STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Analisis Pengaruh Filsafat Akal Sehat (Common Sense Realism) Thomas Reid pada Teologi Sains Charles Hodge.

    Get PDF
    Ketika Sydney Ahlstrom dalam jurnalnya menyatakan bahwa Charles Hodge terpengaruh dengan filsafat akal sehat Thomas Reid dan menyatakan bahwa pemikiran Hodge telah keluar dari tradisi Reformed, pernyataannya tersebut kemudian menjadi paradigma utama bagi teolog-teolog saat ini. Menurut Ahlstrom, filsafat akal sehat Thomas Reid menyebabkan Hodge memiliki optimisme terhadap kemampuan rasio untuk menemukan pengetahuan yang objektif tentang Tuhan dan menemukan fakta-fakta sains dari Alkitab untuk menghakimi pengetahuan-pengetahuan yang dihasilkan dari berbagai disiplin ilmu sains yang lain. Pernyataan Ahlstrom tersebut sebenarnya merujuk kepada pernyataan Hodge yang tertulis pada prolegomena di buku Systematic Theology vol. 1, yang berjudul Theology a Science. Pada bab itulah terdapat kata-kata yang dianggap oleh Ahlstrom mengusung optimisme tersebut, seperti kata fakta (fact) dan kebenaran absolut (absolute truth) yang dinyatakan Hodge dalam bukunya tersebut. Ahlstrom menilai bahwa penghimpunan fakta-fakta tersebut secara induktif merupakan karakter dari pemikiran Thomas Reid yang mencetuskan filsafat akal sehat (Common Sense Realism). Dengan demikian Ahlstrom menyimpulkan bahwa Hodge terpengaruh dengan filsafat akal sehat Thomas Reid. Saat ini paradigma Ahlstrom tersebut mendapat kritik tajam dari teolog seperti David P. Smith dan Paul Kjoss Helseth, yang membuktikan bahwa B.B Warfield sebagai murid Charles Hodge, sama sekali tidak terpengaruh dengan filsafat akal sehat Thomas Reid. Helseth menilai bahwa optimisme pada teolog Princeton Lama terjadi karena mereka terpengaruh dengan filsafat akal budi yang teregenerasi (Right Reason atau Yun. Orthos Logos), sebuah filsafat yang telah ada sejak zaman Plato dan Aristoteles dan pemikir-pemikir timur dekat kuno lainnya. Aristoteles menggunakan filsafat tersebut untuk menjelaskan ontologi dari manusia. Orthos Logos adalah sebuah penjelasan bahwa keberadaan rasio telah membedakan manusia dengan binatang, bahkan rasio merupakan aspek untuk berinteraksi dengan hal-hal yang berkaitan dengan keilahian. Tetapi pada era Agustinus, konsep orthos logos untuk menjelaskan bahwa perbedaan manusia dengan binatang bukan didasarkan pada rasio, melainkan hati (soul). Ini merupakan sebuah istilah antropologis yang alkitabiah, yang menjelaskan bahwa manusia terdiri dari tubuh dan hati. Bagi Agustinus, hati yang teregenerasi dapat memiliki pengetahuan yang objektif tentang Allah. Selanjutnya John Calvin pun menjelaskan bahwa hati teregenerasi pun menjadi aspek terpenting untuk memahami karya keselamatan Allah. Helseth pun menjelaskan bahwa teolog Princeton Lama mendasarkan optimismenya kepada prinsip orthos logos atau hati yang teregenerasi untuk merumuskan pengetahuan tentang Allah dalam tulisan-tulisan mereka. Tujuan dari penulisan ini untuk melanjutkan penemuan Helseth dan membuktikan bahwa Hodge memiliki konsep antropologi yang sama dengan teolog Reformasi lainnya seperti John Calvin dan Francis Turretin

    Model Family-Equipping Ministry dan Implikasinya terhadap Peran Gereja untuk Memperlengkapi Orang tua dalam Memuridkan Generasi Muda.

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengingatkan kembali tanggung jawab orang tua dan gereja dalam pembinaan kerohanian generasi muda. Berdasarkan studi literatur yang dilakukan, didapati sebuah hasil bahwa absennya peran gereja dan keluarga dalam pembinaan kerohanian generasi muda telah menyebabkan sebuah masalah yang mengakibatkan generasi muda masa kini mengidap spiritualitas Moralistic Therapeutic Deism (MTD). Terdapat suatu kebutuhan untuk membukakan wawasan gereja dan memperlengkapi orang tua melalui penerapan sebuah model pelayanan yang tepat. Maka dari itu, diperlukan sebuah model pelayanan yang dapat membantu gereja dan orang tua untuk melakukan peran dan tanggung jawabnya dalam pembinaan kerohanian generasi muda. Melalui studi literatur yang digunakan untuk menganalisa model “Family Equipping Ministry” secara historis dan teologis, penulis melihat bahwa model ini menjadi sebuah solusi yang baik dalam mengatasi permasalahan yang ada. Model “Family Equipping Ministry” tetap mempertahankan beberapa pelayanan berdasarkan pembagian umur (age-organized ministries), tetapi menyusun ulang jemaat untuk bekerja sama dengan orang tua dalam setiap tingkat pelayanan sehingga orang tua diakui; diperlengkapi; dan bertanggung jawab atas pemuridan anak-anak mereka. Dua hal penting yang dilakukan oleh model ini adalah, mengikutsertakan dan memperlengkapi orang tua sebagai penanggung jawab utama dalam proses memuridkan anak mereka, serta bekerja sama dengan orang tua untuk mengembangkan sebuah rencana yang pasti untuk pembentukan iman anak-anak mereka. Dengan demikian, ketika model pelayanan “Family Equipping Ministry” telah diimplementasikan dengan baik dalam sebuah kehidupan gereja, para orang tua akan menyadari dan melakukan tanggung jawab mereka sebagai penanggung jawab utama dalam pemuridan anak mereka, dan gereja pun dapat melakukan perannya sebagai mitra serta bekerja sama dengan orang tua dalam membina spiritualitas anak muda. Dengan demikian, model ini dapat menjadi solusi dari permasalahan absennya peran gereja dan keluarga dalam pembinaan kerohanian generasi muda

    Sebuah Pembelaan Doktrin Inkarnasi Ortodoks dengan Perspektif Divine Preconscious Model terhadap Kritik John Hick.

    No full text
    John Hick adalah salah satu filsuf agama yang paling menonjol di abad ke-21 dengan wawasan interdisipliner yang luas dalam kancah akademis. Catatan pendidikan yang pernah ia tempuh di bidang hukum, filosofi dan teologi menunjukkan kecemerlangannya. Ketiga bidang pendidikan tersebut mempengaruhi pendekatannya dalam mencari kebenaran yang tampak pada pandangan-pandangannya. Salah satu pandangan Hick yang terus menjadi perdebatan hingga masa sekarang adalah artikulasi ulang yang digagasnya terhadap doktrin inkarnasi ortodoks. Itulah sebabnya penulis terdorong untuk memberikan tanggapan terhadapan pandangan Hick tersebut. Berkenaan dengan isu deifikasi Yesus, Hick menyatakan bahwa Yesus yang adalah manusia biasa telah disalah-mengerti oleh para pengikut-Nya yang menjadikan-Nya sebagai Tuhan. Kesalahpahaman itu terus bergulir dari waktu ke waktu hingga akhirnya konsili Nicaea dan konsili Chalcedon merumuskannya dalam doktrin inkarnasi ortodoks. Itu sebabnya dalam pandangan Hick, doktrin inkarnasi merupakan pemikiran manusia belaka dan tidak pernah dinyatakan dalam Kitab Suci bahkan oleh Yesus sendiri. Untuk menanggapi hal tersebut penulis memaparkan beberapa ayat kunci dalam Perjanjian Baru guna menunjukkan bahwa doktrin inkarnasi bersumber dari Yesus sendiri yang dinyatakan dalam Kitab Suci. Isu selanjutnya adalah tuduhan inkoherensi dalam doktrin inkarnasi ortodoks. Hick menyatakan bahwa konsep dwinatur tidak dapat diterima dengan logika. Untuk menjawab hal itu, penulis menggunakan pendekatan logika gabungan: relativity thesis (pernyataan relativitas) dan natural kind concept (konsep ciri alamiah). Dengan metode relativity thesis, penulis dapat menunjukkan kesalahan logika tuduhan inkoherensi dari Hick terhadap doktrin inkarnasi ortodoks. Sementara itu, pendekatan natural kind concept dapat membuktikan koherensi dari konsep dwinatur yang ada dalam diri Allah Anak sebagai inkarnasi Allah. Untuk memperkuat koherensi doktrin inkarnasi ortodoks, penulis menggunakan divine preconscious model sebagai alat analisis utama dalam memberikan penjelasan filosofis, psikologis dan logis mengenai kemanunggalan Pribadi Yesus dengan dua natur yang ada di dalam diri-Nya, yang tidak saling berkontradiksi. Pada bagian terakhir, penulis menyanggah doktrin inkarnasi menurut pandangan Hick serta beberapa usulan interpretasi ulang Hick terhadap doktrin ini. Untuk itu, penulis mengajukan beberapa kritik terhadap doktrin inkarnasi Hick dengan mengungkap kesalahan pemikiran Hick secara logis. Dari penelitian ini, penulis menyatakan bahwa doktrin inkarnasi ortodoks mempunyai dasar-dasar alkitabiah yang kuat. Doktrin inkarnasi ortodoks bukan pemikiran manusia yang dirumuskan oleh konsili Nicaea dan konsili Chalcedon melainkan pernyataan Allah sendiri yang dicatat dalam Kitab Suci. Selain itu, doktrin inkarnasi merupakan doktrin yang koheren sehingga dapat dipahami dengan jelas dan dapat diterima dengan logika yang sehat. Dengan demikian, pandangan doktrin inkarnasi Hick merupakan pandangan yang keliru sehingga kekristenan tidak perlu memberikan artikulasi ulang terhadap doktrin inkarnasi ortodoks

    Dasar Biblika Peran Suami Mengasihi Istri dan Relevansinya Dalam Pernikahan Kristen di mana Terjadi Kekerasan Dalam Rumah Tangga Terhadap Istri.

    Get PDF
    Pernikahan adalah lembaga yang begitu kudus dan mulia yang telah Allah rancangkan dan kehendaki dari sejak semula. Melalui lembaga pernikahan ini, Allah telah menetapkan peran laki-laki dan perempuan. Kepada para laki-laki, Allah menetapkan peran bagi mereka untuk menjadi laki-laki, menjadi suami, serta menjadi ayah bagi anak-anaknya. Lalu, Allah juga telah menetapkan para perempuan untuk menjadi perempuan, menjadi istri, dan menjadi ibu bagi anak-anaknya. Namun rancangan awal Allah yang begitu indah akan lembaga pernikahan dan relasi yang ada di dalamnya ini menjadi tercemar akibat ketidaktaatan manusia pertama terhadap perintah Allah. Akibat dosa, timbul rasa bersalah, rasa malu dan juga saling menyalahkan di dalam pernikahan. Dari sejak kejatuhan manusia pertama, sampai dengan hari ini kita menjumpai banyak pernikahan yang bermasalah akibat efek dari dosa. Salah satu dari banyaknya permasalahan yang terjadi di dalam pernikahan adalah masalah KDRT, yang telah menghancurkan banyak kehidupan pernikahan, termasuk di dalamnya pernikahan Kristen. Semua jenis tindak KDRT yang dilakukan suami kepada istri pasti memberikan dampak yang sangat buruk bagi setiap istri yang menjadi korban tindak KDRT. Dari setiap tindak KDRT yang dilakukan, semuanya memiliki satu tujuan yang sama, yaitu untuk mengontrol dan menunjukkan kekuasaan suami atas istri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan bahwa tindak KDRT sangat bertentangan dengan kehendak Allah dan tidak sesuai dengan apa yang Alkitab ajarkan. Selain itu tujuan berikutnya adalah untuk memaparkan betapa buruknya dampak tindak KDRT yang dilakukan suami kepada istri, serta dasar biblika peran suami-istri yang seharusnya menjadi dasar dalam membina sebuah pernikahan Kristen. Perbedaan peran dan tanggung jawab antara suami-istri seharusnya mendorong mereka untuk saling melengkapi di dalam mengarungi rumah tangga mereka bersama

    Hubungan antara Pengampunan dan Kompetensi Komunikasi Interpersonal dengan Kepuasan Pernikahan pada Istri di Kota Medan.

    Get PDF
    Kepuasan pernikahan merupakan harapan dari setiap pasangan yang ingin menikah. Banyak faktor yang berhubungan dengan kepuasan pernikahan, di antaranya adalah pengampunan dan kompetensi komunikasi interpersonal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengampunan dan kompetensi komunikasi interpersonal dengan kepuasan pernikahan. Diperkirakan terdapat hubungan antara pengampunan dengan kepuasan pernikahan, demikian juga terdapat hubungan antara kompetensi komunikasi interpersonal dengan kepuasan pernikahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasi yang menjelaskan hubungan antara variabel bebas dan terikat. Partisipan penelitian ini adalah istri dari pernikahan aktif berjumlah 75 orang, dengan usia pernikahan 4 hingga 20 tahun, yang berasal dari komunitas ibu-ibu Gereja Kristen Protestan Simalungun Padang Bulan Medan dan komunitas Pasutri Perkantas Medan. Data penelitian diolah dengan menggunakan Program SPSS 25, dianalisa dengan Spearman Rank Coefficient karena data tidak terdistribusi secara normal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan kuat antara pengampunan dengan kepuasan pernikahan, dan terdapat hubungan yang positif dan cukup antara kompetensi komunikasi interpersonal dengan kepuasan pernikahan

    Tinjauan Terhadap Peranan Roh Kudus dalam Inspirasi dan Iluminasi Menurut Tradisi Pembaruan berdasarkan Perspektif Pneumatologi Reformed

    Get PDF
    Pentingnya pembelajaran tentang peranan Roh Kudus dalam teologi merupakan hal yang tidak bisa disangkali. Hal ini berkembang seiring dengan berbagai pandangan mengenai peranan Roh Kudus sebagai Pribadi Allah Tritunggal yang hadir dalam kehidupan orang percaya. Salah satu kalangan yang membahas mengenai peranan Roh Kudus adalah kalangan Tradisi Pembaruan. Kalangan Tradisi Pembaruan mencakup antara lain aliran Pentakosta secara umum baik dari Pentakosta Klasik hingga Neo-Pentakosta. Kalangan Tradisi Pembaruan menekankan peranan Roh Kudus dalam inspirasi sebagai penyampaian pesan Allah secara langsung kepada manusia. Pemahaman Tradisi Pembaruan ini juga berakar dari pengajaran Karl Barth karena adanya kesamaan pandangan dalam menekankan peranan Alkitab dan pencapaian pengalaman. Peranan Alkitab dalam hal ini sebagai instrumen penyampaian wahyu Allah, bukan wahyu Allah itu sendiri. Berkaitan dengan iluminasi, maka kalangan Tradisi Pembaruan meyakini bahwa siapapun dapat diterangi oleh Roh Kudus termasuk orang percaya sebagai bagian dari iluminasi yang berkelanjutan. Kalangan Tradisi Reformed berusaha menanggapi pemahaman ini dengan menyatakan bahwa Alkitab sebagai wahyu Allah yang cukup dan berotoritas. Batasan dan definisi yang lebih khusus diterapkan oleh kalangan Tradisi Reformed untuk menghindari ambiguitas makna. Bagi kalangan Tradisi Reformed inspirasi terjadi di dalam penulisan Alkitab ketika Roh Kudus menginspirasi penulis asli, dan hal ini tidak terjadi pada orang-orang di masa sekarang. Tradisi Reformed juga meyakini bahwa tidak ada wahyu di luar dari Alkitab sebagai wahyu khusus yang objektif. Bagian orang-orang di masa sekarang adalah iluminasi yang dibagi menjadi dua iluminasi pendahuluan bagi orang tidak percaya dan iluminasi berkelanjutan bagi orang percaya. Peranan Roh Kudus menjadi hal yang penting bagi keselamatan orang tidak percaya dan pengudusan orang percaya. Oleh sebab itu dengan memberikan tinjauan teologis terhadap peranan Roh Kudus dalam inspirasi dan iluminasi diharapkan dapat memberikan pemahaman yang tepat mengenai doktrin Roh Kudus bagi jemaat yang ingin mempelajarinya baik secara umum ataupun berkelanjutan

    Penyakit Terminal dan Pengharapan Kebangkitan Tubuh Menurut 1 Korintus 15:35-58.

    Get PDF
    Penyakit terminal menjadi salah satu pergumulan berat dalam kehidupan manusia termasuk orang Kristen. Permasalahan serius muncul ketika penderita penyakit terminal yang mengaku Kristen takut menghadapi kematian. Lalu, mengapa penderita penyakit terminal yang mengaku Kristen takut menghadapi kematian? Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan itu dan memberikan pengharapan bagi penderita penyakit terminal agar mereka tidak takut menghadapi kematian. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan yang dilakukan untuk menggali kebenaran 1 Korintus 15:35-58, Penyakit Terminal, dan Pelayanan Pastoral. Oleh karena itu, penulis akan menggali bagaimana kebenaran 1 Korintus 15:35-58 dapat mempersiapkan penderita penyakit terminal dalam menghadapi kematian dan relevansi pastoral dari 1 Korintus 15:35-58 terhadap penderita penyakit terminal. Hasil dari penelitian ini adalah kebenaran mengenai kebangkitan tubuh dalam 1 Korintus 15:35-58 menjadi fondasi bagi penderita penyakit terminal untuk memercayai akan adanya kebangkitan tubuh. Sekalipun tubuh para penderita penyakit terminal mengalami penyakit bahkan kematian, Tuhan akan memberikan tubuh baru yang mulia. Jadi, keyakinan akan adanya kebangkitan tubuh meneguhkan dan mempersiapkan penderita penyakit terminal menghadapi kematian. Oleh karena itu, hamba Tuhan perlu melakukan pelayanan pastoral kepada penderita penyakit terminal melalui: pelayanan berbasiskan relasi; menyediakan ibadah dan sakramen; doa dan pembacaan Alkitab, serta memberikan makna dan harapan bagi mereka yang sekarat

    Hubungan Antara Relasi Ayah–Anak dengan Keintiman Pernikahan pada Pria Dewasa Awal.

    Get PDF
    Keintiman pria dengan pasangan cenderung rentan dan membuat relasi pernikahan menjadi rusak hingga berakhir dengan perceraian. Penyebab utama perceraian di Indonesia semakin meningkat didominasi dengan alasan perselisihan suami istri dan perselingkuhan suami yang merusak keintiman pernikahan. Masalah keintiman pria terhadap pasangannya tersebut bisa disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang dapat memberikan dampak bagi keintiman pernikahan adalah pengalaman masa lalu, yang kemungkinan merujuk pada relasi dengan orang tua. Peran orang tua yang penting mengalami masalah kompleks dengan semakin bertambahnya ketidakhadiran ayah dalam keluarga. Oleh sebab itu faktor yang diselidiki dalam penelitian ini adalah relasi dengan ayah yang diduga memiliki hubungan dengan keintiman pernikahan. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Apakah ada hubungan antara relasi ayah–anak dengan keintiman pernikahan pada pria dewasa awal? Hipotesis dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara relasi ayah-anak dengan keintiman pernikahan pada pria dewasa awal. Melalui purposive sampling, peserta dipilih berdasarkan tujuan dan kriteria yang ditentukan, yaitu pria dewasa awal yang berusia 20–40 tahun, sudah menikah dengan usia pernikahan antara 1–10 tahun, pernikahan yang pertama, berdomisili di Jakarta. Data penelitian yang didapat setelah dilakukan sortir data adalah 102 orang. Instrumen yang digunakan adalah Perception of Parents Scale (POPS) untuk mengukur relasi ayah–anak dan Miller Social Intimacy Scale (MSIS) untuk mengukur keintiman pernikahan. Penelitian kuantitatif ini menggunakan teknik analisis data Spearman Rank Correlation untuk mengukur korelasi antara relasi ayah–anak dengan keintiman pernikahan pada pria dewasa awal. Hasil pengolahan data menunjukkan tidak ada hubungan antara relasi ayah–anak dengan keintiman pernikahan pada pria dewasa awal. Dengan demikian, hipotesis dalam penelitian ini ditolak. Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: relasi dengan ibu yang lebih berpengaruh, ketidakhadiran ayah digantikan oleh pihak ketiga seperti kakek, nenek, saudara kandung, penerimaan teman sebaya, guru, variasi kebudayaan, karakter individu, keintiman dengan Tuhan yang semakin matang

    Signifikansi Teori Aspek Verbal terhadap Penggunaan Kala pada Verba Imperatif dalam Surat Yakobus dan Implikasinya bagi Penerjemahan Alkitab.

    Get PDF
    Pemahaman terhadap makna verba dalam bahasa Yunani merupakan salah satu area diskusi yang masih belum mencapai titik kesepakatan. Salah satu pandangan yang menjadi standar pada masa kini adalah teori aspek verbal. Teori ini menyelesaikan kesulitan-kesulitan yang ada pada pandangan tradisional, yang cenderung untuk memahami makna verba yang terkandung pada kala yang digunakannya dalam aspek temporalitas maupun jenis tindakan secara objektif. Namun demikian, masih terdapat beberapa area seputar teori aspek verbal yang masih harus diselesaikan. Salah satunya adalah subjektivitas seorang penulis dalam menggunakan sebuah kala. Misalnya, Benjamin L. Merkle memaparkan bahwa terdapat faktor-faktor lain, terutama leksikal, ketika seorang penulis menggunakan kala tertentu. Pandangan ini berlawanan dengan Stanley E. Porter yang menyatakan bahwa aspek bersifat subjektif, bergantung pada pilihan seorang penulis. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis sejauh mana signifikansi penggunaan kala terhadap makna aspektual sebuah verba, sebagaimana yang terdapat dalam teori aspek verbal. Untuk melengkapi masih sedikitnya penelitian seputar teori aspek verbal pada modus nonindikatif, maka penelitian ini difokuskan pada modus imperatif. Korpus yang digunakan adalah surat Yakobus, yang memiliki frekuensi kemunculan imperatif yang besar. Penulis mengunakan pendekatan Constantine R. Campbell untuk menganalisis verba-verba imperatif dalam surat Yakobus secara aspektual. Hasilnya, terdapat faktor-faktor yang secara kuat memengaruhi Yakobus dalam menggunakan sebuah kala, baik itu faktor leksikal maupun gramatikal. Selain itu, penelitian ini membuktikan bahwa aspek merupakan makna semantik dan Aktionsart merupakan implikatur pragmatik yang paling kuat dari pengunaan kala pada verba imperatif. Sebagai makna semantik, signifikansi aspek sangat besar, bahkan masih terdapat pada verba-verba imperatif yang secara wajar akan muncul dengan kala tertentu karena adanya faktor-faktor pengaruh tersebut. Hasil penelitian ini juga memiliki implikasi bagi penerjemahan, terutama dalam menambahkan kata-kata bantu untuk menyatakan makna verba imperatif dengan lebih tepat. Namun demikian, pendekatan penerjemahan ini tetap harus memperhatikan terjemahan yang wajar

    Tinjauan Historis akan Pandangan Beberapa Reformator Mengenai Hubungan Gereja, Rumah, dan Sekolah di dalam Pelaksanaan Pendidikan Kristen.

    Get PDF
    Gerakan Reformasi pada abad keenam belas dimulai dengan pemasangan 95 dalil di depan pintu Gereja Wittenberg, Jerman, oleh Martin Luther. Salah satu penyebab terbesar dari gerakan ini adalah bobroknya moral dan praktik keagamaan di dalam gereja. Reformasi di dalam gereja ini, akhirnya membawa pengaruh kepada pendidikan di dalam rumah dan sekolah. Kondisi pendidikan yang memprihatinkan di dalam keluarga serta sekolah membuat para Reformator melakukan Reformasi di dalam pendidikan. Lalu apa yang menjadi latar belakang Reformasi pendidikan pada abad keenam belas ini? Apa yang menjadi pandangan serta praktik yang dilakukan para tokoh Reformasi mengenai hubungan gereja, rumah, dan sekolah dalam pelaksanaan pendidikan? Dan apa yang menjadi perbedaan pandangan dari para tokoh Reformasi akan hal ini? Penelitian ini akan menjawab ketiga pertanyaan di atas agar dapat memberikan gambaran historis akan Reformasi pendidikan pada abad keenam belas. Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah studi historika-teologi yang memaparkan hal-hal yang diperoleh dari studi kepustakaan. Penelitian ini berfokus pada literatur sumber primer. Namun, akan ada juga penggunaan sumber sekunder untuk mendukung penelitian ini. Penelitian ini dibatasi pada empat Reformator, yaitu Martin Luther, Philip Melanchthon, John Calvin, dan John Knox. Selain itu, yang dimaksudkan dengan hubungan gereja, rumah, dan sekolah adalah hubungan antara gereja, keluarga, dan sekolah Protestan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kebobrokan moral dari gereja dan para pemimpinnya berakibat buruk pada pendidikan bagi jemaat. Hal ini juga akhirnya memengaruhi pendidikan di dalam rumah dan juga sekolah. Jemaat Tuhan tersesat di dalam pengajaran yang salah dan membutakan, karena mereka tidak memiliki akses serta kemampuan untuk memahami isi dari Kitab Suci. Sekolah pun tidak mendidik anak muda dengan baik, namun justru menjadi tempat yang mengerikan untuk belajar. Melihat situasi ini, para Reformator mengambil langkah untuk melakukan Reformasi pendidikan. Luther, Melanchthon, Calvin, dan Knox melihat pentingnya pendidikan di dalam gereja, rumah, dan sekolah. Mereka menuliskan pemikiran mereka akan hal ini di dalam khotbah, surat, dan juga karya tulisan mereka yang lain. Selain itu, mereka juga melihat pentingnya ketiga lembaga ini bekerja sama untuk mendidik anak-anak muda

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇