STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Identitas Kaum Injili Dan Perannya Dalam Memperkembangkan Teologi
Artikel ini bertujuan untuk memaparkan identitas Injili dalam kaitannya dengan tugas berteologi pada masa kini. Injili adalah gerakan yang menekankan kepercayaan pada doktrindoktrin ortodoks Kristen serta perubahan di dalam batin yang muncul di dalam tindakan keluar. Identitas teologisnya secara historis berkarakteristik: kepercayaan pada otoritas tertinggi Alkitab, pentingnya penebusan Kristus, perubahan di dalam hati, serta penginjilan. Secara simultan empat karakter identitas ini berfungsi sebagai pagar dan kriteria untuk menilai perkembangan teologi seperti apa yang dapat diterima di dalam gerakan Injili. Sehingga peran dalam perkembangan Teologi Injili, tetap menjaga identitasnya sebagai kaum Injili.The aim of this article is to describe the Evangelical identity in relation to its duties of theological today. Evangelicals are movements that emphasize belief in Christian orthodox doctrines and changes in the mind that arise in outward actions. The theological identity has historically been characterized by: belief in the highest authority of the Bible, the importance of Christ's redemption, change in heart, and evangelism. Simultaneously these four character identities function as fences and criteria for assessing what developments in theology are acceptable in the Evangelical movement. So that the role in the development of Evangelical Theology, while maintaining its identity as an Evangelical
Dinamika Hubungan Hati Nurani dan Roh Kudus sebagai Kontribusi terhadap Proses Pengudusan Progresif dalam Kehidupan Orang Percaya
Hasil survei membuktikan bahwa orang Kristen memiliki kehidupan moral yang tidak lebih baik dibanding mereka yang belum percaya. Data-data yang didapatkan menunjukkan bahwa orang-orang Kristen injili melakukan ketidaktaatan terhadap tuntutan moral yang jelas terdapat dalam Alkitab, seperti perceraian, materialisme, hubungan seksual, rasisme, dan kekerasan dalam rumah tangga. Hal ini tentu saja bertentangan dengan natur orang percaya yang telah diselamatkan oleh Kristus. Setelah diselamatkan, orang percaya seharusnya tidak lagi berada di dalam perhambaan dosa, meskipun mereka masih mengalami pencemaran akibat polusi dosa. Dalam hal inilah orang percaya memiliki tanggung jawab untuk mengerjakan keselamatannya, yaitu untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus sampai mereka mendapatkan kehidupan kekal kelak. Proses ini disebut juga dengan proses pengudusan yang berlangsung di sepanjang hidup orang percaya. Proses pengudusan merupakan bagian dari ordo keselamatan yang penting. Pengudusan bukan hanya merupakan anugerah dan karya Allah Tritunggal, tetapi juga menuntut kerja sama dari orang percaya. Orang percaya memiliki peran pasif dan aktif dalam memberikan respons terhadap anugerah keselamatan yang telah mereka terima. Dalam proses pengudusan progresif yang berlangsung seumur hidup ini, Allah memberikan sarana yang dapat dipakai oleh orang percaya.
Salah satu sarana pengudusan yang menjadi penekanan dalam tesis ini adalah hati nurani. Namun, hati nurani bukanlah alat yang sempurna karena hati nurani bersifat subjektif dan dipengaruhi oleh latar belakang pengajaran seseorang. Hati nurani hanya dapat dipakai menjadi alat yang efektif di tangan Allah apabila dilatih untuk selaras dengan suara Roh Kudus. Penulis menyakini bahwa terdapat dinamika hubungan antara hati nurani dan Roh Kudus yang turut berkontribusi dalam proses pengudusan progresif orang percaya. Penulis juga meyakini bahwa salah satu penyebab terjadinya kemiskinan moral pada orang percaya adalah karena orang percaya tidak melatih hati nuraninya agar dapat selaras dengan kehendak Roh Kudus. Di pihak lain, pendidikan terhadap hati nurani sangat jarang dilakukan terhadap jemaat di gereja. Oleh sebab itu, dengan memberikan tinjauan teologis terhadap dinamika hubungan antara hati nurani dan Roh Kudus, penulis berharap bahwa gereja dapat memiliki kesadaran untuk mengedukasi hati nurani jemaat
Hubungan Tingkat Religiositas dan Tingkat Depresi dengan Penghargaan Diri pada Warga Kristiani di Australia Selatan.
Perpindahan orang Indonesia ke Australia Selatan tentu membawa banyak perubahan dalam kehidupannya, terutama berkaitan dengan proses adaptasi terhadap budaya Barat. Perubahan tersebut dapat menentukan penghargaan dirinya seiring pengalaman hidup dalam berelasi dengan diri dan lingkungan yang baru. Pengalaman hidup sebagai orang Indonesia yang beradaptasi dengan budaya Barat akan menghadapi tantangan baru dan berbagai tekanan hidup yang menyebabkan depresi dan berdampak terhadap penghargaan dirinya. Penelitian ini berfokus secara khusus pada komunitas kristiani Indonesia di Australia Selatan. Tujuan penelitian adalah untuk menjawab permasalahan-permasalahan sebagai berikut: Apakah terdapat hubungan antara tingkat religiositas dengan penghargaan diri pada warga kristiani di Australia Selatan? Apakah terdapat hubungan antara tingkat depresi dengan penghargaan diri pada warga kristiani di Australia Selatan?
Hipotesis pertama adalah terdapat hubungan positif antara tingkat religiositas dengan penghargaan diri pada warga kristiani Indonesia di Australia Selatan. Semakin tinggi tingkat religiositas, semakin tinggi pula penghargaan diri. Semakin rendah tingkat religiositas, semakin rendah pula penghargaan diri. Kedua, terdapat hubungan negatif antara tingkat depresi dengan penghargaan diri pada warga kristiani Indonesia di Australia Selatan. Semakin tinggi tingkat depresi, semakin rendah pula penghargaan diri. Semakin rendah tingkat depresi, semakin tinggi pula penghargaan diri.
Untuk menemukan jawaban atas permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan uji hipotesis Spearman’s rho yang mengukur korelasi antara tingkat religiositas dan tingkat depresi dengan penghargaan diri. Teknik sampling adalah nonprobability purposive sampling, artinya penilaian dan upaya cermat dilakukan untuk memperoleh sampel yang mempresentasikan wilayah Australia Selatan dan responden hanya memiliki kesempatan sekali untuk mengisi kuesioner sesuai kriteria sebagai berikut: Berdomisili di Australia Selatan, berusia 18 tahun ke atas, memiliki pendidikan diploma hingga doktor (S3) dan jenis pekerjaan sebagai mahasiswa, karyawan, wirausaha atau pensiun.
Partisipan penelitian berjumlah 120 responden, yang terdiri dari warga jemaat dari Christian Fellowship of Adelaide, GPDI Philadelphia, Bethel International Church, GLOW Centre (Gilbert Lumoindong Fellowship Centre) dan Keluarga Katolik Indonesia Adelaide. Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel yang ada, antara lain: Centrality of Religiosity Scale (CRS) untuk mengukur tingkat religiositas, Beck Depression Inventory (BDI) untuk mengukur tingkat depresi, dan Coopersmith Self-Esteem Inventory (CSEI) untuk mengukur penghargaan diri.
Hasil pengolahan data memperlihatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat religiositas dan penghargaan diri pada warga kristiani Indonesia di Australia Selatan. Dengan demikian hipotesis pertama ditolak. Hasil kedua ditemukan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara tingkat depresi dengan penghargaan diri pada warga Kristiani Indonesia di Australia Selatan. Semakin tinggi tingkat depresi, semakin rendah penghargaan diri. Sebaliknya, semakin rendah tingkat depresi, semakin tinggi penghargaan diri. Dengan demikian hipotesis kedua diterima.
Akhir kata, peneliti memberikan saran bagi penelitian selanjutnya untuk melibatkan komunitas agama lain mengingat jumlah orang kristiani Indonesia tidak besar dan menggunakan variabel kontrol, seperi adaptasi budaya yang mencakup demografis, komunikasi dalam bahasa asing, usia datang ke Australia, latar belakang suku, atau variabel status sosial-ekonomi, jenis kelamin, pendidikan, maupun pekerjaan. Selain itu, penelitian selanjutnya dapat menggunakan metode dan pendekatan yang berbeda atau metode campuran melalui metode kualitatif dan kuantitatif untuk memperoleh hasil penelitian yang lebih tepat dan komprehensif terhadap permasalahan yang ada.
Implikasi terhadap hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman baru bagi orang Kristen di Australia Selatan bahwa penghargaan diri yang positif diperoleh dari penilaian diri dan lingkungan berdasarkan pengenalan yang benar di dalam Tuhan Yesus Kristus. Ia dapat menerima keberhasilan dan kegagalan atau kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia berdosa yang memerlukan kasih karunia Allah melalui penebusan Kristus yang memulihkan gambar rupa-Nya yang rusak. Kebutuhan penghargaan diri ditentukan dalam kepenuhannya di dalam Kristus sebagai ciptaan baru. Kehadiran gereja diharapkan dapat menyediakan pelayanan konseling pastoral untuk menolong warga jemaat dalam memenuhi kebutuhan penghargaan dirinya melalui perspektif kebenaran Tuhan dengan penerimaan diri dalam segala keberadaannya sebagai umat yang berharga dan memiliki pengharapan di dalam Kristus, sehingga ia dimampukan untuk menghadapi depresi dan berbagai tekanan di dalam hidupnya
Penyajian Repertoar Negro Spiritual Berdasarkan Interpretasi Teologis, Historis, dan Sosial Serta Aplikasinya di dalam Ibadah Komunal.
Repertoar Negro Spiritual merupakan repertoar yang bernilai historis. Nilai historis dalam repertoar ini merupakan induk dari nilai-nilai pergumulan dan penderitaan yang dialami oleh para budak Afrika yang diperjualbelikan di pasar manusia dan kehilangan identitas diri. Penderitaan para budak ini meliputi aspek sosial dan rasisme sehingga akhirnya membentuk atau meresolusi pandangan teologis para budak terhadap Allah. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan dinamika musik gereja (sacred music), penggunaan repertoar ini mulai menurun dan tergerus oleh arus musik pop, padahal jika dicermati lebih lanjut, repertoar Negro Spiritual memiliki kandungan esensi teologis yang relatif lebih dalam.
Proyek resital ini memiliki nilai teologis dan nilai praktis. Nilai teologis dapat diteliti dari latar belakang perbudakan orang-orang Afrika di Amerika yang menghasilkan pandangan teologis para budak, sedangkan nilai praktis dari proyek ini melanjutkan nilai teologis yang ada, yaitu bagaimana pandangan teologis ini akhirnya dapat membawa para budak atau tokoh besar pada masa perbudakan untuk menulis syair, puisi, atau menggubah lagu. Nilai praktis ini akan lebih lanjut dilaksanakan pada saat resital.
Proyek resital ini akan membahas tahapan interpretasi penulis sekaligus resitalis dalam melakukan langkah-langkah penelitian. Penulis akan mengawali dengan penelitian latar belakang penderitaan itu sendiri. Masa perbudakan yang berlangsung di tahun 1800-an merupakan masa di mana bukan hanya penderitaan yang terjadi, tetapi juga pemberontakan, gerakan liberal, dan lahirnya reformator pembebasan budak. Penelitian ini akan berfokus kepada masa-masa di mana tekanan sosial seperti rasisme dan perbudakan masih berlangsung tanpa ada pagar pembatas sehingga masa ini menjadi masa di mana hak asasi dan keadilan sudah menjadi bias dan hilang kendali. Kemudian penulis akan melanjutkan dengan pandangan teologis yang berkembang semasa perbudakan dan pascaperbudakan. Pandangan teologis ini kemudian akan membawa kepada penelitian repertoar untuk memilih dan kemudian menggunakannya dalam resital. Repertoar Negro Spiritual yang sudah dipilih kemudian akan diteliti lagi untuk menentukan interpretasi yang akan dilakukan oleh penulis sekaligus resitalis dan bagaimana menularkan interpretasi yang sama terhadap penonton dan pembaca.
Untuk melakukan finalisasi dan verifikasi penelitian maka diperlukan data lapangan. Pengambilan data lapangan akan dilakukan ketika resital dilaksanakan dan dalam bentuk partisipasi lembar isian. Data lembar isian yang diperoleh akan diolah sehingga dapat menghasilkan diagram respons dan nilai penelitian proyek resital ini yang kemudian akan memberikan gambaran besar peluang implikasi repertoar negro spiritual dalam ibadah di gereja modern masa kini.
Proyek resital ini pada akhirnya menghasilkan beberapa kesimpulan. Pertama, resital dapat menjadi sarana edukasi dari seorang pemimpin pujian kepada jemaat, tetapi konteks pendengar juga penting – apakah para jemaat ini memiliki konteks yang tepat dan siap diedukasi. Kedua, resital sebagai eksekusi akhir ternyata mampu menolong audiens untuk mengenal dan menginterpretasi repertoar negro spiritual. Ketiga, resital dapat menjadi wadah edukasi kognisi sekaligus stimulan afeksi kepada pendengar, atau dalam konteks ibadah; jemaat. Terakhir, resital memiliki peran holistik dalam membawakan repertoar kepada audiens dan jemaat. Peran holistik ini juga dapat menjadi indikator bagi pemimpin ibadah di gereja
Analisis Konsep Perdamaian Dalai Lama XIV Dari Perspektif Perdamaian Rasul Paulus Dalam 2 Korintus 5:18-21 dan Implikasinya Bagi Penginjilan Terhadap Umat Buddha.
Perdamaian merupakan tema yang sering diperbincangkan, semua ini disebabkan oleh timbulnya berbagai gejolak sosial ekonomi dan politik yang menyebabkan hancurnya berbagai sarana sosial. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menghadirkan perdamaian dalam seluruh lapisan hidup masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengambil “jalan tengah” yang dipercaya dapat menjadi kunci perdamaian dalam peradaban manusia. Tanzin Gyatso, Dalai Lama XIV seorang pemimpin Buddha Tibet juga menyadari hal ini. Beliau berpendapat bahwa setiap makhluk hidup di bumi harus belajar untuk hidup secara harmonis dan damai satu sama lain. Menurutnya ini bukanlah sekadar harapan, namun merupakan sebuah kebutuhan. Perdamaian sejati dengan diri sendiri dan dengan lingkungan sekitar hanya dapat terjadi melalui dikembangkannya perdamaian batin. Dengan adanya kedamaian batin, maka masalah duniawi tidak akan dapat memengaruhi rasa damai dan tenang yang ada di dalam diri. Dengan adanya kedamaian batin segala situasi dapat dihadapi dengan ketenangan dan akal sehat. Namun bagaimana kedamaian batin ini dapat diperoleh jika hanya mengandalkan kekuatan manusia?
Agama Kristen juga mengajarkan konsep perdamaian. Di dalam 2 Korintus 5:18-21, rasul Paulus mengajarkan bahwa Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus. Kristus yang tidak berdosa dibuat-Nya menjadi dosa supaya dalam Dia manusia dibenarkan oleh Allah. Dari penjelasan di atas terlihat bahwa kedua konsep perdamaian di atas memiliki perbedaan yang sangat jelas. Dalai Lama menekankan usaha diri untuk memperoleh perdamaian karena dia tidak percaya dengan keberadaan Allah Pencipta, sedangkan rasul Paulus menekankan anugerah Allah melalui pengorbanan Kristus yang mendamaikan. Perbedaan yang ada membuat kedua konsep perdamaian ini memiliki perbedaan yang mendalam dalam prasuposisi dan hasil akhir. Tulisan ini akan menunjukkan bahwa konsep perdamaian yang tidak percaya adanya Tuhan memiliki kelemahan-kelemahan yang tidak terselesaikan. Ketika seseorang tidak percaya adanya Tuhan, mereka hanya dapat mengandalkan kemampuan manusia yang sangat terbatas. Keterbatasan yang ada membuat mereka terjerat dalam perputaran yang tidak dapat diakhiri. Mereka memerlukan Tuhan yang berdaulat atas kehidupan manusia. Tuhan yang mengasihi manusia dan menolong manusia untuk mengasihi sesama dengan benar. Tuhan yang memberi kebahagiaan universal melalui pengorbanan Anak-Nya yang datang ke dunia untuk melepaskan manusia dari belenggu dosa
Gerakan Lausanne dan Kemiskinan di Indonesia
Kemiskinan merupakan masalah klasik di Indonesia yang terjadi sejak zaman dahulu kala sampai kepada era pasca modern sekarang. Krisis tahun 1997-1998 di Indonesia adalah salah satu yang terburuk. Data statistik dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan penurunan angka kemiskinan, namun isu ini tetap menjadi bahaya laten bagi Indonesia. Di hadapan konteks sosial ini, kaum injili di Indonesia belum memperhatikan isu ini secara serius. Tampak bahwa kaum injili telah menarik diri dari isu-isu yang menyangkut dengan permasalahan kemiskinan. Terlepas dari abainya kaum injili di Indonesia mengenai isu kemiskinan, terdapat perubahan besar pada gerakan Lausanne (Lausanne Movement), yang tercermin pada tiga dokumen dari gerakan ini (Lausanne Covenant [LC], Manila Manifesto [MM], dan juga The Cape Town Commitment [TCTC]).
Penelitian ini bertujuan untuk memahami konteks kemiskinan sebagai kondisi berteologi dari kaum injili lewat sudut pandang gerakan Lausanne. Di samping itu, tulisan diharapkan dapat menjadi landasan teologis bagi kaum injili di Indonesia untuk memikirkan kembali pentingnya keterlibatan kaum injili di dalam ruang publik secara khusus pada masalah kemiskinan. Secara umum, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kepustakaan (library research). Tulisan ini adalah sebuah penelitian yang memfokuskan pada pengelolahan data dari sumber utama dan sumber pendukung, baik dalam bentuk buku maupun jurnal akademis. Pendekatan yang penulis gunakan pada penelitian ini adalah deskriptif dan analitis. Penulis akan membahas sejarah singkat dari gerakan Lausanne dan pentingnya ketiga dokumen ini. Setelah itu, penulis akan mendefinisikan terlebih dahulu siapa kaum injili. Lalu, penulis akan mendedah tiga implikasi dari dokumen Lausanne pada bagian berikutnya.
Penelitian ini menegaskan bahwa terdapat tiga pokok teologis yang dapat menjadi saran bagi kaum injili di Indonesia. Pertama, tanggung jawab sosial berkaitan dengan keutuhan penciptaan. Kedua, tanggung jawab sosial menjadi bagian dari misi Allah yang difokuskan kepada manusia dan duniannya. Ketiga, tanggung jawab sosial yang didasarkan oleh tindakan penebusan dan pendamaian. Tiga pokok teologis ini merupakan bingkai penting yang dapat memberikan pemahaman bagi seorang Kristen di dalam mengerjakan misi Allah yang berdimensi holistik
Seberapa Teologiskah Teologi Biblika?: Relasi Antara Teologi Sistematika Dan Teologi Biblika
Relasi teologi sistematika dan teologi biblika pada masakini dipandang sebagai dua bidang ilmu yang terpisah. Teologi biblika hanya berupaya mencari apa makna teks pada masa penulis Alkitab sedangkan teologi sistematika hanya berpusat pada menyampaikan makna teks pada masa kini. Teologi biblika adalah studi obyektif sedangkan teologi sistematika adalah studi yang berdasar pengakuan iman seseorang. Paper ini, melalui penelitian literatur yang ada,mencoba mengusulkan bahwa teologi biblika dan teologi sistematika memiliki relasi yang erat dimana keduanya berakar dari Alkitab dan bersifat pararel dan dialogis.The relationship between biblical theology and systematic theology has been seen as separate disciplines nowadays. Biblical theology only looking for what the text of the Bible meant for the first reader meanwhile systematic theology only attempts to find the meaning of the Bible text for today's people. Biblical theology is an objective study meanwhile systematic theology is a study based on the religious belief of the theologians. This paper, through literature research, tries to give a proposal that biblical theology and systematic theology has a close relationship. Both come directly from the Bible that they have a parallel and dialogical relationship
Peran Gereja dan Orang Tua Kristen dalam Menerima dan Melayani Kaum Disabilitas Intelektual Berdasarkan Keteladanan Yesus Kristus dalam Filipi 2:5-11
Disabilitas intelektual ditandai oleh keterbatasan fungsi kognitif/intelek dan adaptasi. Kaum disabilitas intelektual ini merupakan kaum yang tersingkirkan dan terabaikan dalam masyarakat luas. Permasalahan terbesar ialah penolakan, baik oleh orang tua, gereja, maupun masyarakat. Ironinya, keluarga Kristen dan gereja yang adalah komunitas iman juga tidak menerima keberadaan kaum ini. Bertitik tolak dari keadaan ini, penelitian ini bertujuan mendorong orang tua Kristen dan gereja untuk menerima dan melayani kaum disabilitas intelektual. Penulis berpendapat bahwa teks Filipi 2:5-11 dapat menjadi landasan bagi orang tua Kristen dan gereja untuk menerima dan melayani kaum ini.
Penulis menggunakan metode studi kepustakaan untuk menggali prinsip-prinsip yang terdapat dalam Filipi 2:5-11. Keteladanan Yesus Kristus dalam Filipi 2:5-11 menjadi dasar untuk menerima dan melayani kaum disabilitas intelektual. Penulis juga meninjau problematika yang dihadapi oleh kaum disabilitas intelektual dalam model medis dan sosial. Dari kedua model ini, penulis melihat bahwa kaum disabilitas intelektual kategori mild dan moderate memungkinkan untuk menerima pengetahuan dan dapat adaptasi.
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka teks Filipi 2:5-11 dapat menjadi dasar bagi gereja dan orang tua Kristen dalam menerima dan melayani kaum disabilitas intelektual dengan cara mengikuti sikap yang telah ditunjukkan oleh Yesus Kristus, yaitu sikap yang tidak mementingkan diri-Nya sendiri (selflessness), dan sikap yang memberi diri untuk melayani (self-giving). Kedua sikap ini akan mendorong orang tua Kristen dan gereja untuk dapat menerima dan membangun pelayanan kepada kaum disabilitas intelektual
Abangan Muslims, Javanese Worldview, and Muslim–Christian Relations in Indonesia
One of the many faces of Islam in Indonesia is the abangan Muslims or the abangans. As one of the most populous Muslim groups in the country, it is important to know them. To understand Indonesian Islam or Muslims, one cannot overlook them. The article argues that, amid recent escalating Muslim–Christian tension in the country, this majority Muslim group can play a significant role in enhancing Muslim–Christian relations in the future, on account of their worldview that emphasizes and maintains cosmic harmony and balance of all existence. Their open and syncretic attitudes toward other religions may foster religious tolerance and coexistence. These are attested in the author’s personal engagement with them. It is suggested that Christians be more inclusive toward them, but, at the same time, be critical in engaging their worldview. These attitudes are necessary for building a mutual and peaceful Muslim–Christian relationship in the region