Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Not a member yet
    254 research outputs found

    SULING BAMBOO MUSIC: THE IDENTITY OF TIMOR TENGAH UTARA SOCIETY

    Full text link
    Suling bamboo music is a traditional music typical of the people of Timor Tengah Utara (TTU) Regency. The musical form of the suling bamboo is very unique and different from the form of the suling bamboo that exists in all regions in Indonesia. The purpose of this study is related to the problem raised, namely to reveal the problem of form and musical elements that make up suling bamboo in Timor Tengah Utara (TTU) Regency. The method used in this research is qualitative analytical method. Data collection techniques were carried out using observation techniques, interview techniques and document study techniques. The results of the study show the following. First, the musical elements that make up the suling bamboo music are as follows. Rhythm, compositionally the rhythm/rhythm of suling bamboo music is a typical Timor rhythm. Melody, on the suling the song plays the main melody or Cantus Frimus (cf), while the trumpet and bass suling play a filler melody or fill melody according to chords. Harmony, which functions to play chords, namely the suling trumpet  and the suling bass. Tempo, in the Suling bamboo music game, is very relative depending on the song being sung, which is often used is the tempo of Adate: MM 72-76, Adantino: MM 80-84 and Moderato: MM 90-104. This research can broaden the reader's perspective on the existence of Suling bamboo music and provide information about the forms and musical elements that make up bamboo flute music in Timor Tengah Utara (TTU) RegencyKeywords: Suling bamboo music; musical forms; elements AbstrakMusik suling bambu merupakan musik tradisional khas masyarakat Timor Tengah Utara (TTU). Bentuk musik suling bambu sangat unik dan berbeda dengan bentuk suling bambu yang ada di seluruh daerah di Indonesia. Tujuan penelitian ini berkaitan dengan masalah yang diangkat yakni mengungkap masalah bentuk serta unsur-unsur musikal yang membentuk musik suling bambu di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif analitikal. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, teknik wawancara dan teknik studi dokumen. Hasil penelitian menunjukan sebagai berikut. Pertama, Unsur-unsur musikal yang membentuk musik suling bambu adalah sebagai berikut. Ritme, secara komposisi ritme/ irama musik suling bambu merupakan irama khas Timor. Melodi, pada suling lagu memainkan melodi utama atau Cantus Frimus (cf), sedangkan suling terompet dan suling bass memainkan melodi filler atau melodi isian sesuai akord. Harmoni, yang berfungsi untuk memainkan akord yaitu suling terompet dan suling bass. Tempo, dalam permainan musik suling bambu sangat relatif tergantung pada lagu yang dibawakan, yang sering digunakan adalah tempo Adante : MM 72-76, Adantino: MM 80-84 dan Moderato: MM 90-104. Penelitian ini dapat memperluas perspektif pembaca tentang keberadaan musik suling bambu dan memberi informasi tentang bentuk dan unsur musikal yang membentuk musik suling bambu di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).Kata Kunci: Musik suling bamboo; bentuk; dan unsur musikal.

    THE HYBRID PERSEMBAHAN DANCE: CROSS-CULTURAL COLLABORATION AND ART TOURISM IN PASA HARAU ART AND CULTURE FESTIVAL 2018

    Full text link
    This paper discusses the process of creating a collaborative dance work entitled Cross-Cultural Offering Dance, which was created jointly by three choreographers of different cultural backgrounds in the 2018 Pasa Harau Art and Culture Festival. The three choreographers involved in the collaboration are Siska Aprisia (Minangkabau, Indonesia). ), Kiki Rahmatika Syaher (Lampung, Indonesia), and Visaka Saeui (Thailand). The three of them tried to create a dance offering by offering the idea of a dance with the same theme, namely a dance to welcome guests in their respective cultural backgrounds. Applying a qualitative approach with research methods centered on performance events, this paper is intended to describe the stages of the creation process, and the modes of collaboration agreed upon by the three choreographers. Primary data was collected through involved observation, namely by participating directly as a choreographer, dramaturg, and administrator of the intended collaborative dance performance process. Secondary data were collected from narrative interviews with the three choreographers and by observing the responses and reactions of the audience and dancers. The results showed that the creation of the Performance Dance by the three choreographers was a hybridization process that began with sharing views on the world of traditional dance in order to build a shared spectrum, followed by a process of division of parts in the plot, where the embodiment of the atmosphere from solemn to joyful became the common thread. The result of the collaboration is a dance number entitled Cross-Cultural Offering Dance, which not only meets the criteria as a presentation in a festival, but can also be a tourism art presentation.Keywords: Persembahan Dance; Hybrid; Cross-Cultural Collaboration; Tourism Arts; FestivalTARI PERSEMBAHAN HIBRIDA: KOLABORASI LINTAS-BUDAYA DAN SENI PARIWISATA DALAM PASA HARAU ART AND CULTURE FESTIVAL 2018AbstrakTulisan ini membahas tentang proses penciptaan sebuah karya tari kolaboratif bertajuk Tari Persembahan Lintas Budaya, yang diciptakan bersama oleh tiga koreografer berbeda latar belakang budaya dalam kegiatan Pasa Harau Art and Culture Festival 2018. Ketiga koreografer yang terlibat di dalam kolaborasi adalah Siska Aprisia (Minangkabau, Indonesia), Kiki Rahmatika Syaher (Lampung, Indonesia), dan Visaka Saeui (Thailand). Ketiganya mencoba menciptakan sebuah karya Tari Persembahan dengan menawarkan gagasan dari tari bertema sama, yakni tari penyambutan tamu di masing-masing latar budaya mereka. Menerapkan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian yang berpusat pada peristiwa pergelaran, tulisan ini dimaksudkan untuk menguraikan perihal tahapan-tahapan proses penciptaan, dan moda kolaborasi yang disepakati oleh ketiga koreografer. Data primer dikumpulkan melalui pengamatan terlibat, yakni dengan ikut serta secara langsung sebagai koreografer, dramaturg, dan administrator dari proses kolaborasi Tari Persembahan yang dimaksudkan. Data sekunder dikumpulkan dari wawancara naratif dengan ketiga koreografer serta dengan mengamati respons dan reaksi penonton dan penari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penciptaan Tari Persembahan oleh ketiga orang koreograger adalah suatu proses hibridisasi yang dimulai dengan sharing pandangan atas dunia tari tradisional guna membangun spektrum bersama, dilanjutkan dengan proses pembagian bagian dalam plot, di mana perwujudan suasana dari khidmat menuju riang gembira menjadi benang merahnya. Hasil dari kolaborasi adalah sebuah nomor tarian bertajuk Tari Persembahan Lintas Budaya, yang tidak saja memenuhi kriteria sebagai sajian dalam festival, namun juga dapat menjadi sajian seni pariwisata.Kata Kunci: Tari Persembahan; Hibrida; Kolaborasi Lintas-Budaya; Seni Pariwisata; Festiva

    AESTHETIC OF WORKING STRUCTURE IN TARI PIRING HURIAH ADAM

    Full text link
     Tari Piring Huriah Adam is a dance work that departs from the habits of the Minangkabau people in the agricultural world. Tari Piring is one of the arts of the Minangkabau community that uses a plate as property and a ring on the middle finger that is tapped to produce a sound according to the rhythm of the music. This dance has thirteen movement structures, all of which describe the life of the Minangkabau people. The creativity of the Minangkabau choreographer in strengthening the Minang ethnic identity is outlined in the creations of dance works that depart from the traditional Bamain Piriang dance. The concept to unravel this dance is the concept of structuralism, where a work of art is a fabric of elements that build it. Structuralism is a way of thinking about the world associated with perceiving and describing structures. A structure is a system consisting of an element, none of which can change without producing a difference in another aspect. The result of the analysis of the work is the creation of a work of art through a very neat relationship between structures.Keywords: dance; structure; agriculture; culture.ABSTRAKTari piring karya Huriah Adam merupakan karya tari yang berangkat dari kebiasaan orang Minangkabau dalam dunia pertanian. Tari piring merupakan salah satu kesenian masyarakat Minangkabau yang menggunakan piring sebagai properti dan menggunakan cincin di jari tengah yang diketukan sehingga menghasilkan bunyi sesuai irama musiknya. Tari ini memiliki struktur gerak yang berjumlah tiga belas yang semuanya menggambarkan tentang kehidupan orang Minangkabau. Kreativitas koreografer Minangkabau dalam menguatkan identitas etnis Minang yang dituangkan dalam karya-karya tari kreasi yang berangkat dari tari tradisional Bamain Piriang. Konsep untuk mengurai tari piring ini adalah konsep strukturalisme dimana sebuah karya seni merupakan jalinan unsur-unsur yang membangunnya. Strukturalisme adalah cara berpikir tentang dunia yang dikaitkan dengan persepsi dan deskripsi struktur. Struktur yang merupakan sebuah sistem, yang terdiri dari sebuah anasir, yang di antaranya tidak satu pun dapat mengalami perubahan tanpa menghasilkan perubahan dalam sebuah anasir lain. Hasil analisis karya adalah terbangunnya sebuah karya seni lewat hubungan antar struktur yang sangat rap

    WOMEN'S STUDY ON RANDAI SI RABUANG AMEH, AS AN EXISTENCE OF RANDAI DEVELOPMENT IN MINANGKABAU

    Full text link
    This article entitled "Development of the traditional art of randai into the creation of randai Si Rabuang Ameh by Zulkifli is a qualitative research in the form of descriptive analysis". The Si Rabuang Ameh performance is the result of the artist's observations and concerns about the women's desire to be directly involved in the randai performance. This paper aims to describe the background of the presence of the Si Rabuang Ameh performance, analysis of the work; innovation on randai and women's studies on randai si rabuang ameh, as a form of developing randai in Minangkabau. Minangkabau which adheres to a matrilineal system, of course, the participation of women in traditional randai performances is considered taboo. The Randai Si Rabuang Ameh show has been adapted so that it deserves to be a female randai. Randai Si Rabuang Ameh is a place for women who want to participate in randai performances. The randai creations in the Si Rabuang Ameh show do not eliminate the norms or customs and their traditional habitats so as not to damage the existence of randai as a traditional Minangkabau art. The performance of Randai Si Rabuang Ameh also does not conflict with the ethics of Contributing Duo Baleh in Minangkabau, so it does not become a debate or conflict with the participation of women in the show. The show that was innovated into women's randai, the wave motion was inspired by the motion of suduang daun, tanduak buang, jinjiang bantai, lapiah jarami, galatiak, gelek and others. Keywords: Si Rabuang Ameh; Randai; Women   KAJIAN PEREMPUAN TERHADAP RANDAI  SI RABUANG AMEH, SEBAGAI WUJUD PENGEMBANGAN RANDAI DI MINANGKABAU AbstrakTulisan berjudul pengembangan seni tradisi randai menjadi kreasi randai Si Rabuang Ameh karya Zulkifli ini merupakan penelitian yang bersifat kualitatif berbentuk diskriptif analisis. Pertunjukan Si Rabuang Ameh merupakan hasil observasi dan keresahan pengkarya terhadap keinginan kaum perempuan untuk terlibat langsung dalam pertunjukan randai. Tulisan ini bertujuan mendiskripsi latar belakang hadirnya pertunjukan Si Rabuang Ameh, analisis karya; inovasi terhadap randai dan kajian perempuan terhadap randai si rabuang ameh, sebagai wujud pengembangan randai di Minangkabau. Minangkabau yang menganut sistem matrilineal, tentunya keikutsertaan perempuan dalam pertunjukan randai tradisi di anggap tabu. pertunjukan randai Si Rabuang Ameh telah diadaptasi sehingga pantas menjadi randai perempuan. Randai Si Rabuang Ameh menjadi wadah bagi kaum perempuan yang ingin berpartisipasi dalam pertunjukan randai. Kreasi randai dalam pertunjukan Si Rabuang Ameh tidak mengilangkan norma atau pakam dan habitat ketradisiannya sehingga tidak merusak keberadaan randai sebagai kesenian tradisioal Minangkabau. Pertunjukan randai Si Rabuang Ameh juga tidak bertentangan dengan etika Sumbang Duo Baleh di Minangkabau, sehingga tidak menjadi perdebatan ataupun pertentangan terhadap keikutsertaan perempuan dalam pertunjukan. Pertunjukan yang di inovasi menjadi randai perempuan, gerak gelombang terinspirasi dari gerak suduang daun, tanduak buang, jinjiang bantai, lapiah jarami, galatiak, gelek dan lainnya.Kata kunci : Si Rabuang Ameh; Randai; Perempua

    RE-READING THE HISTORY OF BODY IN MENITI JEJAK TUBUH BY SHERLI NOVALINDA

    Full text link
    This paper explains how the body narrates its own history in a dance work Meniti Jejak Tubuh by Sherli Novalinda. The reading of the history of the body aims to explain how does the choreographer rereads the body in creating a new and different bodily practices. This paper is a result of an artistic research by using an embodiment approach and aesthetics of experience perspective. Data was collected through interviews and textual analysis methods. The results of the analysis reveal that Sherli Novalinda in her dance work Meniti Jejak Tubuh presents a rereading of her body history through an experimental creation process. The choreographer narrated the history of her body as a women inheritated Kerinci culture by borrowing another body in an experimentative process, cross-culture and gender, in order to create a new body narrative, the body in between.Keywords: Body History; Dance; Sherli Novalinda MEMBACA ULANG SEJARAH TUBUH DALAM PENCIPTAAN TARI MENITI JEJAK TUBUH KARYA SHERLI NOVALINDAAbstrakTulisan ini menjelaskan bagaimana tubuh menarasikan sejarahnya sendiri dalam tari Meniti Jejak Tubuh karya Sherli Novalinda. Pembacaan terhadap sejarah tubuh dalam karya tari ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana koreografer membaca kembali tubuhnya dalam menciptakan praktik ketubuhan yang baru dan berbeda. Tulisan ini merupakan hasil dari sebuah riset artistik dengan menggunakan pendekatan ketubuhan (embodiment) dan perspektif estetika pengalaman (aesthetics of experience). Pengumpulan data dilakukan melalui metode wawancara dan analisis tekstual. Hasil analisis menunjukkan bahwa Sherli Novalinda dalam karya Meniti Jejak Tubuh menghadirkan pembacaan terhadap sejarah tubuhnya melalui proses penciptaan yang eksperimentatif. Koreografer menarasikan sejarah tubuhnya sebagai perempuan yang mewarisi budaya Kerinci dengan meminjam tubuh orang lain dalam proses eksperimentasi yang lintas budaya dan gender hingga menciptakan sebuah narasi tubuh yang baru, tubuh in-between. Kata kunci: Sejarah Tubuh; Dance; Sherli Novalinda

    COMMUNICATION FUNCTIONS OF THE TIMOR GONG IN NAPAN VILLAGE COMMUNITY

    Full text link
    The Timorese gong is a traditional musical instrument of the Napan people that functions as a means of communication in rituals and entertainment. This instrument consists of several parts, namely Tonu Mese, Ote and Kbola. This musical instrument is used by the community as their communication with the local community, ancestors and nature. The method used in this study is descriptive qualitative with an ethnographic approach, namely to discuss the culture and life of the local community. The Timorese Gong until now has functioned as a means of ritual communication where the Gong has a symbolic meaning, namely as a symbol of the strength, nature, identity and character of the community. Apart from being in the context of rituals, this musical instrument also serves to provide information to the local community, namely when there are traditional elders or traditional figures who have died. The Timor gong used as a communication for the Napan people is to provide certain information or messages related to what is about to happen, namely as a warning sign to the local community.Keywords: Gong Timor; Communication; Symbolic Meanin FUNGSI KOMUNIKASI GONG TIMOR PADA  MASYARAKAT DESA NAPAN   AbstrakGong Timor merupakan alat musik tradisi masyarakat Napan yang berfungsi sebagai sarana komunikasi dalam ritual maupun hiburan. Alat musik ini terdiri dari beberapa bagian yaitu Tonu Mese, Ote dan Kbola. Alat musik ini digunakan oleh masyarakat sebagai komunikasi mereka dengan masyarakat setempat, leluhur dan alam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnografi yaitu untuk membahas tentang kebudayaan dan kehidupan masyarakat setempat. Gong Timor hingga saat ini telah difungsikan sebagai sarana komunikasi ritual dimana Gong tersebut memiliki makna simbolik yaitu sebagai simbol keperkasaan, sifat, identitas dan karakter masyarakat. Selain dalam konteks ritual alat musik ini juga berfungsi untuk memberikan informasi kepada masyarakat setempat yaitu pada saat ada tua adat atau tokoh adat yang telah meninggal. Gong Timor yang digunakan sebagai komunikasi masyarakat Napan adalah untuk memberikan informasi atau pesan-pesan tertentu terkait dengan apa yang akan terjadi yaitu sebagai tanda peringatan pada masyarakat setempat.Kata Kunci: Gong Timor; Komunikasi; Makna Simboli

    FAMILY REPRESENTATION IN ALI DAN RATU-RATU QUEENS MOVIE

    Full text link
     This study explains the representation of family values in the film "Ali and Ratu-ratu Queens." This research uses a descriptive qualitative approach. The data collection technique used is observation and literature study using Roland Barthes' semiotic theory. This film is interesting to study because it describes the kinship created between two family elements bound by blood and a family that is only created by a meeting that makes them so familiar. Roland Barthes interprets symbols using markers and signifiers so that denotative, connotative, and mythical meanings can be found. Representation is a picture of life through the media. The representation of the family in the film Ali and Ratu-Ratu Queens is reflected in several film scenes, namely through dialogue and visuals. Eight scenes were chosen because they best reflect the family values between Ali and Mia and the Queens of Queens. The results of this study indicate that the family has a character that extends not only between parents and children but also between other people who are not blood-related. The Queen's character can create happiness for Ali, who is left behind by his mother, by giving them the simple pleasure they have. Researchers can further develop the film Ali and the Queens of Queens in terms of directing style, characterization, mise en scene, and storytelling development (three-act structure).REPRESENTASI KELUARGA DALAM FILM ALI DAN RATU-RATU QUEENSAbstrak Penelitian ini menjelaskan representasi nilai keluarga dalam film “Ali dan Ratu-ratu Queens”. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi dan studi pustaka dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Film ini menarik untuk diteliti karena menggambarkan unsur kekeluargaan yang tercipta antara dua elemen keluarga yang terikat oleh darah, dan keluarga yang hanya tercipta oleh sebuah pertemuan yang membuat mereka begitu akrab Roland Barthes memaknai simbol menggunakan penanda dan petanda hingga dapat ditemukan makna denotasi, konotasi dan mitos. Representasi merupakan gambaran mengenai kehidupan melalui media. Representasi keluarga yang ada dalam film Ali dan Ratu-ratu Queens tercermin pada beberapa adegan film yaitu melalui dialog dan visualnya. Delapan adegan dipilih karena paling mencerminkan nilai kekeluargaan antara Ali dengan Mia dan Ratu-ratu Queens. Hasil penelitian ini bahwa keluarga memiliki sifat yang meluas bukan hanya antara orang tua dan anak, namun juga antara orang lain yang tidak sedarah. Tokoh Queens mampu menciptakan kebahagiaan bagi Ali yang ditinggal oleh ibunya dengan memberikan kebahagiaan yang sederhana yang mereka miliki. Film Ali dan Ratu-ratu Queens ini bisa dikembangkan lagi oleh peneliti selanjutnya dari segi gaya penyutradaraan, pengkarakteran, mise en scene, dan pengembangan penceritaannya (struktur tiga babak). Kata Kunci : Representasi, Keluarga, Semiotika, Roland Barthes, Film Ali dan Ratu-ratu Queens.  Abstrak Penelitian ini menjelaskan tentang representasi nilai keluarga terhadap film “Ali dan Ratu-ratu Queens”. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi dan studi pustaka. Representasi merupakan gambaran mengenai kehidupan melalui media. Representasi keluarga yang ada tercermin pada beberapa adegan film “Ali dan Ratu-ratu Queens” melalui dialog dan visualnya. Hasil penelitian ini bahwa keluarga memiliki sifat yang meluas bukan hanya antara orang tua dan anak, namun juga antara orang lain yang tidak sedarah. Tokoh Queens mampu menciptakan kebahagiaan bagi Ali yang ditinggal oleh ibunya dengan memberikan kebahagiaan yang sederhana yang mereka miliki.Kata Kunci : Representasi, Keluarga, Film Ali dan Ratu-ratu Queens.

    STUDI KASUS FORM FOLLOWS FUNCTION DALAM KARYA SENI KRIYA

    Full text link
    AbstrakDikotomi Kriya terdiri dari atas seni kriya dan kriya seni, seni kriya penekanan karya nya mengutamakan fungsi atau afflied art sedangkan kriya seni lebih kepada karya-karya non fungdional atau fine art,  behgitupun dalam proses penciptaannya, seni kriya lebih mengkedepankan form follow function,  dimana kaidah ini lebih menekankan pada penciptaan karya seni kriya, dimana dalam penciptaannya mendahulukan fungsi di susul dengan bentuk, supaya karya yang dihasilkan memiliki fungsi sesuai dengan yang telah direncanakan. Dengan munculnya dogma tentang Form Follows Function yang mengatakan bahwa karya fungsional harus menghilangkan hal-hal yang mengandung ornamenasi dan mengatakan bahwa ornamen adalah dosa, tetapi tidak demikian dalam karya seni kriya di Indonesia peranan ornamen memang menjadi sangat dominan fungsi ornamen bukan sekedar sebagai hiasan tetapi lebih sebagai ekspresi kriyawan.AbstractThe craft dichotomy consists of crafts and arts, the emphasis of the work emphasizes function or afflied art, while art is more towards non-functional or fine art works, as well as in the process of creation, the craft art prioritizes form follow function, where the rules This emphasizes more on the creation of handicraft works of art, where in its creation the function is followed by form, so that the resulting work has a function as planned.With the emergence of a dogma about the Form Follows Function which says that functional works must eliminate things that contain ornamentation and says that ornament is a sin, but this is not the case in Indonesian craftsmanship, the role of ornament has become very dominant. The function of ornament is not just decoration but more. as an expression of a craftsman

    MEMBACA ULANG KONTESTASI DANGDUT DAN ROCK ERA 1970-AN

    Full text link
    AbstrakArtikel ini berangkat dari kegelisahan saya atas analisis sebelumnya mengenai kontestasi antara genre musik dangdut dan rock pada era 1970-an. Analisis yang muncul dari fenomena itu adalah kontestasi usai dengan jalan damai antara dua genre. Alih-alih sepakat, saya justru melihat hal yang berbeda, di mana damai tidak benar-benar terjadi, melainkan saling bersiasat melanggengkan dominasi ataupun mengikis kekuasaan. Dari kontestasi dua genre ini, saya kembali mengartikulasikan konflik antara dangdut—yang diwakili oleh Rhoma Irama—dengan rock—mulai dari Benny Soebardja hingga Ahmad Albar. Untuk membongkar hal tersebut saya menggunakan data literatur, analisis tekstual, dan elaborasi kontekstual. Dari temuan yang saya dapatkan, konflik antara dangdut dan rock tidak pernah usai. Mereka terus berkontestasi dengan caranya masing-masing. Bagi saya, trayektori kontestasi ini mengejawantahkan jika konflik tersebut hanya soal berebut kuasa dan dominasi.AbstractThis article departs from my anxiety over the previous analysis of the contestation between dangdut and rock music genres in the 1970s. The analysis that emerges from this phenomenon is that the contestation ended peacefully between the two genres. Instead of agreeing, I actually see a different thing: peace does not happen, but rather mutually tactics to perpetuate domination or erode power. I re-articulated the conflict between dangdut—represented by Rhoma Irama—and rock—from the contestation of these two genres- from Benny Soebardja to Ahmad Albar. To uncover this, I use literature data, textual analysis, and contextual elaboration. From what I found, the conflict between dangdut and rock never ends. They continue to compete in their way. For me, this contestation trajectory shows that the match is only a matter of fighting for power and domination

    KREATIVITAS ANJAS GITARANI DALAM MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI SEBAGAI PENYANYI CAMPUR SARI

    Full text link
    The increase in campursari singers has led to competition between singers in the campursari music world. This study aims to determine how the creativity of Anjas Gitarani in maintaining his existence as a campur sari singer. This study uses a qualitative descriptive research approach. The results of this study are Anjas Gitarani is a dangdut singer, and campursari has an inherent characteristic. The first is the vocal characteristics, rocking characteristics, and using mask properties. These three things form the attributes of Anjas. If you only rely on talent, other talents might be better, and if you only rely on swaying, there will be other swings that people might prefer; if you rely on a property, other singers can follow suit. But if all three are combined into one in Anjas' body, it becomes a trait that is difficult for other singers to follow and can increase his existence as a campursari singer.ABSTRAKBertambahnya penyanyi-penyanyi campur sari memunculkan persaingan antar penyanyi di dunia musik campursari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kreativitas Anjas Gitarani dalam mempertahankan eksistensi sebagai penyanyi campur sari. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini adalah Anjas Gitarani sebagai seorang penyanyi dangdut dan campursari memiliki ciri khas yang melekat pada dirinya. Pertama adalah ciri khas vokal, ciri khas goyang, dan ciri khas penggunaan properti topeng. Ketiga hal itu yang membentuk ciri pada diri Anjas. Jika hanya mengandalkan bakat, masih ada bakat lain yang mungkin akan lebih baik, jika hanya mengandalkan goyangan, akan ada goyangan-goyangan lain yang kemungkinan lebih disukai oleh masyarakat, jika mengandalkan properti juga bisa diikuti oleh penyanyi yang lain. Tetapi jika ketiganya digabungkan menjadi satu di dalam tubuh Anjas, menjadi ciri yang susah diikuti oleh penyanyi yang lain dan dapat meningkatkan eksistensinya sebagai penyanyi campur sar

    130

    full texts

    254

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇