STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Tinjauan terhadap Relasi Persahabatan Yesus dan Petrus serta Implikasinya terhadap Pentingnya Sahabat Rohani bagi Pelayanan Hamba Tuhan Gereja
Pelayanan yang dilakukan oleh para hamba Tuhan yang melayani di gereja bukanlah hal yang mudah, Dalam pelayanan gereja, hamba Tuhan akan bertemu dengan begitu banyak orang/jemaat yang dilayani, Selain hams mengerjakan tugas pelayanan yang sudah dipercayakan kepadanya, para hamba Tuhan juga sering kali diperhadapkan dengan tuntutan dan harapan jemaat yang seakan tidak ada habisnya, Hal ini membuat banyak hamba Tuhan gereja menghabiskan waktu dan tenaganya untuk mengeqakan semua hal yang dibebankan kepadanya, Tetapi fakta yang ada menunjukkan bahwa kerja keras yang dilakukan oleh hamba Tuhan untuk memenuhi semua ekspektasi terhadap dirinya itu akan membuat dirinya mengalami berbagai masalah, lAususnya berkaitan dengan kehidupan spiritual dan psikologis hamba Tuhan itu sendiri,
Pelayanan hamba Tuhan gereja jelas tidak mudah, Tetapi hal ini tidak boleh dijadikan alasan untuk menyerah dan berhenti untuk melayani Allah. Hamba Tuhan gereja hams terns berjuang untuk menyelesaikan pelayanan yang Allah berikan. Dengan demikian, apa yang sehamsnya dilakukan hamba Tuhan gereja? Ketika hamba Tuhan gereja menyadari bahwa pelayanan ini bukanlah pelayanan yang mudah, hamba Tuhan gereja hams menyadari bahwa ia membutuhkan pertolongan dari orang lain dalam menjalani pelayanannya, yaitu sahabat. Hal ini yang setidaknya ditimjukkan oleh Yesus kepada Petms. Yesus menyadari bahwa pelayanan yang la berikan kepada Petms bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, selama Yesus ada di dimia ini Yesus perlu menjadi sahabat (Yoh. 15:15) dan membimbing Petms sebelum akhimya Petms pergi menjalankan misi yang Yesus berikan itu. Bimbingan yang Yesus berikan sebagai sahabat akhimya mengubah Petms yang impulsif dan memberikan dampak yang sangat besar bagi kehidupan dan pelayanan Petms.
Kehadiran sahabat jelas diperlukan oleh para hamba Tuhan yang sedang menjalankan misi Allah di dunia ini. Sahabat di dunia ini memang tidak akan sempuma seperti Yesus, namun kehadiran sahabat setidaknya akan memberikan pengamh dan banyak manfaat pada kehidupan dan pelayanan hamba Tuhan gereja, khususnya dari sisi spiritual dan psikologis. Oleh karena itu, hamba Tuhan perlu menyadari bahwa kebutuhan akan sahabat adalah hal yang sangat penting dan urgent serta berinisiatif untuk mencari dan menemukan sahabat bagi dirinya. Tujuannya tidak lain adalah untuk menyelesaikan pelayanan yang Allah berikan dengan baik
Menafsirkan dan Mengkhotbahkan Perumpamaan Yesus dengan Metode Khotbah Narasi.
Perumpamaan-perumpamaan Yesus mendominasi sebagian besar khotbah dari Tuhan Yesus selama masa pelayanan-Nya di bumi. Di dalam Injil Sinoptik, perumpamaan Yesus ini meliputi hampir sepertiga dari pengajaran Yesus yang dicatat. Tidak heran, perumpamaan Yesus merupakan salah satu genre teks alkitab yang paling sering dikhotbahkan pada masa kini. Namun, perlu diingat bahwa di dalam mengkhotbahkan perumpamaan Yesus, pesan yang dulu pernah disampaikan oleh Yesus pada pendengar pertama melalui perumpamaan-perumpamaan yang digunakan-Nya, juga harus disampaikan kepada pendengar masa kini secara tepat dan efektif.
Permasalahan yang muncul, buku-buku yang tersedia sekarang lebih banyak mengulas mengenai sejarah penafsiran dan cara menafsirkan perumpamaan Yesus, bukan mengenai strategi untuk mengkhotbahkan perumpamaan Yesus di era pascamodern sekarang. Penelitian ini berfokus kepada bagaimana mengkhotbahkan perumpamaan Yesus, terkhusus yang berbentuk narasi dengan baik.
Tentu saja, sebelum membahas mengenai cara mengkhotbahkan perumpamaan Yesus, kita tetap harus memperhatikan tentang proses penafsiran perumpamaan Yesus secara tepat terlebih dahulu. Perumpamaan Yesus memiliki beragam bentuk dan tujuan. Perkembangan sejarah penafsiran perumpamaan Yesus sejak zaman apostolic hingga sekarang menunjukkan betapa memang tidak mudah di dalam menafsirkan perumpamaan Yesus secara tepat, bahkan kebanyakan justru berujung kepada alegorisasi.
Pemilihan genre teks Alkitab akan menentukan metode berkhotbah apa yang paling efektif untuk menyampaikannya kepada pendengar. Selain itu, seorang pengkhotbah yang ingin menentukan metode yang baik di dalam mengkhotbahkan perumpamaan Yesus, tentu juga harus memperhatikan persatuan antara karakteristik genre teks Alkitab dengan karakteristik yang dimiliki oleh pendengarnya. Hal ini perlu diperhatikan karena setiap zaman memiliki pola karakteristik masing-masing di dalam berkomunikasi, salah satunya di dalam mendengarkan khotbah, demikian pula dengan masyarakat pascamodern.
Melalui penulisan ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa metode narasi dengan segala karakteristik dan kelebihan yang dimilikinya dapat menjadi metode khotbah yang lebih baik untuk menyampaikan perumpamaan Yesus yang berbentuk narasi kepada pendengar pascamodern
Apakah Allah Itu Kejam?: Sebuah Tinjauan Doktrin Dosa Dan Keadilan Allah Untuk Menjawab Tuduhan Kekejaman Allah Dalam Kejadian 19:26
Konsep Wa dan Honne to Tatemae sebagai Budaya Harmoni di Jepang dan Implikasinya terhadap Penginjilan Kontekstual.
Perbedaan budaya menjadi sebuah masalah dalam penginjilan. Cukup banyak penginjilan yang kurang efektif karena tidak mempertimbangkan konteks budaya pendengar-Nya. Selain itu, perlu disadari juga bahwa sang penginjil sendiri juga memiliki budayanya masing-masing. Maka dari itu sangat diperlukan sebuah penginjilan yang efektif dengan mempertimbangkan konteks budaya pendengar.
Jepang adalah salah satu negara yang sudah lama mendengar dan menerima Injil, tetapi kekristenan tidak juga bertumbuh pesat. Hal ini dikarenakan perbedaan budaya antara Jepang dan kekristenan yang dianggap memiliki budaya Barat. Jepang tidak ingin budaya Barat untuk masuk ke dalam budaya mereka. Dengan beranggapan bahwa agama Kristen adalah agama berbudaya Barat, maka masyarakat Jepang sulit untuk menerima kekristenan. Selain itu, budaya harmoni di Jepang tidak memperbolehkan seorang pun merusak sesuatu yang telah ada di Jepang, yaitu kebudayaan asli masyarakat Jepang. Maka dari itu, untuk membawa penginjilan di Jepang, penginjil-penginjil hams mempertimbangkan konteks budaya di Jepang, agar pesan mereka menjadi lebih relevan.
Dalam penelitian ini, dijelaskan beberapa langkah untuk melakukan sebuah penginjilan lintas budaya. Usaha penginjilan tersebut disebut dengan penginjilan rekontekstual. Dalam penelitian ini juga dijelaskan tentang budaya Jepang yang dapat menjadi sarana masuknya Injil. Dari kedua hal itu, maka akan ditemukan cara membawa Injil ke dalam konteks Jepang, tanpa hams memsak kebudayaan, dan juga tetap setia terhadap Firman Allah.
Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa Injil Matius 5:37 dapat menjadi sarana masuknya Injil ke dalam budaya Jepang. Budaya harmoni Jepang menghasilkan sebu^ konsep honne to tatemae, yang mengajarkan masyarakatnya untuk menutup-nutupi kebenaran. Sedangkan Injil Matius 5:37 mengajarkan untuk setiap orang berkata dengan jujur. Agar tidak memsak kebudayaan, hasil akhir dari penelitian ini akhimya mengubah sedikit makna dari konsep honne to tatemae.
Bukan menutup-nutupi kebenaran, melainkan hanya sekadar menahan diri agar tidak melukai atau menyinggung perasaan orang lain. Dengan demikian, masyarakat Jepang masih tetap dapat menjaga keharmonisan tanpa menutup-nutupi kebenaran
Konsep Misi Holistik Menurut Referensi Gerakan Lausanne Antara Penginjilan dan Tanggungjawab Sosial serta Implikasinya bagi Praksis Misi Gereja-gereja Injili Tionghoa di Indonesia.
Kaum injili kerap kali dipandang tidak memiliki hati nurani terhadap lingkungan sekitar dan hanya mementingkan keselamatan individual. Tuduhan ini diperparah ketika injil sosial mulai muncul ke permukaan untuk menjawab kerinduan akan tanggungjawab sosial kekristenan dan menjadi lawan saing bagi kaum injili. Meskipun injil sosial memiliki pemahaman teologi yang tidak sepaham dengan kaum injili, namun reaksi dari kaum injili terhadap injil sosial terbilang cukup radikal dan mendapat pandangan negatif dari masyarakat awam maupun teolog-teolog.
Melihat perseteruan yang berkepanjangan antara kaum injili dengan liberal, maka Billy Graham mempertemukan pemahaman antara penginjilan dan tanggungjawab sosial di dalam sebuah kongres injili internasional yang pertama pada tahun 1974. Kongres ini menjadi awal mula gerakan Lausanne di dalam membahas mengenai perkembangan pemahaman doktrin yang biblikal untuk memahami misi holistik. Namun pemahaman akan misi holistik yang dihasilkan melalui kongres Lausanne kurang terlihat terutama di Indonesia dan dalam lingkungan gereja-gereja Tionghoa.
Meskipun kurang terlihat, seyogianya mereka telah melaksanakan misi holistik, namun tidak secara terang-terangan diketahui oleh publik. Hal ini dikarenakan gereja-gereja Tionghoa memiliki konflik etnis yang berkepanjangan di Indonesia dengan kaum pribumi semenjak kedatangan kompeni. Meskipun gereja-gereja Tionghoa tidak secara langsung mendapat pengaruh dari gerakan Lausanne, mereka secara konsisten melaksanakan misi holistik melalui perpanjangan tangan PGTI, yaitu buah dari kongres CCCOWE (buah dari kongres Lausanne I).
Akan tetapi gereja-gereja Tionghoa tidak dapat berpuas diri begitu saja. Mereka perlu untuk menyesuaikan pemahaman misiologi mereka dengan perkembangan misiologi dari gerakan Lausanne. Gereja-gereja Tionghoa juga perlu untuk membuka diri terhadap kaum liberal untuk bersama belajar dan saling melengkapi dalam memahami misi holistik secara tepat. Semata-mata agar Kristus mendapat tempat di hati orang-orang yang belum percaya, bahkan di hati orang-orang yang terlibat di dalam konflik etnis yang berkepanjangan
Tinjauan Teologi Kristen terhadap Konsep Bakti kepada Orang Tua dalam Agama Kong Hu Cu
Orang Tionghoa merupakan imigran terbanyak di Indonesia menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010. Kemana pun orang Tionghoa pergi, mereka selalu membawa kepercayaan mereka, demikian juga ketika mereka datang ke Indonesia. Kepercayaan dari orang Tionghoa ada tiga, yaitu Kong Hu Cu, Buddha, dan Tao. Dari tiga kepercayaan ini, kehidupan sehari-hari orang Tionghoa sangat dipengaruhi oleh pengajaran Kong Hu Cu. Orang Tionghoa sangat menjunjung tinggi pengajaran Kong Hu Cu, terutama bakti kepada orang tua.
Semasa hidup orang tua, anak harus berbakti kepada orang tua dengan menghormati, menaati, merawat, dan menasihati orang tua. Anak menunjukkan baktinya kepada orang tua tidak hanya semasa hidup orang tua, tetapi sampai orang tua meninggal. Ketika orang tua meninggal, anak melangsungkan upacara kematian orang tua berdasarkan ritual kematian tradisi Tionghoa. Dengan melakukan ini, anak menunjukkan bakti mereka kepada orang tua.
Orang Tionghoa menganggap orang Kristen tidak berbakti kepada orang tua karena tidak memberikan upacara kematian orang tua dengan hormat. Sebab itu, orang Tionghoa Kristen pun berkompromi iman dengan melakukan ritual kematian, karena tidak mau dikatakan tidak hormat kepada orang tua. Orang Tionghoa Kristen masih dipengaruhi oleh pengajaran bakti kepada orang tua dalam agama Kong Hu Cu dan belum memiliki pemahaman yang benar mengenai bakti kepada orang tua dalam Alkitab.
Karena itu, penulis melakukan penelitian ini dengan pertanyaan, bagaimanakah konsep bakti kepada orang tua, baik dalam agama Kong Hu Cu maupun dalam Alkitab? Dengan mengetahui konsep bakti kepada orang tua dari agama Kong Hu Cu dan Alkitab, orang Tionghoa Kristen dapat memiliki pemahaman yang benar mengenai bakti kepada orang tua dalam Alkitab. Dengan demikian, orang Tionghoa Kristen tidak lagi berkompromi iman dengan melakukan ritual kematian tradisi Tionghoa
Signifikansi Imajinasi dan Penerapannya dalam Berkhotbah.
Harapan setiap pengkhotbah tentunya agar jemaat dapat memiliki pertumbuhan iman yang nantinya dapat membawa transformasi dalam kehidupan mereka. Pertumbuhan iman ini hanya dapat terjadi melalui kuasa firman Tuhan sebagaimana dikumandangkan Alkitab. Oleh karena itu, pelayanan khotbah yang setia dan berpijak kukuh pada kebenaran firman Tuhan merupakan keniscayaan. Banyak pengkhotbah menyadari kuasa firman Tuhan dan berupaya keras untuk melakukan penggalian firman Tuhan dengan benar. Namun dalam kenyataannya, upaya keras mereka seringkali tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Karena banyak jemaat merasa tidak tergugah ketika mendengarkan firman yang disampaikan.
Pijakan yang kukuh pada kebenaran firman memang mutlak diperlukan dalam berkhotbah. Namun cara dalam mengomunikasikan kebenaran tersebut juga tidak perlu diperhatikan agar jemaat dapat mengafirmasi pesan khotbah baik secara intelektual maupun emosional sehingga mereka dapat memiliki perubahan kehendak seturut firman Tuhan. Dengan kata lain, khotbah harus mampu menggerakkan pikiran dan menggugah jiwa pendengar. Khotbah demikian berarti memerlukan keterlibatan imajinasi pengkhotbah dalam prosesnya. Sebab imajinasi adalah aspek dalam diri manusia yang mampu menjembatani dan mengintegrasikan aspek pikiran dan emosi pendengar.
Dalam realitanya, signifikansi imajinasi dalam berkhotbah masih cenderung diabaikan dan terkadang dicurigai karena dianggap sebagai khayalan semata. Namun tatkala melihat Alkitab, jelas nampak bahwa Allah menginspirasi para penulis Alkitab dengan melibatkan imajinasi mereka yang tertuang dalam karya sastra untuk mengkonkretkan sesuatu yang abstrak. Khotbah yang sarat imajinasi disampaikan oleh banyak tokoh dalam Alkitab dan terutama Yesus sendiri yang terlihat dari kentalnya penggunaan cerita, metafora, dan imagery. Karena itu penggunaan imajinasi dalam berkhotbah sesungguhnya merupakan esensi dalam berkhotbah.
Ketika imajinasi pendengar tersentuh dalam khotbah, mereka dapat bukan hanya memahami tetapi juga mengalami pesan khotbah sehingga kehendak mereka dapat diarahkan seturut firman Tuhan. Maka dari itu, para pengkhotbah seyogyanya dapat memahami signifikansi imajinasi dan menerapkannya dalam proses khotbah
Pengujian Validitas dan Reliabilitas Skala Dukungan Iman
The formation of faith in adolescents and young people is rooted in their interaction with parents, both father, and mother, as well as friends. Adolescence and young adulthood are periods of seeking faith in various aspects of life. However, there has not been a measurement of the extent to which adolescents and young people regard parents and friends as role models of their faith. This study was aimed to the Perceived Faith Support - Parents and Friends Scale to be the Scale of Faith Support. The study was conducted through convenience sampling, involving 1,390 participants from three major islands in Indonesia. The results of this adaptation proved to be reliable with internal consistency methods, especially Cronbach's Alpha and to be valid with factor analysis methods. Validation with age criteria is proven by the support of faith from the father and mother, but not with friends. The Faith Support Scale is argued to be fit for both theoretical and practical purposes. The development and application of this scale are further discussed