Scientific Journals of Fort De Kock University
Not a member yet
1084 research outputs found
Sort by
DETERMINAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI TRADISIONAL DI JAWA TIMUR
Abstract: Determinant of Traditional Contraceptive Use in East Java. The 2002-2017 IDHS data showed an increasing percentage of traditional contraceptive users in Indonesia, including in East Java from 2.8% to 6.7%. This study aimed to analyze the determinants of traditional contraceptive use in East Java. This study was a non-randomized study with cross sectional design using 2017 IDHS secondary data. The sample study was 5,583 married reproductive age women aged 19-49 years from the 2017 IDHS data of East Java. Data were analyzed by multiple logistic regression. The determinant factors of traditional contraceptive use in 2017 IDHS data of East Java were Method Information Index (p = 0,000), age of woman (p = 0,025), education (p = 0,000), place of residence (0,004), knowledge of woman’s fertile period (p = 0,006), and information from TV (p = 0.005). While information from radio (0.142) was not related to the use of traditional contraceptives. A policy on the use of modern contraceptives is needed, which is targeted and focused on women of childbearing age married with a higher education background in urban areas. Optimizing the role of family planning counselors to increase family planning knowledge is very important in increasing the use of modern contraceptives in East Java. Keywords: determinant, traditional contraceptive, married reproductive age women Abstrak: Determinan Penggunaan Alat Kontrasepsi Tradisional di Jawa Timur. Data SDKI 2002-2017 menunjukkan peningkatan persentase pengguna alat kontrasepsi tradisional di Indonesia, termasuk di Jawa Timur dari 2,8% menjadi 6,7%. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor determinan penggunaan alat kontrasepsi tradisional di Jawa Timur. Penelitian ini merupakan penelitian nonreaksional dengan desain cross-sectional menggunakan data sekunder SDKI 2017. Sampel penelitian 5.583 WUS kawin 19-49 tahun dari data SDKI Jawa Timur 2017. Data dianalisis dengan regresi logistik ganda. Faktor determinan penggunaan alat kontrasepsi tradisional di Jawa Timur 2017 diantaranya Method Information Index (p=0,000), umur wanita (p=0,025), pendidikan (p=0,000), tempat tinggal (0,004), pengetahuan masa subur (p=0,006), dan sumber informasi TV (p=0,005). Sedangkan informasi dari radio (0,142) tidak berhubungan dengan penggunaan alat kontrasepsi tradisional. Diperlukan kebijakan penggunaan alat kontrasepsi modern yang lebih tepat sasaran dan memfokuskan pada WUS kawin dengan latar pendidikan tinggi di perkotaan. Optimalisasi peran PKB untuk meningkatkan pengetahuan KB sangat penting dalam peningkatan penggunaan alat kontrasepsi modern di Jawa Timur. Kata kunci: determinan, alat kontrasepsi tradisional, WUS kawi
HUBUNGAN ANTARA PELAKSANAAN TIMBANG TERIMA (OPERAN SHIFT) DENGAN KESELAMATAN PADA PASIEN DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM DAERAH AJIBARANG
ABSTRACTLatar Belakang : Timbang Terima adalah suatu cara untuk menyampaikan informasi kepada pasien yang mencakup tentang keadaan pasien dari perawat sebelumnya ke perawat yang akan melanjutkan tindakan keperawatan. Komunikasi dalam timbang terima memiliki peranan yang penting dalam penyampaian berbagai informasi pasien, yang seharusnya dilaksanakan sesuai dengan SPO yang berlaku pada setiap pergantian shift, karena SPO tersebut dapat menunjang tidak terjadi kesalahan tindakan atau melalaikan suatu tindakan yang akan dapat beresiko terhadap keselamatan pasien.Tujuan Penelitian: Mengetahui Hubungan Antara Pelaksanaan Timbang Terima Dengan Keselamatan Pada Pasien di Ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah Ajibarang.Metode Penelitian : Jenis penelitian Kuantitatif menggunakan desain deskriptif analitik dengan menggunakan metode cross sectional. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 50 responden. Teknik pengambilan sampel proportional startified random sampling, pengambilan data menggunakan kuesioner, analisa data menggunakan uji Chi-square.Hasil Penelitian : Hasil penelitian sebagian besar responden berumur 26-35 tahun berjumlah 27 responden, berjenis kelamin perempuan berjumlah 28 responden, berpendidikan D3 berjumlah 31 responden. Terdapat hubungan anatara pelaksanaan timbang terima dengan keselamatan pasien diperoleh nilai p-value = 0,000.Kesimpulan : Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan antara pelaksanaan timbang terima dengan keselamatan pasien diruang rawat inap RSUD Ajibarang.Kata Kunci : keselamatan pasien, timbang terima,pelaksanaan. 1Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Faultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Purwokerto2Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Purwokerto PENDAHULUANBerdasarkan data yang didapatkan beberapa temuan angka insiden keselamatan pasien pada bulan januari-oktober 2019, diantaranya Kejadian Nyaris Cidera (KNC) sebanyak 35 yaitu salah pemberian obat namun diketahui sebelum dilakukan tindakan, Kejadian Tidak Cidera (KTC) sebanyak 18 yaitu kesalahan pemberian obat pada pasien namun tidak ada reaksi apapun yang terjadi dan Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) sebanyak 5 yaitu salah pemberian obat namun ada insiden ke pasien seperti gatal-gatal.Permenkes Nomor 11 tahun 2017 juga mengatur tentang keselamatan pasien sebagai suatu sistem yang membuat pasien lebih aman, dengan tindakan untuk meminimalkan terjadinya resiko serta pencegahan terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat pelaksanaan tindakan atau seharusnya melakukan tindakan namun tidak dilakukan.METODEJenis penelitian Deskriptif Analitik. dengan menggunakan metode cross sectional. Teknik sampling menggunakan teknik proportional startified random sampling. Kriteria inklusi:Perawat yang bertugas diruang rawat inap RSUD Ajibarang,Perawat yang bersedia mengisi kuesioner, Perawat yang bersedia menjadi responden. Kriteria ekslusi: Perawat yang sedang cuti melahirkan, Perawat yang sedang cuti pelatihan, Kepala ruang dan Wakil Kepala ruang rawat inap di RSUD Ajibarang.Tempat penelitian dilakukan diruang rawat inap RSUD Ajibarang. penelitian menggunakan kuesioner dan teknik pengumpulan data dengan cara pengisian kuesioner yang di dilakukan sendiri oleh responden.HASIL DAN PEMBAHASAN1. Karakteristik respondenTabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan.NokarakteristikN%1.Usia17-25 tahun26-35 tahun36-45 tahun 82715 16%54%30%2.Jenis kelaminLaki-lakiPerempuanJumlah 222850 44%56%100,0%3.PendidikanD3S1NersJumlah 31171250 62%14%24%100%Berdasarkan tabel 4.1 diatas dari 50 responden di RSUD Ajibarang sebagian besar responden berumur 26-35 tahun sebanyak 27 (54,0%), berdasarkan jenis kelamin mayoritas responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 28 responden (56,0%). Berdasarkan tingkat pendidikan mayoritas responden berpendidikan D3 sebanyak 31 responden (62,0%).2. Tabel 4.2 Distribusi Karakteristik responden Berdasarkan Peran Perawat dalam Timbang TerimaNoPeran perawat dalam timbang terimaF (%)1.Baik3162,0%2.Cukup1938,0%3.Kurang00 Total50100,0% Timbang terimaKeselamatan pasienTotalp-ValueBaikCukupN%N%N% Baik2787,1412,9311000,000Cukup736,81263,219100 Total3468,01632,050100 Berdasarkan tabel 4.2 diatas diruang rawat inap RSUD Ajibarang peran perawat yang baik dalam pelaksanaan timbang terima sebanyak 31 responden (62,0%) Sedangkan peran perawat yang memiliki peran cukup baik dalam timbang terima sebanyak 19 responden atau sekitar (38,0%) dari total 50 responden.Tabel 4.3 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Peran Perawat dalam keselamatan pasien NoPeran perawat dalam Keselamatan pasienF%1Baik3468,0%2Cukup1632,0%3Kurang00 Total50100 %Tabel 4.3 diatas peran perawat dalam keselamatan pasien diruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah Ajibarang dapat dilihat bahwa dari 50 responden peran perawat yang baik dalam keselamatan pasien sebanyak 34 responden atau sekitar (68,0%) Sedangkan responden yang memiliki peran cukup baik dalam keselamatan pasien sebanyak 16 responden atau sekitar (32,0%) dari total 50 responden. Tabel 4.4 Hubungan pelaksanaan Timbang Terima dengan Keselamatan pada pasien Tabel 4.4 menunjukan bahwa perawat yang memiliki peran baik dalam timbang terima sebanyak 27 repoden (87,1%) dan perawat yang memiliki peran cukup dalam timbang terima dan kurang mengoptimalkan keselamatan pasien sebanyak 4 responden (12,9%). Sedangkn perawat yang memiliki peran cukup baik dalam timbang terima dengan mengoptimalkan keselamatan pasien sebanyak 7 responden (36,8%), dan perawat yang memiliki peran cukup baik dengan kurang mengoptimalkan keselamatan pasien sebanyak 12 responden (63,2%).PEMBAHASANa. Karakteristik Responden Berdasarkan hasil penelitian sebagian besar responden di Puskesmas Sumpiuh 1 berumur 26-35 tahun sebanyak 27 responden (54,0%). Hal tersebut menunjukan bahwa semakin muda umur seseorang maka semakin kritis juga dalam berfikir. Hal ini tidak sejalan dengan Penelitian Nitisemito dalam (Kirana 2016), yang menyatakan bahwa usia lebih muda umumnya kurang memiliki sikap disiplin dalam bekerja dibandingkan dengan usia yang lebih tua.Berdasarkan hasil penelitian sebagian besar berjenis kelamin perempuan sebanyak 28 responden (56,0%).Hal ini sesuai dengan filosofi mother instinct bahwa mayoritas perawat datang dari kaum perempuan, dimana seorang perempuan memiliki naluri merawat diri sendiri sebagaimana tercermin pada seorang ibu serta naluri yang sederhana dalam memelihara kesehatan keluarganya dan anak-anaknya. Namun hasil penelitian memperlihatkan bahwa jenis kelamin tidak memiliki hubungan dengan keselamatan pasien.Hal ini sejalan dengan penelitian Dewi (2011) yang menyebutkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan keselamatan pasien. Berdasarkan hasil penelitian sebagian besar pendidikan responden tertinggi yaitu D3 sebanyak 31 responden (62,0%).Menurut Mubarok (2007) pendidikan merupakan faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang, karena pendidikan adalah bimbingan yang diberikan seseorang kepada orang lain terhadap suatu hal agar dapat memahami Semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin mudah mereka menerima informasi, dan semaki banyak pula pengetahuan yang didapat.Hal ini sejalan dengan penelitian Bawelle (2013) yang berjudul Hubungan Pengetahuan dan Sikap Perawat dengan Pelaksanaan Keselamatan Pasien (Patient Safety) di Ruang Rawat Inap RSUD Liun Kendage Tahuna yang menyatakan bahwa semakin tinggi pengetahuan seseorang semakin baik dalam pelaksanaan keselamatan pasien.b. Timbang terimaBerdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa dari 50 responden dalam kategori pelaksanaan timbang terima baik sebanyak 31 responden (62,0%) dan cukup baik sebanyak 19 responden (38,0%). timbang terima dilakukan oleh perawat primer keperawatan kepada perawat primer (penanggung jawab) dinas sore atau dinas malam secara tertulis dan lisan, untuk mengatasi risiko-risiko bagi keamanan pasien yang terjadi karena komunikasi yang buruk pada saat pergantian dinas (Nursalam,2014).Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Manopo (2013) Tentang Hubungan Antara Penerapan Timbang Terima Pasien dengan Perawat Pelaksana di RSU GMIM Kolaboran Amorang dimana didapatkan nilai ρ=0,000 < 0,05 hal ini menunjukan bahwa ada hubungan antara penerapan timbang terima pasien dengan keselamatan pasien.Keselamatan pasienBerdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa dari 50 responden, yang baik dalam mengoptimalkan keselamatan pasien sebanyak 34 responden atau sekitar (68%) dan cukup baik sebanyak 16 responden atau sekitar (32%) dari total 50 responden.Komunikasi yang baik yang diberikan perawat dalam pertukaran shift (operan) sangat membantu dalam perawatan pasien dan komunikasi yang buruk atau tidak efektif dapat mengakibatkan kematian atau cidera yang serius pada pasien.Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Triwibow (2016) yang berjudul Handover sebagai upaya peningkatan keselamatan pasien (patient safety) dirumah sakit, didapatkan nilai ρ= 0,04 < α= (0,05) dapat diartikan bahwa terdapat hubungan antara pelaksanaan handover dengan patient safety druang rawat inap Rumah Sakit paru Sidawangi provinsi jawa barat.d. Hubungan antara pelaksanaan timbang terima dengan keselamatan pasienBerdasarkan hasil analisis tabel 4.2.1 dapat diketahui bahwa penelitian yang dilakukan kepada 50 perawat pelaksana diruang rawat inap RSUD Ajibarang dengan menggunakan hasil uji pearson chi square menunjukan nilai ρ= 0,000 < α= 0,005 artinya ada hubungan antara pelaksanaan timbang terima dengan keselamatan pasien diruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah Ajibarang.Timbang terima adalah teknik untuk menyampaikan dan menerima suatu informasi yang berkaitan dengan keadaan pasien. Timbang terima harus dilakukan seefektif mungkin dengan menjelaskan secara singkat, jelas dan lengkap tentang tindakan mandiri perawat, tindakan kolaboratif yang sudah dan belum dilakukan serta perkembangan pasien pada saat itu.Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Andi Mapanganro (2019) yang berjudul Hubungan Peran Perawat dalam timbang terima dengan upaya mengoptimalkan keselamatan pasien di Ruang Rawat Inap Rumah sakit TK II Pelamonia, didapatkan nilai ρ= 0,005 < α= 0,005. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara peran perawat dalam timbang terima dengan upaya mengoptimalkan keselamatan pasien di Ruang Rawat Inap Rumah sakit TK II Pelamonia.KESIMPULANBerdasarkan hasil dan pembahasan penelitian diatas peneliti menyimpulkan sebagai berikut: Karakteristik responden RSUD Ajibarang pada penelitian ini berusia 26-35 tahun sebanyak 27 responden (54,0%), jenis kelamin perempuan sebanyak 28 responden (56,0%), dan berdasarkan tingkat pendidikan tertinggi yaitu D3 sebanyak 31 responden (62,0%).UCAPAN TERIMAKASIHNs.Etlidawati S. Kep., M. Kep selaku pembimbingDr. Jebul Suroso S.kep Ns. M.kep selaku penguji 1Kris Linggardini, S. Kp., M. Kep selaku Penguji 2Seluruh Dosen dan staf Akademik Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah PurwokertoKedua orang tua dan orang terkasih yang telah memberikan dukungan dan do’a.Terima kasih atas support kepala direktur RSUD Ajibarang yang memberikan ijin kepada peneliti sehingga dapat melaksanakan penelitian di ruang rawat inap RSUD Ajibarang.Terima kasih kepada kepala ruangan dan perawat ruang rawat inap di RSUD Ajibarang yang telah membantu dalam proses pengumpulan data dalam penelitian ini.DAFTAR PUSTAKAAndi Mapanganro (2019). Hubungan Peran Perawat dalam timbang terima dengan upaya mengoptimalkan keselamatan pasien di Ruang Rawat Inap Rumah sakit TK II Pelamonia.Bawelle, S. (2013). Hubungan Pengetahuan dan Sikap Perawat dengan Pelaksanaan Keselamatan Pasien.Dewi, M. 2011. Pengaruh Pelatihan Timbang Terima Pasien Terhadap Penerapan Keselamatan Pasien Oleh Perawat Pelaksana di RSUD Raden Mattaher Jambi. Jurnal Health & Sport, 5 (3) 646-655Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2017 Tentang Keselamatan Pasien. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2017.Kirana, D. (2016).Hubungan sikap disiplin perawat dengan efektivitas pelaksanaan timbang terima di RSUD dr. Abdoer Rahim Situebondo. (Tesis, Universitas Jember).Mubarok, WI. (2007). Promosi Kesehatan Sebuah Pengantar Belajar Mengajar dalam Pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu.Manopo, Q. (2013). Hubungan Antara Penerapan Timbang Terima Pasien dengan Keselamatan Pasien Oleh Perawat Pelaksana di RSU GMIM Kalooran Amurang. , vol 6(1),1-5.Nursalam. (2014). Manajemen Keperawatan : Aplikasi dalam Praktek Keperawatan Profesional. Jakarta : Salemba Medika.Trwibowo, C., Sulhah., Nur (2016). Handover Sebagai Upaya Peningkatan Keselamatan Pasien (Patient safety). Keperawatan Soederman. Vol 11(2).76-80.
HUBUNGAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN DENGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN RAWAT INAP DI RSUD dr. RASIDIN PADANG
ABSTRACTQuality is a concept that is applied and practiced in the same way and style in every situation. RSUD dr. Rasidin Padang is a type C government-owned hospital with minimal facilities. The purpose of this study was to determine the relationship between the quality of health services and the level of satisfaction of inpatients at dr. Rasidin Padang. The design of this study was a cross-sectional analytic survey. The population was all inpatients at dr. Rasidin as many as 48 people taken by total sampling. The results showed that 64.6% of respondents expressed dissatisfaction with health services, 70.8% of respondents stated that the quality of health services was not good, 64.6% of respondents stated that they were not good with physical evidence (Tangibles), 62.5% of respondents said they were not Good for reliability (reliability), 64.6% of respondents said they were not good at responsiveness (Responsiveness), 58.3% of respondents said they were not good at assurance (Assurance), and 64.6% of respondents said they were not good at empathy (Emphaty) . Variables that have a significant influence on service quality with the level of patient satisfaction (pvalue = 0.001), physical evidence (pvalue = 0.028), reliability (pvalue = 0.001), responsiveness (pvalue = 0.028), assurance (pvalue = 0.007), empathy (pvalue = 0.028). It is recommended that the relevant agencies conduct a patient satisfaction survey at least once a year by utilizing the existing suggestion box.Keyword: Patient Satisfaction Level, Quality of Health Services ABSTRAKMutu merupakan suatu konsep yang diterapkan dan dipraktikan dengan cara dan gaya yang sama pada setiap keadaan. RSUD dr. Rasidin Padang merupakan rumah sakit milik pemerintah tipe C yang minim dengan fasilitas. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan mutu pelayanan kesehatan dengan tingkat kepuasan pasien rawat inap di RSUD dr. Rasidin Padang. Desain penelitian ini adalah survey analitik cross-sectional. Populasi adalah seluruh pasien rawat inap di RSUD dr. Rasidin sebanyak 48 orang yang diambil secara total sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa 64,6% responden menyatakan tidak puas terhadap pelayanan kesehatan, 70,8% responden menyatakan mutu pelayanan kesehatan tidak baik, 64,6% responden menyatakan tidak baik terhadap bukti fisik (Tangibles), 62,5% responden menyatakan tidak baik terhadap kehandalan (Reability), 64,6% responden menyatakan tidak baik terhadap daya tanggap (Responsiveness), 58,3% responden menyatakan tidak baik terhadap jaminan (Assurance), dan 64,6% responden menyatakan tidak baik terhadap empati (Emphaty). Variabel yang mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap mutu pelayanan dengan tingkat kepuasan pasien (pvalue=0.001), bukti fisik (pvalue=0.028), kehandalan (pvalue=0.001), daya tanggap (pvalue=0.028), jaminan (pvalue=0.007), empati (pvalue=0.028). Disarankan kepada instansi terkait untuk melakukan survey kepuasan pasien minimal satu kali dalam setahun dengan memanfaatkan kotak saran yang sudah ada.Kata Kunci: Tingkat Kepuasan Pasien, Mutu Pelayanan Kesehata
Pengaruh Pemberian Kompres Bubuk Jahe Merah Terhadap Nyeri Pada Lansia Dengan Gout Arthtritis
Background: Gout was once called the king of disease and disease of king. Ordinary people call it gout. Gout is a metabolic disease caused by excess levels of uric compounds in the body, either due to overproduction, inadequate elimination, or increased purine intake. This study aims to determine the effect of giving red ginger powder compresses to pain in the elderly with gout arthritis. Methods: This study used the Quasy Experiment design with the design used was the pretest-posttest control group design. Results: The results showed that there was a significant effect of giving red ginger powder on pain in the elderly with Gout Arthritis (p-value = 0.000). The Respondents 'Pain Scale Before Giving Ginger Powder Compress with a mean = 4.20 and there was a decrease in the Respondents' Pain Scale after Ginger Powder Compress was given with a mean = 2.30. Conclusion: It can be concluded that the administration of red ginger powder compresses can reduce pain in the elderly. Therefore, it is advisable for gout arthritic patients to take advantage of red ginger powder compresses as an effort to control gout arthritis.Keywords: Pain, Gout Arthritis, Red ginger powder compress, Elderl
Effectiveness of Educational Programme on Knowledge Regarding Hepatitis-B Prevention Among African Undergraduate Students of Health Sciences
Hepatitis B is an inflammatory disease of the liver which is caused by Hepatitis B Virus. It is a global problem, with 66% of all the population living in areas where there are high levels of infections. Hepatitis B infection may be due to lapses in the sterilization of instruments as well as improper waste management. Knowledge regarding Hepatitis B and safety precautions is needed to minimize the health care setting’s acquired infections among health personnel and students of health Science. The objectives of the study are: (a) To assess the knowledge regarding Hepatitis B prevention among African Students of Health Sciences (b) To evaluate the effectiveness of the structured teaching program regarding knowledge on prevention of hepatitis B among the students. A Quasi-experimental design was adopted and a sample of 50 African students were selected by non-probability purposive sampling technique. Data was collected by administering structured questionnaire before and after the implementation of structured teaching program. Data were analyzed using descriptive and inferential statistics and represented in tables and graphs. In the present study 66% of respondents had inadequate knowledge regarding Hepatitis B prevention before the implementation of structured teaching Program. But after the implementation of structured teaching program, 14% had moderate score and remaining 86% had adequate knowledge. The findings of the study revealed that the mean Post-test knowledge score (26.06) of the students exposed to structured teaching program was higher than the mean Pretest knowledge score (15.74) which was tested to be significant at P- value of 0.001 levels, which indicates the structured teaching program was effective. The overall findings of the study showed that there was a significant improvement in the knowledge scores after the administration of structured teaching program. Hence it can be concluded that structured teaching program was effective in improving the knowledge of African students regarding hepatitis B prevention
EFEKTIVITAS SERBUK DAUN LIDAH MERTUA DALAM MENETRALISIR KADAR KARBON MONOKSIDA PADA ASAP ROKOK
Carbon monoxide is a chemical that may damage the respiratory system. It can be controlled by using powdered of Powder of Sansevieria leaves. The purpose of this research was to determine The Effectiveness of Sansevieria Leaves by Using Time Variations toward Carbon Monoxide Levels Neutralization in Cigarette Smoke. This research used experimental design with the dependent variable was carbon monoxide level and independent variable was sansevieria leaves powder. It was conducted on July 10 to July 21, 2019. The data were taken by PPM. The average of sansevieria leaves powder 30 gr by using a time variation was 6.12,24 and 48 hours. The data were analyzed by Anova test with post test only approach. The results showed that the 4 treatment groups for neutralizing carbon monoxide levels were by using sansevieria leaves - powder at 24 hours with P = 0.277 and 48 hours with p = 0.505. It can be concluded that sansevieria leaves powder is able to neutralize carbon monoxide levels in cigarette smoke. For this reason, it is hoped that these leaves can be used and applied especially for families who smoke and other health agencies
PKMS PENERAPAN VIDEO PEMBELAJARAN DAN RUANG TERAPI (MIRACLE KIDS) BERBASIS TEKNOLOGI BAGI TENAGA DIDIK ANAK SEKOLAH LUAR BIASA NEGERI 1 BUKITTINGGI
Anak kebutuhan khusus sangat terbatas dalam akses informasi kesehatan hal ini menjadi penyebab anak mengalami berbagai macam gangguan baik secara fisik maupun secara biologis. Keterbatasan pengetahuan pendidik anak di seolah SLB juga mengakibat kan kurang nya informasi anak SLB dan orang tua mengenai kesehatan anak nya. Tenaga Pendidik dengan Anak dengan kebutuhan khusus memerlukan berbagai informasi mengenai pembuatan media animasi vidio pembelajaran dan Ruang terapi bermain demi menunjang pembelajaran via daring. Metode: Metode kegiatan yang dilakukan adalah dengan memberikan pelatihan sekaligus meniali kemampuan guru dalam membuat vidio animasi dan terbentuk ruang bermain anak Hasil: hasil dari kegiatanmeningkat pengetahuan guru mengenai pembuatan vidio animasi dan bermain pada anak dengan kebutuuhan khusus. Simpulan: pelatihan dan workshop dapat berpengaruh dalam meningkatkan pengetahuan tenaga pendidik SLB Negeri 1 Bukittinggi
PENYULUHAN TENTANG APOTIK HIDUP DI PONDOK PESANTREN SUMATERA THAWALIB PARABEK, BUKITTINGGI
Pendahuluan: Permasalahan resistensi obat konvensional, membuat tanaman obat menjadi sangat popular digunakan sebagai bahan baku obat tradisional dan jamu yang digunakan dalam menjaga kesehatan. Akan tetapi pemanfaatan tanaman obat belum dilakukan secara maksimal, hanya 0,2% lahan yang dimanfaatkan untuk produksi tanaman obat.Metode: Kegiatan yang digunakan dalam program pengabdian masyarakat ini berupa Penyuluhan Tentang Apotik Hidup Di Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek, Bukittinggi. Monitoring dan evaluasi diperoleh dari hasil observasi dan kuisioner yang diberikan kepada peserta.Hasil: Dari hasil monitoring kegiatan berjalan dengan baik dan lancar dengan dukungan dari guru dan antusias siswa, serta farktor penghambat yaitu waktu dan ruangan. Dari hasil evaluasi menggunakan statistik univariat, diperoleh 39% peserta memiliki pengetahuan baik dan 61% peserta memiliki pengetahuan cukup.Kesimpulan: Kegiatan ini berjalan dengan baik dan lancar. Ketercapaian target pengetahuan siswa Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek tentang apotik hidup 39%
PENERAPAN SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT (STBM) UNTUK MENGURANGI KEBIASAAN MASYARAKAT BUANG AIR BESAR SEMBARANGAN (BABS) DI NAGARI TANJUANG BUNGO DI JORONG KUBU TONGAH
Berdasarkan data STBM Kementerian Kesehatan 2018 akses sanitasi di Indonesia sudah mencapai 75% dengan desa Open Defecation Free (ODF) sebanyak 17.519 desa. Open defecation free adalah kondisi ketika setiap individu dalam komunitas tidak buang air besar sembarangan. Sebanyak 290,86 juta jiwa penduduk Indonesia masih ada 51,44 juta jiwa yang melakukan Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah untuk mengurangi kebiasaan masyarakat buang air bear sembarangan (BABS) di nagari tanjuang bungo di jorong kubu tongah. Metode Pelaksanaan kegiatan pengabdian ini adalah dengan menggunakan metode Problem Solving Cycle, untuk mengkaji permasalahan kebiasaan BABS masyarakat. Metode ini dimulai dari analisis situasi, identifikasi masalah, prioritas masalah, analisis penyebab masalah dan alternatif pemecahan masalah dan kegiatan intervensi di Jorong Kubu Tongah. Kegiatan pengabdian ini dilakukan selama satu bulan dari bulan februari sampai dengan Maret tahun 2021. Hasil analisis situasi, permasalahan diambil dari progran Kesehatan Lingkungan pada Puskesmas Suliki, dan identifikasi masalah diperoleh masalahnya adalah STBM. Kegiatan intervensi yang dilakukan adalah, Pemberian Leaflet dan Poster, pemberian penyuluhan Stop BABS, jamban Sehat, CTPS serta Sosialisasi Jamban Sehat sederhana dengan biaya mini dan Arisan jamban. Selama pelaksanaan kegiatan pengabdian ini terlaksana sesuai dengan perencanaan yang telah diabuat. Terdapat beberapa kendala pada saat peleksanaan kegiatan intervensi yaitu: masih ada nya masyarakat yang kurang peduli terhadap kebersihan lingkungan. Diaharapkan petugas pukesmas, dapat memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan terutama dalam program STBM
GAMBARAN TINDAKAN KEKERASAN TERHADAP ANAK YANG DIALAMI SISWA SMP DI KABUPATEN PASAMAN TAHUN 2020
Kekerasan terhadap anak merupakan cerminan dari ketidakseimbangan pengaruh/kuasa antara korban dan pelaku yang berdampak pada keselamatan, kesehatan dan perkembangan anak. Masalah KTA yang dihadapi saat ini adalah kejadian yang semakin meningkat, data seperti fenomena gunung es dan pelaku seringkali adalah orang terdekat. Dampak KTA secara langsung adalah anak mengalami komplikasi serius seperti patah tulang, luka bakar ataupun cacat menetap sebanyak 25% dan kematian sebanyak 5%, serta tumbuh kembang anak akan mengalami keterlambatan dibandingkan dengan teman sebayanya. Dampak lainnya adalah dapat mengganggu perkembangan kecerdasan, bahkan berisiko menimbulkan masalah perilaku dimasa depan seperti merokok, penyalahgunaan zat berbahaya dan perilaku seks berisiko. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat gambaran tindakan dan pelaku KTA yang dialami siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Pasaman tahun 2020. Metode penelitian adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional study. Hasil dari penelitian adalah tindakan KTA yang diterima oleh siswa SMP antara lain dicubit (60,30%), dibentak (57,30%) dan dicaci maki (37,70%). Pelaku KTA terbanyak adalah ibu, teman dan ayah. Dari hasil penelitian diharapkan agar Dinas Pemberdayan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPA) Kabupaten Pasaman bersama instansi terkait untuk membuat program pencegahan KTA melalui sosialisasi yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat.Kata kunci: kekerasan terhadap anak, siswa, tindaka