Scientific Journals of Fort De Kock University
Not a member yet
1084 research outputs found
Sort by
ANALISIS PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR MELALUI KEGIATAN CERDIK DI KOTA BUKITTINGGI TAHUN 2020
Penyakit tidak menular menjadi masalah kesehatan masyarakat yang menimbulkan kesakitan, kecacatan, dan kematian yang tinggi, serta menimbulkan beban pembiayaan kesehatan sehingga perlu dilakukan penyelenggaraan penanggulangan. Didapatkan data 71% penyebab kematian di dunia adalah penyakit tidak menular (PTM). Untuk Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan mengajak masyarakat untuk dapat menuju masa muda sehat dan hari tua nikmat tanpa Penyakit Tidak Menular (PTM) dengan perilaku “CERDIK” meliputi,C : cek kesehatan secara berkala E : enyahkan asap rokok R : rutin olahraga D : diet seimbang I : istirahat yang cukup K : kelola stres.Tujuan penelitian ini adalah untuk analisis pengendalian penyakit tidak menular melalui kegiatan CERDIK di 2 Puskesmas Kota Bukittinggi tahun 2020.Penelitian inimenggunakan kualitatif menggunakan pendekatan fenomenologidi lakukan pada bulan Maret-Juli 2020, informan pada penelitian ini sebanyak 15 orang di 2 Puskesmas Kota Bukittinggi tahun 2020.Hasil kualitatif, input(Kebijakan, dana, sdm, sarana dan prasarana) belum sesuai pedoman, proses (sosialisasi, edukasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi sebagian besar sudah berjalan dengan baik, output( cakupan kegiatan, ketepatan sasaran, watu dan distribusi) sudah sesuai.Kesimpulan Penelitian ini dari input, proses , output yang belum sesuai yaitu input, proses sudah terlaksana, output sudah sesuai. Diharapkan dinas kesehatan dan puskesmas dapat bekerja sama membentuk suatu kebiajakan baru terhadap program CERDIK ini. Referensi :13(2007-2020
DETERMINAN PEMILIHAN METODE KONTRASEPSI JANGKA PANJANG (MKJP) PROGRAM KELUARGA BERENCANA
Long-term contraceptive methods have a higher level of effectiveness than other family planning methods. Types of MKJP are IUD, implant, MOW and MOP. The MKJP coverage of West Pasaman Regency in 2020 is only 21.3% and has not reached the set target of 40.5%. This study aims to determine the determinants of the selection of long-term contraceptive methods. This research is a mix method research at February 2022 in West Pasaman District. The population is couples of childbearing age. The sample size is 99 people. The informants is 32. Data were collected by means of interviews and documentation studies. The data that has been collected is processed and analyzed computerized using the Chi Square test. The results Chi Square get p value 0.023 (age), 0.015 (JKN ownership), 0.001 (education), 0.009 (knowledge), 0.003 (attitude), 0.029 (perception), 0.000 (family support), 0.001 (role of health workers) , and 0.023 (culture). The result of logistic regression test is pvalue 0.007 and OR 5.657. Based on the results of the study, the most influential variable on MKJP is age, knowledge, role of health workers and family support . It is recommended that the West Pasaman DPPKBP3A should establish good and sustainable coordination with relevant agencies in order to provide education and motivate couples of childbearing age to participate in using MKJP Keyword : MKJP, determinan
STUDI DESKRIPTIF PELAKSANAAN MANAJEMEN DAN INDIKATOR MUTU KEPERAWATAN DI RUANG RAWAT INAP RSUD M.NATSIR SOLOK
Dewasa ini, dalam manajemen pelayanan diyakini bahwa peningkatan indikator mutu pelayanan merupakan strategi untuk meningkatkan kualitas perawatan pasien di suatu rumah sakit Penerapan indikator mutu sudah berjalan, namun pencapainannya masih belum optimal, sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menjabarkan indikator mutu pelayanan keperawatan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran manajemen dan indikator mutu keperawatan di ruang rawat inap. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analitik, dimana peneliti ingin menggambarkan hasil deskripsi manajemen mutu pelayanan keperawatan di rawat inap RSUD Solok Sumatera Barat, pada pertengahan April 2022. Sampel penelitian ini adalah 60 orang perawat yang mengisi kuesioner yang mendeskripsikan manajemen mutu pelayanan keperawatan yang dijalankan di rumah sakit. Data di analisis secara deskriptif untuk melihat gambaran pelaksanaan indikator mutu. Hasil penelitian ini adalah penerapan indikator mutu pelayanan keperawatan, paling banyak pelaksanaannya dalam kategori baik (66.7%), dan masih ada pelaksanaan yang kurang baik yakni sebesar 33.3%. Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa indikator mutu masih harus ditingkatkan dalam pencapaiannya. DIharapkan hal ini menjadi dasar kuat untuk mengatakan bahwa indikator mutu keperawatan menjadi hal yang mutlak harus ada dan diimplementasikan di rumah sakit. Kata Kunci: Manajemen, Indikator Mutu, Keperawatan, Ruang Rawat Ina
TUGAS DAN PERAN TEKNISI KARDIOVASKULAR DALAM ABLASI ATRIAL FLUTTER
Ablasi jantung adalah perawatan yang digunakan untuk memperbaiki irama jantung yang disebabkan oleh aritmia termasuk atrial flutter. Atrial flutter dibagi menjadi atrial flutter tipikal dan atipikal. Contoh khas dari sirkuit re-entry adalah untuk kembali ke septum atrium dan menghasilkan pulsa gelombang melalui isthmus yang tertutup secara unilateral antara vena cava inferior dan sinus koroner dan anulus. Radiofrequency catheter ablation (RFCA) sangat efektif sebagai terapi lini pertama untuk mempertahankan irama sinus dari atrial flutter dengan tingkat keberhasilan lebih dari 90%. Perawatan utama untuk atrial flutter adalah ablasi kateter pada vena cava trisep. Teknisi kardiovaskular perlu memahami prosedur ablasi atrial flutter, pemantauan hemodinamik, pengukuran hasil, dan interpretasi. Selama tindakan, teknisi kardiovaskular juga memantau tanda-tanda vital, perubahan EKG, dan perubahan tekanan yang terjadi pada pasien dan segera memberi tahu operator jika ada perubahan. Teknisi kardiovaskular juga melakukan entri data pada monitor
EVALUASI TATA KELOLA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DALAM PENGUAT PERAN PEMERINTAH DAERAH BENGKULU
The role and support of the local government (Pemda) is very important in the National Health Insurance (JKN-KIS) program to encourage Universal Health Coverage (UHC) by expanding the coverage of participation, improving service quality, and increasing compliance. One of the efforts that can be made by the Regional Government in expanding participation is to integrate the Regional Health Insurance (Jamkesda) program into the JKN-KIS program. The existence of regulatory fragmentation and disharmony of membership data turned out to provide diversity to the health capacity and governance of JKN implementation in Bengkulu Province
PENGARUH PIJAT PERINEUM PADA IBU HAMIL PRIMIPARA TRIMESTER III TERHADAP DERAJAT RUPTUR PERINEUM DI PMB RIKA HARDI, S.ST
Salah satu penyebab utama perdarahan pada persalinan adalah robekan jalan lahir, termasuk didalamnya laserasi perineum dan terjadi pada hampir setiap persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya (Saifuddin,2016). Upaya preventive yang bisa dilakukan adalah dengan pijat perineum (perineum massage) yaitu pemijatan pada perineum guna meningkatkan aliran darah kedaerah dan meningkatkan elastisitas perineum sehingga bisa meminimalkan terjadinya rupture perineum (Khasanah, dkk, 2020). Tujuan penelitian untuk mengetahui Pengaruh Pijat Perineum Pada Ibu Hamil Primipara Terhadap Derajat Ruptur Perineum di PMB Rika Hardi, S.ST. Desain penelitian ini menggunakan rancangan pre-eksperimen infact Group Comparison. Uji statistik dengan uji Independent T Test Populasi penelitian ini adalah ibu hamil primipara dengan usia kehamilan > 34 minggu. Sampel berjumlah 40 ibu hamil dibagi 2 kelompok yaitu kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Hasil penelitian bahwa kejadian ruptur perineum pada kelompok kontrol, ruptur derajat derajat 2 sebanyak 17 orang (85,0%), ruptur perineum derajat 1 sebanyak 3 orang (15%), dibandingkan dengan kelompok intervensi, terdapat 5 orang (26,7%) tidak mengalami ruptur perineum, 10 orang (50,0%) mengalami ruptur derajat 1 dan 5 orang (25,0%) mengalami derajat 2. Hasil uji statistik independent T-test didapakan p value 0.00 (<0,05), terdapat pengaruh yang signifikan pijat perineum terhadap derajat laserasi perineum. Kesimpulan penelitian ini adalah pijat perineum dapat mempengaruhi terjadinya tingkat derajar perineum. Saran bagi responden diharapkan memahami manfaat pijat perineum dan dapat diaplikasikan pada masa kehamilan. Bagi Profesi Kebidanan memberikan asuhan kebidanan mengenai pijat perineum selama kehamilan sehingga dapat memanimalisir angka kejadian ruptur perineum. Bagi Institusi Pendidikan dapat menambah sumber referensi atau bahan informasi tentang pijat perineum.Daftar Pustaka : 27 (2013-2020)Kata kunci : Ruptur Perineum, pijat perineum, Derajat Ruptu
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI GEL NANOPARTIKEL EKSTRAK ETANOL GAMBIR TERHADAP BAKTERI PENYEBAB KARIES GIGI (Streptococcus mutans)
Karang gigi, merupakan salah satu masalah yang banyak diderita oleh masyarakat yang ada diseluruh dunia. Pemilihan pasta gigi dan mouthwash yang tidak tepat dapat menyebabkan gigi rapuh dan kanker tulang. Salah satu solusi mengatasi permasalahan tersebut dengan pengolahan bahan alam seperti gambir menggunakan teknologi nanopartikel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri variasi formulasi gel nanopartikel ekstrak etanol gambir terhadap bakteri Streptococcus mutans. Preparasi nanopartikel menggunakan metode gelasi ionik dengan bahan dasar kitosan dan NaTPP. Formulasi gel dibuat menggunakan variasi konsentrasi nanopartikel 0,5%, 1%, 3% dan 5% dalam basis gel carbopol. Produk nanopartikel selanjutnya dikarakterisasi dengan PSA. Untuk produk gel nanopartikel dilakukan uji aktifitas antibakteri. Dari hasil penelitian didapatkan ukuran partikel rata-rata nanopartikel ekstrak gambir yaitu 64 nm. Hasil uji zona hambat Formula 0, 1, 2, 3 dan 4 yaitu 0, 0, 0, 9 dan 19 mm. Hasil tersebut menunjukan Formula 4 memiliki aktivitas antibakteri yang kuat, hampir sama dengan kontrol positif yaitu 20 m
PERBEDAAN METODE CERAMAH DAN VIDIO TERHADAP PENGETAHUAN REMAJA TENTANG SEKS PRANIKAH TAHUN 2021
WHO data (2017), 0.9% of adolescent girls and 3.6% of adolescent boys in developing countries had sexual intercourse. Based on KPAI data (2017), 62.7% of teenagers in Indonesia had sex outside of marriage. For this reason, it is necessary to provide health education about reproductive health among adolescents, especially about premarital sex. This study aimed to look at the Differences between Lecture and Video Methods Toward Adolescent Knowledge of Premarital Sex at SMPN 2 Koto Baru Dharmasraya in 2021.The type of this study was Quasy Experiment with a two group pretest-posttest design which was conducted . It was conducted at SMPN 2 Koto Baru Dharmasraya from February to July 2021. The population was all teenage girls at the second grade. They were 120 people. By using purposive sampling technique, 10 people for the lecture method. and 10 people for the video method were chosen as the samples. The data were collected by questionnaire. Then, it was analyzed by univariate and bivariate analysis by using independent t-test statistical test.The results showed that the average knowledge of the students about premarital sex before was 7.20 and after being given health counseling the lecture method was 11.60. The average knowledge of the students about premarital sex before was 7.70 and after being given health counseling with the video method was 15.00. Then, there were differences in the knowledge of students before and after being given health counseling with the lecture method (p = 0.000) and before and after being given health counseling with the video method (p = 0.000). There was a difference in the knowledge of students after counseling between the lecture method and the video method about premarital sex (p = 0.001).In short, can be concluded that there were differences in the knowledge of students before and after being given health counseling with the lecture and video methods and there were differences in the lecture and video methods on students’ knowledge about premarital sex. It is hoped that the school will do the cooperation with local health workers in conducting health education. or socialization of adolescent reproductive health, especially the dangers of premarital sex in adolescents
DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAN EMPIEMA
Empiema merupakan salah satu infeksi pleura yang terjadi akibat kumpulan cairan eksudatif (pus) di rongga pleura. Secara epidemiologi, insidensi empyema meningkat pada anak dan dewasa. Empyema dapat disebabkan oleh infeksi paru, prosedur operasi, trauma, pneumotoraks spontan, torakosintesis, dan septikemia. Cairan pleura terakumulasi ketika laju pembentukannya melebihi laju absorpsi. Selain dari gejala klinis, diagnosis ditegakkan dengan menggunakan pemeriksaan cairan pleura, baik secara makroskopis dan mikroskopis, dan CT-scan. Tatalaksana bertujuan untuk mengembalikan fungsi respirasi normal dan fungsi pengembangan paru dengan pemberian oksigen, pemberian cairan dan terapi awal meliputi antipiretik, analgesik dan antibiotik dan kemudian dilakukan drainase dengan menggunakan kateter, torakotomi terbuka atau menggunakan VATS. Kata kunci: empyema, infeksi pleura, pemeriksaan cairan pleura, drainase pleura
PARAPNEUMONIC EFFUSION (PPE) DENGAN CONGESTIVE HEART FAILURE (CHF) PADA PASIEN YANG DI RAWAT DI BAGIAN JANTUNG
ABSTRACTParapneumonic effusion (PPE) is a pleural effusion that results from infection with pneumonia (community-acquired pneumonia or nosocomial pneumonia). All patients with pneumonia should be evaluated for the presence or absence of PPE, and thoracentesis should be performed without delay if fluid levels are more than minimal and sufficient. Pleural fluid analysis will provide valuable diagnostic information and guide therapy management. Patients with CHF can develop PPE because CHF is a risk factor for pneumonia, due to the presence of fluid in the alveoli, thus inhibiting clearance of microbes and an increased risk of bacterial infection.Keywords: Parapneumonic pleural effusion, Congestive Heart Failure, ABSTRAKParapneumonic effusion (PPE) merupakan suatu efusi pleura yang timbul akibat dari infeksi pneumonia (community-acquired pneumoni maupun nosocomial pneumonia). Semua pasien dengan pneumonia harus dievaluasi ada tidaknya PPE, dan thoracentesis harus dilakukan tanpa penundaan jika jumlah cairan lebih dari minimal dan mencukupi. Analisis cairan pleura akan memberikan informasi diagnostik yang berharga dan sebagai panduan dalam manajemen terapi. Pasien dengan CHF dapat terjadi PPE dikarenakan CHF merupakan faktor resiko terjadi nya pneumonia yang disebabkan terdapat nya cairan pada alveolus sehingga menghambat pembersihan dari mikroba dan peningkatan resiko infeksi bakteri.Kata kunci : Parapneumonic pleural effusion, Congestive Heart Failur