STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Hubungan antara Pola Komunikasi dalam Keluarga Berorientasi Konsep dan Lokus Kontrol Internal dengan Depresi pada Siswa sebuah SMP Kristen di Malang.
Remaja merupakan masa peralihan dari masa anak ke masa dewasa yang membutuhkan dukungan, pengertian dan kesabaran orang tua sehingga remaja tumbuh menjadi pribadi yang sehat dan mandiri. Untuk itu dibutuhkan pola komunikasi yang tidak menghakimi, tetapi memberi kesempatan bagi remaja untuk mengembangkan pola berpikirnya, keterampilan sosialnya dan kemandiriannya. Selain itu, remaja perlu dilatih kemampuannya untuk memecahkan masalah dan belajar bertanggung jawab. Dengan demikian, remaja akan memiliki lokus kontrol internal dan terhindar dari masalah psikis terutama depresi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjawab: Apakah terdapat hubungan antara depresi remaja dengan pola komunikasi dalam keluarga berorientasi konsep? Apakah terdapat hubungan antara depresi remaja dengan lokus kontrol internal? Pengambilan sampel yang digunakan adalah pengambilan sampel aksidental.
Subjek penelitian ini adalah murid-murid dari kelas 7 dan 8 pada sebuah SMP Kristen di Malang, Jawa Timur. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari skala Family Communication Pattern Typology yang disusun oleh Steven H. Chaffee, Jack M. McLeod dan Daniel B. Wackman untuk mengukur pola komunikasi dalam keluarga. Skala Stephen Nowicki dan Bonni R. Strickland (skala N-SLCS) dipakai untuk mengukur lokus kontrol pada remaja. Skala depresi yang disusun oleh Peter Birleson dipakai untuk mengukur depresi pada remaja.
Analisis data menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis data menggunakan uji Spearman Rank Correlation untuk mengukur hubungan antara depresi remaja dengan pola komunikasi dalam keluarga dan antara depresi remaja dengan lokus kontrol. Hipotesis pertama dari penelitian ini adalah semakin komunikasi keluarga berorientasi konsep, maka semakin rendah pula tingkat depresi remaja. Hipotesis kedua adalah semakin remaja memiliki lokus kontrol internal, maka semakin rendah pula tingkat depresinya.
Hasil pengolahan data dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics 21 memperlihatkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara pola komunikasi dalam keluarga berorientasi konsep dengan tingkat depresi remaja (r = -0,264, p < 0,05) dan lokus kontrol internal dengan tingkat depresi remaja (r = -0,360, p < 0,01). Dengan demikian, hasil analisis data menunjukkan bahwa kedua hipotesis dalam penelitian ini diterima.
Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pola komunikasi dalam keluarga berorientasi konsep dengan depresi remaja dan lokus kontrol internal dengan depresi remaja. Semakin komunikasi keluarga berorientasi konsep, maka semakin rendah pula tingkat depresi remaja. Semakin remaja memiliki lokus kontrol internal, maka semakin rendah pula tingkat depresinya
Our Journey With God: Discerning The Will Of God Through Pentateuch: Buku Artikel
Kumpulan renungan yang ditulis oleh mahasiswa STT SAAT dalam acara SYC 202
Studi Mengenai Kontinuitas dan Diskontinuitas Konsep Pemilihan dalam Yudaisme Bait Suci Kedua Terhadap Konsep Pemilihan Menurut Rasul Paulus.
Meskipun banyak sarjana yang menyelidiki pengaruh teologi Yudaisme Bait Suci Kedua (BSK) terhadap teologi rasul Paulus, namun konsep pemilihan (election) tidak mendapat banyak perhatian, khususnya mengenai kontinuitas dan diskontinuitas konsep pemilihan dalam Yudaisme BSK terhadap konsep pemilihan menurut rasul Paulus. Karena itu, dalam tesis ini penulis akan melakukan studi mengenai kontinuitas dan diskontinuitas natur konsep pemilihan dalam Yudaisme BSK terhadap konsep pemilihan menurut rasul Paulus. Penulis menggunakan metode analitis-komparatif untuk menemukan kontinuitas dan diskontinuitas konsep pemilihan dalam Yudaisme BSK terhadap konsep pemilihan Paulus. Teks-teks Yudaisme BSK yang akan didiskusikan adalah teks-teks yang ditulis tahun 200 SM-70 M dengan pertimbangan kedekatan historis dan ideologis dengan surat-surat Paulus, sehingga terhindar dari anakronisme. Sedangkan dari tulisan-tulisan Paulus, penulis akan mendiskusikan teks-teks yang secara gamblang membahas mengenai pemilihan.
Dalam tulisan ini penulis berargumen bahwa terdapat kontinuitas konsep pemilihan Yudaisme BSK terhadap konsep pemilihan rasul Paulus. Yudaisme BSK dan Paulus sama-sama menekankan natur konsep pemilihan sebagai inisiatif anugerah Allah dan respons manusia terhadap anugerah Allah tersebut. Selain kontinuitas, terdapat juga diskontinuitas konsep pemilihan Yudaisme BSK terhadap konsep pemilihan Paulus. Bagi Yudaisme BSK pemilihan bersifat covenantal nomism, di mana pemilihan berdasarkan perjanjian dan ketaatan terhadap hukum Taurat berfungsi menjaga status pemilihan tersebut. Sedangkan bagi Paulus, Allah memilih umat-Nya di dalam dan melalui Yesus Kristus. Barang siapa di berada dalam Yesus Kristus melalui iman (pistis), dia menjadi pribadi yang terpilih. Dengan demikian, mereka yang tidak berada di dalam Kristus atau mereka yang meninggalkan ketaatan iman bukanlah umat pilihan Allah. Redefinisi konsep pemilihan yang Paulus lakukan ini disebabkan oleh kepercayaannya kepada Yesus Kristus sebagai Mesias yang dijanjikan Allah
Eksegesis Amsal 4:1-9 dan Implikasinya bagi Peran Ayah Masa Kini
Seorang ayah merupakan seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup anggota keluarga lainnya, terkhusus bagi sang anak. Ayah merupakan teladan hidup bagi anak-anaknya. Setiap apa yang ia lakukan atau ajarkan merupakan sebuah dasar yang diberikan bagi anaknya. Namun dewasa ini peran seorang ayah mulai bergeser. Kebanyakan mereka tidak lagi menjalankan perannya dengan semestinya. Para ayah didapati tidak lagi memberikan waktu yang cukup bagi keluarga, khususnya sang anak. Mereka lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan finansial dibandingkan dengan kehadiran mereka bagi sang anak. Mereka tidak lagi mengambil porsi kepemimpinan yang tegas dalam keluarga. Bentuk pendisiplinan yang diberikan pun terkadang kurang tepat sehingga perannya tidak dapat dijalankan dengan maksimal. Bahkan teladan dalam iman percaya juga tidak ditunjukkan akibat pengenalan akan Tuhan tidak dimilikinya. Padahal ia merupakan seorang gembala dalam keluarga. Hal-hal tersebut tentunya akan sangat mempengaruhi proses pertumbuhan diri sang anak. Oleh sebab itu penulis akan melihat peran ayah dari kitab Amsal, khususnya Amsal 4:1-9.
Kitab Amsal merupakan sebuah kitab yang berisi banyak nasihat praktis dalam menjalani kehidupan. Dalam kitab tersebut juga didapati banyaknya nasihat yang diberikan orang tua kepada anak. Pada Amsal 4:1-9, dapat dilihat dengan jelas adanya nasihat yang diberikan seorang ayah kepada anaknya. Oleh sebab itu penulis menggunakan bagian tersebut sebagai acuan dalam melihat peran ayah secara Alkitabiah berdasarkan Amsal 4:1-9 terhadap peran ayah masa kini. Beberapa prinsip bagi seorang ayah akan diambil dari bagian ini seperti prinsip pengajaran, firman, disiplin, serta komitmen dan konsistensi. Prinsip-prinsip tersebut kemudian akan diterapkan bagi peran ayah masa kini
Tinjauan terhadap Pengajaran Timothy Keller dan Dampaknya bagi Konsep Misi Perkotaan Timothy Keller dari Perspektif Teologi Injili.
Jumlah penduduk kota di dunia semakin meningkat. Peningkatan tersebut dapat dilihat melalui data dari PBB yang memprediksi pada tahun 2050 populasi kota terus bertambah dari 55% sampai 68% yang bermukim diperkotaan. Dengan meningkatnya pertambahan penduduk diperkotaan akan memungkinkan semakin kompleks permasalahan dan krisis yang terjadi di perkotaan. Oleh karena itu gereja perlu memikirkan dan mengambil peluang dalam pelayanan perkotaan sebagai respons terhadap amanat agung Tuhan dalam Matius 28:19-20.
Timothy Keller menangkap visi pelayanan perkotaan dan melihat krisis tersebut menjadi sebuah peluang yang besar. Keller adalah pendeta pendiri Redeemer Presbyterian Church di Manhattan yang berhasil menjangkau kota dalam pelayanan perkotaan. Hal itu terbukti dari bertambahnya anggota berjumlah 15 orang hingga 5000 orang. Keller sebagai pemimpin yang berpengaruh bagi kekristenan khususnya dalam melakukan misi perkotaan membawa sebuah konsep teologi Injil dan visi teologi. Namun, teologi Injil Keller tidak terlepas dari sorotan dan kritik dari beberapa teolog injili, di antaranya yang bernama Jon Anderson, Paul M. Elliott, Iain D. Campbell dan William M. Schweitzer yang mengganggap beberapa pengajaran Keller tidak alkitabiah, di antaranya berhubungan dengan doktrin Allah, dosa, keselamatan dan konsep misi Perkotaan.
Penelitian ini akan meninjau pengajaran–pengajaran Keller yang yang dianggap beberapa teolog injili tidak alkitabiah. Tinjauan pengajaran-pengajaran Keller dari perspektif teologi injili alkitabiah yang bertujuan untuk memberikan pemahaman akan pengajaran Keller dan konsep misi perkotaannya serta menjawab sesuai alkitabiah atau tidak alkitabiah.
Kesimpulan akhir dari penelitian ini adalah bahwa pengajaran–pengajaran dan konsep misi perkotaan Keller adalah alkitabiah karena semuanya dijelaskan berdasarkan firman Tuhan. Namun, penulis melihat yang menjadi permasalahan dari beberapa teolog injili adalah metode penyampaian dari pengajaran Keller yang akhirnya dianggap tidak alkitabiah
Tinjauan Terhadap Pendekatan Argumentasi Moral Di Dalam Pembuktian Keberadaan Allah Bagi Ateisme
Ada berbagai macam teori dan pendekatan argumentasi yang sebenarnya dapat digunakan untuk menjelaskan mengenai keberadaan Allah kepada orang-orang ateis. Akan tetapi di dalam makalah ini, secara khusus penulis akan meninjau salah satu pendekatan yaitu pendekatan argumentasi moral. Untuk itu penulis akan memaparkan terlebih dahulu perspektif ateisme terhadap moralitas serta bagaimana teisme berusaha memberikan argumentasi terhadap cara pandang mereka melalui pendekatan argumentasi moral. Setelah itu, penulis akan memberikan memberikan tinjauan apakah pendekatan argu-mentasi moral merupakan pendekatan yang dapat digunakan di dalam membuktikan keberadaan Allah bagi orang-orang ateis
Kajian Transhumanisme Menurut Doktrin Manusia Sebagai Gambar Dan Rupa Allah Dari Perspektif Reformed
Teknologi yang terus berkembang berdampak pada penggunaan yang dulunya hanya digunakan untuk terapi, sekarang digunakan ke arah peningkatan kapasitas manusia (enhancement). Peningkatan dilakukan dengan cara memodifikasi natur manusia, kapasitas, maupun fisiknya. Caranya bisa dengan mencampur tubuh fisik dengan robot atau komputer, atau dengan meninggalkan tubuh fisik sepenuhnya dan hidup dalam dunia digital. Kemampuan teknologi ini dilihat sebagai sebuah jalan yang mendukung tujuan sekelompok orang yang menginginkan peningkatan manusia secara radikal, yaitu transhumanisme. Menurut transhumanisme, manusia berhak untuk berevolusi karena itu adalah hak masing-masing individu.
Transhumanisme adalah sebuah pergerakan budaya dan filosofi kehidupan. Transhumanisme melihat manusia sebagai hasil dari proses evolusi. Oleh karena itu, manusia saat ini harus terus berevolusi untuk mencapai kondisi yang disebut dengan pascamanusia. Pascamanusia adalah kondisi manusia yang tidak dapat mengalami penyakit, kemiskinan, bahkan kematian. Ketiga keterbatasan ini dipandang sebagai sebuah keterbatasan yang tidak harus dialami oleh manusia. Ketiga hal ini adalah kesalahan teknis, sehingga memiliki solusi teknis juga, yaitu dengan bantuan teknologi yang maju. Tujuan akhir mereka adalah hidup lebih panjang atau abadi untuk dapat menikmati kebahagiaan yang lebih dan tidak terbatas.
Tujuan utama dari tulisan ini adalah memberikan tinjauan teologis terhadap pandangan transhumanisme. Hipotesis tulisan ini adalah pandangan transhumanisme berlawanan dengan doktrin manusia menurut perspektif reformed. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan model penelitian kepustakaan. Penulis menggunakan sumber-sumber utama dari tokoh-tokoh transhumanisme. Penulis juga akan menggunakan sumber-sumber teologi sistematika dari penulis-penulis reformed. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan transhumanisme mengenai asal usul manusia, realita dan kondisi kehidupan, dan solusi transhumanisme tidak sesuai dan bertentangan dengan doktrin manusia sebagai gambar dan rupa Allah dari perspektif reformed. Implikasi dari penelitian ini adalah, sebagai orang Kristen, kita perlu berhati-hati dan kritis di dalam menggunakan teknologi karena teknologi membentuk dan mendorong manusia pada tujuan tertentu. Jika tujuan tersebut membawa manusia menjauh dari tujuan utama Allah menciptakan manusia, maka kita harus menolak atau mengurangi penggunaan tersebut
Hubungan antara Sikap Religius dengan Kepuasan Pernikahan.
Data perceraian di seluruh dunia, termasuk di Indonesia terus meroket. Bermacam-macam penelitian dilaksanakan guna mengetahui faktor-faktor yang menunjang maupun yang menghancurkan sebuah pernikahan. Banyak hasil riset membuktikan bahwa salah satu faktor penting yang sangat berperan di dalam keutuhan sebuah pernikahan adalah kepuasan pernikahan. Minimnya derajat kepuasan pernikahan dapat berujung pada perceraian. Pasangan suami-istri tentu menyadari bahwa terdapat banyak unsur yang dapat mempengaruhi kepuasan pernikahan.
Unsur-unsur yang memengaruhi kepuasan pernikahan juga banyak diteliti oleh para ahli dan ditemukan bahwa salah satu faktor yang berkaitan dengan kepuasan pernikahan adalah sikap religius. Dengan lain perkataan, sikap religius berkaitan dengan kepuasan pernikahan.
Berdasarkan berbagai riset yang telah dilakukan sebelumnya, penulis berasumsi bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sikap religius dengan kepuasan pernikahan. Jadi, hipotesis di dalam penelitian ini adalah terdapat korelasi antara sikap religius dengan kepuasan pernikahan. Penelitian ini dilakukan dengan sampel yaitu 30 pasangan suami-istri Kristen dan masih berstatus nikah dari beberapa gereja di kota Malang, Batu, Surabaya, Bogor, Bandung dan Jakarta.
Alat ukur yang digunakan adalah Index of Marital Satisfaction (IMS) untuk mengukur kepuasan pernikahan dan Religious Attitude Inventory (RAI) untuk mengukur sikap religius. Pengolahan data dilaksanakan dengan memakai program statistik SPSS for Windows Release 10.01. Teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data di dalam penelitian ini adalah teknik korelasi nonparametrik yaitu Spearman Rank Correlation (Spearman’s rho).
Temuan yang diperoleh dari hasil penelitian ini ternyata menunjukkan adanya korelasi antara sikap religius dengan kepuasan pernikahan. Dengan demikian, hasil penelitian ini mendukung hipotesa yang diajukan di awal penelitian
Hubungan Antara Agresi dan Narsistik dengan Kecanduan Internet.
Perkembangan internet mengalami percepatan yang luar biasa dan dipakai oleh segala lapisan usia. Kehadiran internet memberikan dampak yang baik karena memberikan banyak kemudahan khususnya dalam berbagi dan memperoleh informasi. Selain memberikan dampak yang baik kehadiran internet juga membawa dampak buruk, yakni mengakibatkan kecanduan bagi penggunanya yang terpapar dalam jangka waktu panjang.
Beberapa penelitian menemukan bahwa terjadinya kecanduan internet disebabkan oleh banyak faktor, misalnya kepribadian. Penelitian ini bermaksud menemukan hubungan antara agresi dan narsistik dengan kecanduan internet. Hipotesis pertama dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara agresi dan kecanduan internet. Hipotesis kedua adalah ada hubungan antara narsistik dengan kecanduan internet.
Penelitian ini melibatkan 105 siswa-siswi SMA Kemala Bhayangkari Surabaya, yang menjadi responden dengan mengisi kuesioner yang dibagikan. Buss Perry Agression Questionare (BPAQ), Narcissistic Personality Inventori (NPI) dan Internet Addiction Test (IAT), dipergunakan untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Dari data yang disebarkan terdapat 100 data yang memenuhi kriteria untuk dilakukan analisis dan analisis data menggunakan teknik korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara agresi dan kecanduan internet (r = 0,335; p = 0,001). Terdapat hubungan antara narsistik dan kecanduan internet (r = 0,255; p = 0,01).
Individu dengan kecenderungan agresi lebih berpeluang mengalami kecanduan internet sebab internet menjadi tempat yang aman bagi individu dengan kepribadian agresi untuk mengekspresikan perilakunya. Individu yang narsistik lebih rentan mengalami kecanduan internet sebab di internet individu narsistik menemukan ruang yang tepat untuk menemukan penghargaan dan mengekspos diri. Dalam penanganan kasus-kasus kecanduan, perlu memperhatikan faktor kepribadian individu
Konsep Pembaharuan pada Langit dan Bumi Baru, ditinjau Berdasarkan Perkembangan Pemikiran dari Perjanjian Lama, Intertestamental dan Perjanjian Baru.
Langit dan bumi baru merupakan klimaks pengharapan orang percaya. Kondisi dan proses hadirnya langit dan bumi baru tersebut akan mempengaruhi sikap hati dan perilaku orang percaya. Apakah langit dan bumi saat ini akan dihancurkan, dan orang-orang percaya akan dipindahkan ke yang benar-benar diciptakan ulang dari baru? Apakah justru langit dan bumi baru merupakan hasil restorasi dari dunia saat ini?
Dalam tesis ini, penulis menyetujui pandangan renewalism, dan berusaha membuktikan kebenaran ajaran tersebut. Renewalism merupakan istilah untuk pandangan kedua (bahwa dunia ini akan direstorasi menjadi langit dan bumi baru). Untuk melengkapi perkembangan studi yang telah ada, tulisan ini menggunakan pendekatan survei pemikiran, dari cikal bakal konsep tersebut, hingga bentuk akhirnya (klimaks). Survei tersebut didasarkan atas nats-nats pilihan: Kejadian 1-3; Yesaya 65:17-66:24; 1 Henokh 90:28-39; Roma 8:19-22; dan Wahyu 21-22. Kejadian 1-3 dan Wahyu 21-22 merupakan awal dan akhir, baik dalam membahas langit dan bumi baru secara khusus, maupun dalam konteks kanon Alkitab secara umum. Bagian nats Yesaya tentu saja mewakili Perjanjian Lama, dan bagian nats Roma mewakili Perjanjian Baru. Sementara itu, 1 Henokh 90 merupakan representasi masa antar-perjanjian. Dengan studi survei ini, penulis ingin menunjukkan kesinambungan motif-motif yang ada dari Kejadian 1-3 hingga Wahyu 21-22. Hasil observasi ini pun sejalan dengan teologi alkitabiah secara keseluruhan, khususnya mengenai topik sejarah penebusan.
Dalam melakukan survei terhadap nats-nats tersebut, penulis menggunakan pendekatan kanonik-historis sebagai dasarnya. Selanjutnya, penulis akan membandingkan muatan-muatan teologis yang ada dalam nats-nats tersebut, khususnya mengenai tujuan Allah mengadakan penciptaan, serta eksistensi dan perkembangan rencana penebusan ciptaan tersebut. Konsep dasar mengenai ciptaan tersebut tampak berasal dari Kejadian 1-3. Konsep ini pun tampak mengalami perkembangan dalam Yesaya 65:17-66:24; 1 Henokh 90:28-39; dan Roma 8:19-22. Bentuk akhir (atau klimaks) dari konsep tentang ciptaan tersebut dapat dilihat dalam Wahyu 21-22. Dengan kontinuitas dan koherensi yang tampak, dapat disimpulkan bahwa pandangan renewalism adalah doktrin yang alkitabiah