STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Analisis Terhadap Teologi Gambar Menurut Tradisi Reformed dan Implikasinya pada Penggunaan Seni Visual dalam Spiritualitas Kristen.
Selain bertumbuh secara jasmani, manusia di sepanjang hidupnya juga mengalami pertumbuhan secara rohani. Kehidupan rohani atau disebut spiritualitas adalah sesuatu yang kembali menjadi marak di era pascamodern. Di dalam kekristenan, ada beberapa hal yang dapat memberikan pengaruh pada pertumbuhan spiritualitas. Salah satunya adalah seni. Seni memiliki fungsi untuk menggugah jiwa manusia. Maka dari itu, fungsi ini harus digunakan untuk sesuatu yang lebih mulia, yakni untuk membuat manusia dapat mendekat kepada Allah. Karya seni visual yang digunakan untuk menggambarkan Allah dengan keindahan dan kemegahan untuk menyimbolkan karakteristik Allah dan mempermudah manusia untuk mengerti tentang Allah dan firman-Nya. Akan tetapi, karya seni visual ditolak oleh golongan ikonoklasme yang menganggap bahwa menggambarkan Allah lewat karya seni sama dengan membatasi Allah yang tidak terbatas, merupakan tindakan penghujatan terhadap Allah, dan pemujaan terhadap karya seni yang berlebihan menjadikan dosa penyembahan berhala terjadi.
Keindahan yang ada di dalam karya seni visual sebenarnya merupakan keindahan yang Allah berikan agar manusia menyadari kehadiran Allah di dunia. Allah dapat terlihat oleh manusia melalui pekerjaan-Nya di dalam dunia dan di dalam kehidupan manusia. Titik tertinggi penggambaran kehadiran Allah adalah dalam inkarnasi-Nya dimana Allah sendiri menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Orang percaya dapat melihat dan menyadari kehadiran Allah melalui Roh Kudus yang bekerja di dalam hati orang percaya.
Seni visual Kristen dapat mengambil peran dalam menyampaikan pesan lewat gambar dan nilai estetika dalam karya seni dapat berfungsi sebagai elemen dekoratif dalam gereja. Keindahan di dalam karya seni visual juga dapat menggugah jiwa manusia. Seni visual dapat digunakan sebagai media tambahan di dalam liturgi ibadah dan devosi personal. Dengan berbagai fungsi dan berbagai manfaat yang dapat diperoleh bagi pertumbuhan spiritualitas orang percaya dengan menggunakan karya seni visual Kristen secara komunal maupun personal, perlu diingat bahwa hal ini tidak menjadikan karya seni visual Kristen sebagai elemen yang terutama di dalam ibadah ataupun spiritualitas. Karya seni Kristen perlu dipahami sebagai media ekstra atau tambahan, dan bukan yang terutama. Dengan memahami batasan yang tepat, seni visual dapat digunakan untuk memuliakan Allah dan menumbuhkan spiritualitas
Hubungan Kelekatan dengan Allah dan Keintiman Relasi Sosial dengan Makna Hidup pada Dewasa Muda di Gereja Presbyterian Berbahasa Indonesia di Singapura.
Setiap manusia memiliki kebutuhan untuk menemukan tujuan dan makna dari hidup yang dijalaninya. Manusia berusaha dengan berbagai cara untuk mendapatkan makna hidup, di antaranya adalah melalui relasi dengan Allah dan sesama. Kelekatan dengan Allah dan keintiman relasi sosial diprediksi memiliki peran dalam penemuan makna hidup individu. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan penelitian, yaitu ada atau tidaknya hubungan antara kelekatan dengan Allah dan keintiman relasi sosial dengan makna hidup pada dewasa muda di gereja Prebyterian berbahasa Indonesia di Singapura. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka penulis menyusun dua hipotesis yaitu terdapat hubungan antara kelekatan dengan Allah dan makna hidup, serta terdapat hubungan antara keintiman relasi sosial dan makna hidup.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner. Subjek dalam penelitian ini ialah 102 orang dewasa muda yang berusia 20-40 tahun di gereja Presbyterian Bukit Batok dan gereja Presbyterian Orchard, Singapura. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik convenience sampling dan teknik analisis data menggunakan uji korelasi nonparametrik Spearman’s Rho. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara kelekatan dengan Allah dan makna hidup (r = -0.031, p ≥ 0.01) yang berarti hipotesis pertama ditolak. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh penggunaan alat ukur dan dampak kejadian negatif yang sedang melanda dunia. Hasil penelitian juga menunjukkan tidak ada hubungan antara keintiman relasi sosial dan makna hidup (r = 0.092, p ≥ 0.01) yang berarti hipotesis kedua ditolak. Hasil ini kemungkinan disebabkan oleh tipe keterikatan sosial dan makna hidup yang tidak stabil. Akan tetapi, penelitian lebih lanjut menunjukkan adanya hubungan antara kelekatan dengan Allah dan dimensi Keberadaan makna (r = 0.491, p ≤ 0.01) serta adanya hubungan antara keintiman relasi sosial dan dimensi Keberadaan makna (r = 0.308, p ≤ 0.01). Penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangsih baik secara praktis maupun teoretis. Secara praktis, penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi perkembangan dewasa muda dan pelayanan kepada dewasa muda di gereja Presbyterian berbahasa Indonesia di Singapura. Sedangkan secara teoretis, penelitian ini diharapkan memberi sumbangsih bagi penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan kelekatan dengan Allah, keintiman relasi sosial, dan makna hidup
Adakah Kehidupan Setelah Kematian? Sebuah Respons Terhadap Fisikalisme
Pada umumnya, manusia menyadari bahwa kematian adalah realitas yang pasti terjadi dalam hidupnya. Akan tetapi, pada saat yang sama realitas kematian juga menimbulkan pertanyaan lain yang ditanyakan oleh manusia (khususnya para filsuf), yaitu apakah masih ada kehidupan setelah kematian (is there an afterlife). Pertanyaan ini, menurut Charles Taliaferro, semakin mendapatkan perhatian serius dalam bidang filsafat agama. Beberapa filsuf tidak percaya adanya kehidupan setelah kematian karena mereka memegang filsafat fisikal-isme; sebuah pandangan yang mengatakan bahwa manusia hanyalah sebuah entitas fisik semata. Ketika manusia mati, tubuhnya akan hancur perlahan-lahan sehingga tidak ada kehidupan setelah kematian.
Menurut John H. Whittaker, kalangan umat beragama juga menanyakan pertanyaan yang sama dan beliau menyimpulkan bahwa pada umumnya kalangan umat beragama percaya adanya kehidupan setelah kematian. Penulis sebagai orang Kristen juga percaya adanya kehidupan setelah kematian, sebagaimana Alkitab mengajarkannya (Ibr. 9:27; Yoh. 11:25-26; Luk. 23:42-43). Oleh sebab itu, artikel ini ditulis untuk merespons pandangan fisikalisme, agar para penganut-nya memikirkan ulang posisi mereka tentang kehidupan setelah kematian. Pertama, penulis akan menunjukkan alasan mengapa adalah masuk akal untuk memercayai kehidupan setelah kematian. Kedua, penulis akan memaparkan argumen-argumen yang menunjukkan adanya kehidupan setelah kematian. Terakhir, penulis akan memberikan kesimpulan dan implikasi adanya kehidupan setelah kematian baik bagi penganut fisikalisme dan orang Kristen
Analisis Perbandingan Efektivitas Khotbah Deduktif dan Khotbah Induktif Bagi Pendengar di GKA Gloria Nirwana Eksekutif Surabaya.
Di antara dua bentuk khotbah yang umum yaitu deduktif dan induktif, para ahli homiletika memiliki pandangan yang berbeda soal bentuk mana yang dinyatakan efektif bagi pendengar masa kini. Sebagian ahli menyatakan bahwa khotbah induktif lebih efektif sehingga khotbah bentuk deduktif tidak sesuai lagi bagi pendengar khususnya di era pascamodern. Sebaliknya, sebagian ahli lain tetap menggunakan bentuk khotbah deduktif dan menganggap revolusi berupa bentuk khotbah baru yaitu induktif tidak pernah ada. Sebagian ahli lainnya terbuka untuk keduanya, artinya mereka cukup memiliki perhatian terhadap arah gerakan bentuk khotbah induktif, tetapi tidak serta merta meninggalkan bentuk khotbah deduktif. Adanya penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas kedua bentuk khotbah di tempat peneliti melayani. Pendengar khotbah di gereja ini telah terbiasa dengan bentuk khotbah deduktif, mereka juga memiliki pola pikir yang sistematis. Dari fakta lapangan tersebut, penulis mempertanyakan apakah terdapat perbedaan signifikan antara efektivitas khotbah deduktif dan khotbah induktif bagi pendengar di GKA Gloria Nirwana Eksekutif Surabaya. Berdasarkan ulasan teori dari literatur dan analisis peneliti terhadap karakteristik pendengar, peneliti membuat hipotesis bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara efektivitas khotbah deduktif dan khotbah induktif bagi pendengar di GKA Gloria Nirwana Eksekutif Surabaya.
Untuk menguji hipotesis tersebut maka peneliti mendesain penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pengambilan data melalui penyebaran kuesioner. Dalam penelitian ini, responden mengisi kuesioner penilaian evaluatif dengan skala likert penilaian 1 hingga 5. Data dari penilaian tersebut kemudian diolah dan dianalisis secara statistik dengan menggunakan teknik analisis uji independent t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai P yang menunjukkan perbedaan keduanya sebesar 0,548 (p > 0,05). Nilai tersebut menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara efektivitas khotbah deduktif dan khotbah induktif. Dari hasil akhir ini, peneliti menarik kesimpulan bahwa hipotesis dalam penelitian ini terbukti benar, yaitu tidak terdapat perbedaan signifikan antara efektivitas khotbah induktif dan khotbah deduktif bagi pendengar di GKA Gloria Nirwana Eksekutif, Surabaya. Kedua bentuk khotbah yang didengar oleh jemaat mendapatkan penilaian rata-rata di atas 64, artinya pendengar setuju bahwa dua khotbah tersebut efektif bagi mereka. Dari penilaian tersebut, peneliti mendapati bahwa baik khotbah induktif maupun khotbah deduktif, keduanya efektif bagi pendenga
Tinjauan terhadap Integrasi Iman dan Ilmu dalam Perguruan Tinggi Kristen di Amerika dan Implikasinya terhadap Perguruan Tinggi Kristen di Indonesia.
Cara pandang Kristen adalah cara memandang segala sesuatu berdasarkan kesadaran akan statusnya sebagai orang percaya dan berdasarkan pada nilai-nilai Kristen. Namun yang saat ini berkembang adalah pemisahan antara hal-hal rohani yang boleh dikaitkan dengan nilai-nilai Kristen dengan hal-hal duniawi yang dianggap tidak ada kaitannya dengan nilai-nilai Kristen. Hal ini disebut sebagai dikotomi. Pemikiran dikotomi ini juga memengaruhi dunia pendidikan, termasuk perguruan tinggi Kristen. Sebagai sebuah institusi pendidikan, perguruan tinggi Kristen mempunyai tanggung jawab bukan hanya memperlengkapi mahasiswa dengan berbagai pengetahuan dan kemampuan dalam bidang ilmunya tetapi juga menolong mahasiswanya memahami dan menghidupi identitas mereka sebagai orang Kristen, serta mengintegrasikan iman dengan bidang ilmu yang mereka tekuni.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya disintegrasi dan integrasi iman dan ilmu dalam perguruan tinggi Kristen di Amerika serta implikasinya terhadap konteks perguruan tinggi Kristen di Indonesia. Penelitian ini dilakukan melalui studi pustaka terhadap berbagai sumber terkait dengan dinamika perguruan tinggi Kristen di Amerika dan juga sumber-sumber yang terkait dengan konteks perguruan tinggi Kristen di Indonesia.
Faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya disintegrasi iman dan ilmu dalam perguruan tinggi Kristen di Amerika terbagi ke dalam dua kategori yaitu eksternal dan internal. Faktor eksternal yaitu perkembangan teknologi, konflik ideologi, berkembangnya masyarakat plural, sekulerisme, dan globalisasi. Sementara faktor internalnya yaitu kualitas komitmen iman dari orang-orang yang terlibat di dalam kepemimpinan dan keinginan untuk menjadi mandiri dari gereja atau denominasi yang menaungi perguruan tinggi. Kemudian, faktor-faktor yang memengaruhi bertahannya integrasi iman dan ilmu dalam perguruan tinggi Kristen di Amerika adalah identitas dan komitmen iman yang berakar, keberanian untuk berinteraksi dengan budaya, dan faktor kepemimpinan.
Dalam konteks Indonesia, perguruan tinggi Kristen menghadapi tantangan, bukan hanya dalam mencapai standar mutu akademik, namun juga untuk mempertahankan komitmen iman. Tantangan tersebut yaitu tantangan globalisasi, tantangan untuk mempertahankan identitas Kristen, dan tantangan dalam hal relasi dengan gereja sebagai institusi yang menjalankan misi Allah bersama-sama. Oleh karena itu, implikasi dari faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya disintegrasi dan integrasi iman dan ilmu dalam perguruan tinggi Kristen di Amerika terhadap konteks perguruan tinggi Kristen di Indonesia adalah adanya beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain, pertama, mengenai identitas Kristen dan komitmen iman yang berakar sampai pada setiap pribadi yang terlibat dalam perguruan tinggi Kristen. Kedua, menjalin kembali relasi dan kerjasama dengan gereja. Ketiga, mengenai pemilihan pemimpin sebuah perguruan tinggi Kristen
Studi Karya Mass in B minor milik Johann Sebastian Bach sebagai Contoh Spiritualitas yang Alkitabiah bagi Pemusik Gereja
Keindahan musik gerejawi seharusnya memancarkan keindahan Ilahi sebagai bagian dari ciptaan Allah dan wahyu umum. Keindahan karya musik gerejawi seharusnya mengeluarkan potensi keindahan firman Allah sebagai dasar kehidupan umat percaya termasuk bagi para musisi gerejawi sehingga pendengar dapat menyaksikan keindahan kemuliaan Allah, menginsafkan pendengar, memperbaiki perilaku dan mendidik seseorang dalam kebenaran. Namun dalam kehidupan nyata didapati beberapa orang pemusik gerejawi tidak terlihat demikian. Orang-orang tersebut hanya berusaha menampilkan keindahan musik saja tanpa mengutamakan firman Allah sebagai dasar dari karya-karya musiknya. Tidak jarang jika orang-orang tersebut lebih mengutamakan keunggulan skill bermusiknya daripada menyampaikan firman Tuhan sebagai pesan dari lagu tersebut. Lebih parahnya, orang-orang tersebut merasa telah mengubah hati jemaat dengan keindahan yang dibawakan melalui permainan musiknya. Masalah ini menuntun kita kepada sebuah pertanyaan, bagaimana menjadi seorang musisi gereja yang dapat mengubah hati dan kehidupan pendengar? Penulis mengajukan sebuah statement bahwa sebuah karya musik dapat membawa pendengar mendekat pada Allah jika karya musiknya dihasilkan oleh pemusik gereja yang memiliki pengenalan akan Allah secara kognitif maupun afeksi secara seimbang. Oleh karena itu, penelitian ini membawa pembaca untuk mendalami kehidupan seorang tokoh musik pada zaman Baroque yang dikenang selama berabad-abad hingga zaman ini karena karya-karyanya yaitu Johann Sebastian Bach. Penelitian ini akan melihat kehidupan spiritualitas Bach melalui karya vokal terakhimya yaitu Mass in B minor.
Johann Sebastian Bach merupakan seorang Lutheran, beliau hidup satu abad setelah Martin Luther (salah seorang tokoh Reformed) meninggal dunia. Bach juga hidup di dalam lingkungan yang mirip dengan kehidupan Martin Luther yaitu dalam kota Jerman. Hal tersebut membuat Bach menjadi seorang yang telah dididik, baik di dalam sekolah maupun dalam gereja, menjadi seorang Lutheran. Sebagai seorang Lutheran, Bach menghidupi kehidupannya dengan mendasarkan firman Tuhan dalam kehidupannya. Hal ini terlihat di dalam hampir seluruh karya Bach di mana di dalam kesehariaimya dia membuat karya kantata untuk ditampilkan setiap minggunya. Termasuk dalam penulisan karya Mass in B minor, Bach juga mendasarkan karya- karyanya berdasarkan firman Allah. Dalam karya ini Bach mengadaptasi bentuk susxman karyanya sesuai susunan liturgi gereja Lutheran dalam bahasa Lutheran.
Bach berusaha memperdalam setiap makna dalam liturgi Katolik dengan kacamata Injil. Bach juga berusaha menyesuaikan karya ini dengan selera pendengar untuk jemaat di kota Dresden, Hal ini dilakukan untuk menjembatani Injil bagi orang-orang Katolik-sebagai mayoritas-di kota Dresden. Adapun hal lainnya yang diungkapkan oleh sarjana Baeh bahwa Bach melakukan adaptasi karyanya dengan selera para pendengar di kota Dresden juga untuk menunjukkan kemampuannya di hadapan kerajaan dan publik Dresden sebagai musikus yang terampil. Hal tersebut merupakan sebuah bentuk pergumulan dirinya bersama dengan firman Tuhan sebagai seorang manusia yang berdosa. Tetapi hal ini membawa kita untuk menyadari bahwa seorang manusia, termasuk para musikus gereja, akan menghadapi pergumulan dengan dirinya ketika seseorang menjadikan firman Tuhan sebagai dasar kehidupannya. Tetapi hal ini membuktikan bahwa Bach merupakan seorang musikus yang mendasari setiap karya-karya musiknya dengan firman Tuhan, Karya ini akhimya memberkati banyak orang di setiap zaman hingga hari ini. Pada awalnya, Felix Mendelssohn (satu abad setelah Bach meninggal) menemukan karya ini dan mengangkat karya ini menjadi salah satu karya yang patut dikenang dalam sejarah, Padahal, ketika Bach masih hidup, karya ini tidak terlalu dihargai oleh publik Jerman waktu itu
Konsep Penyangkalan Diri Paulus Berdasarkan 2 Korintus 12:1-10 dan Implikasinya Bagi Hamba Tuhan di Kalangan Masyarakat Tionghoa di Indonesia
Jemaat Tionghoa pada umumnya memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap hamba Tuhan. Mereka menghendaki hamba Tuhan dapat tampil vmggul dan sempuma dalam berbagai segi. Keinginan mereka terhadap hamba Tuhan yang dapat tampil tmggul dan sempuma ini mempakan refleksi dari kepribadian mereka sendiri, di mana sangat mengejar kesempumaan dalam hidup. Ekspektasi yang tinggi terhadap hamba Tuhan yang melayani di kalangan masyarakat Tionghoa berpotensi membuat hamba Tuhan jatuh pada jeratan self-glory. Hamba-hamba Tiihan yang mendapatkan ekspektasi tinggi terancam mengejar kesempumaan atau keunggulan seperti yang menjadi harapan jemaat Tionghoa kepada mereka. Pengejaran terhadap kesempumaan dan keunggulan ini jelas berpotensi membuat hamba-hamba Tuhan jatuh pada self-glory. Hamba Tuhan yang telah jatuh pada self-glory tentu tidak efektif dalam melayani Tuhan, karena mereka tidak memuliakan Tuhan. Lalu bagaimana hamba Tuhan dapat menemukan solusi yang baik dan biblikal untuk dapat terlepas dari jeratan self-glory, ketika sedang menghadapi tuntutan atau ekspektasi yang tinggi dari j emaat Tionghoa?
Sebagai solusi terhadap masalah ini, konsep penyangkalan diri Paulus yang didasari oleh 2 Korintus 12:1-10 akan menjadi solusi yang efektif bagi hamba-hamba Tuhan untuk terlepas dari jeratan ekspektasi jemaat yang bemjung pada self-glory. Dalam konsep ini, hamba-hamba Tuhan diajak dapat menjadi seperti Paulus untuk tidak hidup berorientasi pada diri, melainkan pada Tuhan semata. Hamba-hamba Tuhan hams dapat mengakui dan menerima berbagai kelemahan dalam diri mereka dan lebih berfokus pada kasih karunia Allah yang cukup bagi mereka. Hamba-hamba Tuhan juga hams terns berfokus pada pemberitaan Injil terhadap jemaat dan bukan pada penerimaan diri dari jemaat. Intinya, hamba-hamba Tuhan hams menyangkal diri mereka dan mengalihkan fokus mereka pada kasih karunia Allah dan misi pemberitaan Injil yang dipercayakan pada mereka. Konsep penyangkalan diri ini akan menjadi kekuatan utama yang mendasar dein kokoh bagi hamba-hamba Tuhan ketika sedang menghadapi derasnya ekspektasi jemaat Tionghoa. Konsep penyangkalan diri ini jelas menolak isi ekspektasi jemaat Tionghoa yaitu kesempumaan dan keimggulan diri. Pada akhimya, konsep penyangkalan diri ini akan membuat hamba-hamba Tuhan terlepas atau terbebas dari self-glory
Signifikansi Pathos dalam Pencapaian Tujuan Khotbah.
Khotbah merupakan sebuah sarana yang dipakai Allah untuk mengubah kehidupan manusia. Perubahan hidup seseorang tidak hanya berbicara tentang perubahan pikiran, tetapi juga harus mencakup perubahan perasaan, di mana kedua perubahan ini akan membawa perubahan perilaku. Karena itu, untuk dapat mengubah kehidupan, maka setiap khotbah seharusnya mampu menstimulasi pendengarnya dengan utuh, yaitu secara intelektual dan emosi. Namun, cukup banyak pengkhotbah, khususnya gereja-gereja injili, meskipun sangat baik dalam menstimulasi aspek intelektual, tetapi sering kali kurang memerhatikan aspek emosi (pathos) dalam khotbah-khotbah mereka, dalam istilah Grant Lovejoy, passionless intellectualism. Apabila keadaan ini terus terjadi di banyak tempat dan selama jangka waktu yang panjang, maka di dalam skala luas hampir dapat dipastikan bahwa kekristenan injili sangat sulit menjadi saksi di tengah dunia, karena tidak banyak perubahan hidup yang terjadi di dalam diri banyak orang Kristen injili.
Bertolak dari permasalahan tersebut, maka penelitian ini diperlukan untuk menjawab dua pertanyaan. Pertama, pemahaman seperti apakah yang perlu ada di dalam diri setiap pengkhotbah agar di dalam khotbahnya dapat lebih memerhatikan unsur pathos? Kedua, dengan cara apakah khotbah dapat memberikan perhatian yang lebih pada unsur pathos? Sebagai hasil dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa aspek pathos di dalam komunikasi merupakan sesuatu yang sangat penting karena manusia yang terlibat dalam kegiatan komunikasi adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki aspek emosi. Di samping itu, aspek emosi pada manusia sangat penting untuk diperhatikan karena beserta aspek intelektual yang ada di dalam dirinya dapat memengaruhi dan menggerakkan kehendaknya. Ketika dihubungkan dengan tujuan khotbah, yaitu perubahan hidup pendengar, maka untuk memengaruhi kehendak seorang manusia tidak mungkin terlepas dari tergugahnya aspek emosinya (pathos), di samping tergugahnya aspek intelektual. Oleh karena itu, sebagaimana komunikasi yang efektif harus dapat menggugah aspek pathos, demikian pula khotbah yang efektif juga harus dapat menggugah aspek pathos. Selanjutnya, untuk dapat menggugah aspek pathos, seorang pengkhotbah perlu pertama-tama menyelami pathos di tahap persiapan khotbah. Demikian juga, di dalam penyusunan isi khotbah secara verbal, seorang pengkhotbah juga perlu mencermati setiap bagian dari isi khotbah, dan menerapkan pathos dengan cara-cara yang khusus untuk setiap bagiannya. Akhirnya, seorang pengkhotbah juga perlu memerhatikan pathos pada penyampaian khotbah secara nonverbal
Kajian Komparatif Konsep Penciptaan antara Kisah Penciptaan di Kejadian 1:1-2:3 dan Teori Evolusi Teistik
Pada umumnya komunitas Kristen menerima kisah penciptaan sebagai suatu realita. Mereka tidak hanya menerima kebenaran bahwa Allah sebagai Pencipta alam semesta beserta isinya, tetapi juga menerima mekanisme bagaimana Allah menciptakan semuanya itu berdasarkan deskripsi detail dari kitab Kejadian. Realita itu tidak jarang menyebabkan konflik antara iman Kristen dan sains, terutama ilmu biologi evolusi yang juga menawarkan alternatif asal mula kehidupan yang tampak kontras dengan kisah penciptaan. Konflik antara konsep evolusi dan iman Kristen masih terjadi sampai saat ini. Kedua pihak yang berkonflik mungkin tidak tahu dasar yang menyebabkan terjadinya konflik itu. Oleh karena itu, sebelum terlibat dalam konflik itu maka kedua belah pihak seharusnya melakukan kajian seobjektif mungkin terhadap kedua konsep itu.
Aspek apa saja yang dapat dikaji melalui perbandingan antara kisah penciptaan dan teori evolusi teistik? Prasuposisi penulis adalah teistik sehingga konsep evolusi yang akan dibandingkan merupakan teori evolusi teistik. Penelitian ini dilakukan dengan model penelitian kepustakaan. Penelitian kepustakaan akan dimulai dengan pengumpulan literatur-literatur yang akan dipakai dalam pemaparan konsep evolusi teistik. Penelitian kepustakaan juga akan dilakukan terhadap kisah penciptaan dengan mengeksegesis Kejadian 1:1-2:3. Kemudian langkah terakhir adalah melakukan analisis perbandingan konsep penciptaan dari teori evolusi teistik dan dari hasil eksegesis kisah penciptaan. Hasil penelitian dari perbandingan itu menunjukkan bahwa kedua konsep itu pada dasarnya memiliki persamaan dalam aspek kosmologi manusia, Allah sebagai penyebab segala sesuatu, dan motif penciptaan dari chaos. Hasil penelitian itu juga menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang terletak pada aspek tujuan, penekanan subjek atau mekanisme, ontologi, dan kurun waktu