Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Not a member yet
254 research outputs found
Sort by
PENCIPTAAN TEATER DAN PERLINDUNGAN HAK CIPTA
Theater is a human’s creation in the field of art that has economic value. Any kind of theater needs to get the protection of copyright. Law number 19 year 2002 about the copyright is the law product that gives protection and appreciation for human’s creativity in science, art, and literature. The artists of theater as the creators are the subject of copyright law who has exclusive rights to announce or multiply their creations and those exclusive rights include the rights of economy and moral. The understanding and awareness about this copyright tend to be ignored by the artists of theater particularly in Indonesia in which the creations of theater with various artistic forms achieved from their artists’ creativities develop significantly. They need to be given a protection through the existence of copyright law. Therefore, the socialization of Copyright Law year 2002 to the circle of theater artists is an urgent matter to be done because those artists who are the subject of this copyright law do not fully understand about it
KAJIAN IKONOLOGI POSTER PERJUANGAN “BOENG, AJO BOENG” KARYA AFFANDI TAHUN 1945
Sebagai sebuah media komunikasi visual, poster perjuangan “Boeng, Ajo Boeng” karya Affandi tahun 1945, memiliki makna intrinsik yang menunjukkan realitas sosial bangsa Indonesia pada tahun 1945. Gaya ekspresionisme serta tema dan konsep nasionalisme yang diangkat menggambarkan bagaimana perkembangan dunia seni rupa Indonesia yang mendapatkan banyak pengaruh dari Jepang. Melalui media komunikasi visual, dunia politik dan seni Indonesia saling bersinergi dan menjadi satu kesatuan dalam mencapai tujuan yang sama yakni kemerdekaan Indonesia
SAMPURAGA: PENCIPTAAN OPERA BATAK
Opera Batak Sampuraga is a play that began from the experience of seeing the site Sampuraga Hot Spring, located in the area Sirambas Mandailing-Natal, and stories are told from mouth to mouth (oral literature). Then rearrangement is done regarding characterization and the occuring event by using some structures of Indonesian modern theater. As Batak Opera has some similarities with the structure of Indonesian modern theater, Opera Batak Sampuraga as an object of art creation, experiences a touch of creativity with the presence of various elements of art from other regions; one of them is gundala-gundala, a traditional theater of Karo region. Sampuraga play is a human obsession and ambition in reaching their goals, which requires sacrifice, although it eventually leads a curse. Opera This play is presented through a realism approach with representation style. The form of tragedy is chosen because of the incident happening to two human beings; mother and child. This creation is important because Opera Batak Sampuraga is similar to the pattern and characterization of plays in Indonesian modern theater
CENANG TIGO: MUSIK TRADISIONAL MASYARAKATKAMPUNG AIR MERUAP
Kesenian (musik) Cenang Tigo merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Kampung Air Meruap Kenagarian Kinali Kabupaten Pasaman Barat. Ensambel Cenang Tigo terdiri dari tiga buah instrumen cenang yang dimainkan oleh tiga orang pemain wanita dengan menggunakan teknik interlocking. MusikCenang Tigo memiliki bentuk dan fingsi yang khas sesuai dengan konteks adat dan sosial budayanya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk penyajian musikCenang Tigo dengan masing-masing fungsinya dalam masyarakat Kampung Air Meruap. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan pendekatan multidisiplin. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara, sedangkan analisis data dilakukan dengan cara mengklasifikasikan, mengkategorisasikan dan menghubungkan data dengan serangkaian konsep. Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep bentuk dari Djelantik dan konsep fungsi dari Merriam. Hasil dari penelitian ini berupa deskripsi dan analisis tentang bentuk dan fungsi penyajian musik Cenang Tigo dalam konteks adat dan sosial budaya masyarakatnya
GAYA NYANYIAN MANTRA MARINDUHARIMAUDI NAGARI GAUANG KECAMATAN KUBUNG KABUPATEN SOLOK
Artikel ini menjelaskan tentang Gaya Nyanyian Mantra Marindu Harimau di Nagari Gauang, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok”. Mantra marindu harimau adalah salah satu jenis mantra yang diamalkan oleh tukang parindu sebagai penutur mantra untuk memanggil harimau di dalam sebuah penyelenggaraan ritual yang dituturkan dengan cara didendangkan (dinyanyikan). Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnomusikologi, meliputi dua cara kerja, Pertama, kerja lapangan (field work) untuk mendapatkan data mentah melalui observasi, wawancara, dan pendokumentasian data. Kedua, dan kerja meja (desk work) meliputi pentranskripsian, pendeskripsian, analisis data nyanyian mantra marindu harimau. Menggunakan konsep ritual, teori sastra, dan teori gaya musik, penelitian ini menyimpulkan bahwa dari gaya pengungkapan, nyanyian mantra marindu harimau banyak memakai kata-kata metafora dalam susunan teks mantranya.. Secara musikal, nyanyian mantra marindu harimau banyak menggunakan nada-nada pendek pada akhir frase, dan selalu bergerak pada pusat nada dengan jarak nada prime dan sekon.
ESTETIKA MINANGKABAU DALAM GERAK TARI BUJANG SAMBILAN
Seni tari adalah ungkapan nilai. Sesuatu dikatakan bernilai karena berguna dalam kehidupan.Seni tari selalu menarik untuk dibicarakan bukan hanya keindahannya, melainkan karena hubungannya dengan kehidupan masyarakat tempat seni itu ada. Tari Bujang Sambilandi Minangkabau merupakan sarana untuk menghibur. Cerita yang disampaikan lebih mengarah pada cerita yang dimunculkan kemudian. Tari Bujang Sambilan merupakan pengembangan dari tari mancak yang dikenal masyarakat Minangkabau yang dikembangkan dari gerak silat Gunuang atau silat Tuo. Tari Bujang Sambilan memakai penari selalu genap dan dalam pengembangannya bisa berjumlah empat atau enam orang penari
INTERAKSI DAN INTER RELASI KEBUDAYAAN SENI MELAYU SEBAGAI SEBUAH PROSES PEMBENTUKAN IDENTITAS
Kebudayaan Melayu di seluruh Nusantara dipengaruhi oleh adanya kesamaan umumidentitas, dilandasi oleh berbagai interaksi dan interelasi. Bentuk dari falsafah, bahasa dankesenian yang berkembang saling mempengaruhi antara satu sama lain. Beberapa faktoryang melingkupinya diantaranya adalah kontak budaya, kedekatan kesukuan (etnisitas),kedekatan geografis, demografis, kedekatan berdasarkan emosional perasaan senasibkarena pernah dijajah dan juga kedekatan berdasarkan faktor pergaulan antarbangsa.Budaya Melayu mengalami proses interaksi dan inter relasi maka menimbulkanefek yang signifikan dalam perkembangannya. Hal ini dapat diketahui adanya beberapagenre kebudayaan seni Melayu termasuk dalam bidang filsafat, bahasa, seni musik, senitari, seni teater maupun seni-seni pertunjukan lainnya berciri khas Melayu. Kebudayaanseni Melayu saling berdekatan, menyebabkan jenis dan bentuk kesenian Melayu banyakmempunyai persamaan dengan beberapa wilayah lainnya. Bagaimana interaksi dan interrelasi itu terjadi pada kebudayaan seni Melayu dalam rangka membentuk identitas,merupakan pembahasan dalam tulisan ini
ANALISISESTETIKA KARYA GRAFISAT. SITOMPUL YANG BERJUDUL“MAU KARENA BISA”DAN“TOLERANSI”
Karya seni tidak semata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia akan nilai-nilai estetik. Karya seni mestinya juga dapat memenuhi fungsinya yang lain, yaitu berupa pesan atau makna. Pesan moral, spiritual atau penyadaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan dapat disampaikan melalui media seni. Sehingga karya seni dapat menjadi media tontonan sekaligus tuntunan.Karya yang berjudul“Mau Karena Bisa”dan “Toleransi” yang dibuat AT. Sitompulmerupakansuatukaryasenigrafis yang merekonstruksikan fikiran orang lain melalui fikiran si seniman dengan memvisualkannya ke dalam karya seni grafis. Pada visual yang tergambar, secara bentuk tentunya sangat sulit untuk dipahami. Untuk itu perlu pisau pembedah yang tepat untuk bisa menganalisis karya tersebut, baik dari segi nilai keindahannya ataupun pesan yang ingin disampaikan oleh si senimannya. Salah satunya dengancara menggunakanpendekatan estetika. Dengan pendekatan estetika kita dapat mengetahui unsur-unsur dan nilai keindahan apa saja yang terkandung pada karya tersebut
Ritual Sebagai Sumber Penciptaan Film Basafa Di Ulakan
Basafa merupakan sebuah ritual keagamaan yang dilaksanakan oleh para pengikut tarekat Syatariyah bersifat Sufisme, sehingga ritual keagamaan yang dilaksanakan, mempunyai alasan-alasan tertentu yang sulit dipahami.Alasan-alasan pembenaran tersebut terkadang tidak dapat dipahami secara rasional, diperlukan kepekaan inderawi dalam membahasnya. Ritual ini mengingatkan pada tata cara dalam memahami keberadaan-Nya walaupun jalan yang ditempuh berbeda tetapi tetap pada satu tujuan dan mengagungkan-Nya. Interpretasi yang hadir dalam film dokumenter “Basafa Di Ulakan” bukanlah pembelaan terhadap apa yang dilakukan oleh tarekat Syatariyah melainkan mencari pembenaran yang terkandung dalam nilai- nilai religius Basafa. Metode penciptaan dalam film dokumenter melalui metode film dokumenter observational, dengan merekam seluruh aktifitas Basafa dan melakukan wawancara terhadap pihak- pihak terkait dengan acara Basafa ini. Visual yang ditampilkan merupakan bukti otentik tentang arti Basafa, fenomena yang terjadi, merupakan rekaman latar belakang yang nyata, sehingga apa yang terkandung dalam film adalah ungkapan dari realitas kehidupan yang ada dengan pemberian sentuhan estetika dalam penggarapannya
KABA LAREH SIMAWANG SEBAGAI KONSEP DASAR PENCIPTAAN TARI LAKI-LAKI
Kaba Lareh Simawang menjadi inspirasi dalam penciptaan karya tari Laki-Laki. Pembacaan ulang kaba tersebut mengilhami dan menginspirasi untuk menjadikan alur cerita dalam tari ini menjadi berbeda. Karya tari Laki-Laki Siti Jamilah tidak membunuh anak dan dirinya sendiri namun menjadi lebih kuat dan mampu menyia-nyiakan suaminya sehingga suaminya terabaikan. Sementara istrinya yang kedua bernama Siti Rawani juga memperlakukan Lareh Simawang dengan sikap yang sama dengan Siti Jamilah. Kaba Lareh Simawang menjadi sumber inspirasi penciptaan karya tari Laki-Laki. Kaba Lareh Simawang dalam penggarapannya merujuk kepada beberapa kajian sumber. Istri pertama Lareh Simawang yang bernama Siti Jamilah merupakan seorang perempuan yang patuh, setia, dan taat kepada suaminya. Kepatuhan, kesetiaan, dan ketaatan Siti Jamilah kepada suaminya Lareh Simawang digambarkan pada bagian awal karya