life where they will experience pain. However, with the complaint of toothache, many people end up doing self-medication about dental and oral health where it is found that there are still many people who do self-medication. This study aims to determine the relationship between knowledge, action, and self-medication patterns carried out by patients to overcome complaints of toothache in mothers of children under five at the Posyandu in the Penfui Health Center area. This type of analytical research with a Cross-Sectional approach. The sample of this study used accidental sampling, namely mothers of children under five in the Posyandu in the Penfui Health Center area who had experienced a toothache and did self-medication with a sample of 60 respondents. The results obtained for knowledge included in the good criteria, namely 71.70%, the action including the fewer criteria, namely 51.70%, while the self-medication pattern was included in the fewer criteria, namely 65.00%. The results of statistical analysis showed that there was a relationship between knowledge and self-medication pattern with a p-value of 0.014, while for action there was no relationship because the p-value was 0.998. Although the results of the level of knowledge are good, this self-medication pattern must be supported by good and correct actions and self-medication patterns for toothache complaints. It was concluded that there was a relationship between knowledge and self-medication patterns for toothache complaints carried out by mothers of children under five in the Penfui Health Center area.
Kesehatan gigi dan mulut sering menjadi prioritas yang kesekian bagi sebagian orang. Masalah gigi berlubang masih banyak dikeluhkan baik anak-anak maupun dewasa dan hal ini tidak bisa dibiarkan karena akan bertambah parah dan akan mempengaruhi kualitas hidup dimana mereka akan mengalami rasa sakit. Akan tetapi dengan adanya keluhan sakit gigi tersebut maka banyak masyarakat yang pada akhirnya melakukan pengobatan sendiri tentang kesehatan gigi dan mulut dimana ditemukan masih banyak masyarakat yang melakukan pengobatan sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara pengetahuan, tindakan dengan pola pengobatan mandiri yang dilakukan pasien untuk mengatasi keluhan sakit gigi pada ibu-ibu balita di Posyandu wilayah Puskesmas Penfui. Jenis penelitian analitik dengan pendekatan Cross-Sectional. Sampel penelitian ini dengan menggunakan accidental sampling, yaitu ibu-ibu balita di Posyandu wilayah Puskesmas Penfui yang pernah mengalami sakit gigi dan melakukan pengobatan sendiri dengan jumlah sampel 60 responden. Hasil penelitian didapatkan untuk pengetahuan termasuk dalam kriteria baik yaitu 71,70%, tindakan termasuk kriteria kurang yaitu 51,70%, sedangkan pola pengobatan mandiri termasuk dalam kriteria kurang yaitu 65,00%. Hasil analisa statistik terdapat hubungan antara pengetahuan dengan pola pengobatan mandiri dengan p value 0,014 sedangkan untuk tindakan tidak didapatkan hubungan karena p value 0,998. Meskipun hasil tingkat pengetahuan sudah baik, akan tetapi pola pengobatan mandiri ini harus didukung dengan tindakan dan pola pengobatan mandiri terhadap keluhan sakit gigi yang baik dan benar. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dengan pola pengobatan mandiri terhadap keluhan sakit gigi yang dilakukan oleh ibu-ibu balita di wilayah Puskesmas Penfui.Dental and oral health is often the umpteenth priority for some people. The problem of cavities is still a lot of complaints both children and adults and this cannot be allowed because it will get worse and will affect the quality of life where they will experience pain. However, with the complaint of toothache, many people end up doing self-medication about dental and oral health where it is found that there are still many people who do self-medication. This study aims to determine the relationship between knowledge, action, and self-medication patterns carried out by patients to overcome complaints of toothache in mothers of children under five at the Posyandu in the Penfui Health Center area. This type of analytical research with a Cross-Sectional approach. The sample of this study used accidental sampling, namely mothers of children under five in the Posyandu in the Penfui Health Center area who had experienced a toothache and did self-medication with a sample of 60 respondents. The results obtained for knowledge included in the good criteria, namely 71.70%, the action including the fewer criteria, namely 51.70%, while the self-medication pattern was included in the fewer criteria, namely 65.00%. The results of statistical analysis showed that there was a relationship between knowledge and self-medication pattern with a p-value of 0.014, while for action there was no relationship because the p-value was 0.998. Although the results of the level of knowledge are good, this self-medication pattern must be supported by good and correct actions and self-medication patterns for toothache complaints. It was concluded that there was a relationship between knowledge and self-medication patterns for toothache complaints carried out by mothers of children under five in the Penfui Health Center area.
Kesehatan gigi dan mulut sering menjadi prioritas yang kesekian bagi sebagian orang. Masalah gigi berlubang masih banyak dikeluhkan baik anak-anak maupun dewasa dan hal ini tidak bisa dibiarkan karena akan bertambah parah dan akan mempengaruhi kualitas hidup dimana mereka akan mengalami rasa sakit. Akan tetapi dengan adanya keluhan sakit gigi tersebut maka banyak masyarakat yang pada akhirnya melakukan pengobatan sendiri tentang kesehatan gigi dan mulut dimana ditemukan masih banyak masyarakat yang melakukan pengobatan sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara pengetahuan, tindakan dengan pola pengobatan mandiri yang dilakukan pasien untuk mengatasi keluhan sakit gigi pada ibu-ibu balita di Posyandu wilayah Puskesmas Penfui. Jenis penelitian analitik dengan pendekatan Cross-Sectional. Sampel penelitian ini dengan menggunakan accidental sampling, yaitu ibu-ibu balita di Posyandu wilayah Puskesmas Penfui yang pernah mengalami sakit gigi dan melakukan pengobatan sendiri dengan jumlah sampel 60 responden. Hasil penelitian didapatkan untuk pengetahuan termasuk dalam kriteria baik yaitu 71,70%, tindakan termasuk kriteria kurang yaitu 51,70%, sedangkan pola pengobatan mandiri termasuk dalam kriteria kurang yaitu 65,00%. Hasil analisa statistik terdapat hubungan antara pengetahuan dengan pola pengobatan mandiri dengan p value 0,014 sedangkan untuk tindakan tidak didapatkan hubungan karena p value 0,998. Meskipun hasil tingkat pengetahuan sudah baik, akan tetapi pola pengobatan mandiri ini harus didukung dengan tindakan dan pola pengobatan mandiri terhadap keluhan sakit gigi yang baik dan benar. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dengan pola pengobatan mandiri terhadap keluhan sakit gigi yang dilakukan oleh ibu-ibu balita di wilayah Puskesmas Penfui
Hubungan Pengetahuan dengan Pola Asuh Authoritative dalam Upaya Pencegahan Karies Gigi Anak Di Remote Area: Hubungan Pengetahuan dengan Pola Asuh Authoritative dalam Upaya Pencegahan Karies Gigi Anak Di Remote Area
Dental caries is a disease that has a high prevalence and is a major public health problem worldwide, especially in children. Maintenance of children\u27s dental health involves interaction between children, parents, and dentists. Mothers\u27 knowledge and behavior in efforts to maintain dental health have a significant influence on children\u27s behavior. Authoritative parenting (friendly, high control) has two-way communication with not too hard in parenting but also not out of control on children. The purpose of this study was to determine the relationship between knowledge and the type of authoritative parenting in an effort to prevent dental caries in elementary school children in remote areas. This study is a cross-sectional study, conducted on mothers of children aged 6-9 years in Oelnaineno Village, Takari District, Kupang Regency. The number of samples was 40 mothers, the sampling procedure was carried out by simple random sampling technique. Data were collected through interviews with questionnaires containing questions to measure knowledge and types of authoritative parenting in an effort to prevent dental caries in elementary school children. The results of the study were statistically analyzed using the Multi nominal Logistics Regression test with a significance value of p <0.05. There is a significant relationship between knowledge and the type of authoritarian parenting with a significance of 0.042. Mother\u27s parenting is influenced by knowledge and will have an impact on children. Mothers who have good knowledge apply authoritative parenting styles and child caries rates are low compared to other types. There is a relationship between knowledge and type of mother\u27s authoritative pattern in efforts to prevent dental caries in elementary school children in remote areas.
Karies gigi merupakan penyakit yang memiliki prevalensi tinggi dan menjadi masalah utama kesehatan masyarakat di seluruh dunia terutama pada anak-anak. Pemeliharaan kesehatan gigi anak melibatkan interaksi antara anak, orang tua dan dokter gigi. Pengetahuan dan perilaku ibu dalam upaya pemeliharaan kesehatan gigi memberi pengaruh signifikan terhadap perilaku anak. Pola asuh authoritative (ramah, kontrol tinggi) memiliki komunikasi dua arah dengan tidak terlalu keras dalam pola pengasuhan tetapi juga tidak lepas kontrol pada anak. Tujuan penelitian ini merupakan untuk hubungan antara pengetahuan dan tipe pola asuh authoritative dalam upaya pencegahan karies gigi anak sekolah dasar di remote area. Penelitian ini merupakan penelitian Cross-Sectional, dilakukan pada ibu anak usia 6-9 tahun di Desa Oelnaineno Kecamatan Takari Kabupaten Kupang. Jumlah sampel sebanyak 40 ibu, prosedur pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling. Data diambil melalui metode wawancara dengan kuesioner yang berisi pertanyaan untuk mengukur pengetahuan dan tipe pola asuh authoritative dalam upaya pencegahan karies gigi anak sekolah dasar. Hasil penelitian dianalisis secara statistik menggunakan uji Regresi Logistik Multi nominal dengan nilai kemaknaan yaitu nilai p<0,05. Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan tipe pola asuh authoritarian dengan signifikansi 0,042. Pola asuh ibu dipengaruhi oleh pengetahuan dan akan berdampak pada anak. Ibu yang berpengetahuan baik menerapkan pola asuh tipe authoritative dan angka karies anak rendah dibandingkan tipe yang lain. Ada hubungan antara pengetahuan dan tipe pola authoritative ibu dalam upaya pencegahan karies gigi anak sekolah dasar di remote area.Dental caries is a disease that has a high prevalence and is a major public health problem worldwide, especially in children. Maintenance of children\u27s dental health involves interaction between children, parents, and dentists. Mothers\u27 knowledge and behavior in efforts to maintain dental health have a significant influence on children\u27s behavior. Authoritative parenting (friendly, high control) has two-way communication with not too hard in parenting but also not out of control on children. The purpose of this study was to determine the relationship between knowledge and the type of authoritative parenting in an effort to prevent dental caries in elementary school children in remote areas. This study is a cross-sectional study, conducted on mothers of children aged 6-9 years in Oelnaineno Village, Takari District, Kupang Regency. The number of samples was 40 mothers, the sampling procedure was carried out by simple random sampling technique. Data were collected through interviews with questionnaires containing questions to measure knowledge and types of authoritative parenting in an effort to prevent dental caries in elementary school children. The results of the study were statistically analyzed using the Multi nominal Logistics Regression test with a significance value of p <0.05. There is a significant relationship between knowledge and the type of authoritarian parenting with a significance of 0.042. Mother\u27s parenting is influenced by knowledge and will have an impact on children. Mothers who have good knowledge apply authoritative parenting styles and child caries rates are low compared to other types. There is a relationship between knowledge and type of mother\u27s authoritative pattern in efforts to prevent dental caries in elementary school children in remote areas.
Karies gigi merupakan penyakit yang memiliki prevalensi tinggi dan menjadi masalah utama kesehatan masyarakat di seluruh dunia terutama pada anak-anak. Pemeliharaan kesehatan gigi anak melibatkan interaksi antara anak, orang tua dan dokter gigi. Pengetahuan dan perilaku ibu dalam upaya pemeliharaan kesehatan gigi memberi pengaruh signifikan terhadap perilaku anak. Pola asuh authoritative (ramah, kontrol tinggi) memiliki komunikasi dua arah dengan tidak terlalu keras dalam pola pengasuhan tetapi juga tidak lepas kontrol pada anak. Tujuan penelitian ini merupakan untuk hubungan antara pengetahuan dan tipe pola asuh authoritative dalam upaya pencegahan karies gigi anak sekolah dasar di remote area. Penelitian ini merupakan penelitian Cross-Sectional, dilakukan pada ibu anak usia 6-9 tahun di Desa Oelnaineno Kecamatan Takari Kabupaten Kupang. Jumlah sampel sebanyak 40 ibu, prosedur pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling. Data diambil melalui metode wawancara dengan kuesioner yang berisi pertanyaan untuk mengukur pengetahuan dan tipe pola asuh authoritative dalam upaya pencegahan karies gigi anak sekolah dasar. Hasil penelitian dianalisis secara statistik menggunakan uji Regresi Logistik Multi nominal dengan nilai kemaknaan yaitu nilai p<0,05. Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan tipe pola asuh authoritarian dengan signifikansi 0,042. Pola asuh ibu dipengaruhi oleh pengetahuan dan akan berdampak pada anak. Ibu yang berpengetahuan baik menerapkan pola asuh tipe authoritative dan angka karies anak rendah dibandingkan tipe yang lain. Ada hubungan antara pengetahuan dan tipe pola authoritative ibu dalam upaya pencegahan karies gigi anak sekolah dasar di remote area