Scientific Journals of Fort De Kock University
Not a member yet
    1084 research outputs found

    KEJADIAN ABSES SEREBRI PADA PASIEN PJB SIANOTIK DI RS DR M DJAMIL PADANG

    Get PDF
    Abstract Objective : Cyanotic CHD is a congenital disease, insidence tend to increased with time. At M Djamil Hospital there was 85 case in 2013-2015. Brain abscess is the complication that mostly found in patient that can be serious and fatal. The aim of this study is to identify characteristics and factors in the occurence of brain abscess in cyanotic CHD patients. Methods : This was a cross sectional study. Data were collected from medical records of cyanotic CHD patient who admitted at M Djamil Hospital from 2016 to 2018. Bivariate analysis using paired sample T test and chi square. Data were analyzed with SPSS. P value <0.05 were considered to be statistically significant. Result : A total 15 patient (14.5%) brain abscess of 104 cyanotic CHD were found. Majority patient were boys (67.3%). The subjects mean age was 4.95 years and the youngest age was 1 year old. Nutritional status (p=0.009), head circumference (p=0.005), cyanotic spell (p=0.028), blood gas analysis (p=0.005), and outcome (p=0.005) were significant related factors for brain abscess. Hemoglobin (16.65±3.57), leucocyte (18775±7749.28), hematocryte (54.87±7.90), oxygen saturation (59.93±9.21) were statistycally significant. The culture of abscess were no growth. 9 of 15 patient with brain abscess were died. Conclusion : poor nutritional status, microcephaly, cyanotic spell, metabolic asidosis, hemoglobine, leucocytosis, high hematocryte, and low peripheral oxygen saturation were the significant related factors to brain abscess in cyanotic CHD patients. No bacterial growth in abscess culture. Mortality was still high, sixty percent of brain abscess child were died.Keywords: Brain abscess; cyanotic; congenital heart disease.  AbstrakTujuan : insiden pasien penyakit jantung bawaan siantoik semakin bertambah. Di RS Dr. M. Djamil Padang terdapat sebanyak 85 kasus selama tahun 2013-2015. Abses serebri merupakan komplikasi yang paling sering ditemukan dan dapat berakibat serius. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik dan faktor yang berhubungan dengan kejadian abses serebri pada pasien PJB sianotik. Metode : suatu penelitian cross sectional, dengan pengumpulan data dari rekam medis pasien PJB sianotik di RS Dr. M. Djamil tahun 2016-2018. Analisis bivariate dengan uji T dan chi square. Kemaknaan signifikan pada p value <0.05. Hasil : total sejumlah 104 pasien PJB sianotik, 15 pasien (14,5%) mengalami abses serebri. Jenis kelamin laki-laki 67,3%. Rerata usia 4.95 tahun dan termuda usia 1 tahun. Faktor yang berhubungan signifikan yaitu status gizi (p=0.009), lingkar kepala (p=0.005), cyanotic spell (p=0.028), analisa gas darah (p=0.005) dan outcome (p=0.05). Hubungan signifikan kejadian abses serebri dengan kadar hemoglobin (16.65±3.57), leukosit (18775±7749.28), hematokrit (54.87±7.90), dan saturasi oksigen (59.93±9.21). Pada pemeriksaan kultur abses tidak ditemukan pertumbuhan mikroorganisme. Sebanyak 9 dari 15 pasien meninggal. Kesimpulan : status gizi buruk, mikrosefal, cyanotic spell, asidosis metabolic, kadar hemoglobin, leukosit, hemokonsentrasi, dan saturasi oksigen perifer rendah merupakan faktor-faktor yang berhubungan signifikan dengan kejadian abses serebri pada pasien PJB sianotik. Tidak ada pertumbuhan mikroorganisme pada kultur cairan abses. Mortalitas cukup tinggi, sebanyak 60% pasien meninggal. Kata kunci : abses serebri; penyakit jantung bawaan; sianoti

    EVALUASI ADHERENSI PENGOBATAN PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI ERA PANDEMI COVID-19

    Get PDF
    Latar belakang : Tercapainya keberhasilan pengobatan diabetes melitus tipe 2 sangat berkaitan dengan adherensi pasien dalam minum obat. Tujuan : Untuk mengetahui evaluasi adherensi dengan menggunakan kuesioner MMAS-8 pada pengobatan pasien diabetes melitus tipe 2 di era pandemi covid-19 di Puskesmas Ikur Koto Padang periode Maret 2020 - November 2020. Metode : Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah pasien diabetes melitus yang berobat di Puskesmas Ikur Koto tahun 2020 dengan 45 sampel menggunakan teknik total sampling. Analisa data univariat disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase dan pengolahan data menggunakan komputerisasi program SPSS versi 25.0. Hasil: Usia paling banyak adalah 56-65 tahun yaitu 19 orang (42,2%) dan jenis kelamin paling banyak adalah perempuan yaitu 34 orang (75,6%). Usia 36-45 tahun adherensi rendah sebanyak 4 orang (80%), sedang sebanyak 1 orang (20%) dan tidak ada adherensi tinggi. Pada usia 46-55 tahun adherensi rendah sebanyak 5 orang (41,7%), sedang sebanyak 2 orang (16,7%) dan tinggi 5 orang (41,7%). Usia 56-65 tahun adherensi rendah sebanyak 8 orang (42,1%), sedang 4 orang (21,1%) dan tinggi sebanyak 7 orang (36,8%) dan pada usia >65 tahun adherensi rendah sebanyak 6 orang (66,7%), sedang 1 orang (11,1%) dan tinggi 2 orang (22,2%), Jenis kelamin laki-laki adherensi rendah sebanyak 10 orang (90,9%), sedang tidak ada dan tinggi sebanyak 1 orang (9,15). Pada perempuan dengan adherensi rendah sebanyak 13 orang (38,2%), sedang 8 orang (23,5%) dan tinggi sebanyak 13 orang (38,2%) dan Pendidikan SD adherensi rendah sebanyak 17 orang (60,7%), sedang 5 orang (17,9%) dan tinggi 6 orang (21,4%). Pendidikan SMP dengan adherensi rendah sebanyak 1 orang (20%), sedang tinggi masing-masing 2 orang (40%). Pada pendidikan SMA adherensi rendah sebanyak 5 orang (41,7%), sedang 1 orang (8,3%) dan tinggi sebanyak 6 orang (50%). Kesimpulan : Usia paling banyak adalah 56-65 tahun dan jenis kelamin paling banyak adalah perempuan, kategori semua usia terbanyak adherensi rendah di era pandemi covid-19, pada kedua jenis kelamin adherensi juga rendah di era pandemi covid-19 dan pada pendidikan adherensi juga rendah di era pandemi covid-1

    PERUBAHAN NILAI CENTRAL CORNEAL THICKNESS SEBAGAI DETEKSI SEVERITAS RETINOPATI DIABETIKUM PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE II

    Get PDF
    AbstractIntroduction : Hyperglycemia has a toxic effect on almost all cells in the body. Ocular complications due to hyperglycemia can occur in the cornea and retina. Retinal microvascular disorders in patients with type II DM are called diabetic retinopathy. Type II diabetes mellitus has a significant influence on the morphological, metabolic, physiological, and clinical aspects of the cornea that can be evaluated by measuring central corneal thickness (CCT) using Anterior Segment - Optical Coherence Tomography (AS-OCT). Morphological changes occur in corneal epithelium, epithelial basement membrane and basement, stromal and endothelial membrane complexes. CCT changes as changes in the retina of type II DM patients are chronic processes that lead to changes in the structure and biomechanics of the cornea and retina. Method: The subjects of this study consisted of 36 eyes of type II DM patients divided into 4 diabetic retinopathy groups (mild, moderate, severe NPDR and PDR) with GDS> 200mg / dl then CCT values were measured using AS-OCT. Result: CCT degrees in this study: normal 44.4%; thick (33.3%); thin (13.9%); ; very thick CCT (8.3%). There is no statistically significant relationship between the degree of CCT and severity of diabetic retinopathy. Conclusion: The CCT value of DM type II sufferers in the PDR group was higher than in the NPDR group, where there was an increase in CCT value along with an increase in severity of diabetic retinopathy, but the results were statistically not significant. CCT examination is expected to be one of the evaluations to evaluate the progression of hyperglycemic in type II DM against ocular disorders, especially cornea.Keywords: Type II diabetes mellitus, diabetic retinopathy, central corneal thickness, Anterior Segment - Optical Coherence Tomography AbstrakPendahuluan : Hiperglikemia memiliki efek toksik pada hampir semua sel dalam tubuh. Komplikasi okular akibat hiperglikemia dapat terjadi pada kornea dan retina. Gangguan mikrovaskuler retina pada penderita DM tipe II disebut retinopati diabetik. Diabetes melitus tipe II memberikan pengaruh signifikan pada aspek morfologis, metabolik, fisiologis, dan klinis kornea yang dapat dievaluasi  dengan mengukur ketebalan kornea sentral atau central corneal thickness (CCT) menggunakan Anterior Segment – Optical Coherence Tomography (AS-OCT) . Perubahan morfologis terjadi pada epitel kornea, membran basal epitel dan kompleks membran basal, stroma, dan endotelium. Perubahan CCT sebagaimana perubahan pada retina pasien DM tipe II merupakan proses kronis yang berujung pada perubahan struktur dan biomekanik dari kornea dan retina. Metode: Subjek penelitian ini terdiri dari 36 mata penderita DM tipe II yang dibagi dalam 4 kelompok retinopati diabetikum (mild, moderate, severe NPDR dan PDR) dengan GDS > 200mg/dl kemudian diukur nilai CCT menggunakan AS-OCT. Hasil: Derajat CCT pada penelitian ini: normal 44,4%; thick (33,3%); thin (13,9%); very thick CCT (8,3%). Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara derajat CCT terhadap severitas retinopati diabetikum. Kesimpulan: Nilai CCT penderita DM tipe II kelompok PDR lebih tinggi dari pada kelompok NPDR, dimana tampak peningkatan  nilai CCT seiring dengan peningkatan severitas retinopati diabetikum, namun hasil tersebut secara uji statistik tidak bermakna signifikan. Pemeriksaan CCT diharapkan menjadi salah satu penilaian untuk mengevaluasi progresifitas hiperglikemik pada penyakit DM tipe II terhadap gangguan okular, terutama korneaKata Kunci: Diabetes mellitus tipe II, retinopati diabetik, central corneal thickness, Anterior Segment – Optical Coherence Tomograph

    ANALISIS EFEKTIFITAS PELAKSANAAN POS GIZI TERHADAP BALITA GIZI KURANG DI KECAMATAN KINALI KABUPATEN PASAMAN BARAT TAHUN 2020

    Get PDF
    Anak balita adalah kelompok usia yang paling banyak rentan mengalami malnutrisi, Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) Propinsi Sumatera Barat Tahun 2017 menunjukkan data balita dengan status gizi buruk sebanyak 3.3% dan 14,2% balita dengan status gizi kurang. Untuk data gizi buruk dan gizi kurang di Kabupaten Pasaman Barat sebanyak 5,0% dengan status Gizi Buruk dan 18,0% balita dengan status gizi kurang. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk menganalisis Efektifitas Pos Gizi Terhadap Balita Gizi Kurang Di Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2020. Penelitian ini merupakan penelitian Eksperimen dengan desain post test only control group design dimana terdapat 2 (dua) kelompok yaitu kelompok control dan satu kelompok perlakuan (eksperimen), Untuk pengumpulan data kualitatif menggunakan metode wawancara mendalam (indepth interview). Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Januari di Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat tahun 2021. Populasi dan sampel penelitian ini adalah balita gizi kurang Analisis data dengan menggunakan analisis univariat, bivariat, dan dengan menggunakan statistic One Way Anova..Berdasarkan hasil penelitian eksperimen pada kelompok yang mengikuti Pos Gizi dengan Pvalue 0,001 yang artinya ada perbedaan berat badan balita, sedangkan pada kelompok yang tidak mengikuti Pos Gizi dengan Pvalue 0,065 yang artinya tidak ada perbedaan berat badan. Dan untuk kualitatif ada Input, Proses, dan Output. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan Program Pos gizi belum dilaksanakan secara maksimal yang menyebabkan programbelum tercapai. Untuk Perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan monitoring evaluasi sudah berjalan dengan baik walaupun masih ada kendala. Diharapkan hasil penelitian ini dapat meningkatkan lagi kegiatan Pos Gizi.Daftar Bacaan             : 47 (2003-2020)Kata Kunci                  : Analisis, Pos Gizi, Balit

    STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PADA BALITA TERHADAP KEJADIAN STUNTING DALAM SITUASI PANDEMI COVID-19 DI PUSKESMAS BAGIAN TIMUR KABUPATEN KERINCI TAHUN 2021

    Get PDF
    Latar Belakang : Prevalensi status gizi buruk dan gizi kurang balita Provinsi Jambi Pada tahun 2018 didapatkan 19,9% meningkat dibandingkan pada tahun 2013 sebanyak 17,2%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Strategi Pemberdayaan Masyarakat Pada Balita Terhadap Kejadian Stunting Dalam Situasi Pandemi COVID-19 Di Puskesmas Bagian Timur Kabupaten Kerinci Tahun 2021. Metode Penelitian menggunakan jenis mixed methods, kuantitaitf menggunakan pendekatan crossectional dan kualitatif menggunakan pendekatan Fenomenologi di lakukan pada bulan Mei-Juli 2021, populasi sebanyak 2488 orang dan sampel 93 orang yaitu balita di Di Puskesmas Bagian Timur Kabupaten Kerinci Tahun 2021 dan informan sebanyak  9 orang. Analisis data dengan Uji Chi Square dan uji regresi logistik.Hasil Penelitian Hasil uji statistic Chi-Square Riwayat BBLR (0,000), Penyakit Infeksi (0,000), dan Pola Pemberian Makan 0,000), riwayat ASI ekslusif (0,003), pelayanan kesehatan (0,037),  disimpulkan adanya hubungan Riwayat BBLR, Penyakit Infeksi, Pola Pemberian Makan, riwayat ASI ekslusif, pelayanan kesehatan Terhadap Kejadian Stunting Dalam Situasi Pandemi COVID-19 Di Puskesmas Bagian Timur Kabupaten Kerinci Tahun 2021. Kesimpulan Didapatkan faktor yang paling dominan Terhadap Kejadian Stunting Dalam Situasi Pandemi COVID-19 yaitu riwayat BBLR (p-value 0,000). Input sudah tercapai, proses sudah berjalan dengan baik, Dan output belum tercapainya target program pencegahan stunting yang disebakan karen kurang maksimalnya kegiatan yang dilakukan dalam masa pandemi covid-19, Disarankan pada Puskesmas agar meningkatkan strategi Pemberdayaan Masyarakat berupa sosialisasi tentang pembuatan makan yang menarik berupa nugget tempe, nugget ikan, dan nugget sayuran yang memiliki nilai gizi tinggi sehingga akan mengurangi kejadian stunting pada balita tersebut.Kata Kunci     : Pelayanan Kesehatan, Penyakit Infeksi, Pola Pemberian Makan, Riwayat BBLR, Riwayat ASI ekslusif, Strategi Pemberdayaan Masyaraka

    ANALISA PELAKSANAAN INVESTIGASI KONTAK DAN PEMBERIAN TERAPI PENCEGAHAN TUBERKULOSIS PADA ANAK DI KOTA PARIAMAN TAHUN 2020

    Get PDF
    Tuberkulosis (TB) anak merupakan penyakit yang menjadi permasalahan kesehatan baik ditingkat Global, Nasional, sampai ketingkat kabupaten/kota. Dampak tidak dilakukannya penemuan kasus TB pada anak terutama balita yaitu beresiko tertular kuman TB yang menyebabkan balita menjadi sakit TB. Jika tidak diobati maka balita akan mengalami TB berat hingga terjadinya kematian. Masih rendahnya penemuan kasus TB pada balita disebabkan penemuan kasus masih bersifat pasif, yaitu menunggu di Puskesmas. Kebijakan Kementerian Kesehatan RI dalam penemuan kasus yaitu menggunakan pelaksanaan investigasi kontak TB. Penemuan kasus TB anak di Kota Pariaman 3 (tiga) tahun terakhir mengalami penurunan dan pemberian terapi pencegahan pada balita di Kota Pariaman belum pernah dilaksanakan dalam 3 (tiga) tahun tarakhir ini. Tujuan penelitian ini untuk melihat gambaran pelaksanaan investigasi kontak dan pemberian terapi pencegahan di Kota Pariaman Tahun 2020. Metode yang dipakai pada penelitian ini yaitu menggunakan mix methode. Hasil penelitian pelaksanaan investigasi kontak TB belum berjalan optimal yang disebabkan karena masih lemahnya pernecanaan program TB sehingga tidak adanya anggaran khusus dalam pelaksanaan investigasi kontak. Selain perencanaan yang lemah, penyebab belum optimalnya pelaksanaan investigasi kontak adalah masih kurangnya koordinasi serta monitoring dan evaluasi baik dari tingkat Dinas Kesehatan maupun dari pihak Puskesmas.Kata kunci: TB balita, investigasi kontak TB, Terapi Pencegahan T

    STUDI IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PERATURAN MENTERI KESEHATAN NO.97 TAHUN 2014 TENTANG PEMERIKSAAN STATUS ANEMIA CATIN WANITA DI PUSKESMAS WILAYAH KERJA KOTO TANGAH

    Get PDF
    Phenomenon of implementation Health Minister Rule No 97 2014 about checking anaemia for bride is to become background of this research. Unfortunately it is less to get response in low level. This research aims at analysing rule policy of it, start from (1) input, encompasses policy, man, money, material and method in checking bride anaemia in Koto Tangah community health center. (b) Process, encompasses planning, organising, actuating, controlling, recording/reporting (c) Output, to increase in term of checking anaemia status to the bride. This research uses policy analyses and it is qualitative. There are five areas as a locus. All of them are located in Koto Tangah Districts and under Koto Tangah Community Health Center. The research had conducted from October 2020 to April 2021. Rationale of locus is based on less optimum in checking anaemia for brides when they conduct general check-up in health community centre. Besides, the most of brides check their health and go to the District Religious Office in Koto Tangah than other districts. Informan in this research are purposives. They are chosen because they are seemed eligible to give information on anaemia checking to the brides. The results point out that (1) input, Padang City do not have derivative policies related to the examination of bride’s anemia status. There is no special budget for this activity. The written SOP for catin services is only available in the Air Dingin Community Health Center. The MOU with Districts Religious  Office in Koto Tangah is already exists. However, mutual commitment is still lacking. The infrastructure, which consists of Hb examination tools, reagents and Fe tablets and leaflet / form for healthy bride and groom cards, are readily available. However, the Hb examination tools at the community health centers are different. (2) The process is, there is no planning, the rule of the bride inspection officer is not there, a double standard of financing for paint inspection is found. Monitoring has never been done. (3) There is no output of anaemia status examination for puskesmas, so it cannot be analyzed because targets and achievements do not exist yet. It is recommended to the Padang City Government to make a local regulation related with Health Minister Rule No. 97 of 2014 to cross-related sectors, namely DKK Padang City, Ministry of Religion of Padang City, districts religion office (KUA) and at community health center further strengthen the input to output policy system

    ANALISIS PENYEBAB RENDAHNYA KEPERSERTAAN MANDIRI PADA PROGRAM JAMINAN KESEHATAN NASIONAL

    Get PDF
    Pemerintah Indonesia sebagai pelaksana untuk mewujudkan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia mengeluarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 12 tahun 2013 mengeluarkan kebijakan sejak tanggal 1 Januari 2014 akan menerapkan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bagi seluruh rakyatnya secara bertahap hingga 1 Januari 2019. Jaminan kesehatan ini merupakan pola pembiayaan yang bersifat wajib, artinya pada tanggal 1 Januari 2019 seluruh masyarakat Indonesia harus telah menjadi peserta. Namun sebanyak 59,5% masyarakat pekerja mandiri belum mengikuti program tersebut. Tujuan dari studi ini yakni mengidentifikasi akar penyebab masalah rendahnya kepesertaan JKN pada pekerja mandiri menggunakan metode Fishbone. Desain penelitian merupakan cross-sectional dengan teknik simple random sampling. Teknik pengumpulan data yakni wawancara dan observasi langsung. Faktor penyebab yang teridentifikasi sebagai akar penyebab masalah antara lain tidak puasnya masyarakat terhadap layanan yang diberikan BPJS Kesehatan, waktu tunggu yang lama, proses administrasi yang rumit, iuran bulanan mahal, penggunaan layanan kesehatan tidak aktif, ketidakdisiplinan membayar iuran setiap bulan, rendahnya pengetahuan dan kurangnya informasi mengenai program JKN

    ANTI-VASCULAR ENDOTHELIAL GROWTH FACTOR PADA RETINOPATHY OF PREMATURITY

    Get PDF
    Introduction: Vascular endothelial growth factor (VEGF) is an important mediator of pathological neovascularization and ocular vascular permeability.  In phase I ROP, VEGF levels decrease due to hyperoxia but increase sharply in phase II ROP due to hypoxia, which triggers retinal neovascularization.  Purpose: To increase understanding of anti-VEGF injection therapy as a management for ROP in order to avoid serious complications such as blindness in children.  Result: The use of intravitreal therapy targeting VEGF is increasingly in demand and has changed the way of view in treating vitreoretinal disease in children, especially in cases with severe posterior abnormalities, media opacity, and unstable systemic Compared with laser, anti-VEGFallows retinal vasculature to further vascularize toward the peripheral retina. Conclusion: Although it has many advantages, it is necessary to have a good understanding and continuous observation of systemic side effects and long-term neurodevelopment in children after anti-VEGF injection given that this action is a new therapy  compared to others

    PENGARUH PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN PEMULIHAN (PMT-P) INOVASI BERBASIS KURMA, HABBATUSSAUDA, DAN ZAITUN TERHADAP KENAIKAN BERAT BADAN BALITA WASTING

    Get PDF
    ABSTRAKWasting merupakan kondisi berat badan anak menurun, sangat kurang, atau bahkan berada di bawah rentang normal. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh PMT-P terhadap kenaikan berat badan balita. Jenis penelitian ini adalah Quasi Eksperimen dengan pendekatan Case Control yang dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2021. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita wasting di Kabupaten Padang Pariaman. Pengambilan sample menggunakan purposive sampling, yaitu 10 kelompok intervensi dan 10 kelompok kontrol. Analisa yang digunakan adalah analisa Univariat dan Bivariat dengan uji T-Tes. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat perbedaan berat badan balita wasting setelah pemberian cookies, hasil uji T-Paired berat badan sebelum intervensi 9,6 Kg dengan standar deviasi 1,21% dan setelah intervensi 10,5% Kg dengan standar deviasi 1,262%. Perbedaan berat badan sebelum intervensi dan sesudah intervensi sebesar 0,92 Kg. Hasil T-Independen menunjukan nilai P-Value sebesar 0,265 > 0,05 dengan artian tidak ada perbedaan yang signifikan rata-rata hasil penimbangan berat badan balita antara kelompok kontrol dengan kelompok intervensi. Berdasarkan hasil penelitian, tidak ada pengaruh pemberian cookies berbahan kurma, habbatusauda dan zaitun terhadap perbedaan rata-rata berat badan balita. Oleh sebab itu diharapkan bagi peneliti selanjutnya untuk mengaplikasikan PMT-P inovasi ini minimal 90 hari ke balita wasting, dan di harapkan tenaga kesehatan meningkatkan pelayanan terkait edukasi, dan penyuluhan pada dan keluarga yang memiliki balita tentang terapi komplementer yang efektif terhadap peningkatan berat badan balita Kata Kunci                  : Wasting, Kurma, Habbatusauda, dan Zaitu

    970

    full texts

    1,084

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Scientific Journals of Fort De Kock University
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇