Griya Jurnal UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
Not a member yet
    4412 research outputs found

    Implementasi Kebijakan KBRI bagi Stateless Child dalam Menumbuh Kembangkan Literasi Dasar pada Sanggar Bimbingan Sungai Mulia Malaysia

    No full text
    Penelitian ini mengkaji implementasi kebijakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dalam mendukung pendidikan anak-anak tanpa kewarganegaraan di Malaysia melalui program literasi dasar di Sanggar Bimbel Sungai Mulia. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi strategi pembelajaran, penggunaan media, serta peran relawan dan lembaga pendukung dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif. Literasi dasar meliputi kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) sebagai fondasi pendidikan lanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran yang interaktif dan empatik mampu meningkatkan kepercayaan diri, keterampilan sosial, dan kemampuan akademis siswa. Kendala seperti kurangnya tenaga pengajar dan keterbatasan infrastruktur diatasi melalui kolaborasi antara KBRI, Atdikbud, relawan, dan masyarakat. Program ini mencerminkan keberpihakan negara terhadap kelompok rentan dan memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan nonformal yang berkelanjutan dan berkeadilan

    Ketimpangan Pembangunan Antarwilayah di Jawa Timur 2019-2023

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketimpangan pembangunan antarwilayah di ProvinsiJawa Timur pada tahun 2019–2023 secara spasial berdasarkan pendekatan Tipologi Klassen.Selain itu, penelitian ini juga mengkaji pengaruh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) perkapita dan Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) terhadap klasifikasi wilayah, serta hubunganketimpangan pembangunan dengan capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan tingkatkemiskinan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pendekatandeskriptif-spasial. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh dari BadanPusat Statistik (BPS), berupa data PDRB per kapita, LPE, IPM, dan tingkat kemiskinan kabupaten/kota di Jawa Timur selama lima tahun. Analisis data dilakukan dengan menggunakan klasifikasiTipologi Klassen untuk menentukan pembagian kuadran wilayah (Kuadran I–IV). Hasil penelitianmenunjukkan bahwa sebagian besar wilayah berada pada Kuadran III (wilayah potensial untukberkembang) dan Kuadran IV (wilayah relatif tertinggal). Wilayah-wilayah dalam Kuadran IVumumnya memiliki nilai IPM dan pendapatan per kapita yang rendah serta tingkat kemiskinanyang tinggi, seperti Kabupaten Sampang, Bangkalan, Sumenep, dan Bondowoso. Sebaliknya,wilayah Kuadran I seperti Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik menunjukkan capaian IPMtinggi dan angka kemiskinan rendah. Temuan ini memperkuat teori Cumulative Causation olehMyrdal yang menyatakan bahwa tanpa intervensi, wilayah maju akan semakin maju dan wilayahtertinggal akan semakin tertinggal. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan pembangunan berbasiswilayah yang lebih adil untuk mengurangi kesenjangan dan meningkatkan kesejahteraanmasyarakat secara merata

    Historical Study of the Khaksar Movement’s Interaction with the Muslim League (1931–1947)

    No full text
    Allama Inayatullah Khan Mashriqi founded the Khaksar Movement in 1931 as a social reform initiative rooted in ideals of equality and community service. Over time, however, the movement evolved into a paramilitary force, establishing a complex relationship marked by both cooperation and confrontation with the All-India Muslim League (AIML), led by Muhammad Ali Jinnah. Although both movements aimed to advance Muslim political interests in British India, their methods and ideological foundations differed substantially. Allama Inayatullah Khan Mashriqi envisioned a pan-Islamic Greater Pakistan grounded in religious supremacy and militarization. In contrast, the Muslim League sought to achieve a separate Muslim homeland through constitutional and political means. This division prevented lasting collaboration. Events such as the 1940 Lahore Khaksar massacre, the 1943 attack on Jinnah, and the 1945–46 elections deepened the rift, ensuring the Muslim League’s dominance while leaving Mashriqi’s radical vision unfulfilled. This qualitative study, based on archival sources, examines the nature of cooperation and confrontation between the two movements. It contributes to a deeper understanding of Muslim political mobilization in pre-partition India. It highlights the critical role of ideological coherence and strategic direction in shaping the course and character of political movements

    Rekonseptualisasi Wilāyat al-Faqīh dalam Sistem Teokrasi Modern Iran: Kajian Kritis atas Legitimasi Ideologis, Stabilitas Politik, dan Tantangan Global Kontemporer

    No full text
    Penelitian ini mengkaji ketahanan dan fleksibilitas sistem Wilāyat al-Faqīh sebagai model pemerintahan teokratis dalam konteks Republik Islam Iran. Tujuannya adalah untuk memahami bagaimana sistem ini mempertahankan legitimasi ideologisnya di tengah tekanan globalisasi dan tuntutan modernitas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan studi kepustakaan dengan analisis wacana kritis serta triangulasi data dari dokumen, wawancara, dan media digital. Hasil menunjukkan bahwa pendidikan agama meningkatkan partisipasi politik, sementara sanksi ekonomi, embargo teknologi, dan transformasi sosial pascarevolusi menciptakan tantangan serius bagi legitimasi Wilāyat al-Faqīh. Sistem ini tetap mampu menjaga stabilitas politik melalui otoritas religius, namun menghadapi resistensi dari kelompok muda dan digital natives. Kesimpulan menyatakan bahwa Wilāyat al-Faqīh merupakan sistem ideologis yang adaptif namun memerlukan reformasi partisipatif untuk menjawab tuntutan kontemporer

    Aksiologi Ilmu dalam Filsafat Pendidikan Islam di Madrasah Ibtidaiyah

    No full text
    Penelitian ini bertujuan menegaskan kembali makna dan fungsi aksiologi ilmu dalam filsafat pendidikan Islam di Madrasah Ibtidaiyah (MI) sebagai dasar pembentukan nilai, moral, dan tujuan pendidikan dasar. Selama ini, kajian filsafat pendidikan Islam lebih menyoroti aspek epistemologi dan ontologi, sedangkan dimensi aksiologi ilmu masih jarang dikaji dalam konteks pendidikan dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi pustaka dengan analisis filosofis dan hermeneutik terhadap karya Al-Ghazali, Syed Muhammad Naquib al-Attas, serta pemikir kontemporer seperti Moh. Roqib dan Nata. Hasil kajian menunjukkan bahwa aksiologi ilmu dalam pendidikan MI meliputi tiga dimensi utama: (1) nilai moral dan spiritual, (2) pembentukan karakter dan adab peserta didik, serta (3) tujuan sosial dan teologis ilmu bagi kemaslahatan dan pengabdian kepada Allah SWT. Kebaruan penelitian terletak pada model konseptual tiga dimensi aksiologi ilmu yang mengintegrasikan nilai, moral, dan tujuan sebagai fondasi kurikulum dan pembelajaran MI, guna melahirkan insan berilmu dan beradab yang seimbang antara intelektualitas, moralitas, dan spiritualitas

    Nilai Aksiologis Babad Pasir Luhur Sebagai Media Pembelajaran Budaya Banyumasan

    No full text
    Cerita rakyat merupakan salah satu kekayaan intelektual suatu bangsa. Salah satu daerah yang mempunyai tradisi tulis berupa babad yakni di daerah Banyumas, Jawa Tengah. Banyumas memiliki cerita rakyat tulis dalam babad Pasir Luhur yang menceritakan legenda dan asal usul leluhur masyarakat Banyumas. Dalam babad Pasir Luhur terkandung amanat dan nilai-nilai secara ekspisit dalam teks. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang menghasilkan data berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kalimat dalam Babad Pasir Luhur yang terdapat dalam materi budaya Banyumasan beserta sumber informasi dari hasil penelitian yang menunjukkan nilai-nilai dalam cerita Babad Pasir Luhur. Hasil penelitian menunjukkan Babad Pasir Luhur memiliki nilai-nilai aksiologis yang sangat penting untuk ditanamkan dalam pembelajaran budaya lokal. Cerita ini bukan hanya legenda sejarah tentang tokoh Kamandaka, tetapi juga sarana edukatif yang sarat dengan nilai moral, etika, estetika, dan karakter seperti tanggung jawab, kerja keras, kecerdasan, dan keteguhan hati

    Relevansi Pemikiran Paulo Freire Terhadap Pendidikan Pembebasan di Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif NU Karangklesem

    No full text
    Pendidikan secara ideal berfungsi sebagai sarana pembebasan manusia dari penindasan, kebodohan, dan ketidakadilan, sehingga mampu melahirkan individu yang kritis, otonom, dan berdaya. Namun praktik pendidikan di Indonesia, termasuk pada jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), masih kerap terjebak dalam pola pendidikan gaya bank sebagaimana dikritik Paulo Freire. Model tersebut tidak hanya mereduksi peserta didik menjadi wadah kosong, tetapi juga mempertahankan relasi kuasa yang menghambat proses humanisasi. Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana gagasan pendidikan pembebasan benar-benar diimplementasikan secara nyata, bukan sekadar dikutip sebagai konsep normatif. Penelitian ini bertujuan menelaah relevansi dan implementasi pendidikan pembebasan menurut perspektif Freire di MI Ma’arif NU Karangklesem. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui observasi kelas, wawancara, dan studi pustaka. Pendekatan ini dipilih untuk menangkap praktik pedagogis secara empiris, sehingga analisis tidak berhenti pada penilaian teoritis yang dangkal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian guru telah menerapkan unsur pendidikan dialogis, misalnya membuka ruang diskusi, memberi kesempatan siswa mengemukakan pendapat, serta mengaitkan materi dengan pengalaman konkret. Namun, penerapan tersebut belum merata dan cenderung sporadis. Praktik pendidikan gaya bank masih tampak pada mata pelajaran yang berorientasi hafalan atau dianggap “pakem”, sehingga pembelajaran berjalan satu arah dan minim dialog. Kondisi ini mengindikasikan bahwa transformasi pedagogis belum sepenuhnya terinternalisasi, baik karena kultur sekolah yang hierarkis maupun keterbatasan kapasitas guru. Temuan ini menegaskan perlunya penguatan komitmen dan kompetensi pedagogik untuk mendorong pembelajaran yang lebih humanistik dan membebaskan di MI

    Integrasi Filsafat Pendidikan dengan Delapan Dimensi Profil Lulusan Guna Mewujudkan Generasi Emas: -

    No full text
    Artikel ini membahas integrasi filsafat pendidikan dengan delapan dimensi profil lulusan sebagai upaya strategis dalam mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045. Filsafat pendidikan dipahami sebagai dasar konseptual yang memberikan arah, nilai, dan tujuan bagi praktik pendidikan, sebagaimana dipaparkan oleh tokoh-tokoh seperti John Dewey, Ki Hajar Dewantara, dan Al-Syaibani. Sementara itu, delapan dimensi profil lulusan—keimanan dan ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, berakhlak mulia, peduli lingkungan, dan komunikasi—menjadi kerangka karakter dan kompetensi yang perlu ditanamkan kepada peserta didik. Melalui kajian literatur dengan pendekatan deskriptif-analitis, penelitian ini menemukan bahwa setiap dimensi profil lulusan memiliki titik temu dengan prinsip-prinsip filsafat pendidikan, mulai dari etika, humanisme, hingga konstruktivisme. Integrasi keduanya dapat diwujudkan melalui penguatan kurikulum berbasis nilai, pembelajaran berbasis proyek, kegiatan kokurikuler, serta peran guru sebagai philosophical practitioner. Hasil analisis menunjukkan bahwa pendidikan yang terintegrasi dengan nilai-nilai filosofis mampu memperkuat karakter, kecerdasan moral, dan kompetensi abad ke-21 peserta didik. Dengan demikian, integrasi filsafat pendidikan dan delapan dimensi profil lulusan merupakan langkah penting untuk membentuk sumber daya manusia yang berdaya saing, berkarakter Pancasila, serta siap menghadapi tantangan global menuju Generasi Emas 2045

    The Effect of Service Quality Using the Pakserv Model on Customer Satisfaction at BPRS Bina Amanah Satria KC Bumiayu

    No full text
    Sharia banking is an important element in the development and formation of the Indonesian economy. In facing increasingly complex challenges, companies need to look for creative ideas or the latest strategies to achieve company goals optimally. Quality is an important aspect that customers and potential customers pay attention to, so that strategic efforts to improve and maintain quality become a necessity to maintain service and improve the company\u27s position in the market, including BPRS Bina Amanah Satria KC Bumiayu. The PAKSERV Service Quality Model is considered the best setting for understanding and measuring service quality, which has six variables, namely tangibility, reliability, guarantee, sincerity, personalization, and formality. The purpose of this research is to highlight the importance of BPRS Bina Amanah Satria KC Bumiayu continuing to improve the quality of its services by paying attention to aspects measured through the PAKSERV model. By increasing customer satisfaction, it is hoped that customer loyalty can be strengthened and the image and performance of BPRS Bina Amanah Satria KC Bumiayu in the market can be improved. This research is field research and uses a descriptive quantitative approach. The data collection method was carried out through questionnaires distributed to BPRS Bina Amanah Satria KC Bumiayu customers totaling 190 respondents. The analysis technique used is multiple linear regression using the IBM SPSS statistical program. The research results show that service quality as measured through the PAKSERV model simultaneously has a positive and significant influence between PAKSERV on customer satisfaction. Meanwhile, the partial test results show that the Tangibility, Sincerity, and Personalization variables have a Sig value < 0.05, meaning they do not have a significant effect, and the Reliability, Assurance, and Formality variables have a Sig value > 0.05, meaning they have a significant effect

    Positional Accuracy Measurement: Prototype Geographic Information System for Banyumas Regency Tourism

    No full text
    Banyumas Regency has high tourism potential, both in terms of nature, culinary, and culture. This study aims to assess the accuracy of geographic positioning (longitude and latitude) in a web-based Geographic Information System (GIS) to ensure the accurate and reliable presentation of tourist destination location data. Accurate spatial data is essential for planning, navigation, promotion, and improving visitor experiences through enhanced digital mapping and integrated tourism development strategies. The method used is prototyping, which allows the initial system development to be tested and refined based on the results of accuracy measurements. The system was developed using the Google Maps API and the PHP programming language and integrated with a GPS device to obtain real-time coordinates. Testing was conducted by comparing the field coordinates with digital map data to identify positional deviations. Analysis was carried out spatially using the Positional Accuracy Tolerance approach to improve the accuracy of the maps visualized in the Tourism Geographic Information System. The results of the study indicate the need for recalibration at several location points to improve the system\u27s precision. This GIS is expected to provide valid location information for tourists in planning their tourism trips

    619

    full texts

    4,412

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Griya Jurnal UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇