Scientific Journals of Fort De Kock University
Not a member yet
1084 research outputs found
Sort by
DAMPAK PEMBERIAN HAND SANITIZER ALAMI DAUN SIRIH DAN LIDAH BUAYA TERHADAP JUMLAH KUMAN PADA TANGAN PEDAGANG KAKI LIMA DIMASA COVID-19
Hand sanitizer merupakan suatu produk sediaan cair dan gel tanpa menggunakan air. Pembuatannya melalui ekstrak alami yang dapat membunuh bakteri seperti daun sirih dan lidah buaya. Tujuan penelitian ini adalah mengurangi angka kuman pada tangan seseorang.Metode penelitian ini eksperiment murni dengan rancang Posttest Only Design. Dengan cara uji One Way Anova. Objek penelitiannya adalah bakteri pada tangan pedagang kaki lima di pasar bawah Bukittinggi dengan teknik pengambilan swab sesudah perlakuan. Dengan jumlah pengulangan sebanyak 3 kali pengulangan perlakuan pada total 27 orang sampel.Didapatkan rata-rata jumlah angka kuman pada tangan dengan menggunakan hand sanitizer daun sirih adalah 14,33. Dan dengan lidah buaya rata-rata jumlah angka kuman adalah 23,78. Sementara hand sanitizer daun sirih ditambah dengan lidah buaya rata-rata jumlah angka kuman adalah 12,33. Hasil bivariat didapatkan p-value = 0,880 > α = 0.05 artinya Ho diterima, maka tidak adanya perbedaan antara hand sanitizer daun sirih, lidah buaya, dan daun sirih dengan lidah buaya. Kesimpulan penelitian ini adalah tidak adanya perbedaan yang signifikan antara efektivitas hand sanitizer daun sirih, lidah buaya, dan daun sirih dengan lidah buaya terhadap penurunan angka kuman pada tangan. Maka dari itu diharapkan masyarakat terutama pedagang kaki lima dapat memanfaatkan bahan alami untuk pembuatan hand sanitizer
ANALISIS DETERMINAN KEJADIAN DIABETES MELITUS DI KECAMATAN IV JURAI KABUPATEN PESISIR SELATAN
AbstractIntroduction: The impact of Diabetes Mellitus on the quality of human resources and an increase in health costs is quite large, so it is necessary to have a DM prevalence control program. DM in Indonesia based on blood tests has increased from 6.9% to 8.5%, while based on doctor's diagnosis, it increased from 1.5% to 2% in 2018. This study aims to analyze the determinants of DM incidence in IV Jurai District, Pesisir Regency. South of 2020. Research method: This type of research is a mixed methods method. Quantitative data collection methods used questionnaires for variables of physical examination and direct examination (BMI, cholesterol levels and hypertension), while qualitative research used the in-depth interview method (indept interview). Quantitative research using cross sectional design. Results: The results of this study have an influence on the incidence of diabetes mellitus, namely cholesterol levels (p = 0.000, OR = 69.00), hypertension (p = 0.003 OR = 4.286), which does not affect physical activity (p = 0.636, OR = 0.799), BMI. (P = 0.547, OR = 1.388) and smoking (p = 0.512, OR = 0.641) The most dominant determinants affecting the incidence of diabetes mellitus are cholesterol levels OR 69.00 (95% CI: 13.229-359.880), diet which is a way of managing food wrong, there is a policy, there is still a lack of facilities and infrastructure (cholesterol measuring instrument) needed to carry out activities. The source of funds is sufficient for diabetes mellitus management activities, most villages have not budgeted for PTM activities and do not yet have PTM cadres. Conclusion: Cholesterol level is the variable that most influences the incidence of diabetes mellitus, good food management can be done with the implementation model of the Family Medicine Movement to Overcome Chronic Diseases (Gerobak Manis) and Health Information Campia, Rich Promotion of Health Education Media (KIS SIKAMEK), also strengthens advocacy to nagari for the provision of infrastructure and cadres.AbstrakPendahuluan : Dampak dari Diabetes Mellitus terhadap kualitas sumber daya manusia dan peningkatan biaya kesehatan cukup besar, sehingga sangat diperlukan program pengendalian DM Prevalensi. DM di Indonesia berdasarkan pemeriksaan darah mengalami peningkatan dari 6,9% menjadi 8,5%, sedangkan berdasarkan diagnosa dokter meningkat dari 1,5 % menjadi 2% pada tahun 2018. Penelitian ini bertujuan untuk analisis determinan kejadian DM di Kecamatan IV Jurai Kabupaten Pesisir Selatan tahun 2020. Metode penelitian : Jenis penelitian ini adalah Metode mixed methods. Metode pegumpulan data kuantitatif dengan menggunaan kuesioner untuk variabel pemeriksaan fisik dan pemeriksaan langsung (IMT, kadar kolesterol dan hipertensi), sedangkan penelitian kualitatif menggunakan metode wawancara mendalam (indept interview). Penelitian kuantitatif menggunakan desain cross sectional. Hasil : Hasil penelitian ini terdapat pengaruh terhadap kejadian diabetes melitus yaitu Kadar Kolesterol (p=0,000, OR= 69,00), hipertensi (p=0,003 OR=4,286), yang tidak pengaruh aktifitas fisik (p=0,636, OR = 0.799), IMT (P=0,547, OR=1,388) dan merokok (p=0,512, OR=0,641) Determinan paling dominan mempengaruhi kejadian diabetes mellitus yaitu kadar kolesterol OR 69,00 (95% CI: 13,229-359,880), Pola makan yang cara pengelolaan makanan salah, adanya kebijakan, masih kurangnya sarana dan prasana (alat ukur kolesterol) yang dibutuhkan untuk pelaksanaan kegiatan sumber dana cukup untuk kegiatan penatalaksanaan diabetes melitus, sebagain besar nagari belum menganggarkan untuk kegiatan PTM dan belum memiliki kader PTM. Kesimpulan : Kadar kolesterol merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian diabetes melitus, pengelolaan makanan yang baik dapat dilakukan dengan model penerapan Gerakan Pengobatan Keluarga Mengatasi Penyakit Kronis (Gerobak Manis) dan Kampia Informasi Sehat Promosi Kaya Akan Media Edukasi Kesehatan (KIS SIKAMEK), juga memperkuat advokasi ke nagari untuk pengadaan sarana prasarana dan kader.
ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBERIAN ASI EKSLUSIF BAGI WANITA PEKERJA DI PERUSAHAAN TIDAR KERINCI AGUNG KABUPATEN DHARMASRAYA
AbstractOne effort to increase the quality of resources is by giving exclusive breast milk (ASI) (MOH RI, 2002: 4). These needs can be fulfilled by providing breast milk (breast milk) to the baby. Household survey results show that the achievement of exclusive breastfeeding in infants reached only 36% compared with the expected target of 80% of infants. This research was conducted at PT Tidar Kerinci Agung because based on the data obtained there are 388 women working in this company and 138 of them are breastfeeding mother. The variables of this research are promotion of formula milk, health officer support, family support, age and health status and intermediary variable is motivation and dependent variable is exclusive breastfeeding. The sample of this research is mother who has baby age 6 months and above with amount of sample counted 100 people. The design of this research is explanatory research with multiple logistic regression analysis with accidental sampling technique. The results of this study have a significant relationship between independent and dependent variables and in multivariate analysis there are 2 most influential variables that is the promotion of formula milk with p value (0.004) and the role of health personnel with p value (0,003) variable promotion of milk formula milk promotion The formula almost has the effect of p value (0.004) that can be expected to health workers to always give counseling about the benefits of breastfeeding so that mothers have high motivation to give exclusive breastfeeding in view of the more incessant promotion of infant formula.Key Word: Formula Milk Promotion, Family Support, Exclusive Breastfeeding. Abstrak Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya adalah dengan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif (Depkes RI, 2002: 4). Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan memberikan air susu ibu (ASI) kepada bayi. Hasil survei rumah tangga menunjukkan bahwa pencapaian pemberian ASI eksklusif pada bayi baru mencapai 36% dibandingkan dengan target yang diharapkan sebesar 80% bayi. Penelitian ini dilakukan di PT Tidar Kerinci Agung karena berdasarkan data yang diperoleh terdapat 388 wanita yang bekerja di perusahaan ini dan 138 diantaranya adalah ibu menyusui. Variabel penelitian ini adalah promosi susu formula, dukungan petugas kesehatan, dukungan keluarga, usia dan status kesehatan dan variabel perantara adalah motivasi dan variabel terikat adalah pemberian ASI eksklusif. Sampel penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi usia 6 bulan ke atas dengan jumlah sampel sebanyak 100 orang. Desain penelitian ini adalah explanatory research dengan analisis regresi logistik berganda dengan teknik accidental sampling. Hasil penelitian ini memiliki hubungan yang signifikan antara variabel bebas dan variabel terikat dan dalam analisis multivariat terdapat 2 variabel yang paling berpengaruh yaitu promosi susu formula dengan nilai p(0,004) dan peran tenaga kesehatan dengan p value (0,003) variabel promosi susu formula Promosi susu formula hampir memberikan pengaruh p value (0,004) sehingga diharapkan petugas kesehatan selalu memberikan penyuluhan tentang manfaat ASI agar ibu memiliki motivasi yang tinggi untuk memberikan ASI eksklusif mengingat gencarnya promosi susu formula.Kata kunci: promosi susu formula, dukungan keluarga, ASI Ekslusif
EFEKTIFITAS PENYULUHAN TERHADAP PENGETAHUAN REMAJA TENTANG ROKOK DI SMPN 3 BUKIT PINANG SEBATANG KELURAHAN BUKIT APIT PUHUN KECAMATAN GUGUK PANJANG KOTA BUKITTINGGI 2020
Abstract Ever cigarette and lifestyle less active in sports (physical inactivity) have a close relationship with an increased incidence of heart disease and other chronic, and a risk factor for early death (WHO, 2008). Smoking behavior is a phenomenal thing. This is indicated by the number of smokers that continues to increase from year to year. WHO records the number of smokers worldwide in 2013 reached 1.2 billion people and 800 million of them are in developing countries. Indonesia ranks third with the highest number of smokers after China and India. The Southeast Asia Tabacco Control Alliance (SEATCA) states that the number of Southeast Asian smokers in 2013 was 121,156,804 people. The Global Youth Tabacco Survey (GTYS) in 2014 stated Indonesia as the country with the highest number of smokers in the world.Test and post test design in one group. Samples were taken by total sampling technique. Research results using the T-test obtained a significant value of knowledge that is p = 0,001 which is smaller than α = 0.05. The conclusion in this study there is the effect of health education on smokers in adolescents in the knowledge of the dangers of smoking. Suggestions for other researchers are expected. Can do further research in order to dig deeper into the causes that influence smoking behavior in adolescents.Abstract Pernah rokok dan gaya hidup kurang aktif berolahraga (physical inactivity) mempunyai hubungat erat dengan peningkatan kejadian penyakit jantung dan khronik lainnya, dan menjadi faktor risiko kematian dini (WHO, 2008). Perilaku merokok merupakan suatu hal yang fenomenal. Hal ini ditandai dengan jumlah perokok yang terus mengalami peningkatan dari tahun ketahun. WHO mencatat jumlah perokok seluruh dunia tahun 2013 mencapai 1.2 milyar orang dan 800 juta diantaranya berada di negara berkembang. Indonesia menempati urutan ke3 dengan jumlah perokok terbanyak setelah Cina dan India. The Southeast Asia Tabacco Control Alliance (SEATCA) menyebutkan bahwa jumlah perokok Asia Tenggara tahun 2013 tercatat sebanyak 121.156.804 jiwa. Global Youth Tabacco Survey (GTYS) tahun 2014 menyatakan Indonesia sebagai negara dengan angka perokok tertinggi di dunia. Test and post test design dalam satu kelompok. Sampel diambil dengan teknik Total Sampling. Hasil Penelitian dengan menggunakan Uji T-test diperoleh nilai pengetahuan signifikan yaitu p=0,001 yang lebih kecil dari α = 0,05. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah Efektifitas penyuluhan terhadap pengetahuan remaja tentang rokok. Saran bagi peneliti lain diharapkan dapat melakukan penelitian lebih lanjut agar dapat menggali lebih dalam sebab-sebab yang mempengaruhi perilaku merokok pada remaja.
ASPERGILOMA PADA BEKAS TUBERKULOSIS PARU
Aspergiloma merupakan infeksi jamur pada paru atau mikosis paru yang disebabkan oleh Aspergillus Fumigatus dengan frekuensi 95% dari kejadian infeksi aspergilosis. Aspergiloma merupakan kolonisasi di dalam kavitas paru dengan sebagian besar (13-89%) disebabkan oleh tuberkulosis. Gejala klinis beragam dapat tanpa gejala, bergejala ringan, berat hingga mengancam jiwa. Gejala yang ringan menyebabkan pasien tidak datang berobat hingga munculnya gejala berat sehingga tidak jarang pasien sudah tidak dapat tertolong lagi. Tatalaksana utama adalah operasi disamping Obat Anti Jamur (OAJ). Oleh karena itu, diagnosis dini aspergiloma dan tatalaksana segera akan memberikan prognosis yang baik
HUBUNGAN PEMBERIAN NUTRISI DAN SANITASI LINGKUNGAN TERHADAP KEJADIAN STUNTING PADA BALITA
Stunting merupakan salah satu permasalahan status gizi pada balita yang digambarkan sebagai bentuk kegagalan pertumbuhan akibat gizi buruk dan kesehatan selama periode prenatal dan postnatal. Stunting muncul sebagai akibat dari keadaan kekurangan gizi yang terakumulasi dalam waktu yang cukup lama sehingga akan lebih terlihat manifestnya secara fisik di usia 24 – 59 bulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola asuh dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja puskesmas Suliki Kanagarian Tanjung Bungo Kabupaten Lima Puluh Kota. Desain penelitian ini adalah kuantitatif analitik observasional, dengan desain Penelitian cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu balita di Puskesmas Suliki Kanagarian Tanjung Bungo Kabupaten Lima Puluh Kota. Pengambilan sampel menggunakan teknik Consecutive Sampling sebanyak 100 orang. Hasil analisis bivariate diperoleh p-value = 0,001 yang menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan pemberian makan dengan kejadian stunting balita, p-value = 0,002 yang menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting balita. Kesimpulan penelitian ini adalah pola asuh dalam keluarga yang berupa pemberian makanan dan sanitasi lingkungan berhubungan dengan kejadian stunting pada balita
CRYPTOPHTHALMOS
Introduction : Cryptophthalmos (hidden eye) is a very rare disease. In these patients there is a failure of differentiation of the eyelid structures so that there is continuous skin from the forehead through the eyes to the cheeks and the undercoat fuses with the cornea, usually accompanied by a malformation of the eyeball. This disorder is suspected to be caused by mutations in the FRAS 1 gene, a gene that involves skin epithelial morphogenesis during early embryonic development. Based on the degree of severity, Cryptophthalmos is grouped into three namely complete Cryptophthalmos, partial Cryptophthalmos and abortive Cryptophthalmos.Method: A case report of a baby girl after 4 days with her left eye not opening since birth. There was no abnormality in the right eye. The patient is the second child of two siblings with siblings, there is no abnormality in both eyes. In the left eye, the palpebral skin grew together from the forehead to the cheek, the palpebral fissure could not be identified. No eyelashes and eyebrows.Result: The patient is referred to the pediatrics department to see if this disorder is isolated or accompanied by Fraser's syndrome. Consul from the pediatrics department did not find any other congenital abnormalities.Conclusion: Cryptophthalmos is a congenital disorder that can occur isolated or accompany other syndromes. Cryptophthalmos usually occurs with ocular deformity so that the visual prognosis is not good.Keywords: Cryptophthalmos, congenital abnormalities, Fraser's syndrome.Pendahuluan : Cryptophthalmos ( Mata yang tersembunyi ) merupakan suatu penyakit yang sangat jarang terjadi. Pada pasien ini terdapat kegagalan diferensiasi dari struktur kelopak mata sehingga terdapat kulit yang berkesinambungan dari dahi melewati mata hingga pipi dan lapisan bawahnya menyatu dengan kornea, biasanya disertai dengan malformasi bola mata. Kelainan ini dicurigai terjadi akibat mutasi gen FRAS 1, yaitu suatu gen yang melibatkan marfogenesis epitelial kulit selama awal perkembangan embrio. Berdasarkan derajat keparahannya, Cryptophthalmos dikelompokkan atas tiga yaitu Cryptophthalmos komplit, Cryptophthalmos parsial dan Cryptophthalmos abortif.Metode: Laporan kasus seorang bayi perempuan usai 4 hari dengan mata kiri tidak membuka sejak lahir. Mata kanan tampak tidak ada kelainan. Pasien anak kedua dari dua bersaudara dengan saudara kandung tidak ada kelaianan pada kedua matanya. Pada mata kiri tampak kulit palpebra yang tumbuh menyatu dari dahi hingga pipi, fisura palpebra tidak bisa diidentifikasi. Bulu mata dan alis tidak ada. Hasil: Pasien dikonsulkan ke bagian anak untuk melihat apakah kelainan ini terisolasi atau disertai dengan sindrom Fraser. Konsul dari bagian anak tidak ditemukan kelainan kongenital lainnya.Kesimpulan: Cryptophthalmos merupakan kelainan kongenital yang dapat terjadi terisolasi ataupun menyertai sindroma lainnya. Cryptophthalmos biasanya terjadi disertai deformitas okular sehingga prognosa visusnya tidak baik.Kata Kunci: Cryptophthalmos, kelainan kongenital, sindroma Fraser.
JOB CHARACTERISTICS RELATED STRESS AS A RISK FACTOR OF STROKE: A LITERATURE REVIEW
Abstract: Individuals may get the stress from everywhere which contact with them including the workplace. The aim of this study is to describe and update the empirical literature regarding job characteristic related stress as the risk factor of stroke both in woman and man workers. This review literature including studies published between 2009 until 2018. We searched by an electronic database including PUBMED, Web of Science and search engine Google scholar using several keywords related job stress. Analyzing data was used PCOT (Population, conclusion, outcome and time) for general questions and was assessed continuously in order to make better judgments about the value of each article. A literature search was performed nine studies from different countries. Many factors induced the job stress which correlated the risk factors of stroke. Eight studies reported high job strain had association with the risk factor of stroke which is psychological pressure, excessive work, sitting and inconsistency of work. In contrast, there are two studies had a negative association between job strain and risk factor of stroke. High demand and low job control were causes the high job strain in the worker population. The company have to focus on regular check-up of workers
NEONATAL DIABETES MELLITUS IN 2,5 MONTH OLD CHILDREN
Neonatal Diabetes mellitus (NDM) is a rare genetic disease (1 in 90,000 live births). It isdefined by the presence of severe hyperglycaemia associated with insufficient or nocirculating insulin, occurring mainly before 6 months of age and rarely between 6 monthsand 1 year. Such hyperglycaemia requires either transient treatment with insulin in abouthalf of cases, or permanent insulin treatment. In transient NDM, growth-retarded infantsdevelop diabetes in the first few weeks of life, only to go into remission after a few monthswith possible relapse to permanent diabetes usually around adolescence or in adulthood. Inpermanent NDM, insulin secretory failure occurs in the late fetal or early postnatal period.We present a case of 9 months old boy with neonatal diabetes mellitus since 2 months 15days old. He had history of fever, polyuria, polydypsia, tachypnoe and diabetic ketoacidosis.He came with hyperglycemia, positive urine ketone and acidosis. C-peptide result was low(0,1 mg/dl). Patient was hospitalized for acute conditions according to DKA managementand continued with insulin subcutaneous. Neonatal diabetes mellitus was a rare condition.The cardinal symptoms of NDM include hyperglycemia at birth, IUGR, failure to thrive,dehydration, and, rarely, ketoacidosis. Treatment with insulin should be started immediatelyafter diabetes is diagnosed by persistent hyperglycemia or elevated glycated hemoglobin(HbA1c). The prognosis is related to the severity of the disease, the degree of dehydrationand acidosis, as well the rapidity with which the disease is recognized and treated. Prognosisalso depends on metabolic control.Keyword: neonatal, hyperglycemia, diabetes mellitus
KAJIAN SURVEY EPIDEMIOLOGI INDEKS DMF-T (FAKTOR PENYEBAB DAN UPAYA PENCEGAHAN) INDEKS DMF-T
Karies gigi merupakan penyakit yang berhungan dengan banyak faktor yang sangat mempengaruhi, terdiri dari faktor langsung dan faktor tidak langsung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis survey epidemiologi indeks DMF-T dan analisis faktor pengetahuan, sikap, sumber informasi, dukungan orang tua dan dukungan guru dan sekolah yang berhubungan dengan indeks DMF-T di Kecamatan Mungka Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2021.Metode penelitian yang digunakan adalah mix method. Metode pengumpulan data kuantitatif menggunakan kuisioner menggunakan desain Case Control, sedangkan metode kualitatif mengguakan wawancara mendalam (indept review). Populasi dalam penelitian ini adalah Murid SD kelas 4,5 dan 6 di Kecamatan Mungka Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2021 yaitu sebanyak 424 . Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 162 orang .Hasil uji chi-square menunjukkan variabel yang berhubungan dengan dengan DMF-T (Decay Missing Filled-Teeth) yaitu pengetahuan p= 0,000, Sikap p= 0,002, Sumber Informasi p = 0,001, Dukungan Orang Tua p= 0,030, Dukungan Guru p= 0,040 pendapatan Orang Tua = 0,024, Pekerjaan Orang Tua = 0,022, dan Pendidikan Orang Tua = 0,008 Sedangkan jarak = 0,416 menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna dengan DMF-T (Decay Missing Filled-Teeth). Hasil akhir analisis multivariat menunjukkan bahwa sumber informasi merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap DMF-T (Decay Missing Filled-Teeth).Kesimpulan dari hasil yang didapatkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan, sikap, sumber informasi, dukungan orang tua, dukungan guru, pendapatan orang tua, pendidikan orang tua dan pekerjaan orang tua dengan indeks DMF-T. Serta kebijakan program UKGS sudah ada dan sudah yang sudah disosialisasikan kepada kepala sekolah, guru dan murid . Petugas yang bertanggung jawab dalam program UKGS sudah mencukupi sesuai, anggaran dana yang digunakan dalam program UKGS ini yaitu dana BOK dan dana BOS, pelaksanaan program UKGS yang dilakukan berupa pemeriksaan kesehatan gigi dan sikat gigi massal dan memberikan rujukan kesehatan gigi dan mulut bagi yang memerlukan. Pelaksanaan sikat gigi masal secara rutin yaitu minimal dilaksanakan 1 bulan sekali di Sekolah sehingga dapat mencapai tujuan dari program UKGS. dan pelaporan pemeriksaan gigi sudah berjalan dengan baik diharapkan dapat berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan sekolah untuk mengupayakan penerapan UKGS sehingga pelaksanaan tindakan pencegahan karies gigi optimal. Kata Kunci : Usaha Kesehatan Gigi Sekolah, DMF-