STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Religion-Based Reason: Mereka Tempat bagi Argumentasi Klasikalis mengenai Keberadaan Allah dalam Kerangka Kritik Transendental Herman Dooyeweerd.
Fakta-fakta menunjukkan bahwa seseorang sulit menerima argumentasi logis, kendati itu sesuai dengan kaidah keilmuan, bila itu menyangkut agama. Filsuf Belanda Herman Dooyeweerd (1894-1977) pemah mengomentari fenomena serupa. Menurutnya, manusia selalu dipengaruhi oleh motif religius. Motif religius memengaruhi wilayah intelektual, bukan sebaliknya. Karena itu, diskusi yang terjadi pada wilayah intelektual tidak akan pemah memengamhi motif religius.
Di sisi lain, ada fenomena penggunaan pendekatan klasikalis dalam menunjukkan kelayakdipercayaan iman Kristen. Sebagaimana telah dimengerti, apologetika klasikalis adalah pendekatan apologetika yang menggunakan beragam pembuktian (proof) dan bukti (evidence), seperti logika, sejarah, sains, dan disiplin ilmu lainnya. Tujuan akhir dari apologetika, bila menggunakan pendekatan ini, adalah membawa seseorang untuk semakin menyetujui kekristenan. Masalahnya, bila Dooyeweerd benar, yakni bahwa analisis intelektual tidak akan memengaruhi motif religius, maka peran dan fungsi dari apologetika klasikalis layak dipertanyakan.
Dalam penelitian ini, penulis menjelaskan kerangka dari dua cara kritik transendental yang dibangun Dooyeweerd selama 20 tahun di Vrije (Jniversiteit, Belanda. Kritik transendental menjelaskan bahwa preseden dari proses berpikir teoretis adalah sebuah tindakan apriori yang bersifat religius. Proses berpikir teoretis adalah proses dialektika yang terjadi pada ragam disiplin ilmu, seperti sains, sejarah, hukum dan yang lainnya. Dooyeweerd memberi nama padanya modalitas.
Modalitas, selain diteliti sebagai disiplin ilmu, juga merupakan cara berada dari realitas.
Dalam kritik transendental, seseorang pertama-tama akan menempatkan diri di titik Archimedean, yakni titik tempat dia menangkap realitas secara total dan tidak terseparasi dalam berbagai modalitas. Pada tahap itu, dia juga akan menentukan Muasal. Muasal adalah sesuatu yang diasumsikan menjadi asal mula dari segala sesuatu, tempat segala sesuatu bermula dan berakhir. Penentuan ini dikerjakan oleh ego, yakni totalitas diri manusia, pada wilayah religius. Hanya karena diawali proses inilah seseorang baru akan melakukan proses berpikir teroritis dalam modalitas.
Penulis meneliti sikap Dooyeweerd terhadap argumentasi-argumentasi klasikalis melalui dua elemen penting, yakni sikapnya terhadap para Thomis serta perbedaan pandangan tentang modalitas dengan para klasikalis. Dooyeweerd tidak setuju bila salah satu modalitas dianggap mampu menjelaskan realitas secara total. Berdasarkan hal itu, dan berdasarkan sikapnya yang tidak apresiatif terhadap para Thomis, penulis menganggap bahwa di mata Dooyeweerd, analisis teoretis yang biasa dikerjakan dalam pendekatan klasikalis tidak terlalu penting tampa terlebih dahulu seseorang menentukan titik Archimedean yang dia hidupi. Penentuan titik tersebut hanya bisa dipengaruhi oleh sesuatu yang juga bekerja pada wilayah religius, yakni Roh Kudus
Atribut Keindahan Allah di dalam Ibadah Kristen dan Implikasinya bagi Penggunaan Seni Visual di dalam Ibadah Jemaat Masa Kini.
Pada masa kini, teologi dan ibadah Kristen kurang lekat dengan aspek estetika, yang diwakili oleh terminologi "keindahan Allah." Teologi dan ibadah Kristen lebih sering dipahami melalui aspek kognitif dan moral dibandingkan dengan estetika. Padahal, sekalipun tidak dinyatakan secara eksplisit, Alkitab mengafirmasi akan aspek estetika sebagai penyataan pribadi Allah yang indah di dalam kemuliaan-Nya, baik pada masa Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Secara khusus, keindahan Allah memiliki kaitan yang erat dengan penyataan kehadiran Allah di tengah umat-Nya, yaitu melalui sebuah ibadah komunal. Keindahan ini dicerminkan (diwujudkan) melalui beragam hal, dimulai dari pembuatan Tabut Perjanjian, pembangunan Kemah Suci dan Bait Allah, sampai keindahan ilahi tersebut "meragakan diri" melalui pribadi dan karya Yesus Kristus, sebagai Tuhan dan Allah yang disembah oleh umat percaya di segala zaman dan tempat, termasuk sampai pada masa kini. Cerminan dari keindahan Allah di dalam sebuah ibadah jemaat memiliki kaitan erat dengan elemen visual dari ibadah. Hal ini pun diafirmasi oleh narasi Alkitab dan praktik ibadah komunal dari masa ke masa. Namun, ada beberapa kesalahpahaman teologis dan praktis di dalam mengimplikasikan keindahan Allah di dalam sebuah ibadah jemaat, khususnya melalui elemen seni visual. Oleh karena itu, penelitian ini mencoba untuk berkontribusi di dalam memberikan konsep atau pemahaman dan praksis yang tepat mengenai keindahan Allah yang hadir di dalam ibadah jemaat dan bagaimana menarik implikasinya bagi ibadah jemaat masa kini
Konsep Spiritualitas Daniel dan Relevansinya bagi Kehidupan Generasi Muda Masa Kini
Penurunan spiritualitas yang teijadi saat ini harusnya menjadi perhatian banyak pihak. Terlebih lagi, ditemukan bahwa spiritualitas sudah mulai tidak menarik di kalangan generasi muda masa kini. Hal ini sangat memprihatinkan karena generasi muda masa kini adalah seseorang yang akan menjadi penerus gereja di masa mendatang. Merekalah yang harusnya menjadi pelopor dari spiritualitas kekristenan di masa yang akan datang.
Tulisan ini menjelaskan mengenai penelitian terhadap konsep spiritualitas Daniel dan relevansinya bagi kehidupan spiritual generasi muda rnasa kini-. Daniel adalah salah satu tokoh yang memiliki spiritualitas yang baik dari sejak muda sampai usia lanjut. Sangat menarik karena masa muda Daniel di Babel yang sulit menjadi bukti bahwa tantangan tidak dapat merusak spiritualitasnya. Hal ini disebabkan karena Daniel membangun spiritualitasnya dari aspek terdalam, yakni hati atau kehendak dalam dirinya. Hati atau kehendak Daniel terpaut pada Allah dan fiman- Nya sehingga memengaruhi keseluruhan hidup Daniel serta dapat disaksikan oleh banyak orang.
Melihat spiritualitas yang baik dalam diri Daniel, generasi muda masa kini dapat menjadikannya sebagai teladan bagi kehidupan spiritual mereka. Tentu dalam hal ini, generasi muda perlu melihat apa saja yang ada pada diri Daniel, yang belum mereka miliki atau terapkan dalam kehidupan mereka. Selain itu, dibutuhkan usaha generasi muda untuk dapat meneladani Daniel di tengah penurunan spiritualitas masa kini. Generasi muda perlu untuk memperbaiki spiritualitas dari aspek yang terdalam, yakni hati atau kehendak yang ada dalam diri mereka. Dengan demikian kehidupan spiritual mereka menjadi lebih baik dan orang lain dapat melihat Allah di dalam hidup mereka
Penerapan Berita Pengharapan pada Khotbah dalam Ibadah Penghiburan Kristen dalam Konteks Budaya Tionghoa (Studi Eksegetikal 1 Tesalonika 4:13-18).
Kehilangan seseorang yang dikasihi akan membuat seseorang memasuki masa duka. Seseorang yang mengalami kedukaan menghadapi dua pergumulan besar dalam hidupnya, yaitu pergumulan secara psikologis dan pergumulan secara teologis. Kedua hal ini harus diatasi dengan cara yang tepat, agar orang yang berduka dapat menjalani kehidupannya dengan baik. Salah satu upaya yang dapat digunakan untuk menolong orang yang sedang berduka adalah melalui khotbah.
Paulus pernah berada dalam satu situasi ketika orang-orang Tesalonika yang baru percaya kepada Kristus mengalami kondisi kedukaan yang sangat berat, sehingga Paulus menyebut mereka seperti “orang-orang yang tidak berpengharapan.” Kondisi ini terjadi karena mereka masih dipengaruhi oleh konsep-konsep tentang kematian dan kehidupan setelah kematian yang menjadi bagian dari kepercayaan mereka pada waktu itu. Dalam suratnya ini, Paulus menyampaikan berita pengharapan akan kedatangan Kristus yang kedua kepada orang-orang Tesalonika untuk meneguhkan iman serta pengharapan mereka kepada Kristus. Paulus pun meminta agar mereka saling menghibur dan menguatkan satu dengan yang lainnya.
Dalam budaya Tionghoa, kematian orang yang dikasihi membawa orang yang berduka tersebut masuk dalam masa duka yang paling berat. Selain karena perasaan kehilangan yang dirasakan, pengaruh konsep-konsep kematian dan kehidupan setelah kematian juga memegang peranan yang sangat kuat dalam kehidupan orang Tionghoa. Konsep-konsep ini pun tidak lepas dari pemikiran orang Tionghoa yang baru percaya kepada Kristus. Pemikiran tersebut harus diterangi oleh kebenaran firman Tuhan, yaitu dengan menyampaikan berita pengharapan tentang kedatangan Kristus yang kedua dalam khotbah yang disampaikan.
Penyampaian khotbah dalam ibadah penghiburan Kristen merupakan salah satu sarana yang Tuhan pakai untuk memperdengarkan suara-Nya kepada orang yang berduka. Melalui khotbah, pengkhotbah dapat menanamkan konsep kematian dan kehidupan setelah kematian yang sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Melalui khotbah, berita pengharapan yang disampaikan dapat menjadi salah satu sarana yang Tuhan pakai untuk mengatasi kedukaan yang dirasakan oleh orang yang berduka, dan menggerakkan orang percaya untuk saling menghibur dan menguatkan dalam pengharapan sejati, yaitu kedatangan Kristus yang kedua kali dan kehidupan kekal yang diberikan kepada setiap orang yang percaya dan menantikan kedatangan-Nya
Analisis Paradigma Misi Model Atraksional di GPMIl Samarinda Kalimantan Timur Berdasarkan Perspektif Gereja Misional.
Misi dan gereja merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkaa Tidak mungkin membicarakan gereja tanpa menyinggung misi, demikian pula sebaliknya. Misi adalah identitas atau natur gereja. Gereja adalah misionari di tengah-tengah dunia untuk mengerjakan misi Allah. Bagaimana gereja memandang misi Allah sangat dipengaruhi oleh paradigma misi yang dihidupi oleh gereja tersebut. Dalam tulisan ini akan dibahas paradigma misi gereja atraksional dan gereja missional. Paradigma misi gereja atraksional bersifet sentrpetal (come and see), menunggu orang dari luar gereja untuk datang ke gedung gereja. Paradigma atraksional berasumsi bahwa acara yang atraktif akan menbuat orang tertarik datang ke gereja. Sedangkan paradigma misional bersifet sentrifugal, orang percaya bergerak kehiar (go and tell) masuk ke tengah-tengah masyarakat sebagai misionari demi menjadi garam danterang dunia.
Penulis berasumsi bahwa paradigma misi gereja GPMII Samarinda belakangan ini cenderung bersifet atraksional Untuk melihat hal tersebut akan digunakan data dokumen program keg a GPMII Samarinda. Dokumen merupakan salah satu data yang dapat menggambarkan paradigma yang dihidipi oleh pribadi atau kebnpok tertentu termasuk sebuah gereja. Dokumen program gereja tersebut akan dianalisis secara teologis (misiologis dan eklesblogis) berdasarkan perspektif missional Hasil analisis menperlihatkan bahwa ada kecenderungan paradigma misi atraksional di gereja GPMII Samarinda. Melalui penelitian ini penulis berpandangan bahwa gereja akan maksimal menjalankan natumya sebagai misionari di tengah- tengah lingkungan dan dunia dengan menenpatkan paradigma misional sebagai sentral menjalankan gereja serta selektif dan proporsional dalam mengaplikasikan nilai-nilai atraksional
Metode Pengembangan Ibadah Di Gepembri Pekalongan Berdasarkan Eksposisi Mazmur 96 Dan Implikasinya Terhadap Jemaat Gepembri Pekalongan
Ibadah hari Minggu adalah ibadah yang secara rutin dijalankan di gereja. Oleh sebab itu, Gepembri Pekalongan adalah salah satu gereja yang mengadakan ibadah hari Mnggu secara rutin. Gepembri Pekalongan menggunakan susunan liturgi untuk menjalankan ibadah mereka setiap Mnggu dan susunan liturgi tersebut berasal dari sinode Gepembri. Susunan liturgi tersebut dibuat pertama kali oleh Pdt. John Zachariah. Beliau adalah tokoh yang memberikan ciri khas dari liturgi Gepembri yaitu mengawali ibadah dengan “Suci, Suci, Suci.” Melalui hal ini, Pdt John Zachariah mengerti benar bahwa ibadah adalah untuk memuliakan Tuhan yang kudus. Seiring berjalannya zaman, pemahaman kekudusan Allah dari beliau memudar, khususnya di Gepembri Pekalongan. Jemaat tidak lagi memaknai ibadah sebagai waktu mereka memuliakan Tuhan yang kudus. Hal ini terlihat dari sikap jemaat yang tidak disiplin dalam beribadah, misalnya keterlambatan. Selain memudarnya disiplin dalam beribadah, ibadah hanya berjalan seadanya. Bahkan menurut survei, jemaat masih banyak yang tidak membagikan berita kekudusan Allah kepada orang di sekitar mereka.
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan solusi agar menjadikan jemaat Gepembri Pekalongan merespons kekudusan Allah sehingga berdampak terhadap lingkungan sekitar mereka untuk memenuhi Amanat Agung yang Allah perintahkan melalui ibadah.Untuk mencapai tujuan dari penelitian ini maka penulis menggunakan metode kepustakaan dalam meneliti sejarah liturgi Gepembri serta secara umum dan mengetahui latar belakang pembuatan liturgi ibadah. Kemudian penulis menggunakan metode eksposisi untuk mengupas Mazmur 96 sebagai dasar penulis untuk memberikan gambaran ibadah yang dikehendaki Tuhan.
Menurut sejarah dari liturgi, baik Gepembri maupun liturgi zaman ke zaman, keduanya sama-sama memberikan yang terbaik agar liturgi yang disusun dapat membuat jemaat memecahkan “kode teologi” dalam liturgi tersebut. Bahkan makna dari kata “liturgi” juga bersifat aktif bukan pasif. Dalam Mazmur 96, pemazmur juga mengajak bangsa Israel secara aktif menceritakan kemuliaan Allah kepada segala ciptaan-Nya, termasuk bangsa-bangsa yang tidak mengenalYHWH. Oleh sebab itu, penulis merancang ibadah liturgi yang membuat jemaat memecahkan “kode teologi” agar tujuan dari ibadah dapat tercapai
Pelayanan di Era Digital: Sebuah Usulan Pelayamn Pastoral Mikro Melalui Penggunaan Media Sosial Kepada Generasi Z
Perkembangan teknologi yang begitu pesat, khususnya dalam teknologi komunikasi dalam dekade belakangan ini membawa budaya komunikasi yang barn antar manusia. Media sosial menjadi bentuk komunikasi digital yang paling digemari oleh anak-anak muda generasi Z. Gereja masa kini mulai mengadaptasi teknologi ini dalam pelayanan. Pelayanan pastoral mikro sangat membutuhkan komunikasi, sehingga pelayan pastoral perlahan mulai menggunakan media ini sebagai sarana dalam membantu komunikasi antara gembala dengan jemaat yang dilayani. Para hamba Tuhan yang melayani bidang pastoral mulai menggunakan media ini untuk membantu mereka. Media ini dirasa efektif dalam membantu pelayanan tetapi akan lebih efektif apabila hamba Tuhan yang menggunakannya menerapkannya untuk membantu mereka dalam menjalankan fungsi-fungsi pastoral dasar yaitu mengenal, memberi makan, memimpin dan melindungi domba-domba yang dipercayakan Tuhan untuk mereka layani, khususnya bagi mereka yang masuk dalam kategori generasi Z. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan sebuah usulan bagaimana menerapkan media sosial dalam pelayanan pastoral kepada generasi Z.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur atau penelititan dengan menggunakan sumber dari buku-buku yang ada. Sumber data yang digunakan adalah data-data primer dan sekunder dari press release. Penulis juga menggunakan wawancara dan observasi kepada gereja dan hamba-hamba Tuhan yang menggunakan media sosial dalam pelayanan. Sumber-sumber yang ada kemudian dipaparkan dan dianalisa secara deskriptif.
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, diperolehlah sebuah kesimpulan dan masukan dalam bentuk metode bagaimana menggunakan media sosial yang efektif dalam pelayanan pastoral kepada generasi Z. Pelayanan media sosial yang efektif hams tetap menerapkan fungsi-fungsi pastoral dari seorang gembala. Mereka hams menjadi gembala yang bisa mengenal, memberikan makanan rohani, memimpin dan melindungi anak muda generasi Z. Tentunya penggunaan media sosial akan lebih mempermudah mereka untuk menjangkau generasi Z dan melayani mereka dalam pastoral mikro. Dampak positif juga akan dirasakan apabila seorang gembala dapat menjadi contoh bagaimana mereka berkomunikasi dan bijak dalam menggunakan media sosial
Studi tentang Ibadah Intergenerasi sebagai Alternatif Bentuk Ibadah dalam Gereja.
Saat ini masyarakat cenderung terbagi ke dalam kelompok-kelompok usia tertentu, yang dikenal dengan istilah segregasi umur. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan yang cukup siginifikan di antara kelompok usia yang berbeda. Perbedaan tersebut merupakan akibat dari dua faktor, yaitu; makin panjangnya usia hidup seseorang dan makin cepatnya perubahan kondisi dunia dari hari ke hari. Kelompok usia yang berbeda semakin sulit mengerti satu sama lain akibat pengalhman hidup yang berbeda. Situasi seperti ini menimbulkan kebutiihan untuk mengadakan kegiatan-kegiatan yang berbeda bagi kelompok usia (generasi) yang berbeda supaya bisa menjawab tantangan yang mereka hadapi dengan lebih tepat. Masyarakat memberi pelayanan (berupa produk atau jasa) yang sesuai dengan kebutuhan setiap generasi, termasuk ibadah dalam gereja. Di satu sisi hal ini memang dibutuhkan, namun di sisi lain pemisahan jemaat ke dalam ibadah-ibadah sesuai kelompok usia secara terus-menerus akan membawa dampak negatif bagi gereja di masa depan, misalnya: menghilangnya kaum muda dari gereja akibat tradisi ibadah yang dinilai asing dan kurang relevan bagi kehidupan mereka, sedangkan di pihak lain generasi yang lebih tua kurang memiliki kesempatan untuk meneruskan tradisi tersebut alcibat segregasi ibadah.
Ibadah intergenerasi diharapkan dapat menjadi jembatan penghubung yang mempersatukan generasi yang berbeda. Dalam ibadah intergenerasi setiap kelompok usia dihargai dan terlibat secara aktif untuk melayani. Ibadah intergenerasi mengajarkan setiap generasi untuk saling mengasihi, menghargai, dan belajar satu terhadap yang Iain. Ini adalah wujud nyata kesatuan tubuh Kristus yang akan menjadi kesaksian bagi dunia seperti yang tercatat dalam Alkitab. Skripsi ini akan mcnjelaskan dasar-dasar alkitabiah, teologis, dan praktika yang mendukung pelaksanaan ibadah intergenerasi, sekaligus memaparkan cara-cara praktis merancang ibadah intergenerasi dalam gereja. Melalui tulisan ini penulis berharap gereja-gereja dapat mempertimbangkan untuk melaksanakan ibadah intergenerasi sebagai salah satu bentuk alternatif ibadah
Pentingnya Pemahaman Karakteristik Pendengar Terhadap Efektivitas Khotbah Ekspositori Berdasarkan Studi Terhadap Pola Pengajaran Yesus Dalam Lukas 10:25-37.
Pemahaman terhadap karakteristik pendengar telah menjadi salah satu aspek yang kurang diperhatikan oleh para pengkhotbah di dalam berkhotbah. Banyak di antara mereka yang hanya memberikan perhatian besar terhadap teks karena menganggapnya sebagai hal yang paling penting di dalam berkhotbah. Hal tersebut diungkapkan oleh pengkhotbah-pengkhotbah senior di dalam buku-buku mereka sebagai wujud perhatiannya atas hal tersebut. Penulis setuju bahwa memberikan perhatian yang besar terhadap teks bukanlah sesuatu yang salah karena teks-firman Allah hams menjadi dasar dari setiap khotbah. Namun jika pengkhotbah hanya memberikan perhatiannya kepada teks dan mengesampingkan pendengar dengan tidak memberikan waktu untuk memikirkan siapa orang-orang yang akan mendengar khotbahnya dan seperti apa kehidupan mereka, maka khotbah yang akan ia hasilkan kemungkinan besar akan terlepas atau tidak memiliki kaitan dengan kehidupan pendengar. Khotbah-khotbah yang demikian biasanya disebut sebagai khotbah yang tidak relevan dengan kehidupan pendengar. Agar dapat menghasilkan khotbah yang relevan dengan kehidupan pendengar, pengkhotbah perlu memahami karakteristik pendengamya. Dengan memahami karakteristik pendengamya, pengkhotbah dapat menunjukkan kepada pendengar bagaimana kebenaran firman Allah terhubung dengan kehidupan mereka.
Bagian firman Tuhan di dalam Lukas 10:25-37 menmijukkan pemahaman Yesus tehadap karakteristik pendengar berdasarkan interaksi yang terjadi antara Yesus dengan lawan bicaranya di dalam teks tersebut. Dengan pemahaman tersebut Yesus akhimya dapat menyatakan kebenaran yang ia bawa kepada orang-orang yang mendengarkannya bahkan hingga mau tidak mau lawan bicaranya terpaksa mengakui kebenaran tersebut. Berdasarkan teks tersebut penulis menjabarkan pemahaman terhadap karakteristik pendengar ke dalam tiga bagian yang nantinya dapat digunakan oleh para pengkhotbah sebagai pedoman di dalam persiapan-persiapan khotbah yang dilakukan