STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    How Far Is Too Far?: Meninjau Praktik Sentuhan Fisik (Physical Touch) Dalam Relasi

    Get PDF

    Konsep Kekudusan Pernikahan Kristen Berdasarkan 1 Tesalonika 4:1-8 dan Aplikasinya dalam Pelayanan Pastoral terhadap Pasangan Kristen yang Salah Satunya Kecanduan Pornografi

    No full text
    Pornografi menjadi satu permasalahan yang serius namun sering kali diabaikan keberadaannya. Permasalahan pornografi tidak lagi hanya terjadi pada kaum lajang namun juga sampai kepada mereka yang telah menikah. Banyak pasangan pernikahan Kristen yang juga menjadi bagian dari permasalahan ini. Setidaknya salah satu pasangan (khususnya suami) menjadi pengguna bahkan mungkin menjadi pecandu. Keadaan yang demikian telah memengaruhi kehidupan pernikahan pasangan Kristen. Menyikapi permasalahan pornografi dalam konteks pernikahan penulis menghasilkan tiga pertanyaan penting. Pertama, apakah yang dimaksud dengan kekudusan dalam pernikahan menurut Alkitab? Kedua, apakah yang dimaksud dengan pornografi dalam konteks pernikahan serta apa dampak yang dihadapi oleh pasangan akibat pornografi ini? Ketiga, pelayanan pastoral seperti apakah yang bisa dilakukan oleh gereja dalam menghadapi kondisi ini baik bagi pasangan maupun bagi pribadi mereka masing-masing? Penelitian ini diharapkan dapat mencapai beberapa tujuan yaitu: pertama, memberikan tinjauan teologis terhadap konsep kekudusan pernikahan dalam Alkitab secara khusus berdasarkan 1 Tesalonika 4:1-8. Penulis meyakini bahwa pernikahan adalah sebuah janji kudus antara suami dan istri yang dilakukan di hadapan Tuhan. Maka dari itu, janji pernikahan yang eksklusif ini tidaklah memperbolehkan adanya orang ketiga dalam hubungan pernikahan termasuk di dalam hubungan seksual baik secara fisik maupun dalam pikiran yang disebabkan oleh pornografi. Kedua, penelitian ini diharapkan memberikan implikasi praktis, yaitu membuka mata gereja terhadap permasalahan pornografi yang dialami pasangan suami istri dan memberikan bentuk pelayanan pastoral yang dapat dilakukan oleh gereja bagi mereka

    Studi Kegiatan Paduan Suara dan Pengaruhnya bagi Komunitas Pemuda Kristen di Era Digital

    Get PDF
    Paduan suara merupakan salah satu bentuk pelayanan musik yang paling awal dan tercatat dalam Alkitab. Dalam perkembangannya paduan suara mengalami banyak perubahan yang menjadikannya seperti paduan suara hari ini. Paduan suara juga memiliki peran dan fungsi yang penting di dalam ibadah. Meski demikian paduan suara sepertinya tidak terlalu dianggap penting oleh kebanyakan gereja saat ini karena kurangnya pemahaman tentang kegiatan paduan suara. Hari ini remaja pemuda mengalami begitu banyak pengaruh dan tekanan dalam masa perkembangan mereka berkat pengaruh kecanggihan dan kelekatan teknologi. Pengaruh yang paling menonjol bagi kaum muda adalah menurunnya pembentukan komunitas yang nyata, pertemanan yang sejati serta pergumulan identitas diri. Hal ini banyak menimbulkan pelarian pada diri remaja yang mencoba mencari pemenuhan diri dan akhimya kembali kepada teknologi itu sendiri. Penelitian ini memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai fungsi, peran dan pengaruh paduan suara dalam meningkatkan komuntias pertemanan yang nyata pada kaum muda. Banyak pengaruh dan dampak dari paduan suara yang bukan hanya dapat menjadi jawaban pencarian jati diri, isu sosial, dan komunitas, tetapi juga yang terpenting adalah pengaruhnya bagi perkembangan iman mereka. Lebih dari itu, tujuan dari hidup pribadi dan komunitas Kristen adalah menjadi penyembah-penyembah yang sejati. Dan tujuan gereja adalah menciptakan komunitas penyembah yang berdampak bagi komunitas sekuler. Namun tren pemisahan ibadah menurut tahap perkembangan generasi telah menjadi praktik yang hampir diikuti oleh gereja sekarang. Sehingga kritik mengenai pengaruh keterpisahan generasi ini mungkin dapat menjadi bahan yang dipertimbangkan untuk masa depan gereja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sambil mendapatkan pengaruh dan dampak positif dari paduan suara, kegiatan paduan suara juga dapat menjadi jembatan yang memfasilitasi kaum muda untuk dapat berkontribusi di dalam pelayanan yang melibatkan seluruh generasi di dalam ibadah. Dengan meningkatnya pemahaman dan kesadaran tentang pentingnya paduan suara diharapkan semua kalangan mulai dari orang tua, sekolah, pengajar musik, dan gereja dapat memaksimalkan kegiatan ini dengan mendukung dan menyediakan sumber daya yang diperlukan bagi paduan suara pemuda

    Peran Orang Tua dalam Mendampingi Remaja Generasi Z Menghadapi Pergumulan Pornografi

    Get PDF
    Pornografi bukanlah pergumulan baru dalam kehidupan remaja. Namun, konteks remaja Generasi Z telah membawa pornografi ke dalam level yang berbeda dari sebelumnya. Akses tanpa batas kepada teknologi dan dunia internet yang dimiliki remaja Generasi Z, memberi peluang yang besar bagi remaja Generasi Z untuk lebih mudah jatuh kepada pornografi. Hal ini dibuktikan dari angka pornografi remaja yang semakin meningkat, seiring perkembangan teknologi internet.'Namun* sayangnya, krisis ini kurang diperhatikan oleh orang tua Generasi Z. Orang tua cenderung pasif dan terkesan mengabaikan masalah ini. Hal ini disebabkan oleh beberapa anggapan keliru yang masih dimiliki orang tua, seperti: pembicaraan tentang seks adalah “tabu;” remaja bukan makhluk seksual; remaja akan beroleh pendidikan seks yang baik seiring usianya; dan remaja kebal terhadap pengaruh budaya, karena telah dibawa ke gereja. Hal ini makin diperparah dengan kecenderungan pola pengasuhan mderprotective yang dimiliki orang tua Generasi Z. Apabila keadaan ini terns terjadi, remaja Generasi Z akan terns berjalan ke dalam jerat pornografi yang akhimya menghancurkan hidup mereka dan orang tua hanya menjadi penonton pasif dari kehancuran anak-anak mereka. Bertolak dari permasalahan tersebut, maka penelitian ini diperlukan untuk menjawab tiga pertanyaan. Pertama, siapakah remaja Generasi Z dan apa problematika pornografi yang mereka hadapi? Kedua, apa yang dikatakan Alkitab mengenai manusia, pornografi, dan peran orang tua dalam mendidik kaum muda? Ketiga, apa peran orang tua secara praktis dalam mencegah dan mendampingi remaja Generasi Z dalam menghadapi pergumulan pornografi? Sebagai hasil dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa sebagai pendidik utama dan wakil Allah bagi anak, orang tua Generasi Z hams mulai mengambil peran mereka, baik dalam pencegahan, maupun dalam pendampingan remaja Generasi Z. Adapun langkah pencegahan yang dapat dilakukan, antara lain; mengubah pola pengasuhan; menciptakan relasi dan komunikasi yang hangat; memberikan edukasi sedini mungkin tentang seks yang benar dan kekeliruan pornografi; dan memberikan teladan kekudusan seksual bagi remaja. Kemudian, langkah pendampingan yang dapat dilakukan, antara lain: memulai pembicaraan serius mengenai keterikatan remaja dengan pornografi, dan memberi diri untuk melayani remaja, yakni dengan mendengar, berempati, memberi penegasan, memberi pengarahan, dan memjuk kaum profesional, jika diperlukan

    Hubungan antara Penolakan Orang Tua dan School Belonging dengan Shame pada Remaja SMA Charis National Academy di Malang.

    Get PDF
    Shame merupakan sebuah isu yang jarang terdengar, sementara perannya terhadap kesehatan mental individu cukup besar. Dalam berbagai penelitian empiris, shame dinyatakan berhubungan dengan depresi, kecemasan, bunuh diri, dan gangguan perilaku lainnya. Sering kali shame dikenal sebagai sebuah emosi yang bersifat sementara, namun makna di balik kata ini sesungguhnya lebih dalam. Shame merupakan sebuah emosi yang mengatakan kepada individu bahwa dirinya tidak berharga. Penolakan orang tua dipercaya memberikan kontribusi dalam pembentukan shame ini, sementara school belonging juga dinyatakan berperan dalam fungsi psikologis yang sehat dari siswa. Penulis menduga ada keterkaitan di antara ketiganya yang layak untuk mendapat perhatian lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Apakah terdapat hubungan antara penolakan orang tua dengan shame pada remaja SMA? Apakah terdapat hubungan antara school belonging dengan shame pada remaja SMA? Tcloiik sampling yang digunakan adalalipurposive sampling yaitu sampel dipilih berdasarkan tujuan penulis untuk meneliti remaja SMA Charis National Academy di Malang dengan karakteristik responden yang telah ditentukan pula. Subjek penelitian adalalt seluruli siswa kelas 10-12. Dari 161 angket yang disebarkan di sekolah tersebut, ada 16 data yang tidak dapat digunakan sehingga data yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 145 data. Instrumen yang digunakan untuk mengukur shame adalali Compass of Shame Scale (CoSS) yang diadaptasi dari Donald L. Nathanson, terdiri dari 48 item pertanyaan. Penolakan orang tua diukur dengan menggunakan instrumen Parental Acceptance-Rejection Questionnaire (PARQ) yang dikembangkan oleh Ronald P. Rohner dan terdiri dari 24 item untuk ayah dan 24 item untuk ibu. School belonging diukur dengan menggunakan instrumen Psychological Sense of School Membership (PSSM) dari Carol D. Goodenow, yang terdiri dari 18 item pertanyaan. Analisis data menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis data raenggimakan uji Spearman Rank Correlation untuk mengukur hubungan antara penolakan orang tua dengan shame dan school belonging dengan shame. Hipotesis pertama dari penelitian ini adalah semakin tinggi tingkat penolakan orang tua, maka semakin tinggi pula tingkat shame. Hipotesis kedua adalah semakin tinggi tingkat school belonging, maka semakin rendah pula tingkat shame. Hasil pengolahan data dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 memperlihatkan adanya hubungan positif yang signifikan antara penolakan orang tua dengan shame, dan adanya hubungan negatif yang signifikan antara school belonging dengan shame. Dengan demikian, hasil analisis data menunjukkan bahwa kedua hipotesis dalam penelitian ini diterima. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara penolakan orang tua dan school belonging dengan shame di kalangan remaja SMA Charis National Academy di Malang. Semakin tinggi tingkat penolakan orang tua maka semakin tinggi pula tingkat shame, dan semakin tinggi tingkat school belonging maka semakin rendah pula tingkat shame

    Pudarnya Konsep Dosa dalam Dunia Kekinian : Doktrin tentang Dosa

    No full text
    Buku ini bertujuan untuk memperlihatkan adanya penyimpangan pengajaran tentang dosa yang sudah berkembang dalam dunia sekuler dan juga dalam gereja serta sekolah tinggi teologia. Bagi para pemikir religius maupun sekuler kekinian, pengajaran tentang dosa yang mengacu pada Alkitab dan teologi yang sehat dianggap sudah kuno, tidak relevan, dan tidak jelas fungsinya. Jadi situasi dunia kekinian yang secara diam-diam atau terang-terangan menolak konsep dosa yang biblikal justru menjadi akar dari segala persoalan yang meluas dalam lingkup mental, moral, politik, dan sosial. Buku ini berusaha memaparkan dan menafsirkan kembali doktrin tentang dosa menurut pengajaran yang biblikal dan sesuai dengan teologi yang sehat

    Teori Wilayah Kedaulatan Abraham Kuyper dan Relevansinya Terhadap Peran Gereja bagi Bangsa Indonesia.

    No full text
    Permasalahan-permasalahan seperti korupsi dan kemiskinan yang terjadi di Indonesia menuntut gereja untuk dapat berperan aktif bagi negara Indonesia. Namun pada kenyataannya gereja tidak berperan secara signifikan di Indonesia. Khususnya gereja Tionghoa seakan tidak mau peduli dengan permasalahan yang ada. Gereja-gereja Tionghoa pada umumnya berdiri dengan megah tanpa memedulikan masalah-masalah di dalam negara Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mencari penyebab utama gereja Tionghoa tidak mau terlibat di dalam permasalahan negara Indonesia dan berusaha menyelesaikannya dengan menggunakan teori hubungan gereja dan negara Abraham Kuyper. Dalam melakukan penelitian, penulis akan menggunakan metode analisis isi. Metode analisis isi sangat tepat untuk digunakan pada penelitian ini karena melalui analisa, penulis dapat mengetahui pemikiran Abraham Kuyper dari dekat, sehingga mampu mengerti alasan-alasan pemikirannya. Metode analisis isi juga diperlukan untuk menggambarkan konteks gereja Tionghoa di Indonesia. Teori wilayah kedaulatan Abraham Kuyper dapat dilakukan di Indonesia karena teori ini memiliki kemiripan dengan Pancasila yang adalah dasar negara Indonesia. Melalui teori ini, maka gereja Tionghoa di Indonesia dapat mengambil perannya sebagai sebuah wilayah kedaulatan di dalam tatanan ciptaan. Peran gereja Tionghoa di Indonesia yaitu mempersiapkan orang-orang percaya untuk masuk ke dalam seluruh aspek kehidupan negara Indonesia sehingga menjadi berkat bagi banyak orang dan mempermuliakan nama Tuhan

    Konsep Pernikahan Kovenan Sebagai Sebuah Usulan Terhadap Problema Pernikahan Modern Serta Implikasi Praktis dan Eklesial.

    No full text
    Alkitab telah memberikan penjelasan yang cukup mengenai rancangan Allah terhadap pernikahan. Adanya dasar dan tujuan yang jelas telah menjadi keindahan tersendiri bagi pernikahan Kristen dibandingkan dengan pernikahan lainnya. Terlebih lagi ketika la, sang Pencipta sendirilah, yang menetapkan dasar dan tujuan tersebut. Dari mulanya Allah telah menetapkan pernikahan dalam bentuk kovenan, yang bisa dilihat dalam Kejadian 2:24, dan juga telah menetapkan tujuan dari rancangan Allah terhadap pernikahan yang dijelaskan dengan baik oleh Paulus di dalam Efesus 5:22- 33, yaitu pernikahan menjadi gambaran akan relasi Kristus dengan jemaat dan melaluinya nama Tuhan dipermuliakan. Sayangnya, dalam beberapa dekade belakangan ini, tidak sedikit pasangan Kristen yang pemikahannya haras berakhir pada perceraian. Salah satu faktor yang dapat menjadi alasan kuat akan adanya perabahan di dalam cara orang-orang masa kini melihat dan menjalani relasi pernikahan ialah karena pengarah dari budaya modem. Jika demikian, sudah seharasnya fenomena ini memicu kegelisahan di dalam diri orang percaya untuk mengambil sikap dalam menghadapi permasalahan yang sedang dihadapi oleh pasangan-pasangan pada masa kini. Gereja sebagai komunitas orang percaya dapat menjadi wadah yang ideal untuk mengingatkan pasangan-pasangan pada masa kini akan konsep yang benar mengenai pernikahan Kristen, juga membimbing pasangan-pasangan untuk menjalani pernikahan mereka sesuai dengan rancangan Allah terhadap pernikahan. Hal pertama yang dapat dilakukan ialah gereja haras terlebih dahulu disadarkan akan adanya perabahan dan permasalahan yang sedang menyerang relasi pernikahan pada masa kini. Selanjutnya, gereja dapat mengedukasi pasangan mengenai konsep pernikahan kovenan dan memikirkan kegiatan-kegiatan pembinaan maupun pelayanan pastoral yang dapat diberikan, tidak hanya kepada pasangan-pasangan yang hendak menikah, tetapi juga kepada pasangan-pasangan yang sudah menikah. Dengan demikian, niscaya pasangan-pasangan tersebut dapat melihat keindahan dari pernikahan Kristen dan menjalani pernikahan mereka dengan memiliki arah tujuan yang jelas, yaitu untuk memuliakan nama-Nya

    Sebuah Studi Fenomenologi Pengalaman Pelecehan Spiritual di Lingkungan Kristen

    Get PDF
    Beberapa orang Kristen yang penulis temui merasakan keengganan untuk datang ke gereja atau datang ke gereja namun tidak merasakan sukacita. Isu ini terjadi karena mereka mengalami pengalaman negatif di lingkungan Kristen. Pengalaman negatif mereka berhubungan dan melibatkan pemimpin mereka. Studi ini mempertanyakan bagaimanakah pengalaman negatif itu terjadi, faktor apa saja yang mendukung terjadinya pelecehan dan seperti apa dampak yang ditimbulkannya serta penanganan seperti apa yang telah diupayakan. Beberapa penelitian dan literatur yang membahas mengenai pengalaman negatif seperti apa yang dialami partisipan, mengindikasikan adanya penyalahgunaan kuasa oleh pemimpin spiritual dan kesalahan penanganan oleh pemimpin spiritual kepada orang yang dipimpinnya. Penyalahguaan kuasa dan salah penangan tersebut disebut pelecehan spiritual. Untuk mengeksplorasi terjadinya pelecehan spiritual studi ini menggunakan metode Interpretative Phenomenology Analis. Hasilnya mengungkapkan bahwa memang terjadi pelecehan spiritual yang terjadi dengan begitu kompleks. Dampak yang dihasilkan meliputi aspek psikologis, spiritual maupun fisik, dan kurangnya pertolongan yang memadai untuk apa yang dialami partisipan

    Metode Pembuatan Tune Himne Baru Sebagai Solusi Keakuratan Penerjemahan Himne Berbahasa Indonesia

    Get PDF
    Pujian himne merupakan salah satu bentuk nyanyian jemaat yang sering dinyanyikan dalam pertemuan ibadah gereja injili. Pujian himne ini tentu tidak muncul begitu saja. Pujian himne telah bertumbuh sejak lama seturut dengan perkembangan nyanyian jemaat. Perkembangan himne sendiri dimulai dari pergerakan nyanyian jemaat yang ada di luar negeri. Itulah sebabnya nyanyian himne yang ada di Indonesia kebanyakan berasal dari luar negeri. Hal ini mengakibatkan banyak pujian himne di Indonesia merupakan hasil terjemahan himne dari luar negeri. Oleh karena pujian himne di Indoensia merupakan hasil penerjemahan pujian himne luar negeri, sering kali itu membuat jemaat bingung ketika menyanyikannya. Kebingungan itu terjadi karena ada beberapa makna susunan kata dan bentuk puisi himne yang hilang. Sehingga ketika jemaat menyanyikannya, jemaat tidak bisa menikmati bahkan mengerti secara mendalam makna yang tekandung dalam pujian himne tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan solusi dalam keakuratan menerjemahkan pujian himne yang berasal dari luar negeri. Untuk mencapai tujuan dari penelitian ini maka penulis menggunakan metode kepustakaan dalam meneliti sejarah perkembangan nyanyian himne dan latar belakang penulisan himne. Penulis kemudian menggunakan metode analisa perbandingan antara himne asli berbahasa Inggris dan hasil terjemahan himne berbahasa Indonesia. Secara sejarah penulisan teks himne dengan pembuatan tune himne dibuat dengan waktu yang berbeda. Pujian himne awalnya hanya dibuat dalam bentuk teks puisi, baru kemudian oleh seorang komposer dibuat tune yang sesuai dengan teks puisi himne tersebut. Akibatnya ialah time dan teks himne membentuk harmonisasi dan ketika dinyanyikan pujian himne tersebut tidak janggal. Oleh karena itu alangkah lebih baik penerjemahan himne dilepaskan dari tune aslinya. Kemudian dibuat tune himne baru sesuai dengan terjemahan himne teresebut. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pembuatan tune himne baru yang terpisah akan memperkuat keakuratan dalam penerjemahan himne. Hal ini bisa terjadi karena penerjemah dapat menerjemahkan pujian himne tanpa dibatasi oleh tune himne asli dan penerjemah dapat memnerjemahkan himne dengan mempertahankan unsur-unsur himne

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇