STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Can We be Good Without God : Sebuah Pembelaan dari Teori Perintah Ilahi
Menjadi orang yang baik dan bermoral sering kali adalah sebuah tuntutan sekaligus dambaan bagi banyak orang. Menariknya, menjadi orang baik dan bermoral tidak hanya didambakan oleh orang-orang yang menganut kepercayaan teistik seperti iman Kristen saja, melainkan juga oleh mereka yang menganut kepercayaan non-teistik seperti ateisme dan agnostisisme. Namun, apakah benar bahwa seseorang dapat menjadi baik dan bermoral tanpa keberadaan Allah? Jika pertanyaan ini ditanyakan kepada kekristenan, maka jawaban umumnya adalah tidak dapat. Manusia tidak dapat menjadi orang baik dan bermoral tanpa Allah. Hal ini dikarenakan objektivitas dan fondasi moral membutuhkan keberadaan Allah. Gagasan tersebut dapat terlihat pada teori perintah ilahi (divine command theory) yang menjadi salah satu teori moral atau etika Kristen. Di sisi lain, jika pertanyaan di atas ditanyakan kepada Paul Kurtz, seorang filsuf humanisme sekuler, maka jawabannya adalah manusia dapat menjadi orang baik dan bermoral tanpa Allah. Menurut Kurtz, “Morality and moral behavior do not depend on divine commandments.” Mirisnya, dewasa ini ada banyak orang yang setuju dengan pandangan Kurtz tersebut.6Persetujuan dari banyak orang ini tentu tidak dapat dilepaskan dari pengaruh tokoh-tokoh ateis yang mengkritik teori perintah ilahi dan juga berkembangnya teori moral ateisme dengan pendekatan humanisme (disebut juga teori moral ateisme-humanisme) di dalam beberapa dekade terakhir ini. Misalnya, Kurtz dengan pendekatan humanisme sekulernya dan Sam Harris, seorang ahli saraf (neuroscientist) ateis yang menegaskan bahwa sains dapat membantu manusia untuk mengetahui perbuatan moral sehingga ia dapat melakukannya dan menjadi bermoral tanpa membutuhkan keberadaan Allah. Melihat polemik di antara iman Kristen dan ateisme mengenai dibutuhkan atau tidaknya keberadaan Allah bagi objektivitas dan fondasi moral, maka melalui tulisan ini penulis akan membandingkan teori moral yang dianut oleh kedua kubu tersebut. Namun, penulis membatasi hanya akan mendeskripsikan teori moral ateisme-humanisme. Menurut hemat penulis, teori moral ateisme-humanisme bermasalah karena tidak dapat memberi alasan yang masuk akal dan koheren bagi semua orang untuk dapat menjadi orang yang baik dan bermoral tanpa Allah. Di sisi lain, teori perintah ilahi, yakni teori etika Kristen yang berpusat pada perintah Allah, dapat memberi alasan yang masuk akal dan koheren bagi semua orang untuk dapat menjadi orang yang baik tanpa Allah. Pertama, penulis akan mendeskripsikan apa itu teori moral ateisme-humanisme dan duduk perkaranya. Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan pembelaan teori perintah ilahi terhadap masalah moral tersebut. Akhirnya, artikel ini akan ditutup dengan kesimpulan oleh penulis
Understanding the church involvement of generation Z adults within megachurches in Indonesia
Ph.D--Biola University, 2021The purpose of this descriptive qualitative study was to understand and describe Gen Z adults’ church involvement within Chinese-background megachurches in Indonesia. This study used basic qualitative research to achieve its purpose to construct meaning from the participants. All 24 participants were living in Indonesia. They consisted of 9 participants who are church leaders, over the age of 25; and 15 other participants who represented Gen Z and were within the age range of 18-to-25-year-olds. The author conducted one-on-one interviews with each participant that lasted from 60 to 90 minutes. The interviews were recorded, transcribed, translated, and analyzed using standard coding procedures, which involved the initial and focused coding. The author also conducted participant observations on the church online worship services and some church activities that involved Gen Z, such as small group meetings and gatherings. The study’s findings describe how the churches’ strategies and endeavors in ministering to today’s young people had led Gen Z to have characteristic church involvement practices, challenges, and impacts on their lives and others around them. Additionally, this study’s findings also spell out the three prominent factors in churches that led to Gen Z’s church involvement, including an engaging community, empowering responsibility, and elevating spirituality. These findings add to the theoretical understanding of Gen Z’s characteristics within the Indonesian context, factors contributing to church involvement, and Chinese-background megachurches in Indonesia. Moreover, this study’s findings also indicate practical implications primarily for the Chinese-background megachurches in Indonesia, the young people ministries of today’s churches, and the researchers in ministry to the young people in Indonesia
Hubungan antara Kelekatan kepada Orang Tua dengan Kesejahteraan Psikologis pada Emerging Adults
Pada periode emerging adulthood, sebagian besar emerging adults keluar dari rumah orang tua untuk melanjutkan studi atau bekerja di luar kota. Relasi dengan keluarga (orang tua) makin berkurang dan digantikan dengan relasi dengan teman sebaya atau rekan-rekan kerja. Periode emerging adulthood merupakan masa transisi dari masa remaja menuju masa dewasa. Masa transisi ini merupakan salah satu masa transisi kehidupan yang berat, dan berdampak kepada kondisi psikologis individu. Pada masa ini terdapat kecenderungan yang cukup kuat bagi emerging adults untuk mengalami gangguan mental yang berat. Gangguan mental yang sering dialami oleh emerging adults adalah depresi, kesepian, dan keinginan untuk bunuh diri, bahkan sampai tindakan bunuh diri.
Mengetahui kecenderungan tersebut, muncul pertanyaan pada benak penulis: Apakah ada hubungan antara kelekatan kepada orang tua dengan kondisi psikologis emerging adults? Kalau ada, apakah peran kelekatan kepada orang tua terhadap kondisi psikologis emerging adults?
Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dan pemikiran untuk mengetahui lebih dalam tentang kondisi psikologis individu dari sudut pandang yang lebih positif, peneliti memilih untuk meneliti kesejahteraan psikologis individu yang dikaitkan dengan kelekatan kepada orang tua.
Penelitian ini dilakukan terhadap kaum muda Kristen yang berdomisili di kota Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah teknik sampling aksidental, yaitu siapa saja yang berusia di antara 19-25 tahun diberi kesempatan untuk menjadi responden. Hasil olah data penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara kelekatan kepada orang tua dengan kesejahteraan psikologis emerging adults. Hubungan tersebut bersifat positif, dalam arti makin tinggi atau aman kelekatan kepada orang tua makin tinggi tingkat kesejahteraan psikologis. Sebaliknya, makin rendah atau tidak aman kelekatan kepada orang tua makin rendah tingkat kesejahteraan psikologis emerging adults
Scriptural Literacy in Muslim-Christian Reading of the Scriptures Together : Significance, Challenges, and Opportunities in the Indonesian Context
An online research seminar in a series on Christian-Muslim Relations in Southeast AsiaReading Muslim-Christian scriptures together is a form of interfaith dialogue. It engages the scriptures’ interpretation by identifying the text’s plain sense to address a particular topic or issue. However, the activity may become a mere cognitive exercise, emphasising intellectual authority and expertise in understanding the text. Given this situation, the paper proposes the inclusion of scriptural literacy in the reading process. It is a competence attained through collective exploration and interactive communication of the textual meaning. It includes reconstructing, reiterating, and extracting both the (written and oral) text from the participants’ situated argument and context. Scriptural literacy aims to share a collective sense of knowledge and experience, work together in dealing with a particular issue, and set strategies for doing so (or use them in the most effective ways). The paper intends to demonstrate scriptural literacy’s significance in developing participants’ capacity to use the text (and its discussions) to analyze and transform their social relations. It also highlights some challenges from common and current religious practice in the context, such as exclusive scriptural reading, apologetical/polemical dialogues, dominant religious authority, and single/hegemonic textual interpretation. Finally, the paper perceives that scriptural literacy may offer Muslims and Christians opportunities to attain impactful reading of their scriptures in the Indonesian context.Asian Voices Project, The Centre for Muslim-Christian Studies, Oxford, UK
Analisis Kritis Terhadap Struktur Retorika Surat Ibrani Dan Penerapannya Pada Khotbah Masa Kini
Surat Ibrani biasanya lebih dikenal sebagai sebuah surat. Namun, ada pandangan lain mengenai genre surat Ibrani, yaitu sebagai Sermonic Epistle yang disebut juga sebuah khotbah atau retorika. Penulisan surat dengan struktur retorika ini berbeda dengan beberapa surat umum lainnya di dalam Alkitab. Misalnya penulisan surat Petrus yang tidak menggunakan struktur retorika untuk menguatkan jemaatnya. Kalau begitu, mengapa penulis surat Ibrani lebih memilih bentuk khotbah yang dikemas dalam struktur retorika? Apa saja prinsip yang dipegang oleh penulis Ibrani dalam penyampaian khotbahnya? Apakah prinsip tersebut dapat diterapkan pada khotbah masa kini? Melalui analisis struktur retorika surat Ibrani serta prinsip penulis surat Ibrani dalam penggunaan struktur retorika, penulis menyimpulkan bahwa surat Ibrani menggunakan struktur retorika Yahudi-Hellenistik dan orang-orang Kristen pada masa awal yang sesuai dengan zaman itu untuk memudahkan penerima suratnya. Selain itu, penulis surat Ibrani juga menunjukkan prinsip yang konsisten yaitu meninggikan Yesus Kristus di atas segalanya. Prinsip ini relevan hingga sekarang dan harus terus menjadi pengingat bagi setiap pengkhotbah untuk mengkhotbahkan Kristus dan menghidupi khotbah yang berdasar pada Kristus sang Imam Besar
Kumpulan Aransemen dan komposisi, vol. 1
Tidak terasa, program studi S.Th. konsentrasi musik gereja di SAAT sudah melayani hampir 10 tahun. Tuhan telah mengirimkan para hamba-Nya yang mau diutus menjadi hamba Tuhan bidang musik gereja untuk dibentuk di SAAT selama hampir 10 tahun sejak konsentrasi ini mulai berjalan pada Agustus 2011. Selama kurun waktu tersebut, banyak pelayanan dan karya yang telah
dilakukan, baik oleh para mahasiswa maupun dosen konsentrasi musik gereja. Salah satu bentuk karya yang dihasilkan adalah aransemen ataupun gubahan yang diperdengarkan saat resital mahasiswa, pelayanan, maupun acara-acara kampus lainnya seperti SAAT Youth Camp yang rutin diadakan setiap tahun. Kompilasi aransemen dan gubahan dengan judul A Servant’s Heart: A Musical Potpourri adalah bentuk kerinduan kami untuk membagi karya-karya kepada khalayak yang lebih luas. Tidak jarang karya-karya ini “hanya” diperdengarkan di acara kampus sehingga hanya beberapa orang saja yang dan menikmati dan diberkati. Melalui terbitnya kompilasi ini, kami berharap semakin banyak orang dapat mendengar dan bahkan turut menjadi berkat bagi orang lain saat menyampaikan kabar sukacita melalui alunan nada dari karya-karya ini. Judul kompilasi ini menjadi pengingat bagi kita semua, baik itu yang mendengar maupun yang menampilkan musik ini, bahwa kita semua hanyalah hamba Tuhan, yang rindu untuk melayani Tuhan dan sesama. Istilah potpourri , atau dalam bahasa Indonesia bunga rampai, kami pilih karena karya-karya yang ada dalam kompilasi ini sangat beragam. Sebagian besar karya adalah aransemen himne untuk piano solo, satu aransemen lagu kontemporer Kristen untuk paduan suara campuran, dan satu lagu gubahan baru untuk vokal dengan iringan piano
“Perbuatlah Ini Menjadi Peringatan Akan Aku”: Tinjauan Terhadap Konsep Ekaristi Herman Bavinck Menurut Konsep Ekaristi John Zizioulas
Ekaristi merupakan salah satu elemen penting dalam iman Kristen yang mempersatukan orang percaya dan yang telah dilakukan sejak abad pertama. Melalui Ekaristi, orang-orang dapat melihat bahwa gereja adalah satu di dalam Kristus yang telah menebus dan melayakkan mereka untuk menjadi umat-Nya. Meskipun demikian, beberapa aliran gereja dari kalangan Injili melihat dan memaknai Ekaristi dengan penekanan yang berbeda satu sama lain. Perbedaan dalam melihat Ekaristi ini menjadi sesuatu yang nampaknya mengaburkan nilai Ekaristi sebagai lambang pemersatu umat Allah. Oleh karena itu, penulis ingin meninjau konsep Ekaristi gereja Injili (yang diwakili oleh Herman Bavinck) dan memberi usulan yang dilihat dari kacamata tradisi Ortodoks Timur (yang diwakili oleh John Zizioulas). Harapannya, bukan untuk meniadakan satu tradisi dan menggantikannya dengan tradisi yang lain, melainkan untuk menjadi suatu perbandingan yang bersifat komplementari (saling melengkapi)
Mikhael vs. Iblis Tinjauan terhadap Penggunaan Kutipan Kitab Bukan Kanon dalam Yudas 9 serta Implikasinya bagi Jemaat Masa Kini
Kitab Yudas merupakan bagian dari surat-surat umum Perjanjian Baru dengan keseluruhan kitab hanya berisi 25 ayat. Hal ini menjadikan Yudas sebagai salah satu kitab tersingkat dalam Perjanjian Baru. Di sisi lain, kitab Yudas memiliki banyak perdebatan mengenai otoritasnya. Beberapa ahli mempertanyakan otoritas dari kitab ini karena adanya permasalahan-permasalahan, seperti penulisan kitab Yudas yang banyak menggunakan referensi yang patut dipertanyakan, natur kitab yang penuh dengan kecaman dan polemik, dan sikap penulis yang menolak pengajaran yang bertentangan dengannya tetapi tidak memberikan argumen untuk menentang pengajaran mereka. Namun permasalahan yang paling menonjol adalah sumber pengutipan kitab Yudas yang berasal dari luar kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dua sumber yang dipakai penulis adalah kitab pseudepigrapha, yaitu the Assumption of Moses dan the Book of Enoch. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan karena gereja masa kini bahkan tidak memasukkan dua sumber tersebut ke dalam kanon Perjanjian Lama maupun Apokrifa. Pada akhirnya, gereja cenderung menghindari penggunaan kitab ini, baik dalam khotbah maupun dalam pengajaran-pengajarannya. Salah satu penggunaan kitab pseudepigrapha terlihat dalam ayat 9, “Tetapi penghulu malaikat, Mikhael, ketika dalam suatu perselisihan bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa, tidak berani menghakimi Iblis itu dengan kata-kata hujatan, tetapi berkata: ‘Kiranya Tuhan menghardik engkau!’” Di dalamnya, Yudas menggabungkan dua sumber untuk membangun tulisannya. Pertentangan antara penghulu malaikat Mikhael dan Iblis diyakini dikutip dari kitab the Assumption of Moses atau the Testament of Moses.6 Kisah ini merupakan salah satu legenda Yahudi dan tidak termasuk dalam kanon. Namun, kalimat yang diucapkan oleh malaikat Mikhael pada ayat ini dikutip dari salah satu kitab kanon Perjanjian Lama, yaitu Zakharia 3:2. Ini tentu menarik karena di satu sisi, peristiwa yang dikutip dari penulis berasal dari kitab yang tidak diakui otoritasnya, tetapi di sisi lain, kalimat yang dipakai oleh malaikat Mikhael dikutip dari kitab yang diakui otoritasnya. Masalah-masalah ini menimbulkan pertanyaan mengenai otoritas kitab Yudas dan juga kutipan di luar kanon yang digunakan di dalamnya. Jika kitab Yudas diterima di dalam kanon Perjanjian baru, apakah ini artinya kitab-kitab di luar kanon berotoritas dan benar diinsipirasikan oleh Roh Kudus? Jika bukan, lalu bagaimana Yudas memahami sumber-sumber yang dipakainya? Apa alasannya memakai sumber-sumber di luar kanon? Khususnya, dalam Yudas 9, ia menggabungkan sumber kanon dan luar kanon. Bagaimana Yudas memahami penggabungan dua sumber ini? Penulis akan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan melihat konteks dan gaya penulisan kitab Yudas. Kedua hal ini tentu mempengaruhi bagaimana Yudas memahami penggunaan kitab di luar kanon pada waktu itu dan alasannya menggabungkan dua sumber yang berbeda otoritasnya. Dari kedua analisa ini, penulis akan menunjukkan bahwa pengutipan dari kitab luar kanon tidaklah memengaruhi otoritas kitab Yudas ataupun membuat kitab luar kanon harus dimasukkan ke dalam kanon Alkitab
Merdeka belajar : perspektif pendidikan Kristen menuju transformasi anak bangsa
Kumpulan materi Simposium Nasional Pendidikan Kristen Indonesia oleh Komunitas Pendidik Kristen Indonesia (PK +62)diedit oleh Junianawaty Suhendra, David Alinurdin, Esra Nining U. LebangPendahuluan / Junianawaty Suhendra -- Arah, tujuan dan komitment dalam merdeka belajar / Sylvia Soeherman -- Merdeka belajar dari perspektif teologis / Rahmiati Tanujadja -- Merdeka belajar dari sisi well-being / Weilin Han -- Tantangan membangun integrasi kurikulum sebagai strategi pembelajaran dengan asesmen / Kresnayana Yahya -- Merdeka belajar dalam konteks realita dan perjuangan / Shem Pigai -- Merdeka belajar dari sudut pandang pemersatu komunitas sekolah-sekolah Kristen di Indonesia / David Tjandra -- Merdeka belajar dalam kurikulum dan regulasinya / Moeljadi Pranata -- Rekomendasi / Magdalena Pranata Santos