STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Peranan Faktor Masa Depan dalam Pembimbingan Remaja
Mengungkap permasalahan remaja memerlukan kecermatan sebab kalau tidak, kita akan terjatuh ke dalam perangkap fokus tunggal. Upaya memetakan permasalahan remaja secara “keseluruhan” lebih merupakan upaya untuk menyederhanakan daripada menjabarkannya secara tepat. Secara pribadi saya tidak yakin kita bisa merangkumkan “keseluruhan” permasalahan remaja dewasa ini. Menurut pengamatan saya, permasalahan remaja berdimensi majemuk di mana setiap dimensi bukan saja terkait dengan dimensi lainnya, tetapi ia pun berdiri sendiri sebagai masalah mandiri yang memerlukan penanganan secara khusus dan terfokus. Dengan kata lain, saya melihat permasalahan remaja sebagai permasalahan yang bersifat multidimensional sekaligus idiosinkretik—setiap dimensi memiliki karakteristiknya tersendiri. Sebagai pemerhati remaja kita tetap dapat melakukan “sesuatu” untuk salah satu dimensi permasalahannya tanpa kehilangan fokus pada keterkaitan antardimensi. Kita bisa menyoroti permasalahan remaja dari sekurang-kurangnya tujuh dimensi, yakni Dimensi Keluarga, Dimensi Sosial-Ekonomi, Dimensi Akademik, Dimensi Rohani, Dimensi Kebutuhan, Dimensi Perkembangan, dan Dimensi Gangguan atau Penyimpangan. Setiap dimensi—bak akar pohon—terkait dan tumpang tindih dengan keenam dimensi lainnya namun setiap dimensi merupakan suatu pokok kajian terpisah yang memerlukan penanganan secara khusus pula. Pada artikel ini saya akan menelaah salah satu dari ketujuh dimensi tersebut, yakni Dimensi Kebutuhan, dan sudah tentu dalam keterkaitannya dengan dimensi lainnya, yaitu Dimensi Kerohanian dan Dimensi Keluarga. Di akhir artikel ini saya akan memberi sumbang-saran untuk menggali potensi remaja
Rekonsiliasi Etnis : Misi Bersama Komunitas Kristen Tionghoa
Dalam diskusi yang diadakan bersama oleh Kantor Menteri Negara Urusan Hak Asasi Manusia dan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam), Arief Budiman menyampaikan bahwa ada empat konflik besar yang sedang dihadapi bangsa Indonesia hari ini. Salah satu dari keempat konflik itu adalah konflik antara Cina dan pribumi … Komunitas Kristen Tionghoa sebagai suatu entitas sosial hidup dan melayani di tengah konflik-konflik tadi, khususnya di tengah arus pusaran konflik etnis Tionghoa dan etnis Indonesia lainnya. … komunitas Kristen Tionghoa pertama tama hadir untuk menjadi saksi Kristus bagi bangsa ini. Untuk mencapai hal ini maka diperlukan suatu terobosan radikal dari pihak komunitas Kristen Tionghoa untuk membuka jalan bagi tersampaikannya dan diterimanya Injil Yesus Kristus, kepada dan oleh seluruh bangsa ini. … Untuk itu saya akan menempuh prosedur demikan: pertama-tama saya akan mengajak Anda membaca sejarah untuk mencari tahu di mana akar konflik Tionghoa dengan etnis Indonesia lainnya berada. Dari situ saya akan membawa Anda sejenak merenungkan apa yang dikatakan Alkitab mengenai misi rekonsiliasi, dan akhirnya saya mencoba memberikan beberapa kemungkinan yang dapat saja terjadi bila misi rekonsiliasi ini kita tuntaskan atau tidak kita tuntaskan hari ini
Mengenal Martin Buber dan Filsafat Dialogisnya
Tidak lama setelah kematian Martin Buber pada kolom editorial New York Times terdapat komentar berikut: “Martin Buber was the foremost Jewish religious thinker of our time and one of the world’s most influental philosophers.” Buber, meskipun ia seorang Yahudi yang beragama Yahudi namun memberi banyak pengaruh kepada pemikir-pemikir Kristen, seperti John Baille, Karl Barth, Emil Brunner, Friedrich Gogarten, Reinhold Niebuhr, H. Richard Niebuhr, J. H. Oldham, Paul Tillich, serta para pemikir Kristen lainnya …. Buber tidak hanya memberikan pengaruh di bidang filsafat dan teologi saja, tetapi juga di bidang-bidang lain. Karena besarnya pengaruh Buber, khususnya di bidang filsafat dan teologi, agaknya kita perlu mengenal Buber lebih dekat, serta pemikirannya. Karena tidak mungkin menuangkan seluruh pemikiran Buber dalam artikel yang relatif pendek ini, penulis hanya akan memperkenalkan salah satu pemikiran Buber yang dianggap paling berpengaruh, yaitu filsafat dialogisnya
Rahasia Jati Diri Yesus dalam Injil Markus : Suatu Tinjauan terhadap Tesis William Wrede
Kristologi dimulai ketika manusia mulai mengungkapkan kesaksian imannya di dalam nama Yesus. Momentum paling krusial yang tercatat di dalam Kitab Injil adalah ketika Petrus memberikan pengakuan kepada Yesus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat. 16:16; Mrk. 8:29; Luk. 9:20). Suatu pengakuan yang dibenarkan oleh Yesus sendiri, sesuai dengan kesadaran diri-Nya sebagai Mesias yang telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Dalam sejarah kekristenan studi kristologi yang signifikan telah banyak dilakukan dan telah memunculkan tantangan terhadap pemahaman kristologi tradisional gereja-gereja Kristen yang sudah berlangsung selama berabad-abad. Pemahaman-pemahaman yang baru selalu berupaya untuk mencapai suatu konklusi yang berbeda dengan pemahaman sebelumnya dengan cara mempertanyakan kembali kesadaran Mesianik dari Yesus. Akibatnya pertanyaan ini telah menimbulkan banyak perdebatan di kalangan para teolog karena setiap mereka berusaha untuk memberikan jawaban menurut sudut pandangnya masing-masing. Salah seorang dari antara jajaran teolog yang terlibat dalam perdebatan yang sengit ini adalah William Wrede. Ia adalah pelopor yang berinisiatif menganalisa dan menghargai natur teologi kitab-kitab Injil Sinoptik. Ia jugalah yang pertama kali memprakarsai studi Injil Markus dengan teorinya yang disebut Messianic Secret. Karena upaya inilah Injil Markus dapat dikenal sebagai Injil yang mengandung berita teologis yang berbeda, bukan hanya sekadar mengisahkan kembali sejarah pelayanan Yesus. Sebelum Wrede Injil Markus secara tradisional diperlakukan sebagai kitab yang paling sedikit bernilai teologis meskipun kitab ini diterima sebagai kitab yang paling dapat dipercaya dan sebagai dokumen historis dari antara keempat Injil
Pandangan John Knox tentang Reformasi Gereja dalam Hal Praktikal dan Sakramental
Gerakan Reformasi tidak hanya terjadi di Jerman, di mana Martin Luther mencetuskan 95 tesisnya pada 31 Okotober 1517. Negara-negara Eropa lainnya, seperti Skotlandia juga terlibat dalam gerakan ini. Setiap negara memiliki tokoh reformasinya masing-masing yang berusaha agar Gereja kembali berjalan sesuai dan berdasarkan otoritas firman Tuhan. Reformasi di Skotlandia sangat berkaitan erat dengan perkembangan politik di negara itu. Karena itu, untuk memahami reformasi di Skotlandia, maka pertama-tama kita perlu memahami situasi politik saat itu serta kaitannya dengan situasi di dalam gereja. Setelah itu kita akan melihat bagaimana Knox menanggapi situasi politik di sekitarnya, baik secara lisan maupun tulisan. Pemaparan akan difokuskan secara khusus pada hal-hal praktikal di dalam Gereja dan sakramen
Meninjau Ulang Fundamentalisme Kristen
Apa itu fundamentalisme? Istilah ini sebenarnya adalah sebuah istilah yang digunakan secara luas di semua tempat di dunia. Di samping kekristenan, kita telah mendengar atau membaca adanya kelompok fundamentalisme di lingkungan agama Islam. Apabila dilihat dari sudut pandang dunia politik, gerakan fundamentalisme Islam lebih tepat merupakan gerakan partai Islam tertentu (yang umumnya radikal) yang telah diliput oleh media cetak atau elektronik secara universal. Istilah ini juga dipergunakan untuk menggambarkan gerakan-gerakan ekstrem agama Yahudi, Hindu, Sikh dan Buddha di seluruh dunia. Akan tetapi tulisan ini akan dibatasi pada penelitian tentang fundamentalisme Kristen saja. Lalu apakah fundamentalisme itu? Bagaimana seharusnya fundamentalisme itu didefinisikan? Barangkali, karena kompleksitas fundamentalisme Kristen, sebagian orang lebih suka menghindari definisi-definisi yang sifatnya sederhana. Umumnya penulis-penulis Kristen lebih senang menunjukkan sejumlah ciri-ciri khas yang dapat diidentifikasikan dari fundamentalisme ketimbang mendefinisikannya. Karena itulah dalam artikel ini kita hanya akan melihat fundamentalisme baik dalam perspektif historis dan teologis serta melihat perkembangannya sampai saat ini. Setelah membahas sumbernya pada awal abad ini, fenomena fundamentalistik ini akan ditelusuri melalui karakteristik-karakteristiknya yang modern di antara gereja dan orangorang Kristen. Diharapkan melalui pemaparan tema ini kita akan lebih memahami fenomena tersebut secara lebih mendalam, memahami kemajemukan orang-orang percaya di Indonesia dan/atau Asia, serta mungkin menciptakan perubahan dan toleransi yang lebih besar lagi baik di kalangan fundamentalis dan nonfundamentalis
Esensi dan Relevansi Teologi Reformasi
Menurut kronologi sejarah, gereja Protestan mulai bereksistensi pada peristiwa Reformasi abad ke-16. Sekalipun ketika itu Martin Luther—dan juga kemudian John Calvin—menentang ajaran gereja Katolik Roma, mereka tidak bermaksud mendirikan gereja yang baru. Tujuan dari Reformasi itu sendiri adalah untuk menyerukan sebuah amanat agar gereja kembali kepada dasar ajaran dan misi yang sesungguhnya; gereja disadarkan dan dibangunkan agar berpaling pada raison d’etre dan vitalitasnya di bawah terang Injil. … Tulisan ini mencoba melihat teologi Reformasi dari segi hakikat/esensinya serta kaitan/relevansinya dengan iman Kristen pada masa kini. Karena keterbatasan ruang, penulis lebih banyak memfokuskan pembahasan pada pandangan J. Calvin (1509-1564) tentang esensi Reformasi itu sendiri, karena di dalam pemikiran Calvin-lah kita dapat menemukan pemikiran dasar tentang teologi Reformasi dalam struktur yang lebih mendalam dan sistematis
Analisa S.W.O.T. untuk Parenting : Beberapa Parameter Kurikuler untuk Pelayanan Keluarga
Seorang ayah mengeluh, “Kelihatannya tanggung jawab mendidik anak-anak menjadi semakin sulit. Terlalu banyak ancaman di sekitar kita yang bisa merusak dan mengganggu pertumbuhan mereka. Saya tidak mengerti apa yang harus saya perbuat!” Yang lain, seorang ibu dari tiga anak mengatakan, “Saya dibesarkan oleh orang tua yang ultraotoriter, dan hanya itulah satu-satunya cara yang saya tahu tentang membesarkan anak. Tetapi saya tidak ingin anak-anak saya kehilangan masa kecil mereka seperti saya, ibu mereka!” Kalimat-kalimat di atas adalah beberapa ekspresi kekuatiran para orang tua dalam membesarkan dan memastikan keberhasilan anak-anak mereka di masa depan. Kebingungan, keragu-raguan, dan stres adalah bumbu dari parenting. Banyak orang tua mengalaminya karena mereka berkeinginan untuk menolong anak-anak mereka bertumbuh secara totalitas, tetapi merasa tidak berdaya. Di lain pihak, sering para orang tua beranggapan bahwa parenting adalah aktivitas yang bisa dilakukan secara naluriah, otomatis, dan tanpa direncanakan. Akibatnya, mereka tidak pernah secara sengaja mempelajari parenting. Padahal, parenting merupakan tanggung jawab utama orang tua. Menurut Jack O. Balswick dan Judith K. Balswick, “Kenyataannya orang tua di sebagian besar masyarakat hanya berharap anak-anak mereka tumbuh dengan sendirinya menjadi orang dewasa yang normal dan sehat.” Namun sayangnya, hal tersebut bukanlah realitas yang kita temukan di masyarakat. Drastisnya perubahan lingkungan hidup dan tahap-tahap pertumbuhan anak menuntut penyesuaian yang berkelanjutan dalam parenting dan selalu saja ada masalah yang muncul karena kegagalan dalam proses penyesuaian tersebut. Biasanya, reaksi para orang tua adalah panik dan bingung karena mereka tidak mengantisipasi perubahan yang terjadi. Ketidakmampuan untuk menghadapi perubahan-perubahan tersebut menghasilkan keluarga-keluarga yang tidak mampu berfungsi sebagaimana mestinya (dysfunctional families), dan anak-anak yang bermasalah. Akhirnya, parenting mereka tidak hanya mempengaruhi para anggota keluarga, tetapi juga seluruh masyarakat karena masyarakat sendiri merupakan suatu sistem yang terdiri dari sejumlah keluarga. Artikel ini adalah paparan hasil sebuah studi lapangan yang dilakukan antara Maret hingga Mei 1998 di Baguio City, Filipina. Penelitian tersebut dirancang sebagai studi kasus perbandingan yang berkonsentrasi pada praktek-praktek parenting dari sejumlah keluarga Kristen Filipina dan Tionghoa. Dimulai dengan pengertian dasar tentang parenting, artikel ini menyajikan secara singkat hasil penelitian di atas dalam kerangka kerjanya dan kemudian diakhiri dengan sebuah usulan berupa parameter-parameter kurikulum untuk pelayanan keluarga di gereja
Kehidupan Alam Perasaan Yesus Kristus : Teladan Sempurna bagi Para Pendidik Kristen
Unsur perasaan telah menjadi bagian yang penting dalam pendidikan masa kini. Adele Faber dan Elaine Mazlish adalah dua dari antara sekian penulis yang menulis tentang mendidik anak dengan menyisipkan unsur perasaan dalam metode pengajaran mereka. Pendekatan ini ternyata cukup efektif dalam mendidik anak baik di rumah maupun dalam ruang kelas, bahkan secara dramatis membantu mengurangi masalah-masalah seperti menghukum anak, absensi, perilaku, dan dapat meningkatkan kepercayaan diri anak. Dengan pendekatan ini anak merasa dipahami dan sekaligus diajar pula untuk memahami perasaan orang lain. Hal ini berbeda dengan beberapa tahun silam ketika pendidikan lebih didominasi oleh pengajaran yang mengandalkan logika yang rasional. Sekalipun banyak penulis sekuler telah memasukkan unsur perasaan ke dalam pendidikan, namun para penulis dan pendidik Kristen tampaknya masih enggan mendalami hal ini. Emosi acap kali dipandang sebagai unsur kepribadian yang tidak dapat diandalkan karena mudah berubah seiring dengan perubahan situasi atau suasana hati. Harus diakui bahwa memanfaatkan perasaan dalam pendidikan bukanlah satu-satunya metode untuk memperoleh hasil maksimal. Ungkapan kehati-hatian J. Dobson3 yang menyatakan, “Emosi itu harus selalu diperhitungkan dengan kemampuan berpikir dan kemauan,” patut memperoleh perhatian. Meski demikian, secara umum dapat dikatakan bahwa literatur Kristen di bidang pendidikan yang memperhitungkan unsur perasaan masih tergolong langka. Tulisan ini diharapkan dapat mengisi kelangkaan tersebut. Tulisan ini bertujuan memberikan wawasan mengenai kehidupan emosi Yesus Kristus yang acap kali terabaikan dalam diskursus mengenai pribadi-Nya. Diharapkan uraian mengenai alam perasaan Yesus ini dapat membangkitkan inspirasi para pembaca untuk juga memperhitungkan unsur perasaan dalam tugas kita melaksanakan amanat agung Yesus Kristus, yakni menjadikan semua bangsa murid-Nya. Dalam artikel ini akan dibahas mengenai pentingnya fungsi dan peran emosi dalam perkembangan individu, alam perasaan Yesus dan dampaknya dalam hidup pelayanan-Nya, beberapa aspek pengajaran Yesus yang penuh dengan perasaan yang patut dan dapat dijadikan teladan dalam pendidikan Kristen, setelah itu diakhiri dengan beberapa kesimpulan penting
Kembali kepada Khotbah Ekspositori
Disadari atau tidak disadari, abad 21 telah memberikan tantangan tersendiri bagi dunia kekristenan. Tantangan-tantangan ini telah coba ditanggapi dan diantisipasi oleh berbagai pihak, salah satunya oleh Daniel Lucas Lukito lewat tulisannya di Veritas tiga edisi lalu. Dalam tulisannya, Lukito memberikan empat kecenderungan pemikiran teologi abad 21 sebagai tantangan yang harus diwaspadai oleh setiap orang Kristen, khususnya yang sangat dekat dengan disiplin teologi.1 Tulisan tersebut telah menggelitik penulis untuk mengaitkan dan menghubungkannya dengan masa depan khotbah Kristen. Penulis melihat bahwa khotbah memegang peranan penting di dalam gereja. Dalam hal ini, penulis sangat setuju dengan D. Martyn Lloyd-Jones yang menyatakan bahwa sejarah gereja mencatat bahwa khotbah selalu mendominasi kehidupan gereja.2 Bahkan bagi Earl V. Comfort, mimbar adalah suatu faktor yang menentukan dalam sejarah gereja.3 Intinya, mereka ingin mengatakan bahwa khotbah adalah faktor yang harus ada dalam kehidupan gerejawi. Ironisnya, yang terjadi ialah khotbah mendapat perhatian yang kurang serius dari beberapa golongan Kristen. Jika Lukito melihat bahwa teologi telah dianggap sebagai urusan “sepele,” penulis mengamati hal yang sama juga telah merambat dan terjadi dalam dunia khotbah. Sebagian orang Kristen lebih mempedulikan bagaimana khotbahnya bisa dimengerti dan memuaskan pendengar, tanpa memikirkan kealkitabiahannya. Yang lebih menguatirkan lagi, ada pengkhotbah yang membaca suatu bagian Alkitab sebagai “pendahuluan” khotbah, tetapi kemudian mengkhotbahkan suatu topik yang lain, misalnya isu-isu kontemporer, atau disiplin ilmu tertentu yang menjadi keahliannya. Bagian Alkitab yang sudah dibaca tidak sedikit pun disinggung. Persoalan di atas hanyalah sekelumit masalah yang dihadapi dalam khotbah Kristen, khususnya khotbah ekspositori yang menurut beberapa pakar homiletika disebut sebagai khotbah alkitabiah.4 Lewat tulisan ini penulis mencoba untuk mengajak para pembaca dan pengkhotbah Kristen untuk melihat dan menemukan kembali esensi dan keefektivitasan khotbah ekspositori guna menghadapi tantangan abad 21. Melalui artikel ini penulis mencoba untuk melihat apakah khotbah ekspositori itu dalam pengertian yang benar, kepentingan serta keuntungannya. Dalam artikel ini penulis tidak akan memberikan pelajaran homiletika, khususnya dalam hal membuat khotbah ekspositori. Pada bagian penutup, penulis akan memberikan kesimpulan dan aplikasi dari artikel ini bagi dunia khotbah di Indonesia. Diharapkan lewat tulisan ini para pembaca dan pengkhotbah Kristen tetap memiliki semangat dalam berkhotbah dan membakar kembali semangat mereka yang mulai memudar