STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Studi Fenomenologis Terhadap Keluarga Yang Hidup Bersama Sebagai Keluarga Kristen Di Gereja Kristen Kalam Kudus Malang
Persoalan disfungsi keluarga telah melanda keluarga-keluarga Kristen yang berdampak pada generasi anak yang tidak lagi takut akan Tuhan dan tentu saja memengaruhi kehidupan bergereja saat ini. Penguatan relasi dalam keluarga serta pendampingan orang tua terhadap anak dalam hal iman, perlu diperhatikan dan ditingkatkan dengan mencari cara-cara yang efektif untuk mencapai tujuan tersebut.
Memperhatikan keberadaan sebuah keluarga yang unik dan berbeda dibandingkan keluarga lainnya akan menjadi sangat menarik untuk dilakukan penelitian pengalaman hidup bersama sebagai keluarga Kristen. Melalui pengalaman hidup bersama sebagai keluarga Kristen diharapkan adanya tema-tema kunci yang didapatkan yang akan menjadi masukan bagi keluarga Kristen lainnya dan bagi gereja dalam merancang program gereja berupa pembinaan bagi keluarga yang efektif.
Penelitian terhadap keluarga yang unik ini dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan metode Analisa Fenomenologi Interpretatif untuk mencari tahu pengalaman apa saja yang dialami oleh anggota keluarga ketika hidup bersama sebagai keluarga Kristen. Hasil penelitian menunjukkan peranan iman yang kuat memampukan anggota keluarga menghadapi pergumulan hidup serta parenting yang mendewasakan anak sehingga terbentuk keintiman serta semangat melayani dan ibadah intergenerasi yang semakin mempererat relasi antar sesama anggota keluarga
Tinjauan Terhadap Fenomena Substitusi Roti Dan Anggur Dalam Perjamuan Kudus Daring Menurut Pandangan Calvinis Dan Zwinglian
Situasi pandemi COVID-19 memaksa jemaat mengikuti ibadah dalam bentuk daring, termasuk Perjamuan Kudus. Biasanya, jemaat hanya perlu mempersiapkan hati untuk mengikuti Perjamuan Kudus, kini jemaat juga perlu mempersiapkan elemen Perjamuan Kudus, yaitu roti dan anggur. Pada praktiknya, ada sebuah kebimbangan dalam situasi jemaat yang tidak dapat mempersiapkan roti dan anggur di tempatnya sebelum ibadah dimulai. Apakah dengan demikian mereka tidak dapat mengikuti Perjamuan Kudus atau mereka diperbolehkan menggantinya dengan sesutau yang lain? Tulisan ini hadir untuk menjawab permasalahan tersebut. Dalam menjawabnya, penulis mendasari argumen dengan menggunakan pandangan Calvinis dan Zwinglian terhadap Perjamuan Kudus. Penulis setuju bahwa penggunaan roti dan anggur merupakan hal yang sakramental. Namun, inti dari Perjamuan Kudus tidak terletak pada elemen roti dan anggur yang digunakan. Oleh karena itu, dalam kondisi khusus, substitusi roti dan anggur diperbolehkan, tetapi dalam kondisi normal, penggunaan roti dan anggur tetap harus diutamakan. Pada akhirnya, penulis memberikan anjuran-anjuran praktis dalam melakukan Perjamuan Kudus dalam bentuk daring di tengah pandemi COVID-19
Allah dalam Teks Kekerasan : Tinjauan terhadap Teologi Nahum dalam Nahum 1:9–2:2 Dan Implikasinya bagi Pemahaman Kristen Masa Kini tentang Keadilan Allah
Meskipun termasuk ke dalam kanon Alkitab, kitab Nahum sering kali mendapat perhatian yang minim dari pembaca masa kini. Nahum dianggap memiliki tingkat moral dan teologi yang tidak sebanding dengan tulisan-tulisan nubuat lain dalam Perjanjian Lama. Penghukuman ilahi atas Niniwe yang merupakan berita menonjol dalam kitab ini menjadi bahan perdebatan bagi para penafsir atas teologi yang dimiliki oleh sang nabi. Kritik utama terhadap tokoh Nahum berpusat pada sukacitanya atas kekalahan musuh, dan fakta bahwa ia tidak menuduh dosa bangsanya sendiri (bangsa Yehuda). Terdapat kesulitan di dalam memahami teologi yang disajikan oleh Nahum. Tidak mengherankan, apabila sebagian besar pembaca modern menyimpulkan bahwa hanya sedikit pesan teologis yang dapat diambil dari kitab tentang penghakiman Tuhan atas Niniwe ini. Beranjak dari permasalahan tersebut, penulis melihat bahwa perlu diadakan sebuah tinjauan eksegetikal terhadap teologi Nahum berdasarkan apa yang tertulis di dalam kitabnya. Michael H. Floyd tepat dengan menyimpulkan bahwa penafsir modern sering kali salah dengan menilai bahwa sukacita Nahum atas kejatuhan Asyur berakar dari teologi chauvinisme. Penulis akan mengeksegesis Nahum 1:9-2:2 dengan tiga langkah analisis, yaitu analisis historis, literer, dan teologis. Terakhir, penulis akan menguraikan implikasi dari teologi Nahum terhadap pemahaman orang Kristen masa kini tentang keadilan Allah. Penulis akan menyimpulkan bahwa teologi Nahum sesungguhnya merupakan teologi yang didasarkan kepada keadilan Allah atas seluruh bangsa dan masih relevan bagi pembaca masa kini. Penulis berharap, melalui makalah ini, pembaca dapat menyadari dan secara aktif memenuhi peranannya dalam merealisasikan keadilan Allah di tengah dunia
Kasih dan Takut Akan Allah Sebagai Dua Pilar Sikap Patuh Kepada Pemerintah : Sebuah Tinjauan Gramatika-Historis Roma 13:1-7
Roma 13:1-7 adalah salah satu perikop yang menarik perhatian banyak teolog maupun penafsir Alkitab. Bukan hanya karena bagian ini ada di dalam Surat Roma (yang sering menjadi medan perdebatan para teolog), tetapi juga merupakan bagian yang sering menimbulkan multitafsir, over-exegete, atau sering disalahgunakan. Misalnya, untuk menjustifikasi regim kekuasaan yang diktatorial dan tidak demokratis, atau dipakai sebagai landasan bagi sikap gereja yang anti-revolutionary. Di lain hal, perikop yang diberi judul oleh LAI “kepatuhan kepada pemerintah” ini juga dapat dipakai sebagai argumen kaum yang mendukung perlawanan kepada pemerintah (pro-resistance). Samuel Rutherford, di dalam traktat Lex, Rex (the Law and the Prince) menggunakan Rm. 13:1-7 sebagai argumen pendukung utama “for violent resistance against a political sovereign”. Dengan demikian, tampaknya penafsiran Rm. 13:1-7 dapat jatuh pada dua kutub yang berlawanan, yakni pro terhadap kepatuhan absolut atau pro terhadap perlawanan aktif (violently). Dalam upaya untuk memahami teks Roma 13:1-7 dari perspektif yang lain, maka penulis melakukan kajian terhadap teks ini dengan menggunakan metode eksegesis gramatika-historis. Metode ini mendasari proses penafsiran makna terhadap suatu bagian teks berdasarkan hasil analisis konteks sejarah dan konteks kesusastraan yang mengitari teks tersebut. Asumsi dalam metode ini ialah bahwa ada kebenaran atau makna teks yang pada mulanya dimaksudkan oleh penulis kitab Suci (Paulus dalam hal ini) untuk dipahami oleh pembaca mula-mula. Terlepas dari beberapa faktor lain yang mungkin mempengaruhi Paulus maupun jemaat kota Roma dalam memahami makna teks mula-mula, metode ini akan berfokus pada analisis konteks sejarah, yang meliputi analisis sosial, budaya dan politik; dan konteks kesusastraan, yang meliputi konteks literer dekat, konteks kitab, konteks literer jauh, serta konteks teologis kitab Roma. Tujuan akhir dari penelusuran ini adalah untuk membuat sintesa makna teks Roma 13:1-7 berdasarkan hasil eksegesis secara gramatika-historis, serta menentukan implikasinya baik secara teologis maupun praktis
Penyakit Terminal dan Pengharapan Kebangkitan Tubuh Menurut 1 Korintus 15:35-58
Penyakit terminal menjadi salah satu pergumulan berat dalam kehidupan manusia termasuk orang Kristen. Permasalahan serius muncul ketika penderita penyakit terminal yang mengaku Kristen takut menghadapi kematian. Lalu, mengapa penderita penyakit terminal yang mengaku Kristen takut menghadapi kematian? Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan itu dan memberikan pengharapan bagi penderita penyakit terminal agar mereka tidak takut menghadapi kematian.
Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan yang dilakukan untuk menggali kebenaran 1 Korintus 15:35-58, Penyakit Terminal, dan Pelayanan Pastoral. Oleh karena itu, penulis akan menggali bagaimana kebenaran 1 Korintus 15:35-58 dapat mempersiapkan penderita penyakit terminal dalam menghadapi kematian dan relevansi pastoral dari 1 Korintus 15:35-58 terhadap penderita penyakit terminal.
Hasil dari penelitian ini adalah kebenaran mengenai kebangkitan tubuh dalam 1 Korintus 15:35-58 menjadi fondasi bagi penderita penyakit terminal untuk memercayai akan adanya kebangkitan tubuh. Sekalipun tubuh para penderita penyakit terminal mengalami penyakit bahkan kematian, Tuhan akan memberikan tubuh baru yang mulia. Jadi, keyakinan akan adanya kebangkitan tubuh meneguhkan dan mempersiapkan penderita penyakit terminal menghadapi kematian. Oleh karena itu, hamba Tuhan perlu melakukan pelayanan pastoral kepada penderita penyakit terminal melalui: pelayanan berbasiskan relasi; menyediakan ibadah dan sakramen; doa dan pembacaan Alkitab, serta memberikan makna dan harapan bagi mereka yang sekarat
Hubungan Antara Penyelesaian Masalah Secara Religius dan Kompetensi Komunikasi Interpersonal dengan Kepuasan Pernikahan Kristen Pada Istri.
Sebuah studi menemukan bahwa terdapat hubungan antara hal-hal yang bersifat religius dan keterampilan komunikasi interpersonal dengan kepuasan pernikahan. Sebaliknya, minimnya kedua hal ini seringkali menimbulkan perasaan sedih, marahatau kecewa yang membuat keduanya menjalani pernikahan dengan perasaan berat dan berujung pada ketidakpuasan akan relasi pernikahan tersebut.
Penelitian ini memiliki pertanyaan penelitian: Apakah terdapat hubungan antara penyelesaian masalah secara religius (dengan pendekatan collaborative, deffering, dan self-directing) dan kompetensi komunikasi interpersonal dengan kepuasan pernikahan Kristen pada istri? Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara penyelesaian masalah secara religius (dengan pendekatancollaborative, deffering, dan self-directing) dan kompetensi komunikasi interpersonal dengan kepuasan pernikahan Kristen pada istri.
Sampel dipilih dengan menggunakan convenience sampling, berdasarkan kriteria sampel yang telah ditentukan yaitu istri yang beragama Kristen dan bersuamikan Kristen, yang berjumlah 36 orang.
Instrumen yang digunakan adalah Religious Problem Solving Scale, instrumen kedua adalah Conversational Appropriateness and Effectiveness Scale, dan instrumen ketiga adalah Index of Marital Satisfaction.Penelitian kuantitatif ini menggunakan teknik analisis data korelasiPearsonProduct Moment.
Hasil pengolahan data menunjukkan tidak terdapat hubungan antara penyelesaian masalah secara religius (dengan pendekatan collaborative, deferring, danself-directing)dengan kepuasan pernikahan Kristen pada istri, dan terdapat hubungan antara kompetensi komunikasi interpersonal dengan kepuasan pernikahan Kristen pada istri. Dengan demikian, hipotesis pertama ditolak, sementara hipotesis kedua dalam penelitian ini diterima.
Hal tersebut diasumsikandisebabkan oleh beberapa hal, yaitu: karakteristik dan jumlah partisipan, natur manusia berdosa yang membuat seseorang cenderung berorientasi pada diri sendiri, kurangnya pemahaman yang benar akan hal-hal yang terkait religiusitas, penyelesaian konflik yang kurang efektif, metode penyampaian penyelesaian masalah baik secara verbal maupun nonverbal, dan akhirnya hal-hal tersebut tidak terlepas dari relasi kedua pasangan, khususnya istri, dengan Allah yang berdampak pada perspektif keduanya mengenai kepuasan pernikahan
Hubungan antara Grit dan Well-Being dengan Keterikatan Kerja pada Dosen Universitas Swasta di Surabaya.
Dosen sebagai human capital sebuah perguruan tinggi memegang peran yang sangat penting, bukan hanya untuk kemajuan universitas, tetapi juga dalam lingkup yang lebih luas untuk kemajuan sebuah bangsa. Kinerja dosen diukur salah satunya melalui prestasi yang ditunjukkan. Untuk menghasilkan prestasi kerja yang bermutu dan konsisten, ada banyak karakteristik di dalam diri seorang dosen yang memegang peranan. Dalam penelitian ini yang hendak disoroti adalah karakteristik grit dan well-being yang diduga berkorelasi dengan keterikatan kerja dosen.
Penelitian ini bertujuan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Apakah ada hubungan antara grit dengan keterikatan kerja? Apakah ada hubungan antara well-being dengan keterikatan kerja? Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan asumsi sampel yang dipilih berdasarkan masalah dan tujuan penulis.
Subjek penelitian adalah dosen yang bekerja penuh waktu pada universitas swasta di Surabaya. Data diperoleh dengan sistem daring, sebanyak 96 responden, terdiri dari tujuh universitas swasta. Instrumen yang digunakan adalah grit scale untuk mengukur derajat grit, PERMA profiler mengukur well-being, dan UWES-9 scale mengukur keterikatan kerja. Analisis data menggunakan metode uji Pearson untuk mengukur korelasi antara grit dan well-being dengan keterikatan kerja. Hipotesis pertama dari penelitian ini adalah ada hubungan antara grit dengan keterikatan kerja pada dosen universitas swasta di Surabaya. Semakin tinggi grit maka semakin tinggi, keterikatan kerja dosen. Hipotesis kedua adalah ada hubungan antara well-being dengan keterikatan kerja pada dosen universitas swasta di Surabaya. Semakin tinggi well-being, semakin tinggi keterikatan kerja dosen.
Hasil pengolahan data memperlihatkan adanya hubungan yang cukup tinggi dan signifikan antara grit dengan keterikatan kerja. Ada hubungan yang cukup tinggi dan signifikan positif antara well-being dengan keterikatan kerja
Karakteristik Autentisitas Nabi Menurut Perjanjian Deuteronomis dengan Studi Kasus Kitab Yeremia.
Menentukan autentisitas seorang nabi PL tidaklah mudah. Beberapa sarjana PL bahkan cenderung pesimistis dan menyatakan tidak mungkin ada kriteria yang dapat ditemukan untuk menentukan autentisitas seorang nabi. Berbeda dengan pendapat sarjana-sarjana tersebut, penulis berpendapat bahwa karakteristik autentisitas nabi dapat ditemukan. Peneliti berargumen bahwa perjanjian Deuteronomis menyediakan jawaban atas persoalan autentisitas seorang nabi. Perjanjian Deuteronomis menyatakan nabi yang autentik adalah nabi yang memakai Musa sebagai role model dan nabi yang menyuarakan umat setia kepada perjanjian mereka dengan Yahweh. Kesetiaan kepada perjanjian tersebut terwujud dengan ketaatan kepada Taurat. Argumentasi tersebut penulis dapatkan dari penyelidikan terhadap konsep autentisitas nabi menurut perjanjian Deuteronomis yang terdapat dalam kitab Ulangan. Kemudian penulis menjadikan Yeremia sebagai studi kasus nabi yang autentik menurut perjanjian Deuteronomis. Dari penyelidikan tersebut penulis menemukan kontinuitas dan diskontinuitas autentisitas nabi dalam Yeremia dengan perjanjian Deuteronomis. Kontinuitas nampak bahwa Yeremia adalah nabi yang mempunyai banyak kemiripan dengan Musa, serta menyerukan pertobatan dan ketaatan kembali kepada Taurat Deuteronomis. Diskontinuitas yang terjadi nampak ketika Yeremia melampaui autentisitas nabi menurut perjanjian Deuteronomis dilihat dari tiga aspek: menjadi pendoa syafaat (intercessor) melebihi Musa, menubuatkan pemulihan yang mendahului respons pertobatan umat Allah, dan menyebutkan Nebukadnezzar sebagai hamba Yahweh sekalipun sifatnya sementara. Dalam penelitian ini, penulis juga mengajukan karakterisitik nabi autentik yang berlaku bagi seluruh nabi PL dengan mengacu kepada studi kasus kitab Yeremia tersebut
Sumbangsih Pemikiran Kuyper bagi Konsep Berkeadilan Sosial dalam Negara Pancasila
Tesis ini ingin menjawab pertanyaan apa sumbangsih pemikiran Kuyper bagi konsep berkeadilan sosial dalam negara Pancasila. Pertanyaan ini muncul karena cita-cita negara Indonesia untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya masih belum terwujud. Penulis melihat perlu adanya gagasan-gagasan baru yang dapat menolong negara ini mewujudkan cita-cita tersebut. Dengan memperhatikan variabel keadilan sosial menurut Kuyper dan Notonagoro dalam kerangka konsep dan implementasi, maka hipotesis yang diajukan adalah pemikiran Kuyper memberikan sumbangsih dalam ranah konsepsi dan implementasi bagi konsep berkeadilan sosial dalam negara Pancasila. Secara konsepsi, inti yang didapat adalah pentingnya untuk melihat pada kedaulatan Allah dan anugerah-Nya dalam dunia yang sudah jatuh di dalam dosa dalam menyikapi isu keadilan sosial. Secara implementasi, Kuyper melihat bahwa kedaulatan Allah diturunkan secara langsung kepada negara, masyarakat, dan gereja. Jika tiga entitas ini bergerak sesuai dengan tujuan yang Allah tetapkan, maka keadilan dapat diwujudkan dalam kehidupan manusia. Metodologi yang dipakai adalah penelitian kepustakaan (library research) yang dapat berupa fisik dan elektronik. Penulis akan menggunakan sumber utama yang ditulis oleh Abraham Kuyper, juga beberapa buku dan jurnal yang berisi pemikiran Abraham Kuyper, serta buku dan jurnal mengenai Pancasila dari Notonagoro dan tokoh lainnya yang mendukung
Pelayanan Pastoral Terhadap Orang Tua Kristen yang Memiliki Anak-Anak Autisme.
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab cara pelayanan seperti apa yang dapat dilakukan pendeta terhadap orang tua Kristen yang memiliki anak-anak autisme. Pelayanan tersebut merupakan hal yang sangat penting. Permasalahan serius muncul ketika orang tua belum mendapat pelayanan yang baik di gereja di tengah kesulitan yang dihadapi. Dalam hal ini, peran seorang pendeta sebagai gembala jemaat sangat diperlukan.
Penelitian ini menggunakan metode studi literatur untuk menggali prinsip-prinsip pelayanan pastoral berdasarkan Yohanes 21:15-19. Penulis juga akan menggali kebenaran tentang gereja menurut Korintus 12:22-23 dan kaitannya dengan autisme. Dari kedua teks Alkitab tersebut, penulis melihat ada relevansi pelayanan pastoral terhadap orang tua Kristen yang memiliki anak-anak autisme.
Hasil dari penelitian ini adalah pendeta dapat melayani orang tua Kristen dari anak-anak autisme dalam dua bentuk pelayanan. Pertama, pelayanan inklusif yang terdiri dari be a welcoming church, gathering, “yuk, melayani,” dan prayer network. Kedua, pelayanan eksklusif yang terdiri dari preaching ministry, kelompok kecil, disiplin rohani, dari rumah ke rumah, parents’ day out, dan kebutuhan hidup