STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Studi Perbandingan Dasar Pemikiran Berbusana Pada Wanita Menurut Ilmu Tata Busana dan Wawasan Dunia Kristen.
Berbusana merupakan kegiatanyang lumrah dilakukan setiap manusiayang memiliki tujuan dan menyimpan makna tersendiri. Dalamberbusana, wanita seringkali terjebak dalam bahaya ketidakpantasan. Maka dari itu, perilaku berbusana perlu dikaji lebih lanjut. Ilmu tata busana memberi banyak pengaruh terhadap perilaku berbusana pada wanita. Pemikiran dan konsep yang ditawarkan ilmu tata busana seringkali menjadi acuan yang mengarahkan perilaku berbusana seorang wanita. Namun, pemikiran ilmu tata busana tidak dapat serta merta diadopsi oleh wanita Kristen karena banyak pandangan ilmu tata busana yang kurang sesuai dengan wawasan dunia Kristen yang bersumber dari iman Kristen. Oleh karena itu perlu ada kajian khusus terhadap pemikiran ilmu tata busana khususnya mengenai perilaku berbusana pada wanita. Kajian ini dilakukan dengan cara membandingkan dasar-dasar pemikiran ilmu tata busana dengan wawasan dunia Kristen.
Penelitian ini membandingkan persamaan dan perbedaan pandangan kedua disiplin ilmu berkaitan dengan perilaku berbusana pada wanita. Perbandingan ini akan dikaji melalui tiga hal, meliputi fokus dari konsep, tujuan konsep dan orientasi hidup. Penulis memilih ketiga hal ini sebagai bahan kajian untuk menilai dan memperbandingkan konsep body image dan konsep berbusana dari ilmu tata busana dengan konsep imago Dei dan konsep Christian modesty dari wawasan dunia Kristen.
Dalam penelitian ini ditemukan bahwa dasar pemikiran berbusana ilmu tata busana dan wawasan dunia Kristen memiliki sedikit persamaan dan banyak perbedaan. Ilmu tata busana dan wawasan dunia Kristen memaparkan tujuan-tujuan berbusana yang sama, meliputi tujuan perlindungan, kesopanan, dan komunikasi. Perbedaan dalam membangun perilaku berbusana pada wanita dari kedua ilmu, terletak pada dasar pemikiran dan konsep-konsep yang diyakini. Ilmu tata busana mendasari pemikiran dan konsepnya dengan manusia sebagai subjek yang perlu disenangkan dan dipuaskan, sehingga pemikiran-pemikiran yang dibangun sangat humanis dan meninggikan manusia (wanita). Ilmu tata busana mengokohkan konsepnya semata-mata demi kebahagiaan dan kepuaan wanita. Berbeda dengan ilmu tata busana, wawasan dunia Kristen melandasi konsepnya berdasarkan kehendak Allah, sehingga subjek yang perlu disenangkan dan ditinggikan di dalam perilaku berbusana seorang wanita, adalah Allah, Sang Inisiator pakaian itu sendiri. Karena Allah yang perlu ditinggikan di dalam aktivitas berbusana, maka wawasan dunia Kristen membangun konsep berbusana berdasarkan kebenaran firman Tuhan di dalam Alkitab
Hubungan Antara Pola Asuh Orang Tua dan Penghargaan Diri dengan Lokus Kontrol Internal Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia SAAT Malang.
Penulis tertarik dengan topik ini, karena dalam pengalaman konseling banyak mahasiswa bergumul dengan lokus kontrolnya yang sangat berdampak terhadap pergumulan pribadinya, relasinya dengan sesama, maupun relasinya dengan Tuhan. Setiap manusia perlu mempunyai lokus kontrol yang tepat, karena kontrol itu yang akan mengarahkannya pada perilaku yang benar. Lokus kontrol akan berkembang sejak awal kehidupannya sebagai hasil sosialisasinya dengan orang di sekitarnya. Keterlibatan orang tua dalam pola pengasuhannya selama lima belas tahun pertama kehidupan seorang anak akan sangat mempengaruhi pembentukan lokus kontrolnya. Orang tua yang responsif, memberikan tanggapan dan tuntutan yang seimbang, akan sangat membentuk lokus kontrol internal seorang anak. Demikian halnya dengan penghargaan diri, merupakan suatu komponen kepribadian yang berkembang semenjak awal kehidupan anak sampai proses ia dewasa, yang dipengaruhi terutama oleh pengasuhan orang tua. Penghargaan diri yang tinggi akan membuat ia yakin bahwa kontrol ada dalam dirinya, demikian juga sebaliknya. Seseorang yang memiliki lokus kontrol internal, biasanya lebih mampu bertanggungjawab atas tindakan dan keputusan yang diambilnya, karena itu mereka mampu mengontrol dirinya, memandang dirinya lebih positif, sadar akan kelebihan yang dimilikinya, dan tidak mudah terpengaruh oleh situasi atau penilaian negatif dari luar dirinya.
Berdasarkan tinjauan teoritis tersebut maka peneliti mengemukakan dua hipotesis. Pertama, terdapat hubungan antara pola asuh orang tua dengan lokus kontrol internal mahasiswa. Kedua, terdapat hubungan antara penghargaan diri dengan lokus kontrol internal mahasiswa. Variabel penelitian adalah pola asuh orang tua dan penghargaan diri (variabel bebas), serta lokus kontrol mahasiswa (variabel terikat). Penelitian kuantitatif korelasional ini meneliti 48 mahasiswa STT SAAT Malang, dengan menggunakan alat ukur EMBU Scale (The Egna Minnen Betraffande Uppfostran Scale) untuk mengukur pola asuh orang tua, Self Esteem Scale untuk mengukur penghargaan diri, dan IPC-Locus of Control Scale untuk mengukur lokus kontrol internal. Hasil yang diperoleh adalah tidak ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan lokus kontrol internal, namun ada hubungan antara penghargaan diri dengan lokus kontrol internal. Dengan demikian, hasil analisis data menunjukkan bahwa hanya satu hipotesis dalam penelitian ini yang diterima, yaitu terdapat hubungan antara penghargaan diri dengan lokus kontrol mahasiswa STT Saat Malang
Hubungan Antara Fungsionalitas Keluarga dan Penghargaan Diri dengan Religiositas pada Remaja dan Dewasa Awal.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara fungsionalitas keluarga dan penghargaan diri dengan religiositas ekstrinsik pada remaja dan dewasa awal. Fungsionalitas keluarga adalah pandangan responden tentang keadaan keluarga mencakup lima subdimensi, yaitu: konflik, komunikasi, kohesi, kepemimpinan dan kesehatan keluarga. Penghargaan diri yang dimaksudkan adalah penilaian individu terhadap dirinya sendiri. Kemudian, yang dimaksud dengan religiositas adalah kecenderungan individu memperhatikan kehidupan beragama. Penelitian mencakup wilayah intrinsik dan juga ekstrinsik, namun menitikberatkan pada religiositas ekstrinsik, yaitu ketaatan individu melakukan praktik keagamaan demi kepentingan pribadi. Remaja adalah individu berusia 13-18 tahun, dewasa awal adalah yang berusia 19-35 tahun.
Hipotesis dari penelitian ini adalah pertama, terdapat hubungan negatif antara fungsionalitas keluarga dengan religiositas ekstrinsik. Semakin disfungsi keluarga, semakin tinggi tingkat religiositas ekstrinsik. Kedua, terdapat hubungan negatif antara penghargaan diri dengan religiositas ekstrinsik. Semakin rendah penghargaan diri, semakin tinggi tingkat religiositas ekstrinsik.
Metode penelitian yang digunakan adalah korelasional, mengukur korelasi antara variabel fungsionalitas keluarga dan penghargaan diri dengan religiositas ekstrinsik. Juga dilakukan uji perbedaan tingkat religiositas intrinsik dan ekstrinsik pada remaja dengan dewasa awal. Teknik sampling yang digunakan adalah convenience sampling. Persyaratan responden: Kristen, berusia 13-35 tahun, belum menikah dan bukan anak tunggal. Alat ukur fungsionalitas keluarga adalah Self-Report Family Instrument (SFI). Alat ukur penghargaan diri adalah Index of Self-Esteem (ISE). Alat ukur religiositas adalah Religious Orientation Scale (ROS).
Hasil analisis data menunjukkan tidak terdapat hubungan negatif antara fungsionalitas keluarga dengan religiositas ekstrinsik. Terdapat hubungan negatif antara penghargaan diri dengan religiositas ekstrinsik namun effect size-nya sangat kecil hanya 3%. Terakhir, ada perbedaan tingkat religiositas pada remaja dan dewasa awal. Religiositas-IE dewasa awal lebih tinggi daripada remaja. Religiositas-E remaja lebih tinggi daripada dewasa awal. Jadi, religiositas dewasa awal lebih didasari motivasi intrinsik sementara religiositas remaja lebih didasari motivasi ekstrinsik.
Tidak ditemukannya hubungan negatif antara fungsionalitas keluarga dengan religiositas ekstrinsik dan effect size yang sangat kecil pada hubungan negatif antara penghargaan diri dengan religiositas ekstrinsik kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor, seperti budaya Timur yang tidak berani/malu mengungkap realita dan juga faktor subjek penelitian yang homogen.
Akhir kata, secara teoretis disarankan agar dilakukan penelitian lanjutan dengan sampel yang heterogen. Selain itu, variabel fungsionalitas keluarga dapat dibuat lebih spesifik menjadi relasi anak-ayah atau anak-ibu untuk dicari korelasinya dengan religiositas ekstrinsik. Rentang usia sampel juga dapat dipersempit menjadi remaja saja atau dewasa awal saja. Sedangkan secara praktis, disarankan bagi keluarga-keluarga untuk meningkatkan keterbukaan dalam menjalin relasi dengan lingkungan paguyuban. Lingkungan paguyuban itu juga sedapatnya melibatkan partisipasi orangtua agar religiositas kawula muda dapat berkembang secara holistik. Pada akhirnya, kawula muda dapat mengembangkan perilaku beragama yang tampak saleh dengan didasari motivasi intrinsik yang diperkenan Allah
Analisis terhadap Konsep Khotbah sebagai Sarana Anugerah Berdasarkan Firman Allah dalam Pelayanan Pemberitaan Firman
Khotbah memiliki peranan yang penting dalam pemberitaan Injil dan bagi pertumbuhan gereja. Namun di zaman ini, gereja Tuhan tidak lagi menekankan khotbah di dalam pelayanannya, tetapi telah menggantikan khotbah dengan berbagai aksi sosial dan lebih fokus kepada komunitas itu sendiri sebagai bentuk pemberitaan Injil. Selain itu, pengalaman pribadi pengkhotbah dan penekanan terhadap kuasa Roh Kudus menjadi dasar dari pelayanan pemberitaan firman sehingga khotbah tidak lagi didasarkan kepada Alkitab sebagai firman Tuhan yang berotoritas.
Di dalam pemahaman teologi Reformed, khotbah bukan hanya merupakan suatu upaya dalam menjelaskan kebenaran Alkitab dengan setia kepada pendengar. Melainkan lebih daripada itu, khotbah merupakan sarana anugerah Allah. Khotbah dikatakan sebagai sarana anugerah Allah karena Kristus hadir, dan Allah mengerjakan anugerah-Nya melalui firman yang diberitakan sehingga setiap orang yang mendengarkannya dapat berjumpa dengan Allah dan diselamatkan.
Tulisan ini berusaha untuk memberikan jawaban atas pertanyaan: Apakah dapat dibenarkan bahwa khotbah adalah sarana anugerah Allah berdasarkan firman Tuhan? Melalui analisis terhadap konsep khotbah sebagai sarana anugerah menurut pandangan teologi Reformed dan berdasarkan Roma 10:4-15, diketahui bahwa Allah sendiri hadir dan berbicara kepada umat-Nya melalui firman yang diberitakan. Oleh karena itu, seorang pengkhotbah memiliki otoritas ilahi karena Injil yang diberitakan tidak berasal dari dirinya sendiri, tetapi berasal dari Allah. Sebagai seorang utusan Allah, pengkhotbah hanya dapat memberitakan tentang pesan yang Allah sampaikan kepadanya, yaitu berita yang membawa kepada keselamatan. Berita ini melekat erat dengan Injil Kristus. Tujuannya adalah agar melalui pesan yang diberitakan, setiap orang yang mendengarnya dapat percaya, memanggil nama Tuhan dan diselamatkan
Mengenal Karakteristik Sosial Paraenesis: Sebuah Usaha Memahami Natur Surat Yakobus
Proses penafsiran tidak selalu berjalan tanpa hambatan. Kesulitan-kesulitan hampir selalu terjadi. Malahan, beberapa jenis teks sangat sulit untuk ditafsirkan. Kesulitan muncul karena banyak hal. Selain, tentunya, karena kesenjangan budaya, natur dari teks itu sendiri masih membingungkan pembaca. Mungkin saja hal itu dikarenakan oleh struktur yang hampir tidak beraturan, gramatika yang tidak lazim di antara penulisan kitab lainnya, rekonstruksi historis yang masih tentatif, serta teologi kitab yang sepertinya tidak sejalan dengan kitab-kitab lain. Surat Yakobus adalah salah satunya. Bahkan, ini adalah salah satu surat am yang sulit dimengerti. Tema-tema yang dibahas di setiap kalimat terlihat tidak linear dan terkesan melompat-lompat. Yakobus juga terlihat berkontradiksi dengan beberapa surat lain di Perjanjian Baru. Lihat saja ide mengenai iman (baca: perbuatan) di Yakobus 2 yang sepertinya bertentangan dengan tulisan Paulus di Efesus 2:8. Kerumitan inilah yang membuat bapa reformasi Martin Luther mengatakan bahwa Yakobus sulit diterima dalam kanon Alkitab. Untuk memberikan sedikit kontribusi terhadap setiap usaha penafsiran surat Yakobus, penulis memutuskan untuk memberikan pemaparan tentang natur alami dari surat Yakobus. Sebagaimana telah banyak diketahui oleh para penafsir, setiap teks merupakan jenis/genre unik. Keunikan itu membuat dia punya natur tersendiri, yang tentunya sangat terkait dengan jenis-jenis teks yang beredar pada masa dia dituliskan. Argumentasi utama penulis dalam artikel ini adalah bahwa paraenesis (paraenesis) adalah genre sesungguhnya dari surat Ya-kobus. Dengan memberikan pandangan tersebut artikel ini akan memberikan kacamata tambahan untuk menolong para pembaca yang menemui kesulitan dalam membaca surat Yakobus. Untuk men-jelaskan hal tersebut, penulis pertama-tama memberikan beberapa usulan mengenai genre Yakobus serta tanggapan terhadap usulan-usulan tersebut, sekaligus pada akhirnya mengusulkan paraenesis sebagai genre Yakobus. Kemudian, penulis memberikan ciri-ciri paraenesis secara umum guna membantu pembaca mengenali karakteristik surat. Terakhir, penulis memberikan beberapa implikasi dan saran bagi pembaca yang hendak menafsirkan surat Yakobus berdasarkan karakter surat Yakobus yang telah dijelaskan
Inaugurasi Bait Semesta sebagai Pembacaan Autentik terhadap Kejadian 1:1-2:3
Selama beberapa abad terakhir, Kejadian 1 diperhadapkan dengan sains modern. Pembaca masa kini niscaya mendekati teks Kejadian 1 pada awalnya dengan berbagai praanggapan kontemporer, seperti: ontologi material, kosmologi heliosentrisme, dan perdebatan antara sains dengan agama. Praanggapan-praanggapan seperti ini telah menimbulkan bias dalam membaca dan memahami teks sakral ini. Sebaliknya, pembacaan yang autentik memperhatikan konteks sosiokultural di mana penulis dan penerima orisinal teks sakral ini hidup (sitz im leben). Teks Kejadian 1 tanpa sadar dilepaskan dari konteks asli dari komunitas penerima mula-mula dan tergesa-gesa dihubungkan dengan sains modern, baik dianggap mendikte bagaimana seharusnya sains menjelaskan alam semesta ataupun dianggap berkontradiksi dengan kosmologi saintifik. Alhasil, pembacaan Kejadian 1 telah direduksi dalam gelanggang pertarungan antara sains dan Alkitab. Di kalangan injili sendiri, penafsiran terhadap teks ini terbagi menjadi empat pandangan utama-yang masing-masing pendukungnya memaknai durasi hari penciptaan secara beragam-meliputi: pandangan hari-24 jam, pandangan hari-zaman, pandangan kerangka kerja, dan hari analogis.
Penelitian ini bertujuan menggali kembali pembacaan yang autentik terhadap teks Kejadian 1. Apakah Kejadian 1 telah dibaca sebagaimana mestinya di dalam konteks masyarakat penerima teks sakral ini pada mulanya? Apa saja pandangan-pandangan utama dalam menafsirkan Kejadian 1? Apa saja dasar alkitabiah maupun dukungan ekstrabiblika mengenai konsep "bait semesta" (cosmic temple) di Kejadian 1? Bagaimana pandangan bait semesta dapat menjawab kekurangan-kekurangan yang ditemukan di dalam pandangan hari harfiah, hari-zaman, hipotesis kerangka sastra, dan pandangan hari analogis? Hipotesis yang diajukan peneliti adalah pembacaan sewajarnya terhadap Kejadian 1 memandang langit dan bumi yang diciptakan Allah sebagai bait semesta yang di-inaugurasi oleh Allah sendiri pada hari ketujuh.
Di dalam penelitian kepustakaan ini, penulis menggunakan metode deskripsi, studi biblika dan ekstrabiblika, serta analisis komparatif. Penulis mendeskripsikan keempat pandangan utama terhadap Kejadian 1, khususnya perihal durasi hari penciptaan. Kemudian, penulis mengeksegesis teks Kejadian 1 dengan menggunakan studi intertekstualitas, studi komparatif Timur Dekat Kuno, dan studi literatur Yahudi awal. Selanjutnya, melalui analisis komparatif, penulis menunjukkan keautentikan pembacaan inaugurasi bait semesta dibandingkan dengan keempat pandangan utama tersebut. Selain itu, penulis juga menyimpulkan makna teologis dari pembacaan Kejadian 1 sebagai teks inaugurasi bait semesta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pandangan inaugurasi bait semesta merupakan pembacaan autentik terhadap teks Kejadian 1 dengan memperhatikan konteks intertekstualitas kanon, konteks dunia TDK, dan konteks Yudaisme awal
Sebuah Studi Kasus Pemahaman dan Respons Pendengar Gereja Bethel Indonesia Jemaat Gibeon Surabaya terhadap Khotbah Kristosentris.
Khotbah kristosentris adalah khotbah yang “memberitakan kekekalan.” Dengan dasar beritanya, pengkhotbah harus menyampaikan kasih, anugerah, penebusan yang kekal, yaitu keselamatan Allah melalui Kristus Yesus. Khotbah yang kristosentris penting untuk disampaikan karena seluruh isi Alkitab adalah wahyu penebusan yang dikerjakan oleh Kristus dan dialamatkan kepada kejatuhan manusia dalam dosa. Oleh karena itu, pengkhotbah memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan berita Injil, dan bahwa khotbah harus berpusat pada Kristus.
Ada hal-hal yang kurang diperhatikan oleh pengkhotbah terkait tugas di atas. Pertama, pengkhotbah tidak mengaitkan berita Injil tentang Kristus dengan pemaparan khotbahnya bahkan tidak mempertanggungjawabkan gagasan teologinya secara alkitabiah. Kedua, pengkhotbah tidak memahami bahwa pemusatan berita pada Kristus ini tidak berarti bahwa dimensi Trinitas terkait kedua pribadi Allah lainnya dapat diabaikan. Ketiga, mengkhotbahkan Kristus dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru perlu dilihat dari perspektif sejarah penebusan dan karya salib Kristus yang membawa keselamatan kekal, dan tidak berfokus pada ajaran moralistik. Berdasarkan penguraian latar belakang masalah di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Pertama, apakah pendengar khotbah memahami apa yang disampaikan dalam khotbah kristosentris? Kedua, bagaimanakah respons pendengar, yaitu jemaat GBI Gibeon kota Surabaya terhadap khotbah kristosentris? Dalam menjawab rumusan masalah tersebut, dilakukan penelitian dengan metode wawancara semi-terstruktur. Wawancara yang dilakukan terhadap partisipan bertujuan untuk mengetahui respons pendengar terhadap khotbah sehingga gereja dapat meningkatkan kualitas pelayanan mimbarnya.
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan ada dua hal yang dapat disimpulkan. Pertama, empat partisipan yang diwawancarai memahami dengan cukup baik khotbah yang mereka dengar, walaupun tidak semua berita khotbah yang mereka dengar dapat mereka pahami sepenuhnya, dan dari yang mereka pahami itu sebagian besar dapat mereka ingat.
Kedua, adanya kemiripan dan keragaman di antara respons partisipan. Pada umumnya, semua pendengar mengetahui poin-poin yang disampaikan oleh pengkhotbah. Bahkan mereka memiliki ketepatan dalam mengingat tema khotbah dengan cukup baik. Ada partisipan yang memaparkan tentang Gospel connection, yaitu berita tentang Kristus, tetapi tidak semua partisipan mengomentari Gospel connection terkait berita tentang Kristus. Terdapat respons umum partisipan terhadap tiga khotbah, bahwa ketiganya membawa dampak yang signifikan, yaitu partisipan menerima hal-hal yang positif dalam kehidupan mereka secara pribadi.
Aplikasi yang direspons oleh setiap pendengar beragam. Ada partisipan yang tertegur oleh penyampaian khotbah, ada partisipan yang mengingat konteks penderitaan dan dikaitkan dengan kehidupan pribadi, ada juga yang mengalami perubahan pola pikir tentang doktrin yang mereka pahami. Ada partisipan yang memahami ilustrasi-ilustrasi yang disampaikan dalam khotbah. Ada pula partisipan yang mengalami berkat rohani dan penguatan. Pada dasarnya, para partisipan memiliki pemahaman yang cukup mirip dengan tujuan pengkhotbah. Walaupun demikian, ada juga yang mengalami pergeseran pengertian pada wawancara minggu keempat dibandingkan dengan khotbah yang dipahami pada minggu pertama hingga minggu ketiga
Tinjauan Terhadap Peranan Roh Kudus Dalam Pertumbuhan Spiritual Orang Percaya
Sebagai orang percaya, kita sudah tidak asing lagi dengan pribadi ketiga Allah yang sering dipanggil Roh Kudus. Kita—khususnya orang-orang dalam tradisi Reformed—percaya bahwa Allah Roh Kudus bekerja tidak hanya dalam penciptaan tetapi juga bekerja dalam diri orang percaya. Roh Kudus tinggal dan menetap pada orang yang sudah percaya kepada Yesus Kristus. Di dalam pekerjaan-Nya, Roh Kudus turun atas diri orang percaya, mengu-bahkan hidup, dan memberikan karunia-karunia rohani. Ia mengubah status manusia yang sebelumnya berdosa di hadapan Allah dan juga mengubah sifat dan kerohanian setiap orang percaya.
Perubahan sifat dan kerohanian pada orang percaya ini tidak terjadi secara langsung, karena natur berdosa masih ada dalam diri manusia. Manusia dalam kedagingannya masih dapat berbuat dosa. Namun, perubahan dilakukan perlahan-lahan oleh Roh Kudus, sehing-ga orang yang percaya dapat bertumbuh semakin serupa dengan Kristus. Peran Roh Kudus dalam pertumbuhan orang percaya inilah yang akan dibahas oleh penulis, khususnya dalam pertumbuhan spiritual.
Oleh karena itu, pertama, penulis akan membahas perkem-bangan spiritual yang akan dialami oleh orang-orang percaya yang Alkitabiah. Pembahasan yang dilakukan oleh penulis ini bertujuan untuk melihat aspek apa saja yang bertumbuh dalam perkembangan spiritualitas orang percaya. Tentunya hal ini dilihat berdasarkan Alkitab sebagai dasar dari makalah ini. Kemudian, penulis akan membahas peran apakah yang dilakukan Roh Kudus untuk menumbuhkan aspek-aspek pertumbuhan spiritualitas orang percaya. Penulis akan memaparkan apa saja yang dilakukan oleh Roh Kudus untuk meningkat spiritualitas orang percaya
Hubungan antara Relasi Remaja-Orang tua dengan Relasi Remaja-Teman Sebaya Ditinjau dari Jenis Kelaminnya.
Relasi remaja-orang tua merupakan kondisi yang paling penting dalam penyesuaian remaja baik secara pribadi maupun sosial. Relasi ini menjadi dasar bagi anak untuk membentuk relasi atau dengan teman-teman sebaya. Bila relasi ini berjalan baik maka ketika beranjak remaja, mereka akan lebih mampu menjalin relasi yang baik dengan teman sebaya. Selain relasi dengan orang tua, pola relasi remaja juga dipengaruhi oleh perbedaan jenis kelamin. Perbedaan-perbedaan tersebut seperti perilaku, kebutuhan, kepribadian, komunikasi, dan perlakuan orang tua yang menyebabkan pola relasi persahabatan remaja laki-laki memiliki dinamika yang berbeda dengan remaja perempuan.
Berdasarkan tinjauan teoritis tersebut maka peneliti mengemukakan dua hipotesis. Pertama, terdapat hubungan antara relasi remaja dengan orang tua dan relasi remaja dengan teman sebaya. Kedua, ada perbedaan jenis kelamin dalam pola relasi dengan teman sebaya. Variabel penelitian adalah relasi remaja-orang tua dan jenis kelamin (variabel bebas), serta relasi remaja-teman sebaya (variabel terikat). Subjek penelitian adalah 94 siswa SMA SKKK di Malang.
Alat ukur yang digunakan adalah skala IFR (Index of Family Relations) untuk mengukur relasi remaja dengan orang tua dan skala IPR (Index of Peer Relations) untuk mengukur relasi remaja dengan teman sebaya. Teknik analisis data untuk pengolahan data relasi remaja-orangtua dengan relasi remaja-teman sebaya menggunakan teknik korelasi Bivariate/Product Moment Pearson. Sedangkan untuk membandingkan perbedaan jenis kelamin menggunakan Independent Samples t-test.
Penghitungan data menggunakan program statistik SPSS 10.01. Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya hubungan yang positif dan signifikan antara relasi remaja-orang tua dengan relasi remaja-teman sebaya. Demikian pula, ditemukan perbedaan yang signifikan antara relasi teman sebaya remaja laki-laki dengan remaja perempuan. Dengan demikian, kedua hipotesis ini dapat diterima.
Saran yang diberikan penulis kepada kalangan akademisi adalah melakukan penelitian jangka panjang/longitudinal sebagai kelanjutan dari penelitian ini. Penelitian tersebut dapat meneliti relasi remaja dengan teman sebaya dalam kaitannya dengan dampak positif maupun negatif yang timbul sewaktu mereka menjadi dewasa. Penelitian ini bisa dikaitkan dengan kehidupan pertumbuhan kerohanian mereka, sikap mereka dalam pelayanan di gereja, ketahanan atau kesehatan mental, karier atau kehidupan finansial, dan lain-lain
Educating For The Kingdom: Analisis Teologis Konsep Pendidikan Kristen James K.A. Smith dan Relevansinya Terhadap Pendidikan Kristen
Pendidikan Kristen merupakan proses belajar mengajar yang alkitabiah, dengan kuasa Roh Kudus dan berpusatkan pada Kristus. Namun, pendidikan Kristen masa kini memiliki permasalahan. Pendidikan Kristen seperti tidak memiliki perbedaan dengan pendidikan non-Kristen, khususnya dalam hal kurikulum. Selain itu, di dalam keluarga Kristen terdapat permasalahan. Orang tua seperti tidak serius memikirkan pendidikan keluarga yang seharusnya menjadi tempat anak-anak belajar mengenal Allah dan memiliki karakter yang baik. Hal-hal ini adalah fenomena yang Smith lihat terjadi di dalam pendidikan Kristen. Oleh sebab itu, Smith menekankan pendidikan kepada pembentukan cinta dan hasrat manusia, dan bahwa pembentukan seperti itu terjadi melalui ritual komunal yang diwujudkan yang dapat disebut "liturgi.". Smith menawarkan sebuah cara pandang baru terhadap pendidikan yang seharusnya dapat mentransformasi kehidupan seorang Kristen menjadi orang yang benar-benar sesuai dengan panggilan mereka sesungguhnya. Berdasarkan pandangan ini, penulis menemukan bahwa ada setidaknya dua prasuposisi teologis yang dipegang oleh Smith sebagai dasar dari konsep pendidikan Kristen Smith. Dua prasuposisi itu berkaitan dengan teologi antropologi dan teologi tentang gereja. Melalui prasuposisi teologis ini, penelitian ini mencoba membuktikan bahwa konsep pendidikan Kristen Smith patut untuk dipikirkan dalam pelaksanaan pendidikan Kristen masa kini.
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk melihat apakah konsep pendidikan Kristen yang diusung Smith efektif menjawab masalah pendidikan di masa kini. Hipotesis tulisan ini adalah konsep pendidikan Kristen Smith dapat menjawab permasalahan yang diangkat oleh Smith dalam dunia pendidikan postmodern saat ini. Penelitian ini menggunakan model penelitian kepustakaan. Penulis menggunakan literatur yang memberikan penjelasan tentang dasar pemikiran James K.A. Smith, termasuk literatur tentang dua prasuposisi teologis untuk memberikan penjelasan dan evaluasi yang objektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep pendidikan Kristen yang Smith ajukan memang menjawab permasalahan yang dia angkat sendiri. Namun, ada beberapa aspek yang harus diperhatikan agar tidak terlalu ekstrem dalam melihat dan menggunakan pandangan Smith di dalam pendidikan Kristen