STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Hubungan antara Kecemasan Berkomunikasi dan Self-Esteem dengan Asertivitas pada Remaja.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara kecemasan berkomunikasi dan self-esteem dengan asertivitas pada remaja. Kecemasan berkomunikasi merupakan kegelisahan emosi remaja yang meliputi perasaan tidak tenang, khawatir, dan takut ketika akan atau sedang berkomunikasi dengan orang lain dalam kelompok kecil atau kelompok besar. Self-esteem adalah penerimaan atau kepuasan seseorang terhadap dirinya sendiri. Asertivitas merupakan kemampuan individu mengekspresikan dirinya dengan cara-cara yang sesuai atau pantas, lebih proaktif terhadap kehidupan, dan secara langsung dapat mengekspresikannya pikiran dan perasaannya. Remaja adalah individu yang berusia 13-18 tahun.
Dalam berelasi, umumnya remaja memiliki kesulitan berinteraksi dengan baik sehingga muncul dua perilaku ekstrem yang merugikan. Bagi kelompok remaja yang rendah diri dalam pergaulannya cenderung menggunakan perilaku pasif (non asertif) dalam berinteraksi. Sedangkan, kelompok remaja yang lebih kasar dan yang kurang mampu mengendalikan emosinya menggunakan perilaku agresif dalam berinteraksi.
Ada perilaku yang tepat dan perlu terus dikembangkan oleh remaja yaitu perilaku asertif. Asertivitas remaja dapat dilihat melalui cara ia berelasi dengan sesamanya, dan melibatkan aspek yaitu bagaimana remaja tersebut memiliki cara yang tepat dalam berkomunikasi. Kecemasan berkomunikasi merupakan hal yang seringkali muncul di usia remaja. Banyak hal yang menjadi alasan remaja untuk menjadi cemas, di antaranya karena merasa tidak percaya diri, takut gagal, takut dinilai buruk dan lain sebagainya. Masa remaja merupakan masa transisi dan berbagai perubahan yang dialami remaja memiliki peran atas kepercayaan dirinya dalam berbagai situasi, semakin rendah kepercayaan diri remaja tersebut semakin rendah pula penghargaan dirinya.
Berdasarkan hal-hal di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecemasan berkomunikasi dan self-esteem dengan asertivitas pada remaja. Hipotesis dari penelitian ini adalah:
1. Terdapat hubungan antara tingkat kecemasan berkomunikasi dengan asertivitas pada remaja. Semakin tinggi tingkat kecemasan berkomunikasi, maka semakin rendah asertivitas.
2. Terdapat hubungan antara self-esteem dengan asertivitas pada remaja. Semakin tinggi self-esteem, maka semakin tinggi pula asertivitas.
vi
Metode penelitian yang digunakan adalah korelasional, yang mengukur korelasi antara variabel kecemasan berkomunikasi dan self-esteem dengan asertivitas. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik convenience sampling, yaitu pengambilan sampel didasarkan pada ketersediaan elemen dan kemudahan untuk mendapatkannya. Peneliti mendatangi subjek yang memenuhi persyaratan serta meminta kesediaan pimpinan lembaga tersebut agar mengizinkan murid-murid Diakonia menjadi sumber data. Persyaratannya adalah remaja berusia antara 13-18 tahun. Instrumen untuk mengukur kecemasan berkomunikasi adalah skala Communication Anxiety Inventory (CAI) yang dikembangkan oleh Booth-Butterfield dan Gould. Self-esteem diukur dengan menggunakan skala The Coopersmith Self-Esteem Inventories (CSEI) yang dibuat oleh Coopersmith. Alat ukur untuk mengukur asertivitas remaja adalah Assertiveness Scale for Adolescents (ASA) yang dibuat oleh Dong Yul Lee, Ernest T. Hallberg, Alan G. Slemon, dan Richard F. Haase.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan negatif antara kecemasan berkomunikasi dengan asertivitas dan tidak terdapat hubungan antara self-esteem dengan asertivitas pada remaja. Tidak ditemukannya hubungan yang signifikan ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor seperti unsur budaya Timur yang tidak mengajarkan asertivitas, remaja secara umum labil dan cemas, dan kurangnya pembinaan remaja yang membuat remaja berani untuk sharing tentang Firman Tuhan dan pengalaman hidupnya dalam Kelompok Tumbuh Bersama (KTB) atau dalam persekutuan remaja. Beberapa kekurangan penelitian seperti pengabaian faktor penting lain dan subjek penelitian yang homogen kemungkinan dapat menyebabkan tidak ditemukannya hubungan yang signifikan.
Akhirnya, disarankan agar dilakukan penelitian terhadap remaja yang sudah mendapatkan pelatihan asertivitas karena asertivitas dapat pula dicapai melalui latihan-latihan atau training-training. Selain itu remaja juga perlu diberikan pengajaran dan pendalaman Alkitab yang diintegrasikan dalam pelatihan asertivitas tersebut. Kemudian hasilnya dapat dibandingkan dengan penelitian terhadap remaja yang belum diberikan pelatihan asertivitas. Saran bagi remaja agar remaja memperluas pergaulan dengan mengikuti aktivitas-aktivitas yang ada di sekolah seperti olahraga dan kesenian serta aktivitas lain seperti aktivitas keagamaan dan aktivitas sosial yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. Keterlibatan dalam berbagai aktivitas positif ini akan memperluas pergaulan remaja dan bermanfaat bagi pengembangan diri remaja
Analisis Kritis Terhadap Pendekatan Hermeneutika Kristotelik Pada Teks-Teks Kristologis Perjanjian Lama Dari Perspektif Hermeneutika Kristosentris Kontemporer
Hermeneutika kristotelik adalah hermeneutika yang melihat seluruh Perjanjian Lama akan bergerak menuju tujuan akhirnya di dalam Yesus Kristus, terutama peristiwa kematian dan kebangkitan-Nya. Hermeneutika ini hadir sebagai kritik terhadap hermeneutika kristosentris yang pada umumnya dianggap mengabaikan kekayaan PL dan makna asli penulisnya untuk dibaca secara kristologis. Hermeneutika kristotelik membangun pendekatannya dari hermeneutika para rasul yang menarik keluar teks PL dari konteks aslinya dan mengarahkannya kepada tujuan akhir serta pemenuhan PL, yaitu Yesus Kristus. Mereka lalu menggabungkan metode historis-gramatikal dengan tujuan hermeneutis dari para rasul tersebut untuk menghasilkan pembacaan kristologis yang menghormati kekayaan PL dan tetap menjaga fokus terhadap Kristus.
Model hermeneutika yang dikembangkan hermeneutika kristotelik berpotensi untuk mengaburkan keutuhan dan natur Alkitab sebagai wahyu Allah, karena mereka melihat para rasul melakukan penafsiran nonkontekstual. Sementara itu, model hermeneutika kristosentris berkembang dan juga menawarkan pembacaan kristologis pada teks PL yang tetap menghargai natur Alkitab sebagai wahyu Allah yang utuh dan kekayaan PL. Hermeneutika kristosentris kontemporer menggunakan pendekatan historis-penebusan yang dikembangkan oleh Geerhardus Vos. Kedua hermeneutika tersebut memiliki perhatian yang sama untuk membaca teks PL secara kristologis dengan menghargai kekayaan PL. Lantas dalam hal apa mereka berbeda dan apakah mungkin untuk melakukan sintesis?
Penelitian ini akan menggunakan dua metode analisis, yaitu analisis isi dan komparatif. Hermeneutika kristotelik dan kristosentris kontemporer akan dianalisis isi, sebelum dilakukan analisis komparatif. Kemudian, hermeneutika kristotelik akan dianalis secara kritis dari perspektif hermeneutika kristosentris kontemporer. Hasil penelitian ini menemukan bahwa kedua hermeneutika memiliki fokus yang sama terhadap Yesus, tetapi memiliki perbedaan mendasar dalam paham tentang natur Alkitab. Hermeneutika kristotelik memiliki kesalahan dalam pandangannya terhadap paham Alkitab dan penggunaan teks PL dalam PB yang menjadi dasar pendekatannya, tetapi memberi masukan untuk hermeneutika kristosentris kontemporer mengenai hermeneutika para rasul
Di Antara Bertahan Dan Melepas: Menanggapi Perceraian Atas Dasar Kekerasan Dalam Rumah Tangga Sebagai Warisan Patriarkhal
Melalui makalah ini, penulis secara khusus ingin menyoroti persoalan kekerasan dalam rumah tangga sebagai salah satu alasan yang kerap kali dipertanyakan moralitasnya oleh kebanyakan orang Kristen. Pertama-tama, penulis akan mengulas pemahaman tentang pernikahan dan perceraian dari perspektif Kristen. Kemudian, risalah ini akan dilanjutkan dengan penjabaran mengenai kekerasan dalam rumah tangga sebagai salah satu alasan perceraian. Secara khusus, di sini penulis akan mengulas KDRT sebagai hasil dari budaya Patriarkhal. Terakhir, penulis akan memberikan tinjauan etis terhadap problem kekerasan dalam rumah tangga sebagai alasan perceraian
Tinjauan terhadap Peran Ayah di dalam Pendidikan Anak dalam Sejarah Orang Yahudi setelah Masa Pembuangan sampai Masa Gereja Mula-Mula (Tahun 586 SM – 380 M)
Hasil survei terhadap anak-anak yang religiositasnya tinggi menunjukkan bahwa peran orang tua berpengaruh paling tinggi terhadap mereka. Tetapi sayang, hasil survei secara umum juga menunjukkan bahwa kebanyakan orang tua tidak sering berdiskusi dengan anak-anak tentang hal-hal rohani. Tampaknya orang tua menyerahkan tugas mendidik kerohanian anak-anak kepada gereja, padahal firman Tuhan di Perjanjian Lama memberikan perintah kepada orang tua untuk mendidik anak-anak mereka. Pada pertengahan abad ke-20, para peneliti mulai menyoroti peran ayah secara khusus, dan mendapati bahwa peran ayah dalam mendidik anak-anak sangat penting sebab mendatangkan pengaruh yang sangat positif bagi anak-anak. Kitab terakhir Perjanjian Lama, yaitu Maleakhi, menunjukkan bahwa Allah sangat memperhatikan relasi ayah dengan anak. Sehubungan dengan hal itu, para pakar keluarga Kristen pun menulis buku-buku untuk menolong para ayah agar dapat berperan dengan baik. Walaupun peran ayah sangat penting, namun hasil penelitian terkini menunjukkan bahwa peran ibu dalam hal rohani lebih menonjol bagi anak-anak dan religiositas ibu lebih baik daripada ayah.
Orang Yahudi adalah umat yang begitu dekat dengan masa-masa diterimanya firman Tuhan, khususnya perintah bagi peran orang tua dalam mendidik anak-anak. Sejarah pendidikan mereka menunjukkan bahwa pendidikan mereka sangat fokus pada firman Tuhan dan fokus pada institusi keluarga. Setelah terjadinya pembuangan, orang-orang Yahudi bahkan semakin giat mempelajari Kitab Suci dan semakin semangat untuk mengajarkannya kepada anak-anak mereka. Bahkan, mereka memberi penekanan kepada peran ayah dalam mendidik kerohanian anak-anak. Banyak kebiasaan yang mereka lakukan di dalam keluarga untuk tujuan tersebut. Orang Kristen pada masa gereja mula-mula juga sama seperti itu, mereka masih fokuskan pendidikan anak-anak pada Kitab Suci dan pada keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep pendidikan seperti itu sesuai dengan pengajaran Rasul Paulus. Sebagai implikasinya, gereja masa kini harus memperhatikan hal tersebut dan menolong jemaat untuk mengerti dan menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Gembala gereja harus menolong para ayah bangkit dan berperan dalam mendidik anak-anak sesuai Kitab Suci, serta mengantisipasi hal-hal yang mungkin menjadi kesulitan di dalamnya
Hubungan antara Relasi Anak-Orang Tua dengan Kedekatan Relasi terhadap Lawan Jenis pada Perempuan Dewasa Awal.
Tahun-tahun masa dewasa awal adalah saat ketika individu biasanya membangun relasi yang intim dengan individu yang lain. Jika seorang dewasa membentuk persahabatan yang sehat dan sebuah hubungan yang intim dengan orang lain, keintiman akan tercapai; jika tidak, hasilnya adalah isolasi. Diasumsikan bahwa kemampuan perempuan dewasa awal menjalin relasi yang intim dengan orang lain sangat bergantung pada bagaimana orang tua membesarkan mereka.
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: apakah terdapat hubungan antara relasi anak perempuan-orang tua dengan kedekatan relasi terhadap lawan jenis pada perempuan dewasa awal? Hipotesis dari penelitian ini adalah: (1) semakin dekat relasi anak perempuan-ayah, semakin dekat pula relasi mereka dengan lawan jenisnya. (2) semakin dekat relasi anak perempuan-ibu, semakin dekat pula relasi mereka dengan lawan jenisnya.
Metode penelitian yang digunakan bersifat kuantitatif korelasional, yang mengukur korelasi antara variabel relasi anak perempuan-ayah dan anak perempuan-ibu dengan kedekatan relasi mereka dengan lawan jenisnya. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik convenience sampling. Persyaratannya adalah perempuan, berusia antara 18 – 25 tahun, belum menikah, masih tinggal bersama orang tua, dan beragama Kristen. Jumlah sampel ada 100 orang. Alat ukur yang digunakan adalah Child’s Attitude Toward Father (CAF), Child’s Attitude Toward Mother (CAM), dan Miller Social Intimacy Scale (MSIS).
Berdasarkan pengolahan data secara statistik diperoleh hasil bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara relasi anak perempuan-orang tua dengan kedekatan relasi terhadap lawan jenis pada perempuan dewasa awal. Dengan demikian, kedua hipotesis dalam penelitian ini ditolak.
Hal ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor, yakni orang tua yang posesif dan terlalu protektif justru membuat anak perempuannya sulit menjalin relasi dengan orang lain, anak perempuan yang tidak dekat dengan ayahnya justru mencari kasih sayang pria—sebagai kompensasi—untuk memenuhi kebutuhan emosionalnya, adanya figur-figur pengganti orang tua, faktor sejarah keluarga, adanya hambatan dalam diri anak perempuan itu sendiri dalam menjalin keintiman, serta adanya anugerah Tuhan dalam hidup anak perempuan tersebut
Sikap Ekumenikal Dan Evangelikal Terhadap Agama-Agama Lain: Sebuah Analisis Perbandingan Historis-Teologis
Di tengah kebangkitan agama-agama dunia, berbagai tubuh Kristen Protestan (utamanya kaum ekumenikal dan evangelikal) secara fragmentatis terbagi dalam sikap-sikap yang berbeda terhadap iman-iman yang lain. Mereka mengajukan tiga posisi dalam menghadapi isu ini: pluralis, inklusif, dan eksklusif. Setiap pilihan berakibat pada tingkat keterbukaan yang berbeda kepada iman yang lain. Artikel ini bertujuan untuk mengakrabkan para pembaca kepada sikap-sikap ini. Pada intinya, artikel ini juga akan mengekplorasi baik isu-isu teologis maupun praktis yang secara integral di balik sikap-sikap tersebut. Untuk mencapai tujuan ini, penulis akan memakai analisis perbandingan historis-teologis. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa berbagai pandangan dalam aspek-aspek tertentu (seperti hemeneutika, pewahyuan, keselamatan, dan injil) telah berkontribusi kepada disparitas sikap evangelikal dan ekumenikal terhadap agama-agaman lain. Akhirnya, analisis ini diharapkan akan memampukan setiap orang Kristen untuk bersikap yang tepat terhadap agama-agama lain, yang sejalan dengan karakteristik-karakteristik Kerajaan Allah.Amid the revivals of world religions, the Protestant Christian bodies (mainly the ecumenical and the evangelical ones) are fragmentally divided into different attitudes toward other faiths. They propose three positions in dealing with this issue: pluralist, the inclusivist, and exclusivist. Any choice taken may result in varying levels of openness toward other faiths. The article aims to acquaint the readers with both ecumenical and ecumenical such attitudes. At the core, it will also explore the underlying theological as well as practical issues behind such attitudes. To achieve the goal, the author will use a historical-theological comparative analysis. The result of the analysis shows that various views on certain aspects (like hermeneutics, revelation, salvation, and the gospel) have contributed to the disparities of both ecumenical and evangelical attitudes toward other religions. In the end, this analysis expectedly will enable every Christian to show a proper attitude toward other religions, in-line with the characteristics of the Kingdom of God
Tinjauan Kritis terhadap Pembagian Tiga Divisi Hukum Taurat dan Ketidaksinambungannya bagi Orang Kristen dari Perspektif Pendekatan Paradigmatik terhadap Taurat.
Calvin membagi Taurat menjadi tiga divisi yaitu seremonial, sipil dan moral sebagai upaya memberikan relevansi bagi orang Kristen. Hukum Seremonial adalah aturan-aturan yang berkaitan dengan keimaman Harun dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan ibadah. Hukum sipil adalah aturan-aturan yang mengatur komunitas Israel sebagai suatu bangsa. Hukum moral adalah tanggung jawab paling mendasar kepada Allah dan sesama manusia yang bersifat permanen bagi orang Kristen. Hukum seremonial dianggap telah dibatalkan melalui Kristus, sementara hukum sipil dinilai tidak berlaku lagi karena khusus ditujukan kepada bangsa Israel. Pembagian tersebut menimbulkan natur ketidaksinambungan dan kesulitan dalam menerapkan Taurat kepada orang Kristen. Melihat persoalan tersebut, tujuan penulisan ini adalah untuk membuktikan bahwa Taurat adalah kitab yang tidak dipisah dan dibagi, melainkan satu kesatuan dari kitab suci. Taurat memiliki nilai kesinambungan bagi orang Kristen masa kini sehingga gereja dapat kembali menghadirkannya ke dalam khotbah dan pengajaran secara utuh.
Penulis menggunakan pendekatan paradigmatik, yaitu metode eksegesis yang memakai teks Taurat sebagai model atau pola untuk diterapkan pada kasus lain dalam situasi yang berbeda, tetapi prinsip dasarnya tidak berubah. Pendekatan ini menekankan kesinambungan Taurat sehingga dapat digunakan untuk menyelidiki teks-teks yang dianggap telah dibatalkan dan tidak berlaku lagi. Dalam penelitian ini, metode ini digunakan untuk menganalisis teks Ulangan 22:8 perihal membuat pagar sotoh rumah. Teks ini tidak dapat diaplikasikan kepada bangsa dan budaya manapun secara harfiah sehingga dianggap tidak relevan dan tidak diterapkan kepada orang Kristen. Namun, aturan ini diberikan agar dapat diaplikasikan dalam situasi yang berbeda sehingga teks ini dapat menjadi model atau paradigma bagi kehidupan orang Kristen.
Dari analisis contoh teks tersebut, penulis menemukan beberapa hal. Pertama, dengan menggunakan metode paradigmatik orang Kristen tidak perlu lagi mempersoalkan pemisahan tiga divisi, hukum yang tidak berlaku lagi dan tidak dapat diaplikasikan kepada orang Kristen. Kedua, Taurat memiliki nilai kesinambungan sehingga seluruh teks Taurat dapat diaplikasikan kepada orang Kristen dengan cara baru dalam terang Kristus. Ketiga, Taurat dapat didekati menurut genrenya dan sesuai dengan maksud serta tujuan mula-mula penulis teks
Iman Kristen di Tengah Pandemi : Hidup Realistis ketika Penderitaan dan Kematian Merebak
Pandemi Covid-19 sesungguhnya adalah sebuah wake-up call bagi umat manusia di mana saja. Tuhan sedang menyadarkan manusia di seluruh bumi ini bahwa mereka semua hanya memiliki “little power” di tengah kelumpuhan di segala sektor kehidupan saat ini. Begitu fanakah kehidupan manusia modern sekarang ini? Tidak adakah yang namanya pengharapan di tengah kerawanan dan kerapuhan hidup manusia masa kini? Sebagai respons terhadap wake-up call tersebut, buku ini mengajak kita membangun fondasi hidup yang kokoh di dalam Kristus dan firman-Nya yang kekal. Dengan mengupas kebenaran Alkitab secara mendalam namun mudah dimengerti serta menyoroti pelajaran penting dari sejarah gereja, buku ini memaparkan sebuah tema: kehidupan iman Kristen yang stabil dan realistis di dalam Kristus. Kestabilan iman seorang percaya di dalam Kristus yang telah mati dan bangkit inilah yang mengendalikan seluruh pikiran, emosi dan cara hidupnya sekarang ini, sekalipun di tengah kondisi yang sulit dan kekhawatiran akan ancaman kematian. Kestabilan iman itulah yang menghasilkan sebuah respons yang realistis dan bertanggung jawab. Realistis artinya sekalipun seorang yang beriman kepada Kristus sudah mempercayakan hidup dan matinya di dalam Dia, tetap berupaya menjaga dengan baik kesehatan dirinya dan sesama. Bertanggung jawab artinya mengubah tantangan dan kesulitan menjadi peluang untuk bekerja secara antusias dan maksimal bagi Tuhan melalui pelayanan kasih secara konkret kepada sesama yang membutuhkan. Inilah panggilan Kristus kepada gerejanya hari ini
Menjawab Tuduhan Genosida: Tinjauan Terhadap Perintah Allah Untuk Memusnahkan Bangsa Kanaan Dalam Ulangan 7
Dalam tulisan ini, penulis akan menanggapi keberatan-keberatan dari beberapa kalangan mengenai perintah Allah kepada bangsa Israel untuk melakukan pemusnahan bangsa Kanaan. Perta-nyaan yang muncul dari keberatan tersebut di antaranya: Apakah perintah yang diberikan Allah menunjukkan bahwa Dia meme-rintahkan pemusnahan suatu bangsa? Apakah Dia masih bisa dikatakan Allah yang adil? Oleh karena itu, dalam tulisan ini, penulis akan menunjukkan perintah Allah kepada bangsa Israel bukanlah sebuah perintah untuk melakukan genosida. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, penulis akan memulai tulisan ini dengan membahas perintah Allah pada orang Israel, khususnya dalam konteks Ulangan 7:1-2. Kemudian, penulis akan menguraikan pemahaman tentang Allah, khususnya dalam Perjanjian Lama. Melalui kedua pemaparan tersebut, penulis akan menunjukkan bahwa Allah tidaklah mengeluarkan perintah untuk melakukan genosida