STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Gereja dengan “Sayap Apokaliptis” / Andreas Hauw

    No full text
    Buku bunga rampai Revitaliasi Gereja ini adalah sebuah respons terhadap persoalan polarisasi gereja ke kutub teologis atau, sebaliknya, ke kutub praktis. Kumpulan tulisan ini merupakan sebuah upaya menolong gereja-gereja yang sedang mandeg dan menukik karena tersandera oleh persoalan polarisasi ini. Cara yang dipakai adalah dengan mengajak gereja-gereja Kristen untuk terbang dengan sepasang sayap, sayap teologis dan sayap praktis. Meletakkan dasar-dasar teologis dalam bergereja adalah hal yang sangat fondasional. Setelah itu, bangunan-bangunan praktis diletakkan secara integratif di atasnya. Dengan demikian, gereja tidak akan diombang-ambingkan oleh berbagai tantangan zaman. Dengan kedua sayapnya, sang burung dapat terbang tinggi menantang angin, atau badai sekali pun, yang datang menerjang

    Perceraian dan Kekudusan Bangsa Yehuda : Sebuah Tinjauan Terhadap Teks Ezra 10:3

    Full text link
    Kitab Ezra menceritakan peristiwa pulangnya bangsa Yehuda ke Yerusalem dalam dua gelombang. Gelombang pertama dipimpin oleh Zerubabel dan gelombang kedua dipimpin oleh Ezra yang merupakan seorang imam dan ahli kitab (ahli Taurat). Ezra diberikan kuasa oleh raja negeri Persia yaitu raja Arthasasta untuk mengajarkan Hukum Taurat kepada orang-orang Yehuda yang berada di Yerusalem. Ketika Ezra melihat bahwa orang-orang Yahudi telah berlaku jahat, dengan mengambil perempuan-perempuan bangsa lain menjadi istri mereka, maka ia berdoa dan mengaku dosa-dosa orang-orang Yehuda di hadapan Tuhan (lih. Ezr. 9). Kemudian, Sekhanya menyampaikan ajakan untuk mengikat perjanjian dengan Allah dan mengusir semua perempuan dan anak-anak yang dilahirkan dari perempuan bangsa non-Yahudi (Ezra 10:3). Ajakan Sekhanya ini menimbulkan sebuah pertanyaan dalam benak penulis yaitu Apakah Tuhan mengizinkan perceraian menurut ajakan Sekhanya di Ezra 10:3? Melalui paper ini, penulis akan menunjukkan bahwa Tuhan tidak mengizinkan perceraian. Namun, ajakan Sekhanya adalah benar di satu sisi dan/atau merupakan tafsiran mengenai hukum Taurat. Untuk mencapai hal tersebut, maka pertama-tama penulis akan menyampaikan konteks historis dan tekstual dari Ezra 10:3. Kemudian, penulis akan memberikan pandangan penafsir mengenai Ezra 10:3. Terakhir, penulis akan memberikan relevansi Ezra 10:3 bagi kehidupan saat ini dan kesimpulannya

    Mandat Pemuridan Keluarga: Kolaborasi

    No full text
    Buku “Mandat Pemuridan Keluarga – Kolaborasi” merupakan kumpulan kesaksian dari gereja-gereja yang mengikuti gerakan Ulangan 6 yang diselenggarakan oleh Yayasan Eunike sejak tahun 2013. Gereja-gereja ini adalah gereja yang memiliki pemimpin/aktivis yang terbeban untuk merintis pemuridan keluarga di dalam gereja. Di masa pandemi dan paska pandemi, gereja sangat membutuhkan dorongan untuk menguatkan keluarga-keluarga jemaat. Untuk itu, tulisan perwakilan gereja yang sudah dikumpulkan dan disusun dengan sangat baik oleh tim Yayasan Eunike di tahun 2019, perlu segera diterbitkan sehingga bisa memberkati lebih banyak gereja

    Pandangan Anggota Kelompok Tumbuh Bersama terhadap Relasi dengan Mentornya di GKKA Indonesia Jemaat Tenggilis Mejoyo.

    Full text link
    Pandangan Anggota Kelompok Tumbuh Bersama Terhadap Relasi Dengan Mentornya merupakan sebuah penelitian terhadap proses mentoring di GKKA Indonesia Jemaat Tenggilis Mejoyo, khususnya pengamatan pada relasi antara mentor dan mentee yang adalah Gen-Z. Pengamatan tersebut bertujuan untuk memetakan karakter otoritas, kontrol, dan kehadiran sebagai perwujudan Imago Dei dalam diri mentor dan mentee. Pandangan populer mengenai Gen-Z menujukkan adanya wilayah-wilayah yang berpotensi menimbulkan hambatan dalam proses mentoring Kristen yang menegakkan otoritas, kontrol, dan kehadiran mentor. Karena itu pada umumnya dalam proses mentoring Gen-Z beberapa pandangan mengarahkan kepada proses mentoring yang bercorak humanis. Tentu hal tersebut bertolak belakang dengan mentoring Kristen yang konsisten menegakkan aspek otoritas, kontrol, dan kehadiran pada mentor. Karena itu tujuan penelitian ini hendak meninjau apakah ketiga karakter tersebut dapat ditegakkan dalam proses mentoring terhadap Gen-Z. Mengingat pandangan pokok GKKA Indonesia Tenggilis Mejoyo mentoring adalah bagian dari kelanjutan kovenan anugerah Allah dan dalam hal ini gereja menjalankan mandat untuk memuridkan melalui proses mentoring. Metode penelitian dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para partisipan sebagai mentee sangat menghargai relasinya dengan mentor melalui otoritas, kontrol dan kehadirannya yang merupakan representative dari karakter yang diberikan Tuhan (Imago Dei). Gen-Z yang oleh beberapa psikolog diatributkan dengan sifat yang egaliter, cepat berpikir, mudah bosan, dan bersifat soliter, ternyata dari hasil penelitian hal itu tidak menghambat untuk terciptanya relasi yang sehat dalam sebuah mentoring Kristen yang mempertahankan aspek kovenan - otoritas, kontrol, kehadiran. Dengan catatan jika saja mentor mampu menjaga privasi, memberikan ruang kreatifitas, kerendah-hatian atau menjadi pribadi yang biasa sebagai upaya melawan sikap inklusif dan egaliter, sehingga dari kehati-hatian tersebut memberikan peluang bagi mentor untuk memiliki relasi yang dekat dengan mentee-nya dan kemudian jika relasi sudah menjadi dekat maka mentor berpeluang untuk mengarahkan tujuan dan sistem nilai dari mentee agar sesuai dengan Firman Tuhan

    Postcolonial Reading of the Bible: (Evangelical) Friend or Foe?

    No full text
    Reading the Bible through a postcolonial lens has become today’s trend in biblical hermeneutics. It triggers pros and cons within the evangelical circle. Is it friend or foe? Rather than uncritically accepting or refusing it, the article chooses a middle way, being “open but cautious” toward it. The article assumes that every reading method has its strengths and weaknesses and, thus, it can offer valuable things. Applying the content analysis theory, the author finds that a postcolonial biblical reading is somehow relevant to a contextual and transformative biblical reading, regardless of its multiple problems. It enables the readers to be self-critical, context-sensitive, and practical in faith-life integration. The article concludes that postcolonial reading of the Bible can be both (evangelical) friend and foe.Membaca Alkitab melalui lensa pascakolonial telah menjadi tren hermeneutika alkitabiah saat ini. Ini memicu pro dan kontra di kalangan Injili. Apakah itu teman atau musuh? Alih-alih menerima atau menolaknya tanpa kritik, artikel ini memilih jalan tengah, “terbuka tetapi berhati-hati” terhadapnya. Artikel ini berasumsi bahwa setiap metode membaca memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing sehingga dapat menawarkan hal-hal yang berharga. Dengan menerapkan teori analisis isi, penulis menemukan bahwa pembacaan biblika pascakolonial entah bagaimana relevan dengan pembacaan alkitabiah yang kontekstual dan transformatif, terlepas dari berbagai masalahnya. Hal ini memungkinkan pembaca untuk menjadi kritis terhadap diri sendiri, peka dengan konteks, dan praktis dalam integrasi kehidupan iman. Artikel ini menyimpulkan bahwa pembacaan Alkitab pascakolonial dapat menjadi teman dan musuh (Injili)

    Dosa yang Mendatangkan Maut : Analisis Kritis Surat 1 Yohanes 5:16-17 serta Implikasinya bagi Orang Kristen Masa Kini

    No full text
    Surat Yohanes adalah salah satu surat yang tidak begitu jelas siapa penulisnya. Surat ini diyakini ditulis oleh Yohanes yang kemungkinan adalah murid dari rasul Yohanes dan adalah anggota jemaatnya, ia mungkin salah satu editor Injil Yohanes. Terlepas dari siapa penulisnya, surat 1 Yohanes adalah surat yang berbicara baik secara pastoral maupun secara otoritatif, surat yang berharap untuk diakui oleh pembaca dengan pernyataan yang dapat diandalkan dari pesan yang telah diproklamasikan “dari permulaan” (1 Yoh. 1:1). Namun, ada satu masalah yang muncul di dalam surat 1 Yohanes, yaitu terlihat adaya kontradiksi antara 1 Yoh. 5:16-17 dengan 1 Yoh. 1:9 dan 1 Yoh. 3:8. Permasalahan ini telah menjadi bahan diskusi di kalangan para sarjana. Dalam pasal 5:16-17, Yohanes membedakan dua jenis dosa: “Dosa yang mendatangkan maut” dan “dosa yang tidak mendatangkan maut.” Tampaknya, Yohanes melakukan dualisme dalam ayat tersebut. Lantas, apakah Yohanes memang menggunakan dualisme dalam ayat tersebut? Apakah ayat tersebut berkontradiksi dengan ayat 1:9 dan 3:8? Apa maksud dari kedua frasa teologis tersebut? Untuk memahami dua makna dosa yang dicatat dalam surat Yohanes yang pertama ini, penulis akan melakukan analisis konteks historis dan literer surat 1 Yohanes, dan kemudian melakukan eksegesis perikop 1 Yoh. 5:16-17. Penulis juga akan memberikan implikasi praktis bagi orang Kristen berdasarkan hasil analisis tersebut

    Panggilan Untuk Hidup Berpengharapan di Tengah Penderitaan : Sebuah Kajian Teologis Terhadap Surat 1 Petrus 1:3-12

    Full text link
    Pada abad 21 ini, sudah banyak dikumandangkan kebijakan hukum yang membahas mengenai hak asasi manusia khususnya yang berkaitan tentang penganiayaan manusia. Tetapi penganiayaan manusia menjadi berbeda ketika dikaitkan dengan orang Kristen. Penganiayaan terhadap orang Kristen sudah dirasakan oleh para nabi dalam Perjanjian Lama, para rasul dan jemaat mula-mula di Perjanjian Baru, serta banyak orang Kristen masa kini yang masih mengalami penderitaan akibat penganiayaan. Penderitaan tidak selalu dialami atau terjadi dari hal-hal eksternal, tetapi bisa juga terjadi dari hal-hal internal seperti penderitaan batin yang dialami oleh Ayub dalam Perjanjian Lama. Saking menderitanya, sampai-sampai Ayub berkali-kali mengatakan kalau ia ingin berada dalam dunia orang mati saja (Ayb 7:9-10; 14:13; 17:13, 16). Ia merasa hidupnya tidak berguna dan tekanan akan penderitaan itu terus-menerus terjadi dalam hidupnya. Tetapi dalam kisahnya, Ayub tetap berpegang pada imannya terhadap Allah (Ayb 13:5; 19:25; 23:10-14). Dalam salah satu bukunya yang membahas mengenai penderitaan, Timothy Keller memberikan sebuah pernyataan yang baik. Ia mengatakan demikian: “Setiap penderitaan pada dasarnya unik. Itu artinya setiap penderita perlu menemukan jalan keluar yang berbeda untuk melaluinya.” Namun di masa kini pun, di dunia luar masih banyak sekali orang Kristen yang dianiaya bahkan ada yang sampai mati martir oleh karena iman mereka kepada Kristus. Misalnya saja di Korea Utara, negara yang hanya boleh menyembah atau mengidolakan Kim Jong Un dan keluarga kerajaan saja serta tidak boleh ada agama di sana. Bahkan orang-orang Kristen yang ada di sana harus menutupi identitasnya sebagai Kristen oleh karena tekanan yang mereka dapati dari pemerintah setempat. Tetapi hal ini terjadi tidak hanya di luar negeri saja, di Indonesia sendiri pun juga terdapat kasus penganiayaan terhadap orang Kristen atau penderitaan yang harus dialami oleh orang-orang Kristen. Mungkin sampai sebelum pandemi, ibadah yang dilakukan di gereja-gereja bisa berjalan dengan baik dan tenang tanpa ada ketakutan atau keresahan yang dialami oleh jemaat karena ada ancaman dari sekitar area gereja. Namun, ada gereja-gereja yang malah menerima ancaman dari warga sekitar, misalnya pada bulan Mei tahun 2018 yang lalu, sempat terjadi pengeboman terhadap tiga gereja di Surabaya yang menyebabkan 18 orang meninggal dunia, dan banyak korban lainnya yang terkena luka bakar berat maupun ringan. Sebagai orang Kristen, berarti bukan hanya bisa mendapat kenyamanan dalam beribadah namun juga bisa menjadi ancaman bagi diri sendiri untuk menderita dalam penganiayaan oleh karena iman yang dipertahankan. Maka dari itu, inilah yang menjadi ketertarikan penulis untuk mengulas dalam makalah ini bagaimana orang Kristen dapat hidup berpengharapan di tengah penderitaan ditinjau dari 1 Petrus 1:3-12. Dalam makalah ini, penulis akan memaparkan mengenai tiga hal. Pertama, mengenai konteks atau latar belakang historis pada masa itu dan penerima surat ini, yaitu kepada jemaat yang tersebar di Asia kecil. Lalu, penulis akan membahas perikop ini dengan pembahasan literer. Terakhir, penulis akan menyampaikan implikasi apa saja yang dapat diterapkan dalam kehidupan orang-orang Kristen pada masa kini

    Merdeka belajar dari perspektif teologis

    No full text

    Perbandingan Konsep Teodise John Calvin dan C. S. Lewis serta Relevansinya terhadap Sikap Fatalistik dalam Menghadapi Covid-19

    No full text
    The world is currently enduring an epidemic of COVID-19 which causes suffering and pain. Facing the COVID-19 pandemic, Indonesian people have shown various responses. One popular respond is theological fatalism, which believe that God has determined everything so that human efforts and actions are not necessary. In connection to this, the question arouse whether Christian theology, especially Christian theodicy, which was represented in this paper by John Calvin and C. S. Lewis, fell into fatalism? To answer this question, the writer would compare of the two theodicies by using a literature research. Through this research, it was concluded that neither John Calvin's theodicy nor C. S Lewis's had fallen into theological fatalism. Both emphasized free will and human responsibility in making choices and actions. The right attitude is to submit to the authority of God's word which commands us to act by doing good to others who are suffering and sick.Dunia saat ini sedang dilanda wabah penyakit COVID-19 yang menyebabkan penderitaan dan kesakitan. Berhadapan dengan pandemi COVID-19, manusia Indonesia menunjukkan berbagai respon. Salah satu yang umum adalah fatalisme teologis yakni kepercayaan bahwa Allah sudah menetapkan segala sesuatu sehingga usaha dan perbuatan manusia tidak membuat perbedaan dan dampak di dalam sejarah kehidupan. Berkaitan dengan hal tersebut muncul pertanyaan apakah teologi Kristen, khususnya teodise Kristen, yang diwakili di dalam paper ini oleh John Calvin dan C. S. Lewis jatuh ke dalam fatalisme? Untuk menjawab pertanyaan tersebut penulis akan membandingkan kedua teodise tersebut dengan menggunakan studi pustaka. Melalui penelitian tersebut disimpulkan bahwa baik teodise John Calvin maupun C. S Lewis tidak jatuh ke dalam fatalisme teologis. Kedua-duanya sama-sama menekankan kehendak bebas dan tanggung jawab manusia di dalam melakukan pilihan dan tindakan. Sikap yang tepat adalah tunduk kepada otoritas firman Tuhan yang memerintahkan kita untuk bertindak dengan berbuat baik kepada sesama yang menderita dan sakit

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇