STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Hubungan antara Relasi Remaja –Teman Sebaya dengan Kecenderungan Perilaku Agresi Remaja Kristen Ditinjau dari Perbedaan Jenis Kelamin

    Full text link
    Penelitian ini meneliti hubungan antara relasi remaja-teman sebaya dengan kecenderungan perilaku agresi remaja Kristen ditinjau dari perbedaan jenis kelamin. Relasi dengan teman sebaya bagi remaja adalah faktor yang dapat berperan besar dalam pembentukan perilaku remaja. Relasi yang baik dengan teman sebaya dapat memberikan dampak yang positif bagi perkembangan remaja. Sebaliknya, isolasi sosial akan memberi dampak negatif bagi remaja; dan bahkan berpotensi menimbulkan kecenderungan perilaku agresi. Instrumen yang digunakan untuk mengukur relasi remaja dengan teman sebaya adalah Index of Peer Relations yang dibuat oleh Walter H. Hudson, dan alat ukur mengenai kecenderungan perilaku agresi remaja adalah Assertiveness Scale for Adolescence yang diadaptasi. Subyek penelitian adalah jemaat Komisi Remaja GKA GLORIA Kota Satelit Surabaya, yaitu remaja yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 17 tahun. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik korelasi Bivariate Pearson (untuk mengukur keeratan hubungan antara relasi remaja-teman sebaya dengan kecenderungan perilaku agresi remaja Kristen dan Independent Samples t-test (untuk membandingkan kecenderungan perilaku agresi remaja laki-laki Kristen dan remaja perempuan Kristen). Hasil analisis data menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara relasi remaja-teman sebaya dengan kecenderungan perilaku agresi remaja Kristen dan terdapat perbedaan yang signifikan antara kecenderungan perilaku agresi remaja laki-laki Kristen dengan remaja perempuan Kristen. Hasil ini berimplikasi bahwa relasi remaja-teman sebaya tidak berpengaruh terhadap kecenderungan perilaku agresi remaja Kristen yang diteliti karena beberapa sebab. Pertama, remaja jemaat gereja diasumsikan memiliki nilai moral yang sudah tertanam tentang perilaku baik dan buruk. Kedua, sejalan dengan pembahasan teologis ialah penebusan Kristus yang mengubah hidup orang percaya dan peran Roh Kudus dalam kehidupan manusia baru. Ketiga, pergaulan remaja Kristen dapat dikategorikan sebagai pergaulan yang cukup sehat sehingga tidak memengaruhi kecenderungan perilaku agresi. Jadi hipotesis pertama penelitian ditolak, sedangkan hipotesis kedua dapat diterima

    Kritik Terhadap Eksistensi Manusia Dalam Konsep Reinkarnasi Buddhisme

    No full text
    Pada bulan Juli 1997, Dalai Lama keempat belas sebagai pemimpin spiritual Tibet menyatakan bahwa jika ia meninggal, ia akan dilahirkan kembali di luar negara Tiongkok, demikian dilaporkan oleh surat kabar Asia Times pada bulan Desember 2019. Pernyataan ini ditanggapi oleh pemerintah Tiongkok dengan mengatakan bahwa reinkarnasi Dalai Lama harus berada di bawah otoritas pemerintah Tiongkok. Dalam wawasan dunia Kristen, ini terdengar sebagai sesuatu yang irasional, karena orang Kristen percaya kelahiran dan kematian ada dalam kedaulatan Tuhan. Roh seseorang tidak mungkin bisa memilih di mana ia akan dilahirkan. Namun harus diakui bahwa pada zaman yang mengalami perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi yang begitu pesat, di mana manusia mulai menggantungkan hidupnya pada materi-materi hasil ciptaan sendiri, masih ditemukan banyak orang yang percaya reinkarnasi. Reinkarnasi yang sekilas terdengar seperti suatu kepercayaan kuno, pada kenyataannya masih diyakini bukan saja oleh orang-orang awam, tetapi juga orang beberapa orang yang memiliki pengetahuan tinggi. Buddhisme adalah salah satu kepercayaan Timur yang mengajarkan reinkarnasi sebagai suatu bentuk “keselamatan” Melihat reinkarnasi sebagai konsep yang irasional dan berpotensi menjadi suatu hambatan dalam mengabarkan Injil, maka penulis mencoba untuk menganalisa konsep ini dan memberikan kritik dengan prasuposisi eksistensi Allah sebagai pribadi yang ultimat. Penulis berargumen bahwa dalam wawasan dunia Kristen, Allah sebagai penciptalah yang memberikan nilai kepada manusia, dan seluruh kehidupan manusia baik suka maupun duka sepenuhnya ada di tangan Sang Pencipta. Penulis akan terlebih dahulu secara sederhana meninjau dasar kepercayaan Buddhisme sebagai latar belakang yang membantu untuk memahami konsep reinkarnasi. Kemudian penulis akan meninjau konsep reinkarnasi secara khusus dan memberikan kritik terkait dengan asal mula kehidupan dan eksistensi manusia dalam konsep ini untuk memperlihatkan bahwa nilai keberadaan manusia dalam konsep reinkarnasi tidak dapat diterima secara logika

    Hubungan antara Relasi Anak Perempuan-Ayah dan Kedewasaan Spiritual dengan Kecemasan

    Full text link
    Kecemasan dirasakan sebagai masalah yang mencolok di kehidupan manusia. Kecemasan dapat memberi dampak pada keadaan fisik dan psikologis. Kecemasan lebih rentan diderita oleh kaum perempuan. Perkembangan mental seorang perempuan sering kali dikaitkan dengan relasi dengan ayah mereka dan dengan masalah spiritual. Banyak orang berpendapat bahwa dengan kedewasaan spiritual maka tingkat kecemasan akan berkurang. Oleh sebab itu pertanyaan dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan antara relasi anak perempuan-ayah dengan kecemasan dan juga apakah ada hubungan antara kedewasaan spiritual dengan kecemasan. Berdasarkan pernyataan tersebut hipotesis yang dibuat adalah ada hubungan antara relasi anak perempuan-ayah dengan kecemasan, serta ada hubungan antara kedewasaan spiritual dengan kecemasan. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, diadakan penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner secara langsung. Subjeknya adalah 50 mahasiswi persekutuan JOY Yogyakarta, berusia 18-25 tahun. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara relasi anak perempuan-ayah dengan tingkat kecemasan (r = 0,151 dan p > 0,05.) yang menunjukkan hipotesis pertama ditolak. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kedewasaan spiritualitas dengan tingkat kecemasan (r = 0,169 dan p > 0,05. ) yang menunjukkan hipotesis kedua ditolak. Penelitian ini memberikan masukkan bagi persekutuan JOY Yogyakarta dalam berperan mengurangi tingkat kecemasan anggota. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat mendorong peneliti selanjutnya untuk membahas topik kecemasan dalam kaitannya dengan relasi anak perempuan-ayah dan kedewasaan rohani, dengan subyek yang lebih banyak

    Hubungan antara Pola Asuh Orang tua dengan Kedewasaan Spiritual pada Remaja di SMA Kristen Kalam Kudus Surabaya.

    Full text link
    Manusia mengalami proses pertumbuhan dalam rentang kehidupannya. Spiritual merupakan aspek perkembangan yang penting, khususnya di masa kecil dan remaja. Salah satu faktor yang berperan penting terhadap kedewasaan spiritual remaja adalah pola asuh orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yaitu ada atau tidaknya hubungan antara pola asuh orang tua dengan kedewasaan spiritual pada remaja di SMA Kristen Kalam Kudus Surabaya. Untuk menjawab pertanyaan tersebut peneliti menyusun hipotesis bahwa terdapat hubungan antara pola asuh orang tua dengan kedewasaan spiritual pada remaja. Semakin baik pola asuh orang tua, maka semakin baik pula kedewasaan spiritual pada remaja. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dengan penyebaran kuesioner. Subjek dalam penelitian ini adalah remaja di SMA Kristen Kalam Kudus Surabaya, berusia berusia 15-18 tahun, berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, beragama Kristen, orang tua beragama Kristen dan mengutamakan agama. Dari 89 angket yang disebar, ada 55 data yang tidak dapat digunakan, sehingga data yang dapat digunakan dalam penelitian ini berjumlah 34 data. Teknik pengambilan sampel menggunakan convenience sampling, dan teknik korelasi Pearson (Pearson Product Moment Correlation). Instrumen yang digunakan untuk mengukur pola asuh orang tua adalah skala The Egna Minnen Betraffande Uppfostran Scale (EMBU) terdiri dari 27 item. Sedangkan instrumen untuk mengukur kedewasaan spiritual menggunakan Spiritual Maturity Index (SMI) yang terdiri dari 30 item. Hasil pengolahan data dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics 19.0 memperlihatkan (r = - 0,478; p < 0,01) berarti adanya hubungan negatif yang sangat signifikan antara antara pola asuh orang tua dengan kedewasaan spiritual pada remaja. Hubungan tersebut menyatakan bahwa semakin baik pola asuh orang tua, semakin rendah kedewasaan spiritual pada remaja. Dengan demikian, hasil analisis data menunjukkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini ditolak. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pola asuh orang tua dengan kedewasaan spiritual pada remaja di SMA Kristen Kalam Kudus Surabaya. Hubungan tersebut menyatakan semakin baik pola asuh orang tua, semakin rendah kedewasaan spiritual pada remaja

    Hubungan antara Relasi Anak–Orangtua dengan Keintiman Relasi Sosial pada Laki-Laki Usia Dewasa Awal.

    Full text link
    Penelitian tentang keintiman kebanyakan mengukur tingkat keintiman sebagai faktor yang berhubungan dengan kesehatan mental. Namun dalam penelitian ini, penulis akan memfokuskan pada faktor pembentukan di masa-masa awal kehidupan individu terhadap tingkat keintiman individu pada masa dewasa awal. Dalam hal ini, yang akan diteliti adalah bagaimana relasi anak–orangtua dan hubungannya dengan keintiman relasi sosial pada laki-laki dewasa awal. Berdasarkan pengamatan penulis, usia pernikahan individu dewasa awal semakin mengalami pergeseran menjadi semakin terlambat. Terdapat beberapa faktor penyebabnya, antara lain prioritas pencapaian di usia dewasa awal lebih kepada karier, dampak teknologi di era digital ini, yang turut bersumbangsih pada kemampuan relasi individu yang semakin terkikis dan dangkal. Selain itu, faktor takut keintiman dengan berbagai penyebabnya seperti kecemasan, rendah diri, takut ditolak, dan trauma. Faktor relasi anak–orangtua menjadi perhatian penulis, khususnya dalam masa kanak-kanak dan pertumbuhannya, yang mempengaruhi relasi anak pada masa dewasa. Pertanyaan yang hendak dijawab dalam penelitian ini adalah apakah terdapat hubungan antara relasi anak laki-laki–ayah dengan tingkat anak menjalin keintiman relasi sosial pada usia dewasa awal? Apakah terdapat hubungan antara relasi anak laki-laki–ibu dengan tingkat anak menjalin keintiman relasi sosial pada usia dewasa awal? Adapun hipotesa penelitian ini adalah terdapat hubungan antara relasi anak laki-laki–ayah dengan keintiman relasi sosial. Semakin baik relasi anak laki-laki–ayah, semakin baik pula keintiman relasi sosialnya. Demikian pula, terdapat hubungan antara relasi anak laki-laki–ibu dengan keintiman relasi sosial. Semakin baik relasi anak laki-laki–ibu, semakin baik pula keintiman relasi sosialnya. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah mencari korelasi, dengan cara survei dan menggunakan metode kuantitatif. Partisipan berjumlah 37 orang, laki-laki lajang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah “convenience sampling.” Kuesioner disebarkan kepada sebagian mahasiswa Seminari Alkitab Asia Tenggara, Gereja Kristen Kalam Kudus, dan karyawan dari beberapa tempat di kota Malang. Instrumen pertama yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala sikap anak terhadap ibu—“Child’s Attitude toward Mother” (CAM), dan skala sikap anak terhadap ayah—“Child’s Attitude toward Father” (CAF); yang merupakan 25-item scale; dikembangkan oleh Giuli dan Hudson. Instrumen kedua adalah Miller Social Intimacy Scale (MSIS), untuk mengukur tingkat keintiman relasi sosial; dibuat oleh Rickey S. Miller dan Herbert M. Lefcourt; terdiri dari 17-scale item. Metode analisis data dengan mengolah korelasi Pearson Product Moment untuk mencari korelasi antara variabel relasi anak–ayah dan anak–ibu dengan keintiman relasi sosial. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan “uji-t untuk satu sampel,” yaitu untuk membandingkan kedekatan relasi antara anak laki-laki dengan ayahnya dan dengan ibunya. Pengolahan data dengan menggunakan uji statistik SPSS for Windows Release 10.01 menunjukkan tidak ada hubungan positif yang signifikan antara relasi anak-ayah dengan keintiman relasi sosial; hipotesa pertama ditolak. Demikian juga, tidak terdapat hubungan positif yang signifikan antara relasi anak laki-laki–ibu, dengan keintiman relasi sosial; hipotesa kedua ditolak. Sementara itu, hasil analisis uji-t menunjukkan adanya perbedaan hubungan antara relasi anak laki-laki-ayah dengan relasi anak laki-laki–ibu; relasi anak laki-laki lebih positif dengan ibu daripada dengan ayah

    Analisis terhadap Hermeneutika Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh tentang Doktrin Kontinuitas Makanan Halal dan Haram Menurut Imamat 11:1-47 dari Perspektif Hermeneutika Reformed

    Full text link
    Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh memiliki beberapa keunikan dibandingkan gereja-gereja Kristen lainnya. Salah satu keunikannya adalah gereja ini mengajarkan kontinuitas perbedaan makanan halal dan haram. Doktrin ini didasarkan pada teologi kovenan dari gereja ini yang mengajarkan bahwa kovenan baru didasarkan pada (bukan membatalkan) kovenan lama. Selain itu, prasuposisi ini didukung oleh doktrin gereja ini yang mengajarkan bahwa Allah menyediakan makanan terbaik bagi manusia. Kedua doktrin ini memengaruhi hermeneutika gereja ini yang mengajarkan bahwa setiap hukum dalam PL memiliki satu prinsip moral yang mendasarinya dan prinsip itu berlaku universal bagi orang Kristen. Hermeneutika ini membentuk cara gereja ini mengeksegesis Imamat 11 dan menyimpulkan bahwa perbedaan makanan halal dan haram masih berlaku bagi orang Kristen zaman ini. Berbeda dengan teologi GMAHK, teologi Reformed percaya bahwa kovenan baru membatalkan dan menggantikan kovenan lama. Selain itu, berdasarkan Alkitab, teologi Reformed percaya bahwa Allah adalah Penyedia makanan, namun PB tidak pernah mengajarkan jenis makanan tertentu yang boleh dan tidak boleh dimakan oleh orang Kristen. Kemudian teologi Reformed memiliki prinsip hermeneutika yang melihat Kristus sebagai pusat PL dan PB, sehingga teologi Reformed memahami Imamat 11 berpusat kepada karya pendamaian Kristus (Im. 16) dan memiliki prinsip teologis yang berlaku universal yaitu kekudusan. Penelitian ini memiliki dua pertanyaan utama. Pertama, bagaimana Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh memahami Imamat 11:1-47 sebagai dasar doktrin kontinuitas hukum makanan halal dan haram? Apa prinsip hermeneutika yang mendasarinya? Apa prasuposisi dari doktrin tersebut? Kedua, bagaimana teologi Reformed memahami Imamat 11:1-47 sebagai dasar doktrin kontinuitas dan diskontinuitas hukum makanan halal dan haram sekaligus mengkritisi tafsiran Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh? Apa prinsip hermeneutika yang mendasarinya? Apa prasuposisi dari doktrin tersebut? Dari penelitian awal (preliminary research) yang dilakukan, penulis memiliki gambaran tentang hasil penelitian yang akan disajikan. Doktrin Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh tentang makanan halal dan haram menurut Imamat 11:1-47 tidak memiliki dasar Alkitab yang kuat jika ditinjau dari perspektif hermeneutika dan presaposisi teologi Reformed. Di dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian deskriptif yang menjelaskan semua doktrin GMAHK tentang kontinuitas makanan halal dan haram, komparatif yang membandingkan teologi GMAHK dan Reformed tentang makanan halal dan haram, dan analitis yang menganalisis hermeneutika GMAHK tentang kontinuitas makanan halal dan haram dari perspektif hermeneutika Reformed. Setelah mengadakan penelitian ini, penulis menyimpulkan bahwa hermeneutika GMAHK tentang doktrin kontinuitas makanan halal dan haram tidak bertanggung jawab karena GMAHK menafsirkan Alkitab khususnya Imamat 11 dengan menggunakan pendekatan prasuposisi doktrin GMAHK yang tidak didukung oleh teks Alkitab

    Hubungan antara Penghargaan Diri dan Komunikasi dengan Kepuasan Pernikahan pada Isteri Bekerja.

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan penelitian yaitu ada tidaknya hubungan antara penghargaan diri dan komunikasi suami−isteri dengan kepuasan pernikahan pada isteri bekerja di beberapa Rumah Sakit di Jawa Barat. Untuk menjawab pertanyaan tersebut peneliti menyusun hipotesis bahwa terdapat hubungan antara penghargaan diri dengan kepuasan pernikahan pada isteri bekerja serta terdapat hubungan antara, komunikasi suami−isteri dengan kepuasan pernikahan pada isteri bekerja. Metode yang digunakan yaitu kuantitatif dengan penyebaran kuesioner. Subjek dalam penelitian ini yaitu 135 isteri bekerja usia maksimal 53 tahun di beberapa Rumah Sakit yang ada di Jawa Barat. Teknik pengambilan sampel menggunakan convenience sampling, dan teknik analisis data menggunakan Spearman Rank Coefficient. Alat ukur yang digunakan adalah Rosenberg Self-esteem Scale, Primary Communication Inventory (PCI), dan Couple Satisfaction Index (CSI). Hasil penelitian adalah terdapat hubungan antara penghargaan diri dan komunikasi dengan kepuasan pernikahan pada isteri bekerja. Dengan demikian hipotesis diterima. Implikasi untuk pribadi agar memiliki penghargaan diri yang sehat demi tercapainya relasi nikah yang tidak terputus. Bagi gereja adalah pentingnya memasukkan sesi pengajaran penghargaan diri di dalam konseling pranikah bagi setiap pasangan yang akan menikah. Penelitian ini dapat menjadi pendorong bagi penelitian selanjutnya terkait kepuasan pernikahan suami dan isteri

    Hubungan antara Penghargaan Diri dan Pengampunan dengan Depresi pada Usia Dewasa Awal.

    Full text link
    Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara penghargaan diri dan pengampunan dengan depresi pada usia dewasa awal. Pada masa ini, individu rentan berkonflik dan berpotensi menimbulkan kepahitan serta kemarahan yang dapat berakibat pada depresi. Pada sisi inilah pengampunan dibutuhkan. Di sisi lain penghargaan diri individu yang rendah juga berpotensi menyebabkan depresi. Ketika individu memiliki tingkat penghargaan diri yang baik, ia akan lebih mampu menghadapi suasana hati yang menekan, termasuk mencegahnya untuk terperosok dalam tingkat spektrum depresi yang rendah. Adapun hipotesis dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara penghargaan diri dan pengampunan dengan tingkat depresi pada usia dewasa awal. Metode penelitian yang digunakan adalah korelasional, yang akan mengukur korelasi antara variabel penghargaan diri dengan tingkat depresi pada dewasa awal dan tingkat pengampunan dengan tingkat depresi pada dewasa awal. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik purposive sampling yaitu menggunakan penilaian dan upaya cermat untuk memperoleh sampel representatif melingkupi wilayah yang diduga sebagai subjek sampel. Subjek penelitian ini adalah anggota jemaat Gereja Kristen Kalam Kudus Malang, berusia dewasa awal (21-40 tahun), dengan jumlah 33 orang. Alat ukur yang digunakan adalah bentuk pendek dari skala penghargaan diri “Coopersmith Self-Esteem Inventories (CSEI),” skala Family Forgiveness Scale (FFS), dan skala Pengukur Depresi Beck (BDI= The Beck Depression Inventory). Berdasarkan pengolahan data secara statistik diperoleh hasil bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat penghargaan diri dengan tingkat depresi pada dewasa awal. Dengan demikian, hipotesis pertama ditolak. Hasil pengolahan data juga menunjukkan tidak terdapat hubungan antara pengampunan dengan tingkat depresi pada dewasa awal. Dengan demikian, hipotesis kedua juga ditolak

    Tinjauan terhadap Filsafat Pendidikan John Dewey.

    Full text link
    Salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan adalah John Dewey. Dewey menjadi tokoh revolusioner dalam dunia pendidikan dan mengubah warna pendidikan secara khusus di Amerika. Pendidikan Dewey dan laboratorium pendidikannya bukan hanya berpengaruh dalam pendidikan sekuler tetapi juga memasuki gereja dan pendidikan Kristen. Hal ini mengakibatkan banyak pro dan kontra mengenai bagaimana menyikapi pendidikan Dewey yang notabene berdasarkan filsafat naturalisme. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti filsafat pendidikan Dewey dan mengevaluasinya dari sudut pandang Kristen. Penelitian terhadap filsafat pendidikan Dewey memperlihatkan bahwa filsafat pendidikan Dewey memiliki perbedaan mendasar dengan filsafat pendidikan Kristen. Pemikiran Dewey yang menekankan kekuatan pemikiran manusia dan potensi natural berbeda dengan pendidikan Kristen yang berpusat pada Allah. Selain itu penggalian kebenaran Dewey juga mengutamakan justifikasi sains, berbeda dengan pendidikan Kristen yang berlandaskan pada penyataan Allah dalam epistemologinya. Sekalipun berbeda dengan pendidikan Kristen, pendidikan Dewey juga memiliki kontribusi positif dalam pendidikan yang masih sesuai dengan esensi pendidikan Kristen. Pendidikan Dewey mengutamakan perkembangan murid dan melihat bahwa pendidikan tidak boleh terlepas dari kehidupan murid. Pendidikan Dewey juga menekankan kehidupan sosial dan demokrasi. Hal ini membuat murid dapat berkontribusi dan berpartisipasi secara aktif dalam pendidikan Dewey. Dalam mengaplikasikan karya Dewey, pendidik Kristen perlu memisahkan filsafat Dewey yang naturalis dengan karyanya yang masih sesuai dengan esensi pendidikan Kristen

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇