STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Good Character Deserves Respect And Must Be The Hero! : How Chinese Women In Indonesia Perceive Syrophoenician Woman And Jesus In Mark 7.24-30
This study focuses on the correlation between three psychological variables and how Chinese women in Indonesia perceive Jesus and the Syrophoenician woman in Mark 7.24-30 (N = 230, M age = 41.70). The three psychological variables are perceived discrimination, ethnic identity, and well-being. The study evaluates (1) how the three variables relate to positive perceptions on Jesus and the Syrophoenician woman, and (2) how the positive perceptions of the characters in the story relates to perceiving who is the hero in the story. The results show that; (1) perceived discrimination relates negatively to well-being, (2) ethnic identity relates positively to well-being, (3) well-being relates positively to the positive perception on the characters of the story, (4) well-being mediates the relation between ethnic identity and perceived discrimination with the positive perception on the characters of the story, and (5) the positive perception on Jesus’s character relates to perceiving Jesus as the hero of the story. The stronger the well-being and ethnic identity, the more positive the women perceive Jesus and the Syrophoenician woman
Musik Instrumental Abad 18-19 Sebagai Contoh Terhadap Konsep Jeremy Begbie Tentang Interpretasi Musik dari Perspektif Kristiani.
Musik adalah sebuah hal yang hampir selalu ditemui di dalam kehidupan manusia sehari-hari. Musik dalam kehidupan manusia sehari-hari juga biasa memiliki kaitan dengan kehidupan religius, karena tak jarang musik digunakan di dalam ibadah umat manusia. Kaitan musik dengan kehidupan religius membuat adanya sebuah pemisahan di antara musik, yaitu yang dikenal sebagai musik sekuler dan sakral.
Dalam kekristenan, pemisahan sekuler dan sakral sudah menjadi hal yang biasa pada saat ini. Banyak orang Kristen saat ini berpandangan bahwa musik sakral adalah musik yang dapat digunakan untuk menyembah Tuhan, sementara musik sekuler sebaliknya. Pandangan yang banyak dianut oleh umat Kristen pada saat ini, sebenarnya merupakan sebuah pergeseran makna dikotomi yang sudah terjadi bertahun-tahun lamanya. Sejarah membuktikan bahwa dikotomi musik sudah terjadi semenjak bangsa jatuhnya kerajaan Israel sehingga banyak musik sekuler yang dikaitkan dengan berhala, padahal makna dari sekuler dan sakral hanya sebatas penggunaan praktis dan keduanya digunakan untuk menyembah TUHAN.
Pandangan dikotomi yang sudah bergeser akan sulit untuk dikembalikan sehingga penulis menawarkan sebuah konsep bagi orang Kristen untuk bisa memahami musik dari perspektif Kristiani. Seorang musikolog dan teolog bernama Jeremy Begbie menjelaskan bagaimana doktrin penciptaan dapat mengubah sudut pandang orang dalam melihat musik. Beliau menjelaskan bahwa musik bukanlah sekedar karya yang dibuat, dimainkan, atau didengarkan saja, melainkan musik adalah sebuah kesatuan dengan dunia ciptaan Tuhan. Musik tidak akan muncul dengan sendirinya kalau tidak melalui inisiatif Tuhan yang kreatif. Tuhan memakai segala yang ada di dalam dunia ciptaan-Nya untuk membuat sebuah musik. Begbie melihat bahwa segala musik yang ada di dalam dunia ciptaan Tuhan mampu untuk memuliakan Sang Pencipta.
Pandangan dari Jeremy Begbie kemudian akan diaplikasikan ke dalam resital yang dibawakan oleh penulis. Melalui resital tersebut penulis akan memberikan edukasi mengenai pandangan Jeremy Begbie terhadap musik sebagai bagian dari God’s good creation. Penulis berharap bahwa makna dikotomi terhadap musik bisa dikembalikan melalui pendekatan pandangan doktrin penciptaan sehingga musik apapun tidak akan menjadi halangan bagi umat manusia untuk memuji Tuhan Sang Pencipta
Haruslah Kamu Menumpas Mereka Sama Sekali
“Allah adalah kasih,” adalah sebuah frasa yang merupakan pernyataan sederhana yang mendeskripsikan salah satu atribut Allah. Di dalam teologi Kristen, Allah yang Mahakasih dipahami sebagai pribadi yang mengasihi manusia ciptaan-Nya dan memelihara mereka dengan anugerah-Nya yang mulia. Kasih Allah diwujudkan melalui pengampunan yang Allah berikan kepada manusia atas segala kesalahan mereka kepada-Nya. Atribut Allah yang Mahakasih menjadi dasar yang fundamental bagi orang-orang Kristen dan konsep ini tidak bisa dipisahkan dengan pribadi Allah itu sendiri sebagai the author of love yang daripada-Nya kasih itu dapat terwujud. Namun, lain bagi beberapa teolog dan pemikir liberal yang beberapa dari mereka menunjukan sikap skeptisnya terhadap Allah. Beberapa dari mereka berpikir bahwa Allah di dalam Perjanjian Lama (PL) sangat jauh dari natur yang Mahakasih. Bahkan dapat dikatakan Allah dalam PL sangatlah kejam. Pandangan dari kaum liberal tersebut memberikan tantangan bagi orang percaya untuk mempertahankan keyakinan mereka bahwa Allah adalah pribadi yang penuh kasih
Menjawab Permasalahan Kanonisasi Surat 3 Yohanes : Otoritas Penulis Dan Pesan Teologis Serta Implikasi Surat Ini Bagi Gereja Masa Kini
Surat 3 Yohanes adalah salah satu surat yang diragukan dalam kanonisasi Alkitab dan keberadaannya tidak mendapat banyak perhatian. Beberapa hal yang diragukan adalah pertama, otoritas penulis surat ini. Otoritas penulis surat ini diragukan karena penulis dari surat ini sendiri pun sulit untuk dipastikan. Penulis surat tidak menulis namanya secara eksplisit dalam surat dan hanya memperkenalkan diri sebagai penatua. Bahkan bapa gereja Origen dan Eusebius memperdebatkan penulis dari surat ini. Kedua, pesan teologis dari surat ini. Surat ini terlihat tidak memiliki doktrin dan referensi teologis tertentu dan isinya sangat pendek. Bahkan, surat ini menjadi surat paling pendek di antara surat-surat dalam Perjanjian Baru. Isinya hanya 15 ayat atau dalam ukuran lain, dapat muat hanya dalam satu gulungan kertas papirus. Ditambah lagi, surat yang pendek ini terlihat seperti berdiri sendiri. Tidak ada hubungan khusus antara surat ini dengan surat-surat lainnya. Hal ini dilihat dari pembahasan situasi dalam surat ini yang sangat spesifik dan personal. Surat ini secara khusus ditujukan kepada seseorang untuk menanggapi masalah yang terjadi di gereja Asia Minor pada saat itu. Kemudian, dilihat dari sejarahnya, surat ini tidak pernah disebut dan dikutip sampai abad ketiga. Dengan otoritas kepenulisan dan pesan teologis yang kurang jelas, maka, surat 3 Yohanes sempat diragukan untuk dimasukkan ke dalam kanon.Pada makalah ini, penulis menjawab dua permasalahan tersebut, yakni ketidakjelasan otoritas penulis dan pesan teologis dari surat ini. Penulis menjawabnya dengan memaparkan kriteria kanon, pertimbangan bapa-bapa gereja dan para ahli mengenai kepenulisan surat 3 Yohanes, serta menemukan pesan teologisnya melalui eksegesis. Kemudian, penulis menambahkan implikasi surat ini bagi gereja masa kini
Tinjauan Terhadap Pandangan Rasul Petrus Mengenai Peran Wanita Kristen Dalam 1 Petrus 3:1-7
Bila membaca beberapa ayat dalam surat 1 Petrus 3, bagi sebagian orang, ada beberapa ayat yang merendahkan wanita. Misalnya perintah istri untuk tunduk kepada suami (ay. 1); pernyataan Sara yang menamai Abraham sebagai “tuan”-nya (ay. 6); bahkan istri disebutnya sebagai “kaum yang lebih lemah” (ay. 7). Namun, apakah benar bahwa Petrus merendahkan wanita dan meletakkan posisi mereka pada golongan kelas bawah? Makalah ini berusaha membuktikan bahwa Petrus, melalui teks yang dituliskannya, tidak sedang merendahkan wanita. Bahkan Petrus justru sangat menghargai kaum wanita yang adalah rekan yang setara dalam Injil. Penulis berharap makalah ini dapat memberikan jawaban tentang tuduhan pandangan Petrus terhadap wanita
Aku, Dia dan sabdaNya
Kumpulan renungan ini merupakan rekaman renunganrenungan yang pernah disampaikan secara lisan. Oleh karena itu, meskipun renungan ini telah disajikan dalam bentuk tertulis, masih akan terbaca sebagai bahasa lisan. Dengan kata lain, bahasa tulisan dengan rasa lisan. Setiap orang Kristen diperintahkan untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Oleh karena itu penting sekali bagi orang Kristen untuk mengerti Firman Tuhan dan mengaplikasikannya
dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Kumpulan renungan ini merupakan suatu usaha untuk memahami kehendak Tuhan melalui Firman-Nya dengan kerinduan untuk menjadi pelaku-pelaku Firman Tuha
Roh Kudus dalam Kitab Yakobus Tinjauan Terhadap Pengajaran Yakobus Tentang Hikmat
Surat Yakobus terkenal dengan istilah “surat jerami” (epistle of straw) karena Martin Luther yang menilainya tidak sejajar dengan kitab-kitab lainnya di dalam Alkitab dan bahkan menolak untuk memasukkannya ke dalam kanon. Penolakan tersebut didasari oleh pemahaman bahwa Injil Kristen harus berpusat kepada Allah Tritunggal–Bapa, Anak, dan Roh Kudus, sedangkan di dalam surat Yakobus, tidak ada penyebutan tentang Roh Kudus sama sekali. Wengert bahkan mengatakan, “if only one book of the New Testament had somehow survived to the present, it would be virtually impossible to know anything about Christ or the Holy Spirit if this book was James.” Seseorang tidak akan dapat mengerti apa-apa mengenai Roh Kudus apabila dia hanya membaca surat ini. Sebenarnya apabila dilihat dari bahasa aslinya, Yakobus pernah menuliskan “πνεῦμα” (R/roh) dalam 4:5. Akan tetapi, kata itu tidak didahului atau diikuti dengan kata sifat “Ἅγιον” (kudus) seperti dalam kitab-kitab lain yang menandakan bahwa kata itu merujuk kepada Roh Kudus dan bukan roh manusia. Konteks dari ayat tersebut pun juga tidak dapat menjelaskan R/roh mana yang dimaksudkan oleh Yakobus. Memang penerjemahan dari ayat ini menimbulkan perdebatan sepanjang zaman. Ada beberapa permasalahan yang timbul dalam penerjemahannya seperti pengutipannya, maksud dari kata “πνεῦμα” (R/roh), serta subjek dari kata kerja “ἐπιποθεῖ” (diingini). Apabila ayat tersebut diterjemahkan menjadi “He (God) yearns with indignation for the spirit which he has made to dwell in us” (Dia [Tuhan] mengingini dengan cemburu roh yang Dia telah tempatkan dalam kita), maka dapat dikatakan bahwa tidak ada penyebutan akan Roh Kudus sama sekali di kitab ini.Akan tetapi, perdebatan ini biasanya berakhir dengan kesimpulan dari J. A. Kirk yang dalam artikelnya, “The Meaning of Wisdom in James: Examination of a Hypothesis,” mencoba untuk memberikan solusi dari permasalahan ini. Solusi yang diberikan oleh Kirk adalah kalau Roh Kudus bisa dilihat di dalam konsep hikmat dari Yakobus. Dia mengatakan bahwa cara Yakobus menggunakan konsep hikmat adalah “more or less interchangeable with that in which other writers of the New Testament use the concept of the Holy Spirit.” Kirk mengajukan pendapat bahwa konsep hikmat dalam kitab Yakobus bisa disejajarkan dengan konsep Roh Kudus dalam kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya, bahkan bisa dipertukarkan. Dia membangun teorinya berdasarkan kaitan yang cukup erat antara konsep hikmat dalam kitab Yakobus dengan konsep Roh Kudus dalam Perjanjian Baru, terutama dalam Injil Matius dan Lukas, serta pengajaran Paulus tentang buah roh dalam suratnya kepada jemaat di Galatia. Kalau begitu, apakah Yakobus sebenarnya sudah mempunyai pemahaman akan Roh Kudus, tetapi tidak menyebutkannya secara eksplisit? Oleh karena itu, tulisan ini akan menganalisis apakah Roh Kudus dapat dilihat di dalam konsep hikmat dari Yakobus. Pertama-tama, penulis akan mengkaji konsep hikmat yang diajarkan di sepanjang surat ini–apa yang dimaksud Yakobus ketika berbicara tentang hikmat. Lalu penulis melanjutkan dengan menguraikan keterkaitan konsep hikmat Yakobus dengan literatur hikmat lainnya serta Alkitab, terutama Perjanjian Baru, dan mengakhiri dengan memberikan implikasi bagi pembaca masa kini
Panggilan Untuk Hidup Berbeda Sebagai Motif Kesinambungan Antar Perjanjian: Tinjauan Terhadap Hukum Perbudakan Di Perjanjian Lama Dan Khotbah Di Bukit Di Perjanjian Baru
Kesinambungan antara motif Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sering kali mengundang ketertarikan para ahli biblika untuk menyeledikinya. Beberapa usulan telah diberikan mengenai kesinambungan motif antar perjanjian ini. William Dubreel mengusulkan penciptaan baru, Charles H. Scobie mengusulkan pendekatan multietnik, Martus A. Maleachi dan Hendra Yohanes mengusulkan tentang kehadiran Allah. Dalam makalah ini, Penulis melihat dan mengusulkan sebuah motif baru yaitu panggilan kepada umat Allah untuk hidup berbeda. Motif tersebut dapat dilihat dengan analisa teologis hukum secara khusus hukum perbudakan yang mewakili Perjanjian Lama dan membandingkannya dengan Khotbah Yesus di Bukit yang mewakili Perjanjian Baru. Dengan motif ini, setidaknya ada dua implikasi bagi orang percaya. Pertama, orang percaya juga punya panggilan untuk hidup berbeda dari dunia. Kedua, Motif ini semakin membuktikan kontinuitas, kesinambungan dan konsistensi Alkitab dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru