Scientific Journals of Fort De Kock University
Not a member yet
    1084 research outputs found

    PELAKSANAAN SASUPI (SAMPAH SUMBER PITIH) DI PUSKESMAS PADANG KANDIS

    Get PDF
    Garbage is one of the problems that should be considered. The utilization of waste must be prioritized before the occurrence of environmental pollution that interferes with public health. The purpose of this devotional activity is to conduct SASUPI (Sampah Sumber Pitih) in Padang Kandis Health Center. This method of activity is in the form of counseling and implementation of SAUPI activities. The results of the activity there are students who are in school will bring or collect inorganic waste in their respective schools. Every Saturday the puskesmas and usila will put the inorganic waste to each school and do weighing for garbage that has been collected by each students.  Garbage will be paid perkilogram of Rp.2000,- garbage that has been weighed will be under the existing kegudang dipuskesmas and used as handicrafts by the group usila. Based on the results of activities that have been carried out, it is expected that the public can make waste as their economic turnaround so that waste management becomes better

    INVASI ORBITA PADA KARSINOMA NASOFARING

    Get PDF
    Feby Helwina1), Ardizal Rahman2)1)Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas, Bagian Ilmu Kesehatan Mata RSUP DR.M.Djamil Padangemail: [email protected])Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas, Bagian Ilmu Kesehatan Mata RSUP DR.M.Djamil Padangemail: [email protected]             AbstractIntroduction: Nasopharyngeal carcinoma (NPC) is a squamous cell carcinoma arise from the nasopharyngeal epithelium. These tumors can appear in various areas of the nasopharynx, commonly derived from the Rosenmuller fossa, which is a transitional region, where columnar epithelium transforms into squamous epithelium. Nasopharyngeal carcinoma tends to spread and infiltrate surrounding tissue. This cancer can spread superiorly to base of the skull and intracranium that involve cranial nerve.  Incidence of base skull and brain  invasion has been reported as much as 12-31% in patients with nasopharyngeal carcinoma. Method: This cancer can also attack the nasal cavity, paranasal sinuses, pterygopalatine fossa, and orbital apex. Orbital invasion is relatively rare in nasopharyngeal carcinoma patients. Reported cases of orbital invasion of nasopharyngeal carcinoma in 22-year-old women were diagnosed with protusio bulbi oculi sinistra ec squamous cell nasopharyngeal carcinoma nonkeratinizing undifferentiated stage IV with orbital invasion, with complaints of visible lumps in the left eye, blurred vision, reduced hearing, and a history of bleeding nose. Result: Patients have been known to suffer from nasopharyngeal carcinoma since 2011 with CT scan results of nasopharyngeal carcinoma infiltration into the maxillary sinus sinistra, ethmoid sinus, left sided rice cavity, left sided frontal sinus, and retro orbital sinistra. Conclusion: Currently, the management of invasion of the orbit in surgical nasopharyngeal carcinoma plays a minor role, but radiotherapy and chemotherapy are the main treatments.  Previously the patient had chemoradiotherapy.Keywords: Nasopharyngeal carcinoma, orbital invasion, protusio bulbi AbstrakPendahuluan: Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan karsinoma sel skuamosa yang berasal dari epitel nasofaring. Tumor ini dapat muncul pada berbagai area di nasofaring namun lebih banyak ditemukan berasal dari fossa Rosenmuller, yang merupakan daerah transisional, dimana epitel kolumnar berubah menjadi epitel skuamosa. Karsinoma nasofaring memiliki kecendrungan besar untuk menyebar dan menginfiltrasi jaringan sekitar. Kanker ini dapat menyebar secara superior untuk melibatkan dasar tengkorak dan intrakranium sehingga menghasilkan keterlibatan saraf kranial. Insisden invasi dasar tengkorak dan otak telah dilaporkan sebanyak 12-31% pada pasien karsinoma nasofaring. Metode:  Kanker ini juga dapat menyerang kerongga hidung, sinus paranasal, fossa pterygopalatine, dan apeks orbita. Invasi orbita relatif jarang terjadi pada pasien karsinoma nasofaring. Dilaporkan kasus invasi orbita pada karsinoma nasofaring pada perempuan umur 22 tahun didiagnosa dengan protusio bulbi okuli sinistra ec squamous cell carcinoma nasofaring nonkeratinizing undifferentiated stadium IV dengan invasi ke orbita, dengan keluhan pada mata kiri tampak menonjol, penglihatan kabur, pendengaran berkurang dan riwayat hidung berdarah. Hasil: Pasien sudah dikenal menderita karsinoma nasofaring sejak tahun 2011 dengan hasil CT scan karsinoma nasofaring infiltrasi ke sinus maxilaris sinistra, sinus ethmoid, cavum nasi sisi kiri, sinus frontalis sisi kiri, dan retro orbita sinistra. Kesimpulan: Saat ini penatalaksanaan invasi ke orbita pada karsinoma nasofaring pembedahan memainkan peranan kecil, namun radioterapi dan kemoterapi merupakan penatalaksanaan utama. Pasien sebelumnya sudah dilakukan kemoradioterapi. Kata Kunci: Karsinoma nasofaring, Invasi orbita, protusio bulbi.   PENDAHULUANKarsinoma nasofaring (KNF) merupakan karsinoma sel skuamosa yang berasal dari epitel nasofaring. Tumor ini dapat muncul pada berbagai area di nasofaring namun lebih banyak ditemukan berasal dari fossa Rosenmuller, yang merupakan daerah transisional, dimana epitel kolumnar berubah menjadi epitel skuamosa. 1Kejadian KNF yang bersifat endemik di Asia seperti Cina Selatan, Asia Tenggara Jepang, dan Timur Tengah. Insiden KNF tertinggi di dunia dijumpai pada penduduk daratan Cina bagian selatan, khususnya suku Kanton di provinsi Guang Dong dan daerah Guangxi dengan angka mencapai lebih dari 50 per 100.000 penduduk pertahun. Sementara insiden KNF di dunia tergolong jarang, yaitu 2% dari seluruh karsinoma sel squamous kepala dan leher, dengan insiden 0.5 sampai 2 per 100.000 di Amerika Serikat.2   KNF dapat mengenai berbagai umur, tersering umur 40 - 60 tahun. Mulai meningkat setelah umur 20 tahun dan menurun setelah umur 60 tahun. Angka kejadian KNF pada anak bervariasi antara 1 -5 % dari seluruh kejadian kanker pada anak. Pria lebih banyak daripada wanita, yaitu 3 : 1. 2,3Gambaran klinis KNF berhubungan dengan perluasan massa dari kelenjar getah bening (KGB) yang terlibat, terutama ke anterior, lateral, atau superior dan posterior. Oleh karena itu gejala tersering adalah epistaksis, hidung tersumbat, gangguan pendengaran.2,4Karsinoma nasofaring memiliki kecendrungan besar untuk menyebar dan menginfiltrasi jaringan sekitar. Kanker ini dapat menyebar secara superior untuk melibatkan dasar tengkorak dan intrakranium sehingga menghasilkan keterlibatan saraf kranial. Insisden invasi dasar tengkorak dan otak telah dilaporkan sebanyak 12-31% pada pasien karsinoma nasofaring. Kanker ini juga dapat menyerang kerongga hidung, sinus paranasal, fossa pterygopalatine, dan apeks orbita. Invasi orbita relatif jarang terjadi pada pasien karsinoma nasofaring.4METODE PENELITIANSeorang pasien perempuan usia 22 tahun datang ke RSUP Dr M Djamil dengan keluhan mata kiri tampak menonjol bawah sejak 2 bulan yang lalu. Penglihatan mata kiri kabur sejak 6 bulan yang lalu, semakin lama semakin kabur dan dalam 1 bulan ini tidak bisa melihat. Pasien kemudian dilakukan pemeriksaan oftalmogis. Dan pasien direncanakan untuk dilakukan kemoterapi. HASIL DAN PEMBAHASANLAPORAN KASUSSeorang pasien perempuan umur 22 tahun, datang ke RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tanggal 4 Agustus 2017 dengan keluhan utama mata kiri tampak menonjol bawah sejak 2 bulan yang lalu. Penglihatan mata kiri kabur sejak 6 bulan yang lalu, semakin lama semakin kabur dan dalam 1 bulan ini tidak bisa melihat. Nyeri pada mata kadang dirasakan namun jarang. Pendengaran berkurang. Riwayat terdapat hidung berdarah. Bengkak pada leher sekarang tidak ada. Pasien sudah dikenal menderita karsinoma nasofaring sejak tahun 2011 dan sebelumnya sudah mendapat kemoradioterapi. Gambar 1. Kemosis pada konyungtiva inferior dengan posisi protusio. Status oftalmologi mata kiri didapatkan visus No Light Perception (NLP), palpebra tidak edem, konyungtiva terdapat hiperemis, kemosis di inferior. Pada kornea terdapat sikatrik di inferior. Pada pemeriksaan pupil refrlek langsung dan tidak langsung negative dengan diameter 6-7 mm. Pemeriksaan funduskopi ditemukan atropi papil. Pemeriksaan gerak bola mata terdapat keterbatasan gerak dengan posisi protusio (Gambar 1).      Gambar 2. Hasil pemeriksan CT scan region nasofaring dan orbita, dengan potongan axial, coronal tanpa kontras.  Hasil pemeriksaan CT scan menunjukkan kesan karsinoma nasofaring infiltrasi ke sinus maxilaris sinistra, sinus ethmoid, cavum nasi sisi kiri, sinus frontalis sisi kiri dan retro orbita sinistra, sehingga menyebabkan protusio okuli sinistra dan menekan otot-otot ekstra okular dan nervus optikus (Gambar 2).            Pasien didiagnosa dengan protusio bulbi okuli sinistra (OS) et causa squamous cell carcinoma nasofaring nonkeratinizing undifferentiated stadium IVB. Pada mata kiri diberikan terapi cendolyteers tetes mata dan kloramfenikol salap mata. Tanggal 5 Agustus 2017 pasien direncanakan untuk dilakukan kemoterapi di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Pada follow up hari kedua tanggal 6 Agustus 2017 kemosis pada konyungtiva mata kiri sudah berkurang setelah dilakukannya kemoterapi dan pada tanggal 7 Agustus 2017 pasien meninggal dunia. PEMBAHASANKarsinoma nasofaring adalah salah satu kanker kepala leher yang bersifat sangat invasif dan sangat mudah menyebar dibanding kanker kepala leher yang lain. Pada kasus ini seorang pasien perempuan umur 22 tahun didiagnosa dengan protusio bulbi OS et causa squamous cell carcinoma nasofaring nonkeratinizing undifferentiated stadium IVB dengan invasi ke orbita dan atropi papil. Diagnosa didasarkan pada anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan oftalmologi dan pemeriksaan penunjang. 3 KGB regional  (N)NXKGB regional tidak dapat dinilaiN0Tidak terdapat metastasis ke KGB regionalN1Metastasis unilateral di KGB, 6 cm atau kurang diatas fossa supraklavikulaN2Metastasis bilateral di KGB, 6 cm atau kurang dalam dimensi terbesar diatas fossa supraklavikulaN3Metastasis di KGB, ukuran > 6 cmN3aUkuran > 6 cmN3bPerluasan ke fossa supraklavikulaMetastais jauh (M)MXMetastasis jauh tidak dapat dinilaiM0Tidak terdapat metastasis jauhM1Terdapat metastasis jauhTumor Primer (T)TXTumor primer tidak dapat dinilaiT0Tidak terdapat tumor primerTisKarsinma in situT1Tumor terbatas pada nasofaring, atau tumor meluas ke orofaring dana tau rongga hidung tanpa perluasan ke parafaringealT2Tumor dengan perluasan ke parafaringealT3Tumor melibatkan struktur tulang dari basis kranii dana tau sinus paranasalT4Tumor dengan perluasan intrakranial dana tau keterlibatan saraf kranial, hipofaring, orbita, atau dengan perluasan ke fossa infratemporal/masticator space Tabel 1. Klasifikasi TNM berdasarkan AJCC 7,8  B  Stage 0TisN0M0Stage IT1N0M0Stage IIT2N1M0T2N0M0T2N1M0Stage IIIT1N2M0T2N2M0T3N0M0T3N1M0T3N2M0Stage IVAT4N0M0T4N1M0T4N2M0Stage IVBAny TN3M0Stage IVCAny TAny NM1 Tabel 2. Stadium berdasarkan AJCC 7,8 WHO (World Health Organization) menggolongkan KNF menjadi 3 kriteria berdasarkan diferensiasi sel, yaitu WHO tipe 1 keratinizing squamous carcinoma, WHO tipe II nonkeratinizing squamous cell carcinoma, dan WHO tipe III undifferentiated carcinoma. Stadium pada KNF telah dirumuskan dalam berbagai sistem klasifikasi. Pada tabel 1 dipaparkan sistem klasifikasi TNM (Tumor, Node, Metastasis) staging menurut AJCC (American Joint Committee on Cancer). Stadium I dan II digolongkan sebagai stadium dini, sedangkan stadium III dan IV digolongkan sebagai stadium lanjut (table 2). Dalam kasus ini terdapat ukuran tumor T4, jenis nonkeratinizing squamous cell carcinoma dan undifferentiated carcinoma (WHO tipe II dan III) serta berada pada stadium IVB yang merupakan stadium lanjut. 6,7Data epidemiologi menyebutkan bahwa ras Mongoloid memiliki angka kejadian yang tinggi untuk menderita karsinoma nasofaring. Masyarakat Indonesia yang sebagian besar termasuk dalam ras Mongoloid serta memiliki kebiasaan mengonsumsi ikan asin yang merupakan salah satu bahan makan pokok masyarakat Indonesia. Ikan asin memiliki kandungan nitrosamin yang merupakan salah satu faktor pencetus kanker ini. Nitrosamin juga diteliti terkandung dalam beberapa jenis makanan yang diawetkan, seperti daging olahan. Faktor genetik juga dapat mempengaruhi terjadinya karsinoma nasofaring. Selain itu terbukti juga infeksi virus Epstein-Barr dapat menyebabkan karsinoma nasofaring. 9            Sebuah penelitian terdapat 3 orang pasien perempuan dan 6 orang pasien laki-laki yang didiagnosis dengan KNF yang terbukti melalui biopsy. Rerata usia pasien adalah 37-57 tahun. Satu pasien tidak memiliki riwayat KNF sebelumnya saat pertama kali datang dengan keluhan pada mata. Sebanyak 7 pasien telah mendapatkan radioterapi, dimana 1 pasein dengan metastasis paru telah mendapatkan kombinasi kemoterapi dan radioterapi saat pertama kali didiagnosis dengan KNF. Delapan pasien ini mengalami rekurensi dengan keterlibatan orbita unilateral (4 pasien dalam remisi dan 4 pasien memiliki KNF relaps aktif). 4 pasien  memiliki rekurensi multiple sebelum terjadi keterlibatan orbita. 5 pasien datang ke pusat kesehatan awalnya karena keluhan mata sebelum pemeriksaan menunjukkan adanya rekurensi KNF dengan ekstensi ke daerah orbita.9A Rerata waktu dari diagnosis primer KNF hingga keterlibatan orbita dari KNF rekuren adalah 8.2 tahun (0.8-29 tahun). Gejala yang muncul adalah massa pada kelopak mata (4 pasien), diplopia (3 pasien), pandangan kabur (3 pasien), protusio bola mata (2 pasien), nyeri orbita (2 pasien), tanda yang ditemukan pada mata adalah keterbatasan gerakan ekstraokular (8 pasien) dan nyeri kepala (1 Pasien). Durasi gejala berkisar antara 1 hingga 5 bulan. Pada pasien ini terdapat invasi pada mata kiri dengan gejala penglihatan kabur pada mata kiri, bengkak pada kelopak mata bawah, protusio, diplopia, keterbatasan gerakan bola mata dan terkadang terdapat nyeri pada bola mata.9,10,11 Gambar 3. A. Tumor yang melibatkan regio orbita. B. Setelah dilakukan kemoterapi dan radioterapi.10 Invasi langsung ke orbita jarang terjadi di karsinoma nasofaring. Karsinoma nasofaring adalah tumor yang sangat infiltratif dan ketika menyerang orbita, dapat terjadi melalui beberapa rute. Fossa pterigopalatina dan fisura orbital inferior adalah rute invasi yang paling umum, diikuti oleh invasi melalui sinus paranasal. Fisura orbital inferior merupakan berhubungan langsung antara orbita dan fossa infratemporal. Karsinoma nasofaring yang melibatkan fossa pterigopalatina dan fossa infratemporal dapat masuk langsung ke orbita melalui fisura orbita inferior (Gambar 3). Disisi lain, tumor pada etmoid dan/atau sinus sphenoid dapat mengikis lamina papyracia untuk mencapai orbita medial dan regio retrobulbar. Rute dari sinus ethmoid/sphenoid adalah jalur paling umum kedua invasi orbital. Karsinoma nasofaring yang melibatkan sinus maksilaris mungkin menginvasi orbita inferior melalui lantai orbita. Karena lamina papyracia dan lantai orbita tipis, sehingga menjadi barrier yang lemah untuk melindungi terhadap infiltrasi tumor. 2           Gambar 4. CT scan axial (A) dan coronal (B) terdapat massa diruang extrakonal dan intrakonal orbita kanan (tanda bintang). 4 Pemeriksaan penunjang MRI (Magnetic Resonance Imaging) lebih baik dibandingkan CT scan (Gambar 4) dalam memperlihatkan baik bagian superfisial maupun dalam jaringan lunak nasofaring, serta membedakan antara massa tumor dengan jaringan normal. MRI dapat memperlihatkan infiltrasi tumor ke otot-otot dan sinus cavernosus. Pemeriksaan ini juga penting dalam menentukan adanya perluasan ke parafaring dan pembesaran kelenjar getah bening. Namun, MRI mempunyai keterbatasan dalam menilai perluasan yang melibatkan tulang. CT scan penting untuk mengevaluasi adanya erosi tulang oleh tumor, disamping juga dapat menilai perluasan tumor ke parafaring, perluasan perineural melalui foramen ovale. Pada pasien ini telah dilakukan pemeriksaan CT scan orbita axial dan coronal, tampak massa infiltrasi ke sinus maxilaris sinistra, sinus ethmoid, cavum nasi sisi kiri, sinus frontalis sisi kiri, dan retro orbita sinistra.12,13,14Radioterapi masih memegang peranan penting dalam penatalaksanaan KNF. Radioterapi adalah terapi sinar menggunakan energi tinggi yang dapat menembus jaringan dalam membunuh sel neoplasma. Kemoterapi adalah segolongan obat-obatan yang dapat menghambat pertumbuhan kanker atau bahkan membunuh sel kanker. Hsu dan Wang, radioterapi adalah pengobatan pilihan untuk karsinoma nasofaring dan metastasis nodul regionalnya. Kemoterapi digunakan untuk melengkapi radioterapi untuk metastasis nodus lanjut serta untuk mengobati metastasis. Pembedahan memainkan peran kecil dalam pengobatan karsinoma nasofaring. Radioterapi masih menjadi andalan treatment pada pasien karsinoma nasofaring dengan invasi orbital.  Pada pasien ini telah dilakukan kemoterapi dan setelah kemoterapi kemosis pada mata kiri tampak mengecil. 15,16,17Keterlibatan orbital memberikan prognosis yang sangat buruk dalam analisis karsinoma nasofaring. Au dkk menggambarkan tingkat ketahanan hidup selama 5 tahun sebesar 30% pada pasien stadium IV dalam tinjauan retrospektif terhadap 1294 pasien karsinoma nasofaring nonmetastatik. Mereka menemukan bahwa untuk stadium T4 karsinoma nasofaring, intrakranial ekstensi / kelumpuhan saraf kranial dan keterlibatan orbital membawa prognosis yang relatif lebih buruk terhadap karsinoma nasofaring dengan fossa infratemporal atau keterlibatan hipofaring saja. Dengan demikian, dengan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun sebesar 28%, hasil penelitian saat ini mengkonfirmasi bahwa keterlibatan orbital memberikan prognosis buruk pada pasien karsinoma nasofaring.18,19,20  SIMPULANKarsinoma nasofaring adalah salah satu kanker kepala leher yang bersifat sangat invasif dan sangat mudah menyebar dibanding kanker kepala leher yang lain. Invasi langsung ke orbita jarang terjadi di karsinoma nasofaring.Nitrosamin merupakan salah satu faktor pencetus kanker. Faktor genetik juga dapat mempengaruhi terjadinya karsinoma nasofaring. Selain itu terbukti juga infeksi virus Epstein-Barr dapat menyebabkan karsinoma nasofaring.            Pada pasien ini terdapat invasi pada mata kiri dengan gejala penglihatan kabur pada mata kiri, bengkak pada kelopak mata bawah, protusio, diplopia, keterbatasan gerakan bola mata dan terkadang terdapat nyeri pada bola mata.Pada pasien ini telah dilakukan radioterapi dan kemoterapi di RSCM dan RSUP M. Djamil, setelah dilakukan kemoterapi massa pada mata kiri tampak mengecil. UCAPAN TERIMAKASIH            Terimakasih saya ucapkan kepada Ketua Program Studi Ilmu Kesehatan Mata Program Pendidikan Dokter Spesialis Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dan Ketua Bagian Ilmu Kesehatan Mata RS Dr.M.Djamil Padang yang telah membantu dalam penulisan artikel penelitian ini

    VITAMIN D DAN DISFUNGSI ENDOTEL PADA KAKI DIABETIK

    Get PDF
    Globally the prevalence of type 2 Diabetes Mellitus (DM) among adult remain increase, including in Indonesia. DM with complicated condition might be cause disability that’s call diabetic foot. Diabetic foot is a leg disorder caused by uncontrolled diabetes mellitus resulting in blood vessel disorders, nervous disorders and infection. There are three main problems with diabetic foot, namely ischemia, neuropathy, and infection. These three problems, if triggered by trauma, will cause diabetic foot ulcers. Diabetic foot process initiated by their state of chronic hyperglycemia that causes inflammation in the arterial endothelium, cause endothelial dysfunction.  Many studies that suggest a relationship of vitamin D with this inflammatory process. Hipovitaminosis state D will give effect to the increasing activity of the RAAS include hypertension, increased insulin resistance and dysfunction of pancreatic cells which can lead to hyperglycemia, decreased HDL and increased triglycerides. Hypovitaminosis vitamin D can directly increase the proinflammatory cytokines that produce TNF-α. This inflammatory process would lead to decreased levels of Nitric Oxide (NO) and increased ROS. Vitamin D might be have  a role in cotrolling inflammation in endothelial cells among people with diabetic foot.Keywords: endothelial dysfunction, diabetic foot, vitamin

    PENGARUH BILIRUBIN TERHADAP T HELPER PADA NEONATUS DAPAT MENINGKATKAN TERJADINYA RESIKO ALERGI

    Get PDF
    ABTRACTThe prevalence of allergic diseases globally increased in the last decade influenced by various factors.1 One of the factors associated is hyperbilirubinemia at neonatal period, which can later develop into an allergic disease.2 Bilirubin is a powerful antioxidant, which can be distributed into tissues.  Bilirubin  also has an immunomudulatory effect, it inhibit the response of Th1 cells and lowering interleukin-2 (IL-2) production.  This decrease in IL-2 levels disrupted the balance of Th1-Th2 to Th2.3 At the time of the increase in bilirubin levels, there is an increase in the complement of prooxidant effects due to the breakdown of heme that can trigger the occurrence of inflammation of the respiratory tract in the future.4 In addition, in a study it was found that the effects of bilirubin that are not contracted can inhibit the growth of anaerobic bacteria in the gastrointestinal tract, thereby altering the composition of the intestinal microbiota and inhibiting the response of Th1 so that it can develop into an allergic disease.5 This rise a hypothesis that there is an influence of bilirubin on balance T helper that can increase the risk of occurrence of allergies in the future. Keywords: Bilirubin, neonates, T helper, immune system, allergy ABSTRAKPrevalensi penyakit alergi secara global meningkat pada dekade akhir ini yang dipengaruhi oleh berbagai faktor.1 Salah satu faktor yang dihubungkan yaitu hiperbilirubinemia pada saat neonatus, yang kemudian hari dapat berkembang  menjadi penyakit alergi. 2 Bilirubin merupakan antioksidan kuat, yang dapat didistribusikan kedalam jaringan. Bilirubin juga memiliki efek immunomudulator, yaitu dengan menghambat respon sel Th1 dan menurunkan produksi interleukin-2 (IL-2).  Penurunan kadar IL-2 ini mengganggu keseimbangan Th1-Th2 menuju ke Th2.3 Pada saat terjadinya peningkatan kadar bilirubin, terjadi peningkatan komplemen efek prooksidan akibat pemecahan heme yang dapat memicu terjadinya inflamasi pada saluran pernafasan dikemudian hari.4 Selain itu, pada sebuah penelitian didapatkan bahwa efek bilirubin yang tidak terkonyugasi dapat menghambat pertumbuhan bakteri anaerob pada saluran cerna, sehingga mengubah komposisi mikrobiota usus dan menghambat respon Th1 sehingga dapat berkembang menjadi penyakit alergi .5 Hal ini memunculkan hipotesis bahwa terdapat pengaruh bilirubin terhadap keseimbangan T helper yang dapat meningkatkan terjadinya resiko terjadinya alergi dikemudian hari. Kata kunci: Bilirubin, neonatus, T helper, sistem imun, alerg

    PYLORIC STENOSIS CAUSED BY INGESTION OF CORROSIVE AGENTS : A CASE REPORT

    Get PDF
    Corrosive or caustic is a group of chemical which has the capacity to cause tissue injury on contact by a chemical reaction.Ingestion of a substance that causes a chemical reaction with mucosal tissue and  injures the  gastrointestinal and respiratory tract is caustic ingestion. Accidental ingestion of caustic agents may cause devastating injury in children. Eighty percent of corrosive poisoning occurs in children below five years. Children are particularly susceptible to the accidental exposure to such substances due to inadequate parental supervision and careless storing of these chemicals at homes. Pyloric stenosis or gastric outlet obstruction  is a well-known complication of caustic acid ingestion. The stenosis mostly occurs at the pylorus and antrum due to the pooling of the corrosive agent and the reflex pyloric spasm of the stomach after the ingestion. Typically corrosive acid ingestion leads to local reaction, oesophageal damage and gastric injury in that order. Isolated injury to the stomach resulting in pyloric stenosis is very rare, accounting to as little as 3,8% of all the cases of corrosive ingestion as reported in literature. A proper management including surgery is needed in this case to treat a child with pyloric stenosis caused by ingestion of corrosive agents. Keyword : Pyloric stenosis, accidental ingestion,  corrosive agents

    INJEKSI INTRAVITREAL BEVACIZUMAB DAN LASER FOTOKOAGULASI PADA BRANCH RETINAL VEIN OCCLUCION

    Get PDF
    Branch retinal vein occlusion (BRVO) sering disertai penyakit vaskular sistemik sebagai faktor resikonya, pada kasus ini ditemukan pasien berusia 50 tahun dengan riwayat hipertensi sebagai faktor resiko. Ditemukan tortositas vena yang meningkat, perdarahan dot, blot, flame shape, dan eksudat cotton wool spot pada kuadran superotemporal sesuai dengan lokasi yang paling sering terjadi pada BRVO.Penurunan tajam penglihatan BRVO biasanya dihubungkan dengan iskemik makula, edema makula, atau komplikasi dari penyakit neovaskular. Pada OCT pasien ini didapatkan penebalan central macular thickness sebesar 466 µm, tampak edema cystoid dan penumpukan cairan subretina. Pada kasus BRVO ini dilakukan penatalaksaan dengan kombinasi anti-VEGF dan laser fotokoagulasi, dan didapatkan hasil yang efektif dalam mengurangi edema makula dan mengembalikan tajam penglihatan

    TOWEL CURL EXERCISE BERPENGARUH TERHADAP PENINGKATAN KESEIMBANGAN STATIS ANAK DENGAN FLAT FOOT

    Get PDF
    ABSTRACTThe growth and development of children is determined by innate and environmental factors. One of the problems encountered is Flat foot. Flat foot is no visible arch in the foot or flat feet. Flat foot will affect balance. One of the physiotherapy can be used is Towel curl exercise. The study aimed to determine The Effect of Towel Curl Exercise to Increase Static Balance of Children with Flat Foot at 7-9 Years at Public Elementary School (SD Negeri 10 Sampiran), Aur Birugo Tigo Baleh District in 2021. The type of this study was quasi-experimental with a one group pretest-posttest design. The population was students at 7-9 years old, there were 133 people. By using accident sampling technique with the inclusion and exclusion criteria, 10 respondents were chosen as the samples. It was analyzed by univariate and bivariate analysis.The results showed that the average respondent's static balance before the intervention was 2.45 seconds (less). The average respondent's static balance after the intervention was 4.16 seconds (enough), it means that the towel curl exercise had a significant effect on static balance in children with flat feet, there was an increase in the average balance score after 12 interventions with an average difference of 1.707 seconds and p value = 0.000. It was concluded that the Towel Curl Exercise to Improve the Static Balance of Children with Flat Foot at 7-9 Years old at SD Negeri 10 Sapiran, Aur Birugo Tigo Baleh District in 2021, It could be done at home with the help of parents and prevent children from experiencing Flat Foot at an early age.Keywords : Flat Foot, Static Balance and Towel Curl ExerciseABSTRAKPertumbuhan dan perkembangan anak ditentukan oleh faktor bawaan dan lingkungan. Salah satu permasalahan yang di temui yaitu Flat foot. Flat foot adalah tidak adanya lengkung kaki atau kaki datar. Flat foot akan berpengaruh kepada keseimbangan. Salah satu tindakan fisioterapi yang dapat digunakan yaitu Towel curl exercise. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Towel Curl Exercise Terhadap Peningkatan Keseimbangan Statis Anak dengan Flat Foot.Metode penelitian yang digunakan Quasi-eksperiment dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Populasi adalah siswa umur 7-9 tahun yang berjumlah 133 orang. Sampel pada penelitian ini menggunakan teknik accident sampling dengan sampel sebanyak 10 responden yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data menggunakan analisis univariate dan bivariate. Hasil penelitian menunjukkan  rerata keseimbangan statis responden sebelum intervensi adalah 2,45 detik (kurang). Rerata keseimbangan statis responden sesudah intervensi adalah 4,16 detik (cukup) sehingga pemberian towel curl exercise berpengaruh signifikan terhadap keseimbangan statis pada anak dengan flat foot, dimana terjadi peningkatan rerata skor keseimbangan setelah 12 kali intervensi dengan beda rerata 1,707 detik dan nilai p = 0,000. Disimpulkan bahwa Towel Curl Exercise Terhadap Peningkatan Keseimbangan Statis Anak dengan Flat Foot Usia 7-9 Tahun di SD Negeri 10 Sapiran Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh Tahun 2021 ini bisa dilakukan di rumah dengan  bantuan orang tua dan  mencegah anak yang  mengalami Flat Foot di usia dini.Kata Kunci : Flat Foot, Keseimbangan Statis dan Towel Curl Exercis

    Tingkat Ketergantungan Gadget Pada Anak Usia Sekolah di Kota Bukittinggi

    Get PDF
    Background: The use of gadgets is one of the shortcuts for parents in accompanying their children as caregivers. At the age of adolescence in the pandemic era, it becomes a primary need to use gadgets in the online learning process, but the health impacts, including anemia, decreased role functions, decreased behavioral control, and sexual behavior deviations need to be a concern.  Purpose:This study aims to determine the distribution of gadget addiction. Methods:  This uses descriptive analytic. The research sample was teenagers who were taken by multistage random sampling and who met the inclusion criteria were 50 respondents. Data collection in this study used an instrument using the Smartphone Addiction Scale (SAS) questionnaire. Results: results showed most gadget addiction is dependence level Low (46%), the level of dependence moderate (34%), very low level of dependence (18%), high dependency level (2%). Conclusion: There is a need for holistic nursing interventions for individuals and families with gadget addiction based on the level of dependence, it takes the participation of schools and the community in providing education on the negative impact of gadget addiction. Keywords: Addiction, Gadget, Adolescent

    Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dan Lingkungan Dengan Perilaku Verbal Abuse Pada Anak Prasekolah

    Get PDF
    Background : Verbal abuse is called emotional child abuse, verbal acts or behaviors that have adverse emotional consequences. without realizing it, parents every day verbal abuse their children. This form of Verbal Abuse is generally done by threatening, criticizing, yelling, isolating the child, giving the child a negative nickname or making fun of him. This behavior influences the parenting styles given to children. Parenting is the ability of parents to provide time, attention and support for their children so that they can grow and develop physically, mentally and socially. Aim : The purpose of this study was to determine the relationship between parenting styles and the environment with Verbal Abuse Behavior in Preschool Children in Simpang III Sipin Village, Jambi City. Method : This research method is a descriptive quantitative study with a cross sectional design. The technique of determining the place of this research is proportional technique. Sampling uses a total sampling technique with a total sample of 54 people. Data were collected using a questionnaire, the data that had been collected were analyzed by univariate and bivariate. The analysis in this study used chi-square. Results : The results showed that parenting style and the environment were significantly related to verbal abuse behavior with a P-Value <0.05.Keywords: Parenting, Environment, Verbal Abus

    Socially-Assistive Robots Using Empathy untuk Mengurangi Nyeri dan Distress selama Pemasangan IV Line Perifer pada Anak

    Get PDF
    Background: Painful medical procedures such as insertion of a peripheral IV line in a child can have long-lasting effects, such as increased sensitivity to future painful stimuli, avoidance of medical treatment, or posttraumatic distress. In nursing science, pain reduction in children can be done by using distraction techniques. In the era of 4.0, the use of robots in helping nurse care is no stranger. Socially-Assistive Robots are a type of social robot that has been used in helping children with ASD, cancer, cerebral palsy and even the elderly. Objective: To provide an overview and ideas from the results of a literature review about the possibility of applying Socially-Assistive Robots Using Empathy to reduce pain and distress during peripheral IV line insertion in children. Discussion: From the results of the study and review of 12 selected journals, it is concluded that Socially-Assistive Robots Using Empathy is a technology that needs to be developed and applied. Recommendation: It is hoped that Socially-Assistive Robots Using Empathy will be present in Indonesia and future researchers can test its effectiveness. Keywords: Socially-Assistive Robots, pain, distress, IV line insertio

    970

    full texts

    1,084

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Scientific Journals of Fort De Kock University
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇