Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Not a member yet
254 research outputs found
Sort by
MEREFLEKSIKAN KABA ANGGUN NAN TONGGA MELALUI KOREOGRAFI “PILIHAN ANDAMI”
Anggun Nan Tongga Magek Jabang sebagai seni tradisi sangat lekat dengan budaya matriarki. Namun demikian oleh Evadila dijadikan media untuk menyampaikan gagasan pemahaman terhadap dunia keperempuanan. Melalui kaba tersebut,pengkarya memandang bahwa sifat keperkasaan tidak hanya milik laki-laki.Perempuan dengan keperkasaan yang dimilikinya ternyata mampu menjadipemimpin dan pahlawan yang disegani oleh kawan maupun lawan. Selain itu, jugamenyikapi kekerasan terhadap perempuan pada saat bersamaan berperan sebagaiistri, yang mewarisi tradisi dan budaya Minangkabau. Metode yang digunakan studipustaka,. Artikel ini diharapkan dapat berguna menyampaikan pesan terhadapkepedulian dan pandangannya tentang perempuan. Artikel ini mampu menghapusstreotip dimana perempuan selalu menjadi pihak yang dirugikan, bahkan mampumenjadi pimpinan yang disegani.. Koreografi “Pilihan Andami” merupakankoreografi yang menggali nilai-nilai kehidupan yang ada dalam kaba Anggun NanTungga Magek Jabang. Cerita cinta segi tiga Andami Sutan, Anggun Nan Tunggadan Gondan Gondoriah dalam episode Ka Taluak Koto Tanau diinterpretasikansebagai keikhlasan sekaligus perlawanan
KREATIVITAS SENIMAN SALAREH AIA (AGAM) DALAM PENGEMBANGAN MUSIK RONGGEANG RANTAK SAIYO
Kajian ini membahas tentang kreativitas seniman Salareh Aia (Agam) dalammengembangkan musik Ronggeang Rantak Saiyo pada acara pesta perkawinanbaralek gadang. Kajian ini dibahas dari sudut keilmuan musikologi denganmenggunakan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif serta pendekatanmultidisiplin, dengan perspektif disiplin ilmu musikologi, etnomusikologi,sosiologi,antropologi dan cabang ilmu lain yang dapat memperkuat tulisan.Ronggeang pada dasarnya bukanlah kesenian yang lahir dari tradisi masyarakatSalareh Aia, namun kesenian ini dapat diterima secara baik dan dikembangkansecara kreatif oleh para senimannya serta telah menjadi bagian dari tradisimasyarakat Salareh Aia sampai sekarang. Musik Ronggeang Rantak Saiyo sangatdihargai oleh masyarakat Salareh Aia, terbukti musik tersebut diperbolehkanbermain pada acara pesta perkawinan baralek gadang. Dalam kenyataannyamusik Ronggeang Rantak Saiyo Nagari Salareh Aia berbeda dengan Ronggenglainnya yang ada di Sumatera Barat, maupun Ronggeng yang ada di Jawa dariberbagai macam aspek. Kreativitas seniman masyarakat Salareh Aia berdampakbaik bagi perkembangan musik Ronggeang Rantak Saiyo hingga sekarang
ANALISIS SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PEIRCE KARYA PATUNG RAJUDIN BERJUDUL MANYESO DIRI
Karya seni adalah salah satu fenomena bahasa.Oleh karena itu karya senidapat dipandang sebagai fenomena tanda. Tanda-tanda yang digunakandalam sebuah karya seni lahir dari proses kontemplasi, olah rasa danpikiran seniman terhadap lingkungan.Rajudin dalam karya Manyeso Diriberpijak pada konsep langkah untuk menciptakan tanda-tanda padakekaryaan patung. Langkah yang baik akan menentukan keberhasilan kitadi masa yang akan datang, begitu juga sebaliknya langkah yang burukakan menentukan kegagalan dan kekecewaan di masa yang akan datang.Hal ini yang menjadi pedoman bagi seorang Rajudin dalam melahirkankaryanya yang berjudul ManyesoDiri. Karya ini mempunyai hubunganerat dengan latar belakang kebudayaan Minangkabau. Pernyataan inilahyang ingin disampaikan Rajudin melalui karyanya. Metode yangdigunakan untuk mengetahui makna yang ada di dalam karya patungRajudin ini adalah metode analisis interpretasi. Dari simpulan diketahuibahwa tanda-tanda yang dihasilkan mengarah pada upaya Rajudin untukmenyampaikan pesan sosial kepada para perempuan Minangkabau hariini
Industri Kreatif Berbasis Potensi Seni Dan Sosial Budaya Di Sumatera Barat
Tulisan ini ditujukan untuk menganalisis perkembangan dan konsep dasar industri kreatif berbasis potensi sosial budaya di Sumatera Barat, khususnya dalam bidang seni dan budaya. Secara umum, seni tidak memiliki posisi yang ideal dalam pengembangan industri kreatif. Akan tetapi, berdasarkan pada pengamatan dan wawancara yang telah dilakukan dalam penelitian ini, terdapat beberapa komunitas dan seniman yang menyiapkan diri dan menerapkan manajemen modern dalam produksi seninya. Seni memiliki hubungan yang dilematis dengan industri, antara nilai estetika dan nilai pasar. Dalam situasi seperti ini, manajemen memiliki posisi yang penting dalam upaya menghubungkan dan menjembatani antara seniman, pasar, pemerintah, kritikus dan para ahli. Dengan menggunakan metode triple helix, diketahui bahwa daerah terpilih dalam penelitian ini memiliki peluang besar untuk dikembangkan industri kreatifnya, baik itu karena potensi artistik, lokasi, seniman, pemerintah, masyarakat dan pihak terkait lainnya
TEATER ‘TANPA-KATA’ DAN ‘MINIM-KATA’ DI KOTA PADANG DEKADE 90-AN DALAM TINJAUAN SOSIOLOGI SENI
‘minim-kata’ di kota Padang pada pertengahan dekade 90-an denganmenggunakan ‘pembacaan arena’ yang ditawarkan Pierre Bourdieu. Analisiseksternal atas arena dan dan analisis internal berupa tinjauan dan perbandingandramaturgi memperlihatkan bahwa kedua pertunjukan tersebut hadir untukmenggugat posisi Wisran Hadi, seorang sutradara dominan di kota Padang padadekade 90-an. Analisis internal atas dramaturgi kedua pertunjukanmemperlihatkan perbedaan yang signifikan atas aspek-aspek dramaturginya,terutama pada pusat dramaturginya, tema kontemporer dan pesanpertunjukannya, tokoh-tokoh ‘plural yang singular’ yang dihadirkannya, aktingdan gestur metaforis yang digunakannya, serta setting dan tata artistik yangprovokatif dan simbolis ketimbang lokatif. Tulisan ini juga berargumen bahwabentuk ‘tanpa-kata’ dan ‘minim-kata’ merupakan sebuah strategi pemosisianinternal dan eksternal dari kedua sutradara dalam arena teater kota Padang padadekade 90-an
DIASPORA SEDULUR SIKEP DAN KESENIANNYA DI SAWAHLUNTO
Sebagai sebuah kota yang diciptakan pemerintahan kolonial, Sawahlunto menyimpan berbagai narasi tentang modernisme, lompatan ruang-waktu serta endapan persoalan pengerahan ribuan buruh paksa, khususnya dari tanah Jawa. Menariknya, di bawah kekuasaan kolonial yang penuh kontrol dan pengawasan, dengan situasi sosial yang dibuat terkotak-kotak, masyarakat Sawahlunto di masa lalu justru berhasil memproduksi konsepsi tentang ’kita’ sebagai nation yang melampaui zamannya. Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan tentang acuan nilai yang membuat proses menuju ’kita’ itu berlangsung di masyarakat pertambangan Sawahlunto. Penelitian menunjukkan bahwa selain diwarnai segregasi dan diferensiasi, masyarakat Sawahlunto juga ditandai oleh hibridisasi tak tersadari, yang tampak dalam bahasa, berbagai tradisi dan keseniannya. Sebuah kondisi yang merepresentasikan siasat kebudayaan dalam situasi kolonial, dalam sebuah konsep yang dinamakan’sedulur’, yang tidak sekadar mengacu ke pertalian darah, tetapi satu cara pandang memaknai pihak lain yang diposisikan sama dan sederajat, diikat oleh rasa kedekatan dan kekerabatan
Pertunjukan Kompang Bengkalis: dari Arak-Arakan ke Seni Pertunjukan
This writing is the result of research with the purpose to describe thedevelopment of kompang music in Meskom community in Bengkalis, fromthe music of parade to Attractive Performance. The tradition of kompangparade in Bengkalis community was formerly part of Islamic religiuosteaching, an integral part of Islam-related ceremonies or parties. But nowkompang music has developed from music of parade to music ofentertainment known as Kompang Attraction Performance. In order to seethe development of kompang from the music of parade to music ofperformance, this research used a qualitative method with descriptive analysis using theories of function and performance. The development ofkompang from music of parade to Kompang Performance Attraction wasbased on the needs of community for a more attractive art performanceand entertainment. The development was done by adding some attractivemovements into the performance combined with kompang game attractionwithout reducing the essence of the performance itself, the Islamic teachin
MEMBENTUK KEMAMPUAN PSIKOLOGIKAL DASAR CALON AKTOR DENGAN METODE LATIHAN BERTUTUR
Acting andsome of its problems, especiallyhow to prepare agood actor,requirescontinuous search of training methods to find appropriate solutions.Stanislavski’s methoddistinguishes twokinds of factorsthatneed to be trainedinacting, namey the external factor and internal factor. The external factorincludes body and voice, while the internal factor refers to psychological aspects.Each factor should be absolutely combined in presenting characters on stage.With its own level of difficulty, actors are required to train both factors in orderto achieve complex skills. This study will discuss one the two factors above, thatis, the internal factor that calls for preparation of basic psychological skills suchas concentration, observation, and emotion. Through the method of speech, thisstudy is meant as an experiment in order to find a right and measurable methodin the process of preparing the actor for the internal factor
SENI KERAJINAN SONGKET KAMPOENG TENUNDI INDRALAYA, PALEMBANG
Kain songket tradisional Palembang merupakan warisan budaya yang digunakan pada kegiatan tradisi tertentu, seperti busana tradisional adat Sumatera Selatan, upacara pernikahan, marhaba (peresmian nama dan pencukuran anak atau ucapan selamat datang), dan digunakan oleh masyarakat Sumatera Selatan diberbagai kepentingan luar kegiatan adat. Songket saat ini, tidak hanya terdapat di kota Palembang, namun telah berkembang hampir ke semua daerah di Sumatera Selatan, seperti di Kampoeng Tenun Indralaya. Keberadaan Kampoeng Tenun Indralaya merupakan wujud nyata dalam perkembangan seni kerajinan tenun songket. Seni Kerajinan Songket Kampoeng Tenun Indralaya, menggunakan pendekatan multidisplin, yakni pendekatan sejarah, sosiologi, dan estetika.Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan analisis deskriptif analitik. Ragam hias songket dalam perkembangannya, menuntut para perajin tenun untuk memiliki kemampuan dalam menciptakan ragam hias songket yang baru, sebagai ciri khas atau identitas songket yang berasal dari Kampoeng Tenun Indralay
BENTUK PERTUNJUKAN SALUANG ORGEN DALAM ACARA BARALEK KAWIN DI KABUPATEN SOLOK
Kabupaten Solok merupakan tempat berkembangnya sebuah kesenianbaru yaitu disebut dengan saluang orgen. Perkembangan ini dimulai sejaktahun 1997 sampai sekarang. Pertunjukan yang menggunakan alat musiksaluang dan keyboard ini, dilihat dari bentuk pertunjukannya tergolongsederhana, karena masih terdapat bagian-bagian yang sama denganpertunjukan tradisi sebelumnya yaitu saluang dendang klasik dan saluangdangdut dengan iringan gendang. Konteks pertunjukannya mulaiberkembang yaitu dihadirkan dalam acara sosial, politik, dan upacara adatyang salah satunya yaitu upacara baralek kawin. Pertunjukan ini terdiridari 6-7 orang pendendang, satu orang pemain saluang, satu orang pemainKeyboard, dan 2-3 orang crew sebagai penanggung jawab peralatan soundsystem selama dilokasi pertunjukan. Sedangkan jenis lagu yang dibawakanadalah dendang ratok, dendang gembira, lagu gamad, dangdut dandangdut House Music. Pertujukan ini difungsikan sebagai acara hiburanyang salah satunya dalam upacara adat baralek kawi